# Perasaan apa ini ?#

Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi

Pairing: Tetep SasuHina

Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.

Warning: GAJE, TYPO and OOC.

"Ada apa ini ?" tanyaku yang membuat seluruh orang yang berada disini memandangiku, termasuk Ayah, Ibu, Itachi dan, 'Siapa lagi cewek yang sedang duduk disofa itu ?' batinku bingung saat melihat seorang wanita berambut biru pendek dengan hiasan bunga mawar berwarna putih disisi kanannya, sedang duduk tertunduk disebelah kiri Ibuku.

"Sasuke kamu sudah pulang" ucap Ibuku sambil berjalan menghampiriku.

"Ibu ada apa ini ?" tanyaku lagi kepada Ibuku yang sekarang sudah berada didepanku.

"Sudah tidak usah bertanya lagi, Ibu jelaskan nanti" ucap Ibuku sambil menuntunku keluar dari tempat ini, tapi belum sempat aku dan Ibuku keluar, suara Ayahku menghentikanku.

"Sasuke kau duduk saja disofa itu bersama Ibumu" ucap Ayahku yang kemudian aku turuti.

"Cepat katakan apa pembelaanmu sekarang Itachi ?" ucap Ayahku yang membuatku tambah bingung.

'Pembelaan, apa lagi maksud ayah ini ?' batinku bingung.

"Maafkan aku Ayah, tapi aku mencintainya, aku tak bisa hidup tanpanya" ucap Itachi yang membuatku sedikit mengerti akan keadaan disini sekarang.

'Itachi mencintai gadis di sebelah ibuku ini, tapi hubungan mereka sepertinya ketahuan oleh Ayah, dan Ayah tidak menyetujuhi hubungan mereka' batinku menarik kesimpulan sementara ini sambil mengangguk-ngangguk tidak jelas.

"Lalu bagaimana penjelasanmu tentang perbuatanmu kepadanya" lanjut Ayahku berbicara.

"I-itu... " ucap Itachi terbata.

'Hoh begitu rupanya, Itachi ternyata membawa lari gadis itu untuk menikah karena Ayah tidak menyetujuinya tapi berhasil digagalkan oleh Ayah dan akhirnya mereka berakhir disini' batinku lagi 'Aku memang jenius' lanjutku lagi.

"Aku akan bertanggung jawab akan perbuatanku itu Ayah" ucap Itachi kepada Ayah.

"Tentu saja kau akan bertanggung jawab akan anak yang sedang dikandungnya, mana mungkin kau akan lepas tangan begitu saja !" ucap Ayahku dengan menaikkan nada suaranya.

"Hah, kau menghamilinya bodoh, tak kusangka kau sebejat itu" ucapku tanpa sadar setelah mendengar ucapan Ayahku sambil tertawa.

Mendengar ucapanku barusan, Itachi yang sedari tadi menunduk langsung menatapku dan memberikan death glear andalannya yang tidak mempan bagiku.

"Kau diam saja Sasuke" ucap Ayahku kepadaku yang membuatku langsung menutup mulutku.

"Maka dari itu aku membawanya kemari Ayah, agar mendapat persetujuan dari Ayah dan Ibu untuk menikahinya"

"Apa boleh buat, kau sudah menghamilinya, aku tak bisa mencegahmu untuk menikahinya" ucap Ayahku yang sepertinya menyetujui akan hubungan Itachi dan gadis berambut biru disebelah Ibuku.

"Terima kasih Ayah" ucap Itachi sambil berdiri menuju gadis di sebelah Ibuku.

"Cepat ucapkan terima kasih pada Ayah dan Ibu" lanjut Itachi pada gadis itu.

Mendengar ucapan Itachi barusan, gadis itupun langsung berdiri dari kursinya dan membungkuk ke Ayahku dan mengucapkan terima kasih padanya.

"Terima kasih Ayah" ucapnya kepada Ayahku dan "Terima kasih Ibu" lanjutnya membungkuk kepada Ibuku.

"Selamat datang dikeluarga kami nak Konan" ucap Ibuku sambil memegang bahu gadis itu dan menegakkan kembali dari acara membungkuknya.

"Lihat kau menangis" ucap Ibuku sambil menyeka air mata yang keluar dari mata gadis itu "Seharusnya kau bahagia" lanjut Ibuku berbicara.

"Tidak Ibu, aku tidak sedih, aku hanya terlalu bahagia karena Ayah dan Ibu mau menerimaku menjadi menantu disini" ucap gadis itu kepada Ibuku.

Aku yang melihat kejadian dihadapanku sekarang hanya bisa memutar bola mataku.

"Kayak sinetron saja" ucapku pelan sambil berdiri dari sofa tempatku duduk.

"Ehem, perkenalkan aku Sasuke" lanjutku sambil mengulurkan tanganku.

"Iya salam kenal Sasuke" ucap gadis itu sambil menjabat tanganku "Namaku Konan" lanjutnya memperkenalkan diri.

"Ya, salam kenal juga" ucapku yang kemudian melepaskan genggaman tanganku.

"Ibu aku keatas dulu, mau istirahat" lanjutku berbicara kepada Ibuku yang berada disamping gadis bernama Konan itu.

"Baiklah kalau begitu istirahatlah" ucap Ibuku mengizinkan.

"Ayah aku keatas dulu" giliranku berucap pada Ayahku yang sedang duduk disofa satunya.

"Hn" balasan yang aku terima.

Setelah mendapatkan jawaban itu, kemudian aku menepuk pundak Itachi dan mengucapkan sesuatu pada Konan.

"Aku tinggal dulu kakak ipar" ucapku yang langsung meninggalkan tempat itu menuju kamarku.

"Ada-ada saja kejadian hari ini" ucapku saat merebahkan tubuhku keatas ranjang.

.

.

.

Setelah aku menyantap makan siangku yang terlambat beberapa jam, akupun langsung menuju garasi tempat mobil cantikku DULU ada disana.

Setelah sampai disana, aku langsung membuka garasi itu dan memasukinya untuk mencari kendaraan yang bisa aku pakai.

Aku disini tidak melihat satupun mobil terpakir disini, aku hanya melihat sebuah motor milikku yang pernah aku pakai saat aku bersekolah dulu, yaitu Motor Kaw*saki Shinobi berwarna biru.

"Hm..., sekali-kali ganti suasana juga tidak buruk" ucapku sambil melangkahkan kakiku menuju motor biruku itu.

Aku langsung meraih helm hitam yang tergantung di kemudi motorku dan langsung memakainya.

Setelah semua siap meski aku tidak memakai jaket dan hanya memakai kemeja lengan panjang yang sekarang aku pakai, akupun langsung menaiki motorku dan langsung memacunya menuju jalan raya yang akan mengantarku ketempat biasa aku meluangkan waktu akhir-akhir ini.

.

.

.

Binggo

Itu dia sasaranku baru keluar dari sarangnya, aku dengan segera langsung mengenakan helmku dan menuju kearahnya.

Tin tin

Suara klaksonku saat aku mendekat kearahnya.

Dia dan temannya yang sedang berjalan kemudian terkaget dan secara bersamaan berbalik kearahku.

"Hei siapa kau ?" tanya sasaranku kepadaku yang kurespon dengan memarkirkan motorku dan membuka helm yang sedang kukenakan

(Seperti iklan shampo, aku mengibaskan rambutku kekanan dan kekiri saat membuka helmku) so cool, bagiku.

Tapi ekspresi yang kulihat dari wajahnya sepertinya tidak bisa ku jelaskan, antara aneh, jijik atau mau muntah. Memang anak ini, tidak tau orang keren itu seperti apa, lihat saja temannya yang ada disampingnya, begitu terpesona akan akan aksiku barusan, sedangkan dia, aduh-aduh bisa-bisanya sih aku kenal orang seperti ini.

"Paman lagi-lagi datang kesini" ucapnya kepadaku saat dia tahu kalau itu aku.

"Apa tidak boleh, akukan kebetulan lewat sini dan kuputuskan untuk menunggumu sekalian" ucapku mendekatinya.

"Loh kok kakak tumben memakai motor, memang mobil kakak kemana ?" tanya temannya kepadaku.

"Mobilku, m... aku hanya bosan memakainya, jadi kuberikan saja pada orang" jawabku sedikit berfikir akan pertanyaan yang tidak kuduga itu.

"Wah kakak ini sudah ganteng, baik lagi, pasti tipe cowok yang bisa membahagiakan pacar, iya kan Hinata" ucapnya sambil menyikut lengan temannya.

"Apaan sih kamu ini Ayame" ucap gadis bernama Hinata itu sambil menyentakkan sikutan-sikutan yang diberikan oleh temannya yang sekarang kuingat bernama Ayame.

Tapi saat Hinata dan Ayame sedang bercengkrama seperti itu, dari arah dalam sekolah munculah mobil Ferrari limeted edision MANTAN milikku mendekat ke tempatku sekarang berdiri.

Tin tin

Suara klakson mobil itu setelah berada disampingku.

"Yo Uchiha, ternyata mobil ini memang nyaman sekali dikendarai, terima kasih lagi" ucapnya setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.

"Kau juga Hinata, aku juga mengucapkan terima kasih kepadamu, jika bukan karenamu, mobil ini tidak akan menjadi miliku" ucapnya kepada Hinata yang membuatku menghampirinya.

"Sebaiknya kau cepat pergi atau akan aku gores mobil ini" ucapku geram didekat wajahnya.

"Baiklah aku mengerti" ucapnya yang membuatku menjauh dari mobil itu "Hinata, Ayame, aku pergi dulu" lanjutnya meninggalkan tempat ini.

'Sialan anak itu' batinku kesal.

Setelah mobil itu pergi dari sini, Hinata kemudian berjalan menuju arahku.

"Paman" ucapnya kepadaku.

Aku yang mendengar itu kemudian berbalik kearahnya.

"Ada apa ?" tanyaku datar kepadannya.

"Bukannya itu mobil paman ?"

"Sebenarnya bisa dibilang, ya... begitulah"

"Begitulah apanya !, Apa jangan-jangan dengan mobil itu paman membayar hutangku ?"

"Sudahlah tidak usah diributkan lagi, ayo kuantar kau ketempat kerjamu" ucapku sambil menggandeng tangannya.

"Paman !" ucapnya sedikit menahan laju langkahnya, tapi karena tenagaku yang bisa dibilang lebih unggul, akhirnya aku dan dia sekarang sudah berada di samping motorku.

"Sudahlah tidak usah dipikirkan, cepat kenakan ini" ucapku sambil menyodorkan helm hitam milikku.

"Tidak sebelum paman mengatakan hal sebenarnya padaku"

"Aku memberikan mobilku untuknya agar dia tidak menganggumu, sebab hanya akulah yang boleh mengganggumu, mengerti" ucapku sambil mengenakannya dengan helm yang tidak mau dipakainya "Ayo naik" lanjutku setelah aku menaiki motorku.

Tapi dilihat dari sifatnya yang keras kepala itu, sepertinya dia tidak akan mudah naik kemotorku.

"Ayolah, tidak ada ruginyakan kau kuantar, setidaknya berterima kasihlah dengan cara ini" ucapku yang memang ampuh atau apa, tiba-tiba saja dia dengan sukarela naik keatas motorku.

"Tidak burukkan ?" ucapku lagi sambil menghidupkan motorku.

"Tapi apa tidak apa-apa paman tidak memakai helm" ucapnya yang sepertinya menghawatirkanku.

"Tidak masalah, yang penting kau aman" ucapku bersiap meninggalkan tempat itu "Ayame kami pergi dulu" lanjutku berpamitan kepada Ayame yang dibalasnya dengan lambaian tangan.

.

.

"Aku mau mempercepat laju motor ini, sebaiknya kau berpegangan denganku" ucapku memperingatkannya.

"Tidak akan !" ucapnya tegas kepadaku.

"Kalau begitu aku tidak tanggung ya" ucapku yang langsung menancap gas kencang-kencang.

Dia yang tersentak akan efek itu, kemudian melingkarkan tangannya kepinggangku dan ehem... itunya menempel dipunggungku.

.

.

.

Tidak beberapa lama kemudian, kamipun akhirnya sampai didepan kafe tempatnya bekerja. Dia yang telah sampai ditempat tujuannya kemudian turun dari motorku dan melepas helm yang dia pakai.

"Ini paman" ucapnya sambil menyodorkan helmnya.

Aku yang mendengar itu kemudian membalikan badanku menerima helm itu.

"Paman hidung kamu berdarah !" ucapnya panik saat melihat hidungku berdarah.

Aku yang tidak sadar akan itu kemudian meraba hidungku dan mendapatinya mengeluarkan darah.

"Aduh bagaimana ini ?" ucapku ikutan panik.

Diapun kemudian mengambil sapu tangan yang berada disakunya dan menghapus darah dihidungku.

"Aduh paman kenapa mimisan sih" ucapnya disela mengelapnya.

"Aku juga tidak tau" ucapku setelah hidungku bersih.

"Apa mungkin karena paman tidak terbiasa terkena angin saat naik motor" ucapnya sambil memasukan lagi sapu tangannya kesaku roknya.

"Mungkin saja" ucapku yang kemudian berjalan menuju kafe itu didampingi olehnya.

.

.

"Selamat Datang !" ucap kasir berambut cepol dua kepadaku saat aku masuk kedalam kafe.

"Hn" jawabku singkat kepada gadis itu.

Hinata yang ada disampingku kemudian berjalan meninggalkanku menuju ruang gantinya.

Akupun kemudian langsung berjalan menuju kursi tempatku biasa duduk.

Gadis pink yang bernama Sakura yang melihat akan kehadiranku disini kemudian berjalan menghampiriku.

"Sasuke, tumben kau datang bersama Hinata, apa kau dan dia sudah" godanya kepadaku saat sudah berada didekatku.

"Sudah apa ?, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa" ucapku kepada Sakura sambil membolak balik daftar menu.

"Tapi kau suka kan sama dia"

"Suka, sudah kubilang mana mungkin aku suka sama dia"

"Benar kau tidak suka"

"..."

"Tapi kalau dia diambil orang bagai mana" ucap Sakura yang membuatku menutup daftar menu yang sedang kupegang.

"Aku pesan kopi hitam saja" ucapku yang membuat Sakura tersenyum penuh arti.

"Jika suka, jangan malu-malu Sasuke" ucapnya yang membuatku melototinya "Baiklah satu kopi hitam akan segera datang" lanjutnya berbicara sambil tersenyum meninggalkanku.

Tak beberapa lama setelah Sakura pergi, Hinata kemudian keluar dari ruang gantinya dan mulai melayani beberapa pengunjung. Tak sedetikpun aku mengalihkan pandanganku darinya, mulai dari caranya berjalan, menghidangkan pesanan untuk pelanggan, dan senyumnya saat dia berhadapan dengan mereka, begitu membuatku terpesona, apakah aku memang ..., tidak mungkin.

.

"Hei, jangan kurang ajar ya !" terdengar teriakan Hinata saat dirinya sedang melayani disebuah meja yang dihuni beberapa anak sekolah.

Aku yang mendengar teriakan Hinata barusan langsung tersadar akan lamunanku dan mulai mengamati apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku mau pesan jus jeruk itu saja" ucap salah satu dari mereka dan

Puk

Tidak bisa kupercaya, anak itu berani-beraninya dia menyentuh bagian belakang Hinata, apa dia tidak tau kalau hanya aku yang boleh kurang ajar pada Hinata.

"Kurang ajar, sudah kuperingatkan kau malah..." ucap Hinata terputus saat aku menyentuh pundak kanannya.

"Paman" lanjut Hinata berbicara saat melihat yang menyentuh pundaknya adalah aku.

"Hei anak kecil, berani-beraninya kau menyentuh milikku !" ucapku pada anak yang tadi menyentuh bagian belakang Hinata.

"Milikku" ucap Hinata sambil melihatku.

Aku yang tanpa sadar mengatakan itu dan mendapatkan tatapan dari Hinata hanya bisa menelan ludah dan mulai memfokuskan diriku lagi pada anak tadi.

"Lalu apa maumu hah" ucap anak itu sambil berdiri diikuti oleh teman-temannya.

"Kurang ajar kau !" ucapku kepada anak-anak itu.

.

.

Dan disinilah aku sekarang, diruang loker tempat Hinata sekarang sedang mengobati luka disudut bibirku.

"Aduh pelan-pelan sedikit !" teriakku pada Hinata yang sekarang sedang menyentuh sudut bibirku dengan sapu tangan yang sudah dilumuri alkohol.

"Paman ini manja sekali, tahan sedikit kenapa" ucapnya tanpa menghentikan aktifitasnya.

"Tapi ini sakit sekali Hinata" ucap yang masih kesakitan.

"Salah siapa paman sok jagoan seperti tadi, beginilah akibatnya jika paman sok jagoan"

"Setidaknyakan aku mau menolongmu"

"Menolongku, apa tidak salah" ucapnya yang sepertinya meremehkanku.

(Begini ceritanya, saat aku mau melancarkan tinjuku pada anak tadi yang menyentuh Hinata, anak itu dengan mudah menghindari pukulanku dan mulai membalas memukulku diikuti teman-temannya. Begitulah nasibku saat itu, dikroyok oleh anak-anak ingusan.

Tapi saat aku sudah tidak berdaya, Hinata dengan kemampuan supernya memukul, menendang dan membanting anak-anak itu dengan mudah dan langsung membuat mereka kabur melarikan diri).

"Hm" helaan nafasku 'Nasib-nasib' batinku meratapi nasib sialku ini, mau jadi pahlawan malah jadi sial.

.

.

"Setidaknya kan aku mau menolongmu, ...meskipun hasilnya gagal"

"Huh paman ini" ucapnya yang ditambah dengan senyum dibibirnya yang imut itu.

Aku yang melihat bibir itu dari jarak yang sedekat ini hanya bisa menelan ludah dan memalingkan wajahku cepat-cepat agar aku tidak lepas kendali dan melakukan hal bodoh.

"Paman ini kenapa sih, sedang diobati malah bertingka aneh" ucapnya bingung akan perbuatanku yang tiba-tiba saja memalingkan wajah.

"Ah tidak apa-apa" ucapku sambil berdiri "Aku sudah lebih baik, sebaiknya aku keluar dari sini" lanjutku sambil berjalan melewatinya 'Ada apa aku ini'.

Tapi sebelum aku keluar dari ruang loker itu, aku putuskan berhenti tanpa membalikkan badan "Aku nanti akan mengantarmu pulang" ucapku yang langsung membuka pintu didepanku dan keluar tanpa menunggunya memberi jawaban.

.

.

.

"Pakailah, kali ini aku membawa dua helm" ucapku saat menyodorkan helm yang sama dengan punyaku.

Dia dengan suka rela kemudian mengambil helm hitam yang ada ditanganku dan langsung memakainya.

"Apa paman tidak apa-apa memakai motor, nanti jangan-jangan paman mimisan lagi" ucap Hinata sebelum dia naik kemotorku.

"Sudah tidak apa-apa, akukan sudah memakai helm, mana mungkin aku akan mimisan lagi, ayo cepat naik" mintaku padan

ya, padahal perintah.

"Iya-iya" ucapnya yang kemudian menaiki motorku.

"Pegangan, nanti kamu mau jatuh lagi" ucapku yang dibalas dengan tangannya yang mencengkram kemejaku "Sudah siap ?" lanjutku bertanya kepadanya.

"Hm" gumamnya kepadaku.

Dan seketika itu pula aku melajukan motorku menuju apartemant kumuhnya.

.

.

"Apa kau kedinginan ?" ucapku disela menuju apartemantnya.

"Tidak, aku tidak kedinginan" jawabnya kepadaku.

"Jangan bohong, aku saja yang memakai kemeja lengan panjang saja kedinginan, apa lagi kamu" ucapku yang hanya dibalas dengan diam olehnya.

Cukup lama tidak ada reaksi darinya, akupun langsumg menarik tangannya dan melingkarkannya dipinggangku.

Dia yang mendapat perlakuan itu secara tiba-tiba seperti itu, kemudian mulai membuka mulutnya untuk protes.

"Apa yang paman lakukan ?" teriaknya kepadaku.

"Jika kau tidak merasa kedinginan, lain denganku, aku sangat kedinginan disini, jadi tolong dekatkan dirimu" ucapku yang membuat berfikir sejenak dan mulai menempelkan tubuhnya ketubuhku.

"Tapi hanya sekali ini saja paman" ucapnya setelah menempel ditubuhku.

"Ya, sekali ini saja" balasku yang kemudian kukencangkan laju motorku "Mungkin" lanjutku pelan berbicara yang hanya aku saja yang mendengarnya.

.

.

"Silahkan tuan putri" ucapku saat kami sudah sampai di depan apartemantnya.

Diapun kemudian turun dari motorku dan mulai melepas helm yang dikenakannya sekarang.

"Ini paman" ucapnya sambil menyodorkan helm yang dipegangnya.

Tanpa menunggu lagi akupun kemudian mengambil helm itu dan menggantungnya dikemudi motorku. Setelah itu aku kemudian membuka helmku untuk mengatakan sesuatu padanya.

"Paman, kau berdarah lagi !" teriaknya saat aku membuka helmku dan mendapati hidungku mengeluarkan darah lagi.

"Kenapa lagi ini ?" ucapku sambil mengelapnya darah dihidungku dengan tanganku.

"Paman hentikan, biar aku saja" ucapnya menghentikanku dan mulai mengelap darahku dengan sapu tangan yang tadi.

"Sudah paman" ucapnya setelah hidungku sudah bersih dari darah "Ohya ini juga" lanjutnya sambil meraih tanganku dan membersihkan darah yang tadi menempel ditanganku.

"Terima kasih"

"Sebenarnya paman sakit apa sih, kenapa hari ini sering sekali mimisan ?" ucapnya menghawatirkanku sambil melipat kembali sapu tangannya dan memasukannya kembali kesakunya.

"Tidak, aku tidak sakit sama sekali"

"Lalu kenapa paman ?"

"Mungkin karena kerja jantung yang berlebihan akhir-akhir ini"

"Kerja jantung, memang paman melakukan apa ?"

"Aku tidak tau, tapi aku mau tanya sesuatu padamu"

"Apa itu paman ?"

"Besokkan hari libur nasionalkan ?"

"Iya, memang kenapa ?"

"Apa kau masih bekerja dihari libur itu ?"

"Tadi kakak Sakura memberi kami libur, jadi besok aku tidak bekerja"

"Lalu apa rencanamu dihari libur itu ?"

"Mungkin belajar"

"Belajar, dihari libur kau belajar"

"Iya memang kenapa, apa paman ada masalah tentang hal itu !"

"Tidak juga sih, itu hidupmu"

"..."

"Tapi dihidupmu sekarang ada aku yang selalu mengganggumu, jadi apa kau besok mau pergi kesuatu tempat bersamaku ?"

"Kesuatu tempat, kemana ?"

"Aku tidak memikirkannya sejauh itu"

"Paman ini mau mengajak seseorang tapi tidak tau mau kemana" ucapnya sambil tertawa kecil, sungguh indah.

"Lalu kau sendiri, apa ada tempat yang mau kau kunjungi seperti taman bermain atau semacamnya"

"Tidak, aku tidak mau datang ketempat-tempat seperti itu"

"Lalu ?"

"Aku mau kepantai atau semacamnya, dimusim panas seperti pasti sangat segar bermain air dipantai" ucapnya yang lagi-lagi dengan senyum yang terpampang dibibirnya.

"Kalau begitu besok kita akan kesana, siapkan dirimu" ucapku sambil memakai helmku lagi dan menyerahkan helm yang tadi dipakainya kepadanya.

"Simpan saja untukmu" ucapku sambil menyalakan mesin motorku "Masuk sana" lanjutku memerintahnya.

"Hm" gumamnya sambil berjalan menuju pintu apartemantnya.

Setelah dia masuk kedalam apartemantnya, akupun kemudian berjalan pulang menuju rumahku tempat dimana aku akan menghabiskan hari ini.

.

.

"Esok..., aku tak sabar lagi menunggu hari esok"

END of Chapter 5

Aku tunggu kritik dan sarannya.