Ini chapter final. Makasih untuk yang mengikuti fic ini dan pereview. Semoga menghibur, apalagi kalau mungkin bermanfaat. Sekian, silakan nikmati...
Harry dan Hermione serta tokoh-tokoh yang dikenal adalah hak cipta JK. Rowling. Penulis tak miliki apa pun. Ini semua total pengisi waktu luang. Enjoy... d^^b
"MENYINGKIR DARINYA, ASSHOLE!" gelegar Harry.
Kendati jenazahnya ada di samping, dapat tersentuh Hermione di dalam bajak salju.
Dia muncul dari balik malam, sisi belakang polisi patroli yang menggapai-gapai Hermione bagaikan punya dendam kesumat. Linggis di tangan Harry, itu terayun dengan keras, itu ganas menuju sisi tengkorak Petugas Patroli.
Kemarahan Harry jauh melampaui kemarahan si polisi.
Dan, persis seperti sebelumnya, saat batas linggis-pelipis sisa cuma serambut - terjadi kilatan cahaya yang kuat hingga tak lagi ada yang bisa disaksikan. Wewarnaan terhisap berspiral pada setitik lubang, kemudian...
...bagaikan seseorang menombol reset...
...Hermione muncul dari kedalaman, balik ke jok penumpang Oldsmobile- terdampar, tiada perubahan, masih di waktu duduk menyebelahi tubuh tanpa-nyawa Harry. Napas tersengal dan kepanikannya berputar berganti asimilasi berat, seolah selaput plastik yang membungkus erat kepala akhirnya koyak...
Ketika ia pun sadar, semua aral rintang agar lepas dari trayek ini sia-sia. Bahwa setiap langkah setelah kematian Harry cuma reka ulang bagaimana kecelakaan di jalan ini terulang, setiap malamnya.
Dan bersama supir bajak salju, Harry menjadi korban terbaru trayek ini.
Bagaimana reaksi yang terjadi pada Hermione adalah, celakanya, tidak berbuat apa pun. Ia duduk di sana seperti semenjak pulang dari memanjat tiang telepon, kepalanya loyo ke jendela, sinar matanya lenyap. Ia mendekati kegilaan, rusak jiwa.
Sampai tahap berikutnya, ia menangkap satu pergerakan yang melintas lewat jendela depan yang untungnya membuat napasnya terblok ekstrim dalam tenggorokan, sesuatu yang berjalan keluar dari kegelapan ngarai dan melewati iglo Olds, menyeberangi santai jalanan putih - Harry, sisa yang tertinggal dari orang-orang yang berakhir di sini. Arwahnya, hantunya.
Harry terus bergerak menuruni jalanan salju menuju barisan pepohonan bukit di seberang. Hermione tercekat, mengamati Harry ketika dia berhenti dan menoleh ke jendela kanan Olds, seolah-olah menunggu, membuat Hermione dari balik kaca yang ditatap si pria mulai menangis tersedu-sedan.
Ia mendorong terbuka pintu Oldsmobile dan memanjat dengan tertatih, keluar, wajahnya kebas dan bukannya dingin telah usai. Kulit langit menampilkan tanda-tanda awal terbitnya fajar, pagi suram tanpa kicauan unggas menjelang. Di kaki ufuk timur adalah tempat Harry berdiri mengantongi tangan...
Mereka bertatapan sesaat, sebelum gadis itu melihat Harry berbalik, berjalan ke dalam hutan, kembali ke arah asal mereka berdua datang. Jalan memotong hipotenusa mereka.
Hermione masih cuma berdiri di sana, stamina terkuras, begitu kelelahan. Dan dengan tiba-tiba, lagu yang familiar mulai menggenta dalam nada dering ponsel di saku miliknya - mengudara senandung Rockin' Around the Christmas Tree, "Ding-da-da-DING, da-DING da-DING..."
Ia terbeliak dalam trauma, meraba dan menarik kencang telepon selularnya, meskipun itu bahkan sangat lebih bagus dibandingkan dengan pencarian batang sinyal... Instan tanpa basa-basi Hermione menikam tombol 'off' dengan ibu jarinya.
Instingnya saat itu menyarankan buat mundur, mending kembali ke dalam Olds terdampar - namun ia berhenti mundur, melihat ke hantu yang kembali menengok ke sini. Dan pada saat itu Hermione memutuskan, demi keadaan lebih baik atau memburuk, bahwa akan ia ikuti ke mana mau Harry menuntunnya.
Harry berjalan lagi. Hermione melangkah menuruni jalan, buru-buru mengekori agar dapat setara dengan laki-laki di sana. Meninggalkan cikal-bakal mobil yang telah melakukan hal hebat. Kecepatan langkah Harry takkan mungkin disusul siapa pun, Hermione menangis, kehabisan napas. "Tunggu!"
Seperti biasa, dia melakukan segalanya. Berhenti, menunggu, menunggu Hermione.
Dan Hermione ikut berhenti lima meter di betis bukit Harry. Mendengar sesuatu yang diucapkan oleh keberadaan pria yang menyakukan tangan dan meninggalkan nol jejak langkah di muka salju.
"Aku akan mengatakan segalanya padamu pada akhirnya," ucap Harry, menunduk pada Hermione.
Dengan keletihan akibat mengalami masalah menjaga langkah dengan Harry ini, Hermione mendesah, "Aku tahu."
Harry kembali memunggungi Hermione, lanjut mendaki bukit tepung es sambil mengatakan dengan nada pasti ciri khasnya, "Semua akan baik-baik saja."
Dia berbalik ke gadis di bawahnya lagi, berjalan mundur demi mengulang kalimat, "Ini cuma akan menjadi kisah lucu dan manis yang kita punya."
Hermione hanya bisa mengangguk, dan menangis, bilang dengan serak, "Aku tahu." Tapi itu tidak berguna buat gadis ini sekarang, karena ia tertinggal sendirian. Tertinggal untuk hidup cuma dengan mesin waktu dalam serebrum - kenangan.
Harry berjalan sangat cepat, nihil masalah dengan dalamnya salju, seperti dihisap suatu atas dia lenyap sehabis melewati pohon besar. Enam menit Hermione berhenti melanjutkan perjalanan, dari berlari menanjak dan sekejap ia diam. Tanda orang binasa, meraih-raih napas dengan sulit.
Namun dengan ketegaran akhir ia meneruskan perjalanan ke arah tempat Harry lenyap. Namun sekarang hampir terang. Tak ada tanda kemunculan Harry, Hermione kira di kala pagi takkan ada tanda dirinya lagi, kini ia sendiri.
Hermione berjalan sempoyongan mabuk oleh tekanan batin dan lelah jasmani sepanjang hipotenusa secepat sesanggup keadaan letihnya membolehi. Rasanya seperti melarikan diri dari ruang-ruang delusi, tidak pernah cukup cepat untuk kabur oleh pemburu yang tembus pandang.
Tapi dengan teramat Hermione syukuri hingga menyesakkan, bahwa ia dengar dan kenal suara kerincing rantai yang beradu lawan aspal, badan besi jarang-jarang yang menusuk udara - JALAN RAYA. Hermione sampai sulit percaya, ia telah tiba di gang kecil belakang toko pom bensin.
Hermione kembali ke peradaban...
Ia berhenti, menoleh ke hutan bukit lokasinya bermalam, berpikir - sedikit berangan - mungkin Harry menampakkan diri untuk kali terakhir, mengucapkan kata perpisahan - apa pun. Tapi cuma seperti tindakan konyol di luar nalar.
Dengan tiga angka 999, lapangan pom bensin diramaikan dengan cepat oleh beberapa kendaraan darurat dari personel polisi maupun rumah sakit. Penjaga bertato Pyre-Oh tidak sesongong cerminan penampilannya ketika dialah yang memberi pertolongan pertama untuk Hermione - minuman hangat, gratis.
Ketenangan pagi yang terbiasa hadir di pojok kota terutama dalam musim dingin ini, terkoyak musnah dan lenyap oleh sebab bunyi bip-bip-bip asal semua truk bantuan, embikan datangnya ambulans yang kembali dari trayek 066, serta kersak ocehan-ocehan para radio komunikasi.
Hermione sekarang sedang beristirahat di belakang ambulans terparkir yang dibuka dengan berlapis selimut tebal menutup atas pundaknya, wajahnya begitu pucat seumpama seluruh keterkejutan menjelmakan darah hilang dari kepalanya secara harfiah. Duduk diam membiarkan seorang teknisi ambulans mengobati radang dingin pada jarinya.
Mengucapkan kata-kata penguat atau penghibur kebiasaan sebuah pelayanan dari teknisi ambulans, yang tak Hermione hirau, teknisi pun beranjak. Tinggallah gadis itu bungkam memerhatikan satu prosedur dari rumah duka kota, yang mengemas jenazah supir bajak salju Hagrid dan Harry ke dalam kantong mayat.
Melihat wajah tidur Harry sedetik sebelum zipper menggeser-tutup, mendadak membawa Hermione ingat sesuatu tentang ponselnya - ia mengeluarkan itu. Sampai ke folder tujuan, instan Hermione menyelami layar. Di sana adalah sebuah potret digital dari Harry yang sedang membersut, satu-satunya pengingat, saat pertama kalinya dia minta diajak mengobrol sore kemarin...
Sebutir air keluar dari mata kanan gadis itu, meluncur cepat di pipinya ketika ia bahkan tak mengedip. Air mata tersebut jatuh sangat lambat, seperti dramatisir sutradara kurang ajar, embun imun itu mencerminkan skema trayek 066 yang digentayangi, tetap memburu dari dalam hutan putih.
Air mata bening itu akan jatuh timpa wajah digital Harry.
Dan kini butir itu merah kental...
Darahlah yang mendarat.
Ponselnyalah... yang jatuh ke bumi.
Hermione ambruk ke belakang, terbaring tak sadarkan, dengan bunyi gedebuk itu satu orang terdekat akan terkejut, bahwa korban trayek 066 tak selalu berakhir di trayek itu sendiri ketika mereka menemukan dari mulut dan hidung Hermione - darah memuncrat...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semua gelap
.
.
.
.
.
Menuju terang
.
.
.
.
.
Semua putih
.
.
.
.
.
.
Ya, kamu boleh
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ginny menggesek abjad terakhir, ujung lidah terlihat dari pojok bibirnya saking gemasnya ia, dan dengan ujung pulpen melayang di udara seperti motocross jumping... Ginny menghela napas, mengedikkan bahu dan bergumam, sambil mengamati jawaban soal nilai ekstranya, "I love you, Nietzsche..."
Tangannya sudah gatal dari tadi buat menyentuh cellphone nyawa hidupnya, dan naluriah mengalamatkan pesan ke teman perempuannya;
'udh slesai?'
Ia setengah memutar badan pada meja di atas berundak-undak darinya, tapi orang yang mau dilihatnya terhalang makhluk obesitas yang semayam di depannya. Hanya nampak puncak kepala cokelat itu, masih menunduk. Ginny menaikkan bahu lagi, berpikir asal mungkin temannya belum tuntas, memainkan ponselnya ke sesi lain. Tetap menunggu balasan darinya - Hermione.
Tapi sampai Mr. Lupin mengoarkan, "OK, waktunya selesai! Kumpulkan hasil kalian!" yang disertai keresahan penjuru auditorium, Ginny tak sama sekali mendapat balasan Hermione. Ia jelas menunggu sekali, dilihat dari kadar giat ia menoleh ke belakang dan melihat Hermione masih menunduk, sangat diam.
Ginny menggeleng, mengomentari fenomena Hermione belum rampung ujian; 'dear, u slh mkn. aku d luar' Maka Ginny menyerahkan buku ujiannya kepada Mr. Lupin paling duluan, saat dia berseru lagi, "Hasil tes akan diposkan di web site Departemen Filsafat dalam dua minggu... Nikmati libur kalian dan selamat tahun baru..."
Ginny mendapat teman mengobrol di beranda depan aula, sementara murid kelas filsafat berseliweran pergi, sadar bahwa ini aneh ketika Hermione bukan salah satu dari mereka. Ia berkata ke teman obrolannya ada urusan sebentar, dan kembali masuk ke dalam auditorium.
Dan bahunya merosot yang seolah berkata 'yee, malah begitu...' sebab terlepas entah bagaimana bisa tak ada yang acuh, saat ia sadar kalau Hermione di sana menunduk bukan karena serius mengerjakan ujian, tapi ia tertidur di mejanya.
Mr. Lupin turut ikut melihat ke arah Hermione yang ketiduran, dia dan Ginny segera beradu pandang, tersenyum... "Tolong bangunkan."
Ginny beranjak, cuma bergumam, "Semoga anak itu sudah beres."
Ginny menoleh ke belakang lagi saat Mr. Lupin memanggil, menyuruh buat kedua kalinya, "Bangunkan juga yang di belakang gadis itu, tolong!"
"Baik, sir!" sahut Ginny, dengan nada agak tak senang disuruh-suruh seperti tipe yang tak cocok jadi pegawai kecuali terdesak atau dibayar besar, namun pun ia melihatnya. Persis di belakang Hermione turut ada laki-laki yang tertidur... kurus berkacamata.
Melihat peristiwa itu, Ginny cengar-cengir, ia berbisik, "Antara terlalu pintar atau kekurangan IQ."
Ginny terus naik, kerap kali melewati beberapa murid yang mengaret. Begitu tiba ia mengangkat buku ujian Hermione, membolak-balik sampai halaman terakhir dan merasa beruntung temannya ini sudah beres. Dan mulai mendesaknya bangun. "Hermione, hei. Hermione."
Pindah ke si laki-laki, selangit lebih kasar. "Hei, kau, bangun!"
Ke Hermione yang tak merasakan desakan pertama. "'Mione, bangun!"
Mendapat dorongan semakin kuat, tubuh Hermione tumbang, akan berguling di kolong jika Ginny tak mendekap tubuh tanpa daya itu...
Takut merasuki Ginny, wajah Hermione kini dapat terlihat, membuatnya horor - darah keluar dari mulut Hermione. Tak berpikir negatif mati atau apa, dengan panik Ginny cuma menjerit, "TOLONG! TOLONG AKU!"
Banyak yang berlari mendekat, mereka bertiga dikerubungi, keterkejutan dan bisik-bisik sumpahan berkumandang. Mr. Lupin berhasil menyeruak ke baris terdepan sepasti protagonis film, urung bertanya ketika melihat wajah dan darah Hermione, pemahaman Lupin menjalar, maka dia bergerak ke Harry untuk memutar tubuh nonaksinya juga; sama, darah dari mulut, sepucat mayat.
Lupin memeriksa nadi Hermione, tak ada denyutan. Dia menggeleng gamang.
Memeriksa punya Harry, sama saja. Tapi Lupin bertahan di situ.
Lima detik berlalu, tangannya segera terlontar saat menerima listrik kejut dari leher Harry, leher Harry yang terangkat. Juga Hermione di dekapan Ginny yang nyaris menangis.
Hermione dan Harry, secara simultan tanpa aba-aba, duduk setegak tonggak. Pada kerjapan pertama, mereka pun bangun.
Hermione dipeluk Ginny. Tapi Hermione bergeming, cuma melihat pada Harry. Saling memandang.
"Kenapa mulutnya berdarah?" tanya Harry tak jelas ke siapa, tatapan lekat ke Hermione.
"Bukan," Lupin sang penyahut. "Yang menjadi pertanyaan; kenapa kalian berdua mengeluarkan darah dan... sempat mati?"
Harry memindahkan mata pada Lupin dengan datar, respons robot yang bertanya-tanya. Lalu melihat dirinya duduk jadi bahan perhatian dari kerumunan yang melihat Harry ke Hermione, dari darah di mulut ke mata bergantian. Spontanitas Harry bangkit.
Mengecap darahnya, dia menggosok itu pakai lengan mantel, menyabet tasnya dan langsung beranjak tanpa ada sedikit pun perhatian demi buku ujiannya. Pergi dari banyak mata tanpa buang-buang waktu bilang permisi, menuju keluar aula.
Dan Ginny mengukuh memeluk Hermione, semakin erat jikapun itu mungkin. Seperti buta kalau mereka masih dikelilingi murid. "Aku antar kau ke ruang kesehatan."
"Aku sehat. Aku cuma butuh udara..." kata Hermione pelan, akhirnya Ginny menjauh, masih cemas. Hermione menunjukkan sedikit senyuman segar.
Membersihkan mulut seadanya, ia berkata pada Ginny untuk menyerahkan buku ujiannya pada Mr. Lupin. Dan dengan kilat ikut melepaskan diri dari kerumunan yang memberinya jalan, dibuntuti Ginny, menuju pintu keluar-masuk. Sesampainya di sana, matanya berkelana di antero beranda.
"Kau duluan saja." beri tahu Hermione pada Ginny, dengan bahkan tak menoleh.
"Kau sedang sakit. Mau ke mana lagi?" kontra Ginny sebal.
Hermione diam, saat sasaran punggung seseorang yang ditelusuri matanya kena, ia barulah menatap Ginny. "Em, mengecek papan ride share. Aku akan menyusul ke kamar. Kau duluan."
Hermione menjauh setelah mengelus rambut atas Ginny, dan Ginny melihat Hermione mengecil sebentar sebelum pergi duluan ke kamar asramanya.
"Hei!"
Harry mendengar itu, ada godaan untuk berhenti atau sekadar menengok, tapi dia tidak mau berasumsi kalau 'hei' suara barusan untuk dirinya. Mau hidup tanpa bahaya.
"Hei, rambut hitam!" koar Hermione kedua kalinya, berjalan mendekat dengan hati-hati.
Pikiran ini lagi... Tapi, ayolah, satu kampus umum mana mungkin cuma dia yang punya rambut hitam - "What the hell." kutuk Harry, berbalik badan. Dan jawabannya, sudut bibir Harry berkedut menahan cengiran. Sukses. Sekarang.
Gadis itu melihat ke arahnya, memanggil dirinya.
"Hai."
"Erh, hai."
"Agak menyeramkan di dalam tadi," buka Hermione, mendekati Harry yang berhenti menunggu.
"Yeah," balas Harry. Lalu, seakan dia tak mengalami hal serupa, "kenapa kau sampai mengeluarkan darah seperti tadi? Kau sakit, sesuatu?"
"Mungkin tanpa sadar cemilanku imporan Chernobyl, atau cuma luka gusi yang artinya aku benar-benar ketiduran yang berarti sangat memalukan. Aku tak tahu, after all. Orang surga tahu. Biar kutebak, aku tanyakan padamu pertanyaan yang sama, pasti kau juga menjawab tidak tahu."
"Aku anggap kalau kau penebak ulung." kata Harry, tak menahan cengiran lagi, berhenti mengerenkan diri, selalu saja saat melihat parasnya. Kini menikmati keadaan dia yang termakan pesona Hermione.
Gadis itu berhenti berjalan, diikuti. Nada Hermione penasaran saat bertanya, "Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?"
Harry diam sebentar. "Well, jika maksudmu mengenalmu, kurasa semua orang ini kenal murid yang mewakili kampus ke olimpiade fisika di Athena, oh, dan pulang bermedali emas."
Hermione tersenyum. "Tapi kau rasanya familiar sekali. Aku bahkan tidak tahu namamu, atau lupa, atau-"
"Itu Harry, Hermione," sela Harry, mulai berpikir keanehan saat seorang gadis melempar mirip-gombalan macam 'pernah kenal'... familiar... Tapi dia juga merasakan hal yang sama; keakraban ini.
Hermione mencermati wajah Harry. "Kalau pikirmu ini rayuan, kau baru saja salah anggap."
"Bukan itu." elak Harry. "Faktanya, jujur, kau malah juga familiar buatku."
"Yeah?" kata si gadis. Harry mengiyakan dengan absen. Mereka diam sesaat. "Well, terserahlah. Jadi mari kita akhiri topik ini. Mau bagaimanapun situasi waktu aku mendekati dirimu dan mengatakan kau terasa familiar tetap saja seperti, ya itu, rayuan."
Harry diam sebagai tanda tak membantah karena baginya ini takkan bisa ada bedanya. Inti baginya Hermione menganggap dirinya ada.
Terdengar panggilan dan sahut-menyahut orang lain dengan lamat-lamat, menjadi tanda untuk Hermione dan Harry bergerak tanpa tujuan lagi. Mereka telah sampai di alun-alun, hanya melewati papan ride shire tanpa ada kesan kenal terhadapnya.
Dan tiba-tiba sekali Hermione berkata, "Apa kaupunya hidup yang bagus?"
Harry dapat merasa keintensan tatapan Hermione walau tak menoleh. Namun pertanyaan tadi tetap aneh. "Erh, kenapa kau bertanya?"
"Karena jika tidak, apa kau masih percaya kepada Tuhan?"
"Masih." jawab Harry apa adanya. Tak ada rasa kesal kalau mau ditambahkan, cuma heran ditanyai hal seperti itu.
Ingat ilmuwan lubang-hitam Britania yang kena karma ilmu pengetahuan tanpa agama itu? Hermione menjadi malu, orang surga tahu alasannya. "Aku punya kehidupan yang bisa dibilang memuaskan, sangat bagus kalau dihitung dari rata-rata... Tapi, aku entah kenapa tak pernah sampai, kau tahu, gembira yang asli, gembira murni."
Harry cuma diam, jadi pendengar yang baik. Melihatnya berbicara.
Hermione terkekeh hambar pada dirinya sendiri, meneruskan, "Pernah, terkadang aku ingin merasakan jadi anak yang tak dianggap dibanding saudara-saudari kita walau padahal aku anak tunggal... Atau bahkan, tumbuh dewasa sampai punya kepribadian tanpa orang tua."
"Aku tak punya orang tua." kata Harry. "Dan rasanya sumpah tak memuaskan."
"Entah kenapa aku tak terkejut dengan infomu." bilang Hermione, itu sedikit serius. Keduanya bertukar pandang, ada pandangan mirip keduanya sembuh amnesia dadakan.
"Mungkin kita korban teori sesuatu yang supernatural." kata Harry. Dia bercanda.
Hermione menerima itu dengan nyengir dan apa pun itu, ia menganggap laki-laki ini orang yang tidak pernah, tidak akan berbuat hal-hal buruk tanpa perlu penyelidikan. Dengan instan. "Ngomong-omong, Harry, kau punya kendaraan?"
"Ya, Oldsmobile. Kenapa?"
"Mau mengantarku pulang, ke Yorkshire?" nada Hermione percaya diri seperti gaya yang tahu tak akan ditolak.
Tampang Harry berpikir ...tak usah pautkan orang surga untuk tahu jawabnya, jangankan orang surga, kau sama tahunya... Masih tampang berpikir itu, seolah dia bingung apa yang diputuskannya walau Yorkshire super jauh dari pikirannya untuk dituju.
"Pastilah."
"Dan aku mau kau berjanji tidak usah lewat jalan pintas segala."
...end
