Missing Honey
Naruto © Masashi Kishimoto
.
"Kaji!" geram Sakura sambil memandang horor pada tubuh mungil yang bersembunyi ketakutan di belakang Konohamaru.
"Hei Sakura kau merusak pintunya!" tegur Kakashi yang masih shock melihat pintu ruang kerjanya hacur karena ulah Sakura.
Tak mengindahkan protes Kakashi selaku Rokudaime-Hokage, dan juga keberaadaan orang-orang dalam ruangan itu. Sakura menghampiri Konohamaru yang berdiri di pojok ruangan.
Keringat dingin turun dari pelipis chunin muda bermarga Sarutobi itu melihat wanita pink bertenaga monster yang menghampirinya dengan ekspresi garang. Yah, walau sebenarnya ia tahu tujuan Sakura adalah bocah berambut cokelat jigrak di belakangnya.
"S-Sakura senpai. Kumohon jangan memelototiku seperti itu," pinta Konohamaru memelas sambil berusaha menyingkirkan Kaji yang bergelantungan, memeluk kaki panjangnya erat, dengan bibir mengerucut dan mata berkaca-kaca.
"K-Kaji. Lepas," ulang Konohamaru sembari mengangkat kakinya kasar, lalu menendang-nendang udara hampa, sementara sebelah tangannya mendorong kuat kepala bocah bandel itu. Namun hasilnya nihil, Kaji masih menempel erat pada kaki Konohamaru –layaknya perangko.
"Konohmaru-sensei. Tolong aku," mohonnya dengan wajah menggemaskan. Tapi bukan Sarutobi Konohamaru namanya kalau tidak kebal dengan segala rengekan Kaji.
Belum sempat Konohamaru buka mulut. Tubuh mungil Kaji terlepas dari kakinya, akibat tarikan kasar Sakura –yang kembali membuat anak itu bergelantungan lucu seperti anak kucing.
"Kekacauan apalagi yang kaubuat pagi ini Kaji-kun," tanya Sakura dengan nada horor. Masih tak menyadari akan keberadaan sosok teman lama yang sangat dirindukannya, dan sosok itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"T-tidak ada," gagap Kaji ketakutan, berusaha berontak turun dari cengkraman Sakura pada kerah belakang baju hitamnya.
"Hmmmh?"
Sakura tahu Kaji berbohong, hingga ia mengeratkan cengkramannya pada kerah baju anak itu. "Lalu foto apa yang kautempelkan di hidung patung, kepala Godaime-Hokage?" interogasinya lagi dengan wajah semerah kepiting rebus.
Yeah. Saat ini ia benar-benar marah pada si bungsu Hyuuga yang dengan seenak udelnya menempelkan foto semi rated M kedua orang tuanya di patung kepala Hokage.
"Kaji-kun. Jawab Ibu," desak Sakura, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Kaji. Hingga membuat Sakura hampir menghantam kepala landak Kaji dengan tinju , ingin meninggalkan sebuah tanda sebesar bola kasti pada kepala anaknya itu. Namun seseorang menahannya.
"Dia hanya anak kecil. Sakura."
Deg.
Sakura membeku, mata virdiannya membelalak lebar, sesaat lidahnya mendadak kelu. Ia mengenal –dan bahkan menghafal—suara itu. Suara bariton yang dulu selalu terdengar seperti musik di telinganya. Dan hingga sekarang ia masih merindukannya.
"S-Sasuke-kun?" ucap Sakura menoleh, mendapati wajah yang sudah semakin tampan oleh kedewasaan tersebut.
Tak menyahut sedikitpun Uchiha terakhir itu hanya diam. Crimson dinginnya menatap intens dan menusuk pada virdian di depannya . Seakan bertanya 'Masihkah aku ada di hatimu?'
"S-Sasuke-kun," ulangnya lagi. Tak tahu harus berkata apalagi selain menyebutkan nama lelaki itu –suaranya tercekat dan entah kenapa tubuhnya mendadak terasa kebas. Bahkan cengkramannya pada kerah baju Kaji telah terlepas.
"Apa khabar Sakura?' sapa Sasuke sembari melemparkan seringai tipisnya yang terkenal dapat membuat para wanita ataupun gadis-gadis muda lainnya meleleh, termasuk wanita merah jambu di depannya.
.
.
.
Dunia seakan milik berdua, bagi dua insan yang baru dipertemukan kembali oleh takdir yang kejam. Namun suasana romantis –terlarang— yang tercipta secara tak sengaja itu, mendadak rusak oleh sebuah mantra ampuh yang diucapkan Kaji.
"Ingat anak, ingat suami, ingat anak, ingat suami, ingat anak, ingat suami," ucap Kaji. Mulut kecilnya berkomat-kamit layaknya dukun yang mengucap mantra. Sambil menarik-narik ujung rompi jounin sang ibu.
Sakura tersentak. dengan segera ia menjauhi Sasuke. 'Maaf," lirihnya parau sembari menarik Kaji mundur. Bola matanya bergerak gelisah menghindari tatapan penuh tanya Sasuke. Dadanya terasa sesak.
Sasuke mengernyit melihat tingkah aneh Sakura. Wanita itu tidak menyambutnya seperti yang diharapkan, dan malah terkesan menjauhinya. Dan ... anak kecil bandel berambut coklat jigrak dan bermata virdian itu. 'Siapa dia?'
Uchiha bungsu itu baru saja akan kembali maju, untuk menghampiri Sakura. Tapi perkataan Naruto membuat langkahnya terhenti.
"Kaji-kun, sekali-kali menurutlah pada Ibumu seperti Kojiro," nasihat Naruto sambil mengacak lembut rambut Kaji dan Kojiro.
"Terima kasih, Paman."
"Che!"
'I-ibu?' batin Sasuke tersentak. Ditatapnya bergantian Sakura dengan Kaji dan Kojiro. Mendadak tubuhnya terasa lemas. Apalagi ketika Sakura sesekali mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan nanar. 'Apa aku sudah terlambat?'
"Sasuke!" seru Kakashi tersentak bangun dari kursinya, sedikit terkejut melihat tubuh Sasuke yang mendadak limbung. Untunglah Konohamaru dengan sigap menahan tubuh itu.
"Kau tak apa Uchiha-San?" tanya Konohamaru khawtir masih menopang tubuh Sasuke.
"Teme, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?"
"Hn. Aku tak apa, hanya sedikit pusing," sahutnya sembari menepis pelan tangan Naruto yang menghampirinya khwatir. Di cengkramnya secara tiba-tiba pundak Naruto, saat ia merasa tubuhnya kembali melemas, secara tak sengaja pandangan matanya bersirobok dengan mata virdian Sakura. Keduanya sama-sama menyimpan luka di sana.
Menghindari tatapan Sasuke, Sakura terlihat bersandar lemas pada dinding. Ia masih tak percaya pada apa yang terjadi saat ini. 'Kenapa Sasuke-kun harus kembali di saat semuanya sudah terlambat?'
"Dobe, aku mau istirahat. Bisakah kau antar aku ... pulang?" pinta Sasuke sambil berusaha bangun dari topangan Konohamaru, dengan sebelah tangan memijat pelipisnya sendiri.
"Baiklah Teme", sahut Naruto masih sedikit kebingungan dengan sikap sahabatnya yang tiba-tiba tak menoleh dan tak mau memandang Sakura sedikitpun.
Kojiro terdiam, diliriknya khawatir raut wajah sang ibu yang menrtutnya mendadak tak beres itu. "Kau tak apa Bu?" tegurnya sambil menggenggam erat tangan halus Sakura, yang mendadak dingin.
Tersenyum sekilas Sakura hanya menggeleng lemah, bibirnya terlihat bergetar. Ia bingung, tak tahu harus berkata apa pada putera sulungnya.
Tepat pada saat Sasuke dan Naruto hendak keluar dari ruangan hokage, satu sosok lainnya bersergam jounin dengan rambut cokelat panjang, masuk.
"Sak—" Neji mengernyit menatap sosol yang sedang dipapah Naruto. "Uchiha?"
.
To Be Continue.
.
a/n : Gomen pendek & berantakan. Besok kuedit lagi. Publishnya lewat hape. Modem mendadak ngambek un. T_T
Maaf –lagi— karena belum bisa balas review.
Terima kasih buat yang sudah mau mampir. Segala typo dan kesalahan EYD akan segera saya edit.
