# Perasaan apa ini ?#

Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi

Pairing: Tetep SasuHina

Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.

Warning: GAJE, TYPO and OOC.

.

.

.

"Kakak dimana kau !" teriakku yang baru saja membuka pintu kamar Itachi dan mendapati kamar itu telah kosong.

"Dimana dia"

Brak ! geramku sambil membanting pintu kamar Itachi.

Setelah membanting pintu itu akupun kemudian berjalan turun menuju lantai satu untuk mencarinya disana.

"Sayang kenapa kau ribut-ribut diatas, apa ada masalah ?" tanya Ibuku yang langsung menghampiriku saat aku sudah berada dilantai satu.

"Aku mencari kak Itachi, apa dia ada dimeja makan ?" tanyaku pada Ibuku sambil berjalan kearah ruang makan.

"Tidak, dia tidak ada disana, dia sudah pergi pagi-pagi tadi" jawab Ibuku yang membuatku menghentikan langkahku.

"Dia sudah pergi !" ucapku sedikit berteriak.

"Sayang jangan teriak-teriak begitu, nanti Ayahmu marah" ucap Ibuku memperingatkanku.

"Gara-gara sibodoh itu bisa-bisa rencanaku jadi berantakan semua hari ini" ucapku sendiri tapi dapat didengar oleh Ibuku.

"Memang ada perlu apa dengan kakakmu ?" tanya Ibuku penasaran.

"Aku mau meminjam mobilnya hari ini untuk liburan"

"Meminjam mobil, memang kenapa dengan mobilmu, apa rusak ?" tanya Ibuku yang belum tau kabar terbaru kalau mobilku sekarang sudah tidak ada ditanganku.

"Mobilku tidak rusak"

"Lantas kenapa mau meminjam mobil kakakmu ?"

"Karena mobilku sekarang sudah kuberikan orang untuk melunasi hutang"

"Hutang, hutang karena apa, apa karena berjudi, kalau itu benar Ibu akan bilang pada Ayah kalau kamu suka berjudi sehingga aset yang sedang kamu pegang biar dibekukan semua" ucap Ibuku mengancam.

"Ibu ini apa-apaan sih, aku ini tidak berjudi, kalaupun aku berjudi, aku selalu menang"

"Lalu mobil kamu ?"

"Yang jelas bukan karena judi atau apapun" ucapku meninggalkan Ibuku menuju ruang makan.

.

.

"Ayah selamat pagi" ucapku saat memasuki ruang makan dan duduk ditempatku biasanya.

"Hn" jawabnya seperti biasa dan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang sedang dibacanya.

"Ini Sayang makan" ucap Ibuku sambil menyodorkan satu piring nasi lengkap dengan lauknya.

"Terima kasih Ibu" ucapku menerima piring itu dan memakan isinya.

.

.

Ting tung ting tung

Terdengar suara bel rumah saat seseorang menekannya dari luar.

"Siapa lagi yang pagi-pagi begini datang" ucapku setelah menghabiskan sarapanku.

Tidak beberapa lama kemudian, suara seseorang yang kukenal datang keruang makan ini.

"Selamat pagi semuanya !" teriak pria berambut kuning itu dengan suaranya yang cempreng.

"Naruto tumben kamu datang pagi-pagi begini" ucap Ibuku kepada Naruto yang telah ikut bergabung duduk dimeja makan.

"Iya tante, hari ini aku pagi-pagi datang kesini karena mau mengajak Sasuke liburan"

"Liburan kemana ?"

"Biasa tante ketempat-tempat anak muda" ucap Naruto santai "Paman sendiri apakah hari ini sedang libur ?" lanjutnya bertanya pada Ayahku.

"Hn" lagi-lagi jawaban itu yang keluar dari mulut Ayahku.

"Oh begitu paman" balas Naruto sok ngerti apa yang digumamkan oleh Ayahku.

"Naruto kau mau makan ?" tawar Ibuku kepada Naruto yang sepertinya belum makan.

"Jika tante memaksa, aku tidak akan menolak" ucapnya dengan cengir mengembang dibibirnya.

"Tidak usah aku juga sudah selesai" ucapku berdiri sambil menarik kerah belakang Naruto.

"Tante maaf aku tidak jadi makan disini" ucapnya disaat aku sedang menariknya keluar menuju ruang tamu.

"Dasar anak-anak" ucap Ibuku melihat tingkahku dan Naruto barusan.

.

Setelah aku berhasil menariknya keruang tamu akupun melemparknya ketempat duduk.

"Kenapa kau kesini ?" tanyaku datar sambil mendudukkan diri dikursi disisi lain Naruto.

"Kau ini kasar sekali"

"Sudah tidak usah banyak omong, cepat katakan"

"Baiklah-baiklah, aku mau mengajakmu ikut berkencan bersama Sakura"

"Maksudmu kau mau aku mengikuti kalian berkencan, begitu"

"Begitulah"

"Jangan mimpi kau"

"Ayolah Sasuke ikut denganku dari pada kau dirumah tidak ada kegiatan"

"Kata siapa aku tidak memiliki kegiatan, sudah sana pulang"

Akupun kemudian berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Naruto menuju kekamarku. Tapi belum jauh aku melangkahkan kakiku, muncul ide cemerlang dipikiranku untuk mensukseskan rencanaku hari ini.

"Dobe tunggu !" teriakku pada Naruto sebelum dia beranjak dari tempat duduknya.

"Kenapa, kau berubah pikiran ?" tanyanya kepadaku yang mendekatinya.

"Enak saja kau bicara" bantahku yang kemudian telah berada didepannya "Mana kunci mobilmu ?" lanjutku bertanya.

Dia yang tidak tau akan tujuanku dengan bodohnya memperlihatkan kunci yang ada disakunya "Nih" ucapnya memperlihatkan kunci itu kepadaku.

Aku yang melihat sedang memegang kunci ditangannya langsung merebutnya dan kabur menuju luar rumah.

Dia yang tersadar akan perbuatanku yang bisa dibilang cepat itu langsung berlari kearahku "Teme apa yang kau lakukan, cepat kembalikan kunci mobilku" ucapnya mencoba merebut kunci yang ada ditanganku.

"Aku pinjam" ucapku tanpa menghentikan langkahku.

"Pinjam, lalu aku pakai apa ?"

"Taxikan bisa" ucapku datar.

"Kenapa bukan kau saja yang memakai taxi, cepat Teme berikan kunciku, aku mau kencan dengan Sakura nih"

"Tidak !"

"Teme"

"Tidak !"

"Teme"

"Aku bilang tidak !"

.

.

.

Dan disinilah aku sekarang, didalam mobil bersama dengan sibodoh itu.

"Disana Teme, dijalan itu lalu belok !" teriak Naruto menunjukkan arah keapartemant milik Sakura.

Karena dia tidak mau melepaskanku untuk memakai mobil, jadi dia putuskan untuk ikut denganku. Apa lagi saat aku mengatakan kalau aku akan pergi besenang, dia langsung membuka pintu mobil dan duduk manis disana.

"Ayo kita jemput dulu Sakura, pasti dia akan sangat cantik memakai pakaian renang" ucapnya tadi dengan memasang tampang mesum.

"Cih menjijikkan sekali kau"

.

.

"Kau tunggu disini dulu Teme" perintahnya kepadaku setelah kami telah sampai didepan gedung apartemant milik Sakura.

"Hn" turutku padanya (Padahal aku punya rencana licik).

"Baiklah aku tinggal dulu" ucapnya sambil membuka pintu mobil (Sedikit lagi) "Tapi aku ambil dulu kuncinya" lanjutnya mengambil kunci mobilnya yang tergantung dan pergi meningalkanku dimobil ini tanpa kunci.

"Hei Dobe sialan kau !" teriakku kesal karena lagi-lagi rencanaku gagal. Ingin pergi berdua dengan Hinata gagal, ingin meminjam mobil Itachi gagal, dan yang terbaru ingin membawa kabur mobil ini juga gagal, apa lagi kegagalan-kegagalan yang akan terjadi hari ini.

"Kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu Teme ha ha ha ha!" teriaknya kepadaku sambil tertawa tidak jelas.

.

.

"Ohya Sasuke, kita mau kemana ?" tanya Sakura yang berada dibangku belakang bersama Naruto.

"Iya Teme kau sepertinya salah arah, pantaikan berada diarah lain, kenapa kau malah kearah sini" giliran si bodoh itu yang sok tau jalan.

Aku yang mendengar semua itu hanya diam tak menjawab sedikitpun.

"Teme !"

"Bisa diam tidak, aku mau menjemput seseorang !" emosiku mendengar suara cempreng Naruto yang mengganggu.

Sakura yang mengerti akan ucapanku barusan hanya diam dan tersenyum. Sedang Naruto yang masih penasaran belum menutup mulutnya dan masih ribut saja.

"Siapa Teme, siapa yang mau kamu jemput Teme !" tanyanya yang masih ribut.

"Sudah kubilang ..."

Tak

"Aduh !"

ucapku terputus saat Sakura telah membungkam mulut Naruto dengan jitakan dikepalanya.

"Sudah Sasuke lanjutkan saja menyetirmu, biar anak ini aku yang urus" ucap Sakura setelah melancarkan serangannya.

"Aduh Sakura kenapa kamu ..."

"Diam Naruto atau kamu akan" potong Sakura sambil mengasah tinjunya.

Naruto yang mendapat ancaman itu dengan sigap langsung duduk manis dan menutup mulutnya.

"Itu baru bagus" ucap Sakura mendapati perintahnya dituruti oleh Naruto.

.

.

Tin tin

Suara klakson aku bunyikan saat aku sudah berada didepan apartemant kumuh milik Hinata.

"Iya tunggu sebentar, aku datang !" teriak Hinata didalam apartemantnya yang bisa aku dengar didalam mobil.

Setelah menunggu beberapa saat, aku kemudian melihat Hinata keluar dari apartemantnya dan berjalan masuk kemobil.

"Kak Sakura juga ada disini" ucap Hinata saat melihat Sakura ada dibangku belakang.

"Sudah kuduga pasti Sasuke akan kesini Hinata"

Hinatapun kemudian melihat Naruto yang ada disamping Sakura dengan tampang bertanya-tanya.

Melihat wajah itu Sakurapun mengerti dan mulai memperkenalkan Naruto "Hinata perkenalkan dia Naruto, Naruto dia Hinata".

"Hinata salam kenal" ucap Naruto sambil menjulurkan tangannya.

"Salam kenal kak Naruto" ucap Hinata sambil menjabat tangan Naruto.

Aku yang melihat itu menjadi tidak rela "Ehem" batukku yang menandakan agar mereka segera menyelesaikan acara jabat tangannya.

Setelah Hinata melepas tangan Naruto diapun kemudian membenarkan tempat duduknya dan memangku tas yang dia bawa.

"Kakak kakak, apanya yang kakak, aku saja kau panggil paman, dia kau panggil kakak, sekali-kali kau panggil kakak kenapa" ucapku yang juga kepingin dipanggil kakak olehnya.

"Paman ini protes saja" ucapnya yang sepertinya tidak akan memanggilku kakak.

.

.

"Teme kau mau kemana lagi ini, jalan inikan tidak mengarah kepantai" protes Naruto saat dia menyadari aku tidak mengarah kearah pantai.

"Sejak awal aku memang tidak mengarah kepantai"

"Lalu kita mau kemana ?" tanyanya lagi kepadaku.

"Diam saja kau, nanti juga tau jika sampai"

Setelah aku mengucapkan itu Naruto tidak lagi banyak bertanya dan mulai mengobrol dengan Sakura lagi. Sedang Hinata yang ada disampingku hanya diam memandangi jendela seperti biasa.

Setelah melewati beberapa tikungan dijalan raya, akhirnya kamipun sampai didepan sebuah hotel bintang 5 milik perusahaan Uchiha.

"Paman kenapa kita kesini, apa jangan-jangan paman mau berbuat macam-macam denganku, kalau itu benar awas paman nanti ya" ucapnya memperingatkanku setelah kami berempat masuk kedalam lobi hotel.

"Cih, kepedean sekali kau, memang aku mau ngapain kamu"

"Lalu kenapa kesini ?"

Mendengar pertanyaan itu aku hanya diam saja dan tetap berjalan menuju jalan keluar kebagian belakang hotel ini.

"Ini dia alasan aku membawamu kemari" ucapku pada Hinata saat kami telah sampai dibagian belakang hotel.

Dibelakang hotel ini sangat sepi tidak ada satu orang pun disana, yang ada hanyalah kolam renang yang sangat-sangat luas.

"Jadi ini alasan paman membawaku kemari ?" ucapnya dengan senyum dibibirnya yang bisa aku lihat.

"Dibanding pantai yang sekarang pastinya sangat ramai, lebih baik kita disinikan"

Hinata yang mendengar itu hanya mengangguk menyetujui pendapatku.

"Tapi paman inikan kolam renang hotel, tapi kenapa sepi sekali disini ?" tanyanya sambil berjalan disisi kolam renang yang diikutiku disampingnya.

"Entahlah mungkin mereka sedang liburan" bohongku kepadanya agar dia tidak marah kalau sebenarnya aku telah menyewa kolam ini sehari untuknya.

"Oh begituya"

Disaat aku sedang menikmati kebersamaanku dengan Hinata, dari arah samping belakangku tiba-tiba suara cempreng milik Naruto mengusikku.

"Oei Teme ayo kita ganti baju !" teriaknya mendekatiku bersama Sakura disampingnya.

"Persetan denganmu, sana pergi" ucapku mengusirnya. Saat aku sudah tidak memperdulikan Naruto lagi dan mulai memalingkan kepalaku ke Hinata lagi, Hinata malah sudah tidak ada disampingku, dia sekarang sudah pergi bersama Sakura kekamar ganti. Aku yang tidak terima karena saat-saat bersamaku dengan Hinata diganggu, langsung melampiaskan amarahku pada orang yang menggangguku itu.

"Sialan kau Dobe, kau mengganggu saja !"

"Apa, apa yang akan kau lakukan Teme !" ucapnya panik saat aku memegang kedua lengannya dan

Byur

Diapun langsung kulempar keair supaya dia tidak menggangguku lagi lain kali.

"Sialan kau Teme !"

.

.

.

Setelah aku dan Naruto mengganti baju, aku memakai kaus putih dan celana pendek, sedang Naruto hanya memakai celana pendek dan memamerkan dadanya yang kalah bagus dari dadaku, aku kemudian menunggu para gadis itu keluar dari kamar gantinya disebuah kursi tidur yang terletak didekat kolam renang.

"Ayo Teme kita berenang !" ajaknya kepadaku yang sedang tiduran sekarang.

"Diam kau, sudah sana berenang sendiri" ucapku kesal padanya.

"Oh iya aku lupa, kalau begitu aku berenang dulu Teme !" ucapnya yang lansung menceburkan diri ke kolam.

"Cih, pura-pura lupa" gumamku sendiri sambil melihat anak itu berenang.

Beberapa lama kemudian Sakura datang sendirian ke kolam dengan mengenakan bikini berwarna merah yang membuatnya memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aku yang melihat itu hanya bertingkah biasa saja karena penampilan Sakura yang mengenakan bikini itu tidak menarik perhatianku sama sekali. Beda dengan Naruto sekarang, dia yang berada didalam kolam sekarang membuat warna airnya berubah menjadi merah karena darah yang keluar dari hidungnya.

"Menyedihkan sekali" ucapku melihat sibodoh itu mimisan karena seorang wanita (Kau pikir kau tidak).

Melihat Hinata tidak bersamanya, akupun berdiri dan menghampiri Sakura.

"Dimana Hinata ?"

"Dia masih dikamar ganti, tadi dia sempat keluar tapi kembali masuk kedalam ruang gantinya dan tidak mau keluar lagi"

"Kenapa ?"

"Entahlah aku juga tidak tau"

Mendengar itu aku kemudian meninggalkan Sakura dan menemui Hinata diruang ganti. Sesampainya diruang ganti itu aku tidak melihat tanda-tanda akan kehadiran Hinata disana.

'Kemana lagi anak itu'

"Hinata !" teriakku didalam ruang ganti itu.

Tiba-tiba terdengar suara dari sebuah kamar ganti ditempat itu.

"Paman kaukah itu" suara itulah yang keluar dari kamar ganti itu.

Mendengar suara itu adalah milik Hinata, akupun berjalan mendekati ruang ganti itu.

"Iya ini aku, kau kenapa cepat keluar" perintahku padanya.

Mendengar perintahku barusan Hinatapun kemudian membuka pintunya dan menemuiku.

"Kau kenapa ?"

"Aku malu paman dengan kak Sakura, dia terlihat cantik memakai baju renangnya, sedangkan aku hanya memakai baju renang ini" (baju renang yang dipakainya adalah baju renang standar sekolah-sekolah berwarna biru tua).

"Kata siapa Sakura lebih cantik dari kamu"

"M-maksud paman ?"

"Kau jauh lebih cantik berkali-kali lipat dibanding Sakura" ucapku yang membuatnya langsung berwajah merah.

"Tak kusangka kau bisa blusing juga ha ha ha ha" ucapku sambil tertawa melihat wajahnya yang masih merah.

Tapi setelah dilihat-lihat lebih dekat, kali ini muka merahnya seperti menahan marah, apa jangan-jangan ..."

Buk

"Aduh !" teriakku saat kaki kananku ditendangnya.

"Huh siapa suruh menghinaku" ucapnya sambil meninggalkanku keluar.

.

.

.

Setelah mengajak Hinata kekolam, aku hanya duduk dibangkuku tadi dan melihat mereka bermain diair.

"Sasuke kau tidak ikut berenang dengan kami !" teriak Sakura kepadaku yang melihatku dari tadi tidak ikut mereka berenang.

"Tidak, kalian saja"

"Kenapa ?" tanyanya kepadaku yang tidak aku jawab.

Naruto yang melihat Sakura ingin bertanya lagi kepadaku kemudian menghentikannya dengan cara membisikkan sesuatu padanya.

"Oh jadi begitu" ucap Sakura setelah mendapat bisikan itu.

Aku yang melihat ada yang tidak beres akan bisikan itu langsung bersuara lagi, tapi kali ini untuk sibodoh itu "Hei Dobe apa yang kau katakan !"

"Mengatakan apa ?" ucapnya sok bodoh.

"Awas kau jika mengatakan hal-hal bodoh tentangku"

"Tenang-tenang, santai saja" ucapnya dengan cengir anehnya.

"Cih" decihku yang langsung meninggalkan tempat itu untuk pergi jalan-jalan.

Disaat aku sedang berjalan kaki mengelilingi tempat ini, pandanganku kemudian menangkap seorang pria berpakaian jas hitam yang kukenal berjalan menuju arahku.

"Sasuke berani sekali kau !" ucapnya mendekatiku.

"Apanya yang berani ?"

"Beraninya kau menyewa kolam ini, kau tau berapa kerugian hotel ini akibat ulahmu itu"

"Aku tidak peduli, lagian rugi satu hari tidak membuat kita miskin"

"Dasar kau ini"

"Lagian tadi pagi kau cepat sekali kaburnya sehingga aku tidak bisa membawa mobilmu dan membuat rencanaku gagal semua hari ini"

"Jadi kau serius soal meminjam mobilku kemarin malam"

"Tentu saja"

"Kukira kau bercanda"

"Apa tampangku ini suka bercanda"

"Sepertinya sih iya"

"Sialan kau ini"

"Ha ha ha ha" tawanya bergema disini.

Dari pembicaraan barusan bisa ditebak siapa yang baru saja bicara denganku, dia adalah Itachi kakakku yang kebetulan saja sedang berkunjung dihotelnya ini.

"Lalu diantara mereka berdua, siapa yang selalu ada dipikiranmu ?"

"Apa maksudmu ?"

"Itu dua gadis yang sedang berenang dengan Naruto, siapa diantar mereka berdua yang berhasil mencuri hatimu"

"Cih, bahasamu itu terlalu tinggi"

"Jadi siapa ?"

"Aku tidak suka istilah yang kau berikan soal diriku dan dirinya, tapi jika kau mau tau siapa gadis yang aku bawa kesini, aku akan menjawab gadis yang memiliki rambut panjang itu"

"Oh, jadi yang itu, tapi jika kulihat-lihat apa gadis itu tidak terlalu muda untukmu, bisa kuperkirakan gadis itu berumur 17-an"

"Apa maksudmu terlalu muda, kau sendiri dengan calon istrimu, berapa perbedaan umurmu ha 7 - 8, sama saja denganmu"

"Oke oke aku kalah, tapi bagaimana kau akan berhadapan dengan Ayah, apa dia dari keluarga yang sederajat dengan kita ?"

Aku yang mendengar itu hanya bisa memandangi wajah Hinata yang sedang ceria bermain air bersama Sakura.

"Tidak, dia tidak seperti kita, dia hanya seorang gadis miskin yang bekerja disebuah cafe"

"..."

"Tertawalah jika kau mau"

"Tertawa, kau pikir aku ini siapa, aku tau semua tentang perasaanmu" diapun kemudian menepuk pundakku "Aku akan selalu mendukungmu" lanjutnya sambil menepuk pundakku dua kali dan pergi meninggalkanku.

.

.

Beberapa saat kemudian setelah Itachi pergi meninggalkanku, aku kemudian melihat Naruto dan Sakura keluar dari kolam dan pergi menghampiriku.

"Kalian mau kemana ?" tanyaku pada mereka yang sudah berada didepanku.

"Kami mau pergi kesuatu tempat dulu" ucap Sakura kepadaku dan langsung pergi meninggalkanku "Jaa Sasuke" lanjutmya mengucap.

Menyadari Hinata dikolam hanya sendirian, akupun langsung bergegas menuju kearahnya. Tapi belum sampai aku mendekati kolam, teriakan Hinata membuatku berlari kearahnya.

"Paman tolong, kakiku keram, paman tolong !" teriaknya berkali-kali meminta tolong padaku.

Tak butuh waktu lama akhirnya aku sekarang sudah berada di tepi kolam melihat Hinata sedang panik ditengah kolam meminta tolong.

"Paman cepat tolong aku !" teriaknya lagi.

'Sial ada acara tenggelam lagi, mana jauh lagi jaraknya' batinku saat melihat hinata ditengah kolam.

"Paman cepat !"

"Iya-iya aku datang !"

Akupun langsung membuka kaos yang kupakai dan melemparkannya kesembarang tempat (yang penting kering), dan bersiap untuk menolong Hinata.

"Huh huh huh" aku pun menarik hembuskan nafasku beberapa kali dan langsung terjun kekolam renang.

Cara terjunku kekolam bagaikan atlit renang profesional tapi jika atlit profesional terjun langsung berenang, beda denganku aku terjun kekolam langsung tenggelam.

"Hinata tolong, tolong aku !" teriak hampir tenggelam.

Blekutuk...blekutuk...blekutuk... dan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Plak plak plak

beberapa tamparan kurasakan saat aku sedang pingsan.

"Paman bangun, paman !" suara itulah yang terdengar saat aku pingsan yang diimbangi pukulan-pukulan dipipiku.

Akupun berencana untuk membuka mataku tapi langsung kuurungkan saat aku mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut seorang yang kukenal.

"Bagaimana ini ?, apa aku harus memberinya nafas buatan"

Ting

'He he he he, kesempatan' batinku tetap memejamkan mata padahal sudah sadar, sambil memonyongkan bibirku untuk menyambut bibirnya.

"Atau begini saja"

Buk

"Uh" akupun tersadar dengan sakit dan mulut mengeluarkan air saat dia memukul perutku dengan keras, sangat-sangat keras, lebih keras dari tendangannya yang tadi.

"Apa yang kau lakukan !" teriakku sambil memegang perutku yang sakit.

"Tentu saja menolong paman, apa lagi"

"Kau ini mau menolong atau membunuhku, sakit sekali pukulanmu itu"

"Itu cara yang ampuh untuk membangunkan orang yang tenggelam"

"Cih, itu namanya mau membunuhku, kenapa kau tidak menolong dengan menekan dada atau mem-memberi nafas buatan"

"Itu bagi orang yang benar-benar tenggelam, tapi untuk orang seperti paman yang pura-pura, pertolongan itu yang cocok untuk paman"

"Kata siapa aku pura-pura, aku tadi beneran tenggelam kok"

"Awalnya sih iya tadi paman tenggelam, tapi kenapa saat aku mengatakan akan memberi nafas buatan, paman langsung memajukan mulut paman, apa namanya itu tidak pura-pura"

"Cih"

"Apa jangan-jangan paman tadi mau mengambil kesempatan"

"Enak saja kamu ngomong" ucapku yang langsung berdiri membelakanginya yang masih berjongkok "Ayo pulang" lanjutku memerintahnya.

Dia yang mendengar perintahku barusan langsung berdiri disampingku dan berjalan menuju ruang ganti.

"Tadi kau meminta tolong kepadaku, tapi kenapa kau yang menolongku, apa jangan-jangan kau tadi pura-pura"

"Mmm... itu ide kak Sakura, dia bilang paman tidak bisa berenang jadi kak Sakura memintaku untuk berpura-pura tenggelam dan melihat apa yang akan paman lakukan, apa meminta bantuan atau menolongku sendiri meski tidak bisa berenang"

"Lalu setelah tau apa yang aku lakukan, kau mau apa ?"

"Tidak mau apa-apa sih, tapi kak Sakura bilang jika paman menolongku maka ..."

"Maka apa ?"

"Ya pokoknya begitu" ucapnya sambil berlari meninggalkanku.

"Oi begitu apanya ?" teriakku bingung melihatnya lari menuju ruang ganti setelah mengucapkan kata-kata yang membingungkan.

.

.

.

Setelah aku dan Hinata mengganti baju renang dengan baju yang kering, kemudian pergi berjalan kearah tempat parkir dimana mobil Naruto berada. Tapi saat aku mencari ditempat tadi mobil itu terparkir, ternyata mobil itu telah lenyap tak berbekas lagi.

"Sial dimana mobil itu"

"Memang tadi paman memarkir dimana ?"

"Kau tau sendirikan mobilnya kuparkir disini, pakai nanya lagi"

"Lantas dimana mobilnya sekarang ?"

"Mana aku tau"

"Paman ini memang tidak bisa diandalkan sama sekali" ucapnya pergi meninggalkanku.

"Hei tunggu !" teriakku berlari menghampirinya.

.

.

Dan disinilah aku sekarang, duduk didalam bus bersama Hinata menuju rumahnya. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa aku yang kaya ini mau naik bus saat pulang, dan yang menjadi jawabannya adalah karena tadi saat aku memeriksa sakuku untuk mencari dompet, ternyata dompetku tidak ada disana, mungkin tertinggal dirumah saat aku pergi terburu-buru menggunakan mobil Naruto. Dan kenapa tidak menggunakan uang Hinata dulu untuk membayar taxisnya, jawabannya mudah uang yang dia bawa pastinya tidak cukup untuk membayar taxi yang nantinya mengantarkan kami.

"Bagaimana perasaanmu paman ?"

"Hm ?" balasku tidak mengerti.

"Perasaan paman saat pertama kali naik bus"

"Yang jelas bukan perasaan senang" ucapku kesal karena kebodohanku yang meninggalkan dompetku dan kebrengsekan Naruto yang meninggalkanku.

Didalam perjalananku menuju rumahnya aku hanya diam memalingkan wajahku kekanan sedang Hinata, entahlah sedari tadi aku tidak memperlhatikannya, mungkin dia sedang melihat jalanan lewat jendela disampingnya.

Tapi jika kupikir-pikir lagi kesempatan inilah yang bisa kugunakan untuk memperakrap diriku dengan dirinya. Kemudian aku memalingkan wajahku kearahnya untuk memulai pembicaraan dengannya.

"Hinata apa kau ... " ucapku terhenti saat kulihat dirinya tertidur sambil menempelkan kepalanya kekaca jendela.

Aku yang melihat itu kemudian hanya diam dan mulai mengamati dirinya yang sedang tidur.

''Bukan hanya saat tersenyum saja kau manis Hinata, saat tidurpun kau juga terlihat manis'' ucapku sambil menata poninya yang tidak beraturan akibat tidurnya itu.

Merasa dirinya kurang nyaman menyandarkan kepalanya dikaca jendela, akupun dengan perlahan memindahkan posisi kepalanya keatas pundakku selama sisa perjalanku menuju tempat tinggalnya.

.

.

.

Setelah cukup lama dia tertidur dipundakku, kemudian sedikit demi sedikit dia mengerjapkan matanya dan mulai membukanya.

Sadar akan posis tidurnya berubah dari yang tadinya menyandarkan kepalanya dikaca jendela menjadi berada dipundakku, diapun langsung menegakkan kembali kepalanya.

"Paman kenapa aku bisa ..." ucapnya berhenti tanpa melanjutkannya kembali dengan kepala menunduk.

"Bisa apa ?" tanyaku sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakannya.

"Tidak, tidak ada"

"Hari ini kau suka sekali menggantung kata-katamu" ucapku tidak puas.

"Biar saja, hm" ucapnya sambil memalingkan wajahnya.

Aku yang melihat tingkahnya itu lagi-lagi membuatku tersenyum geli.

"Kau ini manis sekali jika bertingkah seperti itu" ucapku tanpa sadar dan langsung memalingkan wajahku darinya.

"Paman kau ..." ucapnya sambil memalingkan kepalanya kearahku.

Aku yang merasakan itu tidak berani memalingkan wajahku kearahnya dan tetap mempertahankan posisi kepalaku. Cukup lama dia tidak bersuara, apa dia jangan-jangan terpesona dengan ucapanku tadi kekekekekek.

"Paman" ucapnya yang membuatku antara takut kalau dia marah akan ucapanku atau malah dia senang akan pujianku, dari pada menebak-nebak lagi lebih baik aku menjawab panggilannya.

"Ya ada apa ?"

"Paman apa paman tau jalan ini"

"Jalan ?"

"Iya, jalan yang kita sekarang lewati ini"

"Tidak, aku tidak pernah lewat sini"

"Jadi dugaanku benar, kita kelewatan dari halte yang harusnya kita turun disana"

"Masa ?"

"Memang sedari tadi paman itu melihat kemana saja sih, turun dihalte yang benar saja tidak tau !"

"Salah sendiri kau sedari tadi tidur seperti orang mati !"

"Setidaknya aku bukan sipayah yang tidak bisa melakukan apa-apa !"

"Apa kau bilang, kau menyindirku !"

"Iya emang kenapa !"

"Dasar pendek !"

"Dasar kurus !"

"Apa kurus, ini tubuh ideal seorang pria tau !"

"Masa bodoh yang penting bagiku kau kurus, tak berotot !"

"Apa tak berotot, dasar bocah tengik !"

.

.

.

Dan begitulah seterusnya kami adu mulut sampai kami turun dari bus dan menaiki bus yang lainnya. Meski dia mengataiku dengan sebutan ini dan itu, tapi entah kenapa sebenarnya aku tidak marah sama sekali dengan dirinya, malah aku sedikit senang karena melihatnya gembira karena berhasil menang dari adu mulut melawanku.

Sebenarnya, kenapa aku ini, apa ada yang salah denganku, padahal aku yang kalah kenapa aku malah senang.

Sebenarnya, perasaan apa ini ?

.

.

.

.

END OF Chapter 6

Review aja jika bagus, tidak ada paksaan

Emang siapa kamu mau maksa *plak* digampari para reader

Hehehehe ...