# Perasaan apa ini ?#
Disclaimer: Naruto tetep milik Kishimoto Masashi
Pairing: Tetep SasuHina
Disini aku buat dalam sudut pandang Sasuke, jadi tidak ada pov-pov lain selain sasuke.
.
.
.
Tak mau berlama-lama lagi memikirkan akan apa yang nanti terjadi saat Ayahku pulang, akupun langsung beranjak dari ranjang yang sedang aku duduki untuk menghampiri Hinata yang sekarang pastinya ada dilantai bawah.
Sesampainya dibawah aku sudah tidak melihat akan keberadaan Itachi maupun Konan, mungkin saja Itachi sekarang mengantar Konan pulang sekalian mengambil mobilnya yang aku tinggalkan saat aku mabuk, mungkin. Tapi aku sama sekali tak tertarik dengan keberadaan itachi sekarang, karena yang ingin aku ketahui keberadannya adalah Hinata bukanlah dia. Disaat aku menempatkan diriku diruang makan tempat terakhir Hinata sebelum kekamarku tadi, dirinya tidaklah ada ditempat ini.
'Kemana dia' pikirku sekarang akan keberadaannya.
'Apa mungkin dia sekarang ditempat ibuku menghabiskan waktu jika dirumah' pikirku kemudian yang tentu saja membuatku langsung menuju ketempat itu, ketempat favorit Ibuku.
Dan benar saja akan dugaanku karena sekarang ini aku melihat Hinata dan Ibuku duduk berdua diatas sofa diruang keluarga dengan tv yang menyala mempertontonkan acara ftv yang pemerannya bisa berubah-ubah bentuk menjadi kadal, naga, buaya ataupun efek-efek tidak jelas lainnya. Namun meskipun tv didepan mereka sedang menyala, tetap saja mereka tidak memperhatikan acara yang sedang diputar stasiun tv itu melainkan mereka malah semakin asik saja dengan obrolon mereka saat ini.
"Hinata Ibu minta kamu tinggal disini ya bersama Ibu, menemani Ibu, membantu Ibu, serta menolong Ibu menjaga anak Ibu Sasuke agar tidak bandel lagi. Bagaimana Hinata kau mau kan tinggal disini ?" minta Ibuku sambil memegang tangan Hinata yang sedang Ibuku pangku.
"T-tapi aku tidak mungkin bisa t-tinggal disini Ibu, s-soalnya akukan sudah memiliki t-tempat tinggalku sendiri. K-kalau aku tinggal disini l-lalu bagaimana dengan tempat tinggalku ?" ucap Hinata yang membuat Ibuku terdiam memikirkan akan ucapan Hinata.
Aku yang merasa Ibuku tak mungkin dapat membujuk Hinata lagi dengan kata-katanya, membuat aku mulai maju mendekati mereka dan duduk seenaknya sendiri didekat Hinata meski harus sedikit menggesernya dengan tubuhku karena tempat yang tersisa sempit sekali.
"P-paman ?" kagetnya saat aku melakukan itu.
"Paman ?" Ibuku bersuara karena kebiasaan Hinata memangilku.
Menyadari akan kesalahan ucapannya itu Hinata dengan cepat memperbaiki panggilan yang diberikannya padaku dengan memanggilku dengan sebutan kakak.
"Maksudku kakak"
Aku hanya tersenyum mendengarkannya memanggilku kakak "Tidak apa-apa Ibu, paman itu sebutan sayang Hinata kepadaku jadi tidak usah dipermasalahkan lagi sebutan paman itu. Iyakan Hinata ?" ucapku dengan memeluk leher Hinata dari belakang dan menarik tubuhnya menempel ketubuhku.
"A-apa-apaan sih paman ini" berontak dirinya dipelukanku sehingga tidak ada pilihan lain untukku untuk melepaskanya.
Bebas dari pelukanku dia langsung menggeser tempatnya duduk menuju sisi Ibuku duduk menjaga jarak dariku meski hanya beberapa puluh centi untuk menjahuiku.
"Sayang kau tidak boleh mengganggu Hinata seperti itu" ucap Ibuku melihat Hinata menjahuiku karena perbuatanku barusan.
"Ibu tidak usah marah padaku, lihat saja wajah Hinata sekarang, terlihat imutkan karena wajahnya berubah menjadi merah" Ibukupun mengamati wajah Hinata dengan seksama yang membuat wajahnya semakin memerah.
"I-ibu jangan m-memandangiku seperti itu, a-aku jadi m-malu" Hinatapun memalingkan wajahnya kesamping agar Ibuku tidak memandanginya terus.
"Benar sayang, Hinata benar-benar terlihat imut saat wajahnya berubah menjadi merah"
"Sudah kubilangkan"
"Iya hahahaha" dengan tawa riangnya Ibuku, Hinata langsung menunduk wajahnya dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tapi meskipun itu dilakukannya tetap saja aku dan Ibuku masih dapat melihat wajahnya yang memerah.
.
.
Seusai acara blusing Hinata berakhir, kamipun memulai kembali melanjutkan pembicaraan terakhir yang dilakukan Hinata dan Ibuku yang meminta Hinata untuk tinggal disini.
"Aku harap kau mau tinggal disini Hinata seperti permintaan Ibu"
"Tapi paman bagaimana dengan Ayame, jika aku tinggal disini nanti Ayame akan tinggal dengan siapa ?" itulah alasan kenapa Hinata menolak akan ajakanku dan Ibuku untuk tinggal disini. Karena seandainya dirinya tinggal disini maka bisa dipastika Ayame akan tinggal sendirian diapartemantnya.
"Tapi pada akhirnya cepat atau lambat kau akan tetap meninggalkan Ayame untuk tinggal disini saat kita menikahkan nantinya, jadi aku harap kau mau tinggal disini untuk menjadi teman Ibuku dirumah. Kau tidak maukan melihat Ibuku bersedih karena kau tidak mau tinggal disini untuk menemaninya"
"Tapi kan -" Hinata lalu memalingkan wajahnya melihat wajah Ibuku yang menunjukkan raut wajah sedih sambil menganggukan kepalanya untuk menyetujui ucapanku.
"A-apa boleh buat, k-kalau begitu aku akan tinggal disini" ucapnya menyetujui yang membuat ibuku langsung memeluknya dan memberikan ciuman bertubi-tubi yang tentu saja membuatku iri.
Persetan dengan harga diri seorang Uchiha "Aku mau !" teriakku menghampirinya untuk menciumnya, namun dapat dengan sukses ditahan oleh kedua tangannya meski sekarang Ibuku masih menciumi pipi merahnya. Jadi kira-kira posisi kami sekarang adalah, Ibuku memegang kepala Hinata untuk mencium pipinya, aku menyondongkan badanku kedepan badannya untuk menciumnya, sedang dirinya semakin memundurkan tubuhnya medekat kebadan Ibuku dan rela pipinya menjadi korban keganasan Ibuku dibanding aku cium sambil menahan mukaku yang semakin mendekat dengan kedua tangannya.
"Ayolah Hinata, sedikit saja" rayuku yang masih tidak dapat mendekatinya.
"Tidak... tidak... tidak... !" teriaknya menolak keinginanku.
"Cup cup cup cup cup... " Ibuku semakin brutal saja menciumi pipi merah Hinata.
"AKU MAU !"
"TIDAK !"
.
.
Menanggis... menangis... berpelukan lalu berpegangan tangan untuk perpisahan, itulah yang sedang Hinata lakukan dihadapanku sekarang. Kepindahannya kerumahku membuat dirinya dan Ayame menjadi melo drama seperti sekarang ini, sungguh membuatku mual.
"Ayolah Hinata... kau hanyalah pindah kerumahku bukannya pindah keluar kota, lagian kau juga bisa bertemu dengan Ayame disekolahkan" ucapku santai karena terlalu malas untukku menanggapi kesedihan Hinata yang terlalu dibuat berlebihan itu.
Duak
"Aish... Hei !" sakitku kutahan saat dirinya menghantam keras kaki kananku. Ini adalah kebiasaan buruknya yang harus aku rubah saat kami nanti sudah menikah, karena jika kebiasaan buruk ini terus dia bawa maka bisa-bisa kehidupan yang harusnya membahagiakan bagiku malah menjadi kehidupan yang membuatku tersiksa. Jangan sampai itu terjadi.
'Siapa prianya ? KAU, siapa prianya ? KAU. Baiklah Sasuke tunjukkan kaulah yang berkuasa. Kau harus bisa menghentikan kebiasaan ini. Kaulah prianya. Seorang pria haruslah yang memegang kendali !' tegasku dipikiranku sendiri.
"Hinata, aku ingin bicara soal hantaman kaki ini. Kau harus menghentikannya, kau harus -"
Duak
"Aish... !" sakitku lagi-lagi kutahan saat dia menghantam kakiku LAGI ditempat yang sama. Sakitnya minta ampun. Bayangkan saja sendiri jika tulang keringmu ditendang seseorang dua kali ditempat yang sama persis, sakit bukan.
"Lebih baik paman tunggu saja didekat motor" printahnya dengan sorot mata menusuk.
Dia pikir dirinya siapa, memang dengan cara memelototiku seperti itu aku akan menurut. Heh... aku seorang Uchiha, mana mungkin aku mau menurutinya. Mau ditaruh dimana harga diriku jika aku menurutinya.
"Dan jangan lupa bawa koperku ini sekalian kesana" dia memintaku melakukan itu, dia pikir aku ini siapa, pembantunya.
"Paman belum pergi juga !"
"Kau !" aku tidak terima dong aku diperintah-perintah olehnya, seorang perempuan pula.
"Kenapa... paman mau yang ketiga kalinya" ancamnya tentu saja tidak membuatku gentar "Oke kalau itu yang paman ma-"
"Baiklah, aku pergi" potongku cepat-cepat saat menyadari kalau kakinya sudah mulai mengambil ancang-ancang. Dengan terpaksapun aku mengangkat kopernya, membawa pergi bersama diriku kedekat motorku. Lupakan semua kalimatku tadi, sangat memalukan saat aku mengingat-ingatnya semuanya.
"Aku pasti akan merindukanmu Ayame hiks hiks" nada bicaranya langsung berubah saat dirinya berbicara dengan Ayame. Cih...menyebalkan sekali calon istriku ini. Seandainya aku tidak cinta sama dia sudah aku cekik dia dari tadi. Tapi karena aku cinta sama dia, ya apa boleh buat selain menerimanya dengan lapang dada.
.
:
.
Dari aparteman kumuhnya kami berdua langsung pulang kerumah tanpa pergi kemana-mana lagi meski dijalan tadi aku mampir dibutik baju untuk memberikanya hadiah. Meskipun hadiah yang kuberikan ini tidak mewah tapi aku harap dia menyukainya dan akan terus memakainya.
"Bagaimana, kau suka hadiah yang kuberikan ?" aku mendudukkan badanku ke sofa diruang keluarga saat aku melihatnya duduk disana sambil menonton acara ftv yang lebih bermutu dibanding tadi pagi.
"Aku belum membukanya paman, jadi aku belum bisa menjawab apakah aku suka apa tidak dengan hadiah yang paman berikan" dia melihatku saat bicara lalu kembali mengalihkan pandangannya kelayar televisi saat sudah berhenti berbicara.
"Oh... tapi saat kau buka nanti kau langsung pakai ya dan jangan lupa beritahu aku saat itu tiba agar aku yang menjadi yang pertama melihatnya" aku lalu merenggangkan kedua tangganku keatas agar otot-ototku tidak kaku dan menurunkannya kepundaknya untuk merangkulnya.
"Filmnya bagus ya" aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan ucapanku.
"Bagus apanya !" dia tidak terpengaruh.
"Aduh duh duh..." dia mencubit tanganku yang sedang merangkulnya sambil mengangkatnya agar menjauhi pundaknya.
"Trik paman kampungan sekali, mencoba merangkulku dengan cara berpura-pura sok lelah"
Dia menghinaku, mengatakan trik pura-pura meregangkan tangan ini kampungan, trik andalanku meskipun belum pernah sekalipun mencobanya.
"Hei ! Kau ini seenaknya menghina trikku !"
"Memang dari dulukan trik-trik yang paman gunakan kampungan" dia bicara dengan santai untuk meremehkan trikku.
"Cih... Jika memang trik yang kugunakan ini kau bilang kampungan, maka..." aku menyeringai serta menunjukkan tampang... ehm 'mesum' yang tentu saja membuat dia harus menelan ludahnya secara paksa untuk melengkapi ekspresi takut, kaget, malu, dan ekspresi-ekspresi lainnya yang tak bisa aku artikan.
"J-jangan macam-m-macam ya paman, a-atau aku a-akan berteriak" dia semakin memundurkan badannya untuk menghindariku.
"Hehehehe tidak apa-apa Hinata, hehehehe aku akan melakukannya dengan lembut, hehehehe kau tidak usah takut denganku hehehehe" aku semakin mendekatinya.
"Kya...!"
...
Dia tertidur disofa karena kelelahan setelah melakukan permainan kecil bersamaku.
Tak kusangka dalam badannya yang kecil menyimpan kekuatan yang begitu besar. Gadis ini benar-benar istimewa. Meski... kekuatan besar itu tidak digunakan ditempat yang tepat melainkan digunakannya untuk melawanku.
Sebagai buktinya, lihat saja wajah tampanku ini yang menjadi sasaran keganasannya. Belum sempat menyentuhnya saja sudah terkena bogem mentahnya berkali-kali apa lagi kalau sudah menyentuhnya secara paksa, bisa-bisa aku hanya tinggal nama didunia ini.
Tapi ketika melihatnya tidur seperti ini hatiku menjadi luluh kembali, melupakan rasa sakit diwajahku karena melihat wajah malaikat Hinata yang sekarang terlihat damai sekali.
"Kau benar-benar telah memikatku dengan kepribadian maupun wajahmu itu Hinata... Meski kau bukanlah siapa-siapa, tapi hatiku telah seutuhnya menjadi milikmu" aku membelai putih mulus pipi Hinata serta menyingkap pelan rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Kau tidak usah menghawatirkan apa-apa lagi mengenai hubungan kita karena jika aku sudah bertekat maka tak ada yang bisa menghalangi meski itu adalah ayahku" kukecup pipi Hinata yang sedari aku belai itu sebelum aku memutuskan untuk memindahkan tubuhnya kedalam kamarnya.
...
Kucoba mengangkat tubuhnya ala bridal style namun sepertinya itu gagal saat aku menyadari kalau badan Hinata tidak mampu aku angkat.
"Berat sekali badanmu Hinata, kau makan apa sih selama ini" gumamku sendiri sambil masih mencoba mengangkat badannya.
Sial, tak kusangka akan sesulit ini melakukan adegan romantis. Kenapa tidak diterangkan dibuku-buku atau cerita-cerita yang aku baca kalau ingin melakukan bridal style harus memiliki kekuatan yang cukup besar agar dapat mengangkat tubuh kekasihmu sih.
Mulai sekarang aku mengurangi membaca adegan-adegan seperti itu lagi.
"Hiyaaa... " aku mengeluarkan kekuatan 110 persenku sekarang ini saat mencoba mengankat tubuhnya sehingga meskipun harus bersusah payah, sekarang aku akhirnya berhasil mengangkat tubuhnya. Dia yang kuangkat sempat menggeliat merasa terganggu akan perlakuanku, namun hal itu hanya berlangsung sebentar sebelum dia kembali merasa nyaman tidur dalam gendonganku.
...
Nafasku memburu, keringatku mulai bercucuran saat aku mengendongnya menuju kekamar, namun meskipun nafasku sekarang hampir putus tapi aku masih belum berada dikamarnya karena sekarang tantangan sebenarnya dalam perjalananku menuju kamar sehingga keringatku bertambah mengalir deras adalah ini, belasan tangga yang akan membawaku kelantai dua.
"Sial" aku menghela nafas panjang saat menyadari kebodohanku. Kebodohan karena kenapa aku bisa-bisanya lupa kalau kamar Hinata maupun kamarku ada dilantai dua. Membawanya kesini saja aku sudah bersusah payah seperti ini, apa lagi aku harus melewati tanga-tanga ini.
Nasi sudah menjadi bubur, bubur tak mungkin menjadi nasi lagi jadi apa boleh buat aku sudah tidak ada pilihan lain selain menaiki tangga ini untuk menuju kamarnya sebab akan sangat memalukan jika aku meletakan tubuhnya kembali ke sofa tadi tempat dia awalnya tertidur.
Sungguh memalukan. Apalagi didalam buku maupun didalam cerita romantis yang aku baca tidak ada yang pernah mengatakan kalau sang pria utama meletakkan kembali tubuh gadis yang tadi dia angkat dengan gaya bridal stayle dengan alasan tidak kuat membawanya. Dihidupnya aku adalah pria utamanya, jadi aku pasti bisa.
Dengan tekat sekuat baja aku mulai melangkahkan kakiku naik keatas anak tangga.
Tangga pertama, tak masalah karena ini masih cukup mudah bagiku.
Tangga kedua tetap sama, aku masih dapat mengatasinya.
Tangga ketiga aku merasakan otot tangan maupun kakiku mulai memanas, tapi aku masih sanggup untuk membawanya.
Tangga keempat dan kelima rasanya berat sekali kakiku melangkah, tapi aku masih dapat melangkah naik.
Tangga keenam aku masih mudah untuk me...
Sial, aku salah karena ditangga keenam ini otot-ototku sudah tidak mampu lagi menahan berat badannya sehingga aku mundur kebelakan, menuruni tangga yang tadi aku naiki dan... aku tak mampu mengatakannya karena kali ini aku akan benar-benar tinggal nama didunia ini.
"Aduh... !"
'Aduh', ya suara itu adalah suara mengaduh Hinata yang terbangun karena kesakitan saat aku menjatuhkannya. MENJATUHKANNYA, kau tau apa yang aku lakukan sekarang, aku menjatuhkannya dari gendonganku sehingga sekarang aku berdiri gemetar melihatnya merintih kesakitan memegang pantatnya yang menghantam lantai terlebih dahulu saat aku menjatuhkannya.
"Apa sih yang paman lakukan !" dia memelototiku sehingga sekarang tak ada pilihan lain selain aku harus mulai menghindarinya dengan cara mundur kebelakang sedikit demi sedikit.
"A-aku hanya ingin memindahkanmu yang sedang tertidur saja Hinata, a-aku tidak bermaksud untuk m-menjatuhkanmu kok" aku mulai gugup saat dia mulai berdiri dihadapanku karena aku masih ingat betul dengan kejadian yang menimpa para anak-anak ingusan yang pernah mengganggunya dicafe. Membanting mereka, memukul mereka, menendang mereka, apa nasibku akan sama seperti itu. Aku harap tidak.
"Pa-ma-n !"
"Maafkan aku Hinata, aku sungguh tidak sengajAAA... !"
...
Hari pertama badaku penuh memar akibat perbuatan Hinata, sungguh sial.
...
Didalam kamar Hinata...
"P-paman apa ini !" dia begitu terkejut saat membuka bungkusan kado yang aku berikan kemarin kepadanya. Bungkusan kado yang berisikan gaun tidur ketat berwarna hitam sedikit transparan yang dibagian atasnya dapat menampakkan belahan dadanya saat gaun itu dipakai, serta panjang gaun itu yang tidak mencapai selutut akan sangat jelas memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu. Begitu HOT saat nantinya dia akan memakainya.
"Bagaimana, baguskan ? Aku khusus membelinya untukmu. Dan jangan lupa nanti saat kau memakai itu, kau jangan memakai apa-apa lagi ya didalamnya biar aku yang melihatnya jadi-"
Duak
"Aish... Hei... Apa yang kau lakukan !"
"Dasar paman-paman mesum !"
Duak... Duak... Duak...
Hari kedua berakhir dengan kakiku yang terpincang-pincang saat keluar dari kamar milik Hinata. Untung tulangku kuat jadi tidak patah saat menerima hantama itu.
...
"Sial, kenapa lubang ini sempit sekali. Siapa lagi yang memasang lubang kunci yang tidak bisa dibuat mengintip kedalam"
Mendengar perkataanku barusan sudah bisa ditebakkan aku sekarang sedang apa. Ya, sekarang aku sedang mencoba mengintip kedalam kamar Hinata melalui lubang kunci yang sepertinya tidak bisa untuk aku mengintip.
Aku sadar betul lubang kunci ini tidak dapat digunakan untukku mengintip, tapi apa bisa dikata lagi akukan penasaran ingin melihat Hinata yang memakai gaun tidur pemberianku.
"Sayang kau sedang apa disana ?"
Lagi berusaha untuk mengintip kekamar Hinata, tiba-tiba dari arah samping belakangku aku mendengar suara Ibuku yang memergokiku sedang mencoba mengintip kedalam kamar Hinata secara tidak etis.
"I-ibu ?" aku masih berjongkok didepan pintu.
"Kenapa ada disitu ?"
Sial, kenapa Ibu ada disini ketika aku sedang mencoba mengintip sih. Masa aku harus mengaku kalau aku sekarang sedang mencoba mengintip Hinata. Sampai kapanpun aku tak akan mengaku, SAMPAI KAPANPUN.
"Tidak ada yang penting... aku disini hanya ingin mengecek pintu ini apakah masih kuat untuk beberapa tahun kedepan" aku mulai berekting mengecek pintu dengan cara meraba-rabanya.
"Benarkah ? tumben" Ibuku tidak percaya.
"Benar kok-"
Duak
"Aduh... !"
Kepalaku terbentur pintu sangat keras saat dalam kamar Hinata membuka pintu secara tidak terduga.
"Maaf paman, aku tidak sengaja"
"Maaf-maaf... Lihat nih kepalaku, benjol"
"Maaf paman aku benar-benar tidak sengaja, lagian salah paman sendiri sih kenapa berdiri didepan pintu"
"Kau ini..." namun betapa terkejutnya aku sekarang saat melihat penampilannya sekarang. Bukannya memakai gaun tidur pemberianku melainkan dia sekarang memakai baju tidur biru langit miliknya sendiri dengan gambar beruang tedy menghiasi sisi-sisi bajunya.
"K-kenapa kau tidak memakai gaun tidur pemberianku tapi melainkan malah memakai baju tidak berkelas seperti ini"
"Aku sampai kapanpun tidak akan pernah memakai gaun mesum pemberian paman"
"Tidak bisa begitu dong, jika kau tidak memakainya lantas untuk apa aku susah-susah mencoba mengintipmu"
"Terserah aku dong mau memakai atau ti-... apa paman bilang, mengintip ?"
Sial aku keceplosan bicara. Saatnya kabur.
"Aduh-duh-duh-duh" tapi semua terlambat saat Ibuku menjewer telingaku.
"Anak Ibu ternyata pintar berbohong ya, terlebih lagi berbohong karena alasan ingin mengintip anak perempuan tidur, sungguh tidak sopan" Ibuku semakin keras menjewer telingaku saat mengucapkan kata-kata sopan.
"Aduh-duh-duh-duh... ibu maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi"
Hari ketiga berakhir dengan telingaku yang memerah karena perbuatan Ibuku sendiri karena jewerannya. Ingat, jewerannya. Aku pria dewasa berusia 26 tahun masih kena jeweran Ibuku akibat dari berbohong kepadanya. Sungguh tidak berkelas untuk ukuran seorang Uchiha.
...
Aku pikir hari-hari sialku akan berakhir, namun nyatanya tidak karena :
Hari keempat aku terjatuh dari lantai dua tempat kamar Hinata berada saat mencoba memanjat menggunakan tangga untuk menyelinap masuk tidur bersamanya. Punggungku serasa remuk saat aku mendarat ditanah. Begitu sakit.
Hari kelima tidak ada yang istimewa karena hari itu aku habiskan dikamar mengistirahatkan badanku akibat jatuh kemarin. Tidak ada yang istimewa sampai-sampai aku harus melupakannya. Melupakan kejadian buruk saat Itachi menyuapiku dengan bubur sarapanku.
Maunya sih saat itu Hinata yang menyuapiku, tapi dengan seenaknya Itachi merebut sendok yang ada ditangan Hinata dan mulai menyumpal mulutku dengan bubur secara paksa meski mulutku masih penuh.
Dan puncaknya hari keenam, hari ini, hari dimana Ayahku pulang. Hari dimana sekarang aku berhadapan dengan Ayahku dimeja kerjanya bersama seluruh keluargaku termasuk Hinata didalamnya saat Ayahku melihat Hinata disini, dirumah ini dan aku menyebutnya sebagai kekasihku, calon istriku.
"Sekarang jelaskan padaku ?"
Glek
Mendengar suara berat Ayahku yang tegas dan mengintimidasiku itu membuat aku secara paksa harus menelan ludahku.
Perasaan ini...
-tbc-
hampir saja ku discont tapi akhirnya ngak jadi.
jadi tolong reviewnya
