# Perasaan apa ini ?#

Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi

Pairing: Tetep SasuHina

Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.

Warning: GAJE, TYPO and OOC.

.

.

.

KRING...!

Alaram pagi membahana di kamarku menandakan satu hari telah berlalu, suka atau tidak aku pun langsung meraba meja disamping tempat tidurku untuk mencari jam bodoh yang mengganguku.

Setelah meraba di sisi-sisi meja itu, akhirnya aku mendapatkannya dan menekan tanda off di belakang jam itu untuk mematikan suara sial itu.

Berhasil mematikan jam sial itu, aku pun melanjutkan acara tidurku yang kurasa belum cukup untuk kali ini.

.

.

.

"Sayang"

Tok tok tok

"Bangun sayang"

Tok tok tok

Entah sudah berapa lama aku tertidur lagi, tapi aku merasa terganggu dengan suara dari seseorang yang tentunya aku bisa tebak siapa.

Aku yang merasa tidak ada hal yang penting untuk dilakukan hari ini, semakin tidak memperdulikan suara itu dan malah semakin mengeratkan pelukanku pada gulingku.

Cklek

Aku mendengar suara pintu kamarku dibuka dari luar dan seseorang memasukki kamarku. Tapi meski seseorang ada di kamarku saat ini, tetap saja tidak membuat posisi nyamanku berubah.

"Sayang bangun, sampai kapan kau mau tidur terus" ucap seseorang yang memasuki kamarku tadi.

"Hn" gumamku yang masih memejamkan mata.

"Ih kau ini" ucapnya sambil mengambil guling yang sedang ku peluk.

Akupun langsung membuka mataku dengan terpaksa.

"Bu, apa yang Ibu lakukan" ucapku yang masih dengan posisi berbaring di ranjang dengan posisi miring kekanan.

Ibuku hanya menatapku tajam, dengan guling yang masih dipegangnya di tangan kanannya, lalu...

"Aduh aduh aduh !" teriakku saat Ibuku memukulkan gulingku kebadanku.

"Cepat bangun" ucapnya yang masih memukuliku.

"Iya bu, ini aku sudah bangun" ucapku sambil menghalangi setiap pukulan yang kuterima dari gulingku sendiri.

"Cepat sana mandi" ucap Ibuku sambil melempar gulingku kearahku dan pergi meninggalkanku sendirian di kamar.

"Huh dasar ibu ini" ucapku sambil duduk.

Cklek

Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka lagi.

"Ibu ada apa lagi ?" tanyaku saat mendapati ibuku datang lagi ke kemarku.

"Ini ibu lupa sesuatu" ucap ibuku saat mendekat kearahku.

"Aduh...duh...duh" ucapku kesakitan saat ibuku mencubit kedua pipiku.

"Apa-apaan Ibu ini, kan sakit" ucapku sambil mengelus kedua pipiku yang memerah saat Ibuku melepasnya.

"Hi...hi...hi...hi" tawa ibuku sambil meninggalkanku sendirian dikamar.

.

.

.

Setelah menyegarkan tubuhku dengan mandi, kuputuskan untuk turun ke lantai satu untuk mengisi perutku yang kosong ini.

Saat perjalanan menuju ruang makan, aku melihat sepanjang jalan para maid sedang membersihkan lorong lantai dua ini. Melihatku berjalan mendekati mereka, mereka pun menundukkan badan dan menyapaku.

"Slamat siang" ucap para maid itu saat aku melintasi mereka.

"Hn" jawabku atas sapaan itu.

'Slamat siang, emang ini jam berapa ?'

Aku yang bertanya-tanya hal itu kemudian menghentikan langkahku dan bertanya pada salah satu maid didekatku.

"oh ya, ini jam berapa ?" tanyaku pada salah satu maid.

"Ini hampir jam 12 siang" jawab maid yang kutanya itu meski sedikit kaget atas pertanyaanku tiba-tiba.

"Hn" balasku meninggalkan mereka, dan para maid itu hanya membungkukkan badannya dan melanjutkan aktifitasnya.

Aku menuruni tangga menuju ruang makan. Sesampainya disana aku mengamati kesekeliling ruangan ini dan mendapati tidak ada satu orang pun di sini.

Akhirnya ku putuskan menuju ke dapur yang letaknya berada di sebelah ruangan ini.

Tepat dugaanku, sekarang aku melihat Ibuku sendirian sedang berdiri didepan kompor dan sedang memasak sesuatu.

Aku mendekatinya perlahan hingga berada di sampingnya sekarang.

"Masak apa bu" ucapku pelan saja.

"Oh kau Sasuke, ini Ibu lagi masak Sup buatmu" ucap Ibuku yang sempat melihatku sekilas dan melanjutkan pekerjaannya.

"Apa ada yang bisa ku bantu ?" ucapku menawarkan diri.

"Tidak usah, kau santai saja hingga matang masakannya nanti" tolak Ibuku.

"Ya sudah" ucapku meninggalkan Ibuku.

Merasa tenggorokanku kering, aku lalu mengubah arahku dari pintu keluar menuju kulkas tiga pintu di sisi kiriku untuk mengambil minuman dingin.

Aku mencari minuman kolaku tapi sepertinya sudah habis tak tersisa.

"Bu kok kolanya sudah habis" ucapku menoleh kearah Ibuku degan posisi yang masih membuka pintu kulkas.

"Mungkin diminum kakakmu kemarin, soalnya kemarin dia sepertinya sangat kehausan sekali saat pulang kerja" ucap Ibuku tanpa mengalihkan pandangannya.

"Cih orang itu" gumamku sendiri.

Dengan terpaksa aku pun mengambil botol air mineral dan meminum isinya.

Setelah selesai minum, aku langsung menuju ruang keluarga untuk menungu hingga masakan Ibuku matang.

.

.

.

"Sasuke ayo makan" teriak ibuku dari arah meja makan.

"Ya" ucapku singkat.

Aku langsung menuju ruang makan yang letaknya tidak jauh itu, di meja makan sudah tersaji makanan yang menurutku lezat.

"Bagaimana enak ?" tanya Ibuku disela makannya.

"Hn" jawabku singkat.

"Hari ini kau ada acara tidak ?" tanya Ibuku lagi.

"Tidak, memang ada apa ?" tanyaku balik karena menurut firasatku aku pasti disuruh mengantarkannya kesuatu tempat.

"Em itu, maukan kamu mengantar Ibu ke toko baju yang baru saja dibuka ?" minta Ibuku.

"Hn" balasku.

'Sudah kuduga'

.

.

.

Sudah berjam-jam aku menunggu Ibuku disini dan sudah berjam-jam pula aku dimintai pendapatku tentang baju yang mau dibelinya.

"Bagaimana sayang apa ini bagus ?" ucap Ibuku meminta pendapatku tentang baju yang sekarang dicobanya.

"Terserah Ibu saja" ucapku malas.

"Ih kau ini Sasuke serius dong" ucap ibuku tidak terima atas jawabanku tadi.

"Ibu aku mau jalan-jalan saja dari pada menunggu Ibu terus disini, nanti hubungi aku kalau sudah selesai" ucapku sambil berdiri dan berjalan meninggalkan tempat ini.

"Sasake...!" teriak Ibuku.

.

.

Setelah meninggalkan butik itu, aku putuskan untuk berjalan-jalan menyusuri jalan-jalan disekitar butik itu.

'Membosankan sekali tempat ini' Memang berjalan sendirian ditempat seperti ini membosankan sekali, tidak ada yang bisa diajak ngobrol atau pun melakukan sesuatu.

Karena tidak ada tujuan yang jelas, ku putuskan untuk kembali ke tempat Ibuku tadi.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dari pada kembali kesana lebih baik aku ketempat itu saja, kalau tidak salah sih tempatnya tak jauh dari sini.

.

.

Setelah melewati beberapa pertokoan, aku pun akhirnya sampai juga di tempat yang namanya bikin merinding itu.

Klinting

"Slamat datang" ucap kasir yang berada didekat pintu masuk saat aku masuk ke dalam tempat ini.

"Hn" ucapku tak peduli dan langsung menuju ke tempat duduk yang kosong.

Aku melihat ke sekeliling tempat ini untuk mencari apakah orang itu ada disini, tapi hasilnya nihil karena dia yang kucari tidak terlihat disini.

'Huh mengecewakan sekali, untuk apa aku kesini jika tidak bertemu dengannya'

"Maaf tuan, tuan mau pesan apa?" ucap pelayan yang pernah aku lihat sebelumnya, gadis berambut pink yang bikin mataku sakit.

"Black coffe" ucapku singkat dan tanpa melihat rambut pelayan itu yang bikin sakit mataku.

"Hanya itu ?" tanya pelayan itu memastikan.

"Ya" ucapku mengiyakan pertanyaan pelayan tadi.

"Baik tunggu sebentar tuan" ucap pelayan itu sambil meninggalkanku sendirian.

Disini aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa. "Huh..." aku hanya bisa menghela nafas di tempat ini, tapi kenapa dia tidak ada disini ya, apa dia dipecat karena waktu itu.

Aku hanya bisa bertanya-tanya di pikiranku sendiri.

"Silahkan tuan" ucap pelayan pink itu sambil meletakkan secangkir kopi di mejaku.

"Hn" balasku.

Kemudian pelayan itu pun pergi meninggalkanku, tapi sebelum dia pergi aku memangil dirinya.

"Maaf bisa aku bertanya ?" ucapku yang sukses membuatnya berhenti berjalan dan berbalik menemuiku.

"Oh iya, namaku Sakura" ucap pelayan itu didepanku dengan senyumnya.

"Bukan itu" ucapku karena dia sepertinya salah paham.

"Maksud tuan ?" tanyanya bingung.

"Aku mau tanya, dimana pelayan yang pernah aku lihat disini ?" tanyaku pada pelayan itu.

"Pelayan, maksud tuan pelayan yang mana ?" tanyanya dengan wajah yang masih bingung.

"Pelayan yang berambut panjang dan berponi tebal, yang pernah aku bawa pergi" jelasku.

"Ah aku ingat, tuan yang membawa Hinata pergi waktu itu" senyum gadis itu.

'Jadi namanya Hinata' "Tapi dimana dia, apa dia dipecat karena aku ?" tanyaku sedikit khawatir jika seseorang dipecat gara-gara perbuatanku.

"Tidak tuan dia tidak dipecat, dia hanya masuk pada jam tiga sampai jam delapan saja, jadi dia belum masuk kerja" jelas pelayan itu.

"Terima kasih" ucapku kepada pelayan itu.

"Tidak masalah" ucap pelayan itu sambil tersenyum meninggalkanku.

'Jadi dia belum bekerja' Aku putuskan untuk meminum kopiku sambil menunggu Ibuku menghubungiku.

Tapi setelah menunggu begitu lama kenapa Ibuku tidak menelpon juga. Aku pun langsung mengambil ponsel di saku celanaku dan memencet tombol Momi di layar ponselku.

Tit...tit...tit...

"Halo sayang ada apa ?" tanya Ibuku di luar sana.

"Ibu dimana kok lama sekali ?" tanyaku tidak sabar karena Ibuku tak kunjung menghubungi.

"Aduh maaf sayang aku lupa, tadi Ibu bertemu teman Ibu dan teman Ibu mengantarkan Ibu pulang, Ibu benar-benar lupa maafkan Ibu ya ?" ucap Ibuku yang ternyata sudah berada di rumah.

"Ibu ini jika Ibu sudah pulang kabari aku" ucapku tidak terima.

"Iya maafkan Ibu ya" ucap Ibuku lagi.

"Iya iya, kalo begitu sampai jumpa" ucapku sambil menutup hubungan ponselku dan memasukannya kedalam saku celanku lagi.

Karena tidak ada urusan lagi disini, akupun memutuskan untuk pergi dari sini.

Aku berjalan menuju kearah kasir yang berada di sebelah pintu masuk tempat ini untuk membayar.

"Berapa ?" ucapku pada kasir itu.

"Bukannya tuan yang dulu pernah kesini dan membawa Hinata keluar waktu itu" ucap kasir berambut cebol dua itu.

"Begitulah, jadi berapa ?" tanyaku lagi.

"Tidak usah, waktu itu kan tuan belum mendapat kembalian, jadi ini kembaliannya setelah ku potong dengan pesanan tuan tadi" ucap kasir itu.

"Oh,kau simpan saja, nanti saat aku datang lagi tinggal potong saja" ucapku meninggalkan kasir itu.

"Slamat jalan" ucapnya dibelakangku.

Setelah keluar dari tempat itu, kuputuskan untuk berjalan menuju butik tempat Ibuku tadi belanja, karena mobil indahku ku parkir didepannya.

Tapi saat sedang asik berjalan, di seberang jalan raya aku melihat seorang gadis yang aku ingin temui.

Aku melihatnya berpakaian seragam sekolah seperti pakaian putih dan berdasi biru, diluarnya memakai jas berwarna hitam serta rok berwarna hitam kotak-kotak.

Langsung saja aku menyebrangi jalan itu dan berjalan di belakangnya.

"Kau sudah sembuh ?" tanyaku padanya yang masih didepanku.

Dia yang mendengar pertanyaanku pun menoleh kebelakang "Kau" ucapnya kaget.

"Iya aku" ucapku santai.

"Untuk apa kau kesini ?" tanyanya kepadaku.

"Bagaimana kau sudah sembuh ?" tanyaku kepadanya tanpa memperdulikan pertanyaannya tadi.

Aku pun langsung menarik pergelangan tangan kirinya dan melihat bekas lukanya beberapa hari lalu.

"Hem sudah baik" ucapku sambil melihat telapak tangannya.

"Apa-apan kau ini" ucapnya marah.

Aku tidak memperdulikan kemarahannya, malah menempelkan telapak tangannya kepipiku dan menaik turunkan tangannya.

"Hem masih halus, masih enak bila disentuhkan ke kulit" ucapku menutup mata sambil menikmati sentuhannya.

PLAK

"Aduh" ucapku kesakitan saat tangan kanannya menamparku dan langsung menarik tangan kirinya yang kupegang.

"Dasar paman mesum" ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.

'Paman, dia memanggilku paman'

"Dasar gadis tengik, aku belum tua tau" ucapku sedikit berteriak karena dia sedikit menjauh dariku.

Merasa jarak kami semakin jauh, aku pun langsung berlari kearahnya.

"Kau ini cepat sekali jalannya" ucapku setelah berhasil mendekatinya.

"Untuk apa kau menemuiku lagi ?" tanyanya yang masih melangkahkan kakinya dengan cepat.

"Tidak ada, hanya iseng" jawabku asal.

"Aku tidak ada waktu untuk meladenimu, aku sedang buru-buru" ucapnya sambil menoleh kekanan dan kekiri untuk menyebrang jalan.

"Tapi aku punya banyak waktu" balasku yang ikut menengok kekanan dan kekiri.

"Itu urusanmu" ucapnya sambil berlari kesebrang jalan. Aku yang melihatnya lari, ikut berlari juga.

Klinting

"Aku datang" ucapnya saat memasuki tempat kerjanya.

"Slamat datang Hinata" ucap kasir tadi.

Akupun masuk mengikutinya dari belakang.

"Slamat datang, loh tuan datang lagi ?" ucap pelayan itu.

"Hn" jawabku sambil tetap mengikuti gadis itu kedalam tempat khusus karyawan.

"Tuan tapi itu tempat..."

"Tidak apa-apa aku pernahkan masuk ke sana" potongku dan memasuki tempat itu.

Setelah masuk ke dalam ruangan khusus itu, tiba-tiba langkahku terhenti seketika saat gadis itu menghadang jalanku.

"Untuk apa kau mengikutiku ?" tanyanya ketus.

"Kan sudah kukatakan, iseng ?" jelasku asal lagi.

"Apa !, Cepat sana pergi aku mau bekerja" usirnya kepadaku.

"Kau ini galak sekali, apa gadis seperti ini apa ada yang akan suka" ucapku menggoda.

Duk

"Aduh" ucapku kesakitan saat tulang keringku ditendangnya "Hei sakit tau" lanjutku sambil memegang kaki kananku.

"Cepat pergi atau kau ku tendang lagi" ancamnya sambil memperlihatkan kuda-kudanya.

"Oke oke aku pergi" ucapku sambil mengangkat tangan kananku.

Aku pun pergi meninggalkan tempat itu lagi menuju mobilku. Didalam perjalananku aku tersenyum mengingat kejadian tadi 'Baru kali iki aku ditampar dan ditendang oleh seorang gadis dalam satu hari, he... entah apa yang akan terjadi saat bertemu denganmu lagi, HINATA'

.

.

.

"Aku pulang" ucapku saat memasuki rumahku.

"Slamat datang Sasuke sayang" ucap Ibuku mendatangiku "Ayo makan, ayah dan kakakmu sudah ada disana" lanjutnya sambil menarik lenganku.

"Hn" ucapku singkat.

Tidak berapa lama setelah berjalan dari pintu masuk, aku pun sampai di ruang makan. Di tempat ini aku melihat ayahku sedang duduk di tempatnya sambil memakan makanannya, sedang Itachi melambaikan tangannya di tempatnya duduk.

"Slamat malam" ucapku pada ayahku dan kakaku.

"Hm" jawab Ayahku, sedang Itachi hanya tersenyum melihatku.

aku langsung mendudukkan diriku di kursiku dan meminum air putih didepanku.

"Dari mana kau ?" tanya Itachi di sela makannya.

"Ada perlu sebentar" jawabku sambil menadahkan piring pada Ibuku yang mau menuangkan nasi untukku.

"Perlu apa ?, tidak seperti biasanya" curiga Itachi sambil memandangiku.

"Diam kau, aku mau makan" ucapku lalu memakan makananku.

.

.

.

Setelah makan malam selesai aku pun membantu Ibuku membersihkan meja dari sisa-sisa makan malam tadi.

"Sayang kamu tidak usah terlalu keras bekerja, nanti kamu tambah kurus loh" ucap Ibuku sambil mengambil piring ditanganku.

"Ibu ini berlebihan sekali" ucapku lalu mendudukkan diri kekursi.

Setelah meletakan piring-piring itu ke bak cuci, Ibuku pun mendatangiku.

"Anak Ibukan tidak boleh hilang kelucuannya" ucap Ibuku sambil menarik kedua pipiku seperti biasa.

"Aduh duh, Ibu lepaskan" ucapku memintanya karena kesakitan.

"Kau selalu bikin aku gemes sih" ucapnya setelah melepaskan pegangannya.

"Ibu sampai kapan Ibu seperti ini terus, sudah aku bilangkan aku sudah besar" ucapku sambil memegang kedua pipiku.

"Kata siapa Sasukeku sayang sudah dewasa, Sasukeku sayang kan tidak akan pernah dewasa dimata Ibu" pungkir Ibuku.

"Mau Ibu apa sih ?" ucapku kesal.

"Kalau mau aku lepasin ya berikan aku cucu" ucapnya sambil menjulurkan kedua tangannya.

"Apa, cucu mana bisa, menikah saja belum, mana bisa buat" ucapku sambil menurunkan tangan Ibuku.

"Kalau begitu menikah sana dan buatkan aku cucu" ucapnya memberi jalan keluar yang bagiku tidak mungkin.

"Apa, kenapa aku, Kakak saja yang suruh menikah, lihat berapa umurnya sekarang" ucapku sambil menunjuk Itachi didepanku.

"Hei jangan bawa-bawa aku, aku belum mau menikah, BODOH" ucap Itachi dengan memperjelas kata bodoh dihadapanku.

"Kau ini" ucapku kesal.

"Lagi pula bukannya kau sudah punya calon" ucap Itachi yang membuat Ibuku memandangku.

"Calon, siapa calonmu sayang ?" tanya Ibuku penasaran.

"Apaan sih kau" ucapku memelototi Itachi "Aku mau naik dulu ketas" lanjutku meninggalkan mereka berdua.

Tapi meskipun aku berjalan, tapi aku bisa mendengar mereka berbicara dibelakangku.

"Siapa dia Itachi" tanya ibuku.

"Itu Sasuke pernah bercerita dia penasaran dengan seorang gadis" ucap Itachi.

"Penasaran ?" ulang Ibuku.

"Iya, soalnya gadis itu...

Aku pun tidak mendengar lagi suara mereka karena semakin dekat ke lantai dua.

Setelah sampai di dalam kamarku aku pun langsung merebahkan diri diatas ranjang dan mulai menutup mata.

'Hari ini menyenangkan, esok ... aku tidak sabar lagi menunggu hari esok'

.

.

.

END OF Chapter 2

.

.

.

Gimana-gimana, apa pada suka, kalau suka ya di review dong.

Tapi kalau tidak suka ya tetep di review juga.

Tapi yang paling penting, Nikmati saja.

He he he he...