Saya tak miliki Harry dan Hermione. JKR begitu. Ini semua cuma pengisi waktu luang. Enjoy... d^^b


9:07 p.m.

Mereka berbaring sadar dalam sunyi untuk ketukan tempo berirama yang lain. Selama itu Hermione terus mencoba mungkinnya berbagai posisi beda di kursi belakang mencari satu yang baginya ternyaman -

Akhirnya ia duduk.

"Ada apa?" kata Harry yang memerhatikan dari jok depan.

"Mau pipis," Hermione mulai memanjat ke kejengahan kursi depan tempat Harry berada, bermaksud pergi ke luar.

Lelaki itu meringis sedikit saat dadanya digunakan tangan Hermione untuk mengokohkan dirinya sendiri, memanjat ke atas Harry. Jengkel, dia mengatakannya, "Kenapa tidak melakukannya tadi saat kita di luar?"

"Karena dingin sekali di luar sana. Kita membicarakan soal massa udara arktika di luar Greenland." Hermione bilang.

"Tak ada bedanya, sekarang masih dingin di luar sana." balas Harry, menatap konyol Hermione.

"Yeah, tapi sekarang aku harus pergi. Janji jangan mengintip."

Hermione membuka pintu dan ia keluar ke dalam hawa dingin yang pahit. Membungkuk melawan deruan angin, ia bergerak sejauh mungkin dari mobil seberani nyalinya membawa. Ia melepas kancing dan ritsleting dari jeans, pakaian berlapisnya. Dengan berbalik punggung membelakangi mobil, maka ia berjongkok untuk buang air.

Gigi gadis tersebut bergetar selama ia menjalankan bisnisnya, satu mata sedang waspada mengawasi untuk menangkap kalau Harry mengintip.

Dan dengan tiba-tiba, keluar dari kesuraman - muncul setunggal sosok gelap, yang bergerak sangat dekat dengannya.

Hermione tercekat, napasnya tertahan. Bergumul untuk berdiri sambil bersusah payah menarik ke atas semua celana yang ia pakai - ketika lebih banyak lagi figur laki-laki dewasa menampakkan diri, menuju ke arah yang sama dengan figur pertama. Dan saat semua sosok itu memasuki hutan, sang pemimpin mereka berhenti, kemudian menoleh pada Hermione.

Ia menangkap sekilas wajah sosok itu yang tua, tidak luar biasa pada lirikan pertama terlepas sekitar mata sosok tua itu merah seperti bengkak tinju atau tangisan parah. Lalu secara instan, dengan begitu saja, wajah sosok itu berubah menjadi topeng kelabu kematian...

Mengerut, putih total, kecuali ketotalan hitam dua bola matanya...

Hermione berteriak.

Suara mengejutkan teriakan Hermione membawa Harry spontan langsung melonjak keluar dari dalam mobil. Mencari, menemukan Hermione si asal kekhawatiran. Dengan panik bertanya, "Apa? Apa yang terjadi?"

Tapi semua terjadi begitu cepat, bahkan Hermione tidak begitu percaya apa yang baru saja matanya lihat. Ia menggesturkan ke arak-arakan dari banyak sosok pria gelap yang hilang di depan. Masih dalam shock saat mengatakan, "A-apa kau lihat? - Mereka... mereka tepat di sini!"

Harry yang menangkap sekilas dari pergerakan yang digesturkan berseru, "Kenapa kau tak hentikan mereka? Mungkin mereka punya telepon!"

Dia langsung melonjak kembali ke Oldsmobile, memungut senter di laci dasbor. Menutup pintu Olds dengan pelan-pelan lagi, tanpa buang waktu langsung memulai pengejaran para sosok tadi.

Merasa ketakutan, Hermione memutuskan untuk mengikuti daripada tetap tinggal di mobil hanya sendirian, dituntun jejak Harry ke pinggir hutan.

Kedua anak muda sampai ke tempat itu - puncak jurang yang dalamnya hilang tiga puluh kaki ke bawah - di mana para sosok gelap tampaknya menuju. Namun hanya untuk menemukan tidak ada siapa pun di sana. Cuma terdengar dengungan aneh itu, nihil sama sekali suara malam.

"Ke mana mereka pergi?" Hermione menyuarakan situasi mereka.

"Di sana!" seru Harry, menunjuk pakai senter.

Hermione menoleh ke arah yang cahaya Harry tunjukkan, arah yang tidak akan dilihatnya pertama kali karena hampir mana mungkin. Tapi pada lereng hutan tepat di hadapan lereng jurang lokasi ia dan Harry berdiri adalah mereka - beberapa pria tua tinggi dalam jubah hitam serta topi fedora, bubar serempak ke dalam hutan. Seolah apa pun upacara suram yang membawa mereka ke jurang telah berakhir.

Harry yang tak melihat keanehan soal kecepatan menyeberangi jurang kelompok tua ini - atau dia tak mengacuhkan itu, memanggil lantang, "Hei! Sebentar! Kami butuh bantuan!"

Satu pun anggota pawai nampaknya tak ada yang menangkap suara Harry. Meski berpencar mulai jelas semua tetap bergerak ke satu arah.

Belajar lewat pengalaman - mungkin trauma, memanjat turun ke dalam jurang adalah usaha berbahaya. Memaksa mereka untuk berjalan kembali ke titik beberapa yard jauhnya di mana mereka bisa dengan aman mengikuti para sosok pria gelap memasuki hutan.

Keduanya terus didului cahaya terambung-ambung senter yang memimpin mereka melalui pepohonan tinggi nan lebat, dalam pengejaran para Pria Tua.

Lalu anehnya Harry tertinggal, berhenti di belakang pengejaran, terengah-engah.

"Seben-tar, aku - ambil-" Harry bersuara sambil membungkuk, tangan di lutut. Ibarat kena asma.

Hermione yang masih merasa ngeri pada perwujudan tolehan Pria Tua pertama, bilang, "Mungkin sebaiknya kita kembali ke mobil."

"Tidak!" Harry menolak ide tersebut. Mencoba sok kuat untuk diri tegak. "Pasti ada rumah atau semacamnya di sana. Tetaplah bergerak. Aku akan menyusul."

"Satu dari mereka melihatku, kami bertatapan, tapi dia tetap tidak peduli. Kurasa bukan ide bagus mengejar-ngejar mereka."

Harry berpikir terlepas segala keadaannya. Melihat Hermione yang memakai ekspresi polos memohon, dia menghela napas yang kasar. "Baiklah, kau yang kembali ke mobil. Aku tetap mengejar mereka, berharap saja mereka bisa menolong kita. Nanti kau akan kujemput."

Tidak ada pilihan banyak. Maka dengan segan Hermione mengatakan, "Oke." Dan ia berjalan susah payah kembali ke tempat semula, langkah kakinya semakin teredam saat menjauh, hingga akhirnya pudar total.

Harry sendirian sekarang. Dia cuma bergerak untuk bersandar pada pohon, masih mengontrol napasnya. Lalu seperti paru-parunya bocor dia meringis sangat kesakitan. Harry menahan rasa nyeri hingga untuk sesaat sepertinya dia akan jatuh pingsan. Tapi kemudian dia hanya batuk keras, berdahak, dan meludah ke salju murni.

Darah, adalah sesuatu yang jatuh di salju.

Harry tidak banyak terkejut, tidak juga banyak melakukan hal lain. Kendati dia masih terengah, dia mencoba melanjutkan pendakiannya, pengejaran. Terbiasa oleh rasa sakit.

Selang beberapa saat dia berhenti lagi sebentar untuk melihat sekitarnya - masih tak ada tanda dari para Pria Tua. Memanggil setiap dia merasa kuat, seolah mereka sedang menguji kesabarannya, "Halo? Halo!"

Perjalanan mendaki yang berat membawa Harry tiba di puncak bukit, berbayang hitam akibat langit malam, dan tiada pohon. Kilau sinar senternya menemukan beberapa objek vertikal arkisme di depan, masih sanggup berdiri.

Itu sebuah reruntuhan bangunan.

Tanpa jendela, genting yang jarang, dan lama dibiarkan terlantar. Langit-langit dan dinding luarnya terbentuk di sekitar cerobong asap batu yang besar. Dia berjalan masuk dan mengamati perut hitam dari lebarnya satu perapian batu, sekarang diisi oleh sampah dan daun-daun mati.

Cahaya senternya menemukan pintu besi kecil dibangun di sebelah cerobong asap - semacam laci perapian. Harry maju, dia berlutut di salju dan menyentak pintu besi kecil itu terbuka. Dengan giat menyelipkan tangan masuk ke dalam laci perapian. Meraba, lalu menarik sebundel koran tua yang lusuh.

Harry mengantongi itu ke depan jaketnya tanpa membaca terlebih dulu, melanjutkan menggeledah di sekitar laci perapian. Saat tak menemukan hal lain dia mau bangkit, dan saat mencobanya lagi-lagi dia meringis kesakitan, satu tangan menekan sisi tubuhnya.

Dia mengambil napas perlahan sampai rasa sakit menyurut. Dia berputar badan pelan-pelan sekali. Senternya menyapu interior reruntuhan yang ditinggalkan si pemilik. Sinarnya mendarat pada apa yang terlihat seperti ranting. Harry mengernyit, itu bukan ranting sama sekali. Dia mendekat - TANGAN MANUSIA.

Membeku benar-benar kaku dan berbilur biru, dengan bentuk jari seperti cakar yang berkeadaan meraih langit-langit, berasal dari mayat meng-es. Itu berbaring pada ranjang besi polos, bentuk terakhir mulut dan gigi bagai mangapan buaya yang mengerikan, untaian air beku menjulur dari hidung, dari jari yang mirip cakar, sampai mata terbelalaknya.

Harry begitu terkejut sampai dia hampir saja menjatuhkan senternya. Cahaya itu jadi tidak patuh, terombang-ambing dan menemukan mayat beku lain di ranjang yang cuma selangkah darinya; seringai mangapan buaya lainnya, jari mirip cakar yang terlihat seperti ingin meraih jaket Harry. Dan mayat lain. Dan yang lainnya lagi. Harry dikepung. Semua mayat Pria Tua.

Seluruhnya mati membeku dalam kondisi kelabakan mereka, serupa dengan mayat-mayat dari kota terkubur Pompeii dengan pengecualian ladu Vesuvius bersuhu minus 750°C. Satu dari ranjang Harry dapati kosong, dia menyapukan binar senter ke sisi lain dan menemukan si penghuni ranjang kosong; sama membekunya dengan yang lain, duduk kaku di sebuah kursi roda antik.

Melotot mata ke mata dengannya...

Harry terhuyung dalam horor, mundur lalu tersandung sesuatu, senter jatuh ketika dia terlentang. Dia membenarkan diri, merenggut senter kembali ke atas dan dengan super siaga menyinari balik ke arah para mayat beku.

Dan tak melihat apa pun.

Tak ada ranjang. Nihil adanya tangan yang meraih. Tak ada satu pun Pria Tua.

Cuma jejak kakinya di atas permukaan salju...

.

.

Hermione muncul dari balik pohon, setelah pilihannya untuk kembali ke mobil karena tidak yakin mereka mengejar orang yang tepat - di samping ia juga takut. Matanya cuma tertuju pada Olds yang tertutup, dan tepat ketika ia meraih tangkai pintu ia termegap; sebuah figur lain langsung muncul dari kegelapan.

Itu adalah Orang Asing berkulit hitam yang sebelumnya pernah lewat - dan menghilang. Melangkah tergopoh dan komat-kamit, kini orang itu cukup dekat untuk Hermione menangkap kata yang Orang Asing gumamkan, "Tolong, pak opsir, tolong jangan..."

"Tunggu!" panggil Hermione, setelah mendengar kata-kata yang tidak jahat. Bertekad untuk takkan membiarkan orang itu menghilang lagi begitu saja.

Hermione bergerak mengejar, datang ke sebelahnya dan menjaga langkah sampai sama dengan langkah tergopoh Orang Asing yang turun ke tengah jalan sambil terus menggerutu diulang-ulang, "...jangan membuangku ke sungai..."

Sesaat Hermione melirik ke bawah, melihat alasan kenapa orang ini berjalan dengan sangat ganjil. Pergelangan kaki di atas sepatu basah totalnya terikat mati dengan kawat pagar, demikian pula pergelangan tangannya. Bagaikan budak kerja rodi yang terjaga tetap tersiksa selama bekerja. Hermione mual, terkejut, menutup mulutnya sebentar.

"Ya, Tuhan, siapa yang melakukan ini padamu?" tanya ia ngeri.

"Tolong, pak opsir, ambil saja semua minuman itu dan lepaskan aku..."

Hermione yang tidak mengerti apa arti semua itu, hanya mengerti ia ingin mencoba menghentikan Orang Asing ini mengabaikannya. Berbarengan ketika tangannya mendekati tubuh orang di depannya angin langsung meraung menulikan.

Dan tepat ketika Hermione menyentuhkan ujung tangannya ke bahu Orang Asing, dengan begitu tak terduga, jarinya yang melakukan kontak terlempar. Mengalami sentakan yang begitu kuat, persis sama seumpama ia menggenggam kabel listrik hidup.

Hanya bukannya panas listrik, ia merasakan dingin gaib - bagai tidak mungkin ada di dunia ini, dan itu sangat menyakiti jarinya.

Hermione meringis, melihat ujung tangannya yang mendadak terluka - radang dingin.

Sentakan itu ternyata juga mendiamkan Orang Asing dari keadaan linglungnya, dan untuk pertama kalinya sadar akan keberadaan Hermione. Dia berbalik badan, mengangkat matanya yang ketakutan perlahan-lahan, dan akhirnya itu menunjukkan wajah Orang Asing ini.

Jeritan terbentuk di tenggorokan Hermione oleh bentuk wajah Orang Asing. Mukanya pucat tanpa darah, menggembung, dan bengkak oleh pembusukan.

Lalu sebuah kumuran berlumpur datang dari dalam leher busuknya dan mulutnya bergerak ganjil, seperti berusaha untuk bicara tapi mustahil bisa. Kemudian bukan kata yang muncul, tenggorokan orang itu mendadak menonjol besar.

Sesuatu di dalam sana - antara leher dan tengkuk, sedang bertarung demi menemukan jalan keluar melalui kerongkongan orang asing tersebut. Hermione terpaku menyaksikan dalam kengerian saat itu muncul, buta dan menggeliat-geliat seperti lintah penuh darah. Memaksa jalan keluar melalui bibir Orang Asing, jatuh ke salju di kakinya dengan sebuah gedebuk becek. Itu terletak di sana menggeliat pada salju segar;

Belut sungai. Keluar dari mulut.

Hermione menjerit.

.

.

Harry berlari menjauh seperti orang buta menembus hutan, sinar senter terlempar kabur dan mengguncang bayang-bayang dari pepohonan. Sepatu botnya berbunyi alot di permukaan salju, napasnya keluar menggebu. Jika pun ada penghuni hutan, mereka cuma menonton Harry dengan khidmat dan takzim.

Dia berhenti, bobrok oleh rasa sakit, dan terus bertambah sampai tangan harus berada di lututnya untuk mengatur napas. Dan dalam kesunyian dia mendengar teriakan Hermione berembus dari depan. Harry hanya berdiri lagi, dan meski masih terengah, dia mulai berlari kembali - kini sprint.

Harry muncul dari pinggir hutan masih mengantongi koran yang dia temukan, pada waktu Hermione menjadi pucat pasi oleh keterkejutan dan berteriak. Dia meraih bahu Hermione, mengguncang gadis itu.

"Tidak apa-apa! Kau baik-baik saja! Hei, tidak apa-apa." Harry berupaya menenangkan.

Berhenti shock, teriakan Hermione berubah menjadi sedu sedan, napasnya berat. "Kau dari mana saja?"

"Aku mencari para laki-laki tua tadi. Aku tak temukan siapa pun," Harry menjadi ragu pada memori pengalamannya. Tapi masih belum akan membagi ketakutan- "tidak ada siapa pun di atas sana. Ada apa, apa yang terjadi? Apa kaulihat seseorang?"

"Aku - ada laki-laki - yang pernah kubilang-" baru akan mulai menceritakan pada Harry, lalu ia berhenti, tidak yakin kalau ia sendiri percaya.

Harry pindah memerhatikan tubuh Hermione, memastikan apa benar ia baik-baik saja. Tiba-tiba dia sadar akan bagian sarung tangan gadis ini yang menghitam, berlubang akibat rusak. Ujung telapak tangannya telanjang dan melepuh. Dia mengambil tangan Hermione, dengan giat memeriksanya. Empunya tangan meringis sakit, Harry terkejut.

"Apa yang terjadi padamu? Ini seperti, astaga... ini radang dingin!" ucapnya, ikut ngeri setelah Hermione begini.

"Aku cuma coba... menyentuhnya, itu terbakar dan..." kata Hermione menggigil nyeri.

Harry berpaling dari radang dingin Hermione, melihat ke kegelapan sunyi yang berdiri membentang oleh kepadatan pohon, mengelilingi mereka. Keduanya bertukar tatapan pemikiran sejenis.

"Ayo kita masuk ke mobil..." kata Harry. Hermione setuju.

Mereka kembali ke arah Oldsmobile yang terdampar. Di bawah jalan sana, tak mereka sadari di mana sesuatu bergerak lemah di bawah bubuk salju segar, itu nyata. -Belut sungai, yang keluar dari mulut Orang Asing, sekarat menuju kematiannya.

Mereka memanjat masuk, Harry mengeluarkan koran tua dari jaketnya, melempar itu ke dasbor. Hermione menarik pintu penumpang menutup. Plester pipa yang dipasang Hermione sudah lama lepas, mempersilakan angin dingin masuk melalui celah jendela yang macet.

Hermione menyadari koran di dasbor, ia memungutnya. "Dari mana ini?"

"Ada reruntuhan rumah tua atau semacam itu di dalam hutan," jawab Harry.

"Oh, berikan plesternya." Ia menunjuk bendanya di dekat Harry.

Dia menyerahkan itu padanya, dan Hermione mulai menggunakan plester untuk menempelkan koran tua, guna menyegel angin tetap di luar tidak masuk. Bukan berarti selesai itu dingin di dalam mobil drastis mengurang.

Ide itu muncul di kepala mereka. Hingga tercipta kediaman canggung yang menggoda untuk saling melirik beberapa detik, sampai Harry bilang, "Istirahatlah. Aku akan di-" dia hanya langsung memanjat ke jok belakang.

"Tunggu," kata Hermione lembut, mencegah Harry pindah ke belakang. Gadis itu menatapnya di mata, terlalu malu untuk menyetujui ide Harry sebelum ini, terlalu malu meminta pemuda itu agar memeluknya - dalam artian menjaga panas tubuh.

Cuma sesaat bagi Harry buat segera paham, jelas mengangguk setuju. Kemudian Hermione merangkak ke atas Harry, mereka bergelut, berdesakan di kursi pengemudi, mencari posisi terbaik serta ternyaman mereka dalam rangka menjaga suhu badan.

Kecanggungan apa pun yang ada dengan kilat berembus pergi. Keduanya sama-sama terlentang dengan Harry di bawah, mereka hanya terbaring bersatu seperti itu. Lama sekali, karena mereka terlalu takut untuk terlelap tidur.

...

Waduh, abis serem-sereman malah peluk-pelukan... dasar anak muda. Terima kasih sudah mampir membaca. Tetap stay tune! ^^b