Disclaimer: JKR miliki Little Whinging. Juga Harry Hermione. Saya tidak bukan jangan. Enjoy... ^^b
Oldsmobile masih terjebak di pinggir jalan, tak sedikit pun pindah letak, namun mesin tua empat taknya hidup, kepala mobil dan jendela depan tertimbun hujan putih. Sementara lampu interior remang-remang, menciptakan penampilan menarik seperti pondok-pondok dalam dongeng Grimm.
Hermione sedang di kursi belakang menggeledah koper Harry melihat barang-barang lain, niatnya mencari plester pipa. Tapi ia terkena sindrom wanita mal—tak puas dengan apa yang dibutuhkan, karena ada yang diinginkan, dan ada yang bagus... atau diskon... Atau beli 2 gratis 1.
Terlepas adanya penghangat, di dalam mobil masih cukup dingin untuk melihat ia bernapas, yang terima kasih untuk celah di jendela. Dan radio yang dihidupkan, sekarang sedang menyiarkan pengumuman layanan publik.
"Dua hari menjelang perayaan natal ini, Layanan Cuaca Nasional mengeluarkan berita Peringatan Badai Salju di sekujur daerah tengah dan selatan Britania-"
Hermione menggeser banyak benda yang tidak ia perlukan; celana bokser, kaus kaki, kotak pengaman, buku kopian Tibetan Book of the Dead, sampai telepon nirkabel dinding harga murah yang masih terlilit kabelnya. Sebuah linggis, yang ternyata ia inginkan, langsung didorong ke kursi depan.
Radio Layanan Publik didengar Hermione lagi, "Dan doa warga daerah Norfolk akan terkabul jika itu terhadap tumpukan salju empat sampai enam inci-"
Mendadak, begitu cepat, di luar jendela belakang mobil yang berembun dan berkabut, bergerak sebuah kelebatan bayangan kabur. Tapi Hermione masih terlalu sibuk mencari di antara barang-barang di kursi belakang untuk menyadari gerakan di luar.
Akhirnya Hermione menemukannya, plester pipa warna perak. Juga sebuah gunting. Ia menggenggamnya seperti pisau, jelas berpikir itu bisa berguna jika ia butuh mempertahankan diri, mungkin mempertahankan diri dari Harry. Ia berpindah lagi ke kursi depan, menarik plester sepanjang satu meter tepat saat di luar mobil terdapat lebih banyak pergerakan.
Tetapi Hermione masih terlalu fokus menyegel jendela penumpang, guna menahan angin beku, untuk dari menyadari seseorang atau sesuatu yang bergerak di luar.
Radio Layanan Publik berkersak dalam suara, "Kantor lokal dan kantor negeri menyarankan warga agar tetap berada dalam rumah, sebab embusan beku terjun bebas ke bawah lima belas di saat malam hari-"
Dan terjadilah, Hermione menangkap sekilas pergerakan di luar jendela mobil, tepat di depannya, hanya dibatasi kaca yang bercela. Ia tercekat takut, cepat-cepat meringkuk keluar dari penglihatan menuju ke bawah dasbor. Ia tidak bergerak, mendengarkan, matanya dipenuhi kengerian. Setelah sedetik yang lama, ia berisiko untuk mengintip melalui roda kemudi. Jendela depan berembun, maka ia menyeka sebuah lubang intip dengan kondensasi.
Namun masih terlalu gelap untuk melihat jauh ke depan mobil...
Ia menitikan jari bergetarnya di kolom setir, mengklik sakelar lampu kepala. Sekejap langsung menyoroti sinar ke depan—adalah orang asing, tak dikenalnya yang berjalan turun ke kegelapan tengah jalan. Hermione menutup mulut, mencegah apa pun yang tadinya akan keluar, meraih secara insting untuk memeriksa pintu terkunci aman.
Orang asing itu berkulit hitam dan pakaiannya sangat kotor, berjalan dengan bahu membungkuk membelakangi Oldsmobile. Salju berputar-putar mengelilinginya dalam kegelapan. Hermione bertanya-tanya, siapa yang mau berjalan di tengah badai salju? Apa dia tidak dengar berita cuacanya?
Menahan rasa syok di awal, sambil menghirup keberanian, Hermione pun meraih gagang pintu dan membukanya, ia menginjakkan kaki di muka salju. Dan menggenggam gunting di kedua tangan seperti belati. Dalam ragu, ia memilih tetap berdiri dulu di belakang perlindungan pintu mobil yang terbuka lalu memanggil orang asing yang berjalan sepuluh meter di depan. Ada bunyi dengung aneh di udara yang tak Hermione perhatikan.
"Hei!"
Tak ada respons dari si Orang Asing...
"Halo? Apa Anda tinggal di sekitar sini?" panggil Hermione lagi. Dan lagi-lagi, tak ada sahutan. Apa mungkin dia tuli?
Hermione mulai begerak keluar dari belakang pintu mobil yang aman dan mulai mendekati si Orang Asing, menjaga jarak saat ia kembali memanggil, "Kami, eh, mengalami kecelakaan. Ada temanku yang sedang mencari pertolongan. Dia akan kembali sebentar lagi."
Tidak ada perbedaan. Seluruh pakaian Orang Asing itu lebih dari sekadar tidak bersih, itu basah kuyup. Seperti tercebur dalam oli motor atau jenis lumpur kusam lainnya.
"Malam yang sedikit menyeramkan untuk jalan-jalan, bukan begitu?"
Dan dengan jelas Hermione memerhatikan pasti ada sesuatu pada caranya melangkah. Seperti kakinya pincang, atau terluka. Faktanya dia terlihat cenderung sedang menangis, jika itu bukan suara erangan.
"Hei, tunggu!" panggil Hermione. Ia berhenti saat merasa ada yang tidak benar.
Namun Orang Asing itu hanya terus berjalan pincang menuju bahu jalan, ke arah bayang-bayang tebal pepohonan di sana. Tidak lama kemudian dia pun bergerak keluar dari jangkauan lampu kepala dan menghilang dalam kesuraman hutan bukit.
"Apa yang-" bisik Hermione.
Ketakutan, ia memilih untuk kembali masuk ke mobil yang terjebak.
Ia berbalik-
"Hei." sapa Harry di situ.
"AAGH!" Hermione menjerit, mengambil langkah mundur. Sudah seakan jantungnya terlontar ke leher.
"God's sake! Tenanglah, ini cuma aku." kata Harry, sama kagetnya oleh jengitan gadis itu.
"Berhenti mengagetkanku dan, dan menjauh dariku!" bentak Hermione, mengacungkan guntingnya. Saat orang itu kembali ada sedikit rasa lega karena ada manusia lain, tapi tak lengkap tanpa mengancam, agar tetap selangkah di depan.
"Whoa!" Harry mengangkat kedua tangan bertahan. "Kalem sedikit. Apa masalahmu?"
"Kau! Semuanya! Laki-laki tadi-"
"Laki-laki apa?" interupsi Harry buru-buru.
"Aku tidak tahu, dia aneh sekali. Aku lihat laki-laki itu lewat di sini." Hermione belum menggencat guntingnya.
Harry masih mengangkat tangan. "Ke mana dia pergi?"
"Aku tak tahu. Masuk ke hutan." Matanya berpindah-pindah di antara Harry dan batas hutan di mana si Orang Asing menghilang, masih sangat tak yakin yang mana yang bisa ia lebih percayai.
Harry cuma memberi tempat itu sepenglihatan, tak lebih. "Dengar, dingin sekali di luar sini. Mari kita masuk saja ke dalam mobil dan kau bisa ceritakan apa yang terjadi."
Keparanoidan Hermione muncul pada prospek berdua masuk ke satu ruangan. "Apa yang kaulakukan kembali secepat ini? Bagaimana soal berjalan menuju pom bensin?"
"Sudah tutup," jawab Harry, berpaling ke tempat lain. "tadinya aku berencana akan meninggalkan pesan, tapi tidak jadi... kau lihat, tak punya apa pun buat menulis."
Hermione menggenggam gunting lebih erat, tak percaya sepatah kata pun. "Tapi tempat itu buka dua puluh empat jam! Kenapa bisa tidak buka?"
"Mana aku harus tahu? Mungkin pegawainya adalah pemiliknya jadi dia tak terikat aturan tak boleh tidur!" ucap Harry, nadanya naik. Dia langsung menetralkan diri. "Dengar, bisa kita coba saja lanjutkan percakapan ini di dalam mobil? Karena aku membeku berdiri di luar sini."
Tapi itu membuat Hermione menjerit, "Aku takkan masuk mobil denganmu, psycho!"
Harry menutup mata dan menggelengkan kepala, hampir frustasi. "Baik. Terserah. Aku akan masuk. Dan kau diterima kalau kau mau bergabung denganku."
Dia berbalik, berjalan susah payah kembali ke Oldsmobile-nya dan memanjat masuk. Pintu ditariknya menutup setelah di dalam, tapi jelas-jelas tidak terlalu rapat. Hermione seperti tertinggal di jalan bersalju sana. Menggenggam guntingnya, giginya berbenturan tanpa kendali.
Ia masih saja berdiri di sana, menggigil, terlihat sangat kecil dan kesepian. Ia pun membuat pilihan untuk tetap di sana lalu membeku. Atau berisiko mencari tempat perlindungan dengan orang seperti Harry itu. Tidak banyak pilihan, pikirnya.
Harry mengerling saat Hermione membuka pintu mobilnya dan memanjat masuk. Ia menarik pintu menutup di belakangnya, lalu berjubel mencari posisi. Agar bisa mematai Harry dengan awas. Tak pernah sekalipun menunjuk gunting ke arah lain.
Kemudian Harry mengulurkan tangannya ke arah Hermione—dan gadis itu langsung mengacungkan gunting padanya, dengan wajah penuh determinasi bahwa ia bisa serius menancap itu ke dada Harry.
"Rileks," kata Harry, tangannya berhenti di tengah memberi gestur setop. Dia mendongak ke langit-langit Oldsmobile dan lengan tadi terangkat memadamkan lampu interior. Menjelaskan, "Kita harus menghemat baterai."
Dan dengan lampu interior mati mobil diterangi remang-remang biru maya yang terefleksi salju. Hermione kini menarik lututnya ke atas seolah berusaha membuat tubuhnya mengecil sebisa mungkin, untuk memosisikan dirinya sejauh-jauhnya dari jangkauan Harry sebisa manusia melakukannya di jok mobil.
Matanya kini melayang turun ke jam di dasbor, hal itu membuat Hermione mengernyit, ia masih ingat saat pertama kali sadar dari pingsan jam itu masih berdetik nyala, keras. Ia memecah kesunyian pada Harry, "Itu tidak benar, jamnya."
"Hah?" Harry menunduk lesu ke arah jam itu. "Yeah, mati," Lalu dia melihat ke jam tangannya. "harusnya ini jam-" dia bungkam, merengut. Harry mendekatkan jam tangan tersebut ke telinganya, memberi tahu, "Erh, jam tanganku juga mati. Well, rasanya kita hanya harus percaya pada jam tubuhku yang dengan tepat menyesuaikan kapan waktu makan atau tidur."
Dia melepaskan jam tangan tak berguna tersebut, dan melemparnya ke kursi belakang. Saat itu dia memiringkan tubuh dan mendadak menyadarkan Hermione kalau cucuran darah kering di sisi kiri kepala Harry.
"Hei," panggilnya.
Harry menoleh. "Apa?"
Jari Hermione menunjuk luka di kepalanya. "Kau berdarah."
Harry mengangkat dua jari, menyentuh pada arah yang ditunjuk. Dia meraba darahnya yang membeku, di luar dugaan luka tersebut terkelupas, dan mulai mengeluarkan darah segar. Kerah mantelnya basah akan cairan itu. Sambil melihat noda di kedua jarinya Harry berkata, "Ini bukan apa-apa."
"Itu tidak terlihat bukan apa-apa," kata Hermione sangsi.
"Luka kulit pelipis memang berdarah banyak, seperti luka di kepala pada umumnya. Biasa saja. Itu alasan kenapa, kalau kau berada dalam perkelahian di bar, yang kaulakukan adalah ambil botol dan pukul lawanmu di batang hidungnya. Itu membuat mata dipenuhi darah dan lendir, sekaligus memberimu cukup waktu buat kabur."
Hermione melembut, senang pada argumennya. "Itu sangat berguna, thanks."
Tensi kesunyian memenuhi mobil seiring berlalunya masa. Tidak ada kegiatan berarti di dalamnya selain bernapas secara perlahan, menjaga paru-paru dari pembekuan dini. Harry menutup matanya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, seolah-olah mencoba menangkap beberapa Zs—alias seolah mencoba tertidur.
Hermione melirik pemuda itu sesekali.
"Jadi, dari mana kau berasal, sejujurnya?" tanya Hermione kemudian, tulus ingin tahu.
Harry masih menutup mata, namun mematuhi. "Tempat bernama Dunsfold."
Hermione memeriksa kata itu di memorinya sebentar. "Itu bukan di daerah Ryedale. Bahkan bukan di Yorks!"
"Bukan." aku Harry pelan.
Hermione melanjutkan, "Itu, seperti, benar-benar di arah yang berlawanan! Itu, ada di Surrey!"
"Benar." Harry pasrah.
"Itu cuma butuh setengah jam dari kampus!"
"Oke, kau betul, tapi aku tak ada rencana kembali ke tempat itu lagipula. Dan setidaknya The Priory ada di sana. Jadi aku bohong padamu, jelas sekali."
"Kenapa?" tanya Hermione, butuh dengar motif bagus atas semua pengakuan tadi. Walau gadis itu bisa menebak apa yang teratas, dan itu bukan tingkah psikopat.
Mata masih tertutup, dia menjawab masih dalam suara pelan, "Aku hanya berpikir kau nampak keren, eh, cantik. Aku tak punya rayuan atau 'pendekatan' atau apa pun itu sebutannya. Jadi saat kulihat kesempatan mengantarmu pulang, kesempatan untuk berdua denganmu selama lima jam tanpa interupsi, aku langsung mengambilnya."
Hermione tersanjung akan pujiannya, terutama kejujuran dan berani mengakunya, tapi masih mempertimbangkan itu beberapa saat, mencocokan kepingan yang lainnya. "Lalu dari mana kau tahu tempat tinggalku?"
"Bertanya sekeliling." ucap Harry seadanya.
"Ya, itu menjelaskan kau menemukan aku berasal dari Ryedale. Tapi tidak soal bagaimana kau tahu aku butuh tumpangan pulang saat ini, saat mau natal, aku selalu naik pesawat. Bagaimana mungkin kau bisa tahu aku kini membutuhkannya? Seperti saat pertama kali di tahun awal kuliahku, aku berencana pergi ke Norwich dan-" dan ia berhenti.
Sejurus kemudian matanya melebar. Bagaikan tiba-tiba fajar pemahaman terbit untuknya. Cuma untuknya.
[flashback]
Itu adalah kepingan-kepingan memori pada awal hari ini. Tereka ulang dengan cepat menunjukkan inti dari pengertian.
—datangnya pesan masuk dari Ginny di auditorium aula kuliah, tercetak di layar ponsel Hermione adalah; 'knp u ga ngcek papan ride share?'
—Hermione yang mendongak pada Ginny, teman perempuannya, ia tersenyum...
—dan tidak bisa senyum Hermione sadari, tentang siapa yang duduk TEPAT DI BELAKANG kursinya, sedang mencuri baca setiap pertukaran pesan dari Ginny di ponsel Hermione—ialah Harry itu sendiri
—Harry yang melompat dari kursinya dan bangkit paling cepat sesaat kelas ujian dibubarkan
—yang menunjukkan bahwa Harry, adalah orang yang mendesak, menyenggol Hermione dari belakang di dalam ketergesaan laki-laki itu untuk keluar lebih dahulu
—Harry yang berjalan cepat, terburu-buru menyeberangi alun-alun kampus yang lengan, sambil menulis cepat di bukunya selama jalan separuh larinya
—Harry yang merobek catatan yang baru dia tulis dengan mendesak dan ala kadarnya dari buku spiralnya
—lalu menampar catatan itu di papan Ride Share, menusuknya dengan paku pin agar tak lepas sangat tepat pada waktunya
—karena Hermione menempati tempat Harry berdiri itu kurang dari semenit kemudian, dan membaca yang adalah tulisan Harry;
BTH TUMPANGAN KE RYEDALE 12/23?
[off]
Hermione melihat Harry dengan mencermati, semua kepingan puzzle sudah tersusun lengkap. Harry tidak sedang berusaha menjelaskan, bahkan dia tak kunjung membuka matanya; jelas-jelas malu. Lagipula sudah jelas, bahwa dia naksir Hermione.
Agak pahit di mulut Harry bersuara, "Maafkan aku, karena mencoba gestur romantis tapi gagal."
"Romantis apa? Kau mencoba gestur menguntit." kata Hermione, yang kini mengerti bagaimana Harry bisa tahu Hermione punya kacamata meski cuma dipakai di dalam kamar.
"Tidak kalau hubungan kita berhasil. Aku akan mengatakan segalanya padamu pada akhirnya, ini takkan jadi menguntit dan semua akan baik-baik saja. Ini cuma akan menjadi kisah lucu dan manis yang kita punya."
"Lucu dan manis? Apa lagi, kita? Artinya—kau dan aku?" kata Hermione sambil terkikik. Ia paham walau tidak sepenuhnya terima perbuatan Harry, tapi entah mengapa ia merasa geli bisa begini akhirnya cara Harry menyampaikannya. Dia terlihat cukup pintar, jadi ini pasti di luar rencananya.
Harry bergerak tajam untuk duduk tegak, rasa tersinggung bergolak mendidih dalam tubuhnya, dia mendelik sekilas pada Hermione yang masih nyengir meremehkan padanya. "Oke, kau sudah menyampaikan maksud cengiran itu! Aku adalah seorang penjilat yang pergi menyupiri seorang wanita di bawah kepura-puraan maksud yang palsu. Jadi bisa langsung kita sudahi?"
"Okeh," kata Hermione, tapi tak berhenti cengar-cengir.
"God, aku kelaparan. Kau lapar?" tanya Harry mengganti topik. Dia bergerak ke jok belakang. Mulai menggeledah di sekitar sana. Lalu dia menggali tumpukan barang yang sudah dia telusuri, lalu gerakannya semakin kasar. "Erh, apa kau melihat semacam bungkusan grosir yang ada di bagasi?"
Harry masih kasar memindah tumpukan barang seolah bungkusan grosir itu bisa bersembunyi. Pada penyebutan 'grosir', Hermione langsung membuang topik kejadian di toko pom bensin yang baru saja ingin ia ceritakan. Kemudian ia cepat menyadarinya.
"Tidak, oh, sial. Kupikir aku meninggalkan bungkusan itu di tempat parkir kampus," kata Hermione mengakui kecerobohan dirinya.
"Apa kaubilang?" kata Harry, tak percaya dengan telinganya hingga dia pindah ke depan lagi, menatap marah Hermione. Padahal bungkusan grosir itu adalah senjata pamungkasnya.
Hermione bisa melihat tampang siap membentak dari Harry, sudah keburu takut untuk bertanya ada apa di dalam bungkusan yang mereka bicarakan. "Aku minta maaf. Itu ketidaksengajaan-"
Harry menggeleng. "Aku menghabiskan enam puluh pounds untuk semua omong kosong cicipan yang kausukai, dan itu semua ada dalam bungkusan itu!" sela Harry, senjata keadaan di mana dirinya ingin membuat Hermione terkesan, hancur lebur. "Tadinya itu adalah makan malam kita! Semua kesukaanmu! Dari Keju Saint-André dan Carr's crackers dan... semua acar-kecil-konyol-Prancis itu, aku lupa apa sebutannya..."
Hermione diam sebentar oleh penuturan Harry, ia mengerjap-ngerjap. Sudah terkejut, apalagi jika makan malam itu benar-benar kejadian. Lalu ia berbisik, mengidekan nama asli acar-kecil-konyol-Prancis, "Cornichon?"
"Yeah, benar, itu dia sebutannya." sahut Harry, menekan sisi kepalanya.
"Aku cinta cornichon." desah Hermione, tersenyum berangan-angan menyemili keasamannya, kelenjar liurnya berdenyut ngilu. Perutnya ternyata mengingatkan ini memang sudah jam makan malam.
Harry menghela napas, merosot ke depan bersandar pada roda kemudi, pasrah, sambil matanya memandang Hermione. "Aku tahu kau cinta cornichon."
...
Dunsfold asli ada di Surrey. Little Whinging asli fiksian JKR, Privet Drive #4 mungkin emang ada di suatu tempat entah di mana. Jadi kampus mereka ada di London, jika memang ada yang belum menangkapnya. Surrey di selatan London, Yorkshire jelas jauh di utara. Harry sangat bohong kalau dia berbagi tumpangan.
Terima kasih sudah mampir, semoga dapat menghibur. Stay tuned... ^^b
