JKR miliki Harry dan Hermione. Maka saya angkat tangan. Enjoy... ^^b
Keluar dari dalam toko Pyre-Oh, Hermione berjalan memeluk tubuhnya sendiri berkat udara dingin, sambil mencuri pandang ke sisi wajah Harry. Ia dibuat bingung, ia tidak bisa melihat tanda niat jahat atau sejenisnya pada laki-laki ini, tapi juga sulit melihat tanda baiknya. Bimbang apakah ia sebaiknya bercerita momen seram dirinya di dalam kamar mandi atau tidak.
Tapi itu nampaknya tidak terlalu—mungkin belum—mencegah dirinya ingat persoalan lain. Saat mereka menuju ke mobil Hermione mengambil dua lembar dua puluh pounds dari sakunya dan menyodorkan itu pada Harry.
Dia melihat uang itu hampir mencermati, tampangnya seperti tak pernah melihat mata uang pound sterling sebelumnya. Sambil menatap Hermione, dia bertanya, "Buat apa?"
"Bagianku untuk bahan bakar," kata Hermione, mendorong uang di tangannya.
"Simpan saja." sahut Harry, menghindar dengan membuka pintu mobil dan meletakkan belanjaan di dekat perseneling.
"Apa maksudmu?" tanya Hermione tak paham. "Bukannya ini adalah cara bagaimana hal-hal dalam memberi tumpangan berjalan? Kita bagi semuanya 50-50 seperti katamu?"
Harry berkata singkat sambil masuk ke mobil, melihat Hermione di mata, "Aku tak mengambil uang dari teman."
'Tapi sejak kapan kau dan aku berteman?' pikir Hermione. Ia mengangkat bahu, mungkin ini tanda baik laki-laki itu, dan ia pun memutari Oldsmobile ke sisi penumpang. Ia mencoba membuka pintunya itu, hanya untuk diingatkan kalau pintu itu macet. Ia memutar mata, menunggu Harry membukakan untuknya dari dalam.
Mereka kembali berkendara, sudah bermil-mil di jalan raya sejak keluar pom bensin. Hermione mengamati jalan di depannya, pikiran tenang oleh bunyi-bunyi mengilukan dari wiper jendela depan yang menggusah butiran salju dari sisi ke sisi secara teratur.
Sebuah jalan keluar jalur yang tak menunjukkan apa pun muncul di arah depan, berada pada sisi kanan jalan dan akan cepat mereka tinggalkan. Yang takkan menjadi alasan untuk waspada atau bahkan ketertarikan, kecuali—Harry, tanpa aba-aba maupun peringatan apa-apa menyentak tajam setirnya, mengambil jalur keluar jalan raya tersebut.
Oldsmobile pun menikung keluar dari batas kota ke jalan lebih kecil yang ditandai sangat sederhana, digambar di papan, mengelupas nyaris tak terbaca: Excite Alley 066. Keempat roda mobil yang dikekang rantai, yang menjaga mereka di sepanjang jalan licin sebelumnya, kini setengah tenggelam dalam salju.
Berdempet sekitar lima meter dengan papan Exicte Alley, peringatan berbentuk segi delapan yang lebih baru dan modern, ikut terbaca dengan cetakan; Rough Road—jalan yang tangguh. Seakan untuk membuktikan itu Hermione terhuyung membentur Harry akibat guncangannya, tidak pakai sabuk pengaman membuat Hermione berusaha berpegangan pada dasbor.
"Apa yang kaulakukan!" seru Hermione marah, karena ia tidak diperingatan. Lagipula ini berbelok ke lembah yang asing.
"Jalan lain." kata Harry, santai.
"NO WAY!" bentak Hermione. "Kembali ke jalan raya!"
"Tenang," ucap Harry lagi. "Aku sudah memeriksanya di peta. Kelihatannya menarik."
"Aku serius! Kembali ke jalan raya SEKARANG!" jerit Hermione, sudah cukup muak akan hal-hal aneh mencurigakannya.
Tapi Harry terlihat kesal karena keputusannya diragukan. "Bisakah kau santai? Ini jalan pintas. Kita akan kembali ke jalan raya sebelum kau menyadarinya. Percayakan padaku."
"Aku tak percaya padamu, oke! Berikan petanya!"
"Tak punya! Ada di pom bensin! Kau lihat, Excite Alley 066 tadi tandanya, ini akan menyingkat jalan bermenit-menit! Aku cuma tak mau kita kena badai!"
Walaupun sama sekali tidak suka perihal yang meragukan, sulit berargumen jika jalan pintasnya sudah ditandai. Namun begitu Hermione menengok ke belakang, adukan rasa antara ragu-ragu bercampur takut. Jendela belakang mempertontonkan jalan raya—jalan penuh kepastian, menyusut menjadi kejauhan.
Oldsmobile melaju mereka merupakan satu-satunya mobil di jalan pintas itu. Dan tidak mungkin mereka sadari, bahwa tidak jauh dari titik yang baru saja mereka lewati, terdapat sebuah rumput mati di bahu jalan. Tepat di balik pohon ek besar, di situ dengan suramnya merupakan sebuah tempat keramat. Berupa dua buah salib buatan, setengah terkubur salju. Dengan tunggul bekas lilin, barang sisa yang membusuk, dan balon gas yang kempis. Terukir pada dua buah salib itu adalah:
David
Dec-24-97
Rachel
Dec-24-97
Hermione mengawasi Harry dengan curiga dari sudut matanya. Mukanya mengerikan terpapar cahaya hijau lampu meteran, di bawah keremangan lampu interior, matanya tak terlihat karena sinar diserap oleh kacamata bulatnya, bagi Hermione yang mulai paranoid—dia nampak seperti psikopat.
Harry memutar teliti tuning radio, mencari sesuatu selain suara statis. Lalu berkomentar pelan, "Tidak banyak stasiun radio di sini."
"Ini Nottingham, bagaimanapun, ada stasiun BBC di kota. Masalahnya adalah kita ada di lembah. Gelombang FM bergerak dalam garis lurus. Mereka tak bisa menembus halangan besar semacam bukit. Coba AM." saran Hermione sekenanya.
Harry mengganti ke sakelar AM. Menemukan stasiun gunung bertenaga lemah yang menyiarkan Jingle Bell Rock dari Bobby Helm. Dia terkesan, berkata pada Hermione, "Dan di mana kau saat aku gagal ujian awal fisika?"
Lalu dia kembali menyetir dalam diam. Masih awas atas kepanikan Hermione belum lama ini.
Akhirnya gadis itu juga yang memutuskan bisa tercipta obrolan atau tidak di antara keduanya, terlepas dari semua kemendadakan keputusan Harry. Hermione berkata, "Jadi, apa keluargamu melakukan tradisi natal?"
"Er, tidak," jawab Harry. "Tapi waktu SMP satu temanku cucu orang Belanda, dia selalu membagikan licorice pada kami sambil cerita tradisi keluarganya. Bilang kalau dia tumbuh dalam asam garam dongeng Sinterklaas."
"Oh, apa bedanya dengan Santa Claus biasa?" Hermione bertanya.
Harry mengangkat bahu. "Bukannya tinggal di kutub utara, dia malah tinggal di Spanyol. Dan bukannya peri-peri, dia punya anak buah yang dijuluki Black Pete. Pada dasarnya dia sama saja seperti Santa Claus kita, hanya saja—lebih seram!"
Di kata terakhir Harry menggunakan nada mengagetkan dan gerakan menerkam Hermione, lalu terkekeh sendiri. Membuat Hermione bilang dengan sarkastik, "It's charming."
"Seperti apa natalmu, kalau begitu?" tanya Harry lebih cerah—sedikit.
Hermione langsung menghela napas. Mungkin terus terang ini yang agak... mengubah dirinya. "Orang tuaku sebenarnya pisah di tahun awal SMA-ku, jadi aku mengisi liburan bepergian di antara mereka. Jadi natal tahun belakangan ini adalah dua pohon, dua kalkun makan malam, dua set hadiah yang dikembalikan ke toko kredit... Yah, normalnya aku semakin terbiasa, tapi tahun ini mom memilih untuk menyewa pondok di pantai. Yang mana jadi—apa, kira-kira, dua jam perjalanan."
"Entahlah. Pantai masih cukup menyenangkan di musim dingin. Suasananya romantis." kata Harry.
Hermione menoleh keluar jendela pada suasana malam yang mengambil alih pelataran. Pikiran melantur ke keromantisan pantai, jikapun romantis. Apa sungguhan romantis? Ia bertanya, "Jadi apa keluargamu pergi ke pantai Bridlington atau pantai Whitby, atau ke pantai Scarborough?"
"Sebenarnya, aku tak pernah berlibur dengan keluarga."
Pantas tidak punya tradisi. Hermione pun penasaran. "Kenapa?"
Harry mengangkat bahu lagi. "Orang tua meninggal kecelakaan." Dia menggaruk-garuk tengkuk.
Leher Hermione harusnya patah menoleh cepat seperti itu. Dan punyaku cuma bercerai, setidaknya mereka masih hidup, Hermione mengutuk dalam hati. Ia bahkan sudah menyinggung orang tua laki-laki ini di tempat parkir tadi sore. "Aku benar-benar ikut menyesal."
"Yeah, tak apa. Aku cuma satu tahun waktu berhasil selamat, jadi tidak begitu ingat. Percaya atau tidak, baru kulihat wajah mereka saat umur delapan belas, lewat album." jelas Harry.
"Benarkah?" si pendengar terkejut.
"Uh-huh, seorang pengacara negeri datang dan menawarkan warisan. Aku bisa kuliah dan punya mobil Olds ini, dan hidup mandiri di kota seeksentrik London, ya dari situ. Beruntung karena aku sudah delapan belas tahun jadi pamanku tak bisa ikut campur lagi."
"Huh, pamanmu parah, ya?" tanya Hermione.
Harry mendengus tertawa dalam ironi, mengangguk. "Semua keluarganya sama parah. Istrinya bahkan tak mau memberi foto saudarinya—yang adalah Ibuku. Keluarga mereka... anggap saja sudah kusebut liburan walau cuma jauh saja dari mereka."
Dia terlihat biasa saja saat menceritakan kisahnya. Mungkin sudah kebal, pikir Hermione.
Dan tiba-tiba Harry melanjutkan, "Tapi, yeah, aku tetap pernah liburan, dengan para kawan."
"Ke mana?" tanya Hermione melihat ke luar jendela lagi. Diam, masih diam, Harry tak kunjung menjawab. Hermione tak bisa menahan tebakannya, "Bukan ke Scarborough, kan?"
"Er, yeah, Scarborough." jawab Harry.
Hermione mengerang. "Enak. Kami selalu pergi ke Whitby. Itu teratur sepanjang tahun... Ya, Tuhan, aku tak pernah lebih bosan lagi dalam hidupku. Aku sering iri dengan teman-temanku yang menghabiskan musim panas di North Bay."
"Aku juga."
Hermione langsung berpaling super cepat lagi dari jendela kepada Harry, kesan yang tercipta seolah Harry mengaku dia yang mengunci Hermione di toko dekat pom bensin, sambil mendelik marah. Keparanoidan jiwanya seakan terwujud.
"North Bay ada di pantai Scarborough." ucapnya lambat-lambat.
Harry dengan jelas mengelak, "Hm? Oh yeah, aku tahu. Yang kumaksud adalah, er-"
"Nonono, katamu kau pergi ke pantai Scarborough tapi kau tak tahu letak North Bay. Semua orang Ryedale harusnya tahu itu. Kau cuma mengaku berasal dari Ryedale, apa aku benar?" tuduh Hermione, ketika merasakan ada yang salah di sini.
Kesimpulan tuduhan cepat Hermione membuat Harry kalang kabut. "Well, begini, ini rumit dijelas-"
Deg. Kalimatnya mengandung pengakuan kalau dia berbohong. Dia bukan dari Ryedale. Dan mungkin nama 'Harry' cuma dikarangnya. Itu nama pasaran yang mudah diingat tapi mudah dilupakan juga. Hermione menyela, mengingat semua kejadian aneh semenjak mengenal 'Harry' ini, gadis itu pun panik, "Siapa kau sebetulnya, hah?"
"Apa—aku betul-betul aku seperti yang kuceritakan, cuma-"
"Apa yang kaumau dariku?" potong Hermione, suara bergetar.
"Tidak ada yang kumau-"
"APA MAUMU?" jerit Hermione.
"D-dengar, tenang dulu. Aku bisa jelaskan-" dia berhenti.
Kali ini dia bukan diinterupsi Hermione. Melainkan oleh terangnya lampu kepala mobil yang tiba-tiba muncul di depan, sinarnya membutakan. Harry harus mengerjap berkali-kali untuk terbiasa.
"What the hell?" katanya heran.
Hermione berpaling menghadap ke depan, sesaat melupakan percekcokan mereka saat lampu kepala yang akan datang menyeberangi batas dan masuk ke jalur Harry dan Hermione.
"Kaupikir dia tak bisa melihat kita?"
"Bagaimana tak bisa!" pekik Hermione.
Kedua mobil meluncur dari arah yang berhadapan, terjadinya tabrakan hampir pasti. Waktu tetap berjalan memindah pertengkaran mereka ke bagasi, berubah fokus pada mereka yang ditantang playing chicken atau adu nyali oleh mobil di depan.
"Cepat menepi dan biarkan berengsek itu lewat!" seru Hermione.
"Menepi ke mana? Tak ada tepi!" balas Harry.
Hermione mengamati dan mengakui kalau dia benar, di sisi penumpang cuma berbatasan sekaki dari barisan pohon-pohon di sisi bukit, dan di sisi satunya adalah solusi jika mereka berencana terjun ke jurang. Mereka berdua terlalu teralih oleh silaunya lampu kepala di depan untuk menyadari lagu natal yang entah dari mana baru saja langsung tersiar di radio: Rockin' Around the Christmas Tree hits dari Brenda Lee.
"Rockin around, the christmas tree,
at the christmas party hop,"
Jarak di antara kedua mobil yang melaju semakin tipis dengan cepat. Wajah kedua anak muda memucat di sekitar pelototan mereka kepada sorotan lampu di depan.
"Mistletoe hung where you can see
Every couple tries to STOP
Rockin around, the christmas tree,
have a happy holiday...
Later we'll have some pumpkin pie,
and do some car-rol-ing..."
Mobil satunya—di luar dugaan—menancap gasnya ke arah Oldsmobile. Permainan adu nyali tiba ke point of no return.
"You will get a sentimental fee-ling
when you hear...
Voice singing, 'Let's be jolly,
DECK the halls with boughs of holly...'"
Harry menginjak kuat-kuat pedal rem, berniat menghentikan laju Oldsmobile, tapi apa pun yang ada sudah berubah menjadi rasa takut ketika mereka sadar mobil satunya tidak melambat.
Hermione berteriak, "Dia tidak berhenti!"
"Pegangan!" Harry membanting setir dengan keras, membuat Oldsmobile menge-drift di luar kendali karena permukaan bersalju. Mobil yang lain lewat lalu menyelip ke sebuah jembatan kecil dan langsung keluar dari penglihatan.
Tapi Oldsmobie masih berputar ke semua arah yang berlawanan. Lalu tergelincir dari jalur dan menabrak gunungan salju dengan bunyi benturan yang mengerikan, seperti besi yang patah.
"Rockin around, the christmas tree,
Have a happy hol-i-day...
Everyone's dancing merrily in the new.
Old. Fash-ioned. Waaay!"
Setidaknya Brenda Lee masih bisa bernyanyi.
...
Licorice maksudnya permen, khas Belanda, saya juga ga gitu ngerti sebagai warga yang di sejarah dijajah.
Walau rencananya senyata mungkin, Excite Alley 066 belum tentu ada di Nottingham, yang jelas karena karangan. Lembahnya juga dikarang. Mendatang, banyak yang lebih mengarang lagi.
Terima kasih sudah mampir. Stay tuned! ^^b
