Me owned nothing. JKR does. Enjoy... ^^
11:17 p.m.
Harry dan Hermione tetap terjaga, tak lebih karena sangat mengabaikan jam tubuh mereka. Mata mereka berat bertanda ini jam tidur bagi siapa pun yang kelelahan, yang kedinginan. Dan siapa pun yang berada di pelukan orang lain.
Si pemuda memeluk sang gadis menjadi selimut, mendengarkan suara pelan radio mobil memainkan musik natal yang baru bertransisi ke lagu Rockin' Around the Christmas Tree punya Brenda Lee. Kembali merasakan gerakan disengaja dari Hermione, Harry bersuara, "Apa kau masih terjaga?"
Gigi Hermione mengeretak cepat, ia mengatupkan rahang kuat-kuat. "Uh-huh. Tidak mau tertidur."
Harry diam sebentar. "Kenapa?"
"Karena aku takut tidak akan bangun. Menurutku itu yang terjadi, mereka juga bilang begitu. Ketika kau mati kedinginan, itu seperti tertidur." jelas Hermione, tidak pernah sejujur itu mengakui ketakutan dirinya pada orang lain.
Sepertinya Harry mengerti bahwa 'mereka' yang dimaksud Hermione bukan setan yang mati kedinginan, sebab dia berkata, belum sekalipun pernah lebih bijak lagi dibanding ini macam filsuf legendaris;
"Banyak cara yang lebih buruk untuk meninggal."
KNOK-KNOK-KNOK!
Harry bukan berharap, dia pasrah jika ini waktunya - waktu mereka. Tapi skenario ditulis lain, saat Harry merela, justru suara yang seperti pertolongan datang... Ada seseorang di luar, mengetuk jendela Oldsmobile.
Mereka berdua terlompat duduk, kaget. Harry menengadah ke kaca spion di tengah interior, melihat sebuah lampu kepala dari mobil lain di belakang mereka. Cahaya-cahaya merah yang berputar membawa ingatan Harry pada waktu sepupunya yang main-main dengan narkotika digelandang pergi ke Skoda bersirene.
"Polisi!" serunya.
Hermione mengengkol turun jendela sisi penumpang, seret akibat meng-es. Melihat seorang petugas patroli yang berbayang hitam berdiri tepat sekaki di luar. Petugas itu umuran paruh baya, mengenakan seragam potongan pas dan topi patroli bertepi kaku. Suaranya syok wibawa, "Semua baik-baik saja di sini?"
Kedua anak muda seperti mendapat izin bicara dan suara mereka meniban suara yang satunya, seperti berebutan, tak peduli karena diliputi kelegaan melihat seorang petugas patroli.
"Thank God! Sir, Anda tak tahu seberapa leganya kami melihat Anda..." kata Hermione.
Disusul Harry, "Anda takkan percaya apa yang sudah terjadi..."
"Ada sebuah ngarai yang terbentuk dari longsor akibat badai salju atau sesuatu di belakang sana..."
"Kami terjebak oleh karena itu..."
Hermione mengangguk-angguk.
Si polisi mendengar tanpa berkomentar, menyinari senternya ke seluruh bagian interior mobil. "Mengalami masalah mobil, ah?"
"Seseorang membuat kami keluar jalur." kata Hermione gesit.
Sepersekian detik saat ia bicara kalimat itu, si polisi memindahkan sinar senternya tertuju tepat hanya ke mata Hermione, kemudian bersabda, "Dilarang parkir di sini."
Ada kedramatisan tertegun. Harry tak sabar, jengkel. "Apa yang Anda bicarakan? Kami bukan parkir. Apa Anda tak dengar yang ia katakan? Seseorang membuat kami keluar-"
"Tentu saja aku punya kuasa untuk bersedia membebaskan kalian hanya dengan peringatan kali ini," Petugas Patroli menyela Harry dengan nyaman. "itu jika kita bisa mulai melakukan beberapa kesepakatan..."
Harry yang sangat cepat muak dengan laki-laki seperti itu, sudah enek bersikap sopan. Apa orang-orang seperti itu harus dibenci dulu, apa dia tak bisa lihat Hermione di sini nyaris menderita? "Oi, pak opsir, apa sebenarnya yang kaubic-"
Hermione, lebih cepat paham daripada Harry, menggenggam lengan tangan Harry. Dia berhenti setengah mati, gadis itu berbisik padanya, "Ini pasti pemerasan. Dia mungkin berpartner dengan orang yang membuat kita keluar jalur. Tidak akan mengejutkan kalau dia juga punya rencana dengan truk penarik yang mungkin dia panggil."
Harry menatap tajam Hermione, berkata dalam bisikan murka, "Menurutmu semua ini jebakan? Sialan, dia bisa membunuh kita!"
Namun Hermione sudah mengambil uang dari dompetnya sendiri. Berbisik dengan nada mendesak, "Berapa banyak uang yang kaukantongi sekarang?"
Harry mengamati gadis itu dengan tidak percaya. Melihat bahwa Hermione bertingkah serius, Harry berbisik penuh konspirasi, "Hei, dengarkan; Dia cuma sendiri, kita berdua. Kalau kau juga setuju berpikir dia itu polisi korup, aku bisa saja menghajarnya. Kita punya linggis ini."
Hermione berhenti, gantian ia yang menatap tidak percaya. "Apa kau serius bilang begitu?"
"Kau hanya perlu mengizinkanku," bisik Harry begitu percaya diri. Melihat tatapan pesimis dari Hermione tambahan dia adalah; "kakinya, aku cuma akan incar kakinya. Itu tidak membunuh."
Hermione termegap tak habis pikir. "Oke, kau sudah gila. Aku setuju dia jahat, tapi ditilik bagaimanapun dia itu polisi, mereka bisa memutar balik fakta dibanding acara gosip sampai hacker lebih parah jika mau!" Harry cuma sanggup mengangkat bahu. "Sekarang jika kau tak mau patungan terserah, tapi tetap berikan uangmu dan pegang janjiku akan kuganti setelah dia mengeluarkan kita."
Harry membuat suara berkersak, campuran antara kesal, menyerah, dan tak sabar. Mengambil uang dari dompetnya sendiri dan mulai bergerak melangkahi Hermione untuk keluar mobil bertransaksi... Sebelum Hermione menghentikannya.
"Berapa kali bicara-manis dengan gayamu berhasil mendapat tiket lebih cepat?" tanya Hermione retoris.
Harry mengakui maksud Hermione dengan diam, kala tiba hari ketika Harry merayu, penjaga tiket seribu persen akan tertawa terbahak-bahak dulu sebelum mengusirnya. Jangankan pemilik sewa apartemen, boro-boro polisi korup. Apalagi seorang gadis primadona naaaan aduhai. Itu memang hidupnya yang tak seorang pun mau mengerti, tapi Harry telah sanggup menertawakan itu.
Hermione mengambil berlembar-lembar uang dari tangan Harry. Membuka pintu, ia keluar dari mobil yang terjebak ke pelukan malam yang sangat, sangat dingin. Petugas polisi sabar menunggu, menghadap belakang ke cahaya silau bak lampu tembak dari pemborosan lampu kepala mobil patroli.
Hermione menutup pintu Oldsmobile, langsung merasakan seperti memindahkan Harry ke bagian lain bumi, tidak bersama dirinya. Ia berjalan ke arah Petugas Patroli, mendapati dia sedang mengusap tengkuk lehernya dengan sapu tangan.
"Ini semua yang kami miliki." kata Hermione bertekanan.
"Ini cuaca hebat yang UK miliki." sahut si polisi.
Hermione menebak-nebak mungkin maksudnya badai malam ini. "Ya, hawanya sampai meresap ke tulang," Ia menunjukkan uang di tangannya, jumlah yang cukup untuk mereka berpesta akan keberhasilan menjebak dua anak kuliahan. "Jadi apa menurut Anda? Bagaimana dengan sedikit semangat natal di sini, please?"
Masih memunggungi Hermione, balasan polisi itu masih tetap tidak menyambung, dan kini adalah; "Kau tahu, ini termasuk trayek yang buruk. Semua jenis masalah terjadi di sini... Anak-anak balapan drift liar; para negro yang mengangkut minuman keras menyeberangi batas kota; pengemudi wanita kecelakaan; tak siapa pun yang mendengar kabar mereka lagi..."
Firasat buruk Hermione mulai berkibar. Ini bukan jenis polisi yang pernah ia ajak transaksi jika temannya punya masalah di titik berpolisi. Ia menengok dengan khawatir ke belakang pada arah Oldsmobile. Rasanya berharap-harap pada sesuatu yang masih jauh dalam perjalanan untuk menolong. Menoleh balik ia memelas,
"Kami hanya ingin pergi dari sini, jadi jika Anda bisa tinggal ambil saja-" Hermione menyodorkan uang lagi dan lagi...
...namun Petugas Patroli sama sekali tak menghiraukan uang itu. "Biar kuberitahu dirimu," ucapnya bergeming. "Aku sudah melihat banyak kematian di jalanan ini..."
Selain itu polisi itu cuma melepas topinya agar bisa mengusap alis dan keningnya. Saat dia berbalik, rata-ratanya Hermione mendapat pandangan bagus pertama dari wajah si polisi; tampan tapi keras, dengan mata ular-bengis-pemesona yang menatap balik padanya. "Kau beruntung aku datang saat aku mau... Jadi, kenapa kita tidak masuk saja ke mobilku?"
Hermione ketakutan sekarang. Ia melihat melampaui si polisi ke mobil patroli yang terparkir dalam udara merah asal uap knalpot. Dirinya dituntun mundur. "Em, aku pikir aku hanya akan kembali ke-"
"KAU TIDAK KEMBALI KE MANA PUN!" raung Petugas Patroli, mendadak total.
Hermione terperanjat seperti ditampar keras dalam kegelapgulitaan, terlalu takut untuk menguraikan arti kalimat raungan tadi. Ia melanjutkan mundur sampai ia tertahan oleh bagasi mobil Olds. Merengek dengan jelas, "Tidak."
Karena Petugas Patroli maju mendekati Hermione, dan tiba-tiba ketika si polisi menangkap pandangan dari sesuatu di atas bukit di belakang Hermione seketika itu langkahnya terhenti. Hermione menoleh lewat bahunya melihat apa yang Petugas Patroli lihat;
Sebuah cahaya pada puncak bukit, di mana reruntuhan yang berdiri sedang berkobar dijajah api. Serta masih lebih ganjil lagi, terdapat setunggal figur gelap mirip anggota parade para Pria Tua sebelumnya yang berdiri cukup dekat; Satu orang lain sedang menyaksikan...
Si polisi meredup, marah oleh penonton yang tak diharapkan ini. Wajah Petugas Patroli itu berubah sangar, ledak amukan bangkit dalam dirinya hingga membuatnya gemetar sekujur tubuh. Dia meletakkan tangan ke gagang revolver tugasnya, berkata pada Hermione dalam geram rendah penuh urgensi, "Masuk ke dalam mobil patroli!"
Hermione tetap menolak, meronta, sampai ia ditarik paksa untuk berjalan, didorong ke arah mobil patroli di depannya. Sepatu bot Petugas Patroli membuat keriutan di belakangnya. Lampu kepala mobil patroli menyilaukan, ia menuju pada mereka membuat penglihatan hampir juling, seakan-akan bergerak turun ke terowongan cahaya.
Hermione sungguh ketakutan, tak terpungkiri ia mulai menangis. "Tolong... biarkan saja kami pergi..."
"Lekas! Kita sedang diperhatikan!" suruh si polisi kasar.
Hermione memohon. "Tapi kami tak melakukan apa pun! Tolonglah, kami tak akan bilang siapapun jika Anda membiarkan kami-"
"Kutunjukkan satu tempat yang nyaman buat kita-" mata polisi berubah terisi nafsu. "-untuk melewati malam dalam udara dingin."
Hermione tak bisa jalan menjauh, terhalang badan mobil. Tangan polisi patroli terangkat, akan mengawali meraba tubuh-
"MENYINGKIR DARINYA, ASSHOLE!"
Harry sudah di belakang mereka, Hermione melihat kilasan saat pemuda itu mengenggam linggisnya sekuat tenaga. Emosinya meledak dan hanya langsung mengayunkan linggis itu dalam setengah putaran mematikan ke satu sisi tengkorak Petugas Patroli...
Bunyinya bak tabrakan besi...
Dalam berbagai ilusi yang pernah alam semesta tunjukkan, tengkorak polisi mengisut terus menciut ke arah dalam. Ekspresi marah si polisi mendadak putus-putus, seperti proyektor hologram film mengalami selip - oleh ketika dua dunia yang harusnya tak pernah bersinggungan, ternyata terjadi, dengan dahsyat, dengan menyakitkan...
...secara instan, wajah Petugas Patroli hangus terbakar. Bagaikan balon kempis wajah manusia diproyeksi di atas kebakaran. Disertai gambar digital yang berkelap-kelip- -Lalu bersama raungan pemecah indera segalanya...
...dengan terguncang dan mendadak, Harry dan Hermione duduk tegak di dalam mobil,
kembali ke kursi belakang...
Seolah-olah pemegang remote menekan reset...
Hermione tercenung. Kehabisan udara. "Apa yang... di luar sana...?"
"Aku tidak tahu." jawab Harry, napas tersendat.
Hermione sendiri tidak yakin. "Tapi apa itu memang benar terjadi? Atau cuma-"
Lalu Harry meringis kesakitan. Hermione menunduk dan melihat kedua tangan Harry - radang dingin, dengan linggisnya masih tergenggam kuat. Hermione menyentuhnya, mencoba melepaskan itu dari telapak tangan Harry yang menghitam, berdarah. Dan Harry tercekat dalam kesengsaraan, linggisnya tidak mau lepas, menempel keras.
"Oh, ya, Tuhan. Ok, bertahan." Hermione mengambil botol plastik minum, menuangkan airnya pada telapak tangan itu untuk berusaha menghancurkan segel di antara kulit yang melebur dengan metal. Ia meneruskan, "Ok, bertahan. Ini akan menyakitkan."
"Lakukan." suara Harry tegang tapi tak gentar.
Hermione melawan refleks kemualannya sendiri saat menarik perlahan, bertekanan linggis itu bebas. Benda tersebut lepas dengan beberapa carikan-carikan hitam dan panjang dari kulit mati Harry yang ikut tersemat. Telapak tangannya terkoyak dan berdarah.
Harry bertarung dalam rangka membuat dirinya tetap bertahan selama Hermione melayaninya. Rasa sakitnya parah sekali hingga membawa air matanya terbentuk. Gigi Harry berkeretuk kuat, keseimbangan berada di bibir jurang shock.
"Separah apa?" kata Harry, mengalihkan diri dari rasa sakit.
"Radang dingin, tingkat kedua sampai ketiga." Hermione menyahut.
"Bagaimana kau tahu? Kau mengambil kursus pertolongan pertama atau sesuatu?"
"Ikut kamp ski, tingkat tujuh," ia berpaling, agak malu karena main jujur. "Jangan melucu. Apa lagi yang kaupilih saat kau sebelas tahun dan orang tuamu maniak ski?"
Ia merangkak kembali ke pelukan Harry di kursi belakang. Tanpa laki-laki itu duga, Hermione dengan terampil mengangkat sweater pelapisnya untuk mengekspos perut mulusnya. Melihat tingkah itu Harry mengerang, berkata dengan lemah, kegeeran, "Oh, aku tidak lagi dalam selera sekarang..."
"Kita harus menghangatkan kembali tanganmu," sahut Hermione. "saat ini ada kristal es dalam darahmu. Jika kita tidak segera perbaiki sirkulasinya kau bisa kehilangan jari."
Ia mengambil tangan beradang dingin Harry, dengan giat sesanggup mungkin menekan telapak mereka ke kulit hangat dari perutnya sendiri. Seperti mengukus pai dalam baju. Mereka berbaring seperti itu dalam keheningan selama beberapa menit, wajah sekadar dua senti terpisah.
Hermione menghela napas beruap. "Apa yang baru terjadi di luar sana?"
"Apa maksudmu? Kau juga ada di sana." sahut Harry.
"Aku tahu, tapi siapa polisi itu? Semuanya seperti semenit ada... ada senjata api ke kepalaku kemudian semua cahaya mati dan dia hilang, seperti, seperti-"
"Hantu." usul Harry.
Pikiran Hermione yang lebih cepat menebak dibanding mulutnya sudah memikirkan kemungkinan itu, tapi ketika mendengarnya matanya terputus dalam mata Harry, mulanya ragu-ragu, dan langsung menentang ide tersebut. "Tidak."
"Ya. Dan para Pria Tua yang kita kejar-"
"Bukan." bantah Hermione batu.
"Lalu apa? Bagaimana kau jelaskan tanganmu yang-"
"Aku tak tahu! Ini gila, ini irasional, aku tidak mungkin terlibat dalam pembicaraan ini."
"Kau mengalaminya. Membicarakannya ataupun tidak." tekan Harry.
"Aku tidak mau!"
"Kau tidak berpikir kalau aku mau membicarakan ini, 'kan? Astaga, aku sama takutnya dengan apa yang terjadi sama sepertimu. Tapi harus kita akui, karena suka atau tidak, ini terjadi..."
Hermione berhenti, tak lagi mendebat, menerima ide itu bahkan justru bertanya, "Lalu bagaimana kita menghentikannya?"
"Entahlah. Mereka tidak menyinggung ini di isi Philosophy 101." kata Harry, seperti berbicara tentang kiat memperbaiki ledeng rusak.
Menuangkan ide tentang soal yang padahal tidak akan disinggungnya dalam diskusi semabuk apa pun, Hermione menanyakan, "Bagaimana dengan buku di belakang?"
"Buku apa?"
Hermione tidak butuh mengingat. "Tibetan Book of the Dead."
"Oh itu... itu bukan buku pedoman cara melakukan sesuatu. Itu panduan bersiap datang kematian atau menjelang maut penganut Buddha di abad kedelapan."
"Kau memiliki kopian penganut Buddha?" tanya Hermione, penasaran.
Harry mengernyitkan hidung sebagai ganti menggaruk kepala karena tak ingin memindahkan satu pun tangannya, menyingkirkan peristiwa petugas patroli dengan mudah. "Itu yang dilakukan orang yang mengambil Eastern Religion."
"Huh, di sana mudah dapat A juga?" ledek Hermione.
Harry bahkan sudah nyengir sekelebat. Berkata, "Kau mulai memahamiku."
"Gampang," Hermione diam beberapa saat. Kemudian seperti terdengar putus asa oleh rasa dingin yang membekukan, dengan makhluk itu di luar, dan malam yang masih panjang serta tanpa perlindungan selain pemuda yang memeluknya... "Ya, Tuhan, kenapa ini terjadi pada kita?"
Untuk sesaat sepertinya Harry tak punya jawaban seperti saat Hermione berkata Nietzsche meninggal karena sipilis, mereka berada dalam kesunyian yang mulai akrab di kulit keduanya, namun selanjutnya Harry menjawab, "Mungkin untuk menguji kita."
Hermione diam seribu bahasa. Takkan ada yang bisa membantah ketika kalimat itu datang dari seorang yang saat satu tahun orang tua tewas kecelakaan, lalu tumbuh dengan pengalaman yang tak mungkin berkesan di rumah bibi dan pamannya. "Yeah, kita mendapat ujian di dunia," kata Hermione pelan, diam lagi, lalu penasaran, "Apa alasanmu menjawab seperti itu? Itu bukan kalimat umum, kau tahu, di film-film."
"Well, jika kau mengerti kehidupan punyaku selama ini, pemahaman itu mencegahku putus asa. Mencegahku berbuat hal buruk. Para Muslim bilang ini menguji kesabaran, kunci kehidupan. Mereka punya gambaran keren tentang keberadaan kita - manusia, sampai bisa disalahgunakan..." Dengan tangan di perut Hermione, Harry meneruskan, "Argh, aku bisa merasakan perutmu keroncongan."
Hermione senang pengalihan topik itu, akan malu sendiri jika mendengar kesalahan dari orang yang terpantas membuat kesalahan. "Aku tahu. God, aku akan memberikan apa pun untuk beberapa Carr's crackers sekarang..." Mengingat itu, ia mencoba melepas pikirannya dan Harry dari situasi suram. "Jadi apa lagi yang ada di bungkusan grosir yang kulupakan?"
"Erm, coba lihat... Ada duck liver paté dengan jamur," sebut Harry.
"Oh, tidak." Hermione benar-benar merasa sial.
"Beberapa zaitun, jenis biasa dan beberapa yang hitam-kecil-berkeriput," lanjut Harry. "Sebotol anggur putih."
"Mmmm..."
"Dan untuk pencuci mulut, anisette biscotti dengan setermos espresso." tuntas Harry.
Hermione menutup matanya, mengimajinasikan makan malam yang harusnya terjadi. "Itu. Benar-benar. Sangat persis. Adalah makanan yang kupesan pada hari terakhirku di bumi. Aku bersumpah demi Tuhan, jika kita bisa keluar dari sini aku akan-"
Andai mereka bisa keluar dari sini...
Hermione berhenti, air mata lolos menuruni pipinya, dua tangan langsung melindungi kedua matanya. Tidak terbiasa untuk menguatkan hatinya sendiri.
Harry mencoba terdengar optimistis. "Tidak terlalu lama sampai terbit subuh. Lalu seseorang yang berkeliling akan datang. Pembajak salju atau semacam mereka. Iya 'kan?"
"Bagaimana tanganmu?" tanya Hermione parau. Mengalihkan perasaan.
"Erh, mulai terbakar."
"Itu bagus. Itu berarti sirkulasinya kembali."
Harry meringis kecil, begitu dibicarakan justru nyerinya terasa. "Yeah, tapi yang kumaksud betul-betul terbakar..."
Mengerti bagaimana nyeri penyembuhan radang dingin akibat menekan bagian tubuh pada besi yang melebur di titik beku, apalagi besi tersebut diayun dengan daya home run, Hermione berkata, "Sebentar, aku punya beberapa aspirin berkodein dalam dompetku."
Hermione bangkit dari pelukan Harry menuju kursi depan mencari ke dalam dompetnya untuk resep botolnya. Oleh miskinnya cahaya lampu interior dan tanpa lensa kontak, Hermione mendapat kesulitan menemukannya. Dengan kekurangan itu ia menyentuh kacamata, dan dengan sedikit malu ia pun memakainya. Menimbang-nimbang kembali memang apa risihnya memakainya, sekarang masalah itu nampak konyol.
"Apa yang membuat lama, sus'?" panggil Harry.
"Aku cuma..." Ia mengambil botol aspirinnya.
Waktu sekitar ingin memanjat balik saat sesuatu tertangkap matanya dari koran tua yang ditemukan Harry, digunakan untuk menambal celah di jendela kanan depan;... Di sana ada potret pudar dari sekelompok pendeta-pendeta tua, berkumpul di sekitar bentuk hancur Ford Crown Vic. Hermione mengenal satu dari mereka, pria tua yang pernah menoleh lewat bahu padanya, sebagai pemimpin dari upacara misterius para figur gelap sebelumnya.
"Ya, Tuhan, aku pikir aku tahu siapa pria tua kita... dulunya." kata Hermione mengamati koran lebih lama.
Di bawah potret tentang kecelakaan ada bagian foto buku tahunan SMA dari dua remaja berambut cepak dan jaket baseball dengan logo tim - The Ramrods. Ke seberang di puncak kertas terdapat sobekan berita kepalanya; 'Remaja Mapperley Tewas Dalam Kecelakaan Mobil' Dan di bawah itu adalah; 'Pelatih Ramrods Berdukacita Karena Kehilangan'
Hermione membaca sekolom kalimat, "...pertama tiba pada tempat kejadian adalah para pendeta katolik Roma dari St. Alexander bagi Pensiunan Pastor..."
"Pendeta?" Harry yang saksama terkejut. Mendadak, lampu interor padam, membuat Hermione terlonjak kaget. Ia meraih dan menepuk lampu itu sampai kembali mengedip hidup.
Melanjutkan bacaan, "...mendengar tabrakan di dekat Excite Alley 066, mereka dengan berani menempuh cuaca buruk untuk mengurus upacara terakhir..."
"Itu pasti yang kita lihat mereka lakukan." bilang Harry lagi.
Hermione membaca skimming, berusaha mengumpulkan sedikit lebih banyak informasi. "...juga tewasnya Petugas Patroli Negara saat- ...dilanjutkan ke halaman tujuh..."
Ia membolak-balik pojok halaman koran yang rapuh. Dan menemukan tidak ada halaman tujuh.
Gigi Harry kini beradu seperti jarum mesin jahit. Masih nyeri saat dengan tenang memanggil, "Kau mendapat aspirinnya?"
"Datang." balas Hermione.
Ia meletakkan kacamata dan bergerak kembali ke kursi belakang, menyuapi Harry dua aspirin dengan beberapa tegukan air botol. Lalu kembali berbaring di dalam pelukan Harry, mengambil tangan yang beradang dingin, menaruh mereka di tempat sama seperti sebelumnya.
"Kita harus berbagi giliran menjaga. Dalam kasus kalau dia kembali datang." saran Hermione.
Dengan kelopak mata berat, Harry menjawab, "Ok."
Sangat disadari atau memang Hermione sensitif, ia berusul kedua kali, "Kau tidur duluan. Aku jaga pertama."
Sementara Harry, berbekal banyak luka dan keletihan, raganya pun mulai menghanyut tertidur.
...
Terima kasih sudah mampir membaca. Tetap stay tune! ^^b
