Disclaimer: JKR miliki semua karekter (di sini) yang berinisial H. Saya milik orang tua saya, tak miliki apa pun. Enjoy... ^^


5:43 a.m.

Psikologi Hermione sebagai manusia umum yang berada dalam situasi ini, termasuk nyalinya, telah pudar. Ia sudah bertahan satu jam lebih.

Tapi saat ini pintu mobil dibuka dan Hermione mundur keluar, mengangkut tubuh tak bernyawa ditarik olehnya. Wajah gadis itu merah padam, air mata menggenang dan tercoreng-moreng. Menangis-nangisi ucapan, "Maaf... Maaf... Maafkan aku..."

Ia berusaha keras menggerakkan bobot tubuh mati Harry. Hingga ia terpeleset di petak es dan Harry terlepas, menyeimbangkan dirinya sendiri pada pintu yang terbuka.

Membenarkan diri, ia mencoba memegang jenazah itu di bawah ketiak, menarik dengan seluruh energinya. Menyeret itu beberapa yard menjauh dari Oldsmobile. Tumit bot Harry membajak jalur kembar di salju.

Dan di belakang mereka, gravitasi menarik pintu mobil yang berat sampai menutup dengan suara tumpul.

Di luar dugaan kaki Hermione hilang lagi dari bawahnya saat itu menginjak kepingan es. Ia jatuh pada bagian belakangnya, terlentang memandang butir-butir yang muncul dari angkasa. Duduk di sana sebentar...

...saat lampu kepala muncul dari cakrawala yang gelap.

Kita sadar lebih dulu. Hermione belum menyadari itu, ia seperti mengalami out-of-body, tak sadar dunia nyatanya - bahwa si polisi datang...

Ketika mengerling sekilas ke datangnya lampu kepala lewat pojok matanya, kepala Hermione memutar perlahan ke arah sana. Dan itu instan untuk lima detik penuh otak pintarnya seperti hampir tak memproses.

Lalu matanya meluap penuh teror, Hermione mengeluarkan rengekan kecil, lalu berjingkrak, beraksi. Mencoba berdiri dan ia berlari edan menuju Oldsmobile - hanya untuk melihat bahwa pintunya tertutup dan meski ia menyentak gagangnya, pintu itu sudah tersangkut.

Ia merenggut gagang itu semakin kuat, jiwa rapuhnya sekarang berubah kalut.

Lampu kepala kian terang, menimpa Hermione, saat ini cukup dekat hingga sanggup terdengar gemuruh mesin yang datang.

Hermione menendang pintu Olds, menarik-narik paksa dengan semua kuasanya, mengguncang-guncang bahu mobil namun tiada yang menyukseskan pembukaan jalan ke tempat perlindungan.

Lampu kepala kian menyilaukan... Dan gemuruh bencana makin menciutkan hati... Mendadak, ada bunyian pedal rem ditekan, dan lampu kepalanya pun lambat laun redup, berhenti di tengah jalan hanya beberapa yard dari tempat Hermione berdiri berpertahanan kosong.

Gadis tersebut hanya dapat memerisai mata dengan tangan diangkat. Tapi ia berhasil melihat kendaraan yang datang ini, yang membuatnya lemas adalah - itu bukan mobil patroli polisi.

Itu bajak salju, yang dijanjikan Harry.

Pengemudinya yang tak memiliki keserasian antara mata hangatnya dan wajahnya yang awut-awutan dilapis oleh rambut, mengeluarkan kepala lewat jendela. Dia dipanggil Hagrid.

Dan Hagrid berkata pada Hermione, "Kalian anak-anak baik-baik 'aja?"

Hermione tertegun terlalu akut untuk menyahut, bahkan untuk bernapas. Tapi ia dapat perasaan kalau pembajak salju itu orang baik...

Hagrid mempunyai penampilan seperti orang desa masuk kota yang berbadan sehat, berpakaian seperti guru outbound SMA dalam acara perburuan. Dia tipe pria yang dianggap remeh dari air wajahnya, namun siapa pun takkan sadar, bahkan Hagrid-nya sendiri, kalau dia sudah telak mengalahkan orang banyak.

Dia dan Hermione memindahkan tubuh tanpa-nyawa Harry ke kursi belakang bajak salju sesaat kemudian. Di dalam mobil bajak dengan amat disyukuri hangat. Di panel dasbor, GPS dan radio CB - sistem komunikasi radio jarak pendek - menyala seperti pernak-pernik pohon pinus pada tanggal 25 Desember.

Ketika Hagrid memeriksa rantai roda depan, memutari pengeruk salju di depan mobil berbentuk mirip tameng kotak cekung... Hermione cuma memerhatikan Harry.

Hagrid naik ke balik kemudi, memberi Hermione pandangan bersimpati. Lalu mengangkat mikrofon radio CB, dinyalakan dan memanggil, "Pusat, masuk."

Kersak kecil, dan suara dari radio pusat menjawab, "Silakan."

"Aku ada di lokasi laporan kecelakaan di jalan 066. Satu dari dua orang tak behasil selamat. Aku akan bawa yang satunya lurus langsung ke departemen trauma di Clifton Boul'vard." kabari Hagrid.

"Copy that."

Selesai laporan, Hagrid pun memasukkan gir bajak salju dan berkendara pergi. Hermione melirik ke spion sayap, mengamati Olds yang terkubur salju mundur semakin jauh. Dan itu pun lenyap dari penglihatan spion. Seakan lupa sejak tadi... Hermione menarik napas.

Bajak salju terus menjelajah maju, pastinya sudah jauh, tameng baja di depan mobil mengeruk, melempar es dan salju ke samping-samping kendaraan. Hermione menatap kosong keluar jendela depan, menatap kosong salju yang teraduk di sinar lampu kepala.

Sementara Hagrid menciptakan obrolan kecil untuk menutupi waktu perjalanan mereka. "Udah betaun-taun tejadi banyak kecelakaan tragis di trayek ini. Waktuku muda, ada sekluarga bekendara dari Birming'am ditmukan di sini, keadaannya beku solid."

Tiba-tiba, Hermione mendapat penglihatan tiga jenazah biru duduk dalam kecelakaan mobil. Ibu, Ayah, Balita. Mulut mereka menganga beku dalam teriakan sunyi. Seperti jadi es dengan instan.

Hermione mengerjap. Kembali...

...Saat Hagrid menggeleng-gelengkan kepala akan memori menakutkan itu. "Pemadam kebakaran harus nyiram mereka dengan air panas slama dua jam dulu agar cukup lunak untuk ngeluarkan orang-orang itu. Aku masih ingat saat balik masuk sekolah nyebar rumor-rumor konyol, katanya kalau kau bekendara pada malam tanpa bulan di jalanan ini lalu kau ngeliat lewat spion tengah, kau 'kan liat bayi mati menatapmu dari kursi blakang."

Hermione mengernyit pada bagian ini, ingat oleh yang dialami ia sebelumnya, wajah biru balita yang diceritakan.

Lalu Hagrid meneruskan, "Tentu aja itu dipakai anak-anak buat nge-drift karena trayek ini sepi. Tapi liat 'kan, liat..." Hagrid mengetuk-ngetuk jari gemuknya ke spion. Hermione mendongak dan tak melihat balita apa pun. Tapi ia sadar kalau malam ini bulan bersinar.

"Rumor ya rumor..." lanjut Hagrid. "Aku lewat sini sering. Dan natal aku kerja di sini, ya begini, buat jalan pintas untuk orang yang melintasi negeri, sejam hemat lurus langsung ke Derbyshire... Aku ikut berduka untuk temanmu, seandainya aku tahu ada kalian di sini lebih awal... Hari Natal aku menginap di Pyre-Oh, ke'tahu, pom bensin di sana..."

Hermione yang menyahut seadanya kini merengut. "Kau bisa melewati ngarai-nya?"

Hagrid bertanya-tanya. "Ngarai yang mana?"

"Di tengah jalan, memutus jalan. Baru ada karena longsor." kata Hermione kuat.

Hagrid semakin tak mengerti, tapi kemudian dia mengartikan ini keadaan trauma Hermione. "Masa? Aku tak lewat bekas longsoran mana pun. Tapi kalau maksudmu ngarai di pinggir jalan... banyak."

Hermione tak menyahut lagi. Ia memang tak habis pikir dengan semua kejadian yang dialami, tapi dari pengakuan supir bajak ini apa bahkan mereka sampai dijebak oleh ilusi ngarai... "Lalu bagaimana kejadian soal reruntuhan di atas bukit? Rumah pensiunan untuk pendeta tua?"

"Cerita tragis," kata Hagrid getir. "Musim dingin tahun '61. Mereka semuanya ditemukan mati membeku dalam ranjang mereka."

- Para pendeta tua terbaring tak bergerak dalam pembaringan mereka. Wajah-wajah membeku dalam mangapan topeng biru kematian...

Hermione mengerjap lagi. Kembali.

Mata Hagrid sesaat juling ke arah horizon dengan kabut kelam di depan. "Pasti uap pabrik mulai lagi atau sesuatu..."

Hermione memproses peristiwa tersebut. Ia sudah curiga kalau itu sebenarnya bukan sesederhana keluarnya asap pabrik.

Hagrid meneruskan, "Liat, sebetulnya tak ada misteri besar di balik knapa ini jadi smacam trayek yang buruk buat pengemudi. Kau dapati kabut asap rendah yang teperangkap di antara lembah, ngurangi jarak liat buat-"

Terangnya lampu kepala muncul dari keremangan prasubuh.

"Siapa lagi yang ngemudi di kekacauan ini?" geram Hagrid, mendelik, tangan besarnya diangkat menamengi mata.

Namun pandangan takut melintas, singgah pada ekspresi Hermione. Ini deja vu. Gadis itu tahu.

"Pasti itu Tom. Satu-satunya yang kukenal tinggal di luar sini," kata Hagrid, meraih mik CB, menombol sakelarnya, dan berkata pada mikrofon, "Tom, 'pa itu kau?"

"Itu bukan Tom." kata Hermione lelah.

Hagrid menolehi gadis itu bingung tepat ketika lampu kepala polisi patroli yang mendekat lebih benderang.

Hermione dengan tenang mengaitkan dirinya ke sabuk pengaman.

Mobil patroli menderu turun ke tengah jalur truk pikap, jarak antara dua kendaraan dengan cepat kian rapat. Permainan adu nyali sekali lagi tiba ke point of no return.

Mereka berdua menyaksikan lampu kepala yang memendek jarak.

Hagrid tak tahu siapa yang di depan, dan tahu itu bukan Tom. Dan juga tahu dia ditantang adu nyali. "Apa b'cah tolol nekat itu tak sadar bajak ini jauh 'bih besar darinya? Mana mungkin dia menang aduan ini!"

Hagrid meletuskan klakson, menggertak, tapi lampu kepala itu cuma tetap menutup jarak.

Hermione bersiap untuk tubrukan. Memalingkan wajah, cuma menutup mata.

Dan saat terakhir yang masih memungkinkan nyatanya Hagrid yang membanting keras setir ke kanan.

Bajak salju mengesot di luar kontrol, perisai bajaknya mengiris salju dan es sampai bahan metalnya menggesek aspal kerikil, menyembur-semburkan percikan.

Mobil patroli '50-an itu menikung ke arah yang berlawanan, kejadiannya, si polisi di belakang kemudi juga turut membanting setir.

Bajak salju melambung berkat lewat gundukan salju, dengan laju yang cepat itu bersalto sekali, masa-masa roda berada di atas...

Di dalam mobil hidup jungkir balik, jasad Harry terlempar nyaris keluar dari jendela depan yang pecah menuju kap.

Mobil patroli menyelip jatuh dari pinggir jalan dan keluar dari penglihatan, menabrak dengan suara keras di suatu tempat dalam kegelapan ngarai...

...saat bajak salju akhirnya berhenti di atas rodanya.

Bajak-salju-rusak berakhir di bibir jurang tempat mobil patroli menghilang. Terdapat rintihan logam engsel waktu pintu supir bajak dibuka dan Hagrid, pusing namun tanpa luka, memanjat keluar.

Yang membuat dia banting setir pada saat terakhir, dia menyadari yang dihadapinya adalah polisi.

Hagrid mengamati ke ngarai suram di bawah, di mana dapat didengar sayup-sayup radio mobil patroli memainkan Rockin' Around the Christmas Tree. Dia memanggil seru, "Betahan, pak opsir, saya datang!"

Lalu Hagrid memulai jalannya menuruni ngarai.

Hermione sadar dari keadaan pusingnya sehabis kecelakaan. Melihat tubuh Harry yang terlempar ke jendela penahan angin, Hermione menariknya kembali masuk ke tempat duduk di sebelahnya.

Ia mendongak saat itu untuk melihat keluar jendela depan; Hagrid berjalan menuruni tebing curam, licin, yang ditaburi dedaunan dan es - Mata Hermione membesar saat ia mengetahui ke mana Hagrid menuju.

"Jangan!" serunya, terbatuk, melucuti sabuk pengaman, lalu mendorong pintunya terbuka, keluar.

Ini instan ketika ia memasang kaki di luar ia jelas berhenti mati-matian, aliran darah pergi dari wajah dan ia terbelalak jauh lebih luas, dalam ketakpercayaan, terpesona soal kengerian...

Sekelilingnya menampilkan bentang darat yang Hermione kenal terlalu baik:

- Oldsmobile '88 yang terdampar.

- Tiang telepon yang ia panjat.

Mereka tak beranjak ke mana pun... Hagrid tidak mengemudi sejauh waktu mereka yang terlewat, tidak mengemudi sejauh perasaan mereka.

Tak ada waktu memecahkan teka-teki ini. Suara Hagrid yang turun tebing menggerakkan Hermione beraksi. Ia mengejar ke tebing bersalju curam setelah Hagrid, yang kini cukup jauh di bawah untuk keluar dari jangkauan mata.

Hermione sambil turun, memanggil ngeri, "Setop! Jangan ke bawah sana!"

Dengan mendadak dedaunan yang licin hadir di bawah kakinya dan ia terpeleset. Mendarat keras dan merosot duduk sepanjang sisa perjalanan turun. Ia baru berhenti 30 kaki di bawah yaitu dasar jurang, di samping Hagrid yang terkaget. Dan juga bersama mobil patroli.

Benda itu berakhir dengan kap atap berada di bawah salju dasar ngarai, keempat roda dan sasis menghadap udara. Terlihat seperti kumbang terbalik.

Sesuatu bergerak di kursi depannya. Dan Hagrid memanggil ulang Petugas Patroli yang terjebak, "Bertahan, pak opsir! Kami akan segera mengeluarkan Anda!"

"Jangan!" Hermione menyentak tangan Hagrid, menyetopnya terus maju. "Jangan mendekat ke sana!"

Hagrid kebingungan di antara reaksi paniknya melukai seorang polisi. "Apa? Kita harus kluarkan dia dari sana..."

Asap terbang dari tangki bensin mobil, muncul api kecil, membakar.

"Tak pengaruh! Dia sudah mati!" seru Hermione.

"Apa sbenarnya yang kaubicarakan?" sahut Hagrid, mengamati Hermione seolah ia sudah gila.

Di dalam mobil yang terbalik, Petugas Patroli memperjuangi kebebasan. Topinya yang lepas mengapung dalam air penuh es yang membanjiri isi mobil, mengancam radio akan terendam yang kukuh memainkan lagu natal 57 tahun silam yang sama. Rockin' Around the Christmas Tree...

Meskipun tersangkut dengan mobil terbalik dan dalam luka-luka dari kecelakaan yang diderita, si polisi itu terkekeh-kekeh atas keadaannya. Membuat Hermione sadar polisi tersebut mabuk... Di selang perjuangan polisi untuk bebas... dia berpaling ke arah Hagrid dan Hermione. Geram,

"Harusnya tahu kalian hering-hering akan datang."

Hagrid sedikit bergerak maju lagi, takut ada ledakan. "Jangan bergerak, pak opsir, Anda mungkin mengalami patah leher..."

Namun Petugas Patroli terus bergelut di antara rasa sakit yang memabukannya. Teriak, "Apa lagi yang kalian tunggu! Surat dari uskup?"

Tiba-tiba mentari terbit dalam paham Hermione, menyadarkannya saat mata si polisi mengeluyur ke banyak titik bahwa dia sama sekali bukan bicara padanya maupun Hagrid. Turut pun, mereka tidak sendirian bertiga... Hermione melihat sekeliling...

Selusin pendeta tua dalam jubah hitam dan topi fedora semua berdiri mengitari mereka di sepanjang diameter tebing, seperti mengelilingi api mobil unggun, wajah-wajah suram... Para penghuni St. Alexander bagi pensiunan pastor.

Hingga kemudian dengan cepat terdengar woosh ketika api dari mesin menyebar ke sasis mobil, bergerak menuju tangki bensin. Menerangi alam.

Para pendeta saling bertukar pandang, mengambil semacam hasil diskusi sunyi. Lalu satu, si pemimpin dari mereka yang akhirnya maju.

Petugas Polisi berseru terus, "Cepat, aku mencium bau bensin!"

Hagrid cuma berdiri, linglung dengan apa yang disaksikannya.

Pendeta itu memang tetap membungkuk turun, Hermione menyingkir dari jalannya. Pendeta itu mengulurkan tangan lewat jendela terbuka ke Petugas Patroli.

Sejenak Hermione berpikir semuanya bersekongkol, tapi kemudian si pendeta bukan menolong melainkan mencabut radio komunikasi CB yang menggerutu dari dasar kabelnya di dasbor mobil patroli.

"Mau apa kau? Mau ke mana kau?" Wajah si polisi dihiasi ketakpercayaan, lalu berubah jadi kemurkaan. Saat dia sadar pendeta itu turun bukan buat membantu. Faktanya - justru dia sedang menghukum si polisi karena ulah dari bertahun-tahun tindakan kriminal di trayek ini.

Menyaksikan si pendeta menjauh, Petugas Patroli marah, "Oh, kau tidak akan! Kau berengsek tak punya hak untuk duduk menghakimiku! Aku tahu apa pikirmu tapi aku tak ada kaitannya dengan hilangnya gadis pirang mabuk itu!"

Dia berbohong, Hermione tahu.

"Aku mengantarnya pulang dengan aman! Tanyakan saja orang investigasi daerah! Dan apa pun yang lain yang kaupikir kaulihat, semua secara hukum tuntas!"

Hukum tak selalu memberi keadilan. Sang pendeta mendaki dengan menakjubkan.

Si polisi ketakutan saat bensin menetes-netes di wajahnya dari atas. Suara woosh yang lain, dan api biru menyebar keluar dari jalur bensin. Si polisi mengendus asap, nada memelas langsung masuk ke kata-katanya sekarang.

"Tolong, bapa... Demi kasih Tuhan berikanlah ampunan untuk pendosa yang tak berdaya ini..." melasnya.

Namun tak ada respons apa pun selain menonton.

Muncul sebuah ledakan kecil, dan bagian dalam mobil mulai dipenuhi oleh api serta asap hitam. Petugas Polisi yang terjebak kini mulai terbakar hidup-hidup, dia mengutuk.

"SIALAN KALIAN BERENGSEK ANAK PELACUR! KAUPIKIR KAU BISA LOLOS DARI INI! KALIAN TIDAK AKAN LOLOS DARIKU! AKU AKAN JADI MIMPI TERBURUK KALIAN! AKU AKAN JADI-"

Lanjutannya hilang dalam ledakan kedua yang lebih besar. Api berkelap-kelip pada wajah-wajah tua para pendeta, berkumpul di sana menyaksikan dengan bungkam. Mereka menonton terbakarnya mobil patroli sampai beberapa detik akhir, sebelum satu per satu memanjat tebing, pergi...

Hermione mendapat penglihatan lagi. - natal, 1958. Situasi pascatabrakan yang tergambar dalam kliping koran. Crown Vic '55 yang rusak. Para pendeta sedang mengurusi upacara terakhir untuk dua remaja berjaket baseball: satu telah tutup usia, yang satu mengembuskan napas terakhir...

Hermione mengerjap kembali, ia dan Hagrid yang terpaku cuma berdiri dalam kesunyian beserta kerlipan cahaya api dari kebakaran mobil. Hermione berkata, "Ayo... Kita bisa pergi sekarang. Sudah berakhir."

Hagrid tercenung, kehilangan kata, cuma bisa berdiri dan mengangguk. Dan...

...SI POLISI melontar tubuhnya sendiri keluar dari jendela mobil yang terbalik ke arah Hagrid dan Hermione.

Badan polisi terkuliti dan hitam-hitam, mulai merayap di atas batu, menyeret tubuh bawahnya yang lumpuh.

Mata Hagrid melebar dan dia berdiri terjangkar di tempat, melihat hal yang di luar nalar, dia tak mampu bergerak.

Hermione berbalik, memegang tangan Hagrid dan menariknya agar pergi. "Jalan!"

Hagrid kembali ke nalurinya, sempoyongan menaiki tebing setelah Hermione. Pengemudi bajak salju itu kehilangan pijakan di batu meng-es dan jatuh terlentang.

Itu saat si polisi meraih kakinya...

dan merayap di atas jengkal tubuh Hagrid...

Hermione dapat mendengar desisan dari radang dingin yang terjadi instan, kerak es melapisi Hagrid dengan kecepatan api dalam spiritus, kemudian teriak kesengsaraan Hagrid pecah seperti kaca retak, sampai bahkan penderitaan Hagrid membeku di paru-parunya.

Hermione mulai lagi bergemelut menaiki lereng bersalju kabur dari horor di bawah. Terlalu licin, pegangannya hilang dan mulai merosot turun pada perutnya menuju si polisi selusin kaki ke bawah...

Ia merengek...

Jari-jarinya berupaya mencengkeram apa saja...

Akhirnya berhasil.

Mengatur untuk mengangkat dirinya menaiki tebing curam, memanjat dengan segala yang tersisa dalam dirinya, sampai ia menggapai jalanan.

Ia membawa raganya keluar dari jurang dalam nun suram, berlari menjauh, lalu membuka pintu pengemudi dan memanjat masuk - Menutup pintunya dengan bantingan.

Hermione memutar kunci pengapian, berkali-kali. Tak ada apa pun. Perkataan Hermione berurgensi, "Ayo, ayolah!"

Ia mencoba lagi. Dan lagi. Namun mesinnya mati.

Kemudian Hermione menyadari lampu 'power' bersinar dari radio CB. Menunduk ke bawah dasbor, ia pun mengangkat mikrofonnya, duduk tegak lagi...

SI POLISI.

Tidak cedera.

Berdiri tepat di luar bajak salju, kembali pada kejayaannya yang dulu, seringai keji tertuju pada Hermione.

Lalu cengirannya berganti begitu saja. Itu amarah puncak. Dia menggapai-gapai melewati jendela pecah. Menangkap-nangkap Hermione.

Hermione membanting tulang hanya supaya di luar jangkauan.

Mementok dirinya sendiri ke pintu yang berlawanan.

Tapi ia bahkan tak berani menendang.

Tak akan lama sampai ia terpojok.

Dan ia terpojok.

Mendadak...

"MENYINGKIR DARINYA, ASSHOLE!"

...Harry meraung.