Ya, the guy-nya adalah Harry, emang sindrom orang yang menggilai kepantasan bukannya konflik, itu saya, haha. Tapi nanti bisa dilihat sifatnya cuma cocok buat orang seperti Harry. Dan akan garing jika dimainkan karakter lain. Me owned nothing. JKR does. Enjoy... ^^b


Mereka meninggalkan tempat parkir kampus, luas yang bisa berubah jadi lapangan sepak bola andai tak bermasalah soal permukaan licin. Lampu jalan seperti menjadi lebih cepat berlalu, kemudian terus-menerus yang tadinya jauh kembali dilewati, saat mobil mulai keluar ke jalan raya. Suara rantai pengekang roda tidak lebih berpengaruh dari suara bising mesin tua empat tak, sekuat badan besinya. Lalu selain sambutan ngilu wiper kaca, ada lagi satu bunyi menyebalkan; percakapan ke benda teknologi komunikasi itu.

Hermione kurang lebih sudah setengah jam bicara dengan entah siapa orang di ujung sana, bagi dia—si pengemudi alias Harry—yang menolak mencuri dengar tapi itulah yang ingin dia dengar. Seperti Paparazzi spesialis menguping, cuma dengan alasan selain honor karena mendapat gosip mahsyur.

Kedua tangannya masih mengatur setir, tiap kaki tetap menjaga ketiga pedal agar imbang, mata terangnya yang jika kaulihat lebih dekat berusaha terus tertancap ke depan tak sering-sering mencuri pandang... dan ketidaksengajaan menapasi wanginya, berpikir pasti gadis itu merawat tubuhnya... jelas tidak cukup telinga Harry saja yang menguping.

Pada ponselnya, Hermione dengan gembira berkata, "Kau sudah di mana?" Lalu mendengarkan, tenang sebentar, Harry melirik dari sudut mata juga mendengarkan yang takkan terdengar. "Tidak," kata Hermione lagi. "kami baru saja berangkat," ia kembali diam mendengar. "Percaya padaku, aku berusaha, tapi aku tetap tidak bakal dapat penerbangan dalam waktu dekat. Ini salahku karena menunggu sampai menit terakhir."

Hermione berpaling melihat keluar jendela pada pemandangan alam sambil lalu saat mereka menjelajah terus ke utara melewati kota-kota lain walau ini jalan raya yang tak ramai karena cuaca. Meski begitu itu basah sepanjang jalan, padahal salju belum mulai mencair.

Hermione tertawa akan apa pun itu, membuat Harry bergerak di tempat duduknya mulai berani bertaruh kalau tiap orang yang mengemudi, tak bisa melakukan hal lain selain mengemudi, dan satu-satunya teman malah tertawa sendiri pada sebuah ponsel, benar-benar mengabaikan situasi, pengemudi itu pasti jengkel setengah mati. Karena Harry begitu.

"Apa? Kau bercanda, kan?" kata Hermione, lalu mendadak menurunkan suaranya ke nada terendah. "Jalurnya membuatku bosan sampai mau bunuh diri..."

Dengan pengalaman tinggal di lemari bawah tangga, hingga peka mendeteksi keamanan aksi mengendap di tengah malam untuk menggeledah isi kulkas, membuat Harry menjadi tambah kesal setelah mendengar kalimat barusan. Dia segera mendelik penumpangnya sebisa mungkin.

"Bukan, kami masih di jalan raya... Coba saja tebak, aku tidak tahu di mana tepatnya. Semua jalan raya terlihat sama persis kalau tanpa penanda," Ia mendongak pada si pengemudi, akhirnya sadar sedang dilempari tatapan super sebal. Tanpa dosa, ia bilang, "Ada masalah?"

"Apa kau akan tetap bicara pada benda itu sepanjang—?" lalu menggeleng, Harry tidak menyelesaikan apa isi pikirannya, cuma menelan kembali keluhan yang mau dia muntahkan. Memilih kembali fokus ke jalan raya di depan.

"Uh-oh, seseorang sepertinya marah. Lebih baik aku menelepon balik nanti," lapor Hermione dengan pelan ke ponselnya. Ia diam, kemudian suaranya dengan sengaja langsung dikeraskan, "Menurutmu siapa yang marah? Si Ride Share Guy... Oke, bye."

Ia mengakhiri panggilan, akan tetapi malah segera mengarahkan lensa kamera telepon ke arah Harry, memotret gambar digital laki-laki tersebut. Ia menarik ponselnya kembali, melihat hasil foto Harry yang sedang mengerling gusar. "Lihat dirimu, Mr. Feeler..." Hermione menengadah melihat pemandangan membersut yang sama dari si pengemudi. "Apa sih?"

"Itu tidak lucu," Harry akhirnya muncrat kata-kata. "Kalau aku mengemudi, kau harusnya mengobrol denganku."

Hermione membalik badan ke arah si pengemudi, hidupnya nampaknya dipenuhi dengan tak asal terima. Tepatnya dipenuhi perhitungan, rumus berargumen panas. "Jadi apa aku semacam hiburan siaran langsung?"

"Tapi itu cara bagaimana hal-hal dalam memberi tumpangan berjalan! Pembagian tugas! Kau menghiburku dengan bicara kepadaku, jadi aku tidak akan merasa seperti cuma supir travel yang membawamu rekreasi! Kita bagi semuanya 50-50, kau mengerti?"

"Oh, aku punya berita buatmu, aku tidak lebih terhibur waktu mengobrol denganmu dibandingkan saat aku tadi menelepon."

Harry jengkel, dia menggerutu di bawah napasnya. Dengan pesimis berkata, "Ini menjadi tidak bagus."

"Apa maksudmu?" Hermione bertanya.

"Lupakan."

Mereka melanjutkan berkendara dalam sunyi hingga bermenit-menit. Sudah sejak tadi Hermione melawan gengsi dan mencoba membuka obrolan, dalam rangka memperpanjang tangkai zaitun, dengan kata lain, perdamaian. Ia menutup mata sambil menghela napas.

"Bagaimana aku memanggilmu?" tanyanya.

Selain Ride Share Guy atau Mr. Feeler, jawabannya bahkan tak menimbang dari keduanya. "Harry."

Setidaknya dia bisa berubah sangat cepat dan menjawab dengan tenang, pikir si penumpang. "Aku Hermione. Jadi, kau dari Ryedale?"

"Yeah," jawab Harry singkat, cepat.

"Kau SMA di mana?"

Terputus sejenak, seakan dia lupa dan harus mengingat dia SMA di mana—butuh berpikir. "Erm, The Priory."

"The Priory?" balas Hermione mengonfirmasi, lalu meneruskan di luar kepala, "Kau mengarangnya."

"Memang kaukenal semua sekolah di Ryedale apa?" tanya Harry, setengah tak percaya, setengah bersiap-siap.

"Lumayan banyak, yeah."

"Termasuk sekolah gratis yang dibangun sukarela? Karena ke sana aku pergi! The Priory School untuk anak yang... tak ingin terkenal!" ucap Harry menggebu-gebu, naik seoktaf semacam menjawab hal yang memalukan.

Hermione memilih tak berargumen sambil berkata, "Okei, baiklah."

Berkendara berdua setelah sebelumnya panas-panasan, membuat suara angin dari celah di jendela Hermione, mesin Oldsmobile, kengiluan wiper diabaikan dan mengartikan keadaan ini hening. Harry sekarang yang memulai, menoleh sesaat, "Kita ada kelas yang sama, kau tahu."

"Hah?"

"Intro ke filsafat modern." katanya, melihat ke Hermione jelas berharap, seakan ia harusnya mengingat wajah Harry. Hermione melipat pundaknya menutupi leher, si pengemudi yang masih menunggu kini menaikkan alis.

"Apa? Ada sekitar dua ratus orang lebih di kelas itu, sudah seperti festival Glastonbury," sahut Hermione mengelak. "Semua terlihat identik. Apa pernah kau melihat tipe teknik mesin lebih banyak dari ini? Seolah masa depan benar-benar akan dipenuhi mesin..." Ia bungkam sebentar membayangkan dunia disesaki mesin. "Jadi, apa jurusanmu?"

"Teknik mesin."

Hermione langsung tertawa seperti menganggap Harry baru membuat lelucon. Tapi dia tidak terlihat bercanda, dia malah cukup kaget oleh respons Hermione yang baru saja menyinggung bahwa terlalu banyak yang mempelajari mesin.

Harry bertanya perlahan, "Kau bukan dari jurusan filsafat?"

Reda dari rasa geli karena jurusan yang dikritisinya ternyata diambil sang pengantar pulangnya, Hermione menjawab, "Tidak. Kenapa?"

"Entahlah, aku hanya berasumsi-"

"Kenapa juga kau berasumsi tentangku? Kita baru saja bertemu." Itu benar, pertanyaannya sangat beralasan.

Harry langsung mengambil langkah sedikit defensif. "Aku—entahlah. Hanya saja, kupikir dirimu... terlihat seperti murid filsafat."

"Aku mengambil pengobatan gigi." sanggah Hermione, sambil menikmati ekspresi tak percaya di wajah Harry, membiarkan dia menikung tajam sedetik sebelum menjelaskan, "Kedua orang tuaku dokter gigi. Bukannya aku takut tantangan pada hal-hal baru, di lain sisi aku lebih suka pada hal-hal pasti. Dan lagipula menurut sensus dokter gigi utama kebanyakan sudah berumur 50-an, ketuaan, hampir pensiun. Aku mengambil kelas filsafat hanya karena aku ingin—aku butuh—nilai kemanusian dan sosial."

"Bah, kuambil filsafat karena kudengar di sana mudah dapat nilai A," kata Harry, Hermione melihat dia dengan tatapan tidak percaya. "Sungguh. Dan yang utama," Dilanjutkan di bawah napas. "karena, seseorang..."

Harry yang merasakan diberi tatapan aneh dari Hermione, memilih untuk mengganti topik, "Hei, itu mengingatkanku sesuatu. Apa jawabanmu buat pertanyaan nilai ekstra di soal terakhir?"

Pelajaran lebih penting, ilmu yang Hermione utamakan. "Teori Nietzsche tentang pengulangan-abadi."

"Yang pada dasarnya sama dengan reinkarnasi, benar kan?" tanya Harry.

"Bukan, bukan persis dua hal yang sama. Reinkarnasi itu ketika kau kembali sebagai sesuatu yang berbeda, sedangkan pengulangan-abadi adalah saat kau mengalami kehidupan yang sama persis berkali-kali, terus terulang," Hermione berpaling ke luar mobil, menarik Nietzsche dari ingatan. "Sebuah jam pasir keberadaan yang kekal yang terus terbalik setiap pasir di tabung atas habis, dengan dirimu ada di dalamnya, sebagai salah satu debu."

Harry melirik ke arah Hermione dengan mencermati, kata-katanya terlalu dalam seperti pesan orang yang mau tewas. Namun hanya sesaat Hermione melanjutkan, "Nietzsche meninggal karena sipilis, kau tahu."

Harry berpaling dengan suram ke jalan di depan, menggigit balik jikapun ada yang mau dia komentari. Mengalami hal yang menyiksa berkali-kali memang sangat buruk, tak ada yang lebih buruk. Dia menggerutu, "Aku tahu."

Angin dingin yang sedikit pahit dari sela jendela menerpa rambut Hermione, ia menggigil dan menggosok kedua telapak tangannya. "SMA dan filsafat. Dengan dramatisnya menyita waktu di kehidupan kita, bukan begitu?"

Ia merenung sesaat. Membayangkan tahun-tahun terakhir seakan hidupnya memang dilahirkan untuk ilmu dan pengetahuan, baik mencari ataupun membagi. Ia tidak mengambil waktu lama sampai kembali mendarat ke jok Oldsmobile.

"Dan rasanya itu semua sudah bisa dibilang cukup untuk mengisi porsi hiburan dan bagian 50-ku untuk perjalanan hari ini."

Hermione menyandar ke depan menyalakan radio, mencari dan menemukan stasiun radio dengan musik dan lagu natal. Ia mengeraskannya, lalu mencoba bersantai dengan bersandar di joknya lalu menutup mata.


...

- Ryedale merupakan distrik dari Yorkshire Utara, utara agak ke timur laut Inggris.

- Glastonbury itu maskudnya sebuah festival berbagai seni di Somerset.

Jangan salahkan saya kalau data orang jurusan mesin ternyata sedikit, karena menurut saya masa depan memang akan dipenuhi mesin, teknologi. Itu kalau 2012 tahun yang santai. Terima kasih sudah mampir membaca.