# Perasaan apa ini ?#
Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi
Pairing: Tetep SasuHina
Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.
Warning: GAJE, TYPO and OOC.
Tok tok tok
Kuputuskan untuk mengetuk pintu sebuah ruangan kerja dimana seseorang yang inginku temui sedang berada didalam tempat itu. Meskipun belum ada persetujuan dari pemilik ruangan itu untuk memperbolehkan aku masuk, tapi aku tanpa menunggu lama langsung memutar knop pintu didepanku dan mendorongnya sedikit untuk memudahkan diriku untuk masuk kedalam.
Saat aku masuk kedalam tempat ini, aku langsung dapat melihat beberapa benda yang tidak biasa dimiliki seseorang bila ada dirumahnya seperti replika tengkorak manusia, replika organ-organ manusia dan pajangan-pajangan lainnya yang tidak kuketahui namanya. Tapi meskipun benda-benda seperti itu memang sangat jarang dimiliki seseorang untuk menjadi pajangan dirumahnya, tapi karena disini bukanlah rumah melainkan rumah sakit, jadi benda-benda seperti itu wajar-wajar saja berada didalam ruangan ini. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah kenapa aku sekarang berada dirumah sakit ini padahal aku terlihat sehat-sehat saja, maka jawabannya tentu saja sangat simpel yaitu aku datang kesini untuk memeriksakan tubuhku ini apakah aku mengidap penyakit ataupun virus mematikan sehingga akhir-akhir ini aku merasakan hal-hal tidak enak didalam dadaku ini.
"Sasuke ?" ucap seorang wanita berambut pirang yang berada didalam ruangan ini saat melihatku masuk dan berjalan mendekat kearahnya.
"Hn" balasku singkat yang kemudian kuputuskan untuk duduk dikursi yang terletak didepan meja kerjanya setelah aku sudah mendekatinya.
"Untuk apa kau datang kesini, apa kau sekarang sedang sakit ?" tanyanya lagi untuk mengetahui niat akan kedatanganku kesini.
"Sepertinya begitu"
"Begitukah, kalau begitu tubuhmu bagaian mana yang bermasalah ?"
Aku yang mendengar pertanyaan itu langsung menyentuh dadaku dan berkata "Disini, dibagian sinilah yang sekarang sedang bermasalah"
"Kalau begitu naiklah diranjang periksa itu biar aku memeriksa dirimu" mintanya kepadaku yang hanya kubalas dengan anggukan kepala.
Aku kemudian berdiri dari kursi yang aku duduki sekarang dan berjalan mendekati ranjang yang dimaksud olehnya dan mulai mendudukkan diriku disana. Melihat diriku sudah berada ditempat yang dimintanya, dia kemudian berjalan menuju arahku dan mulai mencoba memeriksaku.
"Berbaringlah biar aku lebih mudah memeriksamu" mintanya lagi kepadaku yang hanya bisa kuturuti.
"Bukalah juga dua buah kancing atas kemejamu" lanjunya meminta setelah aku sudah berbaring diranjang.
Setelah aku membuka kedua kancing kemejaku diapun kemudian memakai stetoskop yang menggantung dilehernya dan mulai menempelkan ujungnya kedadaku untuk memeriksaku.
"Tarik nafasmu" ucapnya yang kuturuti dengan menarik nafasku dalam-dalam.
"Hembuskan" ucapnya lagi yang juga aku turuti.
"Coba tarik nafasmu lagi lalu hembuskan" ucapnya lagi yang hanya bisa aku turuti lagi.
Setelah sudah melakukan semua itu diapun kemudian melepas stetoskop yang dikenakannya dan melingkarkannya kembali dilehernya tanda dia tidak akan memakainya kembali.
"Bagaimana, apa ada yang salah pada diriku ?" tanyaku sambil membangunkan tubuhku dari acara berbaringku dan mendudukkan diriku diatas ranjang.
"Sepertinya tidak ada yang salah, pernafasmu tidak ada yang bermasalah, masih normal-normal saja, kau sehat" jawabnya sambil berjalan menuju kearah bangku tempat kerjannya berada dan duduk setelah dia sampai disana.
"Lalu ada apa denganku ini" ucapku berikutnya sambil memundurkan diriku untuk menyandarkan tubuhku didinding.
"Maksudmu Sasuke ?"
"Mungkin saat ini aku baik-baik saja" aku memberi jeda diucapanku sebelum melanjutkan ucapanku "Tapi ada kalanya dadaku ini terasa panas dan sulit bernafas jika aku didekatnya"
"Didekatnya, maksudmu kau merasakan hal-hal seperti itu jika kau berada didekat orang itu ?"
Aku yang mendengar pertanyaan darinya barusan hanya bisa menatap langit-langit ruangan ini yang berwarna putih bersih sebelum aku menjawabnya "Ya, aku merasakan hal itu jika ada didekatnya".
"Lalu hal-hal apa saja yang bisa membuatmu semakin parah merasakan hal-hal itu ?"
Akupun sedikit berfikir saat ingin menjawab pertanyaan itu.
"Mungkin saat aku memegang tangannya, melihat dia tersenyum, dan menjadi semakin parah lagi saat aku dipeluk olehnya waktu aku memboncengnya memakai motorku, rasanya jantungku ini serasa mau berhenti berdetak sehingga membuat hidungku tanpa sadar mengeluarkan darah"
"Jadi maksudmu saat dia memelukmu kau menjadi mimisan ?" tanyanya sedikit terkejut terlihat dari nada bicaranya.
"Hn, dua kali"
"Bahkan sampai dua kali, hmps...?"
"Bagaimana menurutmu apa ini tidak aneh, aku yang sehat-sehat seperti ini jadi sesak nafas dan tiba-tiba mimisan tanpa alasan tidak jelas"
"Hmps..."
"Menurutmu aku ini sakit apa, apa penyakit mematikan ?" tanyaku yang tidak mengerti akan kondisi tubuhku sekarang ini. Lama aku menunggu jawaban darinya, tapi dia tidak memberi sepatah katapun.
Tapi saat aku mau mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba saja dia mulai mengeluarkan suara, atau lebih tepatnya tawa, ya sekarang dia sedang tertawa, tertawa terbahak-bahak tanpa ada alasan yang tidak jelas.
"Hahahahahhah Sakit Hahhahahhah dia bilang sakit hahhahahah" tawanya diselingi dengan kata-kata yang masih membuatku bingung.
"Ada apa denganmu, apa ada yang lucu, kenapa kau tertawa seperti itu ?"
"Hahahah maaf-maaf hahahah" ucapnya yang beberapa saat kemudian akhinya dia berhenti tertawa sambil menghapus air matanya yang keluar akibat tertawa seperti itu.
"Lalu apa kesimpulanmu atas penyakitku ini ?"
"Sakit hmps" ucapnya yang kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya untuk menahan dia tertawa lagi. Aku yang melihat tingkah anehnya itu hanya menaikkan sebelah alisku agar dirinya tidak tertawa lagi.
"Huh haa huh haa huh haa..." diapun kemudian menarik hembuskan nafasnya untuk menenangkan dirinya agar tidak tertawa lagi.
"Lalu ?"
"Kau pikir berapa umurmu sekarang Sasuke, gejala seperti ini saja kau tidak mengerti"
"Gejala ?"
"Aku mau bertanya sesuatu padamu ?"
"Hn"
"Apa kau selalu ingin bertemu dengannya setiap hari?"
"Sepertinya"
"Apa kau selalu ingin didekatnya"
"Kalau itu ..."
"Apa kau rela melakukan apa saja demi dirinya, dan memberikan apapun untuk membahagiakannya ?"
"..."
"Sikap diammu itu sudah membuktikannya bahwa kau itu membenarkan akan perkataan ku barusan"
"..."
"Meskipun aku ini dokter umum bukannya dokter untuk masalah seperti itu, tapi aku itu tau kau ini sekarang sedang jatuh cin"
"Itu tidak mungkin tante, itu tidak mungkin" potongku langsung sebelum dirinya menyelesaikan ucapannya yang pastinya sudah aku tebak apa yang akan dikatakannya.
"Kau ini masih membohongi dirimu Sasuke, kau tau jelas perasaanmu tapi kau masih saja menyangkalnya"
"Mana munkin aku me-mencitainya, dia itu bukan tipe idamanku"
"Apa maksudmu ?"
Akupun langsung berdiri meninggalkan ranjang yang aku tepati dan berjalan kearahnya untuk duduk dibangku yang tadi aku duduki "Dia itu sama sekali tidak masuk dalam kriteria wanita idamanku, dia itu pendek, mungkin tingginya 160 lebih sedikit, tubuhnya pun tidak ramping, dan diantara itu semua yang paling nggak banget buatku adalah dia itu tidak berisi !" ucapku semangat meyakinkan kalau Hinata itu bukanlah cintaku, karena dia sama sekali tidak masuk dalam kriteria wanita idamanku.
"Tidak berisi, maksudmu Sasuke ?"
"Ininya tidak berisi" ucapku dengan menggerakkan kedua telapak tanganku di dadaku untuk membuat sebuah bentuk gundukan.
"Hmps ..."
"Eh" ucapku heran melihat wajahnya yang ingin
"Hahahahahah...!" tertawa terbahak-bahak "Dasar kau ini hahahaha tak henti-hentinya kau membuatku tertawa Sasuke hahahaha" ucapnya sambil mengelap air matanya yang keluar dari matanya lagi.
"Apanya yang lucu, wajarkan seorang pria menginginkan itu kan ?" ucapku tidak terima karena ditertawakan karena alasan yang menurutku tidak lucu.
"Iya-iya itu hakmu, tapi meskipun dirinya tidak memiliki ciri-ciri yang kau sebutkan tadi, kau tetap sajakan bahagia jika ada didekatnya kan ?"
"..."
"Yang penting itu hati Sasuke, jika hatimu sudah merasa cocok dan nyaman bila ada didekatnya maka kau tidak akan pernah bisa menggantikannya dengan orang lain. Meskipun itu bisa, tapi kenangan yang dia tinggal tidak akan hilang Sasuke"
.
.
.
Setelah beberapa menit setelah aku melakukan perjalanan dengan menggunakan sebuah taxi, akhirnya akupun sampai didepan rumahku dan langsung membuka pintu yang ada didepanku untuk masuk kedalamnya.
"Aku pulang !" teriakku seperti biasa membahana dirumahku saat aku pulang. Dan tidak beberapa lama pula Ibuku seperti biasa datang menghampiriku untuk menyambutku.
"Selamat datang Sasuke" ucapnya kepadaku.
"Hn" jawabku singkat sambil menuju arah ruang santai dimana aku akan menghabiskan waktuku dengan menonton acara televisi yang diikuti oleh Ibuku disampingku.
"Ibu sedang menyaksikan apa ?" tanyaku saat melihat televisi sedang menyala tanda sedari tadi Ibuku sedang menontonnya.
"Oh Ibu tadi sedang menyaksikan acara sinetron yang menurut Ibu menarik"
"Emang apanya yang menarik ?" tanyaku sambil mendudukan diriku dishofa bersama Ibuku.
"Biasa soal percintaan anak muda, meskipun jalan ceritanya sudah bisa ditebak, tapi aktornya keren-keren sehingga Ibu mau menontonnya" Aku yang mendengar ucapan barusan dari Ibuku hanya bisa geleng-geleng kepala tanda tidak percaya akan hobi Ibuku yang suka menonton sinetron hanya untuk melihat aktornya yang keren.
Inilah kegiatanku hari ini menonton sinetron tak bermutu yang episodenya hampir mencapai seribu dengan Ibuku sekalian menunggu Itachi pulang untuk meminjam mobilnya.
.
.
Tak terasa malam haripun tiba begitu cepat, aku yang tertidur diatas sofa akibat menonton acara sinetron yang membosankan itupun akhirnya terbangun dari tidurku akibat dari suara mobil yang terpakir digarasi.
"Akhirnya datang juga" ucapku yang kemudian berjalan keluar menuju pintu.
Dari arah pintu rumah kemudian masuklah seorang pria dan wanita dengan menenteng sebuah bungkusan yang menarik perhatianku.
"Apa itu kak ?" tanyaku pada Itachi yang sudah aku dekati.
"Ini hanya makanan kecil yang kubeli dari supermarket dekat sini" jelasnya kepadaku.
"Kalau yang sedang dibawa kakak ipar ?" giliranku bertanyaku kepada Konan yang juga membawa bungkusan.
"Ini hanya buah Sasuke"
"Oh" ucapku mengerti "Ohya, mana kunci mobilmu, aku mau pinjam mobilmu sebentar" lanjutku sambil menjulurkan tanganku untuk menerima kunci mobil Itachi.
"Mau kemana, aku nanti mau mengantarkan Konan pulang" ucap Itachi sambil menyerahkan kunci mobilnya.
"Suruh saja Kakak Ipar menginap disini kalau aku tidak pulang, mau kan Kakak Ipar" ucapku merebut kunci mobil yang ada ditangan Itachi sambil mengedipkan sebelah mataku untuk Konan yang membuat wajahnya memerah.
"Kau ini" ucap Itachi saat melihatku pergi berlari keluar rumah.
Dan disaat aku sudah berada diluar rumah akupun kemudian berjalan menuju arah garasi tempat mobil Itachi berada. Kulihat mobil Itachi yang berwarna merah itu baik-baik, persis seperti punyaku hanya saja warnanya jelek, menurutku.
"Seandainya warnamu putih, pasti sangat bagus" ucapku pada mobil Itachi sambil menyentuh bagian sampingnya sampai membuka pintunya.
"Kita lihat kemampuanmu cantik" ucapku kemudian memacu mobil ini keluar rumahku menuju tempat kerja Hinata.
.
.
"Hinata kau sudah pulang ?" ucapku saat menghampirinya didepan cafe tempatnya bekerja.
"Paman, kenapa bisa kau disini ?"
"Tentu saja bisa aku kan punya kaki"
"Paman ini" ucapnya sambil tersenyum melihatku. Melihatnya tersenyum seperti itu menjadi bukti bahwa sikap kerasnya kepadaku selama ini sedikit demi sedikit mulai menghilang digantikan oleh sikapnya yang mulai mudah tersenyum kepadaku.
"Ayo aku antar kau pulang Hinata" mintaku sambil mengandeng tangannya yang halus, lembut, hangat, dan ... eee lupakan, ke arah mobil yang aku parkir tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Ehh..., paman apa yang..."
"Sudah tenang saja, aku sekarang memakai mobil jadi kau tidak usah cemas" potongku yang kemudian menunjuk mobil merah yang sedang terparkir didekat tempat ini.
"Itukan mobil paman, tapi kenapa warnanya merah ?" tanyanya bingung sambil memiringkan kepalanya.
'Sial dia imut sekali saat melakukan gerakan itu !' batinku saat melihatnya melakukan hal yang tidak biasa itu.
"Ehm..."
"Hem, ada apa paman ?" tanyanya lagi sambil melihat kearahku.
"Tidak, tidak apa-apa"
"Lalu soal mobil paman itu, kenapa warnanya"
"Merah" potongku langsung akan ucapannya.
"Iya"
"Soal itu ..."
"Bukannya mobil paman sudah menjadi milik kakak Gaara" giliran dia yang sekarang memotong ucapanku.
"Kakak, kau pangil bocah itu kakak, kau taukan kalau bocah itu lintah darat, kenapa kau masih memanggilnya kakak" ucapku tak terima orang seperti dia dipanggil seperti itu oleh mulutnya yang imut.
"Paman ini kenapa sih, kakak Gaara itu orang baik jadi paman tidak boleh berkata seperti itu"
"Orang baik" ucapku meremehkan.
"Iya, sebelum paman menolongku, kakak Gaara lah yang selalu menolongku selama ini jadi paman jangan mengatakan seperti itu lagi"
"Baik hati apanya" gumamku pelan "Lalu menurutmu aku ini orang baik bukan ?" lanjutku bertanya sambil menghadapkan tubuhnya ketubuhku.
"Eeh" ucapnya kaget saat aku menghadapkan tubuhnya ketubuhku.
"Bagaimana Hinata apa aku ini orang baik atau bukan menurutmu ?"
"Tentu saja paman ini orang baik, tapi kenapa paman menanyakan itu ?"
"Karena aku..." ucapku mengambang sambil menatap wajahnya yang sepertinya bersemu merah "Me-me- menyuruhmu cepat naik mobil dan jangan banyak bertanya lagi !" ucapku keras sambil membalik tubuhnya dan mendorong tubuhnya menuju arah mobilku.
"Eh... paman ini kenapa sih" Dan akupun kemudian membuka pintu mobilku dan memasukan dirinya kesana. Setelah dirinya masuk kedalam akupun kemudian berputar menuju sisi pintu mobil satunya dan mulai masuk kedalam. Tapi sebelum aku masuk kedalam mobilku, aku sempat berpikir sejenak tentang kenapa mulutku ini sulit sekali mengucapka kata itu padahal jika mendengar ucapan dari Tsunade tadi, maka perasaanku ini sama dengan kata yang ingin aku ucapkan kepadanya barusan. Apa aku ini benar-benar sepengecut itukah sehinga mengucapkan kata-kata semudah itu saja tidak bisa.
.
.
"Ohya Hinata apa kau sudah makan, sepertinya aku tidak pernah mentraktirmu makan"
"Tidak perlu paman, aku tidak mau merepotkanmu untuk hal-hal seperti itu" ucapnya menolak akan niat baikku.
"Lalu kau mau makan apa jika tidak mau aku traktir sekarang ?"
"Nanti aku bisa makan mie instan seperti biasanya kok paman"
"Mie instan, jadi selama ini kau selalu makan mie instan saat pulang kerja ?" tanyaku tak percaya akan pendengaranku ini.
"Iya" ucapnya polos kepadaku.
"Tau seperti itu sejak awal aku akan selalu mentraktirmu makan Hinata" ucapku yang kemudian memutar mobilku menuju arah restoran didekat tempat ini. Namun cukup lama aku berputar-putar ditempat ini tapi tetap saja aku tidak dapat menemukan restoran makan untuk didatangi. Sebenarnya tempat apakah ini restoran saja tidak ada.
"Paman kenapa sedari tadi hanya berputar-putar saja ditempat ini, sebenarnya paman ini mau kemana sih ?" tanyanya bingung karena sedari tadi aku berputar-putar saja didaerah ini.
"Tentu saja aku mencari restoran, kau pikir kemana lagi"
"Restoran, tapi paman di-"
"Kenapa kau tidak mau, meskipin kau tidak mau aku akan tetap akan membawamu kesana" potongku setelah menyadari dirinya ingin menolak ajakanku.
"Bukan begitu paman, sebenarnya aku mau mengatakan didaerah ini tidak ada restoran, jadi meskipun paman mencari sampai mulut paman berbusa juga tidak akan menemukannya hahahahah" jelasnya sambil tertawa kecil.
"Apa, jadi disini tidak ada restoran, kenapa kau tidak bilang dari tadi !"
"Salah sendiri paman tidak bertanya" ucapnya membela diri.
"Jadi kali ini aku tidak bisa mentraktirmu makan" ucapku dengan nada yang terdengar kecewa.
Mendengar aku sedikit kecewa karena tidak bisa mentraktirnya, diapun kemudian memberikan saran kepadaku tetang keberadaan tempat yang menyediakan makanan yang enak yang pernah dia makan didaerah ini.
"Kalau paman memang ingin mentraktirku makan, lebih baik kita ketempat itu saja"
"Tempat itu, maksudmu ?" tanyaku bingung.
"Sudah nanti kutunjukan, tapi sementara ini jalan lurus saja dulu"
.
.
Aku tak percaya akan apa yang aku lihat sekarang, setelah beberapa menit menyusuri jalan sesuai dengan arah petunjuk darinya kamipun akhirnya sampai ditempat dimana menurutnya menjual makanan yang enak. Sebuah kedai kecil dipinggir jalan didekat sebuah taman kota.
"Disini ?" tanyaku tak percaya.
"Iya paman disini menjual makanan yang enak-enak"
"Tapi aku mau mentraktirmu direstoran bukannya ditempat seperti ini"
"Tidak apa-apa paman, ayo" ucapnya semangat yang tanpa sadar dirinya menarik tanganku untuk menuntunku masuk ketempat itu.
'Dia menggandeng tanganku dengan suka rela, ya Tuhan hari ini aku benar-benar beruntung'
Saat aku masuk kedalam tempat ini aku melihat beberapa pengunjung terlihat memenuhi tempat ini menandakan tempat ini sepertinya menyajikan makanan yang cukup enak. Lalu aku dan Hinatapun kemudian berjalan menuju meja kosong yang terletak ditengah-tengah kedai itu dan memesan menu yang menjadi andalan keda ini yaitu Sabu-sabu, menu yang cocok untuk malam yang cukup dingin.
"Ayo paman cepat dimakan" tawar Hinata kepadaku dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Kau saja yang makan, aku minum ini saja" ucapku sambil menuangkan sake kegelasku dan meminumnya.
"Kalau itu maunya paman" ucapnya senang sambil tetap memakan makanannya.
Aku yang melihat wajah cerianya seperti itu menjadi ikut tersenyum tanpa sadar disaat meminum sake yang kupegang.
"Kelihatannya kau senag sekali makan-makanan seperti ini Hinata, apa kau benar-benar menyukainya ?"
"Sebenarnya tidak terlalu"
"Tidak terlalu ?" ucapku pelan tak percaya akan ucapannya barusan, karena lihat saja sendiri cara makannya dia sekarang, mulutnya yang sekarang masih penuh dengan makanannya masih saja dia sumpal dengan makanan lain "Kau yakin kau tidak suka, tapi cara makanmu itu tidak menunjukan kalau kau itu tidak terlalu suka"
Mendengar ucapanku barusan Hinata kemudian menelan makanannya terlebih dahulu baru berbicara kepadaku.
"Meskipun ini bukan makanan faforitku, tapi makanan ini bagiku adalah makanan mewah jadi aku tidak mau menyia-nyiakannya"
"Makanan mewah, ini ?" ucapku tak percaya sambil menunjuk makanan yang sekarang tinggal setengah diatas meja .
Dia hanya mengangguk kecil sambil memakan makanan itu lagi. Sedang aku yang mendengar itu semakin tak percaya dengan pendengaranku dan langsung meminum sake yang ada dimeja.
Cukup banyak aku meminum sake yang disediakan oleh kedai ini sehingga kepalaku kali ini benar-benar pusing sekali.
"Hinata -kau -sudah -selesai makan" ucapku mabuk saat melihat Hinata sudah tidak makan lagi.
"Paman kau mabuk ya" ucapnya khawatir.
"Mabuk, -tidak -aku -tidak -mabuk"
"Sudah jelas paman ini mabuk masih tidak sadar juga"
"Sudah -kubilang -aku -tidak -mabuk, -sekarang -coba -ini -kau -pasti -suka" ucapku sambil menyodorkan gelas berisi sake kemulut Hinata dengan susah payah.
"Tidak paman aku masih pelajar, aku tidak boleh minum-minuman itu" ucapnya menolak sambil memundurkan kepalanya.
"Ayolah -sedikit -saja" ucapku merayu.
"Tidak paman aku tidak mau"
"Buka -mulutmu -Hinata aaaa" meskipun merayu seperti itupun Hinata tidak mau meminumnya.
"Ehem..." Dari arah belakang tubuhku tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang kemudian menghentikan aktifitasku. Kupalingkan kepalaku kebelakang dan mendapati seorang pria tua berambut putih panjang sedang menatapku dengan tatapan tajam.
"Ada -apa ?
"Anak muda kau tau apa yang baru saja kau lakukan dikedaiku ini ?" tanya pria tua itu yang ternyata adalah pemilik kedai ini.
"Eee ?" ucapku sulit berpikir karena terlalu pusing akibat mabuk. Karena tidak juga mendapatkan jawaban untuk pria tua itu aku pun kemudian kembali bertanya kepadanya "Memang apa yang aku lakukan ?"
"Kau baru saja memaksa seorang pelajar minum sake disini, dan kau tau apa hukumannya akibat perbuatanmu itu !"
"i-itu ?"
"Akan ku laporkan kau kekantor polisi jika kau tidak pergi dari tempatku ini !"
Mendengar ancaman dari pria tua itu sungguh-sungguh, akupun kemundian bergegas pergi dari tempat itu setelah membayar pesananku.
"A-ayo Hinata kita pergi dari sini" ucapku panik sambil menarik tangan Hinata keluar dari kedai itu dengan sempoyongan.
Setelah keluar dari tempat itu akupun kemudian mendudukkan diriku dirumput taman saat aku merasa tidak kuat lagi berjalan.
"Dasar kakek tua menyebalkan" ucapku meruntuk disela dudukku.
"Salah sendiri paman memaksaku minum sake, jelas-jelas aku sekarang masih mengenakan seragam sekolah, masih saja paman nekat melakukan hal itu" ucap Hinata sambil duduk bersimpuh disampingku.
"Yayayaya aku tau itu" ucapku membenarkan ucapan Hinata barusan.
Merasakan kepalaku semakin berat saja akupun kemudian meminta izin kepada Hinata melakukan suatu hal kepadanya.
"Hinata"
"Iya paman"
"Boleh aku berbaring sebentar disini"
"Kenapa paman menanyakan hal itu kepadaku, jika paman ingin berbaring, berbaring saja"
"Terima kasih Hinata" ucapku yang kemudian merebahkan tubuhku ketanah dan menjadikan paha Hinata menjadi alas kepalaku.
Melihat aksiku barusan yang tidak diduga Hinata barusan, diapun mencoba untuk protes akan perbuatanku ini.
"Eh... paman kenapa paman -" ucapnya terhenti saat mata kami berdua bertemu pandang. Sesaat aku merasakan dunia ini berhenti saat melihat matanya yang indah dihadapanku sekarang, begitu nyaman begitu damai seakan aku terbawa kedimensi lain yang ditunjukkan mata itu sebelum dirinya memalingkan wajahnya kesamping. Melihat reaksi yang ditunjukannya seperti itu akupun kemudian mendudukkan diriku kembali dan memalingkan wajahnya kearahku sehingga pandangan kami bertemu kembali.
"P-paman apa yang-" ucapnya tertahan saat wajahku semakin mendekat kewajahnya.
5 inchi
4 inchi
3 inchi
2 inchi
1 inchi
dan sial kenapa aku merasakan ini disaat seperti ini, kurang ajar. Akupun kemudian menjauhkan wajahku dari wajah Hinata dan berdiri dan berlari kearah semak-semak untuk memuntahkan isi perutku disana.
"Weak...weak...weak..." kumuntahkan semua isi perutku ini hingga tak ada lagi yang tersisa didalam perutku 'Sial seharusnya aku tidak terlalu banyak minum' runtukku dalam hati.
Akupun kemudian berjalan mendekati Hinata yang masih terduduk ditempat itu dengan wajah memerah, kalau tidak salah lihat sih karena mataku sekarang sedikit buram. Entahlah apa yang ingin kukatakan saat sudah duduk disampingnya sekarang, lidahku benar-benar kelu karena kejadian barusan.
"Paman" ucap Hinata mengagetkanku saat sudah beberapa menit kami berselimutkan diam.
"I-iya" sial aku gugup.
"Sepertinya hari sudah semakin larut, sebaiknya kita pulang saja paman" ucapnya yang kemudian berdiri meninggalkanku menuju arah mobilku. Tapi dengan segera akupun mengejarnya meskipun sedikit sempoyongan dan langsung menghentikannya dengan cara memegang tangannya "Hinata tunggu"
"Paman" ucapnya kaget atas perbuatanku barusan.
"Kau pernah bilang apa aku menyukaimu karena aku selalu mengikutimu"
"Paman kau ini bicara apa"
"Aku menyukaimu Hinata, aku menyukaimu" ucapku yang kemudian meraih tengkuk Hinata dan memberinya ciuman yang lembut tanpa adanya nafsu didalamnya.
.
.
.
End of Chapter 7
.
.
Tak mau banyak komentar hanya minta REVIEWS-nya saja, kan mudah tinggal klik saja.
