Hai, Minna-san! Kebiasaan saia waktu ujian, adalah sempat-sempatnya mengapdet fic~ BANZAAAI! #ditimpuk warga se-RT

Yaaah~ tanpa banyak komen, lansung saja kita mulaaai! Happy Reading, Minna! Please RnR ya!

.

Apa maksudmu melakukan ini padaku, hah! Aku bukan seperti Apache yang bisa kapan saja kau permainkan! Tolong, hargailah perasaanku sedikit…

.

Never Too Late

[Chapter 3: The Misunderstanding]

© AliciaFon

Disclaimer: Bleach © Tite Kubo

Song: Never Too Late © Secondhand Serenade

Rated: T

Genre: Romance

Warning: Typo's, Out Of Chara, Alternative Universe, (again), alur kecepetan, diksi nggak nyambung sama lagu, dan semua yang nista-nista lainnya.

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

.

Malam ini adalah malam minggu. Biasanya, malam minggu adalah malam dimana dirinya dan Ggio pergi bersama, atau orang awam biasa menyebutnya berkencan.

Namun, pengecualian untuk malam ini. Soifon merasa tak ada gairah untuk melakukan apapun. Mungkin Soifon akan terus merebahkan diri di futonnya jika saja Ullquiora tidak memanggilnya untuk melakukan sesuatu.

"Soifon! Cepat kemari! Kakak ingin minta tolong!" Teriak sang kakak dari lantai bawah.

"Baik, kak!" Soifon menyahut dengan malas.

Soifonpun akhirnya turun. Menemui kakaknya yang sudah menyilangkan tangannya di depan dada.

"Minta tolong apa, kak?"

"Begini, Soifon. Aku ingin kau melakukan persis seperti yang kuminta..."

.

Dan, alhasil, Soifon pun terdiam di depan rumah Orihime-nee-chan yang bercat coklat dan bernuansa oriental itu. Terpekur.

Salahkan kakaknya yang menyuruhnya untuk mengirimkan boneka panda yang sedang digendongnya ini kepada Orihime-nee-chan.

'sudah berpacaran selama tiga tahun masih saja malu untuk memberikan hadiah secara langsung?' batin Soifon tak habis pikir.

"Haaah..." Soifon menghembuskan penat yang sudah sedari tadi ia tahan.

Soifon baru saja ingin menekan bel listrik yang terletak di samping pagar rumah tersebut, ketika ia melihat sesosok pemuda berambut hitam panjang berkepang keluar dari rumah itu.

"Ya, ya... baiklah! Aku mengerti! Yasudah, aku pergi dulu ya!" pemuda itu menyahut ke arah pemilik rumah.

Bagaikan tersihir oleh sebuah mantra magis, Soifon terkejut ketika melihat siapa pemuda itu ketika ia membalikkan tubuhnya.

Emas bertemu dengan abu-abu.

Amat. Sangat. Kecewa. Itu yang terlintas di pikiran Soifon ketika mengetahui kenyataan bahwa Ggio ternyata sudah memiliki pasangan baru. Secepat itukah ia mendapatkan pengganti? Dan tak tanggung-tanggung, pacar kakaknya-lah yang diambilnya.

Ggio menatap Soifon dengan tatapan antara terkejut dan senang. Sangat berbeda jauh dengan ekspresi Soifon saat ini.

Miris.

Mungkin kata itulah yang pantas menggambarkan keadaan Soifon saat ini.

Dengan muka tertunduk dan memerah, Soifon menyerahkan boneka yang dititipkan Ullquiora pada Ggio. Tak mempedulikan Ggio yang terus mengajak dirinya bicara.

"Berikan ini untuk pacar barumu itu. Dan jangan pernah menghubungiku lagi." Soifon berkata datar sembari berlalu dari hadapan Ggio yang terus menceracau pada dirinya.

'Pacar baru? Apa maksudnya?'

Sadar Soifon sudah menjauh, Ggio menatap boneka yang diberikan Soifon padanya.

Untuk Orihime-ku tersayang,

Ullquiora

"O... Orihime-nee?"

.

BRAKKK!

Ullquiora tersentak kaget ketika mendengar adiknya yang beberapa menit yang lalu menaiki tangga langsung membanting pintu dengan kasar.

Menyadari ada yang tidak beres, kakak tersayang Soifon itu ikut menaiki tangga dan memasuki kamar Soifon yang tidak terkunci.

"Ada apa, Soifon?" Ullquiora duduk disamping Soifon yang sedang menutup mukanya dengan bantal.

"..."

"Jika kau ada masalah, jangan kau pendam sendiri."

"..."

"Ngomong-ngomong... apakah boneka yang kakak titipkan sudah sampai?"

Kali ini Soifon menunjukkan reaksi. Ia perlahan mulai mendudukkan dirinya di atas kasur, namun dalam keadaan muka tetunduk lesu.

Tidak apa, setidaknya kini Ullquiora bisa melihat mukanya yang memerah.

"Kak, ada kabar baik dan kabar buruk yang ingin kusampaikan..."

"..." Ullquiora terdiam. Ingin mendengar kelanjutan kata-kata Soifon.

"Kabar baiknya, boneka itu sudah sampai ke tangan Orihime-nee-chan."

Ullquiora tersenyum. 'Kerja bagus, Soifon' Batinnya.

"Kabar buruknya, Ggio..."

Kali ini Ullquiora memasang muka serius. Ia sudah tahu permasalahan yang dihadapi adiknya ini dengan Ggio.

"Dia... berselingkuh. Bukan hanya dengan Apache... namun juga dengan Orihime-nee-chan."

Glek!

Bagai tersambar petir di siang bolong, Ullquiora terbelalak mendengar ucapan Soifon. Apa ia tidak salah dengar? Mantan pacar adiknya berselingkuh dengan pacarnya?

Dan hari itupun Ullquiora segera berpikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

.

~Keesokan harinya~

"Apa maksudmu dengan kata 'berselingkuh' yang kau ucapkan itu?"

"Sudah jelas, kan! Kau berselingkuh dengan pemuda berkepang sialan itu!"

"Tapi..."

"Ggio, yang sudah menghancurkan hati adikku."

"Hei..."

"Dan dia bukan hanya berselingkuh dengan Apache, tapi juga kau!"

"Ullqui..."

"Cukup sudah! Kali ini bukan hanya..."

Cup!

Rentetan kata dan makian yang sudah Ullquiora persiapkan terhenti ketika ia merasakan bibir Orihime yang lembut menyentuh bibirnya.

Dan Orihime melepaskan kecupan itu secepat ia memulainya

"Hei... dengarkan aku dulu, Ullqui." Orihime membingkai wajah Ullquiora dengan kedua tangannya.

"Hn."

"Katakan, siapa yang berselingkuh denganku."

"Ggio."

"Katakan, siapa kekasih Soifon."

"Ggio. Tapi sekarang mungkin tidak lagi."

"Dan katakan, siapa kekasihmu?"

"Kau."

Orihime tersenyum sembari melepaskan kedua tangannya di kedua pelipis Ullquiora. Perempuan berambut sewarna langit senja itu menatap lekat mata sapphire Ullquiora sebelum akhirnya ia memanggil Ggio.

"Ggio, tolong kemari sebentar!"

"Ya, kak!"

'Ka... kakak! Ja... jadi...' Ullquiora terbelalak mendengar ucapan Ggio barusan.

.

So this is the way that I'll tell you

That I'll leave you alone if you want me to

But I've had enough of this life alone

I'll give it up this time I know

I don't deserve to tell you that I love you

There's nothing in this world I'd take above you

I'm dead inside

Bring me back to life

.

~Beberapa Hari Kemudian~

Yah, begitulah. Masalah yang pelik itu berujung pada akhir yang manis. Ullquiora dan Soifon sudah tahu bahwa Orihime dan Ggio adalah saudara. Yang lebih mengejutkan lagi ialah Hinamori, bungsu dari tiga bersaudara itu adalah gadis yang diam-diam dikagumi oleh Hitsugaya.

Dan kini, dua orang remaja yang sama-sama berkepang itu sedang duduk di bangku taman Karakura. Keheningan sempat mrngurung mereka untuk beberapa saat ketika akhirnya sang pemudalah yang memulai pembicaraan.

"Hei, Soifon."

"Ya?" Jangan tanya mengapa Soifon sangat perhatian hari ini. Ia hanya mencoba untuk berbaikan dengan Ggio. Itu saja.

Ggio tersenyum simpul ketika mengetahui peluang termaafkan dirinya oleh Soifon sudah terbuka sedikit.

"Jadi bagaimana?"

"Bagaimana apanya?"

"Bagaimana keputusanmu untuk menerimaku kembali?"

"..."

Ggio baru saja ingin berkata lebih lanjut ketika mata emasnya menangkap sosok perempuan berambut hitam pendek yang –baru ia sadari– sudah berada di balik pohon itu semenjak ia dan Soifon pergi ke sana.

Apache.

Ya. Ggio yakin siluet itu adalah dia. Dan kalian sudah pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, kan? Ya. Ggio mengejar sosok itu. Sosok yang ia yakini sebagai sosok Apache, orang yang pernah menyalakan api cinta di hati Ggio. Walaupun akhirnya ia jugalah yang merebut api itu kembali.

Sementara Soifon? Yaaa, kalian boleh saja melewatkan bagian ini karena ketika Ggio bangun dari kursinya untuk mengejar Apache, sepersekian menit kemudian Soifon juga ikut bangun dan berjalan berlawanan arah dengan Ggio.

Dan mungkin pepatah 'tak ada gading yang tak retak' berlaku untuk Soifon saat ini.

.

~Flashback~

Dan akhirnya sepasang manusia inipun mengikat diri mereka sebagai sepasang kekasih saat Ggio menyatakan keinginannya dihadapan Soifon secara langsung.

Hubungan mereka berjalan mulus setidaknya sampai setengah tahun kemudian ketika Ggio menemukan Apache. Sesosok yang bagaikan putri di sekolahnya yang terkenal bukan hanya kecantikannya, namun juga karena ia adalah keturunan dari bangsawan ternama. Dia juga memiliki otak yang encer yang mampu mengharumkan nama sekolahnya dan Ggio.

Yah, memang. Ggio dan Soifon bersekolah di lain tempat. Soifon bersekolah di Seireitei Gakuen, sementara Ggio dan Apache bersekolah di Las Noches Gakuen. Wajar jika Ggio dan Soifon jarang berkomunikasi, kecuali pada saat libur.

Dan, bisa mendapatkan seorang kembang sekolah adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Ggio. Namun tidak bagi Soifon.

.

.

.

TBC

.

Author Note:

Ya, ampuuun... di sini Ullqui-chan OOC sekaliii~ coba ya kalau Ullqui-chan bisa se-imut itu~ pasti saia lebih cinta sama Ullqui-chaaan~ #peluk-peluk Ullqui #dihajar.

Huyuuuh~ ditengah ujian begini masih sempet-sempetnya ngapdet fic? Pelajar SMA macam apa aku iniii~ #dihajar murid SMA se-Indonesia

Kok bisa-bisanya saia begini, ya? Yah, mungkin karena saia kasihan liat fic GS yang kian lama kian sepiii... sekali seperti di angkot (?). Jadinya saia coba meramaikan, deh dengan mengandalkan fic abal saia ini. Ehehehehe...

Hiks... minna~ kasihanilah saia yang sudah ber-jatuhbangun cuma buat ngapdet fic abal saia yang satu ini...

Dengan cara mengklik kotak bertiliskan review di bawah ini~