Nakamura Mai Proudly Presents

Detective Conan Multichapter FanFiction

When Shinichi Gone ( Part 4 )

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

WARNING! : OOC,cerita mudah ditebak, berlebihan, angst failed, cerita amatiran, mirip sinetron, nggak jelas, abal-abal.

Don't Like Don't Read !

...

Jodie-sensei.

Benar, tak salah lagi yang orang yang ia lihat adalah Jodie-sensei. Langkahnya terhenti mendadak. Terlintas pertanyaan yang tiba-tiba berkecamuk di pikirannya. Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang dilakukan oleh FBI?

Mengapa ada FBI?

Namun, Ran tidak memedulikannya. Ia melanjutkan untuk berlari. Ia ingin segera menemui Conan. Entah kenapa perasaan yang menggebu-gebu ini mirip sekali dengan waktu itu. Perasaan yang membuat dadanya jadi sesak. Sungguh, firasat buruk.

Tanpa ia sadari, dari jauh terlihat dua orang sniper handal sedang membidik kepalanya dari jauh.

...

"Chianti, aku ingin segera menembak."ujar Korn.

Saat ini posisinya sedang berada dalam jarak tembak yang bagus, begitupula dengan Chianti. Tergambar di wajah mereka, sebuah senyuman khas. Sebuah wajah gelisah, dengan jelas terbidik oleh senjata mereka. Chianti tampak memperhatikan sosok itu.

Perempuan itu, kan..., pikirnya.

Korn sudah siap untuk menekan pelatuk. Tiba-tiba, pundaknya di tepuk halus oleh Chianti.

"Jangan di tembak dulu, Korn." Perintah Chianti.

"Ada apa denganmu? Bukankah ini perintah bos?"

"Memang. Tapi, harus kau tahu, perempuan itu adalah orang kesayangannya Vermouth. Termasuk, si bocah detektif yang saat ini tengah menemui Gin."

" Ada apa denganmu? Bukankah kau membenci Vermouth? Apa kau sudah berubah?" tanya Korn heran. Chianti menatap Korn tidak suka.

"Tentu saja aku membenci perempuan itu, bahkan selamanya aku akan membencinya. Aku juga tidak memikirkan juga bagaimana perasaan Vermouth apabila kedua anak itu mati tertembak oleh Gin."

"Jadi, apa yang akan kau rencanakan?"

"Kita batalkan saja acara menembak kita. Walau sebenarnya, aku ingin menembak orang ini juga sesegera mungkin. Aku akan tanggung jawab atas semua ini. Sebab, aku ingin kembali ke masa SMA yang melankolis."

"Apa maksudmu?"

"Aku ingin menyaksikan sebuah adegan roman picisan, yang memilukan." Chianti tersenyum pahit.

"Huh?" Korn tidak mengerti, mungkin lebih tepat tidak mau mengerti.

"Bukankah bocah detektif dan anak gadis itu adalah teman sejak kecil, dan merupakan sepasang kekasih juga. Aku jadi tidak sabar ketika melihat perempuan itu menangis tersedu-sedu, melihat kekasihnya bersimbah darah di depannya."jelas Chianti.

"Tapi, aku juga ingin menembaknya."keluh Korn kesal.

Chianti hanya tersenyum kepada Korn. Pandangannya kemudian teralih pada seseorang yang berada di seberang gedung. Seorang wanita asing, yang sedang menatap sekelilingnya dengan waspada.

"Hei Korn, bukankah ada yang lebih tepat untuk di tembak?" Korn ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sedang diawasi oleh Chianti. Sebuah senyum kemudian terbentuk di garis wajahnya yang aneh.

"Benar juga, Agen FBI ya?"

...

Ran sedang bersandar di sebuah tiang listrik. Terlalu lelah baginya untuk meneruskan berlari. Namun, pikirannya saat ini, perasaannya saat ini, sungguh tidak bisa ia kendalikan. Sebuah perasaan tak ingin kehilangan.

Shinichi...

Nama itu tiba-tiba saja terlintas.

Benar, nama itulah yang dulu membuatnya merasakan hal ini. Kehilangan.

Saat itu, aku merasa Shinichi takkan pernah kembali...

Merasa sudah kembali, ia melanjutkan untuk berlari. Rumah profesor hanya ada beberapa meter lagi dari posisinya tadi. Sebelum ia melewati rumah profesor, ia pasti akan melewati rumah Shinichi. Namun, ia tidak punya waktu untuk berpaling walau sesedetik saja.

Padahal, di sana sedang berjalan seorang perempuan dengan rambut sebahu berwarna cokelat kemerahanya tengah menuju pintu rumah tuan detektif itu.

...

Krieet

"Profesor? Conan? Ai-chan?," ia mencoba memanggil semua penghuni rumah. Tak ada yang menjawab panggilannya. Hening. Ran melihat ke belakang. Ia teringat akan pintu yang tidak tertutup saat dia masuk ke dalam rumah. Ran benar-benar takut, terjadi sesuatu.

Namun, Ran mencoba berpikir positif untuk saat ini. Ia menduga, mungkin profesor membawa Conan dan Ai jalan-jalan seperti biasa.

"Ah, mungkin profesor benar-benar sedang jalan-jalan dengan Conan dan Ai. Atau mungkin, ia sedang mengantar Conan ke bandara." Pikirnya.

"Lho, Ran? Sedang apa di sini?" terdengar suara di belakangnya. Profesor, tentu bukan. Suara lembut ini, hanya di miliki oleh perempuan. Tapi, siapa?

Ran membalik kembali. Ia menemukan sosok perempuan dengan rambut sebahu merah kecoklatannya yang tidak sempat dilihatnya tadi. Ran memandang perempuan itu dengan heran. Perempuan ini, rasanya pernah bertemu, pikirnya.

"Kamu siapa?" tanya Ran pada perempuan itu.

"Ran, kau belum jawab pertanyaanku. Sedang apa kau di sini?" perempuan itu menatap Ran tajam.

"A,aku sedang mencari Profesor, Conan, dan Ai."

"Ah, mereka. Mereka sedang ada urusan."ujarnya singkat.

"Jadi, kamu siapa?"Ran semakin tidak mengerti dengan keadaannya ini. Perempuan itu tersenyum puas. Sepertinya, ia senang membuat perempuan ini terlihat bingung.

"Kau tidak mengenalku?"tanyanya. Ran menggeleng.

"Baguslah. Aku asistennya Shinichi. Aku sering dengar tentangmu darinya."

Sorot mata perempuan itu, seperti tidak asing lagi. Dingin, seolah memusuhi. Ran mencoba mencari sudut penglihatan yang tepat untuk menghindari tatapan matanya.

"Ran, apa sekarang perasaanmu sedang tidak enak?"tanya perempuan itu lagi. Ran kembali memandang perempuan itu heran. Ia mencoba mencari jawaban sendiri, kenapa perempuan ini tahu keadaan hatinya saat ini.

"Be,benar. Tapi, bagaimana kau tahu?"jawabnya.

"Aku sudah menduganya. Tidakkah kau ingin mengetahuinya,"perempuan itu terdiam sebentar, memancing rasa penasaran Ran.

"Shinichi dalam bahaya." Ujarnya.

Ran tercenggang ketika mendengar kalimat itu meluncur dari mulutnya. Bahaya. Akhirnya, hal yang di takutkan oleh Ran terjadi juga.

"Shinichi? Tidak mungkin."ujarnya tidak percaya.

"Kenapa? bukannya kau senang ia berada dalam bahaya? Kau ingin di segera pulang, kan? Inilah jawabanmu." ujarnya ketus.

"Aku memang menginginkannya untuk pulang, tapi, aku juga tidak mau hal seperti ini menimpa dirinya."ujar Ran membela dirinya.

Perempuan itu, bagai menemukan sebuah benang merah yang selalu ia cari. Benar-benar, perasaannya selama ini, pandangannya pada perempuan di depannya itu, segera terluapkan, begitu mendengar jawaban itu.

"Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang selalu kau pikirkan? Perempuan egois sepertimu, yang selalu hanya memikirkan perasaannya sendiri, tanpa peduli dengan perasaan orang lain. Kau harusnya tahu, Shinichi amat sangat memikirkan dirimu. Ia selalu berpikir, bagaimana caranya dia untuk kembali, dan kau terus memaksanya untuk kembali! Tidakkah kau pikir itu sungguh menyiksanya?"bentaknya. Ran hanya terdiam menunduk, ia berpikir menelusuri dalam hatinya, untuk mencari jawaban pasti tentang semua ini. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya...,pikirnya.

Dari pelupuk matanya, sebuah tetesan bening meluncur mengikuti garis wajahnya. Perempuan itu memandang tidak suka.

"Tangisan itu. Sepertinya, kau terlambat untuk menyadari semua ini. Penyesalan itu pahit, bukan?"

Setelah itu, suasana hening sejenak. Airmatanya, makin deras mengalir. Perempuan itu hanya memandangnya dingin.

"Apa salahnya, berharap?"

Kalimat itu, sanggup membuat perempuan itu tercengang. Seperti menyadari sesuatu hal yang selalu ia abaikan. Harapan.

"Dengan berharap, aku memperoleh kekuatan. Dengan berharap, aku menjadi orang yang optimis. Dengan berharap, aku mengatakan doaku. Dengan berharap juga, aku punya alasan untuk menangis,"Ran mendongak, menatap perempuan itu. Sebuah senyuman tulus, terlukis jelas di wajahnya. Ekspresi wajah, yang memang baginya selalu tak asing di pikiran perempuan itu. Ia memang menantikan jawaban ini.

Kakak.

Suasana kembali hening. Perempuan ini, sedang mencari jawaban dari perkataan Ran ini. Begitu, Kotak Pandora ya, pikirnya.

"Hanya dengan berharap, kau bisa lebih optimis. Sekarang aku tanya, apakah hal itu benar-benar jadi sumber kekuatan?"

"Eh?"

"Harapan kadang bisa menjadi bumerang sendiri untuk kita. Kadang, kita jadi lebih suka membayangkannya daripada mewujudkannya. Hal itu, hanya membuat kita jadi kuat ketika membayangkannya. Pernahkah terpikir hal ini dibenakmu?"

"Entahlah. Mungkin, memang benar kalau aku seperti anak-anak remaja lain, yang hanya berpikir sesaat ketika hendak mewujudkan sesuatu. Tapi, jikalau aku pikir hal itu benar, akupun berpikir hal yang kulakukan juga benar."ujarnya, setelah sempat mengusap air matanya. Kemudian, Ran memandang perempuan itu, dengan senyuman pahit yang kadang selalu terukir di wajahnya.

Kenapa, perempuan ini masih bisa tersenyum, padahal sesuatu yang buruk ..., pikirnya. Ran kembali melanjutkan pembicaraannya.

"Berharap, adalah sesuatu hal yang mampu kita kuat dalam menjalani kehidupan. Harapan, tergantung dari bagaimana manusianya sendiri untuk merealisasikannya. Kadan harapan setinggi langitpun dapat terwujud ketika kita hanya memegang hal yang namanya harapan. Namun, kalau dalam masalahku..."

"Harapan itu, menjadi pemacu jiwaku untuk terus berpikir bahwa Shinichi akan pulang kembali, dengan senyumnya yang sombong itu. Benar-benar bisa dibilang, hal yang akan terus membuat optimis, bukan?," Perempuan itu tercenggang ketika melihat perempuan di depannya ini, tersenyum manis padanya. Ia berpikir, bahwa kekasih sang detektif ini benar-benar tulus berharap Shinichi akan kembali pulang. Ia kehabisan kata-kata, ia tidak dapat menyangkalnya lagi.

Jujur, Ran. Aku bukan orang yang percaya dengan harapan, pikirnya. Perempuan itu tersenyum pada Ran.

"Entah apa yang merasuki pikiranmu, namun, kuhargai sekali itu. Namun, hanya satu lagi pertanyaanku."

"Jikalau harapan itu tidak terwujud, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya pada Ran. Seperti tidak menemukan jawabannya, Ran hanya kembali menunduk.

"Entahlah, aku tidak tahu. Aku belum siap memikirkan hal yang sebaliknya."ujar Ran, pasrah. Perempuan itu tersenyum, matanya berkaca-kaca.

"Seperti dirimu, aku tidak mau kehilangan Shinichi."ujar perempuan itu, parau.

...

Next : When Shinichi Gone ( Part 5 )

Coretan (tidak) penting, seorang author T.T ! –-

Tes, tes, 1, 2, 3. Ehem...ehem. #check sound

(ngga seperti biasanya pake bahasa pidato, gara2 di protes keras ama seseorang :peace -_-v)

Kembali lagi bertemu author yang geje seperti saya #tepuk meriah dari pembaca. Sungguh frustasi saya menyelesaikan fiction ini. Saya tidak suka konflik! Jadi saya bingung mengatur bagaimana seharunya konflik berjalan,#jeduk2in kepala ke meja komputer. Akhirnya, sampai pada pertemuan antara Ran dan Ai (maunya rahasia, yasud deh gpp_). Akhirnya, mereka bisa ngomong berdua. Aku sampai sekarang ngga ngerti kenapa Ai ngga pernah mau ngomong sama Ran. Apa karena Ai memendam perasaan yang sama dengan Ran, mungkin? Tapi, di fic ini, sekalian aku berharap kalau suatu saat mereka ngobrol berdua.

Saran dan kritik, please. Review...

Mata Ashita!

Nakamura Mai