Nakamura Mai Proudly Presents

Detective Conan Multichapter FanFiction

When Shinichi Gone ( Part 2 )

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

WARNING! : OOC,cerita mudah ditebak, berlebihan, angst failed, cerita amatiran, mirip sinetron, nggak jelas, abal-abal.

Don't Like Don't Read !

Kantor Detektif Kogoro Mouri.

Tibalah waktu makan malam. Ran dengan perasaan bangga menghirup aroma kare buatannya. Ia membawanya hati-hati ke meja makan. Kini, Kare itu sudah tersedia di meja. Ayahnya dengan cepat menyambar bagiannya. Ia memulai dengan suapan pertama.

" Ah, sudah lama kau tidak memasak kare untuk ayah. Ada angin apa nih?" tanya ayahnya. Ran hanya tersipu ketika ayahnya mengatakan hal itu.

" Ah, ayah. Tidak ada apa-apa kok," jawabnya. Tatapannya kemudian mengarah pada anak lelaki itu. Ia tengah melahap makanan yang di sajikannya, dengan khidmat. Ia mengelus rambut halusnya itu dan membuat anak lelaki itu berpaling dari kekhidmatannya.

"Conan-kun, makan yang banyak, ya!" Ujar Ran. Anak lelaki itu mengangguk paham.

"Tentu saja. Makanan buatan Ran-neechan, selalu enak. Sayang sekali kalau tak kuhabiskan. Aku suka sekali!" ujar Conan memuji.

" Kalau begitu, lain kali akan kubuatkan makanan kesukaan Conan-kun," Conan menyambut senyum hangat dari gadis yang dicintainya ini.

Kehangatan keluarga pada saat malam itu terasa sekali. Sesekali perbincangan membawa mereka ke dalam suasana paling hangat. Entah kenapa, seolah tidak bisa di ungkapkan dengan kata demi kata, Ran merasa ayahnya jauh lebih ramah pada bocah berkacamata yang selalu dianggapnya pengganggu. Ran bahagia. Tidak biasa. Namun, indah sekali.

Selesai menyantap kare yang lezat pada hari itu, mereka beranjak dari tempatnya. Kogoro memutuskan untuk tidur lebih awal, sedangkan Ran membereskan peralatan makan. Di bantu oleh Conan, yang membawakan mangkok-mangkok kecil.

Conan mengantar mangkok-mangkok itu padanya.

" Bawa ke sini, Conan-kun." Ujarnya.

Ran kemudian mengambil mangkok itu dari tangan kecilnya. Tiba-tiba, ia merasakan tangan kecilnya itu dingin. Dingin sekali.

Conan, apakah dia sakit?

Rasa cemas kemudian menyelimuti pikirannya. Kemudian, ia merunduk dan menatap Conan yang terheran akan sikapnya. Kemudian, ia menempelkan dahinya pada dahi Conan. Spontan saja, pipi anak lelaki ini memerah karena, menahan gejolak hatinya.

" Conan, kau sakit?" Ran menatap pada mata besarnya yang tertutup oleh kacamata klasik itu.

" Ti... tidak." Jawabnya. Ran kemudian melepaskan dahinya dan beralih memegang tangan kecilnya. Namun, ia tidak menemukan lagi rasa dingin yang menyergap secara tiba-tiba itu.

" Tanganmu,... tadi terasa sangat dingin." Ran mencoba berpikir sebentar tentang semua ini. " Ah, mungkin saja hanya perasaanku. Tadi aku habis minum air es, mungkin mengenai tanganku sehingga saat memegangmu rasa dinginnya masih terasa." Ran terkekeh sendiri akan sikapnya tadi.

Conan menatap — semakin — heran padanya. Tidak biasanya, gadis ini banyak berbicara, walaupun memang biasanya selalu seperti ini. Namun anehnya, sikap Ran hari ini seolah ingin membuatnya selalu terjaga.

" Ah, kalau begitu Ran-neechan. Aku mau tidur dulu. Oyasuminasai!" Ran melepaskan genggaman halusnya itu, dan melepasnya untuk terlelap.

" Ah, oyasuminasai!"

...

" Conan-kun, ada apa denganmu? Kau tidak seperti biasanya." Tanya Ran padanya.

Memang, hari ini, Conan tidak melakukan hal yang berarti setelah pulang sekolah. Waktunya ia habiskan untuk berdiam diri di kantor detektif. Tak tahu apa yang sedang di lakukannya. Ia sibuk memainkan jemari kecilnya di atas tombol handphonenya.

" Tak ada apa-apa, Ran-neechan." Hanya begitulah jawabnya, tanpa memandang lawan bicaranya.

Ran semakin tidak mengerti dengan keadaan ini. Ia amat membenci rahasia. Di pandangnya Conan dengan tajam. Di dalam hatinya, ia menyimpan sejuta pertanyaan yang mungkin takkan pernah di jawab oleh anak lelaki ini.

" Conan, kau terlihat aneh sepanjang hari ini." Begitu Ran melontarkan kalimat itu, Conan berhenti memainkan jemarinya. Ia terdiam sejenak sebelum pada akhirnya dengan senyum khas kanak-kanak yang ia miliki, ia akhirnya berucap pada Ran.

" Aneh bagaimana?"

Ran sendiri tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang di lontarkannya barusan. Ia sendiri hanya terdiam menyelami perasaannya sendiri. Rasa cemas ini, rasa ketakutan ini.

Perasaan apa ini?

" Ah, mungkin hanya perasaaanku saja. Tapi, kau tidak menyentuh makan siangmu sedikitpun. Maka dari itu, aku khawatir." Ujar Ran, melegakan perasaannya sendiri. Tapi, sungguh bukan ini yang ia cemaskan. Sesuatu yang sangat buruk.

Semua mengenai perasaan yang tidak biasa.

...

Sore itu, Conan menghampiri Ran yang sedang berada di meja belajarnya. Conan memang benar tidak seperti biasanya. Ia berdiri di samping gadis itu. Irene Adler-nya.

" Ran-neechan... " panggilnya parau. Ran yang sedari tadi sibuk menulis, mengistirahatkan lengannya, dan merubah posisi duduknya. Mengamati anak lelaki itu menatapnya sedih. Ekspresi yang ia kenal, ketika ia memberitahukan ketika Shinichi pulang meninggalkan kencannya. Ekspresi bersalah, menurutnya.

" Ada apa, Conan-kun?" Conan menunduk sebelum akhirnya, dengan perasaan terpaksa ia harus berkata hal ini.

" Aku ingin minta izin pada kakak. Aku akan menginap di rumah profesor, bolehkah?"

" Tentu saja."

" Tapi,..." ia terhenti sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. " Maafkan aku jika setelah ini, aku tidak bisa kembali ke rumah kakak."

" Eh?"

" Aku akan pergi meninggalkan kakak, dan... akan tinggal bersama ibuku." Alasan bodoh, pikirnya.

" Aku memang tidak akan memaksamu untuk terus tetap tinggal disini. Tapi, kenapa mendadak?"

" Aku,... menyayangi kakak." Ran terdiam. Jantungnya terasa berhenti memompa. Terenyuh mendengar kata-kata tulus itu, keluar dari mulutnya.

" Aku ingin melindungi kakak, untuk itulah aku akan pergi. Aku ingin kakak selalu tersenyum, untuk itulah aku akan pergi. Aku ingin kakak bahagia, untuk itu juga aku akan pergi."

Ran tidak percaya mendengar kata-kata ini keluar dari bibirnya yang terlalu polos untuk mengatakan hal mengenai melindungi dan bahagia. Dia masih terlalu kecil untuk berkata demikian.

" Bodoh, justru kalau kau pergi aku tidak akan bahagia, aku tidak akan bisa tersenyum. Conan sudah ku anggap sebagai adikku." Anak lelaki itu pura-pura tidak mendengar. Ia membelakangi Irene Adler-nya itu. Tak mau tunjukkan rasa kesedihannya.

" Kak, aku akan bersiap sekarang. Sampaikan rasa terimakasih dan maafku pada paman, ya."

" Tunggu, Conan. Kenapa harus hari ini?"

" Aku ingin melihat kakak cepat-cepat tersenyum bahagia. Aku ingin melihat kakak bahagia. Sungguh."

" Conan, jelaskan padaku!"

Anak lelaki itu, tidak mendengar perintahnya, ia terus berjalan keluar kamarnya.

Maafkan aku, Ran.

Ran tidak kuasa memberhentikan langkah kecilnya itu. Conan membawa tas berisi pakaian, dan peralatannya. Ia benar-benar akan pergi. Matanya terasa panas, dadanya sesak. Ingin sekali ia berteriak padanya, jangan pergi!.

Namun, mulutnya seakan terkunci. Tunggu, ini...

" Ran-neechan. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih juga untuk makanannya yang enak." Conan tertawa padanya. Hambar. Tak ada makna di dalamnya.

Ran berjalan perlahan ke arahnya, yang tengah sibuk menggendong tasnya. Ia duduk berlutut di depan anak lelaki itu. Ia ingin melihat wajahnya, yang kadang mengingatkannya akan kekasihnya itu.

" Bukankah kau akan berjanji untuk terus tetap di sini sampai Shinichi kembali?"

" Justru itu, karena Shinichi-niisan akan pulang, aku harus pergi."

" Aku ingin kita bersama. Conan, 1 hari lagi saja. sampai hari ulang tahunku kau baru boleh pergi dari sini." Conan menggeleng cepat.

" Justru itu, tugasku untuk melindungi Ran-neechan sudah selesai. Aku harus pulang. Lagipula, aku juga rindu ibuku kok,..." Conan terdiam, ketika melihat satu pemandangan yang paling ia benci. Air mata Ran.

Bodoh, jangan menangis.

" Kumohon Conan! Tetap tinggalah di sini. Conan, bagian paling berarti juga dalam hidupku. Conan yang selalu segenap tenaga melindungiku. Conan, juga amat kusayangi. Jadi, kumohon, ja, jangan pergii!" Ran terus memohon sambil menangis. Anak lelaki itu tidak akan pernah tega melihat wajah merunduk itu semakin banyak mengeluarkan air mata.

Ia berjalan sedikit ke arahnya, dan merangkul dalam peluknya lembut. Dibalas oleh gadis itu, dengan lembut.

Ran, aku mencintaimu. Sungguh.

" Maafkan aku, Ran-neechan. Aku memang benar harus pergi,"

Untuk kembali.

...

Next : When Shinichi Gone ( Part 3 )

Coretan (tidak) penting, seorang author T.T ! –-

Tes, tes, 1, 2, 3. Ehem...ehem. #check sound

Akhirnya, Part 2 telah selesai di buat. Terimakasih untuk terus mengikuti kelanjutan cerita ini. Maaf, jikalau memang masih banyak kekurangan dalam cerita. Untuk itu, seperti sebelumnya, tolong di review ya...

Terimakasih

Mata Ashita!

Nakamura Mai