Sore menjelang dengan hembusan angin dingin dari arah barat, senja datang dengan warna yang luar biasa. Warna merah yang dihasilkan oleh belerang yang terjebak di udara karena letusan Gunung Krakatau beberapa ratusan tahun silam. Pemandangan yang indah setelah proses yang sangat mengerikan. Sore itu juga adalah sore yang mengerikan dimana, seluruh hidupnya berubah.
Harta Karun Pandang Pasir
Ino tidak tahu kemana ayahnya akan membawa perjalanan mendadak mereka. Ia pura-pura tidak peduli sambil bersenandung lagu anime kesukaannya matanya melihat ke luar jendela, pohon-pohon bergerak semakin lebat dan akhirnya mereka benar-benar masuk kedalam hutan yang terbelah dua oleh jalan yang mereka lalui. Ino masih memperhatikan banyaknya pohon yang terus berjalan di matanya. Sekilas ia menoleh menatap mata ayahnya yang memerah dan berair.
"Kau tidak apa-apa, ayah?" tanya gadis itu merasakan keanehan.
Ayahnya hanya menggeleng tak sanggup berkata apa-apa lagi. Semakin jauh dan semakin cepat juga pria itu memacu mobilnya, "Maafkan ayah..." gumamnya tidak jelas membuat Ino bertanya apa. Mobil tua dengan sedikit usang itu menerobos pagar pembatas jalan dan terjun bebas masuk dalam danau. Bagian depanya ringsek. Ino panik karena air masuk dari bagian bawah sedangkan ayahnya hanya terdiam pasrah. Gadis itu mulai menagis bingung dengan segalanya.
Sosok wanita cantik berpakaian hijau dengan tanda ditengah-tengah dahinya berenang mendekati mobil yang hampir setengahnya sudah terisi air. Ino berteriak menjerit melihat wanita itu tetapi ayahnya seolah buta tidak melihat siapapun atau ayahnya sudah benar-benar ingin mati. Wanita itu benerang ke depan jendela dihadapan Ino lalu mendekatkan jari telunjuknya di bibir. Saat itu waktu teraasa seolah berhenti, airpun berhenti masuk kedalam mobil. Tangan wanita itu masuk menembus jendela menarik Ino ke luar. Gadis itu masih khawatir dengan ayahnya yang tertinggal didalam.
Sampai dipermukaan wanita itu tersenyum dan berkata, "Ayahmu akan selamat sebagai gantinya kau harus menjagaku. Ini bukan sebuah tawaran tapi keputusan, ayahmu akan hidup dan kau mati karena kesalahan ayahmu sendiri. Ino, kau harus melupakan kejadian hari ini dan mulai menjaga jasadku yang berada jauh dari sini."
Ino masih bingung dengan semua pernyataan wanita cantik itu, matanya mulai terasa mengantuk dan sangat-sangat tidak bisa ia tahan. Dalam setengah sadarnya Ino masih menangkap wanita itu berbicara lagi, "Namaku ..."
"Hei, ayo kita lanjutkan lagi." Gaara menepuk bahu Ino yang terasa begitu halus ditangannya, "Aku baru tahu jin juga butuh tidur." gerutunya,
"Maafkan aku, apa tadi itu lama?" Ino sebenarnay merasa kesal karena mimpinya terpotong.
"Tidak kau hanya tidur lima menit saja." Ino sedikit jengkel mendengarnya ternyata baru lima menit ia tidur.
Mereka mulai kembali perjalanannya, Ino terus berpikir keras dengan pemikiran anak-anaknya yang dipaksa menjadi dewasa yang tidak bisa ia sangkal lagi. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang memusingkan sampai akhirnya ia memutuskan memunculkan boneka kucing yang lucu.
"Boneka untuk apa?" tanya Gaara yang kebetulan menangkap gerak-gerik aneh Ino.
"Un-untukku..." jawab Ino dengan rasa tidak percaya bukan Gaara lah tuannya tetapi seseorang yang berada ditempat yang mereka tujulah tuannya, karena ia dapat mengabulkan permintaannya sendiri yang tidak menyangkut dengan Gaara.
Pernyataan Ino tentang boneka itu sedikit mengganggu Gaara, tapi dia belum menyadari pemberontakan Ino terhadap dirinya. Gaara kembali melangkahkan kaki dan menyorot sinar senternya ke depan.
"Apa yang kau cari disini, Gaara?" tanya Ino tiba-tiba.
"Jalan keluar." ucap Gaara jujur karena yang ia pikirkan sekarang ini hanya jalan keluar dari tempat yang begitu aneh ini.
"Kenapa kau bisa terperosok ke dalam sini? Apa kau mencari harta karun?"
"Iya," jawab Gaara mulai merasakan sesuatu yang aneh pada Ino, "tapi aku sadar harta yang paling berharga yang sekarang terkubur disini adalah nyawaku sedangkan bagi kakak-kakakku di atas sana adalah keluarganya."
Ino mengangguk tanpa percaya sepenuhnya, ia mempelajari dari dirinya sendiri yang sangat suka berbohong dan bermulut besar.
"Sebaiknya kau pergi jika sudah tidak lagi mempercayaiku," ucap Gaara tiba-tiba menghentikan langkahnya, "aku tahu apa yang berada didalam sana sebuah kekuatan ajaib yang luar biasa yang mampu mengendalikan seluruh dunia."
Ino tersentak kaget dan bertanya-tanya apa perasaannya mudah sekali terbaca. Ino melayang ringan kehadapan Gaaradan berkata, "Ceritakan padaku tentang semua yang kau tahu agar aku percaya pada temanku."
"Aku akan ceritakan sebagai gantinya kau juga ceritakan mimpi apa yang kau alami tadi.
Sebagian cerita tertulis disepanjang dinding beberapa meter sebelum pintu masuk yang terbuat dari batu kapur itu. Sang Ratu membuat dosa yang berhubungan dengan sihir yang amat kuat sampai sekarang sihir itu adalah sihir terkuat yang tertanam di sekitar jasadnya. Semuanya di mulai saat langit senja belum memerah.
"Ratuku," sambut seorang penasihat kerajaan yang paling setia pada nya, "seluruh rakyat mulai mengalami krisis kepercayaan pada kerajaan, Orochimaru semakin meraja rela menyebarkan guna-guna dan fitnah kepada Ratu-ku." Penasihat itu adalah seorang anak muda berambut kuning dengan mata biru yang penuh semangat dan ambisi.
"Aku memiliki satu kunci melawan penihir itu." ucap sang Ratu, "tapi belum saatnya aku masukan kunci itu ke lubangnya apalagi memutarnya."
"Apa maksud Ratuku, Tsunade?" sang penasihat sedikit mengangkat kepalanya, heran dengan keputusan sang Ratu yang sudah dalam keadaan kritis.
Sedangkan diluar kerajaan rakyat mulai berunjuk rasa dengan duduk dihalaman kerajaan sambil berpuasa sampai berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu sehingga banyak rakyat yang meninggal setelah itu. Unjuk rasa seperti itu termasuk merugikan kerajaan karena seluruh kehidupan perekonomian kerajaan yang berimbas pada tidak ada pajak yang masuk. Seluruh anggota kerajaan menanti keputusan sang Ratu.
Negeri itu dipimpin oleh Ratu sejak awal berdiri pada akhirnya banyak yang menginginkan kedudukan tertinggi itu walaupun orang-orang itu bukan seorang wanita. Mereka mulai menyebar doktrin wanita lebih lemah dan bodoh dibandingkan pria. Sejak doktrin-doktrin itu menyebar penindasan terhadap wanita meningkat drastis dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Orochimaru salah satu orang yang menginginkan kedudukan itu dengan menyebar fitnah ada sebuah kutukan jika Ratu tidak segera diganti dengan seorang raja, ia juga menyebar guna-guna penyakit sebagai bentuk pembuktian kutukan itu ada.
Seluruh negeri dalam keadaan genting dan rusuh, sedangkan sang Ratu duduk santai sambil memakan buah anggur yang sudah tidak segar lagi. Para penasihat kerajaan duduk dengan gelisah mengelilingi singgasana sambil berbisik-bisik. Sang penasihat paling muda sekaligus penasihat kepercayaan sang Ratu mendekat dan berbisik kalau seluruh penasihat menantikan keputusan tentang negerinya.
"Baiklah," dengan kesal menyelesaikan aktivitas makan anggurnya, "kalian mau dengar keputusanku?"
Seluruh penasihat mengucapkan kata 'ya' serempak kecuali sang penasihat muda yang menatap ganjil pada gerak-gerik sang Ratu, "Cepat kalian berkemas dan tinggalkan kerajaan ini." sontak suara keluhan terdengar walaupun tidak berani lantang-lantang, "kenapa?" tanya sang Ratu mengangkat bahunya.
"Mengapa Ratuku memerintah kami demikian?" tanya seorang penasihat paling dituakan diantara yang lain.
"Aku mendapat laporan dari para militer bahwa banyak pemberontak akan mengadakan penyerangan secara bersamaan, kita sudah begitu terlambat menyadari pemberontakan-pemberontakan ini. Jika hanya bicara bahwa semua itu hanya fitnah belaka seluruh rakyat sudah terlanjur tidak percaya pada kerajaan. Aku sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi selain menati ajal di singgasanaku yang sekarang hanyalah sekedar kursi biasa."
"Ratuku" potong sang penasihat muda.
"Aku belum selesai," bentak sang Ratu, "pergilah secepat mungkin kalian bisa." Setelah mendengar perintah itu para penasihat berhamburan meninggalkan kerajaan.
"Ratuku?"
"Diamlah, Naruto. Aku belum selesai." sang Ratu berdiri dengan sedikit goyah, "Orochimaru menggunakan sihir untuk menggulingkanku, tapi itu tidak akan berhasil karena saat aku terjatuh seluruh negeri ini akan terkubur dan mati." dia berjalan mendekati meja di samping singgasananya, tangannya mengambil secangkir anggur merah pekat yang wangi.
"Minumlah anggur ini, buktikan kesetianmu padaku." Ratu menyodorkan cangkir itu pada penasihatnya.
Naruto menerima cangkir itu dan meminumnya tanpa tahu minuman apa yang ia telan. Perutnya terasa sangat panas setelah cairan itu masuk melewati kerongkongannya, "Setelah aku mati dan seluruh negeri terkubur hanya kaulah yang akan berdiri dengan jantung yang berdetak. Sesungguhnya aku tidak benar-benar mati."
Setelah bicara demikian beberapa orang dengan pedang masuk menerobos para penjaga, memenggal kepala sang Ratu dan menusuk jantung sang penasihat. Setelah yel-yel kemenangan mereka suarakan seluruh langit menghitam dan gempa bumi yang dasyat melanda negeri itu. Langit terasa runtuh mengubur negeri itu dan satu persatu rakyatnya terkubur dengan pasir yang semakin tebal menyelimuti negeri itu. Pada akirnya hanya seorang pemuda yang berdiri tegak diatas pasir dengan noda darah dibajunya. Ialah yang membuat makam ini untuk sang Ratunya dan mempelajari beberpa buku terlarang yang tidak rusak dan membangun seluruh lorong-lorong ini sendirian selama ratusan tahun.
"Semuanya terukir pada dinding sepanjang perjalanan kita." Gaara menyelesaikan cerita sambil membuka botol minuman yang Ino sediakan kali ini hanya air mineral biasa bukan cola lagi, "lalu apa mimpimu tadi?"
"Aku sudah mati sejak umurku lima tahun karena ayah berniat bunuh diri bersamaku." Ino mengambil napas dan mulai menceritakan bahwa bukan Gaara lah tuannya meskipun ia keluar dari lampu yang pemuda itu gosok. Ratu yang Gaara ceritakan tadi, dialah yang menolong nyawa ayahnya dengan menukarkan nyawa dirinya.
"Lalu mana pemuda penasihat muda kepercayaan Ratu itu?" tanya Ino, berharap memberikan suatu informasi tentang perubahan dirinya.
"Tidak terukir disana tapi aku yakin ia masih hidup dan sekarang berada disekeliling kita."
"Aku harap kita bertemu dengannya dan memberi tahu jalan keluar." Ino melirik kearah Gaara, "kau yakin tidak ingin harta karun yang terkubur dalam sini?"
"Kau pikir apa yang berharga dari negeri bekas kerusuhan?" Gaara mendengus lucu, "yang berharga saat ini adalah nyawaku sendiri." Ucap Gaara yakin karena Ino sebenarnya sudah tak bernyawa lagi.
Mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka yang semakin masuk kedalam lorong yang tidak berukiran lagi. Sesosok bayangan hitam bersembunyi dibalik tiang batu, "rupanya dia datang beberapa ratus tahun dari perkiraanku."
tobecontinue
Please wait for the next chapter
Thanks for reading :)
