JKR own Harry and Hermione. Me owned nothing. It's all just a leisure filler. Enjoy... ^^b


Angin kini menerpa kencang, berembus keras hingga salju jatuh dalam posisi miring dan cepat. Selain siulan natural itu, semua sunyi, kecuali bunyi dengungan asing.

Hermione masih berjubel di jok depan, tetap memegang guntingnya. Harry kembali ke kursi belakang, meraba-raba permukaan bawah mobil mencari apa saja yang dapat dimakan. Berburu Tic Tac, segigit biskuit hingga pretzel, permen batang dan entah lainnya.

"Kalau ingatanku tak salah, aku pernah menjatuhkan sebungkus permen karet Big Red ke bawah jok ini minggu lalu..." kata Harry.

Dia menusukkan tangan di antara bantalan jok, antara sabuk pengaman kursi belakang seumpama penyelam merasakan keberadaan lobster di balik batu karang, tak bisa melihat buruan mereka. Meraba-raba ke tempat gelap tersebut, meleset dari nikel dan uang logam kecil dan kain-kain tiras...

LALU MENDADAK HARRY TERSENTAK...

Matanya membesar...

Sesuatu yang bersembunyi di bawah jok meraih tangan Harry dan menariknya kencang...

Dia berteriak kesetanan...

Matanya penuh teror...

Napas Hermione tertahan, tidak berkutik.

Wajah Harry benar-benar sengsara oleh rasa sakit, lalu berubah jadi cengiran...

Saat dia menarik tangannya bebas, tidak putus, tidak terluka, dan mengangkat sebatang permen karet. Dia berslogan, "Bercanda."

Mulut sempat terbuka, Hermione melihatnya dalam marah besar tak terkatakan, karena ketidakpercayaan akan tingkah itu. Harry duduk dengan posisi benar, membuka sebatang permen karet Big Red kemudian melemparnya ke dalam mulut, mengunyah dengan hembusan napas syukur.

"Berengsek." maki Hermione.

Seolah-olah kata itu sebuah provokasi, tetap saja itu kegilaan;

Sebab tiba-tiba tanpa peringatan tangan Harry ditembakkan...

Menangkap gesit pergelapan lengan Hermione yang menggenggam gunting.

Akan merebutnya, membuat Hermione tanpa senjata pengaman.

Hampir menyakitkan, tapi celah kelengahan kadung terjadi...

Mata Hermione sekarang yang dipenuhi teror sesungguhnya dan ia mulai melawan, namun cengkeraman Harry terlalu kuat...

Gigi laki-laki itu mengeretak. Matanya menempel cuma pada gunting. "Lepaskan, goddamnit!"

"Tidak!" kontra Hermione lantang.

"Berikan padaku!" Harry mengguncang tangan pemegang gunting Hermione.

"TIDAK!" pekik Hermione.

Dengan tangannya yang bebas Harry meraih dan mencongkel gunting dari telapak tangan gadis itu, Harry berhasil...

Matanya berkilat...

Hermione merengek pelan, ketakutan saat Harry menariknya mendekat, melambaikan gunting yang dia perebutkan.

"Aku butuh ini."

Dan Harry menjauh.

Dengan satu dari bagian gunting yang terbuka, dia membelah permen batang dan membaginya dua. Mulut Hermione membuka lagi, jadi apa gunanya ketegangan sedetik lalu?

"Ya, Tuhan, kau bisa minta baik-baik!" kata Hermione marah.

Harry menutup guntingnya dan menjatuhkan itu sembarangan, menyerahkan separuh permen karet kepada Hermione. "Terima saja. Karena bukan salahku aku menjadi tuan rumah yang buruk. Aku memberikanmu servis makanan tapi kau yang memilih permen karet."

"Ya." gerutu Hermione malu. "Sori."

"Aku masih tidak percaya kau meninggalkan makanan kita di sebuah tempat parkir, itu konyol sekali."

"Astaga, kau senang sekali membicarakan itu, ya? Aku minta maaf, oke? Aku akan menulis cek enam puluh pounds jika itu membuatmu diam dan menyingkir dari kasusku. Aku tak tahu apa lagi yang bisa kukatakan."

"Mari, makan saja."

Mereka makan dalam diam, masing-masing mencuil sedikit demi sedikit dan menggigiti dengan hemat makan malam yang tak membangkitkan selera tersebut. Hermione tetap berdiri dengan dengkulnya, menghadap ke kursi belakang. Mengunyah dan mengamati Harry yang merebahkan diri di kursi belakang, makan sambil memejamkan mata. Sehingga Hermione bisa mendengar dia bicara pada diri sendiri, "Story of my life. Sama saja, tak pernah gagal."

"Apanya?" kata Hermione.

"Kau. Gadis-gadis. Wanita. Kalian terlihat menakjubkan pada awalnya," Harry membuka matanya, menatap Hermione sekilas lalu berpaling tegak ke atas. "kalian semua harusnya diberi peringatan, seperti di kaca spion mobil; 'objek pantulan lebih palsu dibanding penampilan aslinya'."

"Jadi kau ingin bicara mengenai palsu? Bagaimana dengan laki-laki yang berpura-pura berasal dari Ryedale untuk memberi tumpangan ke seorang gadis? Apa cukup palsu?"

"Dan bagaimana dengan kita berhenti bicara sama sekali?"

"Sempurna!" salak Hermione. "karena kini aku bukan semacam robot pengoceh riwayat Nietzsche lagi, mendadak aku menjadi tak layak dikenal, berada di Ruritania—tidak di mana pun! Dan itu salah siapa?"

Harry tidak menjawab, tidak mendebat, hanya menarik memeluk dirinya sendiri seperti merajuk. Dari semua kemendadakan tak layak dikenalnya Hermione, tiba-tiba Oldsmobile bergetar seperti ingin muntah, dan tidak lama kemudian—mesinnya mati.

Mereka berdua keluar buat menginvestigasi bencana, membawa senter untuk menerangi apa yang salah, dan itu berakhir di bawah sasis. Di kolong mobil, sorotan cahaya menyinari sebuah kawah kuning dari salju yang meleleh di bawah situ. Harry meratakan tubuh, meraih kawah tersebut dan menyekop sedikit salju kuning. Dia membawanya ke bawah hidung dan mengendus mereka.

Hermione berdiri memeluk tubuh di sampingnya, mengamati sekeliling jalanan kosong, dan bertanya saat Harry mengendus salju, "Well?"

"Bensin," jawab Harry sambil berdiri. Hermione bertolak pinggang dan tangan yang lain mengusap keningnya dalam gestur tertimpa kesialan. "Tabrakan pasti membuat tangki bensin pecah dan bocor."

"Kau yang anak mesin, kalau kau tidak bohong tentang jurusanmu. Bisa kauperbaiki?" tanya Hermione, ada secercah putus asa dalam suaranya.

"Tidak kecuali kau punya peralatan las dalam kopermu, karena aku tak punya. Bagaimanapun tempat mainku bengkel kampus."

"Oh, percuma, walau aku punya kita tetap kehabisan bensin," kata Hermione berlogika. Harry mengangguk. "Tapi setidaknya kita masih punya baterai, benar 'kan?"

"Selama kita pakai dengan hemat, baru akan bisa bertahan sampai mengakhiri malam. Pertanyaannya adalah, bertahankah kita?"

"Apa maksudmu?"

Harry memberi Hermione pandangan pengertian, dengan badai mengamuk di lingkungan mereka. "Baterai cuma buat penerangan, untuk starter, radio, aksesoris lain. Tapi, tak ada mesin tak ada pemanas."

Mulai segan terlalu sering berpangku tangan, Hermione memandang balik dengan perubahan ekspresi menjadi ketetapan hati yang suram, memaskeri wajahnya. Langsung terbesit ide yang mungkin bisa mengatasi ini, sambil ia masuk ke dalam mobil dan memungut ponselnya. Linggis yang menarik matanya, ikut ia pungut. Harry di luar bertanya-tanya.

"Jika mobilmu sudah tidak bisa lagi menyediakan perlindungan, yang tersisa tinggal pom bensin tadi," kata Hermione, mengantongi ponsel dan memegang linggis seperti tongkat berjalan. "Di sana ada perapian, ada makanan, hal-hal yang lebih dari membuat kita bertahan semalaman."

Harry membuka mulutnya, suaranya baru keluar lima detik kemudian seperti orang gagap. "Aku sudah bilang tempat itu tutup, 'kan?"

"Bukan masalah, tutup cuma tutup. Kita harus bangunkan penjaganya, jika tak ada reaksi kita dobrak, atau... atau pecahkan jendelanya. Mereka hanya akan minta ganti uang. Kita akan mati kedinginan di sini," Hermione mendorong linggisnya ke Harry. "kau yang pimpin, kau orang yang berhasil sampai ke sana."

Harry menerimanya dengan perasaan berbesar hati, tanda kalau dia diberi kepercayaan, menutupi apa pun yang ia rasakan sebelumnya. "Tempat itu sangat jauh, kau tahu?"

"Aku tahu. Tapi kau ada di sini, aku tak bisa lihat alasan aku tidak bisa sepertimu. Atau alasan kau tak bisa melakukan ini lagi." Hermione membuat sedikit senyuman beku oleh badai salju.

Tapi Harry tak membalas senyumnya, dia berpaling ke jalan yang pernah ditempuh Oldsmobile. Mengangguk, dan menutup perlahan pintu mobil agar tidak dengan tak sengaja mengunci mereka di luar, lalu kembali menghadap Hermione. "Tak banyak persiapan atau waktu aklimatisasi seperti para pendaki Everest. Jadi kita langsung berangkat."

Harry berjalan lebih dulu memegang senter dan linggis. Hermione mengikuti dia, yang baru jalan sebentar sudah mengeluarkan, mengecek ponsel lalu melihat jalanan. Lima detik kemudian melirik pojok sinyal lagi, menjadi hal rutin ia lakukan.

Harry terus berjalan tetap lima meter di depan, derau badai mengurangi kemungkinkan untuk adanya obrolan dengan Hermione—teriakan mungkin. Mereka mengikuti jalur yang tersedia, barisan hutan seperti besi rel raksasa yang mengantarai mereka, berharap barangkali ada mobil yang lewat.

Tapi harus mereka sadari, kegelapan di depan yang tak cahaya senter gapai, mengesankan mereka berjalan dalam lorong tak berujung.

Mengecek percuma sebatang sinyal yang meledeknya dengan muncul-lalu-hilang berulang kali, akhirnya Hermione yang tak kerasan sendiri. "Hei, bisakah kau menungguku?"

Harry berhenti dan menoleh. Tak ada pilihan selain menunggu.

"Apa kau tak pernah membuat eksperimen sederhana tentang kehidupan sehari-hari?" seru Hermione, berlari mendekati Harry—yang berkata tidak. "Perjalanan kaki takkan terasa jika kita mengobrol dengan teman, tiba-tiba kita hanya sudah sampai."

"Oh," kata Harry, melanjutkan langkah dalam saljunya. Dijejeri Hermione.

"Aku ingin bertanya, saat kita di pom bensin, apa kau benar-benar tidak mendengarku berteriak? Jangan bohong, kalau bisa."

"Tidak, sama sekali," kata Harry serius, melihatnya. "Jadi kau betul-betul teriak, karena terkunci?"

Hermione membaca matanya sebentar. "Tapi bagaimana bisa kau tak mendengar? Aku bisa mendengar suaramu dan penjaga kasir di sana."

"Entahlah, mungkin kamar mandi itu menjadi kedap suara secara tak sengaja. Aku tak bisa dengar karena sedang bicara dengan orang lain sementara suaramu cuma terdengar seperti suara mulut disekap."

"Aku juga memukul pintunya, itu tak pengaruh dengan kedapnya ruangan, kau tak dengar itu juga?"

"Sudah kubilang, entahlah, tapi aku tak dengar apa-apa. Mungkin ada orang lain yang mengerjaimu, tahu ruangan itu menjadi kedap suara, memanfaatkannya. Bagaimana cara kau keluar?"

"Sendiri. Pintunya seperti tersangkut, mirip mobilmu. Jika memang bukan orang yang mengerjaiku membuka kuncinya lalu cepat-cepat pura-pura melakukan hal lain."

"Itu benar-benar hal kekanakan terakhir yang mungkin kulakukan." kata Harry.

"Apa kau begitu? Dan itu memang bukan waktunya kau melakukan hal kekanak-kanakan yang terakhir?"

Harry mendeliknya lagi, sangat kesal. "Kau menuduhku sekarang? Kau mencurigaiku lagi?"

"Kalau begitu apa yang kaubicarakan dengan penjaga kasir bertato itu, kalian seperti sudah saling kenal. Karena kalian sepertinya jelas sekali menertawaiku sehabis aku teriak."

Harry membuka mulutnya, tidak percaya semua ini. "Aku tidak menertawaimu! Malah tidak ada yang tertawa di sana!"

"Yea, yang benar saja. Jadi aku tuli saat itu?"

"Aku cuma bertanya apa ada jalan lain karena teman perjalananku bosan di jalan raya! Dan dia memberi tahuku, menunjukkan jalan ini di peta!" seru Harry tak habis pikir. "Kau sendiri yang menyimpulkan aku tak pernah ke sini."

"Mungkin aku salah."

"Apa aku harus mati karenamu dulu baru kau percaya padaku?"

"Tentu saja tidak. Kau tetap saja terlihat seperti penguntit, dan apa kau tahu siapa yang sering seperti itu?"

"Psikopat, 'kan?"

"Benar."

"Kau harus berhenti menonton film-film triler seperti itu, sungguh."

Hermione diam sebentar, mungkin memang benar. Tak ada hal rutin lain selain berakhir pekan pergi ke bioskop atau teater bersama teman-teman perempuannya. "Tempat itu sempat membuatku takut, seseorang menggores tanda orang mati di dalam cermin." Apalagi tanggal meninggalnya besok.

Harry tak dapat kalimat balasan sesaat, mengingat tanda orang mati ada yang sungguhan di jalan ini. Memutuskan tak menceritakannya. "Yang penting kau sudah keluar dari sana, sepenglihatanku kau baik-baik saja. Tenanglah."

Hermione menarik oksigen dingin sebagai napas, berusaha tenang. Sulit memercayai orang yang memilih merebut gunting untuk memotong permen karet daripada memintanya baik-baik, 'kan?

"Jadi siapa yang tertawa?"

"Hah?"

Hermione memperjelas, "Jika kaubilang tak ada yang tertawa di pom-"

"Perhatikan langkahmu!" sentak Harry, senter di tangan kirinya terentang di depan dada Hermione.

Berhenti setengah mati, gadis itu tidak perlu mendapat penjelasan apa alasan Harry. Gundukan salju yang ia lihat dari jauh, dalam jarak selangkah menampakkan apa yang ada di baliknya; ngarai. Gelap, luas. Cahaya menunjukkan ujung jalan yang terputus tidak bisa dibilang dekat.

Mereka mengamati waspada ngarai itu. Hermione yang berkata, "Dari mana ngarai ini? Ini jalan yang kita lewati tadi sore."

"Yeah, kalau begitu pasti baru tercipta. Jalan ini tikungan, di sampingnya adalah ngarai, pasti longsor memperluas ngarai yang sudah ada." kata Harry, meski agak ragu juga.

"Ini pasti tanah dan bebatuan, bukan salju di puncak gunung. Badai salju tidak membuat longsor." spekulasi Hermione.

"Sekarang kita tahu itu mungkin. Tak ada penjelasan rasional lagi."

"Kau tak melewati ini saat perjalanan pertamamu?" tanya Hermione, yang melihat Harry sama baru tahunya dengan dirinya. Rasa curiga datang pada gadis ini lagi.

"Tidak," sahut Harry pelan, tak menatap Hermione.

Gadis itu menarik bahu Harry, meminta dia bertatapan mata. "Kau tidak bohong?"

Harry berpaling lagi. "Tak pengaruh. Aku tetap berangkat denganmu, 'kan? Dan ngarai baru sial kita ini tetap ada."

Tidak kecuali dia yang ternyata mengelabui Hermione ke jalan yang salah. Atau dia yang meledakkan jalan dengan bom sebelum ini, membuat longsor jalan itu. Pikir Hermione mengada-ada.

"Aku pikir, aku tetap mau menyeberangi ini," kata Hermione.

"Kaupikir?" tanya Harry sedikit sinis, melalui gigi yang menggigil.

"Yeah, ini setimpal jika kita sudah sampai. Coba pikirkan?" Hermione memerhatikan Harry yang sepertinya memikirkan ide ekstrim itu.

"Apa boleh buat," gerutu Harry.

Hermione menunggu apa tindakannya, atau menunggu kalimat tersebut jika ada lanjutannya. Tapi tidak ada, Harry cuma diam mengawasi ngarai. Hermione bersuara, "Well, jika itu artinya kau setuju, jadilah lebih jantan dan jalan duluan, aku mengikuti kalau aman."

"Teganya." gerutu Harry lagi, mengambil langkah pertama menuruni ngarai. Dua langkah. Langkah ketiga membuat Hermione menahan napas, berpikir ini berbahaya, longsor susulan bisa terjadi kapan pun.

Harry berhenti dan mengulurkan tangan yang memegang senter ke belakang.

"Untuk apa itu?" tanya Hermione, menatap uluran tangan itu.

Harry menoleh. "Kau yang memintaku jadi lebih jantan, ambil senternya dan pegang tanganku. Aku belum mati, jadi ini masih aman."

Harry menggeleng, mungkin maksudnya tak habis pikir, sebab Hermione masih saja sempat menimbang apa konsekuensinya berpegangan tangan. Gadis itu akhirnya yang menyinari jalan, semua tangan kini penuh.

Tapi baru beberapa langkah, suara bergemuruh seperti ombak tsunami terbesar bergulung terdengar. Hermione menyentak, menarik tangan Harry mengisyaratkan berhenti. Senternya menyinari salju putih sepanjang sisi ngarai di seberang, serempak turun bergulung-gulung. Batang pohon cuma seperti ukuran ranting, longsor salju melahap apa pun seperti lava.

"Naik, naik!" kata Hermione berisik. Mereka kembali ke pinggir ngarai, menonton longsor di seberang. Ada hangat yang hilang ketika Hermione melepas tangan Harry.

"Sebentar lagi itu selesai," kata Harry, mengamati longsor.

Mata Hermione membelalak. "Apa maksudnya? Apa kau sudah gila? Kita tidak akan menyeberangi ngarai ini!"

Harry berbalik menghadapi Hermione, meminta maksud dari perubahan pikiran mendadak itu. Hermione melanjutkan, "Ini berbahaya, longsor itu muncul tiba-tiba dan kapan pun. Kita harus berpikir ulang."

"Berpikir ulang? Kau ini wanita Eskimo atau Yeti betina? Kalau kau tak lihat, aku membeku kedinginan berdiri di luar sini! Aku akan menunggu apa pun selama apa pun asal bukan di sini!" kata Harry kesal, rasanya ingin teriak saat giginya tak henti bergetar tanpa kendali, walau tahu getaran itu ikut mengatasi rasa kedinginan. "Kau yang bilang ini akan setimpal."

"Kalau kita terkubur hidup-hidup, kau bisa bilang apa?" tanya Hermione sama kedinginannya, Harry tak bisa bilang apa-apa. "Kita tak bisa lewat sini. Aku tak mau lewat sini... Menurutmu ada jalan lain?"

Harry melipat dan menarik tangannya di dada, berputar di tempat, mengamati jalanan dan hutan dengan pohon lebat mereka. "Aku pernah terpikir, dan kini berani bertaruh, menembus hutan itu kita bisa memotong jalan ke belakang pom bensin."

Dia menoleh pada Hermione, yang raut wajahnya skeptis. Ia juga berpikir begitu, ini seperti teorema Pythagoras dan suatu jalur di hutan adalah hipotenusanya. Tapi tak ada kesempatan merumus matematika di udara beku.

"Aku tak tahu. Aku—kita bisa tersesat begitu saja dalam hutan. Dan kita tak mau tersesat dalam suhu seperti ini." Dan ia pun merinding lagi.

Maka Harry bersaran, "Kita kembali ke mobil."

Hermione mengangguk, mereka tak ada pilihan selain bertahan sampai pagi. Sampai badai sirna, dan mungkin ada petugas pembersih salju atau siapa pun yang datang. Malam ini mereka terjebak.

Bisa jadi itu merupakan sebuah kemuskilan, padalah ketika mereka berbalik, berjalan menjauh, mereka tidak menjauhi ngarai mana pun. Karena tidak ada ngarai, jalan di belakang mereka cuma gelap, selebihnya mulus. Bagaikan ada fatamorgana yang mencegat.

Harry dan Hermione sempoyongan kembali dipenuhi pikiran mobil ada di depan, sebentar lagi, mobil ada di depan... tak sanggup mengobrol selama perjalanan balik. Rasanya menjadi jauh sekali. Ketika pikiran dipenuhi keadaan ini; percumanya berjalan hanya berakhir di ngarai, dan kembali ke mobil yang tanpa penghangat, tak bisa menjamin perlindungan, tanpa makanan. Pikiran mereka dibadaikan oleh tanda-tanda putus asa.

Paling tidak Oldsmobile mereka terlihat di depan, Harry meminta Hermione bergerak terus ke kursi belakang. Sementara Harry membuka bagasi belakang mobilnya bertahan melawan gigitan angin beku, dan menarik koper Hermione keluar. Membawanya masuk ke dalam mobil. Suasana berubah saat pintu tertutup.

"Geser sedikit," kata Harry, sambil menyodok koper Hermione ke kaki pemiliknya. Harry berputar ke belakang, mencabut kopernya sendiri keluar dari puing-puing, membawanya ke kursi depan.

"Pakaian pelapis," Dia menunjuk koper Hermione di jok belakang. "Benda yang bisa membuat kita tetap hangat. Jadi buang selera fashion, dan mulai lapisi tubuhmu dengan semua yang kaubawa."

"Tapi aku tak bawa apa pun," kata Hermione.

Harry mengangkat alis, mencondongkan tubuh di antara dua kursi depan dan melepas ritsleting koper Hermione di belakang dan melihat dengan mata kepala sendiri. Di sana cuma ada kado natal, kaos-kaos, celana ketat pendek, celana dalam wanita, Harry mengangkat bra.

"Oh, astaga," keluh Harry.

"Oh, maafkan aku," kata Hermione sarkastik sedikit tersinggung. "tapi siapa yang bisa bersiap-siap untuk keadaan seperti ini? Aku punya selemari pakaian musim dingin, hanya saja itu ada di Ryedale. Jadi ini tidak membuatku lebih palsu."

Harry balik ke posisinya di kursi depan, membuka kopernya sendiri, mengeluarkan kaos kaki Ragg, pulover lengan panjang, dan semuanya. Dia mendorong segenggam pakaian ke tangan Hermione tanpa kata-kata agar dipakainya melapis baju.

Lampu interior menyala. Mereka mengasingkan diri di kursi depan dan belakang untuk privasi selama mereka berganti pakaian. Bukan posisi yang mudah dalam keadaan seperempat kaku akibat luasnya tempat.

Hermione menyisakan bra dan celana dalam di tubuhnya dengan seserius mungkin, melapisinya dengan pakaian dalam Harry yang mengisolasi. Harry sendiri memakai baju dan celana yang menyedihkan di udara dingin, pun tidak cukup. Jelas sekali dia memberikan benda terhangat untuk Hermione. Dia juga mengambil kursi depan karena di sana lebih tak nyaman oleh gangguan perseneling dan lebih dingin akibat celah dari jendela.

Tepat mereka tuntas berpakaian, dia menjulurkan tangan dan mematikan lampu interior, berhemat. Mereka bersandar dalam biru kegelapan untuk beberapa waktu kesunyian, menyaksikan napas mereka yang menyebar di udara dingin.

Dari titik pemanas mobil mati, napas mereka selalu menguap lebih besar. Tak banyak beda dengan berada di luar.

Harry mendengar Hermione menghela napas, resah. Maka dia bertanya, "Ada apa?"

"Aku membeku. Aku tak bisa merasakan jemari kakiku." sahut Hermione.

"Sama."

Tidak banyak yang mereka bisa lakukan—atau yang bisa Harry lakukan untuk Hermione—tentang bekunya jemari kaki di sana. Mereka jatuh bungkam lagi.

Harry memulai usahanya lagi. "Kau tahu, ada satu cara yang lebih baik buat dua orang yang ingin menjaga panas tubuh-"

"Dream on." sela Hermione. Paham maksud licik Harry.

Tapi kau bisa lihat, ketika pikirannya dengan mudah melantur tentang berbagi panas tubuh bagi dua orang—dan tak banyak pilihan orang kedua di sini untuknya, akan bisa dilihat Hermione tersenyum samar dalam gelapnya kursi belakang.


...

Terima kasih sudah mampir membaca, dan para pereview yang tak sanggup saya sebutkan namanya satu-satu. Maaf lama walau padahal udah komplet. Tetap stay tuned! ^^b