Me still owned nothing. JKR does. Enjoy... ^^
5:15 p.m.
Oldsmobile meroda memapasi beberapa kendaraan lain yang bergerak lebih lambat dibanding mobil tua itu. Harry dan Hermione diresapi oleh permainya isi mobil, menikmati kegiatan masing-masing. Atau setidaknya lampu interior yang telah dinyalakan menerangi si gadis kalau ia begitu.
Hermione baru saja melepaskan sepatu lembapnya, kakinya yang telanjang kini ditopang di atas dasbor. Selagi membersihkan permukaan kuku jari kakinya, ia sempat bertanya pada si pemilik kendaraan, "Kau tak keberatan, kan?"
Harry melirik jempol kaki di atas dasbor, lalu menggeleng. "Tidak juga."
Secara garis besar, Hermione mengubah kursi depannya menjadi semacam salon kuku. Bola kapas, sepapan batu gosok, botol-botol bening dan pernis warna-warni bertaburan di sembarang titik. Ia mengambil salah satu botol, membukanya, kemudian mulai menguteks kuku kakinya.
Sambil tetap serius penuh konsentrasi pada pewarnaan kuku, Hermione menyampaikan, "Pom bensin selanjutnya tolong bantu aku—menepilah. Aku mau pipis."
"Oke, akan kujaga mataku tetap terkelupas." kata Harry.
Hermione mendongak dari pengecatan kakinya ketika mendengar kalimat barusan, memberi dia tatapan meledek. Harry merespons, "Apa?"
Sambil kembali mengecat, Hermione menyahut, "Kalimatmu tadi, 'matamu tetap terkelupas'. Itu agak sadis, jika kau memikirkannya."
"Hah?" Harry diam, mengingat lagi pemilihan kata dalam kalimatnya. "Sebenarnya, yeah, cukup sadis." Tepat saat itu tanpa sengaja matanya pindah ke jari-jari lentik Hermione yang dengan segar habis diwarnai di atas dasbor. Dia mengamatinya sedikit terlalu lama.
Hermione memergoki mata Harry yang sedang tertegun pada kakinya, membuat si pemuda bersemu merah oleh malu dan langsung berkata, "Bicara mengenai mengelupas bola mata, apa kau tahu itu adalah cara mereka melakukan bedah operasi lasik?"
Hermione jadi diam, menyerap itu total, setelahnya barulah menggumam pelan, "Mereka menggunakan laser."
"Well, yeah, mereka menggunakan laser," ucap Harry lagi. "tapi jelas itu melibatkan pengelupasan juga, aku melihatnya di Discovery Health. Jika orang-orang tahu tentang bagian pengelupasan atau pengulitan matanya, mereka mungkin akan berpikir dua kali sebelum tidur di bawah pisau bedahnya. Lihat, aku di sini pengalaman."
Hermione kini diam lebih lama, nyatanya ia sedang mengulang keputusan. Suaranya semakin lemah sewaktu mengulangi, "Mereka pakai laser."
Harry—akhirnya—dapat merasakan nada tidak ingin dibantah dalam ucapan gadis itu, dia mengalah, "Benar, cuma pakai laser."
Kebungkaman pun segera menggema, hingga Hermione memberi tahu masalahnya, "Liburan nanti aku akan melakukan bedah operasi lasik."
Harry mengerjap.
"Oh," kata dia, menyadari dirinya ternyata baru berhasil menakuti Hermione tentang pengulitan mata. Kini canggung mengetuk-ngetuk.
"Tak apa-apa," kata Hermione, menarik napas dalam. Ia memang tahu banyak risiko yang ditempuh, namun ia juga masih minim info, belum sempat menelaah operasi lasik. "Aku tidak cemas dengan ucapanmu."
"Kenapa?" tanya Harry malahan.
"Kenapa aku tak cemas?"
"Yea," Harry bilang.
"Karena tidak sepertimu, aku risih memakai kacamata," sahut Hermione cepat-cepat, lebih seperti tak ingin didengar.
"Tapi kau terlihat bagus memakainya." sahut Harry sama cepatnya, malah di luar kepala.
Hermione mengernyit padanya, menyuarakan dengan sangat perlahan-lahan, "Bagaimana, mungkin, kau bisa tahu? Aku tidak memakai kacamata kecuali di dalam kamar asramaku."
Harry yang merasa mendapat tatapan disudutkan mulai melirik aneh ke kaca spion. "Er, apa kau yakin? Kau tak pernah—ke kelas atau ke mana pun? Sebab aku bersumpah aku-"
"Tidak pernah sekalipun." Hermione menggeleng membantah.
"Huh, aneh. Aku bertanya-tanya kenapa kupikir kau memakai—HEI, lihat! Itu pom bensinmu."
Hermione menoleh sekilas pada arah yang Harry tunjuk, pada stasiun pengisian bahan bakar yang berdiri di depan bukit sana, seakan-akan penyelamat bagi si pengemudi. Tapi ia langsung berbalik lagi pada Harry yang dengan jelasnya mengalihkan topik, lagi, Hermione semakin curiga.
Seperti oasis yang tumbuh di padang salju, mulai mengumpulkan gelap sore yang bagaikan malam. Tempat ini masih jauh dari tujuan, melihat penanda di depan stasiun di sini baru Nottingham, paling tidak setengah jalan. Di tempat parkir toko ada sebuah truk penarik, memberi kesan banyak yang terperosok ke salju di luar sana. Dan beberapa sasis bodi bekas kecelakaan yang karatan, dikelilingi rumput liar yang masih bervisual.
Oldsmobile keluar dari jalan raya dan menepi di sebelah pompa bahan bakar. Harry keluar dan mulai mengisikan bensin. Saat itu dia menyadari Hermione masih duduk di dalam mobil. Harry mengetuk jendelanya, pintu pun dibuka. Dia bilang, "Kukira kau ingin buang air."
"Aku tidak berharap kita menemukan kamar mandi secepat ini," kata Hermione, memberi lirikan ke kuku kakinya. "Kukuku belum kering."
"Oh." Harry berdiri tegak lagi, mengamati melewati atap Oldsmobile, seakan mengukur jarak lapangan parkir yang basah dari mobilnya ke toko 24-jam dengan papan nama Pyre-Oh Quick Mart di ujung lapangan. Dia menunduk lagi pada Hermione. "Well, kalau mau aku bisa menggendongmu masuk."
"Tak usah, ini akan kering sebentar lagi," tolak Hermione, dalam gumaman risih.
Tapi Harry mengulurkan tangan, bergerak dalam gestur memaksa. "Ayo, aku jago menggendong."
"Kau takkan menggendongku masuk," kata Hermione sengit.
Harry tetap menunduk, menarik pelan kedua kaki Hermione melingkari pinggangnya sendiri, dan berjongkok penuh di antara kedua kaki. "Pegangan."
"Apa yang kaulakukan? Hei!" Dengan mendadak Harry bangkit. Secara insting Hermione pun mengalungkan kedua lengannya pada leher Harry. Sempat tidak tenang akan momen yang super aneh itu, Hermione memutuskan pasrah dan berpikir ini yang terbaik buat menghibur laki-laki itu. "Um, hei, tunggu, aku butuh dompetku."
Harry berjongkok lagi supaya Hermione bisa meraih dan mendapatkan dompetnya. Dia menyuruh saat gadis itu berhasil, "Tutup pintunya."
Pintu toko berbunyi gemerincing saat Harry masuk, menggendong Hermione. Wajah Harry memerah akibat menggotong seseorang, Hermione memerah karena malu.
"Thanks." ucapnya.
"Pasti." balas Harry. Dia hanya berdiri di depan pintu kecuali Hermione menepuk pundaknya.
"Kau bisa turunkan aku sekarang."
"Okai." Dia merendahkan badan sehingga Hermione bisa menyelip turun. Ia memberikan Harry satu tatapan sambil memindah sepasang sepatu yang ia bawa dari mobil ke satu tangan, dan berjalan menjauh mencari kamar mandi wanita. Sementara itu, Harry maju ke depan meja kasir. Dia mengangguk menyapa pada pegawai muda yang eksentrik di belakang konter, kulit terlapisi tato gambar seperti jimat-jimatan.
Toiletnya ada enam buah, lantai keramik memudar dari warna hijau, tembok dikover grafiti seperti di mayoritas tempat umum. Hermione sudah selesai buang air, memakai kembali celananya dan bangun dari kloset sembari menggunakan kaki untuk menarik tuas flush. Ia keluar dari bilik, memakai siku buat memutar keran di wastafel.
Setelah mencuci tangan, ia membawanya ke bawah pengering otomatis. Tapi meski disentuh—bahkan sampai dipukul—pengering itu tidak kunjung nyala, itu rusak. Ia menggeleng dan mengelap kering kedua tangannya ke jeans. Sudah mau keluar saat itu terjadi...
Ia melihat pantulan dirinya di cermin kotor, bukan karena ada yang kurang jelas terbaca atau apa, tapi ia mendapatkan impuls, desakan jiwa, untuk mengambil kacamata dari dompetnya. Hermione memakainya, sambil mengecek pantulan dirinya pada cermin.
Apa si Ride Share Guy benar? Apa ia keren pakai kacamata? Apa seksi?
Ia menahan senyum akan pikiran melanturnya, tapi ia tak kunjung bosan. Mencoba sudut-sudut baru, penasaran karena tak pernah mengamati diri memakai kacamata di depan cermin. Namun menggunakan itu ia jadi bisa menyadari sesuatu tergores dalam cermin yang kotor. Ia mencondongkan wajah, memastikan apa yang bisa ia baca:
DMA 12-24-79 RIP
Alisnya bertaut. RIP? Meninggal dunia? Tapi siapa pun yang membuatnya, itu tidak lucu, sama sekali tidak lucu. Hermione meletakkan kacamata kembali ke dompetnya dan dengan kilat segera bergerak keluar. Ketika ia menggenggam kenop pintu dan mengungkitnya, itu ternyata, TERKUNCI.
Hermione mengernyit lagi, ia mengguncang naik turun kenop itu berkali-kali, sia-sia. Tampang panik melintas di wajah pucat Hermione, dan ia mulai menderak kenop pintu lebih keras dan lebih bertenaga, percuma. Apakah seseorang mengurungnya?
Sampai satu celaka datang untuk kenop itu lepas dan jatuh ke lantai keramik, Hermione mendecak, lalu langsung menggedor pintu dengan tumit tangannya, sambil teriak, "Hei! HEI, AKU TERKUNCI DI SINI!"
Tidak ada sahutan, keheningan total, seakan orang-orang di toko—termasuk Harry—menghilang.
Hermione berputar, mengamati kamar mandi yang kotor dan menyadari sesuatu. Di sana di atas bak wastafel, dekat dengan langit-langit, ada sebuah lubang angin yang dijeruji. Mungkin jika teriak dari sana akan bisa terdengar.
Dengan hati-hati ia menaikkan kaki ke atas wastafel, mengujinya untuk melihat apa itu bisa menahan beban tubuhnya. Setelah yakin itu sanggup, ia pun memanjat, berusaha meluruskan kakinya yang sedikit gemetar hingga wajahnya berhadapan dengan ventilasi yang berdebu tebal. Menarik napas di tempat yang tak menimbulkan bersin, selantang-lantangnya ia berteriak,
"HEI! ADA YANG BISA MENDENGARKU?"
Suaranya bergaung ganjil. Ketika gemanya sunyi, ia mendengar sesuatu dari lubang angin itu yang membuat ia—paling tidak—marah, bukan takut: suara tawa Harry dan si pegawai kasir, sangat teredam, tapi itu suara tawa. Seolah-olah mereka menganggap kepanikan Hermione di dalam sini candaan.
Sekarang gadis itu murka, berpikiran mereka yang menguncinya di dalam cuma semacam permainan, lelucon super tak lucu, mengingat ia satu-satunya perempuan di dalam toko... maka ia meloncat turun. Mengembalikan kenop yang lepas ke letaknya sambil mendobrak pintu dengan urgensi baru dan rasa kesal.
Dan akhirnya—di luar dugaan—pada percobaan pertama Hermione langsung berhasil membuka pintu tersebut.
Saat keluar bebas Hermione melihat pegawai kasir eksentrik dan Harry sedang bercakap pelan, seolah mereka sudah saling kenal. Lalu ia memata-matai dengan ragu pria-pria sangar yang padahal duduk tidak jauh dari toilet, mencari sedikit saja ekspresi kalau ada dari mereka yang habis mengerjainya. Setidaknya itu sanggup mengubah rasa takut yang mulai menjalari menjadi marah, karena ia cuma diberi tatapan datar dan dingin dari mereka yang duduk di meja mengelilingi perapian utama, melirik dan mengerling Hermione yang baru keluar kamar mandi.
Jadi apa cuma tidak ada yang mau menolongnya? Dan pintu itu cuma macet seperti salah satu pintu Oldsmobile Harry? Ia ikut mencurigai ini.
Hermione berjalan menjauh dari toilet saat Harry membayar bensin dan beberapa botol minuman. Tanpa peringatan langsung memberondongnya, "Apa kau tak dengar aku teriak di dalam sana?"
Harry kaget, tapi cengar-cengir penuh misteri. Mengatakan, "Kapan?"
"Aku mendengar suaramu dari sana. Kaupikir itu lucu? Membiarkanku terkunci?" tuntut Hermione panas.
"Terkunci di mana?" Harry pun sekarang kehilangan cengirannya.
Alis Hermione bertaut melihat itu, semakin ambigu akan keadaan ini. "Apa kau mau bilang kau tak dengar aku memukul-mukul pintu?"
Dan entah dari mana, tiba-tiba Hermione teringat goresan RIP, tanda orang meninggal di kuburan bersalib, di dalam cermin kamar mandi.
"Aku tak tahu apa yang kau-"
"Lupakan," potong Hermione, yang merasa tempat ini menuntun perasaannya ngeri. "Kita berangkat lagi saja."
Harry patuh, dia mengumpulkan botol minuman dan berjalan lebih dulu menuju pintu, seketika itu juga pegawai kasir bertato memanggilnya, "Ingat, jalan raya yang terbaik-"
"Jangan khawatir, man," Harry menyela dengan gesit, tanpa ekspresi. "Aku bisa mengatasinya."
Hermione mengernyit sambil mengikuti Harry yang melanjutkan langkah keluar dari toko, menuntut, "Apa kita tersesat atau semacamnya?"
Dengan cepat Harry menjawab, tak melakukan kontak mata, "Tidak. Aku sudah lewat sini jutaan kali."
Harry menahan pintunya tetap terbuka untuk Hermione lewat setelahnya, sejenak gadis itu ragu mana yang harus ia percayai antara di dalam toko atau bersama pemuda aneh itu, tapi kemudian Hermione mengikutinya keluar dari Pyre-Oh.
...
RIP singkatan dari requeiscat in pace yang artinya meninggal dunia. Atau inggerisnya rest in peace, sama aja.
Ada tiga pilihan untuk memperbaiki kekurangan mata. Satu dengan kacamata, lensa kontak, dan satu lagi adalah operasi lasik. Penjelasannya banyak di internet, saya cuma dengar sambil lalu.
Dan horornya sudah disampaikan, stay tuned ok? Terima kasih sudah mampir membaca. See yu! ^^b
