# Perasaan apa ini ?#
Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi
Pairing: Tetep SasuHina
Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.
Warning: GAJE, TYPO and OOC.
Kubuka mataku sedikit demi sedikit saat rasa kantukku sudah menghilang saat ini, kukerjapkan kedua mataku untuk memperjelas penglihatanku agar aku tau sekarang aku berada dimana. Kulihat kesekeliling tempat ini saat pandanganku sudah sedikit jernih dan aku menyadari kalu aku mengenal tempat ini, atau lebih tepatnya kamar ini.
"Inikan kamarku" ucapku tak percaya akan penglihatanku sekarang "Pasti aku masih bermimpi " akupun mengusap kedua mataku agar pandanganku lebih jernih lagi, akan tetapi mataku tetap saja menangkap kalau ini adalah kamarku "Tapi bagaimana bisa" ucapku yang kemudian mendudukkan diriku diatas ranjang.
Setelah aku telah duduk diatas ranjangku, akupun merasakkan kepalaku benar-benar sakit akibat efek dari minum-minuman tadi malam. "Minum-minuman tadi malam, jangan-jangan ?"
.
.
Flash Back on
"Paman apa yang kau lakukan !" teriak Hinata saat aku melepaskan ciumanku darinya dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
"Sudah kubilang Hinata aku -"
Buk
"Aaahh...!" teriakku kesakitan sambil memegang kaki kiriku yang dihantam oleh kakinya.
"Paman jahat !, paman telah mencuri ciuman pertamaku tanpa seizinku, paman benar-benar jahat !" teriaknya dihadapanku yang kemudian giliran kaki kanankulah yang menjadi sasaran kemarahannya kepadaku.
Bukk
"Aduh...!" teriakku kesakitan yang kemudian kupegangi kaki kananku yang baru saja menjadi sasarannya.
"Aku tidak mau bertemu paman lagi !" dan dirinyapun kemudian berlari pergi meninggalkanku ditempat ini sendirian. Namun belum sempat dia menjauh pergi dariku, akupun kemudian menangkap pergelangan tangannya untuk menghentikan laju larinya.
"Tunggu Hinata !"
"Lepaskan aku paman !" teriaknya didepanku dengan mata yang mulai terlihat genagan air disana.
"Kenapa kau -" ucapku terhenti saat melihat dirinya mau menagis.
"Seharusnya ciuman itu akan kuberikan kepada suamiku kelak saat aku menikah nanti, tapi kenapa paman menciumku sebelum bertanya dulu kepadaku" dan sedetik kemudian airmata yang menggenang di pelupuk matanyapun tumpah dipipinya yang membuatku mau tidak mau menghapus airmatanya dengan kedua tanganku.
"Aku sudah bilang Hinata jika aku menyukaimu sebelum menciummu" dan dia yang mendengar itu kemudian melihat wajahku yang menunjukkan ekspresi serius padanya.
"Jadi jika kau menginginkanku untuk menikaimu sekarang juga, maka aku akan bersedia melakukan itu untukmu Hinata"
"Tapi paman"
"Kenapa ?, kau tidak percaya kepadaku ?, kalau begitu akan kubuktikan perasaan ini kepadamu"
Dan akupun menarik tangannya menuju kearah jalan raya tempat ini untuk memberhentikan taxi yang akan membawakanku ketempat yang aku tuju bersama Hinata.
.
.
TING TUNG ...
Beberapa kali aku menekan tobol bel pintu rumah ini tak henti-hentinya sehinga orang yang berada dirumah ini menjadi kesal dan membuka pintu ini.
"Iya tunggu sebentar, siapa sih malam-malam begini datang berkunjung" terdengar suara itu dari balik pintu didepanku, namun aku tetap saja menekan bel rumah ini sampai pintu ini terbuka.
"Sudah hentikan jangan main-main lagi dengan bel rumah ini !" bentak orang yang baru saja membuka pintu rumah ini. Namu saat melihat aku yang sedang menekan tombol bel rumah ini, kemudian orang itupun terpaksa tidak jadi meneruskan acara marah-marahnya.
"Sayang kenapa kau -" ucap satu-satunya orang yang memanggilku sayang yang tak lain dan tak bukan adalah Ibuku yang sedang membukakan pintu untukku.
"Ibu" ucapku datar yang kemudian menarik tangan Hinata masuk kedalam rumahku. Sedang Ibuku yang melihat Hinata yang sekarang sedang aku bawa masuk kedalam rumah, hanya menunjukkan ekspresi bertanya-tanya.
Setelah kami berhasil masuk kedalan rumah, akupun langsung menuntun Hinata menuju ruang tamu dan menyuruhnya duduk disalah satu sofa yang berada disana.
"Duduklah" mintaku kepadanya yang hanya bisa ia turuti.
Sedang Ibuku yang sedari tadi mengikuti langkahku bersama Hinata dibelakang kemudian mendekat kearahku yang sekarang sedang berdiri disamping Hinata yang sedang duduk.
"Sayang siapa gadis itu ?"
"Ibu ini Hinata, dia adalah masa depanku" Hinata yang mendengar ucapanku barusan hanya menunduk sambil memainkan jarinya dipangkuannya.
"Masa depanmu, maksudmu sayang, dia itu -"
"Calon istriku"
"Calon istrimu, maksudmu dia akan -"
"Iya Ibu dia itu akan menjadi istriku dan menjadi menantu Ibu dirumah ini, jadi Ibu jangan menanyakan hal yang diulang-ulang terus" ucapku tegas memberitahu Ibuku yang tidak mempercayai akan ucapanku barusan.
Lalu dengan tiba-tiba Ibuku menarikku pergi meninggalkan Hinata sendirian diruang tamu menuju keruang tengah rumah ini. Setelah aku dan Ibuku sampai, diapun kemudian melepaskan tangannya dari lenganku dan mulai menginterogasiku lagi.
"Apa kau benar kalau kau mau menikahinya, sayang ?"
"Tentu saja aku akan menikahinya, apa Ibu pikir ucapanku ini tidak sungguh-sungguh"
"Tentu saja iya, lihat badanmu dan nafasmu itu, bau sake semua, kau pikir Ibu akan percaya akan ucapanmu sekarang"
"Ibu !" ucapku kesal.
Dan saat aku sedang berdebat dengan Ibuku diruang tengah, kemudian dari arah tangga munculah Itachi dan Konan yang berjalan kearah ku dan Ibu sekarang.
"Oi Sasuke, mana kunci mobilku, aku mau mengantar Konan pulang sekarang" tagih Itachi kepadaku saat sudah sampai disampingku sekarang.
"Ini bukanlah saat yang tepat bodoh" ucapku yang kemudian menyerahkan kunci mobilnya yang ada disakuku kepadanya. Setelah dia menerima kunci mobilnya, diapun kemudian melangkahkan kakinya pergi bersama Konan menuju keluar rumah. Namu belum sempat dirinya keluar rumah ini, diapun berjalan kembali menuju tempatku berdiri.
"Sasuke gadis yang ada disana itukan" ucap Itachi sambil menunjuk kearah ruang tamu didepanku.
"Itachi kau kenal dengan gadis yang ada disana ?" tanya Ibuku penasaran.
"Tidak aku tidak mengenalnya, aku hanya pernah melihatnya dengan Sasuke dikolam renang disalah satu Hotel kita" jelas Itachi kepada Ibuku yang sedang penasaran.
"Kolam renang, jadi kau mengajaknya kekolam, bukannya kau tidak bisa berenag Sayang"
"Terserah aku" ucapku ketus.
"Lalu maksud dari gadis itu datang kesini untuk apa Ibu ?"
"Sasuke bilang ingin menikahinya, jadi dia membawanya kesini"
"Apa menikahinya, secepat itu !" ucap Itachi tak percaya akan pendengarannya.
"Berisik !" ucapku kesal dengan kedua orang yang ada disini selain aku "Lalu sekarang Ayah dimana bu, aku mau memberitahunya tentang niatku ini sekarang padanya ?"
"Ayahmu sekarang tidak ada dirumah beberapa hari ini karena sedang ada urusan bisnis dengan perusahaan lain diluar negri"
"Apa diluar negri, sejak kapan ?"
"Tadi pagi"
"Apa tadi pagi, sial sekali aku ini"
"Lalu sekarang apa yang akan kau perbuat Sasuke ?" tanya Itachi padaku.
"Mau bagaimana lagi ya tentu saja menunggu Ayah sampai pulang"
"Kalau begitu terserah kau sajalah lah, yang penting aku mau mengantarkan Konan pulang dulu" dan setelah itu Itachipun pergi meninggalkan aku dan Ibuku pergi keluar rumah.
"Lalu Ibu sendiri bagaimana menanggapi keputusanku ini, apakah Ibu akan setuju ?"
"Terserah dirimu saja sayang, yang penting Ibu akan mendapatkan cucu darimu, tapi yang menjadi masalahnya nanti adalah Ayahmu, apakah nanti ayahmu akan menyetujuinya" ucap Ibuku yang membuatku menjadi khawatir lagi.
Tapi kekhawatiranku itu tidak bertahan lama karena aku memiliki ide yang sangat brilian yaitu, aku mendekati Ibuku dan memeluknya untuk bermanja-manja dengannya.
"Ibu nanti bantu aku ya saat Ayah nanti menentang niatku ini" ucapku manja pada Ibuku yang pastinya tidak bisa dia tolak.
"Iya nanti Ibu bantu, asalkan kamu nanti tetap menuruti perkataan Ibu jika sudah menikah"
"Iya Ibu aku akan selalu menuruti perkataan Ibu terus"
"Janji ?"
"Iya janji"
"Kalu begitu tenang saja nanti pasti Ibu bantu, serahkan saja pada Ibu" dan saat itu pula aku mencium Ibuku dan berjalan bersamanya menuju ruang tamu tempat Hinata berada.
"Tapi sayang Ibu minta satu syarat lagi jika kamu kelak sudah menikah" mendengar itu akupun sontak menghentikan langkahku dan menghadap kearahnya.
"Apa itu Ibu" dan Ibukupun membisikkan sesuatu yang membuatku membulatkan mata seketika saat mendengarnya "Ibu pikir aku ini apa, mesin, aku tidak mau !" ucapku tak terima akan syarat yang baru saja dia berikan.
"Benar tidak mau, kalau begitu tidak ada pilihan lain jika Ibu tidak akan -"
"Baik baik Ibu menang" ucapku frustasi jika Ibuku tidak membantuku membujuk Ayahku "Tapi Ibu, kalu Hinata tidak mau bagaimana ?" lanjutku bertanya karena syarat yang diberikan Ibuku barusan melibatkan aku dan Hinata.
"Itu aku serahkan kepadamu untuk membujuknya jika dia menolak, akukan percaya dengan kemampuan putraku ini untuk merayu wanita" Ibuku langsung menarik kedua pipiku setelah mengucapkan kata-kata itu karena gemas melihatku.
"Cih, terserah Ibu sajalah" yang kemudian Ibuku melepaskan cubitannya dan merangkul lenganku menuju tempat Hinata.
Setelah kami sampai diruang tamu, akupun kemudian mendudukkan diriku di sofa yang berkapasitas satu orang dan langsung bersandar disana untuk menghilangkan pusingku sambil menutup mataku dengan lengan kananku. Sedang Ibuku yang bersamaku langsung duduk disebelah Hinata dan mulai becakap-cakap layaknya Ibu mertua dan menantu.
"Maaf ya nak tadi Ibu belum berkenalan denganmu"
"T-tidak apa-apa tante, aku mengerti kok"
'Gadis itu tergagap saat bicara dengan Ibuku, heheheh apa dia sekarang gerogi' batinku terkekek saat mendengarnya berbicara dengan Ibuku dengan posisi yang masih memejamkan mata dan hanya mendengarkan mereka bicara saja.
"Kok tante sih, panggil saja Ibu"
"B-baik I-ibu"
"Nah begitu dong ... Nama Ibu Mikoto, lalu suami Ibu bernama Fugaku dan kakak Sasuke tadi bernama Itachi, lalu yang bersamanya itu calon menantu disini juga seperti kamu namanya Konan"
"I-iya Ibu tadi a-aku sempat berbicara dengan kak Konan sebentar"
"Oh begitu, tapi Hinata kenapa kau masih memakai seragam sekolah, memang kamu dibawa Sasuke kemari sebelum sempat pulang"
"B-bukan begitu Ibu, i-itu masalahnya -" sebelum Hinata melanjutkan ucapannya untuk memberitahu Ibuku alasan dia masih memakai seragam sekolah, tiba-tiba saja suara Itachi menghentikannya untuk meneruskan ucapannya.
"Hei bodoh, dimana mobilku, kenapa tidak ada diluar sekarang !" teriak Itachi kepadaku yang hanya kubalas dengan gumaman saja.
"Hm"
"Hm apanya, dimana mobilku !" teriaknya yang tetap tidak mempengaruhi posisi tidurku.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dariku, Itachipun berniat untuk berteriak padaku lagi namun langsung urung terjadi saat Hinata berdiri dari duduknya dan mulai memberitahu Itachi akan keberadaan mobilnya sekarang.
"M-maaf kak Itachi, apakah mobil kakak itu mobil yang memiliki warna merah ?" tanya Hinata memastikan apakah mobil yang kupakai tadi adalah milik Itachi.
"Iya itu mobilku, memang kau tau dimana sekarang mobilku ?"
"Itu tadi paman meninggalkan mobil kakak ditaman yang berada dilingkungan tempat tinggalku karena mungkin akibat dari sake jadi paman tidak mengendarai mobil yang dia pakai"
"Apa seenaknya saja sibodoh ini !" protes Itachi yang pastinya tidak akan mengubah kalau mobilnya tidak ada disini.
"Tapi Hinata kenapa kau memanggil Sasuke dengan sebutan paman ?" Ibuku bertanya kepada Hinata karena dia tidak habis pikir kenapa anaknya yang tampan dan keren ini dipanggil paman olehnya, soalnya umurkukan belum mencapai umur seorang paman-paman.
"Maaf Ibu aku tidak sadar akan ucapanku tadi kalau tadi aku menyebut kakak Sasuke dengan sebutan paman"
'Kakak dia memanggilku kakak' dan entah mengapa panggilan kakak untukku yang diberikan Hinata barusan bagaikan nina bobo bagikuku yang membuatku langsung tertidur pulas (Atau mungkin memang aku sudah tidak kuat lagi mempertahankan kesadaranku, ya entahlah yang penting aku sudah tertidur).
Flash back off
"Aku ingat sekarang, tapi jika semalam itu terjadi, lalu Hinata sekarang -" akupun langsung menyingkap selimut yang sekarang menyelimutiku dan segera berlari kearah pintu kamarku untuk mengetahui keberadaan Hinata sekarang. Tujuanku yang pertama kali untuk mengetahui keberadaan Hinata sekarang tentu saja Ibuku, karena kalau tidak salah ingat Ibukulah yang kemarin duduk bersamanya.
"Ibu, Ibu dimana kau !" teriakku saat mencarinya dikamarnya dan hasilnya adalah nihil, ibuku tidak ada dikamarnya 'Dimana Ibu ini ?'.
Saat aku masih mau mencari keberadaan Ibuku, kebetulan sekali ada salah satu maid yang sedang berjalan kearahku dan kuputuskan untuk mendekatinya lalu bertanya kepadanya dimana keberadaan Ibuku sekarang.
"Selamat pagi tuan muda" sapa maid itu kepadaku sambil membungkukkan badannya kearahku sebentar.
"Hn" balasku singkat "Apa kau tau akan keberadaan Ibu sekarang ?" lanjutku bertanya tanpa basa-basi lagi.
"Nyonya besar sekarang berada didapur dengan nona muda sekarang"
"Nona muda maksudmu adalah ?"
"Nona Konan dan nona Hinata"
"Oh kakak ipar -, dan Hinata ?" teriakku yang kemudian berlari meninggalkan maid itu sendirian menuju arah dapur. Disaat aku menuju dapur dan melewati meja makan, aku melihat Itachi yang sedang menyantap makanannya dengan Konan disebelahnya. Dan bukan hanya itu saja yang dilakukan sibodoh itu, tapi dia juga sekarang meminta Konan menyuapinya, bikin aku enek saja melihatnya.
Karena aku malas untuk bertanya kepadanya, maka lebih baik aku bertanya pada Konan saja "Kakak ipar apakah Hinata sekarang ada didapur ?" tanyaku yang membuat Konan menghentikan aktifitas menyuapinya kepada calon suaminya.
"Oh kau sudah bangun Sasuke"
"Hn, lalu apakah Hinata ada didapur sekarang ?" ulangku bertanya kepada Konan.
"Ya sekarang dia ada disana bersama Ibu"
"Oh" ucapku singkat yang kemudian meninggalkan mereka berdua dimeja makan agar mereka bisa melanjutkan acara mereka yang sempat tertunda akibat ganguan dariku.
Disaat aku sudah berada didepan dapur, aku bisa melihat Hinata dan Ibuku sedang membuat sarapan pagi berdua disana. Kulihat Ibuku sepertinya menikmati sekali acara memasaknya hari ini. Becanda disela dia memasak, tersenyum saat Hinata membalas ucapannya, dan sesekali mencubit pipi Hinata yang chubby itu.
Merasa saat ini sudah cukup menyenangkan untukku masuk kedalam, maka akupun kemudian memutuskan masuk kedalam dapur dan mendekati Hinata.
"Kau sedang membuat apa ?" ucapku tiba-tiba yang membuatnya langsung terlonjak kaget.
"Paman !"
"Hn" gumamku cuek sambil melihatnya sedang menggoreng tempura "Tempura ya" lanjutku datar.
"Loh sayang kau sudah bangun" ucap ibuku sambil memalingkan kepalanya kearahku.
"Begitulah bu" lalu akupun berjalan menuju arah lemari es dan mengambil air mineral yang ada didalamnya serta meneguknya hingga setengah saat aku sudah mengambilnya.
"Lalu Hinata semalam tidur dimana Bu ?" tanyaku sambil memasukkan kembali air mineral yang baru saja aku minum kedalam lemari es.
"Hinata semalam tidur dikamar tamu bersama Konan, memang kenapa ?"
"Tidak, tidak ada apa-apa" aku kemudian mendekati Hinata dan membisikan sesuatu padanya "Hanya saja kenapa tidak disuruh tidur saja dikamarku".
Mendengar ucapanku barusan wajah Hinata tiba-tiba saja bersemu merah tapi tidak menghentikan acara menggorengnya.
"Kau bicara apa sayang ?" tanya Ibuku tak begitu jelas mendengar ucapanku karena memang aku hanya ingin mengucapkan itu pada Hinata saja.
.
.
.
Setelah makan pagi selesai dan acara cuci piring yang dilakukan Hinata berakhir, akupun membawa Hinata kedalam kamarku dan menyuruhnya duduk diranjangku berdua denganku.
"Maafkan aku Hinata, seenaknya saja membawamu kesini dan memperkenalkanmu kekeluargaku sebagai calon istriku, padahal aku masih belum mengetahui isi hatimu tentang diriku" ucapku sambil memandangi lantai yang ada dikamarku "Mungkin karena efek dari minuman itu aku semalam nekat menciummu serta membawamu kemari. ...Tapi jika ada yang bertanya apakah aku menyesal membawamu kesini dan memperkenalkanmu sebagai calon istriku, maka aku akan menjawab -" kepalaku kemudian kuangkat dari memandang lantai kamar dan mulai memandang wajahnya yang ada disampingku "Tidak aku tidak akan menyesal. ...Jadi Hinata, apakah kau menyesal saat kau kubawa kesini dan memperkenalkanmu sebagai calon istriku ?"
Mendengar ucapanku barusan, Hinata kemudian menundukkan kepalannya tanpa memberikan respon atau jawaban atas pertanyaanku itu yang langsung bisa aku simpulkan bahwa dia menyesal akan keputusan sepihakku ini.
"Jadi seperti itu rupanya" ucapku dengan menunjukkan senyum miris dan mengalihkan pandanganku lurus kedepan "Aku bisa memaklumi sikapmu itu Hinata, kau masih muda, mungkin kau juga menyukai pria yang sebaya denganmu jadi aku bisa mengerti penolakanmu ini" akupun berdiri dari atas ranjang dan berniat meninggalkan Hinata disini "Tidak usah cemas tentang keluargaku disini, aku bisa mengatakan kepada mereka bahwa semalam aku mabuk dan mengatakan hal-hal yang tidak benar tentangmu" dan akupun kemudian melangkahkan kakiku menuju arah pintu untuk keluar dan menjelaskan kepada semua orang bahwa aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Hinata. Namun disaat aku melangkahkan kaki pertamaku, tiba-tiba saja langkahku terhenti saat tangan kananku tertahan oleh dua tangan halus yang sekarang memegang tanganku untuk menahan kepergianku.
"Hinata apa yang -" ucapku terhenti sambil memalingkan kepalaku kearahnya.
"P-paman a-aku -" ucapnya tertahan yang membuatku hanya bisa menunggunya untuk melanjutkannya "A-aku tidak menyesal p-paman membawaku kemari"
Mendengar ucapannya barusan aku hanya bisa terkejut sambil memandang wajahnya yang hampir menitikkan air mata.
"Aku tidak menyukai pria sebaya denganku paman, aku hanya menyukai Paman seorang" ucapan Hinata yang baru terlontar dari mulutnya itu membuatku kaget ataupun senang sehingga tanpa sadar aku kembali duduk diranjang dan memegang erat kedua tangannya.
"Aku tidak mengerti perasaan apa yang selalu berkecambuk didadaku ini saat aku akhir-akhir ini bertemu dengan paman. Perasaan senang, lega atau apapun itu pasti datang saat itu, apa mungkin aku jatuh cinta pada paman" aku hanya diam membisu mendengarkan setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya yang tak jarang membuatku kaget.
"Tapi pikiran itu segera aku buang saat aku teringat akan kata-kata paman dulu yang mengatakan bahwa paman tidak mungkin menyukai gadis sepertiku ini" aku teringat akan ucapan bodohku dulu, benar-benar bodoh.
"Dan bukan hanya itu saja yang membuatku membuang pikiran itu jahu-jauh, tapi juga statusku yang pastinya tidak pantas untuk bersama dengan paman" kurasakan tubuhnya mulai begetar saat mengatakn kata-kata terakhir tadi.
"Tapi semalam tiba-tiba saja paman menciumku yang membuat perasaan itu muncul lagi dihatiku ini paman hiks hiks" terdengar isakan tangis Hinata yang kontan saja membuatku menenangkannya dengan memeluknya. Cukup lama dia menangis sebelum dia melanjutkan kembali apa yang ingin dia katakan.
"Tapi lagi-lagi aku ingin membuang jauh perasaan itu karena meskipun paman mengatakan menyukaiku, namun keluarga paman belum tentu menyukaiku karena statusku ini hiks hiks, jadi aku tidak mau memupuk harapan kosong yang nantinya akan menyakiti hatiku ini hiks hiks. Lalu saat aku bertemu dengan Ibu paman dan menyeritakan tentang setatusku yang hanya anak yatim piatu dan hanya bekerja sebagai seorang pelayan cafe kecil hiks hiks, Ibu paman hanya bilang ..."
Flash back disaat aku tak sadarkan diri diatas kursi...
"Ohya Hinata soal orang tuamu, apakah tidak masalah membiarkanmu menikah diusia muda seperti ini ?" tanya Ibuku disamping Hinata duduk.
"M-maaf Ibu, s-sebenarnya aku ingin m-mengatakan sesuatu pada Ibu dulu sebelum I-ibu memutuskan apakah aku pantas menjadi menantu disini atau tidak"
"Apa itu Hinata ?"
"Mmm ... S-sebenarnya aku ini bukanlah o-orang dari golongan seperti keluarga ini Ibu" saat mengucapkan itu Hinata hanya menunduk dan Ibuku hanya memandangi Hinata dengan pandangan penasaran diikuti oleh pandanga Itachi dan Konan yang penasaran pula yang masih ada ditempat ini.
"Maksudmu Hinata ?" tanya Ibuku yang masih bingung.
"S-sebenarnya aku ini pastinya t-tidak pantas untuk kak Sasuke"
"Kenapa ?"
"K-karena aku bukanlah dari k-keluarga kaya raya seperti Ibu melainkan a-aku hanya dari keluarga miskin y-yang tidak memiliki orang tua"
"Jadi Hinata kamu -"
"I-iya Ibu aku hanya orang dari g-golongan miskin"
"Bukan, bukan itu"
"M-maksud Ibu" Hinatapun mengangkat kepalanya dan langsung melihat wajah Ibuku. Saat melihat wajah Ibuku, Hinatapun tiba-tiba saja meneteskan air matanya karena melihat Ibuku yang menitikkan air mata pula.
"Aku tidak menyangka anak sekecil ini sudah kehilangan kedua orang tuanya" dan Ibukupun memeluk Hinata dengan erat sekali.
"T-tapi Ibu soal a-aku yang dari golongan -" ucap Hinata terhenti saat jari telunjuk Ibuku menempel dibibir Hinata tanda Hinata tidak perlu melanjutkan lagi ucapannya.
"Kau tidak perlu cemas soal itu karena setatusmu tidak akan menghalangimu menjadi istri Sasuke, karena anak Ibu itu tidak akan menyerah untuk menjadikanmu istrinya meskipun Ibu melarangnya" ucap Ibuku sambil memberikan senyum hangatnya kepada Hinata.
"I-ibu" ucap Hinata terharu.
"Itu benar Hinata kau tidak usah menghawatirkan masalah itu jika yang menjadi pikiranmu sekarang mengenai masalah itu" ucap Itachi mendukung akan ucapan Ibu, sedang Konan hanya memberikan senyuman kepada Hinata tanda dia juga menyetujui pendapat Ibuku.
"Kak Itachi, kak Konan"
Flash back end
Akupun kemudian menghadapkan tubuh Hinata kedepan tubuhku dan mengusap air matanya yang menetes dipipinya yang tak berhenti-henti.
"Jadi selama ini kau memendam rasa kepadaku ?" dia hanya mengangguk mendengar pertanyaanku itu.
"Lalu kenapa kau suka sekali menendangku"
"Soalnya paman mesum sih, lagian akukan menahan perasaanku ini"
"Mesum dan menahan ya" ucapku yang kemudian mengangkat dagunya dengan jariku sehingga mata kami kembali bertemu, onyx dan lavender "Lalu setelah kau tidak menahannya perasaanmu lagi, apa aku boleh berbuat mesum kepadamu" yang kemudian akupun mendekatkan bibirku dan bibirnya sehinga akhirnya.
Cup
Dia memalingkan kepalanya sehingga aku hanya bisa mengenai pipi merahnya.
"Loh kok" ucapku bingung saat hanya mengenai pipinya bukannya bibirnya.
Lalu tanpa aba-aba lagi diapun langsung berdiri dari ranjangku dan mulai melancarkan serangannya lagi kepadaku yaitu menendang kaki kananku.
"Aduhhh !" teriaku sambil memegang kakiku yang menjadi sasaran kekesalannya.
"Paman mesum weekk !" ejeknya kepadaku sambil menjulurkan lidahnya dan berlari pergi keluar dari kamarku.
"Heeheeheehee gadis ini, tadi menangis sekarang mengejekku" ucapku yang masih memegang kakiku dengan senyum yang terukir dibibirku.
"Namun bagaimana cara Ibu nanti membuju Ayah yang, sial membayangkannya saja membuatku merinding"
.
.
.
End of chapter 8
.
.
.
Tak mau banyak omong hanya minta REVIEWnya saja.
Dan kalau bisa RnR fic yang lainnya juga ya.
