Harry dan Hermione punya JKR. Saya bukan yang punya. Enjoy... ^^b


6:23 p.m.

Oldsmobile berakhir dalam posisi yang menghadap ke arah berlawanan dari tujuannya. Sisi luar pengemudi terjepit dengan gunungan salju sehingga pintu supir tak bisa dibuka. Lelehan salju semakin banyak di tutup lampu kepala. Gelap mengisi interior mobil. Beruntung karena salju masih tidak sekeras tiang telepon di depan sana.

Hermione tadi terlempar ke bawah dasbor, tak sadarkan diri, dan sulit dalam penerangan ini untuk mengatakan ia masih bernapas atau tidak.

Lalu akhirnya ia bergerak...

Pikirannya bingung, seperti bangun dari kuasa alkohol. Ia kembali ke joknya untuk duduk dengan layak, mencerna di mana dirinya berada. Cuma butuh sesaat baginya mengingat seharusnya ada Harry di sampingnya.

Ia menoleh ke kursi kemudi; Harry di sana, tidak bergerak, pingsan dan kacamatanya miring di hidung. Walau terima kasih pada sabuk pengaman dia masih bersandar tegak di belakang kemudi setir. Kepalanya tertaruh luwes terhadap jendela di sampingnya, yang kini tak terlihat apa pun kecuali dinding salju.

Lalu jalur darah menetes jatuh ke kaca itu. Apa dia mati?

Tangan Hermione terulur mau mengeceknya, tapi ia mengurungkan niat itu, tak mau mengambil risiko ketika ia ingat laki-laki di sebelahnya pembohong dan mungkin berniat jahat padanya.

Berusaha tanpa suara ia menyelipkan sepatunya ke kaki, dan menudungkan mantel ke atas kepala. Meraba-raba mencari ponselnya di antara barang acak-acakan di bawah.

Mendadak Harry bergerak, meringis pelan. Hermione membeku posisi tangan masih di bawah. Waktu berdetik keras dari jam di dasbor.

Dan ketika Harry tak jadi bangun dan benar-benar siuman, Hermione melanjutkan pencarian ponsel, sampai akhirnya ketemu. Lalu ia mendorong, membuka pintu penumpang yang berkeriut saat diayun. Dan melempar dirinya ke cengkeraman malam yang dingin sekali.

Ia berjalan tergesa menjauh dari mobil. Napasnya berawan dalam udara beku bagai cerobong dengan kobaran api perapian yang baru disiram. Meninju tiga nomor di ponselnya, menaruhnya di dekat telinga, menunggu. Lalu ia melihat ke pojok layar, tak ada sinyal.

Ia mulai histeris. Jarinya memukul tombol redial. "Please, please, please..."

"Apa yang kaulakukan?"

Hermione spontan melonjak, suaranya dari belakang, mengejutkannya.

Ia berputar badan cepat-cepat, Harry berdiri tepat di belakangnya, wajah orang itu berada dalam bayangan hitam, gelap. Berhenti menganga, Hermione menjawabnya, "M-menghubungi 999. Atau mencobanya."

"Beruntung?" tanya Harry.

Hermione menggeleng-geleng. "Tidak. Aku tak bisa dapat sinyal di sini."

Harry menerima informasi tersebut dengan ketenangan yang tidak biasa.

"Bagaimana dengan punyamu?" Hermione bertanya, menatapnya dengan kecurigaan di hati, saat menyerah sejenak dengan ponselnya.

"Aku tak punya ponsel."

"Bagaimana bisa kau hidup tapi tak punya ponsel?"

Mengabaikan pertanyaan Hermione, Harry bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"

"Aku—ya, aku baik. Tak ada yang patah," Dan Hermione terus curiga. "Tunggu dulu, nomor siapa yang kautulis di papan ride share?"

"Temanku, tentu saja. Kau yakin kau baik?" tanya Harry tenang. Itu sesuatu.

"Aku baik, sudah kubilang. Bagaimana denganmu?" Hermione bertanya, perhatian untuk rasa sopan.

"Entahlah. Kurasa kepalaku terbentur." kata Harry, sambil meletakkan tangan ke sisi kiri tengkorak kepala dan menekan itu. Seperti seseorang yang mengetes kematangan melon.

Hermione mengamati Harry; bicaranya yang sedikit kaku mirip mengarang, yang memegang lukanya belakangan seakan dia baru ingat dia juga harus akting kesakitan selain membual.

Harry berbalik dan mengambil langkah tak bertujuan, menjauh. Sambil mengamati sekeliling dia bertanya, "Apa yang terjadi dengan, erh, laki-laki tadi?"

"Siapa?" Hermione bertanya balik.

Harry memandangnya seraya menjawab, "Berengsek yang mengeluarkan kita dari jalur."

Hermione melupakan sama sekali semua tentang kendaraan satunya sampai saat ini. Ia berputar untuk mengamati, ketakpahaman merasukinya. Nihil ada tanda kendaraan lain terdampar di mana pun, mereka sendirian.

"Aku tidak tahu. Aku tebak mungkin dia memilih untuk tabrak lari."

"Kalau begitu di mana jejak bannya?" tanya Harry berputar dan melihat Hermione lagi.

Ia mengamati, melihat permukaan salju putih segar yang tak rusak. Memberi hipotesis, "Dalam kasus yang mungkin tak kausadari, salju turun cukup deras."

Dan Harry menunjuk satu titik. "Yeah, tapi kau masih bisa lihat jejak kita."

Misteri hilangnya jejak ban sepertinya menyingkirkan bekas kecelakaan yang kepalanya dapatkan, membawa dia kembali pada fokus yang lebih tajam. Seperti pembunuh psikopat yang kebal cuma oleh pukulan sekop di punggung. Pikir gadis yang menonton saat Harry berjalan dari depan lampu depan Olds ke tengah jalan, yang harusnya jejak mobil lain berada. Tapi ini tidak, Harry benar.

"What the hell?" ucap laki-laki keheranan itu. Harry memilih kembali ke mobilnya dan menarik pintu penumpang yang tak tertutup, satu-satunya akses keluar-masuk mobil yang terjepit, terima kasih pada dinding salju di sebelah. Dia menggeledah laci kecil di dasbor untuk mencari senter.

Hati-hati mengambil atau tidak kesempatan teralihnya perhatian itu untuk kabur dari sini, Hermione melihat ke bawah pada jalan panjang yang gelap, lalu berpaling balik pada Harry yang masih membungkuk menggeledah isi Oldsmobile. Terlalu berisiko.

Baru sesaat, rasa penasaran ternyata lebih mengambil alih Hermione. Ia bergerak ke tengah jalan untuk melihatnya sendiri. Seperti kata Harry, tak ada jejak, padahal bekas Oldsmobile masih terpampang. Hanya terdapat permukaan salju segar dan beberapa jejak kaki Harry.

"Ini tidak masuk akal," kata Hermione pada diri sendiri.

Setelah itu Harry muncul kembali dari mobil memegang sebuah senter. Dia menepuk itu ke jari-jari tangannya lalu dihidupkan, menciptakan binaran cahaya kuat di sekitarnya, membelakangi Harry jadi siluet samar.

Sisi kiri jalan berada pada kegelapan yang sangat dalam sehingga cahaya senter bahkan tak bisa membobolnya—sebuah ngarai.

Harry mendekat ke sana dan dengan senter menyorot ke ngarai, dan satu tangan melingkupi mulutnya, dia memanggil pada puncak paru-parunya, "HALO!"

Hermione terlonjak oleh suara lantang Harry, kegelisahannya tersobek-sobek saat datang yang berikutnya.

"ADA ORANG DI SANA? SIAPA SAJA? HEI!"

Teriakannya ditelan kegelapan. Setelah gema menyurut, satu-satunya suara dalam keheningan adalah desisan turunnya salju beserta dengungan asing yang seperti berasal dari dunia lain. Mereka di antah berantah, merasa bersyukur salju berwarna putih.

Harry mematikan cahaya senternya, mengantongi itu ke dalam mantel. Dia berbalik pada Hermione yang berkata pelan, "Apa sekarang?"

"Kurasa kita lihat separah apa kita tersangkut," Mereka berjalan susah payah kembali ke mobil, sepatu bot membuat suara berkeriut di salju. Harry berkata lagi, "Kau menyetir, aku akan mendorong dari belakang."

Harry menahan pintu penumpang terbuka untuk Hermione memanjat masuk, bergeser ke kursi pengemudi. Pintu dibiarkan Harry terbuka agar komunikasi mereka terdengar. Dia berjalan ke belakang mobil terdampar tersebut, berdiri memakai sarung tangan saat sesuatu yang separuh terkubur dalam salju tertangkap matanya.

Dia mengeluarkan senter dari saku, menyoroti sinar ke sisi jalanan. Itu salib kayu.

Ada dua kali ini. Tempat keramat menyedihkan yang lainnya, untuk sepasang korban tak dikenal dari jalur Excite Alley ini. Jarak mereka dua salib itu dengan Oldsmobile yang terdampar jelas membuat Harry tidak tenang.

Hermione memanggil, "Siap?"

Harry teralih, membungkuk dengan sedikit meringis dan menahan bahunya melawan bumper belakang. Menyahuti, "Siap!"

Bunga api muncul selama gadis itu memutar kunci pengapian, Harry menunggu sambil mendengarnya mengusahakan motor starter. Suaranya bergerung beberapa kali sampai akhirnya Hermione berhasil.

Ia menyelipkan gigi Oldsmobile dalam gir, menginjak gas, dan Harry mulai mendorong. Dua ban belakang berputar, menyemburkan lumpur salju; namun mobil belum kena pengaruh.

"Gas lebih kencang!" seru Harry, tidak mengendurkan dorongannya.

Kaki kanan Hermione menginjak makin dalam, ban pun berteriak ngilu.

Harry memberi segala usahanya untuk mendorong, tapi tiada guna. Mendadak ekspresinya berubah kesakitan sambil mencengkeram sisi tubuhnya. Dia keluar dari penglihatan kaca spion, menghilang dalam asap merah ciptaan lampu dan knalpot. Sesaat kemudian dia mendorong dirinya berdiri, menggebrak bagasi mobil dan berseru, "Setop!"

Hermione menginjak rem. Kedua roda berhenti berputar. Ia duduk di jok pengemudi menunggu aba-aba selanjutnya ketika ia mendengar suara salju terinjak dari langkah kaki Harry yang mendekat. Pada saat itu Hermione membuat keputusan mendadak.

Seakan-akan berebutan menyeberangi kursi depan ke sisi yang lain, ia menyentak satu-satunya pintu yang masih berfungsi sampai terbanting menutup.

Harry tiba di sisi pintu penumpang, menarik handelnya saat Hermione menekan pin pengunci. Mengunci Harry di luar sementara Hermione duduk mundur sementok mungkin di dalam mobil.

"Hei, buka," kata Harry, menyentak handel itu berkali-kali. Mengetuk-ngetuk jendelanya. "Bisa kauangkat penguncinya?"

Ketika nihil adanya respons dari Hermione, Harry menaruh bibirnya ke celah setengah inci di puncak jendela yang macet. Seolah dia pikir dia tak bisa didengar. "Kau akan membuka pintunya atau apa?"

Hermione melihat Harry melingkupi mulutnya lalu memandangnya dengan tak sabar melalui jendela. Ia menunduk ke bawah, pura-pura fokus pada jari bergetarnya saat dengan gelisah mencoba menelepon nomor darurat. Tapi tetap percuma tak ada sinyal.

"Hei, ayolah, dingin sekali di luar sini!" seru Harry, sabar di ujung tanduk.

"Biasakan dirimu, sialan!" sahut Hermione, gadis yang paranoid.

Harry tetap menderak-derak pegangan pintu, namun mulai dengan rasa panik saat tadi mendengar pilihan kata Hermione. "Ada apa denganmu? Apa yang sudah kulakukan?"

Tapi Hermione berada pada tingkat paranoid yang bergejolak sekarang, hampir histeris oleh tindak-tanduk Harry. "Kau membawa kita ke sini, itu yang kaulakukan! Memang kaupikir apa yang sudah kaulakukan?"

"Kupikir aku mengantarmu pulang!" balas Harry.

"Kau tidak mengantarku pulang karena satu, kau tidak tinggal dekat rumahku dan dua, berada di sini tidak mengantarku ke mana pun! Sekarang apa coba yang kita lakukan di sini? Kenapa kau dari awal keluar dari jalan raya!"

"Sudah kubilang, ini jalan pintas. Lagipula kau orang yang berkata kalau kau bosan di jalan raya pada ponselmu tadi sore. Ini dipanggil Excite Alley karena ada pemandangan lembah yang bagus-"

"Pertama," potong Hermione. "kau tidak pernah ke mana pun dekat sini sebelumnya jadi jangan berlagak kau mengerti ini jalan pintas, dan kedua, tidak ada pemandangan bagus atau memesona atau semacam itu karena di sini GELAP GULITA!"

Harry berdiri di sana saat Hermione histeris, berhenti berusaha dan mengatakan, "Biar kuperjelas ini semua, apa kau pikir aku sengaja mengatur agar kita terjebak di sini, HAH? Itu kecelakaan, for God's sake! Kau juga lihat mobil satunya nyaris menabrak kita. Kaupikir dia terlibat juga?"

"Mungkin! Mungkin dia seperti anak buahmu yang kaujuluki Black Pete atau apa pun itu! Kenapa juga kau menceritakan kisah itu tadi?" seru Hermione.

"Kau benar-benar sudah gila..." kata Harry, tak berkutik.

Hermione bersandar ke jendela yang berhimpitan dengan dinding salju, melihat ponsel tak bersinyalnya, dan berbohong, "Omong-omong, aku punya kabar buatmu... Aku sudah berhasil menghubungi pesan suara temanku saat kau seharusnya pingsan tadi. Aku yakin ia sudah memanggil polisi-"

"Coba dengar dirimu sendiri!" bentak Harry panas. "Kaupikir aku psikopat atau apa?"

"Tepat sekali! Kau psycho!" teriak Hermione di puncak napasnya.

Harry meluruskan diri, gusar, menaruh tangan pada kepalanya yang terluka. Hermione melihatnya yang berdiri pada udara beku di luar, memeluk dirinya melawan temperatur di bawah nol, giginya mengeretak tak keruan. Dia kini tidak terlihat seperti pembunuh, sekarang tidak terlihat kuat atau berdarah dingin seperti psikopat dalam film yang baru terkalahkan di akhir tayangan seusai membunuh belasan orang satu per satu.

Tapi Hermione tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap itu, termasuk membiarkannya masuk. Sampai waktu berlalu dan akhirnya, Harry melempar tangan dalam rasa muak, seperti memilih menjalankan rencana B.

Mendekatkan diri pada jendela, dia berkata, berusaha sabar, "Aku akan mencoba kembali ke pom bensin mencari pertolongan. Kau punya pemanas dan radio, jadi harusnya kau baik-baik saja di sini. Walau aku benar-benar berpikir kau harus mempertimbangkan untuk ikut denganku."

"Aku bertaruh itu maumu!" hardik Hermione.

Harry menahan kesal dengan menutup mata. "Baik. Terserah. Kalau kau merasakan angin dingin dan kau mau menambal ini-" dia menusuk ujung jarinya sepanjang celah satu inci di jendela. "-aku menyimpan plester pipa di belakang sana."

Hermione memutar mata, berkata sinis, "Aku bertaruh itu maumu."

Dia melihat Hermione untuk terakhir kali, lalu dengan berat melangkah pergi. Hermione mendengar keriut langkah kakinya sampai ia tak bisa menangkap suara itu lagi.

Tapi mendadak Harry berlari kembali dengan cepat saat pertama dia menggigil. "TAPI INI MOBILKU!" raungnya. Jadi gila dengan menarik paksa handel pintu, namun hanya sampai akhirnya dia menyerah dengan menendang pintu dan menggebrak atap mobilnya.

Hermione menjadi pengecut di dalam, ketakutan setengah mati. Harry berbalik dan melangkah menjauh ke jalanan. Hermione terus menyaksikan dia lewat jendela belakang saat dia bergerak susah payah seperti robot, pergi.

Botnya berkeriut di permukaan salju, diam, dia berhenti. Bersandar pada pohon terdekat. Menoleh balik pada Oldsmobile. Apa pun yang dia lakukan, dia jelas tidak kembali ke stasiun pengisian. Dia meluruskan diri, dan kembali melanjutkan perjalanan sampai keluar dari penglihatan.

Hermione menghela napas. Mengira-ngira berapa jarak dari sini ke stasiun pengisian. Pasti tidaklah dekat.


...

Nah, beginilah jadinya kalau Harry ga selametin Hermione pas mau bertemanan, atau apadeh... Terima kasih sudah mampir membaca, semoga terhibur. Stay tuned... d^^b