# Perasaan apa ini ?#
Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi
Pairing: Tetep SasuHina
Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.
Warning: GAJE, TYPO and OOC.
Tok tok tok
"Maaf Presdir mengganggu, tapi apa anda belum selesai juga, masalahnya ini hampir pukul 10 malam ?" tanya sekertarisku setelah dia masuk dan mendekat kearahku.
"Hn, sepertinya pikiranku hari ini sedang kacau sehingga tugas seperti ini saja tidak selesai-selesai. Tapi jika kau mau pulang, pulanglah, aku tidak melarangmu" ucapku yang masih mengerjakan beberapa tugas yang masih tersisa diatas meja kerjaku.
"Tidak Presdir, aku tidak akan pulang sebelum anda pulang" ucap sekertarisku yang berdiri didepanku "Apakah Presdir butuh makanan atau minuman untuk menemani Presdir lembur ?" lanjutnya bertanya kepadaku.
"Tidak perlu, sebentar lagi aku juga selesai" ucapku datar tanpa mengalihkan aktifitasku sekarang.
"Baiklah kalau begitu Presdir" ucapnya sambil meninggalkanku sendirian diruanganku.
Setelah Kiba selaku sekertarisku meninggalkanku, aku langsung menghentikan kegiatanku dan mulai berdiri meninggalkan meja kerjaku menuju arah jendela kaca yang berada dibelakangku.
Tidak lama setelah aku melangkahkan kaki, akhirnya aku sampai didepan jendela kantorku. Disini aku bisa melihat betapa gelapnya langit malam hari ini, tanpa diterangi oleh bintang-bintang yang biasanya bertaburan. Sama seperti hatiku yang gelap sekarang.
"Sial" ucapku saat aku teringat lagi akan kejadian beberapa waktu yang lalu.
Kejadian dimana aku mengatakan hal yang harusnya tidak aku katakan, mengatakan hal yang harusnya hanyalah aku yang mengetahuinya (Bukan kata yang mengatakan bahwa itumu kurang bes..., tapi yang setelahnya).
.
.
.
Setelah menyelesaikan semua tugas kantor yang tersisa, akhirnya disinilah aku sekarang, di tempat dimana dia tinggal. Tapi lebih tepatnya aku berada dipinggir jalan didepan apartemant kumuhnya.
Kemudian aku putuskan untuk keluar dari mobilku dan berjalan kearah pintu apartemantnya. Meski aku sudah berada tepat didepan pintu apartemantnya, tapi aku tidak memutuskan untuk mengetuknya agar orang yang tinggal dalamnya membukkanya, melainkan aku hanya mondar mandir tidak jelas didepan sini.
'Apa yang harus kulakukan disini' batinku sambil tetap mondar-mandir kekanan dan kekiri.
Tapi disaat pikiranku masih dalam keadaan kacau, tiba-tiba saja sorot cahaya lampu mengarah kemukaku yang mengakibatkan pandanganku menjadi buram.
"Hei apa yang kau lakukan ?" teriakku pada seseorang yang mengarahkan sorot cahaya lampu itu kearah mukaku. Mendengar ucapanku barusan, orang yang menyorot cahaya lampu itu kemudian mengubah arah sorotannya yang tadinya kemukaku menjadi kearah bawah. Disaat itu aku melihat seorang pria berseragam Polisi yang sedang memegang sebuah senter berwarna hitam di tangan kanannya.
"Selamat malam" ucap Polisi itu sambil memberi hormat padaku.
"Iya pak ada apa ?" tanyaku bingung akan keberadaannya disini.
"Apa anda tinggal disini ?"
"Tidak pak"
"Apa anda mengenal atau ada urusan dengan penghuni didalam"
"Tidak juga, memang ada apa ?"
"Kalau begitu anda harus ikut denganku kekantor"
"Loh emang ada apa, aku tidak melakukan hal apa-apa"
"Memang anda tidak melakukan apa-apa, tapi belum melakukannya"
"Maksud bapak ?"
"Sedari tadi saya memperhatikan anda mondar mandir ditempat ini, bisa dipastikan bahwa anda sekarang sedang atau ingin melakukan kejahatan"
"Tunggu pak, mana mungkin aku ..."
"Tidak usah banyak bicara lagi, ayo ikut aku dan jelaskan nanti dikantor polisi"
"Apa, tunggu dulu"
.
.
.
Dan disinilah aku sekarang berada, ditempat duduk didalam kantor polisi.
"Silahkan anda bisa menghubungi seseorang untuk menjamin anda" ucap polisi tadi yang membawaku kesini.
"Mana mungkin ada yang mau malam-malam begini datang menjaminku. Apa tidak bisa aku saja yang menjamin diriku sendiri, lagiankan aku memang tidak melakukan apa-apa" ucapku didepan Polisi itu.
"Meskipun itu bisa, tapi anda akan tetap ditahan selama malam ini"
"Baiklah aku akan menghubungi seseorang dulu" ucapku sambil memalingkan pandanganku dari polisi itu menuju ponsel yang aku pegang sekarang. Kemudian akupun langsung menghubungi satu-satunya orang yang kupikir bisa datang kesini. Bukan Dobe yang pasti sulit untuk bangun tengah malam begini, apalagi Ayahku, mau cari mati aku menghubungi Ayahku untuk menjaminku dikantor Polisi. Ibuku, tentu saja bukan, bisa-bisa setelah aku dikeluarkan dari sini malah kemudian aku menjadi tahanan rumahnya. Tentu saja pilihan terakhirku dan satu-satunya orang yang bisa datang kesini menurutku yaitu kakaku Itachi.
"Halo Kakak"
"Hn ada apa ?"
"Aku butuh bantuanmu sekarang"
"Apa cepat katakan"
"Mm, kau datanglah kekantor Polisi untuk menjaminku sekarang"
"Apa kantor polisi"
"Iya cepatlah, kalau tidak aku akan ditahan semalaman disini"
"Oh, halo Sasuke suaramu putus-putus aku tidak bisa mendengarmu"
Tut tut tut
"Halo halo Itachi !" teriakku saat Itachi menutup telphonnya "Sialan" lanjutku mengumpat.
"Bagaimana ?" ucap Polisi didepanku setelah aku memasukan ponselku kesaku celan.
"Tidak ada yang menjaminku" jawabku atas pertanyaan Polisi itu.
"Baiklah kalau begitu" ucap Polisi itu sambil berdiri dari kursinya "Ayo ikuti aku" lanjutnya sambil menuju ruang tahanan.
Aku yang mendengar itu hanya pasrah mengikutinya menuju tempatku menginap malam ini.
.
.
.
Ting ting ting
"Oi bangun !" terdengar suara seseorang dari luar tahanan yang menyuruhku bangun sambil memukul jeruji tahanan beberapakali.
Aku yang terganggu akan suara itu ahirnya perlahan-lahan membuka mataku untuk melihat siapa yang menggangu acara tidurku yang nyaman ini meski didalam jeruji tahanan.
"Oi bangun, sampai kapan kau mau tidur disini !" teriak orang itu lagi yang kuketahui adalah seorang petugas Polisi.
"Apa aku sudah boleh pulang ?" tanyaku pada petugas itu sambil menggaruk belakang kepalaku.
"Iya, setelah kamu mengisi beberapa formulir" ucap petugas itu sambil membukakan pintu tahanan untukku.
Tanpa menunggu lagi aku kemudian berdiri dari tempatku sekarang dan mulai berjalan keluar menuju petugas itu.
"Silahkan kamu mengisi formulir yang ada dimeja itu" ucap petugas itu sambil menunjuk kearah barang yang dimaksud.
"Hn" ucapku datar sambil berjalan kearah tempat formulir itu berada dan mulai mengisinya setelah aku berada disana.
"Ini aku sudah mengisinya" ucapku pada petugas didepanku "Jadi boleh aku pergi dari sini sekarang ?" lanjutku bertanya.
"Iya silahkan" ucap petugas itu mempersilahkan aku untuk pergi.
"Hn" ucapku datar lalu pergi meninggalkan kantor Polisi itu.
Setelah keluar dari kantor Polisi itu, kemudian aku berjalan menuju kearah apartemant kumuh gadis itu untuk mengambil mobilku yang terparkir didekat tempatnya. Masalahnya waktu aku digiring kekantor Polisi aku tidak membawa serta mobilku bersamaku (Mana mungkin bisa, orang yang ditangkap oleh petugas Polisi mana bisa bawa mobil sendiri).
Tidak beberapa lama aku berjalan dikarenakan jarak antara kantor Polisi dan tempat itu tidak begitu jauh, akhirnya aku sudah sampai ketempat itu dan masuk kedalam mobilku. Saat aku berniat untuk menghidupkan mobilku untuk pergi dari tempat ini, tiba-tiba pandanganku kemudian teralihkan oleh mobil sport hitam yang baru saja berhenti didepan apartemant gadis itu. Karena penasaran untuk apa mobil orang kaya itu berhenti disini, akupun langsung mengurungkan niatku untuk meninggalkan tempat ini dan mulai mengamati mobil sport hitam itu.
Dari dalam mobil itu, kemudian munculah seorang anak laki-laki berambut merah dan kalau tidak salah lihat ada tato dikeningnya mulai berjalan kearah pintu apartemant gadis itu. Anak berrambut merah yang mengenakan seragam sekolah itu kemudian dengan perlahan mengetuk pintu apartemant itu beberapa kali. Dan beberapa saat itu pula munculah seorang gadis berambut panjang dan berwarna indigo keluar dari balik pintu.
Entah apa yang mereka bicarakan sehingga tiba-tiba saja anak itu mencolek dagu gadis itu yang membuatku geram.
"Sialan kau anak kecil, apa yang kau lakukan pada Hinataku" ucapku geram sambil kedua tanganku mencengkram setir mobilku "Tunggu dulu, Hinataku apa yang baru saja kukatakan !" lanjutku frustasi sambil mengacak rambutku sendiri.
Kemudian aku melihat anak itu meninggalkan Hinata sendirian menuju mobilnya. Hinata yang tadinya diam saja kemudian mengikuti anak itu masuk kedalam mobilnya.
Aku yang ingin tau ada hubungan apa mereka, kemudian mengikuti mobil itu dari belakang. Setelah beberapa menit mengikuti mobil itu, tiba-tiba saja mobil itu berbelok masuk menuju kedalam sekolah yang aku tau itu adalah sekolah Hinata.
"Jadi mereka bersekolah ditempat yang sama, tapi ada hubungan apa mereka" ucapku pelan yang masih mengamati mobil itu masuk kedalam sekolah itu.
.
.
.
"Aku pulang !" teriakku saat aku memasuki rumahku.
Dan dengan cepat setelah aku mengucapkan salam itu Ibuku datang menghampiriku "Sasuke dari mana saja kau, semalaman tidak pulang ?" tanya Ibuku disampingku.
"Tidak dari mana-mana, hanya saja aku tadi malam sedang menginap ditempat yang tidak biasa" ucapku santai sambil menuju keruang makan.
"Dimana tempat tidak biasa itu, apa kamu melakukan hal-hal aneh ?" tanya Ibuku yang masih mengikutiku.
"Hal-hal aneh apa, aku tidak melakukan apa-apa, sumpah" ucapku menyakinkan Ibuku.
"Benar ?" tanya Ibuku yang masih mencurigaiku.
"Iya benar" jawabku sambil mendudukkan diri dikursi meja makan untuk memulai aktifitas makan pagiku.
.
.
.
Didalam kamarku sekarang, aku dari tadi memikirkan sesuatu yang menjadi pikiranku sekarang. Ada hubungan apa Hinata dengan anak itu, dan kalau tidak salah ingat aku pernah melihat wajah itu, tapi dimana.
Setelah berfikir keras sambil tiduran diatas ranjangku, kemudian aku mengingat siapa anak itu "Anak tukang pasir" ucapku sambil membuka kedua mataku yang tadinya tertutup "Tapi ada hubungan apa anak itu dengan Hinata ?" ucapku yang sekarang menjadi pikiranku.
Tanpa menebak-nebak ada hubungan apa dengan mereka, kemudian aku berjalan kearah meja kerjaku dan meraih ponsel yang tadi aku taruh disana. Aku kemudian mencari nama Sekertaris di daftar buku telfonku dan menghubunginya.
"Halo Presdir, ada apa menghubungiku ?"
"Apa kau bisa mencarikan aku nomer telfon anak dari pengusaha pasir"
"Pengusaha pasir ?"
"Iya, pengusaha pasir yang pernah berkerja sama dengan kita dulu saat pembangunan Mall di daerah Iwa"
"Baiklah Presdir, aku akan mencarikannya"
"Cepatlah aku menunggu mu"
Tut tut tut tut...
Akupun langsung menutup hubungan ponselku setelah aku selesai mengutarakan maksudku pada sekertarisku. Karena mungkin membutuhkan waktu untuk mencari informasi itu, akupun memutuskan untuk kembali keranjangku dan mulai memejamkan mataku sebentar.
.
.
Nud nud nud
Suara getar ponselku yang berada di meja kerjaku membuatku terkaget menyebabkan aku membuka kedua mataku. Aku kemudian mulai berjalan kearah meja kerjaku dan meraih ponselku untuk mengetahui siapa yang menghubungiku sekarang.
"Kiba" ucapku saat melihat nama sekertaris dilayar ponselku.
"Ya, bagaimana hasilnya Kiba" jawabku setelah aku menekan tombol hijau di ponselku.
"Aku sudah mendapatkan semua nomor ponselnya Presdir"
"Semuanya, maksudmu ?"
"Begini Presdir, Pengusaha pasir itu memiliki lebih dari satu anak, lebih tepatnya tiga"
"Tiga ?"
"Iya Presdir"
"Aku tidak membutuhkan mereka semua, aku hanya butuh satu, anaknya yang masih seorang pelajar"
"Oh begitu, kalau yang masih pelajar sih cuma ada satu, dia adalah Sabaku Gaara"
"Gaara"
"Iya Presdir"
"Kalau begitu berika aku nomor ponselnya"
"Baiklah Presdir, nomor ponselnya adalah ..." ucap Kiba memberitahuku nomor ponsel dari Gaara.
"Baiklah terima kasih" ucapku sambil mematikan hubungan ponselku.
Setelah aku mendapatkan nomor ponsel anak bernama Gaara itu, kemudian giliran aku yang menghubunginya.
Tut tut tut...
"Halo siapa ini ?" tanya anak yang kuhubungi.
"Ini aku Uchiha Sasuke"
"Uchiha Sasuke, ada urusan apa seorang Uchiha menghubungiku ?"
"Aku ingin bertemu denganmu"
"Bertemu, untuk apa aku bertemu denganmu"
"Aku ingin berbicara denganmu"
"Begitu"
"Iya"
"Kalau begitu kita bertemu nanti jam 3 di cafe cute yang berada didekat sekolahku berada, kau tau tidak ?"
"Aku tau, baiklah aku tunggu kau" ucapnya sambil memutuskan sambungan telfonku.
.
.
Karena waktu menunjukkan hampir pukul setengah 3, akupun kemudian memutuskan untuk menuju ketempat dimana aku tadi membuat janji.
"Ibu aku pergi dulu !" teriakku saat aku menuruni tangga menuju lantai satu.
"Tunggu mau kemana kamu ?" tanya Ibuku yang langsung keluar dari kamarnya yang berada dilantai satu.
"Ada urusan sebentar" jawabku setelah aku mendaratkan kakiku di lantai satu.
"Kemana ?" tanya Ibuku lagi sambil menuju kearahku.
"Menemui seseorang" jawabku sambil menuju kepintu keluar.
"Sebelum keluar makan dulu, kau tadi belum makan kan" ucap Ibuku hampir meraih tanganku.
"Tidak bu aku sedang buru-buru" ucapku sambil kabur meningalkan Ibuku sendirian disana.
"Sasuke !" teriaknya kepadaku.
.
.
Tidak beberapa lama setelah aku mengendarai mobilku, akhirnya aku sampai ditempat dimana aku bertemu dengan anak bernama Gaara itu, yaitu di cafe cute. Waktu sekarang menunjukkan jam tiga kurang sepuluh menit, akupun mulai menunggu kedatangan anak itu. Sambil menunggu anak itu datang, kemudian aku putuskan untuk memesan sesuatu agar perutku ini terisi sedikit.
"Permisi" ucapku sambil mengangkat tanganku agar menjadi pusat perhatian para pelayan disini.
Tidak beberapa lama kemudian, pelayan yang kukenal datang menghampiriku. Gadis berambut pink yang bikin mataku sakit, Sakura.
"Tumben kau datang kesini Sasuke, mau bertemu Hinata ya ?" godanya sambil bersiap mencatat pesananku.
"Tidak, aku kesini karena ada janji dengan seseorang" ucapku datar "Aku mau pesan Spageti" lanjutku memesan yang kemudian dicatat oleh Sakura.
"Minumnya ?" tanya Sakura padaku.
"Jus tomat" jawabku lagi.
"Baiklah kalau begitu tunggu sebentar" ucap Sakura yang kemudian pergi meninggalkanku menuju dapurnya.
Saat aku sedang menunggu pesananku datang, tiba-tiba saja dari arah pintu cafe ini masuklah Hinata dan seorang anak laki-laki berambut merah bernama Gaara kedalam cafe ini bersamaan menandakan bahwa mereka datang bersama.
Melihat orang yang aku tunggu telah datang, akupun mengangkat tanganku untuk memberitahu posisiku duduk. Gaara yang melihat akan keberadaanku kemudian berjalan menghampiriku, sedang Hinata yang juga menyadari kehadiranku hanya memalingkan wajahnya menuju pintu yang pernah aku masuki (Ruangan yang bertuliskan khusus karyawan).
Setelah sampai ditempatku berada sekarang, Gaara kemudian mendudukkan dirinya ditempatku.
"Jadi untuk apa kau mengundangku kesini ?" tanyanya datar kepadaku.
"Jadi langsung keintinya" ucapku santai.
"Begitulah, aku tidak punya banyak waktu" ucapnya datar lagi.
"Baiklah, aku mau tanya ada hubungan apa kau dengan Hinata ?" ucapku serius kepadanya.
"Jadi hanya masalah ini ?"
"Iya, cepat katakan"
"Aku dan Hinata tidak ada hubungan khusus"
"Jadi tidak ada hubungan ?"
"Begitulah,..."
"..."
"Tapi"
"Tapi ?"
"Jika aku memintanya untuk melakukan sesuatu, dia tidak akan bisa menolaknya"
"Apa maksudmu ?" ucapku yang mulai emosi karena mendengar kata-katanya barusan.
"Dia tidak akn menolak apapun yang aku mau" ucapnya dengan senyum mengembang dibibirnya.
"A-pa maksudmu barusan, k-kau sebenarnya ada hubungan apa dengan Hinata ?" ucapku yang tidak percaya akan katanya barusan.
"Aku sudah bilang aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya"
"Mana mungkin tidak ada hubungan apa-apa, kau dan dia ..." ucapku terhenti tak mau melanjutkan ucapanku.
"Dia itu berhutang padaku, dia tidak mampu membayar sehinga dia menjadi gadisku" ucapnya dengan senyum yang masih mengembang dibibirnya.
"Kau" ucapku sambil meraih kerah bajunya karena sudah tak bisa menahan emosi .
"Kenapa, kau menginginkannya, kalau begitu bayar hutangnya dan ambilah dia untukmu" ucapnya dengan senyum yang masih mengembang dimukanya, meski aku sedang mencengkram kerah bajunya.
Sedikit demi sedikit aku kemudian melepas cengkramanku dari kerah bajunya dan mulai duduk seperti biasanya.
"Berapa yang kau mau ?"
"Tidak banyak, hanya mobilmu yang kuinginkan dulu"
"Apa, kau tau harganya berapa ?"
"Aku tau"
"Lantas kenapa kau menginginkannya, itu tidak masuk akal"
"Kalau begitu tidak masalah, karena aku masih bisa menikmati dia dengan puas" ucapnya yang membuat aku menjadi emosi dan melemparkan kunci mobilku kearahnya.
"Terima kasih" ucapnya setelah berhasil menangkap kunci mobilku.
"Beritahu dia bahwa hutangnya telah lunas dan kau tidak akan menemuinya lagi"
"Oke" ucapnya santai sambil meninggalkanku sendirian disini.
Dia kemudian menuju kearah Hinata yang baru saja keluar dari ruang khusus karyawan itu dan membisikan sesuatu.
.
"Baiklah kalu begitu selamat tinggal Hinata" ucap Gaara pada Hinata yang bisa kudengar sambil keluar dari tempat ini.
'Apa itu benar Hinata, kau dan dia telah...' batinku saat melihat Hinata menuju kearahku.
Tapi selang beberapa waktu setelah Gaara pergi, tiba-tiba saja getar ponsel disakuku mengusikku. Aku kemudian merogoh saku celanaku dan mulai membaca sms yang dikirim seseorang untukku.
"Nomor ini kan milik anak itu" ucapku setelah melihat nomor telephon yang terlihat dilayar ponselku. Aku kemudian membuka isi smsnya dan mulai membacanya.
'Aku bercanda soal Hinata tadi, tapi untuk masalah hutangnya itu memang benar. Jadi terima kasih atas mobilnya'.
"Apa, anak ini, dasar sial" ucapku kesal karena telah dipermainkan olehnya.
Saat sedang kesal sendiri mengenai hal barusan, Hinata yang tadi berjalan kearahku telah sampai dihadapanku sekarang.
"Bisa kita bicara sebentar ?" ucapnya yang berdiri didepanku.
"Baiklah" balasku akan ajakannya.
Dan disaat itu pula dia berbalik dari hadapanku menuju kearah ruangan khusus karyawan itu. Aku yang tadi menyetujui ajakannya kemudian berjalan mengikutinya dari belakang.
Saat aku sedang berjalan mengikuti Hinata, aku berpapasan dengan Sakura yang sedang membawakan pesananku.
"Sasuke pesananmu ?" ucap Sakura bingung saat aku melewatinya.
"Taruh saja dulu disana" ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan Sakura dan mengikuti Hinata.
Setelah aku berada diruang loker dimana aku pertama kali aku menyentuh Hinata (Menyentuh dalam arti sebenarnya).
"Ada apa ?"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, ada apa denganmu ini, kata Gaara tadi kau telah mebayar hutangku"
"Dia mengatakan itu"
"Kau tidak berhak mencampuri urusanku, minta kembali uangmu padanya"
"Itu tidak akan mungkin bisa"
"Apa maksudmu ?"
"Aku tidak akan memintanya kembali, dengan begitu hiduplah dengan normal, jangan terlalu keras bekerja hanya untuk membayar hutang"
"Kau tidak bisa melakukan ini !"
"Aku bisa !"
"..."
"Sudahlah, aku tidak mau membicarakannya hal yang sudah terlewat, aku mau kembali kemejaku untuk makan pesananku" ucapku sambil meninggalkannya ditempat itu.
.
.
.
Setelah menyantap makananku, aku kemudian berjalan kearah kasir untuk membayar pesananku tadi.
"Ini" ucapku sambil menyodorkan uang 10ribu yen kepada kasir yang ada didepanku.
"Ini kembaliannya dan terima kasih atas kunjungannya" ucap kasir itu sambil menyodorkan beberapa uang kembalian kepadaku.
"Hn" gumamku sambil berlalu keluar meninggalkan kasir itu.
"Terpaksa aku naik taksi untuk pulang" ucap sendiri sambil berdiri ditepi jalan untuk menghentikan taksi yang lewat.
Tapi saat aku ingin menghentikan sebuah taksi untuk aku naiki, dari belakang namaku disebut (Bukan nama sih, lebih tepatnya sebuah panggilan yang biasanya diberikan olehku darinya).
"Paman tunggu" itulah suara yang aku dengar dari belakangku.
Aku yang tau siapa yang memanggilku barusan, kemudian memutuskan untuk membalikan badanku.
"Hinata"
"Paman tunggu sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucapnya yang kemudian telah berada didepanku.
"Ada apa Hinata ?"
"Itu, aku minta maaf atas ucapanku tadi" ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
"Minta maaf ?"
"Iya, harusnya aku berterima kasih atas bantuan paman karena membayar hutangku, tapi malah aku marah pada paman, jadi tolong maafkan aku"
"Tidak masalah" ucapku sambil mengangkat dagunya untuk menegakkan kepalanya yang menunduk sambil mengelus pipinya yang halus setelahnya (Inilah niatku yang sebenarnya mengelus pipinya yang halusss).
Tapi saat aku sedang keenakan atas perbuatanku sekarang ini, kemudian tiba-tiba saja suaranya mengganggu keenakanku sekarang.
"Apa yang kamu lakukan, PAMAN !" ucapnya geram kepadaku.
"Hehehehe..." tawaku datar yang tak enak "Tidak ada kok" lanjutku berbicara.
"Lalu tanganmu ini sedang apa, PAMAN !" geramnya sambil meremas tangan kananku yang sedang menempel dipipi halusnya.
"Aduh duh duh duh..." ucapku kesakitan karena tanganku diremasnya sangat kuat.
"Ternyata paman masih saja sama, masih Mesuuum !" teriaknya keras yang diimbangi oleh kerasnya remasan tangannya.
"Aduhhh... lepaskan gadis tengik !" teriakku kesakitan.
"Aku tadinya ingin berpikir kalau paman ini baik, tapi ternyata paman masih saja sama !" teriaknya yang semakin keras meremas tanganku.
"Aduhhh... maaf, aku minta maaf, jadi lepaskan tanganku, aduh duh duh duh...!
"Ini balasan dari tangan paman yang MESUM...!"
"aduhhhh...!"
.
.
.
"Aku pulang" salamku seperti biasa saat aku masuk kedalam rumah. Tapi kali ini keadaannya tidak seperti biasanya, karena biasanya Ibuku akan dengan cepat mendatangiku dan menuntunku kemeja makan, tapi kali ini Ibuku tidak melakukannya.
'Ada apa ini ?' batinku bertanya.
Saat aku melewati ruang keluarga yang berada disebelah ruang makan, aku melihat beberapa orang berkumpul ditempat itu, ada Ayah, Ibu dan Itachi yang sedang berlutut dihadapan Ayahku.
'Itachi sedang berlutut, kenapa ?, ada apa ?' batinku bertanya-tanya saat melihat kejadian ini.
Kemudian karena penasaran akan apa yang terjadi saat ini, akupun kemudian memasuki ruang keluarga dan bertanya akan apa yang terjadi disini.
"Ada apa ini ?" tanyaku yang membuat seluruh orang yang berada disini memandangiku, termasuk Ayah, Ibu, Itachi dan, 'Siapa lagi cewek yang sedang duduk di sofa itu ?'
.
.
.
.
END OF Chapter 4
Aku tunggu kritik dan sarannya.
