HOLLA~ author kembali membawa perdamaian~ *dadahdadah ala miss yunifers*. Setelah author membuat reader terkesal-kesal(?) di part sebelumnya. Kini author membawa lanjutan cerita yang -pastinya- bikin reader semakin terkeuheul-keuheul (baca:terkesal-kesal).

Dari part awal sampe yang kemaren, author gagal ini ternyata melakukan kebodohan tak termaafkan *tutup muka pake kresek*. Tapi terimakasih sama yang udah review dan memberitau author payah ini tentang kepayahannya *reader angguk-angguk*. Sekali lagi terima kasih *bow*.

Siapkah anda sodara-sodara?

WUSH~ *author menghilang dari peredaran* *ck. abaikan*

.

.

Something Weird About Flower

Part #8

-Sungmin POV-

'LAGII ?' aku terak. Antara frustasi, bingung, kesal, bimbang dan segala keturunannya.

'SEBENARNYA INI APAAA HAAAHH!' aku kembali teriak, tapi percuma, tidak ada yang merespon. Kenapa? Ya karena aku hanya sendirian disini. Kenapa? Karena aku berada ditempat tak terjamah siapapun. Dimana? Di mimpi itu lagi. Jangan Tanya mimpi yang mana *itu loh yang di part#3* *author kasih bocoran*.

Aku merasa aneh. Semakin kesini, mimpi ini semakin sering muncul. Bahkan sekarang hampir setiap hari, tidak, memang setiap hari. Awalnya aku menganggapnya biasa. Yahh, mimpi Cuma bunga tidur kan? Tapi ini sudah diluar kewajaran mimpi-mimpi pada umumnya. Terlalu sering. Terlalu nyata.

'HEEEEIIIII~! INI MENYEBALKAAAAAN!' teriakku lagi. Tentunya teriak dalam mimpiku. Di dunia nyata mungkin aku sedang mengigau sekarang. Tapi aku tidak peduli. Tidak aka nada yang terganggu karenanya, Teuki-eonni selalu tidur dengan penutup mata dan telinga. Ia tidak akan tau aku meracau dalam mimpiku, terlebih kamar kami yang memang terpisah di sudut yang berlawanan.

Jika sebelumnya aku bermimpi seperti ini lalu aku melihat sosok namja yang menyembunyikan mawar putih dibalik punggungnya, kali ini tidak. Tidak ada seorang pun disini. Aku sedikit merindukan namja itu. Astaga! Aku bahkan termakan imajinasiku sendiri. Ya, aku menganggap namja itu sebagai imajinasiku, imajinasi tentang calon suamiku kelak. Hehe.

Waktu aku kecil aku selalu mendengarkan cerita tentang pangeran berkuda putih yang mencari cintanya hingga berkeliling dunia ditemani kuda putihnya yang setia. *cerita macam apa itu?* *abaikan dan maklumi author yang miskin ide ini, key? Kita lanjut…*

Aku membayangkan pangeran itu berbadan tegap, gagah dan berkharisma. Mata hitamnya selalu menatap tajam tapi hangat. Rambutnya hitam dan rapi dan semakin keren saat rambutnya menari karena tertiup angin. Tak lupa senyumnya yang menawan, juga … aku membayangkan jika pangeran itu punya lesung pipi.. Arrkkh! Membayangkannya saja aku senyum-senyum sendiri. Untung ini dalam mimpi jadi tidak akan ada yang lihat. Kkkk~

Meski aku sadar aku sedang dalam mimpi, tak lantas aku bisa bangun begitu saja, meskipun aku ingin bangun karena kebosanan saat ini, tapi aku tak bisa. Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa bangun setelah ini? Hah! Aku kembali berimajinasi, kali ini imajinasi yang membuatku ngeri.

'hhhaaahhhhh~' aku menghembuskan napas panjang. Aku mulai berjalan, berjalan, berjalan… tidak ada efeknya, seperti berjalan di tempat, semuanya putih. Ckck. Aku merasa sedang jalan santai dalam mimpiku sendiri. Sampai akhirnya…

JDUKK!

'AH! Sakit~' aku mengelus-elus keningku yang barusan menabrak sesuatu. Tapi setelah kuperhatikan tidak ada apa-apa didepanku. Aneh. Ku amati dan tetap tidak menemukan apapun. Ku ulurkan tanganku kedepan dengan pelahan.

TEP. TOK. TOK.

Kaca. Aku mengetuknya. Dan itu memang kaca. Benar itu kaca! Ya ampun, kenapa ada kaca di mimpiku. Kutelusuri kaca itu kearah kananku, mencari ujungnya. Lama aku berjalan sambil tetap menempelkan tangan kiriku pada kaca itu dan menyapunya, tapi aku belum melihat tanda-tanda ujung kaca itu. Aku terus melangkah sambil melirik keatas, kedepan, kebawah, aku benar-benar penasaran, dimana ujungnya?

JDUKK!

Untuk kedua kalinya aku kembali terbentur kaca itu. Apa ini ujungnya? Kenapa ujungnya kaca juga? Jadi aku ada di sudut ruang putih yang dikelilingi kaca, begitu? Otakku menyimpulkan demikian. Aku menghadap kaca yang baru kutabrak(?). oke. Di depanku kaca, di sebelah kiriku juga kaca. Di sebelah kanan kurasa tidak ada apa-apa, aku masih bisa bergerak bebas kearah itu.

Baru sesaat aku memperhatikan kearah kananku, saat aku berbalik kearah sebaliknya, aku sangat kaget mendapati sesosok manusia yang lebih tinggi dariku memakai pakaian serba hitam, sangat mencolok ditengah ruang putih itu. Kukira dia namja dilihat dari postur tubuhnya. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup topi dan tudung(?) jaketnya. Ya dia mengenakan jaket. Aneh.

'Astaga! ' teriakku saat itu spontan.

'S-siapa kau?' Tanyaku padanya, ragu, apa dia akan menjawab.

Dia menarik sebelah sudut bibirnya, memperlihatkan sedikit deretan giginya yang rapi. Ia tersenyum? Tidak, itu lebih terlihat seperti menyeringai. Menyeramkan. Tapi sekaligus menawan.

HEY! Aku kenal senyuman, eh bukan, seringaian itu. Itu seringaiannya Kyuhyun! Apa itu kyuhyun? Tapi kalau itu kyuhyun pasti aku langsung mengenalinya.

'Kyuhyun?' tanyaku pada namja itu lagi setelah tak mendapat jawaban apapun atas pertanyaanku sebelumnya.

'Cih! Apa hanya dia yang ada dipikiranmu?' jawab namja itu, dengan pertanyaan yang membuatku terkaget. Bukan kaget pada pertanyaannya, tapi kaget karena dia bicara! Ya, dia benar-benar bicara padaku! Astaga, apa ini juga bagian dari imajinasiku yang semakin ngelantur?

Namja itu mendekat dan seketika mendorong bahuku. Ku kira aku akan jatuh mengingat tidak ada apa-apa dibelakangku. Tapi ternyata ada. Ada kaca! Dan sebelumnya aku yakin tidak ada kaca disana. Aku kira aku mulai buta arah disini.

Namja itu menundukkan wajahnya untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggiku. Dan meski dalam jarak sedekat itu, aku tetap tidak bisa melihat wajahnya. Hanya seringaiannya saja. Dia terus mendekatkan wajahnya. Menghilangkan jarak diantara kami. Aku menutup mata…

Tiba-tiba aku merasa melayang. Hey! seperti inikah sensasi berciuman dalam mimpi? Tidak! Namja tadi tidak menciumku! Aku tidak merasakan apa-apa. Perlahan ku buka mata. Aku .. aku .. aku jatuh! Benar-benar jatuh! Jatuh dari ketinggian. Terlihat olehku namja misterius itu menyeringai semakin lebar dan menyeramkan dari sebelumnya. Dia mendorongku jatuh..

BRUKK!

"Ahh! Pinggangku~" aku merintih kesakitan. Aku mencoba duduk dan menyadari keadaanku dan tempat tidurku yang kacau berantakan. Ya. Aku terjatuh dari tempat tidurku sendiri.

-Sungmin POV end-

.

.

"Sungmin-ah.. kau sudah bangun?" Teuki-eonni bicara dari balik pintu kamar Sungmin.

"Nee~. Aku sudah bangun.." jawab Sungmin malas.

'Aneh. Ini aneh. Tadi itu. Namja itu. Kukira dia akan menciumku. Hff!' batin Sungmin sedikit kecewa karena mimpinya sendiri *author juga kecewa sebenernya. ckck*

.

.

Setelah beberapa lama, Sungmin sudah siap pergi ke sekolah.

"Eonni? Apa kau tidak pergi kerja?" Tanya Sungmin heran melihat Teuki-eonni masih belum bersiap sampai jam segini.

"Ah. Tidak. Aku ijin hari ini. Aku merasa tidak sehat~" jawab Teuki-eonni sambil memijat-mijat bahu kanan dengan tangan kirinya sendiri.

"Apa kau harus ke rumah sakit? Aku akan menemanimu.." Sungmin terlihat khawatir. Dia menghampiri Teuki-eonni dan meraba keningnya. Untungnya Teuki-eonni tidak demam.

"Ani.. Gwaenchana.. aku hanya butuh tidur extra hari ini. Jangan khawatir. Sudah pergi sekolah sana.." ujar Teuki-eonni mengusir Sungmin *plak*.

Sungmin hanya tersenyum lalu berbalik meninggalkan Teuki-eonni. Sebenarnya dia khawatir. Bagaimana pun Sungmin sangat menyayangi eonni-nya itu.. *author jugaaaa~ peluk-peluk Teuki-eonni* *ditendang ke jurang sama Teuki-eonni*.

.

.

-skiptime-

"Haaahhhhh~" dua suara terdengar bersamaan. Suara satu berasal dari seorang yeoja bernama Hyukie. Suara satunya lagi berasal dari seorang namja bernama Donghae.

"Kenapa kau meniruku ?" lagi-lagi mereka bicara bersamaan. Melirik satu sama lain dengan pandangan kesal.

"Aku tidak menirumu !" ketiga kalinya mereka bicara bersamaan. Kali ini mereka langsung buang muka. Memandang kearah berlawanan. Menghindari kontak mata satu sama lain. Hey! mereka malu. Kkkk.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Hyukie mengalihkan kekakuan.

"Aku hanya sedang berpikir-" jawabnya belum sampai titik tapi sudah dipotong.

"Aku tau kau sedang berpikir dan aku Tanya apa yang sedang kau pikirkan, bodoh!" Hyukie memulai percekcokan.

"Aku belum selesai bicara! Makanya dengarkan dulu, bodoh!" jawab Donghae kesal. Ia lalu meneruskan kalimatnya yang belum selesai itu. "Aku hanya sedang berpikir kalau aku harus memeriksakan mataku ke dokter mata secepatnya.."

"Eh? Wae yo? Apa matamu sakit?" Hyukie memandangi mata Donghae yang sedang memandang cangkir teh dihadapannya.

"Bukaan. Mataku tidak sakit.. kecuali kalau aku terlalu lama melihatmu.." jawabnya asal.

PLETAKK!

"AH! SAKIT!" Donghae mengusap-usap kepalanya yang baru saja dihadiahi pukulan Hyukie dengan cangkir tehnya yang sudah kosong.

"Apa yang kau katakana barusan, hah?" Hyukie berapi-api. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mennyingsingkan(?) lengan bajunya.

"Ah. Ani.. Ani.. mianhae.. mianhae.. aku hanya bercanda.. jangan esmosi begitu.." Donghae sadar ia dalam bahaya, ikut bangkit dari duduknya dan mendorong bahu Hyukie agar Hyukie duduk kembali.

"Hah.. Kau hanya merusak suasana saja.." Hyukie melipat lengannya di atas meja dan merapatkan dagunya diatasnya. *ahh.. penjabaran macam apa ini, semoga reader dapat menangkap maksudnya.. lanjut..*

"Jadi.. apa alasanmu ingin memeriksakan matamu itu, hah?" Tanya Hyukie yang memang penasaran tanpa merubah posisi pewe-nya kali ini.

"Aku merasa melihat sesuatu yang salah.." jawab Donghae.

"Sesuatu yang salah? HAAA~ kau suka melihat 'itu' Hae? Aku tak menyangka.." Hyukie menjauhkan sedikit badannya dari Donghae tanpa merubah posisinya dengan nada bicara kaget dan curiga yang dibuat-buat.

"Aish.. bukan sesuatu seperti itu, bodoh! Kau kira kau sepertimu ." Donghae menunjuk kening Hyukie dan mendorongnya sedikit. Hyukie hanya bertampang polos yang juga dibuat-buat. "Beberapa hari yang lalu aku melihat seseorang yang mirip Siwon-ssi.." lanjut Donghae membuat Hyukie langsung duduk tegak, kali ini ekspresi kagetnya tidak dibuaat-buat.

"Jj-jinja? Jjinja yo? Dimana kau melihatnya? Tap-tapi itu tidak mungkin kan.. Siwon-hyung-" Hyukie membiarkan kalimatnya menggantung, dia tau Donghae tau kelanjutan kalimatnya itu.

"Aku juga tau. Tapi aku yakin itu Siwon-ssi. Tapi itu kan tidak mungkin. Mana mungkin .." Donghae terlihat bingung luar biasa.

"Dimana kau melihatnya?" Tanya Hyukie kemudian.

"Di persimpangan jalan didepan sana.." Donghae menunjuk kearah yang ia maksud. "Aku melihatnya berdiri di depan sebuah mobil. Terlihat seperti menunggu seseorang. Tadinya aku berpikir untuk menghampirinya. Tapi kuurungkan niatku. Lalu aku kembali lagi ke toko. Ku kira tak lama kemudian dia juga pergi karena aku mendengar suara mobil itu menyala dan menjauh." Jelas Donghae.

"Apa kau memberitau Kyuhyun soal ini?" Tanya Hyukie serius.

"Apa kau gila? Kyuhyun akan mengira aku gila kalau aku mengatakannya. Kau itu bodoh atau apa.." jawab Donghae sukses membuat Hyukie bernafsu(?) memukulnya lagi. Tapi Hyukie kali ini bersabar.

"Hm.. kau benar.." Hyukie mengangguk sambil mengusap dagunya dengan sebelah tangan.

"Aku benar soal apa? Soal kau yang gila atau kau yang bodoh?" tanyanya yang disambut tatapan membunuh Hyukie. Donghae sangat senang membuat Hyukie kesal. Membuat Hyukie terlihat menggemaskan menurutnya. Loh?

.

.

Ditempat lain. Diwaktu lain. Di fanfict lain. *eh eh eh*.

Di rumah Kyuhyun.

"Omma. Apa appa masih sibuk dengan pekerjaannya?" Tanya seorang anak pada ommanya saat sedang makan malam.

"Hm.." sang omma mengangguk pelan. "Dia masih dan selalu sibuk.. Hahh~ omma tidak habis pikir apa saja yang dikerjakannya selama ini.." sang omma kini geleng-geleng kepala.

"Padahal aku sudah bilang kalau aku sudah kembali. Apa appa tidak merindukanku?" anak itu terdengar kecewa.

"Omoo! Tidak begitu chagi~.. dia merindukanmu dan dia senang kau mau kembali pulang ke sini.." omma mencoba menghibur kesedihan anaknya itu.

Sementara makhluk lain(?) di meja makan itu hanya diam seribu bahasa.

"Ya! Kenapa kau diam begitu. Yang bersedih disini aku, kenapa malah kau yang mengeluarkan aura negative?" ucap anak tadi pada adiknya yang duduk tepat didepannya.

"Aku sudah selesai makan.." jawabnya tak nyambung dengan pertanyaan sang kakak. Lalu beranjak meninggalkan meja makan.

"Kyuhyun-ah? Kenapa sudah selesai? Kau makan sedikit, apa kau sakit, hm?" Tanya sang omma yang tak digubris karena yang ditanya sudah menghilang dari peredaran(?).

"Biarkan saja omma. Mungkin dia sedang bertengkar dengan kekasihnya. Makanya dia jadi sedikit sensi.." kata sang kakak.

"Omo! Benarkah? Kyuhyun bertengkar dengan Sungmin ? ah.. andwae andwae mereka tidak boleh bertengkar.. ah astaga apa yang dilakukan bocah itu sampai mereka bertengkar? Astaga , ini tidak boleh dibiarkan. Pantas saja Sungmin jarang main kemari…" sang omma terlihat panic. Yaa sang omma usah kepincut sama ke-aegyo-an-nya Sungmin. Dan sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Ia tidak rela kalau Sungmin menghilang dari kehidupannya.

Sang omma pergi meninggalkan meja makan. Mungkin ia akan menyusun strategi supaya Sungmin dan Kyuhyun tidak bertengkar. Padahal ia sendiri tidak tau apakah Sungmin dan Kyuhyun bertengkar sungguhan atau tidak. Yah, biasa omma-omma, riweuh adalah yang . *duplakk* *dibanting omma Kyuhyun..* *author diam seribu bahasa karenanya..*

Di kamar Kyuhyun..

"Hahh~. Orang itu benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya bersikap manis didepan omma.. cih" Kyuhyun merebahkan tubuhnya ditempat tidur. *kyu~ tidak baik tiduran habis makan* *author perhatian ^^*

CKLEKK

Pintu kamar Kyuhyun dibuka dari luar. Terlihat seorang menyembulkan(?) kepalanya. Meminta ijin si empunya kamar agar dia boleh masuk. Kyuhyun yang melihat hanya memutar mata kesal.

"Mau apa kau kemari?" tanyanya ketus.

"Aku hanya ingin beramah tamah denganmu? Apa itu salah? Kenapa kau bersikap dingin seperti ini padaku? Apa kau takut aku akan mengambil semua yang kau cintai dari hidupmu, hm?"

"AISH KAU MENYEBALKAN!" Kyuhyun yang terpancing emosi bangkit hendak menghampiri orang yang dia sebut menyebalkan. Namun, si orang menyebalkan(?) sudah terlebih dulu menutup pintu kamar Kyuhyun sambil tersenyum licik. Ia menuju kamarnya sendiri.

"Jadi apa yang akan ku lakukan pertama kali, hm?" tanyanya pada diri sendiri. "Ah~ tentu saja aku akan memulainya dari Sungmin. Ya. Dia pasti sudah menungguku lama sekali." Orang menyebalkan itu mengambil selembar photo dari laci di dalam kamarnya. Ditatapnya seorang gadis kecil dengan gigi kelinci tersenyum. Disampingnya seorang yang mirip sekali dengannya, tapi bukan dia. Dia sendiri berdiri agak jauh dibelakang sang gadis dan memandangi gadis kecil itu dengan pandangan tak terjelaskan.

Ya. Itu photo lamanya waktu dia masih kecil bersama saudara kembarnya dan tentu saja gadis manis yang merupakan cinta pertamanya.

"Kibum… Sungmin… cocok. Siwon… Sungmin… emm, ya oke lah.. Kyuhyun… Sungmin? Sama sekali tidak cocok." Namja itu bergumam sendiri. Namja yang bernama Kibum itu menyimpan kembali photo lamanya di tempat semula lalu beranjak ke tempat tidur. Merebahkan diri lalu tak lama memasuki alam mimpi.

"Semoga kita bertemu malam ini, Sungmin-ah…" ucapnya tepat sebelum jatuh tertidur sambil tersenyum.

.

.

.

TBC

.

.

.

Astaga~ ini ff semakin lieur.. rieut euy.. *author stress*

Baiklah. Bagaimana sejauh ini? *reader: biasa aja* *senyum author luntur seketika* *ah lupakan..*

Boleh yang baca kasih review dong. Entah kenapa review itu menambah semangat author untuk bikin cerita semakin panjang. Kkkk *ditabok*

Oke lah .. sampai jumpa di part selanjutnya.. *dadah dadah ala mis yuniverse*