# Perasaan apa ini ?#

Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi

Pairing: Tetep SasuHina

Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.

Warning: GAJE, TYPO and OOC.

.

.

.

"Selamat pagi" ucapku pada semua orang yang ada di ruang makan.

"Pagi" ucap Ibuku sambil tersenyum memandangku saat dia sedang menghidangkan makanan di atas meja makan.

"Hm" gumam Ayahku seperti biasa.

"Tumben kau bangun pagi saat tidak bekerja" Kata Itachi tanpa membalas salamku.

"Begitulah" ucapku sambil mendudukkan diri ke kursiku.

"Jika menjadi presdir di Mall terlalu mudah bagimu, sebaiknya kau bantu kakakmu" kata Ayahku dibalik koran yang sedang dibacanya.

"Untuk apa aku menyelesaikan tugas satu minggu dalam satu hari kalau masih disuruh membantu Si bodoh ini" tolakku sambil melirik kakakku di sampingku.

"Aku juga tak butuh bantuan dari adik bodohku ini" balas Itachi dengan senyum anehnya.

"Cih" decihku.

"Sudah-sudah, kalian ini masih pagi sudah berkelahi" ucap Ibuku saat sudah selesai menghidangkan semua makanan buatannya.

Dan seperti biasa, acara makanku dihiasi dengan porsi lebih dari Ibuku yang tak mampu ku tolak karena ada kekasih Ibuku didekatnya yang selalu mendukung apapun tindakannya.

.

.

"Bu" ucapku sambil membawa beberapa piring kotor menuju bak piring cuci tempat Ibuku sedang mencuci piring.

"Ya sayang, ada apa ?" tanya Ibuku tanpa mengalihkan pandangannya pada aktifitasnya.

"Habis ini aku mau pergi ke suatu tempat" jelasku saat mendekati Ibuku sambil menaruh piring yang ku pegang kedalam bak cuci.

"Kemana pagi-pagi begini ?" tanya Ibuku penasaran.

"Itu ada urusan dengan seseorang" jawabku yang masih berdiri di samping Ibuku.

"Seseorang apa seseorang" goda Ibuku sambil memandangku.

"Apaan sih Ibu ini"

"Bukannya mau bertemu calon menantuku" ucap Ibuku dengan nada menggoda.

"M-menantu, maksud Ibu apaan sih" ucapku panik.

"Ya menantu calon istrimu" ucap Ibuku semakin tidak masuk akal saja bagiku.

"I-ibu ini bicara apa sih, lebih baik aku pergi saja langsung" ucapku meninggalkan

Ibuku sendirian di tempat itu dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.

"Nanti kenalkan pada Ibu ya !" teriaknya dibelakangku.

"Tau ah" balasku asal.

Aku pun langsung berjalan keluar rumah menuju garasi tempat mobilku ku parkir kemarin malam.

Setelah memasuki mobil ferrari putihku, aku langsung memacunya keluar gerbang menuju jalan raya.

Tidak seperti biasanya saat aku berjalan cepat memacu mobilku, saat ini aku memacu mobilku dengan kecepatan normal seperti mobil-mobil yang lainnya, karena hari ini aku akan menemui seseorang yang tidak penting untuk melakukan aktifitas yang tidak penting pula.

Saat dalam perjalanan yang memang ku sengaja untuk ku lambatkan, tiba-tiba saja getar ponsel di saku celana kananku mengusikku.

Aku pun langsung merogoh saku celanaku untuk mengambil ponselku.

"Hn" ucapku setelah menekan tombol hijau di ponselku dan menempelkan ponselku ke telingaku.

"Oi Teme, lama sekali kau ini, anak-anak yang lain sudah pada datang semua ini, kau dimana ?" ucap suara di ponselku.

"Lagi di jalan" ucapku santai.

"Kenapa lama sekali, cepat kesini" perintahnya.

"Hn" balasku.

"Hn apanya, cepat kesini aku tunggu" ucap suara Itu sebelum sambungan telpon terputus.

"Apa-apaan dia itu sudah untung aku mau datang" ucapku kesal sambil memasukkan kembali ponselku kesaku celanaku.

Meski aku sudah disuruh seseorang untuk cepat-cepat datang ke suatu tempat, tapi tetap saja kecepatan mobilku tidak bertambah.

'Peduli amat'.

.

.

Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu (soalnya ku sengaja biar lama), akhirnya aku pun sampai di depan sebuah gedung apartemant bertingkat.

Aku langsung memarkirkan mobilku di tempat parkir yang sudah disediakan dan langsung berjalan menuju kearah apartemant itu dengan langkah yang super santai.

Beberapa lama kemudian, aku akhirnya sampai didepan pintu apartemant bertuliskan angka 212. Saat dipikir-pikir, nomer ini memang sesuai dengan pemilik apartemant ini, 212 nomer bodoh, pemiliknya pun bodoh.

TING TUNG

Cklek

"Akhirnya datang juga kau Teme" ucap pria berambut kuning di depanku saat membuka pintu apartemant.

"Hn" gumamku sambil memasuki apartemannya, kusebut apartemanya karena dialah yang menempati apartemant ini.

"Kenapa baru datang, acaranya saja sudah selesai setengah jam yang lalu, kemana saja sih kamu ini ?" tanyanya kesal kepadaku.

"Macet seperti biasa" bohongku, tau sendirikan aku telat kenapa.

"Apa macet, terakhir ku telpon tadi dua jam yang lalu, apa mungkin macet selama itu ?" ucapnya tak percaya kepadaku.

"Hn" gumamku lagi, sambil berjalan menuju sofa di ruang tamunya.

Disini aku melihat tempat ini berantakan, bekas botol-botol soda tergletak begitu saja, balon-balon menghiasi sudut-sudut ruangan, dan kue ulang tahun yang hampir habis berada diatas meja di depanku.

"Salah sendiri bikin pesta pagi-pagi, lagian bukannya kemarin hari ulang tahunmu" ucapku sambil mengambil botol kola yang masih baru yang terletak diatas meja.

"Kau tau sendirikan kemarin aku berada di luar kota dan baru kembali tadi pagi-pagi" ucapnya sambil duduk di sampingku.

"Lantas siapa yang mendekor tempat ini ?" tanyaku penasaran soalnya kata dia, dia tadi baru pulang pagi-pagi lantas siapa yang mendekor tempat ini, soalnya manamungkin dalam waktu singkat dia mendekor tempat ini.

"Itu pacarku yang mendekor kemarin" jelasnya sambil mencomot kue ulang tahun yang tersisa didepanku dan memasukkannya kedalam mulutnya.

"Pacar, kapan kau punya pacar ?" tanyaku bingung, soalnya setahuku dia itu tidak punya pacar sejak SMA dulu, alasannya belum ada yang cocok (tapi sebetulnya dia itu ditolak terus oleh wanita incarannya).

"Masa aku belum cerita sih ?" ucapnya dengan gaya seperti berpikir mengingat-ingat sesuatu.

"Hn" gumamku sambil meminum kolaku.

"Oh iya ya baru ingat, aku tidak pernah cerita, hahahaha..." ucapnya sambil menggaruk kepala kuningnya.

"Hn, baru ingat kau bodoh" ucapku santai sambil menaruh kolaku.

"Kebetulan sekali kalau begitu, ayo aku kenalkan kau kepadanya" ucapnya berdiri sambil menarik tanganku.

"Apaan sih kau ini, tidak penting ah" ucapku dengan malas, sedang dia masih tetap berusaha menarikku untuk berdiri.

"Huh, ya sudah" ucapnya menyerah sambil meninggalkanku pergi masuk kedalam dapurnya.

Aku yang ditinggal sendiri olehnya hanya bisa diam sambil menyandarkan diri ke sofa dan merentangkan tanganku di bagian atas sofa, sedang kepalaku kunaikkan keatas lalu menutup kedua mataku.

.

.

"Oi Teme !"

"Hn" balasku tanpa merubah posisiku dan membuka mataku.

"Cepat buka matamu,aku mau memperkenalkan seseorang padamu"

"Siapa ?" tanyaku yang masih mempertahankan posisiku.

"Pacarku"

"Oh" ucapku yang akhirnya membuka mataku dan mendapati seorang wanita yang tidak asing bagiku, apa lagi warna rambut yang bikin mataku sakit.

"Perkenalkan dia temanku yang baru datang Uchiha Sasuke" ucap sikuning memperkenalkanku pada pacarnya "Dan dia adalah Haruno Sakura pacarku" lanjutnya memperkenalkan pacarnya padaku.

"Salam kenal" ucap gadis bernama Sakura itu.

"Hn" balasku seperti biasa.

"Tapi sepertinya aku pernah melihat kamu dimana ya?" ucap Sakura sambil mengingat ingat.

"Hn" gumamku "Di cafe" lanjutku memberitahunya.

"Oh iya sekarang aku ingat" ucapnya senang.

"Di cafe, untuk apa kalian bertemu di cafe ?" tanya pria selain aku disini dengan tatapan penuh curiga.

"Apa apaan sih kamu Naruto, aku kan memang menjadi pelayan di cafe ku" jelas Sakura pada Pria kuning bernama Naruto Itu.

"Oh iya aku lupa hahahah..." tawanya membahana di ruangan ini.

"Bodoh" gumamku pelan.

.

.

Setelah membereskan semua sisa-sisa pesta tadi, aku pun mencoba mendekati Sakura yang saat ini sedang berada di dapur untuk memasukkan sisa-sisa minuman kaleng yang belum diminum ke dalam kulkas (Ehm, disini aku tegaskan, aku tidak mendekatinya untuk menjadikannya pacar, ingat itu).

"Bisa kita bicara sebentar ?" ucapku padanya yang sukses menghentikan aktifitasnya.

"Iya silahkan" ucapnya padaku sambil menutup kulkas yang tadi dibukanya.

"Apa kau cukup mengenal pelayan yang pernah ku tanyakan padamu kemarin ?"

"Pelayan, maksudmu Hinata ?"

"Hn"

"Ya aku cukup mengenalnya, memang kenapa ?"

"Itu, waktu aku datang kemarin, aku melihatnya memakai seragam sekolah"

"Iya"

"Memang dia itu kelas berapa ?"

"Oh... dia itu sekarang kelas X di Konoha High School"

"Kelas X"

"Iya"

"Jadi umurnya sekarang sekitar 16 tahun"

"Begitulah, tahun ini dia akan berumur 17 tahun"

"Apakah dia..." ucapku cukup lama karena aku tak sanggup untuk mengatakannya.

"Hm apa ?" tanyanya tidak sabar.

"Apakah dia...s-sudah punya pacar ?"

"Pacar, setauku sih dia belum punya"

"Begitu ya"

"Begitulah, tapi ngomong-ngomong kenapa kau bertanya seperti itu,... apa jangan-jangan kau itu suka dengannya ?"

"M-mana mungkin, kau ini ada-ada saja" ucapku sambil meninggalkannya sendirian ditempat itu (Sebagai informasi, saat aku menanyakan hal-hal tadi pada Sakura, aku tak henti-hentinya menahan rasa malu karena bertanya tentang seorang gadis).

"Oi Dobe, aku pergi dulu !" teriakku sambil menuju kearah pintu keluar.

"Mau kemana kau Teme !" teriaknya juga saat keluar dari kamarnya menuju kearahku.

"Pokoknya ada perlu" ucapku langsung membuka pintu dan keluar.

"Oi TEME !"

.

.

.

Setelah melakukan perjalanan yang bisa dibilang tidak memakan waktu, akhirnya aku pun sekarang telah berada disuatu tempat yang tidak pantas dijadikan tongkrongan, karena aku berada didepan tempat para anak kecil belajar, ya ini adalah sekolah, lebih tepatnya sekolah dimana gadis yang akhir-akhir ini aku temui belajar.

Aku putuskan untuk memarkirkan mobilku disekitar sekolah itu, meski sedikit jauh dari pintu gerbang sekolah, tapi aku masih bisa melihat orang-orang keluar masuk sekolah itu. Dan akhirnya waktu-waktu menungguku pun dimulai, waktu dimana menungu sampai sekolah itu bubar.

.

.

Tak terasa waktu telah berlalu dengan cepat, waktu para anak anak kecil itu pulang sekolah pun dimulai.

Di dalam mobilku, aku melihat para penghuni sekolah itu telah berhamburan keluar meninggalkan tempat itu menuju rumah mereka masing-masing, tak terkecuali seorang gadis berambut panjang, berponi tebal, dan berwarna Indigo yang telah kutunggu sedari tadi.

"Akhirnya keluar juga kau" gumamku sendiri di dalam mobilku.

Aku langsung menghidupkan mobilku dan berjalan pelan dibelakangnya, sangat pelan, sehingga aku tidak menyalipnya, kadang-kadang aku sempat mengerem karena dia berjalan terlalu pelan.

Didepanku saat ini, aku melihatnya sedang berjalan berdampingan dengan teman perempuannya yang tidak perlu aku tahu siapa namanya. Disana aku melihatnya sedang bercengkrama dengan temannya dan sesekali aku melihatnya tersenyum disela dia berbicara (Kenapa aku bisa melihatnya tersenyum padahal aku berada dibelakangnya, soalnya saat dia tersenyum dia menolehkan kepalanya kepada temannya saat dia sedang berbicara).

Tapi saat aku sedang terhipnotis akan senyumannya, tiba-tiba sorot matanya itu seperti mencekikku saat dia melirik kearahku.

'Gawat, perasaanku jadi tidak enak'.

Selanjutnya aku melihatnya berbalik menuju kearahku. Karena jarak antara dirinya dan diriku tidak lebih dari sepuluh meter, maka dari itu dia dengan cepat akhirnya sampai disamping kiri mobilku.

Tok tok tok

Suara ketukan kaca mobil terdengar saat dia mengetuknya dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan.

"Hei kau cepat keluar !" perintahnya dengan nada yang bisa dibilang tinggi.

Aku yang mendengar perintah darinya hanya bisa menghembuskan nafas dan mulai membuka pintu mobil untuk keluar menemuinya.

"Loh kau kan gadis galak itu" ucapku dengan raut wajah yang ku buat terkejut saat berada dihadapannya "Kebetulan sekali kita bertemu disini" lanjutku.

"Apanya yang kebetulan, sejak dari tadi kau mengikutiku" ucapnya dengan nada tegas.

"Oh ya, masa sih" ucapku dengan wajah innocent.

"Kau..." ucapnya dengan geram.

Melihatnya seperti itu, aku hanya bisa menelan ludah saja.

"Hinata siapa dia ?" ucap seorang gadis yang tadi berjalan berdampingan dengannya.

Mendengar namanya disebut, gadis yang bernama Hinata itu menghentikan acara marahnya kepadaku dan menoleh kearah temannya yang ada dibelakangnya.

"Ayame, kan sudah ku billang kamu pulang duluan" ucap Hinata lembut kepada gadis itu, berbeda waktu dia sedang berbicara denganku, begitu keras dan jelas malah sering menjurus ke kasar.

"Oh jadi ini alasannya kau menyuruhku pulang duluan, mau kencan ya" goda gadis bernama Ayame pada Hinata sambil menyikut samping kanan perutnya "Setidaknya kau kenalkan aku dulu baru pergi sama kakak ganteng ini" lanjutnya sambil melihatku.

"Kau ini kenapa sih, aku kan mau bekerja seperti biasanya, bukannya mau kencannya, lagian untuk apa aku kencan dengannya" bantah Hinata pada teman disampingnya.

"Perkenalkan namaku Uchiha Sasuke" ucapku sambil menjulurkan tanganku pada teman Hinata.

"Iya namaku Ichiraku Ayame, salam kenal" ucapnya dengan meraih tanganku dan memperlihatkan senyumnya padaku.

"Ya" ucapku dengan ramah sambil mengakhiri acara jabat tangannya (Setidaknya aku bisa ramah dengan temannya dulu, baru dengan yang lainnya).

"Kau mau mengajak Hinata kencan ya ?" tanya Ayame dengan ramah ke padaku.

"Apa-apaan sih kau ini, sudah ku bilang aku..."

"Begitulah, kau tidak keberatan kan ?" potongku saat Hinata sedang bicara, sedang orang yang perkataannya ku potong hanya bisa menatapku dengan tampang bingung.

"Tentu saja, setidaknya dia punya kegiatan selain belajar dan bekerja" ucapnya masih tetap dengan senyum mengembang dibibirnya.

"Jadi dia ini ternyata seorang kutu buku ya" ucapku sambil melirik Hinata.

"Begitulah hahaha..." ucapnya dengan tawa diakhir katanya.

"Jadi bisakah aku mengajaknya sekarang" ucapku bertanya pada Ayame tapi mataku melirik pada Hinata.

"Ya tentu silahkan" ucap Ayame mengiyakan, sedang Hinata tetap memperlihatkan wajah yang tidak bersahabat.

Aku pun langsung menuju pintu kanan mobilku dan membukanya untuk mempersilahkan Hinata masuk. Tapi dilihat dari posisinya sekarang berdiri, posisi dimana dia melipatkan kedua tangannya di dada, sepertinya dia tidak akan masuk.

"Ayolah masuk" ucapku tak sabar, dia hanya memalingkan wajahnya.

"Ayolah Hinata tidak usah malu-malu" ucap Ayame sambil mendorong pungung Hinata kearahku.

Aku hanya tersenyum melihatnya saat mendekatiku dan memasuki mobilku.

"Terima kasih" ucapku pada Ayame di sampingku.

"Tidak msalah" ucapnya singkat dan berjalan kembali ke trotoar tempat pejalan kaki.

Aku pun memasuki mobilku dan mulai menghidupkan mobilku. Tapi sebelum aku meninggalkan tempat itu, aku menurunkan kaca mobil dan berpamitan dengan Ayame yang masih berdiri disamping mobilku "Kami pergi dulu, maaf aku tak sempat mengantarkanmu pulang".

"Tidak masalah"

"Hati-hati di jalan" ucapku sambil meninggalkan Ayame disana.

"Ya, kamu juga !" balasnya sambil berteriak.

.

.

.

Disaat melajukan mobilku menuju tempat dia bekerja, yaitu cafe eer... itulah pokoknya namanya, suasana hening menyelimuti kami berdua. Didalam perjalanan aku hanya melakukan tugasku yaitu menyetir dan dia hanya memandangi jendela mobilku seperti terakhir kali aku bersamanya.

Karena ingin merubah suasana hening ini, aku pun mulai mencoba berkata-kata.

"Kau mau kemana ?" tanyaku tak penting, karena aku sudah tahu arah tujuannya, lagian akukan sudah mengarahkan mobilku ke tempat kerjanya.

"Masih tanya" ucapnya ketus kepadaku.

"Akukan hanya ingin mencairkan suasana saja" ucapku sedikit melirik kepadanya.

"Tidak ada yang perlu dicairkan" balasnya yang tetap dengan nada ketus kepadaku.

Aku pun sekarang hanya diam dan berkonsentrasi pada jalanan saja. Tapi beberapa menit kemudian, giliran dia yang bersuara.

"Untuk apa kau menemuiku akhir-akhir ini" ucapnya dengan pandangan yang masih terarah pada jendela pintu, sedang nada bicaranya sudah berubah sedikit halus.

"Entahlah, aku hanya ingin melakukannya saja" ucapku kembali sedikit meliriknya "Apa itu mengganggumu ?" lanjutku.

"Sebenarnya sih mengganggu, tapi terserah kamu saja, itu hakmu" ucapnya dengan tanpa mengubah pandangannya.

Aku hanya tersenyum dan kembali meliriknya.

Tapi saat aku mau mengalihkan pandanganku ke arah depan lagi, tidak sengaja pandanganku mengarah pada bagian bawah tubuhnya. Aku melihat rok hitam kotak-kotaknya sedikit tersingkap dan memperlihatkan sedikit pahanya yang putih mulus itu.

'What the ...' batinku saat tak sengaja melihatnya.

Aku yang sedang menyetir menjadi semakin tidak berkonsentrasi kepada jalan raya. Karena merasa ini adalah kejadian yang tidak akan terulang lagi, aku putuskan untuk meliriknya sekali saja (Sumpah, hanya sekali), lagi ah, lagi ah, dan ...

"Apa yang kau lihat !" ucapnya marah saat memergokiku sedang melihat ... kalian taukan maksudku.

Diapun dengan cepat membenarkan posisi duduknya dan merapikan roknya yang tadi sedikit berantakan.

"Tak ku sangka paman sepertimu kurang ajar padaku seperti ini, cepat turunkan aku disini !" ucapnya galak.

"Hei hei hei, aku ini tidak melakukan apa-apa, dan lagian jangan panggil aku paman" ucapku mencoba membela diri, toh aku memang tidak melakukan apa-apa padanya (Setidaknya untuk saat ini).

"Apa tidak melakukan apa-apa, apa aku buta, barusan kau mengintip ku !" ucapnya yang tetap dengan nada tinggi.

"Salahmu sendiri kau duduk tidak memperhatikan penampilanmu dulu, jangan salahkan aku dong akukan hanya sedang memanfaatkan keadaan" ucapku dengan penuh percaya diri.

"Apa memanfaatkan keadaan, itu namanya mesum, cepat turunkan aku !" ucapnya tidak sabar sambil memplototiku.

"Nanti dulu, kita sebentar lagi akan sampai di tempat kerjamu, sabar dulu sebentar" tolakku.

"Huh" ucapnya sambil memalingkan kepalanya.

Aku hanya tersenyum melihatnya bertingkah seperti itu.

.

Setelah aku memarkirkan mobilku ditempat parkir didepan cafe tempatnya bekerja, tiba-tiba dengan cepat dia keluar dari mobilku dan melangkah pergi menjauh dariku.

"Anak ini" ucapku kesal karena diacuhkan olehnya.

"Hei kau" ucapku sambil sedikit berlari kearahnya.

"Apa lagi paman mesum" ucapnya setelah dia berhenti dan mengadap kearahku.

"Sudah kubilang jangan panggil aku... ya terserah lah kau mau memanggilku apa" ucapku pasrah "Kenapa sepertinya kau selalu saja marah saat aku bersamamu ?" lanjutku bertanya.

"Itu sudah jelaskan karena kau selalu mengikutiku terus, aku itu tidak suka diikuti, lagian aku tidak mengenalmu"

Aku hanya tersenyum mendengar hal itu "Kalau begitu perkenalkan, aku Uchiha Sasuke" ucapku sambil mengulurkan tanganku padanya (Lagian memang aku belum pernah berkenalan secara langsung dengannya).

"Aku tidak perlu" ucapnya sambil menampik tanganku.

'Anak ini benar-benar' batinku.

"Oke terserah" ucapku sambil mengangkat tangan kananku yang ditampiknya sebatas kepala.

Karena dia menunjukkan tanda-tanda yang sepertinya kurang bersahabat untuk sekarang, akhirnya lebih baik aku putuskan untuk menghindarinya saja. Aku langsung berpaling darinya dan pergi menuju mobilku.

Kuputuskan untuk menunggunya pulang kerja agar aku bisa bertemu lagi dengannya nanti, siapa tahu dia bisa lebih ramah (Hari ini kegiatanku hanya menunggu, menunggu dan menunggu saja, tapi oke-oke aja lah).

.

.

.

Jam tangan menunjuk keangka 8 malam, kalau tidak salah ingat sekarang waktunya dia pulang kerja, dan itu tandanya waktunya aku bertemu dengannya lagi.

Meski harus menunggu beberapa menit lagi untuk menunggunya keluar, akhirnya perjuangganku tidak sia-sia,

karena sekarang dia baru saja keluar dari tempat kerjanya bersama seorang teman kerjanya yang memiliki rambut berwarna pink yang kutahu dia bernama Sakura.

Aku langsung keluar dari mobilku yang terparkir, menuju kearah sepasang gadis itu.

"Sasuke sedang apa disini ?" tanya Sakura saat aku berhasil mendekatinya.

"Oh Sakura kau disini juga" ucapku berpura-pura tidak tahu.

"Begitulah, sedang apa disini ?" tanya Sakura.

"Aku mau mengantar temanmu ini pulang, jika dia tidak keberatan" ucapku pada Sakura sambil monoleh kearah Hinata.

"Itu tidak mungkin, aku mau bareng sama kakak Sakura pulang, jadi lebih baik kau pergi saja" ucap Hinata sambil memeluk lengan kanan Sakura.

"Tidak apa-apa Hinata jika kamu mau bareng dengannya, lagian sepertinya aku ada urusan mendadak" ucap Sakura mencoba memantuku.

"Kakak ini bagaimana sih, kalau kakak ada urusan, ya aku lebih baik pulang sendirian saja dari pada dengannya" ucap Hinata sambil meninggalkan kami berdua disini.

"Cepat sana kejar dia, aku serahkan Hinata padamu" ucap Sakura sambil berlalu pergi menuju arah mobilnya.

Aku yang mendengar itu akhirnya mulai berlari kearah Hinata yang sudah sedikit menjauh dariku.

"Hei tunggu !" teriakku disela aku berlari dan meraih lengan kanannya.

"Kau mau kemana ha, mobilku ada disana" ucapku pada Hinata yang kucegat arah jalannya.

"Aku mau pulang sendiri, jadi jangan gaganggu aku !" ucapnya tegas.

"Aku akan mengantarmu" ucapku sambil menarik lengan kanananya menuju mobilku.

"Lepaskan aku paman" ucapnya memberontak.

"Tidak bisa, Sakura sudah menyerahkanmu padaku" ucapku yang masih tetap menariknya kearah mobilku.

"Aku tidak mau" ucapnya tetap memberontak.

"Tidak mau, taukah kau seorang gadis kecil sepertimu berjalan sendirian dimalam hari terlalu berbahaya, apa lagi kau masih memakai seragam sekolah seperti itu, terlalu berbahaya" ucapku yang akhirnya menyadarkan dirinya, memang tidak baik seorang gadis berjalan sendirian dimalam hari.

Seperti biasa aku langsung membuka pintu kanan mobilku dan mempersilahkan dirinya masuk.

"Masuklah" ucapku datar.

Dia akhirnya masuk kedalam mobilku dengan sukarela.

Dengan cepat aku menuju sisi kiri mobilku lalu membuka pintunya dan segera menaikinya.

.

.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup sebentar, akhirnya kami sampai di depan apartemant kumuhnya. Kuputuskan untuk turun dari mobilku dan mendekatinya.

"Kenapa kau selalu mengikutiku terus, apa kau m-menyukaiku ?" ucapnya terbata saat aku mendekatinya.

"He, menyukaimu, apa kau sedang bermimpi, gadis sepertimu" ucapku meremehkan sambil menyunggingkan senyum aroganku.

"A-apa kau bilang" ucapnya sedikit marah.

"Lihat dirimu itu, kau itu miskin apa pantas aku ini menyukaimu gadis miskin sepertimu" ucapku yang masih memperlihatkan senyum aroganku.

"Kau...!" ucapnya geram.

"Apa yang bisa kau banggakan, tubuhmu, bahkan tubuhmu tidak masuk dalam kriteriaku, lihat dirimu sudah pendek, tidak langsing, apa lagi itumu itu, menurutku kurang bes-"

BUK

"Aduh !" teriakku kesakitan saat kakiku ditendang olehnya.

"Diam kau dan tutup mulutmu itu !" ucapnya marah sambil pergi meninggalkanku yang masih memegang kaki kananku yang terkena tendangannya.

"Kau selalu ada di pikiranku !" teriakku yang telah melupakan rasa sakit dikakiku.

"Entah apa yang kau lakukan padaku sampai seperti ini. Aku tahu kita jauh berbeda tapi aku tidak bisa menghilangkan pikiranku terhadapmu" ucapku yang masih berdiri tegap dibelakangnya "Sihir apa yang kau lakukan padaku Hinata !" lanjutku sambil berlalu pergi menuju mobilku.

Dia yang mendengar itu hanya bisa berdiri menghadap kearahku dan melihatku pergi meninggalkan tempat itu dengan mobilku.

.

.

.

END OF Chapter 3

.

.

Disini aku buat hinata tidak gagap lagi, soalnya untuk karakter di fic ini hinata tidak bileh kelihatan lemah, oke.

Dan untuk Sasuke, disini kubuat dia tak sedingin seperti biasanya dan lebih mengekspresikan perasaannya, jadi di fic ini kedua tokoh utamanya benar-benar OOC banget.

.

.

Aku tunggu kritik dan sarannya.