Nakamura Mai Proudly Presents

Detective Conan Multichapter FanFiction

When Shinichi Gone ( Part 3 )

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

WARNING! : OOC,cerita mudah ditebak, berlebihan, angst failed, cerita amatiran, mirip sinetron, nggak jelas, abal-abal.

Don't Like Don't Read !

...

Kaki kecil Conan melangkah menuju pintu depan, ditemani oleh Ran.

"Tu...tunggu, Conan-kun." Langkahnya kembali di hentikan oleh Ran.

"Ada apa, Ran-neechan?"

"Kau tidak mau berpamitan dengan ayah dulu?"

"Ran-neechan, maaf aku tidak ada waktu lagi. Ibu akan datang hari ini, namun aku tidak tahu kapan."

"Kalau begitu, aku ikut saja ke rumah profesor."

"Tidak perlu, nanti kalau aku sudah mau berangkat aku akan menghubungi Ran-neechan."

"Tapi,..."

"Ran-neechan, percayalah padaku."

Sungguh, aku tidak mau kamu pergi, Conan-kun, pikirnya.

"Bye, bye!" ujar Conan girang, sembari melambaikan tangannya pada Ran. Ran membalas melambai padanya.

"Bye," ujarnya lemah, ketika anak lelaki itu telah berlalu dari hadapannya.

...

Conan sedari tadi menyesali apa yang telah terjadi. Sejujurnya,ia tidak pernah mengharapkan hal ini. Namun, mau bagaimana lagi. Inilah satu-satunya cara, agar Ran tidak terseret dalam bahaya.

Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Satu panggilan tanpa nama, namun ia mengetahui secara pasti siapa dia. Perlahan ia menekan satu tombol hijau di keypadnya. Mendekatkan handphone itu pada telinga kecilnya. Suara berat terdengar jauh disana.

"Ha... halo."

"Halo, benarkah saya berbicara dengan Conan Edogawa, ah, maksudku Shinichi Kudo?"

Gin?...

...

Ran mencoba menghubungi Shinichi mengenai masalah ini. Namun, teleponnya selalu sibuk. Mungkin, ia sengaja tidak menjawabnya karena sedang mempersiapkan kejutannya itu. Memang wajar, karena besok adalah ulang tahunnya. Satu hari lagi.

"Kumohon, Shinichi. Jawablah!" ujar Ran, cemas.

Entah kenapa, sempat muncul dipikirannya bahwa anak lelaki itu cemburu pada Shinichi yang akan datang. Sehingga, mungkin muncul dalam pikirannya bahwa perhatian Ran padanya akan hilang. Begitulah duganya.

Semua ini tidak sesederhana itu, Ran...

...

"Profesor, kumohon cepatlah perbaiki kacamata pencari jejakku. Aku hanya punya waktu 30 menit lagi." ujar Conan, tidak sabar.

"Sabarlah, Shinichi. Ada bagian yang paling sulit aku betulkan. Bersabarlah." Ujar profesor menenangkan. Tiba-tiba, Haibara bangkit dari duduknya, dan mulai menghardik Shinichi.

"Hentikan itu, Shinichi! Kau sudah terlalu jauh!" bentaknya. Rasanya, Haibara sudah menahan gejolak perasaannya ini sejak lama. Conan menatap perempuan itu tajam.

"Inilah saatnya, Haibara. Tidak bisa aku hindari."

"Bodoh! Kau bodoh sekali."

"Hanya ini satu-satunya jalan untuk mendapatkan data formula itu, dan obatnya."

"Kau tetap akan dibunuhnya, sebelum kau meminumnya!"bentaknya, kali ini dengan tekanan nada yang lebih keras. Perkataannya itu mampu membuat Conan terdiam.

Conan berpikir sesaat. Dibenaknya, ia memang sudah menebak resiko apa saja yang akan ia dapat. Kalau tidak luka parah, mungkin terkena beberapa tembakan peluru, ataupun kemungkinan terburuk. Mati.

Sepertinya, ia tidak peduli. Hal yang diinginkannya sekarang, menghancurkan organisasi terkutuk yang telah mengecilkan tubuhnya, membuat orang di sekitarnya terkena bahaya, dan yang lebih penting, memisahkannya dengan gadis yang di sayanginya. Ran.

Ia kembali untuk Irene Adler-nya.

"Aku tahu." Jawabnya kemudian.

"Lalu, mengapa? Hentikan semua ini, atau semua akan terlambat!" Haibara menatap tajam wajah lelaki keras kepala di depannya itu. Conan berbalik menatap tajam pada Haibara.

"Mereka akan membunuh kalian semua, jika aku tidak datang! Ini pilihan yang lebih buruk, bukan?" Conan membentak Haibara. Haibara terdiam setelah mendengar alasan itu. Suasana semakin memanas saat itu, profesor pun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Apakah tidak sebaiknya minta bantuan pada polisi? bukankah Takagi sudah mengetahui identitasmu yang asli?" Ujar profesor, mencoba mendinginkan suasana.

"Jika mereka tahu aku membawa polisi, mereka akan semakin liar."

"Liar?" tanya Haibara tidak mengerti.

"Sebenarnya, mereka juga telah menebar teror melalui kasus kode mahyong itu. Sudah kukatakan padamu, ini bukan hanya sebuah kasus pembunuhan biasa melainkan tantangan pada polisi." jelas Conan.

"Jangan-jangan,.."

"Benar. Organisasi sudah mengetahui bahwa Paman Takagi punya keterlibatan denganku, dan mengetahui identitasku. Jika aku berani melapor hal ini pada polisi, mereka akan meledakkan kantor kepolisian pusat dan melakukan penyerangan besar-besar yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa."

Seribu penolakan itu sepertinya tidak akan berarti, dan inilah yang dipikirkan oleh Haibara sekarang. Ia kehabisan kata-kata.

"Tapi, Shinichi..."

"Kumohon, Ai. Aku juga ingin membebaskanmu dari belenggu organisasi. Bukankah, ini juga janjiku untuk melindungimu? Juga demi membalaskan dendam kakakmu, bukan?" Haibara benar-benar kehabisan kata-kata.

"Benar, Ai. Jika ini memang terbaik, izinkanlah." Tambah profesor. Haibara tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Aku tidak mau memakai cara kasar, seperti membiusmu seperti waktu itu. Aku juga tidak mau kau menghentikan langkahku. Jadi, aku harap pengertianmu saja." Haibara masih saja terdiam.

"Shinichi, ini kacamatamu. Jam peluru biusmu sudah ku tambah kecanggihannya sehingga bisa menampung 4 peluru. Dan sepatumu sudah ku perkuat frekuensinya."

"Ah, terimakasih profesor. Oh ya, doakan aku ya, profesor, Haibara."

"Jika sudah selesai urusannya, kembalilah secepat mungkin. Detektif bodoh."

"Tentu saja!"

...

Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.

"Conan, ayo angkat teleponnya!" Ran sedari tadi uring-uringan memikirkan dua orang yang di teleponnya tidak menjawab teleponnya. Ada apa, Conan?

Entah kenapa, ia khawatir sekali dengan anak itu. Sudah lewat satu jam setelah kepergian Conan, namun ia tidak memberi kabar sama sekali. Ia sudah mencoba menelepon Profesor Agasa, sama saja. Perasaan tidak enak, tiba-tiba muncul. Firasat buruk.

"Bagaimana kalau aku ke rumah profesor?" tanyanya pada diri sendiri.

Ran kemudian berlari menuju pintu, mengganti sandal rumahnya dan dengan terburu-buru berlari menuruni tangga.

Sungguh, perasaan ini mirip sekali ketika, ia berkencan dengan Shinichi di Tropical Land. Perasaan buruk, seolah Shinichi takkan pernah kembali.

Mengapa kurasakan pada Conan juga?, pikirnya tidak mengerti.

Saat ia berlari, ia menangkap sosok seseorang di matanya. Seorang yang tidak asing baginya. Seseorang itu sedang berdiri di samping gedung, dengan tatapan waspadanya.

Jodie-sensei? Apa yang dilakukannya?

...

"Ah, Shinichi akhirnya pergi menemui mereka. Aku harap ia akan baik-baik saja." ujar Profesor Agasa khawatir, begitupula dengan gadis kecil di sebelahnya.

"Aku harap juga begitu, profesor." Ujar gadis kecil itu lemah.

Suasana hening. Haibara berbalik, dan berjalan menuju ruang bawah tanah. Tempatnya bereksperimen.

"Ai-chan." Panggil profesor, tiba-tiba.

"Ada apa, profesor?"

"Aku ingin memberikan ini padamu." ujarnya dengan nada yang tidak biasa. Haibara menatap heran profesor penyayang anak-anak ini. Ia menunjukkan sesuatu yang di pegangnya. Kecil, namun tak terlalu jelas. Haibara mencoba mendekat.

"Memberikan apa?" Haibara menghampiri profesor, semakin mendekat. Akhirnya sudah berjarak satu jengkal. Haibara tercengang.

"Profesor, apa ini?"

"Antidote APTX 4869."

Aku sedang dalam bahaya, pikir Haibara.

...

Next : When Shinichi Gone ( Part 4 )

Coretan (tidak) penting, seorang author T.T ! –-

Tes, tes, 1, 2, 3. Ehem...ehem. #check sound

Akhirnya Part ke 3 sudah selesai, dan aku suka sekali. Bagian ini membuatku sangat bersemangat untuk membuatnya. Maaf jikalau ada kekurangan dalam segi penggambaran cerita yang menurut saya terlalu di paksakan. Banyak kata yang sering diulang, kesalahan penulisan, dan EYD yang ancur.

Kritik dan Saran di tunggu. Review...

Terimakasih

Mata Ashita!

Nakamura Mai