R&R reply~

Light Usagi : makasih~ :D

Amu-senpai : Yah, pingin langsung empat =ww="" (byar gampang nyambunginnya~ X3)

Fate : makasih~ :D YOSH! UPDATE! XD dan selamat datang di fandom ini~ XD

Kurara-san : *ikut nari pula CX* makasih~ *hug* YOSH! UPDATE! XDD

Cozartcz : Masama~ CX weh? Masa' ? waduh~ sama donk~ XDD

Hikari-chan : yay! XD Manis? O..0 oke deh.. manis~ kaya' eskrimnya~ hwkwkwkkw~ CX yak! YOSH! UPDATE! XD amiiin~ CX

Ruuya : ... fail? Mungkin? Ah.. tapi kalo seumuran udah biasa.. lagipula.. di WfL kan Kaito jadi guru~ *plaaak* /shot , ntar di siksa kok~ (dibaca : disayang dan di taksir ma Miku~ hwkwkwkw~ XD)*grin*

Hanna : bweheheh~ tak apaa~ saia tersandjung~ TTtoTT eh? Panggil In-Chan aja~ gak usah pake senpai~ :D

X33 oke~ yosh!

-thanks for the supports guys!-


In-Chan : I'm ALICE!

Miku : Strees

Len : Dasar author sarap! Masih cari korban pula!

In-Chan : Sewo- Eh! Kok lu disini Lenlen?

Len : Mampir..

Rin : LEEEEENN! *bawa Roadroller*

Len : Gotta to go.. *kabur*

In-Chan : ==""... DISCLAIMER!

Disclaimer : In-Chan Sakura tak memiliki Vocaloid, Utauloid, Dkk~ Hanya saja ia memiliki cerita yang akan kalian baca ini~


Vocaloid © CFM Inc. & Yamaha Corp.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Last Love to Be © In-Chan Sakura


Miku's POV

"Apa!" teriakku pada mamaku dengan nada kurang… bukan.. SANGAT TAK PERCAYA.

"Ya, dan kau harus menerima itu, Miku!" kata mamaku padaku. Aku benci orang ini. Ia masuk begitu saja ke dalam kamarku dan berkata "Kau akan bertunangan 3 hari lagi." Padahal baru 2 jam yang lalu aku bertemu dengan orangnya, ya sensei ku. Dan sekarang? 3 hari lagi kami bertunangan?

Oh, bagus sekali! Bagus!

"Tapi, aku 16 tahun dan aku masih di bawah umur untuk bertunangan atau menikah!" ujarku dengan kesal. Ia selalu memaksakan kehendaknya padaku.

"Aku tak peduli. Kau tetap harus! Atau hidupmu akan berubah 180 derajat jika tidak!"

Aku benci! Aku benci! Aku benci!

"Mengerti?"

Aku menatap mamaku dengan penuh benci. "Aku mengerti,Mama." balasku dengan berusaha mengurangi nada sinisku.

"Bagus!" seru mamaku sebelum ia keluar dari kamarku. Akupun memeluk bantal yang sedari tadi berada disebelahku se erat-eratnya.

Dasar, hanya gara-gara Mikuo pindah tanpa ijinnya, bukan berarti harus aku yang selalu jadi korban amukkannya.

Aku mulai menggerutu dan mengutuk di dalam hatiku.

Kaito's POV

Aku menutup pintu ruang guru dengan frustasi. Bagaimana tidak? Pikiran tentang pertunangan yang tinggal 2 hari lagi itu selalu menghantuiku dan juga bayangan mamaku yang pingsan jika aku menolaknya.

Manalagi calonku adalah muridku sendiri.

Tuhan! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku!

Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! Muridku! MURIDKU!

Oke.. aku akan berhenti..

"Ada masalah Shion?" Seseorang berkata padaku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang yang memanggilku, Kamui-san.

"Tak ada masalah, Kamui-san, hanya capek saja." ujarku sembari berjalan ke mejaku.

Akupun duduk di kursiku dan meletakkan kertas ulangan yang ku bawa di atas meja. "Kau yakin?"

Sekali lagi, aku mengangkat kepalaku dan menatap Kamui-san lagi. "Aku yakin… jangan khawatir.." ujarku sembari tersenyum tipis.

"Baiklah.. tapi katakan jika ada masalah, oke?"

Aku mengangguk. Lalu Kamui-sanpun pergi meninggalkanku dan kertas-kertas pekerjaanku sendirian.

Akupun menghela nafas dengan berat.

Perlahan aku menyingkirkan kertas-kertas ulangan itu ke samping dan meletakkan kepalaku di atas meja.

Kepalaku sakit sekali. Dan ini tidak bagus, mengingat aku baru bekerja di sini kurang dari 2 tahun dan setelah ini aku juga harus mengajar.

Oh, ya.. kelas asuhanku..

Aku menghela nafas lagi. Ini akan mulai menjadi berat.


16.00 p.m.

Aku sedang berjalan menuju ke lobby sekolah ketika aku di hadang oleh seseorang.

"Hatsune-san?" seruku sambil mengangkat ke dua alisku. Gadis berambut teal yang dikucir 2 dan memakai seragam yang kemejanya berwarna putih polos dan rok berwarna biru laut serta dasi yang senada tapi agak berantakan dan juga kaos kaki di bawah lutut itu menghadangku.

"Sensei.. bukan, ...Kaito." katanya dengan nada yang agak menakutkan.

"Hei, kita di sekolah jadi sensei.., oke?" balasku dengan tegas. Aku tak mau dicurigai oleh orang-orang.

Ia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Baik.. Shion-sensei.."

"Ya?" jawabku sembari tersenyum.

"Aku perlu bicara denganmu.." ujarnya dan ia mulai menarikku entah kemana.. aku tak tau..

Yang pasti tarikannya kuat dan menyakitkan.. oww..

Aku harap perjodohan bodoh ini di batalkan..

Miku's POV

Aku menarik si guru bodoh itu ke dalam kelas yang sepi. Ini sudah jam pulang sekolah jadi aman.

"Ada apa Hatsune-san?" tanyanya padaku. Aku menggeram dan menariknya kerah kemejanya itu denga kasar. Apa? Aku tak peduli. Kenapa aku harus peduli?

"Eh.. Hats-"

"Dengar, aku tak mau di jodohkan denganmu dan buat mamamu membatalkan ini!" kataku dengan nada tersadisku.

Dia lebih baik membatalkan ini.. HARI INI JUGA!

"Ah—masalahnya... mamaku juga pasti memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan aku.. kau tau.."

"Aku tidak peduli, KAU HARUS MEMBATALKANNYA! SEKARANG!" bentakku padanya. Ia harus membatalkannya! HARUS!

"D-dengar.. aku juga tidak mau di jodohkan dengan muridku sendiri.." katanya dengan agak gugup.

Aku melonggarkan cengkramanku dan menatapnya dengan heran. "Maksudmu?"

"Mamaku dan mamamu kelihatannya sama.. suka memaksakan kehendak.." ujarnya padaku, masih dengan nada gugup.

Dengan sebal aku menarik lagi kerah kemeja guru bodoh itu. "APA!"

"Jadi kau berkata, bahwa ini tidak bisa dibatalkan?"

Iapun mengangguk. Dengan sangat sebal, aku melepaskan kerah kemeja guru itu dan memegang kepalaku.

"Oh... tidak.. oh.. tidak.. TIDAK! TIDAK!"

Ini tidak bagus.. ini tidak bagus.. ini tidak mungkin!

Kaito's POV

"Oh... tidak.. oh.. tidak.. TIDAK! TIDAK!" seru Hatsune-san mulai berputar-putar tak jelas sembari memegangi kepalanya.

Aku hanya dapat melihatnya dengan pandangan heran.

Kenapa dia?

"Uh.. Hatsune-san?"

Seketika Hatsune-san memutar badannya ke arahku. Ekspresi wajahnya sangat... frustrasi?

Apakah seburuk itu tentang pertunangan ini? Oh, tunggu dulu.. iya, ini memang buruk..

"Apa?" teriaknya kepadaku.

Akupun terkejut.

"A..h..E..mm er..." Aku tak bisa mencari kata-kata. Bagaimana bisa, jika seseorang menatapmu dengan sangat mengerikan tepat di mata?

Tiba-tiba saja Hatsune-san terjatuh dan.. Brukk!

Dengan cepat aku berlari ke arah Hatsune-san yang tersungkur di lantai tiba-tiba.

"Ha-hatsune-san?" ucapku sembari mengguncang-guncang badannya itu. Wajahnya kelihatan sangat frustrasi dan juga nafasnya kurang teratur.

Ga..gawat..


Aku menatap Hatsune-san yang terbaring di sofa apartemenku.

Ia tadi pingsan dan karena perawat serta ruang UKS sudah tutup, aku terpaksa membawanya pulang.

Apa? Eh?

Jangan berpikiran yang macam-macam! (baca : Hentai mind~) Aku tak mungkin melakukan itu pada muridku sendiri!

Akupun menghela nafas.

Aku harus menelepon mama dan Hatsune Kyori..

Pikirku yang kemudian dengan malas bangun dari posisi dudukku di lantai dan berjalan menuju ke kamarku untuk mengambil ponselku.

Miku's POV

Perlahan aku membuka mataku.

Warna putih langit-langit dan aroma teh membuatku sedikit demi sedikit menjadi sadar.

"Ugh.." geramku sembari mencoba melihat lebih jelas.

Di-dimana aku?

"Ah! Kau sudah sadar?" seru seseorang. Suara itu!

Dengan cepat aku memutar kepalaku ke arah suara itu dan mendapati, Guru freak itu memakai pakaian yang cukup santai dan juga membawa teh dengan nampan. Akupun bangkit dari posisiku.

"Jangan berger-"

"Diam!" teriakku padanya. Tidak ada yang boleh mengatur hidupku lagi! Cukup mamaku yang menyebalkan itu!

"..."

Dan kemudian suasana jadi hening.

Tapi kemudian, guru freak itu berdeham, memecahkan keheningan yang ada dan berkata, "Aku bawakan teh untukmu.." sambil mengangkat nampan yang dibawanya itu sedikit dengan wajah yang tersenyum. Kemudian, ia meletakkan cangkir itu di meja kecil yang berada di depan sofa yang ku duduki dan pergi.

Aku hanya bisa menatap guru itu pergi, lalu menatap cangkir berisi teh yang tadi ia letakkan.

Dengan ragu tanganku meraih cangkir itu dan mengangkatnya.

Menghisap aroma teh membuatku sedikit lebih tenang. Dan akupun menyesap teh itu.

"Enak'kan?" seru seseorang tiba-tiba. Dan aku menebak itu si guru freak itu.

Seketika aku menyemburkan minumanku.

"Ew..." seruku pada diriku sendiri saat menyadari beberapa noda teh yang tumpah di rok sekolah yang ku pakai.

"Makanya jangan asal sembur.. aku juga kena di sini.." seru seseorang yang rupanya saat ku lihat adalah si guru freak itu. Tebakanku benar.

"Terserah aku.. siapa kau, mengatur-atur hidupku!" bentakku padanya. "Dan di mana aku?" ujarku yang kemudian meneliti sekelilingku.

Tempat ini sangat rapi dan tak banyak perabotan di sini..

Nyaman..?

"Pertama, ini apartemenku dan kedua.. siapa yang mengatur hidupmu?" Balasnya sembari mengangkat alis.

Matakupun melebar.

D-I-A-P-A-R-T-E-M-E-N-N-Y-A-?-!

Apartemen guru ini?

Jangan-jangan aku sudah dia—

Oh.. mi.. Gawd.. (idih.. alaaayy! *ditabokin*)

"Gyaaaahh!" teriakku sembari menarik seluruh badanku menjadi sebuah lingkaran.

"E-eh?"

"Pergi kau! Kau pasti sudah melakukan sesuatu PADAKU!" teriakku padanya.

Ya, dia pasti sudah melakukan itu padaku!

Aku tak mau! Walaupun aku pernah melakukannya dengan Len... tapi hanya Len! BUKAN GURU FREAK INI!

"A-aku tid-"

"YA! KAU SUDAH! APALAGI ALASANMU MEMBAWAKU KE APARTEMENMU INI!" teriakku lebih keras.

"Kau tadi pingsan.." teriaknya padaku. Seketika aku diam.

Aku... pingsan?

"Aku.. pingsan?" ucapku dengan tenanng sembari menatap guru freak itu.

"Ya, kau pingsan. Dan karena UKS tutup dan perawatnya tidak ada, ditambah 10 menit setelah kau pingsan adalah waktu gerbang sekolah untuk di tutup, aku terpaksa membawamu pulang. Dan aku tak punya niat seperti itu..." ujarnya padaku.

Akupun memasang pandangan heran pada guru ini.

"Dan paling tidak kau harus berterima kasih karena itu.." Tambahnya.

"Kenapa harus?" Tanyaku padanya. "Aku gadis yang paling populer di sekolah dan aku tak perlu meminta maaf ataupun berterima kasih pada orang lain." tambahku sembari menyilangkan kedua kakiku.

"Ck..ck..ck.. "

Akupun mengangkat alisku dan menatapnya lebih heran lagi. "Kenapa?"

"Sepertinya mamamu tidak pernah mengajarimu sopan santun atau aku yang gagal jadi wali kelasmu?" ucapnya sembari meletakkan tangan di dagunya. Padahal ia sedang duduk bersila didepanku hanya dengan mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek selutu berwarna coklat.

"Memang mamaku tidak pernah.."

Dan dengan itu si guru aneh itu mengangkat kepalanya dan menatapku lekat-lekat. Ew...

"Uh..."

"Mamamu tidak pernah?"

Aku menggelengkan kepalaku.

Ya, mamaku memang tidak pernah mengajariku sopan santun,.. oke ia pernah tapi dia berhenti melakukan itu setelah Mikuo pindah.

Ah.. kenangan yang buruk.. tapi hidupku sekarang lebih buruk. Dan itu belum termasuk perjodohan ini.

Kaito's POV

"Uh..."

"Mamamu tidak pernah?" tanyaku pada Hatsune-san. Ia menggelengkan kepala.

Akupun mengangkat alisku. Orang tua macam apa itu?

Akupun bertanya-tanya pada diriku dan kemudian melirik Hatsune-san sekali lagi.

Seketika, aku tersentak sedikit, wajahnya penuh dengan kegelisahan dan kebencian -menurutku- .

Ah, ganti topik..

"Hatsune-san?" seruku padanya.

"I-iya?" jawabnya dengan ekspresi kaget.

"Ayo, kuantar pulang.." ucapku sembari bangkit dari posisi duduk bersilang di lantai. Perlahan aku memutar badanku dan mulai berjalan ke arah meja pantry untuk mengambil kunci mobil.

"Uh.. ah.."

Akupun berhenti. Memutar badanku lagi dan menatapnya lagi.

"Tenang saja, tadi aku sudah menelepon mamamu.. dan ia khawatir.." ujarku sembari sedikit tersenyum.

Tapi bukannya senang, wajahnya berubah menjadi dingin dan seperti orang ketakutan.

Kenapa dia?

"Hatsune-san?"

"A-ah.. iya.."

"Ayo."


In-Chan : *tap..tap* abaaaal~ bener kata Ruuya nih ==""

Miku : Soal?

In-Chan : Fail story TTATT

Kaito : Coba lagi

Miku : Yakyak

In-Chan : baiklah.. TTATT

Miku : R&R~

Kaito : R~&~R~

In-Chan : R&R dan saia akan membuat ini cerita lebih panjang dan BAIK! XDD