Hai, Minna-san! Kembali lagi dengan saia AliciaFon, sang author gaje! *pose ala pangeran bertopeng* WAHAHAHA! Haduh~~~… ulum udah deket tapi santai banget, ya! Malah enak-enakkan lanjutin chap! m(_ _)m. Maklum, saia emang obatnya udah abis. Jadi, ya gini deh… rada-rada… *author nyilangin jari di kening*
Yap, masih dengan lanjutan chap pertama yang ancur-ancuran, sekarang saia lanjutin lagi dengan yang kedua. Selamat membaca, readers dan senpai-senpai semuanya!
.
Aku masih tetap mencari hatimu, Soifon. Walaupun aku harus mencarinya sampai ke pelosok dunia sekalipun.
Never Too Late
[Chapter 2: The Hopeless]
© AliciaFon
Disclaimer: Bleach © TiteKubo (Kalo Bleach punya saia, saia akan bikin pair GgioSoi, GrimNell, dan UlquiHime hidup bahagia selamanya! Dan gak ada yang mati!)
Song: NeverTooLate © SecondhandSerenade
Rated: K+
Genre: Romance
Warning: Typo's, Out Of Chara, Alternative Universe. (again)
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
"Soifon! Apa kau siap?"
"Ya, sensei!"
"Baik! Bersedia! Siaaap… Mulai!"
Soifon berlari sekencang-kencangnya, mencoba mempersingkat waktu tempuhnya.
! Batinnya.
Setelah ia mengitari lapangan itu, pelatih segera meniup peluit tanda berhenti.
"1, 29 detik. Soifon, kau harusnya bisa mencapai 1, 28 detik! Latihan lebih keras lagi! Aku akan mengawasimu!"
"Maafkan aku, sensei! Aku akan berlatih lebih keras lagi! Terima kasih atas bantuannya!"
"Hn!"
"Selamat siang, sensei! Saya pulang dulu!" Soifon membungkuk memberi salam dan meninggalkan ruangan latihannya.
.
~Keesokan harinya, Seireitei Gakuen~
"... In an interview with IGN concerning the English localization, Xseed stated that they will attempt to give a dual-language option in addition to..."
"Hoooaaahm… nyam… nyam…" Ichigo Kurosaki, siswa yang sejak tadi hanya menguap dan mengetuk-ngetukan kakinya di lantai, menguap untuk kelima kalinya.
"... Adding, this is a something that goes beyond genre descriptions, creating an experience that is remarkable..."
Tuk. Tuk. Tuk. Shuuhei Hisagi, siswa yang mengetuk-ngetukkan pulpennya di meja hanya melihat jendela, berusaha mengusir rasa bosan yang sedang menderanya.
Hanya Soifon, Nanao Ise dan Nemu Kurotsuchi yang memperhatikan. Maklum, mereka bertiga adalah juara kelas. Jadi tak heran jika mereka bertigalah yang paling memperhatikan pelajaran. Pelajaran apapun itu.
Dan sekarang, pelajaran Bahasa Inggris, yang diajarkan oleh Kuchiki Byakuya-sensei, mampu membius semua orang untuk berkantuk-kantuk ria, kecuali mereka bertiga tentu saja.
Kriiing...
Bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Semua orang yang ada di kelas itu bersorak ria atas bunyi 'bel surga' yang baru saja dibunyikan. Setelah memberi salam dan berdoa, mereka lalu berjalan ke luar sekolah. Beberapa orang ada yang berkumpul di 'base camp' favorit mereka masing-masing, dan ada yang langsung pulang. Dan, mereka bertiga adalah salah satu dari rombongan mereka yang langsung pulang itu.
"Huft... pelajaran hari ini banyak sekali, ya!" Ujar Nanao, yang sambil memeluk bukunya, memandang langit.
"Iya! Hei, tapi kau tak usah mengeluh begitu! Tidak baik, lho!" Nemu menyahut dan menoleh ke arah Hinamori.
"Iya, iya! Aku kan hanya mengeluarkan pendapatku!"
"yah, terserah kau saja, deh!"
"Eh, Soifon! Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Huh? Kabarku? Biasa saja! Tidak ada apa-apa!"
"Kau yakin? Kalau dia hanya..."
Soifon hanya menganggukan kepalanya. Mencoba meyakinkan kedua sahabatnya itu. Namun, dalam keadaan masih tak percaya, mereka berdua Nemu dan Nanao, saling menatap.
Soifon mengetahui gelagat mereka berdua ini, dan mencoba meyakinkan mereka lagi.
"Iya, Nemu-chan, Nanao-Chan! Aku yakin! Sudahlah! Tidak usah membicarakan dia, oke! Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi dengannya!"
Mereka berdua hanya menatap Soifon dengan tatapan antara tak percaya, ragu dan kasihan.
And you're moving on
With guilty memories
But I was wrong
To ever test us
This broken road
Is more than I can take
Hari ini, Soifon dan Hitsugaya berada di rumah. Kedua orangtuanya sedang menghadiri pernikahan Gin Ichimaru dan Rangiku Matsumoto, rekan kantor mereka berdua. Sementara Ulquiorra? Jangan ditanya! Sejak semenit setelah kedua orangtuanya pergi ke pernikahan, ia segera bersiap-siap untuk berkencan lagi dengan Orihime Inoue. Dan, mungkin karena kedua orangtuanya merestui hubungan mereka berdua, Ulquiorra selalu diijinkan untuk pergi berkencan dengannya.
"Aaah! Aku bosan! Kakak urusi saja si kak Vega itu! Aku mau main PS dulu!"
"Eh? Apa kau bilang? Vega? Ggio Vega?"
"Iya! Bukannya dia selalu mengharapkan untuk kembali pada kakak? Kenapa kakak selalu menolaknya? Padahal dia adalah orang yang tepat untuk bermain PS denganku! Kakak jahat!" Hitsugaya melompat turun dari sofa dan berlari menuju kamarnya.
"Hei! Hitsugaya! Hitsugaya! Tunggu!"
Percuma. Soifon tahu jika adiknya sudah marah seperti ini, maka ia sudah tidak bisa untuk diajak bicara lagi.
.
~Tengah malam, Kamar soifon~
"... Iya! aku tahu! Jadi sekarang kau mau apa?"
Semua orang sudah mengunjungi pulau mimpi mereka masing-masing ketika Soifon menerima telfon dari seseorang. Seseorang yang dulu sempat mengisi hatinya. Seeorang yang kini sudah tidak ia harapkan lagi. Dan sekarang, mari kita dengarkan percakapan mereka.
"Aku hanya... aku hanya ingin kau kembali padaku!"
"Apa? Apa aku tak salah dengar? Kembali? Padamu? Yang benar saja! Bukannya kau sudah mendapatkan Apache, si kembang sekolahmu itu? Oh, apa jangan-jangan, kau ingin menjadikanku kelinci percobaan dari eksperimen ketidak-setiaanmu lagi? Tidak! Terima kasih, Ggio! Aku sudah pernah terjerat oleh permainan busukmu itu, dan aku tidak akan mau terjerat dua kali!" Soifon sampai pada puncak kemarahannya
"Tapi, Soifon... aku bisa menjelaskan ini semua!" Ggio berkata lirih.
"Penjelasan? Penjelasan katamu? Apa menurutmu semua ini kurang jelas? Sudahlah, Ggio... Cukup. Hentikan! Aku lelah, Ggio... biarkan aku beristirahat..."
Tuuut...
Ggio menatap layar handphonenya dengan tatapan tak percaya. Tak percaya bahwa Soifon, yang dulu ia kira adalah Ratu dari kerajaan hatinya, bisa-bisanya berkata begitu. Tak percaya bahwa kini ia tidak bisa lagi mendapatkan hatinya. Tak percaya bahwa ia bukan pujaanya lagi. Tak percaya bahwa ia...
... sudah bukan milikku lagi.
~Flashback~
Ggio mematung di tempat ia berdiri ketika gadis itu menyodorkan dompetnya.
Dengan penuh rasa terima kasih ia menyambut dompetnya itu dengan tangan terbuka.
"Nih, dompetmu! Makanya hati-hati jika kau membawa barang! Untung yang menemukan dompetmu itu aku! Mungkin kalau orang lain yang menemukannya bisa-bisa dompetmu hilang entah kemana!"
"Iya... terima kasih, ya! Oh, ya bolehkah aku tahu siapa nama orang yang telah mengembalikan dompetku ini?
"Eh? Yang mengembalikan dompetmu itu, kan aku. Berarti... namaku, ya?"
"Ya. Namamu."
Dengan senyum yang mengembang di wajah gadis itu, dengan lantang ia menyebutkan namanya.
"Shaolin Fon. Soifon jika kau tidak berkeberatan."
"Baiklah, Putri Soifon! Aku, Ggio Vega, Pangeranmu, akan membawamu ke istanaku, istana Vega"
"Eh?"
.
.
.
TBC
Author Note:
JELEK BHANGHEEED! Hancur! Mlebuh! Gara-gara Fic abal saia, pair GgioSoi jadi ternoda! Yha... gimana, minna-san? Mau saia keep or delete ini cerita? Sori minna, baru apdet nih lanjutan Fic seminggu kemudian. Soalnya di komp saia gak ada internet. *pundung*
terima kasih untuk saran-sarannya, minna-san. Baru Fic pertama udah banyak banget yang komen *terharu*
Untuk yang kasihan sama saia, bisakah dengan kerenadahan hati, saia mohon oleh-oleh atau buah tangan atau apalah namanya itu berupa review dengan cara memijit tombol biru dibawah ini?
REVIEW, PLEASE!
If don't mind of course!
