Malam masih panjang. Dengan ini tinggal tiga capter lagi. Tetap stay tune...
Saya tidak punyai JKR. JKR punyai Harry & Hermione. Harry & Hermione punyai saya. Enjoy... d^^b
2:32 a.m.
Kedua mahasiswa dan mahasiswi bernama Harry dan Hermione tertidur di kursi belakang. Ide jaga bergilir kabur secepat pencuri. Sang gadis terlalu mengantuk, sangat lelah dan kedinginan untuk tetap terjaga, atau sekadar membangun memberitahukan Harry untuk bertukar giliran jaga. Di sana, tak bisa dipungkir mereka tidur sangat pulas dalam dekapan yang satunya.
Hermione bermimpi... dilihat dari bola matanya yang berputar mengelana di balik kelopaknya yang tertutup. Dan dengan setengah mendadak ia pun tersentak kecil, kesemua matanya menjeblak terbuka dalam kegelapan.
Merinding.
Ia ternyata terbangun oleh aliran udara beku yang menggelitik hingga menggaruk bagian kulitnya yang telanjang. Ia menggigil kembali, kemudian duduk, memerdekakan diri dari tangan-tangan Harry yang siapa masih turut mendengkur pelan di sebelah Hermione dalam keseadaannya kursi belakang.
Ia menemukan lokasi sumber aliran udara ini, berasal dari jendela kanan depan yang macet, koran-berplester sebagai tambalan sudah lepas, menggantung pada bagian pojok yang terjepit suatu tepi pintu, tak menempel lagi. Terus-menerus merinding terutama ketika embusan keras angin menyeruakkan beberapa butir salju masuk.
Hermione memungut gulungan plester pipa di lantai Oldsmobile, memanjat ke depan, menarik lepas carikan plester baru rangka mengganti yang lama. Ia meratakan itu pada tempatnya, sementara gigi berkemeretuk di antara kuapan.
Lalu radio begitu saja terjepret menyala dengan sendirinya bersama kilat-kilatan para tombol dan tuning. Membawa suara dari Brenda Lee bernyanyi sejelas siaran langsung, "Rockin' around, the christmas tree, at the christ-mas par-ty hop-"
Hermione mematung.
Matanya kukuh terpaku pada cahaya di balik tombol radio ketika lagu berlanjut,
"Mistletoe hung where you can see
Ev'ry couple tries to STOP-" mati, radio itu berhenti di tengah lagu.
Hermione tetap diam, kaku, takut untuk ingat ia sanggup bergerak, atau bahkan ia masih bisa bernapas.
Matanya lalu tertuju ke langit-langit, pada kala lampu interior yang mati, mulai berkelap-kelip dalam kedipan statis yang lebih cocok dengan kode Morse dibanding disebabkan oleh kendurnya kabel.
Setelah lima detik itu padam.
Bunyi detik tiba-tiba timbul pelan-pelan, lamat-lamat oleh jam dasbor yang harusnya rusak.
Hermione mengintip-intip dari tempatnya berada, melihat ke luar jendela bagian belakang, bertanya-tanya di mana mobil patrolinya berada.
""PRANG!""
Yang mana ketika dua buah tinju bersarung tangan menghancurkan jendela di balik punggung Hermione dan mengangkat, menarik gadis tersebut hingga menendang-nendang dan berteriak keluar dari Oldsmobile...
...untuk masuk ke dalam kegerahan sebuah malam musim panas tahun 1958, empat satu tahun lalu.
Dan yang mengikuti merupakan gambaran brutal dan bentuk-bentuk halusinasi, aura skema yang membawa Hermione ke dalam sudut pandang seorang wanita pirang seumuran dirinya, di dalam momen terakhir hidup wanita pirang ini.
Seraknya bunyian jangkrik di sekitar puncak pohon-pohon serta pepojokan akar, berkumandang dan menjelma jadi satu-satunya musik tema dari penyerangan.
Melihat ke kaki mereka, satu berhak tinggi dan lainnya bot, melangkah dua kali dengan keras menyakitkan saat Petugas Patroli menyeret paksa wanita pirang ini sepanjang bahu jalan berkerikil.
Tetap hanya sejengkal dalam genggamannya saat ia ditarik pada bagian leher dan perutnya oleh si polisi ke mobil patrolinya.
Bulat bulan purnama muncul ditopang puncak empat pohon, menjadi penonton tak memihak persoal penganiayaan yang terjadi dalam trayek sepi dan kesepian di bawah langitnya.
Wanita Pirang itu terpojok, lemas dan tak punya daya, tanpa pertolongan. Sudut mulut Petugas Patroli berkedut dalam nafsu saat dia membisikkan sesuatu yang cabul yang tak sanggup Hermione dengar ke telinga Wanita Pirang. Pantomim gaya iblis.
Tangan kanan polisi kali ini berusaha membuat sebuah jalur ke mulut wanita malang itu, memaksa ibu jari gemuk berbulunya di antara bibir wanita pirang ini, demi membuat ia mengisap benda itu.
Dari bawah rataan tanah Hermione merasakan ketika bot kanan si polisi menendang kedua kaki wanita pirang itu terpisah, dan lalu memosisikan diri ke tengah-tengah mereka.
Dan akhirnya tepi topi patrolinya menengadah saat makhluk bejat itu mendongak dan tatapannya murka oleh akibat keterkejutan yang dia terima. Kemudian bersutan Petugas Patroli semakin mengental berubah ke bentuk ekspresi kejam oleh penampakan di atas sana.
Sama seperti yang Hermione alami sebelumnya.
Sebuah figur hitam seorang Pria Tua - adalah salah satu pendeta - menyaksikan dengan tegap dingin seluruh kejadian, perbuatan dan dosa dari puncak bukit, tersadar akan keributan di jalan di bawah sana...
...dan polisi bejat itu dengan begitu kesal mengungkit terbuka pintu belakang mobil patroli, melempar wanita pirang masuk, membanting pintunya kembali tertutup.
Dia melemparkan delik memperingati ke arah sosok berbayang hitam di puncak bukit, tatapan itu bagai mengecam si pendeta bahwa ini tak pernah terjadi dan, "Don't fuck with me!"
Lalu dia naik ke belakang kemudi setir mobil patrolinya. Dan dengan Wanita Pirang yang sekarat di kursi belakang akibat benturan di kepala yang terterima saat dilempar masuk, Petugas Patroli itu pun beranjak pergi...
.
...fokus ke wajah Hermione tepat saat matanya menjepret terbuka dan ia melonjak bangun duduk dengan tegak di kursi belakang.
Membuang kepanikan keluar dari Harry.
"Thank God!" seru Harry. "Kau tadi seperti mengalami kerasukan atau sesuat-"
Dia tidak cukup cepat untuk menyelesaikan kalimatnya - Mata Hermione berputar ke balik kepalanya dan gadis tersebut roboh lagi, seolah cuma tercabut dari alam bawah sadar dan sekarang ia kembali.
Hermione sekarang membuat kegaduhan yang sangat kacau sampai ia terpeleset ke batas kursi belakang. Ia kejang-kejang, seluruh anggota badannya berontak dan menggelepar, kakinya menendang-nendang jendela, meski tak mengepal tangannya menampar-nampar, dan sebagainya.
Harry dibuat kalang kabut. Dia mencoba segalanya untuk membangunkan Hermione, segala yang masuk akal sehatnya saat itu; dari mengguncang pundak Hermione, sampai menampar keras wajahnya.
Tapi itu tidak berguna. Mimpi buruk mengurung Hermione lagi.
Harry mundur, duduk kembali, tanpa pertolongan dia hanya bisa melihat, takkan tahu harus berbuat apa selain berdoa berharap dan menunggu.
Tiba-tiba radio terjepret menyala begitu saja di tengah lagu, menakuti Harry hingga terjangkar.
Brenda Lee menyanyi dengan jelasnya, "You will get a sen-ti-men-tal fee-ling when you hear... Voice singing, 'Let's be jolly, DECK the halls with boughs of holly...'"
Jendela belakang Olds berbinar disebabkan oleh lampu kepala yang mendekat dari mobil patroli, cahaya derasnya membanjiri interior Oldsmobile dengan merah.
Harry sendirian, sekarang harus melawan dan melindungi ketika mata Hermione menjadi gila di dalam pola R.E.M.-
.
...dan Hermione balik lagi ke tahun 1958.
Seri dari bentuk halusinasi gambaran-gambaran dan kali ini ia melihat tubuh tidak bernyawa si wanita pirang - tanpa sepatu, pakaian terkoyak - diseret ke balik semak belukar dan disingkirkan ke dalam bagian hutan yang terpencil.
Si Petugas Patroli dengan darah dingin menendang dedaunan dan kotoran menutupi mayat pirang itu, lalu pergi begitu saja.
.
Radio Oldsmobile masih menyiarkan pertengahan Rockin' Around the Christmas Tree.
Harry yang di samping tubuh kejang-kejang Hermione menjaga gadis ini dari apa pun, mendengar krunch-krunch dari langkah sepatu bot si polisi pada salju di luar, memutari Olds yang tertimbun salju. Bergerak penuh sinkronisasi bersama lagu yang selalu menyertainya.
Tiba-tiba katup lubang angin di dasbor terbuka secara simultan. Embusan supernatural dengan dingin gaib menyeruak masuk, mirip dengan napas es Old Man Winter itu sendiri. Embun putih beku menyebar dengan interval yang tipis, sangat ribut cepatnya melalui ventilasi, melintasi dasbor, memenuhi interior.
Harry berjuang maju ke depan, menampar katup ventilasi tertutup. Lalu mulai menyobek plester pipa guna menurap lubang angin menjaga hawa dingin maut tetap di luar.
Sementara itu, mimpi yang dialami Hermione menjadi lebih menyakitkan dan lebih sengit...
.
- Malam yang lain, korban yang lain. Hermione mendapat penglihatan dari Orang Asing berkulit hitam memelas demi nyawanya, saat pergelangan tangan dan kakinya dijerat dengan kencang menggunakan kawat pagar oleh polisi yang sama.
Tidak menghiraukan Orang Asing yang memohon ampun hingga depresi, si polisi menggeret bagian jeratan di pergelangan tangan dan memasuki hutan, lalu dengan penuh keji mendorong korban ke bawah pada lereng licin berlumpur.
Wajah Orang Asing tercebur tertelungkup hidung di bawah pada sungai kecil yang dangkal, tapi tidak ada untungnya kalau tak bisa bergerak...
.
- Dan Hermione akhirnya muncul ke permukaan mimpi seperti keluar dari air, dengan tarikan napas besar yang menghabiskan udara di dalam mobil, mata liar oleh rasa takut. Hanya untuk sadar ia menemukan dirinya bangun dari mimpi buruk.
Hermione melihat situasi apa yang tak mau dilewatinya; Interior mobil dipenuhi cahaya merah. Brenda Lee menyanyi. Harry bilang syukur dengan panik di kursi depan.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, ia berpikir pasti ia pulas sekali.
"Itu dia! Cepat! Bantu!" seru Harry.
Hermione ikut memanjat ke depan guna menolong Harry yang dengan gelisah menambal katup ventilasi, bahkan menggunakan punggungnya hingga dia menggigil setengah mati, semua sebelum Hermione ikut menurap. Tak membiarkan segram pun udara gaib masuk.
Satu bayangan bergerak melewati jendela penahan angin dan Hermione terperanjat - Saat bayangan lain berkelebat kabur lewat jendela belakang Harry menahan napas - Penyerangan datang sekaligus dan dari segala penjuru sekarang.
Dasar kekuatan polisi seperti badai itu sendiri. Meluncur di bawah mobil suatu ketika, selanjutnya menyeberangi atap mobil. Bahkan muncul - dengan mustahilnya, dengan mayanya - di dalam tembok salju yang memblok pintu kiri pengemudi.
Semua benda sampai elektronik dalam mobil mulai aktif di luar kegilaan. Pin pengunci pintu naik turun, lampu interior berkelap-kelip, jarum jam dasbor berputar liar, wiper penahan angin menyapu balik dan seterusnya, semua dengan sendirinya...
Lalu semua berhenti sekejap.
Bahkan radio mati.
Kesunyian maut untuk sejenak.
Kemudian suara bawah kaki dari lari terbirit-birit yang ganjil terdengar, sesuatu merayap pergi sepanjang kolong sasis. Harry duduk di sana terpaku dalam kesiagaan, terlalu takut untuk bergerak, untuk bahkan bernapas.
Demikian juga Hermione, duduk gelisah, menyaksikan napasnya di udara beku. Nihil dan tak ada yang bisa ia atau Harry perbuat untuk melawan makhluk di luar kecuali bertahan. Matanya mengeluyur ke mana saja dan ketika tiba di spion tengah, wajah biru mayat bayi menatap balik padanya dari birai jendela belakang.
Hermione berayun setengah putaran, berbalik melihat langsung ke jendela. Tapi tak ada apa pun di sana.
Ia berusaha menormalkan diri, menjejal ketenangan ke sela jantung dan paru-parunya. Harry memerhatikannya dengan khawatir. Tidak yakin dengan inderanya sendiri, Hermione menggeleng sebagai jawaban. Menghela napas perlahan sekali.
Hening total.
Mendadak suara lari terbirit di luar muncul kembali dan menabrakkan diri ke badan mobil, meledak menjadi serangan yang memuncak, menimbulkan suara dentuman metal yang terkoyak. Makhluk di luar kini memartil bagian kap mobil, pintu, jendela, bagasi.
Hingga mobil mereka bergerak dari sisi ke sisi kala menerima kengerian dari kerasnya guncangan yang melempar kedua anak muda teraduk dan bergelimpangan seperti serpihan plastik dalam snow globe.
Radio menjepret hidup kembali tepat pada bagian solo saxophone dari lagu Brenda Lee, diiringi oleh gemerincing nyaring dan rintihan baja yang terbelah hancur saat makhluk berada di bawah sasis seperti merenggut tangki bahan bakar, menyentak radiator di depan, menarik jalur rem dan handle dari pintunya. Segala upaya perusakan.
"Rockin' around, the christmas tree,
Have a happy hol-i-day-"
Hermione menyekap masing-masing telinganya dengan tangan supaya meredam lantangnya amukan polisi itu menyerangi mobil. Keberangan terus tumbuh dan tumbuh sampai tak bisa lagi dibedakan antara deruan badai yang juga ada di luar. Itu menit terlama hidup mereka.
Muncul entah dari mana - penyerang bertambah, decit mengilukan tangan-tangan bercakar mencakari plat, dan setelah beribu derau bisik mendesah dalam bahasa lelembut, bahkan retakan metal akibat mahadingin super... Serangan berhenti.
Cahaya merah polisi di jendela belakang pudar.
Meninggalkan mereka duduk dalam kegelapan dan ketertegunan sunyi.
Semenit.
Lima menit bungkam.
Hampir segalanya kembali sedia kala, sampai nihil tanda yang jika mereka menasbihkan peristiwa ini tak dijuluki haus sensasi. Nyaris mendesah kehabisan napas, Hermione berbisik, "Apa yang terjadi?"
"Aku pikir... dia pergi. Kurasa waktu dia tak berhasil masuk dia menyerah," Harry tiba-tiba membuat seringaian kaku. "Kukatakan padamu Olds '88 ini dibentuk mirip tank!"
Dia berputar di jok depan dan mencondongkan diri untuk memukul kedua tinjunya ke jendela belakang. Dengan kelegaan yang gugup dia berteriak, "HAH! Lain kali pilih orang yang membawa Hyundai!"
Hermione membekap tangannya menutupi mulut Harry. "Shhh! Dari mana kau tahu ini bukan tipuan! Dia bisa saja masih di luar menunggu-"
Harry menarik telapak tangan Hermione dari mulutnya dan menyela, "Dia tidak! Dengar?"
Mereka duduk dalam kebungkaman, menyaksamakan indera dengar, namun cuma menangkap derau angin. Harry mengangguk dengan cengiran khasnya, seakan berkata, iya 'kan?
"Tapi bagaimana jika dia kembali?" tanya Hermione.
"Kita cuma harus tetap dalam mobil sampai pagi. Lalu kita akan selamat. Tidak lebih dari, sekitar, beberapa jam lebih... Seseorang akan datang tepat saat matahari muncul, seseorang yang manusia maksudku." nadanya yakin sekali. "Kira-kira kau bisa bertahan sampai saat itu?"
Hermione malu. "Dan kalau, kau tahu, kita harus pipis?"
"Kita bisa gunakan botol air yang kosong. Jadi mulai sekarang, jok belakang menjadi kamar mandi campuran. Terdengar seperti rencana?"
Terdengar seperti rencana, pikir Hermione tak membantah. Berpaling.
Setelah beberapa saat, Harry berkata, "Kenapa kau tak coba untuk tidur barang sebentar? Aku ambil giliran jaga."
Hermione menggeleng-gelengkan kepala, matanya penuh rasa ngeri. "Aku tidak mau tidur."
Harry mengangguk diam, sudah mengerti.
Jadi mereka hanya duduk bercangkung di kursi depan, menatap salju yang menutupi seluruh titik jendela depan, diam karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Kalaupun mau cuma ada topik tentang berbagi ketakutan.
Namun sepertinya Hermione tahu apa yang mau ia lakukan, setelah sunyi, tanpa kata-kata atau apa pun ia hanya langsung merangkak ke dekat Harry. Pemuda itu pun cuma menerima saat Hermione memilih memulai penungguan mereka yang sangat lama menuju jemputan pagi hari dengan berada di dekapan terdalam Harry.
Semoga tak tertidur.
