Yahhooo! Saya kembali setelah tidur di atas kesetressan saya selama ini dan... EDAN! ANE APDET FIC LAMA AMET!*ditabokkecebong

Selamat menikmati kalian semua!


Diclaimer: Eyesheild 21 itu selamanya punya Ricihigo Inigaki dan Yusuke Murata. Jadi punya saya?Itu ajaib namanya.

WARNING: Abal, gaje,gayus(garing dan jayus), typo gak kasat mata, OOC author yang mencoba mendewa, dan kejanggalan-kejanggalan lainnya. Bila kejanggalan berlanjut hubungi dokter terdekat anda.


.

.

.

Tak terasa sudah hampir seminggu Sena berada di tempat kos barunya ini, hari-harinya pun ia jalani dengan berbagai kejadian aneh dan gila. Yah, setidaknya dia tidak sedepresi saat dia menemukan seekor bunglon dengan santainya tiduran di kasurnya, tapi yang membuat dia makin depresi adalah anak kos dengan santainya bilang bahwa itu sudah hal yang sangat biasa. Gimana gak makin depresi dia!

Dan berhubung ini hari minggu, dia bisa bangun siang.

Eits! Di sini gak ada program 'lazy Sunday' jadi siap-siap saja apa yang direncanain anak-anak kos buat hari minggu. Hahaha! Rasakan itu Sena!*dibakar Sena FC

.

.

.

"WHOY BANGUN! INI UDAH JAM 6 PAGI GAK BOLEH MALES-MALESAN WOY!" teriak Riku dibantu dengan toa. Kenapa pake toa? Soalnya dia udah kapok diejek Kotaro selama seminggu cuma gara-gara dia teriak suaranya kayak cewek. Padahal Riku udah bilang kalo dia lagi serak.

"JANGAN MALES-MALESAN! SEKARANG BUKAN WAKTUNYA! MAU JADI APA KALIAN KALO MALES-MALESAN, HAH?" oh ternyata ada Kakei juga

"AH, BERISIK!" teriak Taka yang sedang enak-enaknya tidur, siapa suruh begadang.

"Oh, yasudah. Eh Shin, hari ini kamu masak buat aku, sama Kakei aja ya! Yang lain biar beli aja." Kata Riku yang udah naik pitam.

Mendengar itu, anak-anak kos langsung berhamburan keluar kamar. Kayak lagi dikejar setan aja, mereka langsung lari menuju ruang makan pake kecepatan cahaya masing-masing.

Tapi saudara-saudara, ternyata apa daya. Di meja makan hanya tersedia 3 roti beserta , bu Megu dan si kembar Amethyst Amerta sedang enak-enaknya menyantap sarapan , mereka pun ngamuk.

"SHIN! MANA SARAPAN BUAT KAMI!" teriak anak-anak kos bebarengan.

"Tuh, ambil aja sendiri, ada roti kan di meja makan, selainya juga ada. Siapin masing-masing, kalian tau kan, ada yang gak suka ini lah itu lah, makanya aku siapin roti buat sarapan hari ini. Lumayan tuh, kalian bisa tumpuk sampai 3 tumpukan." Jawab Shin panjang lebar.

"Oh" anak kos hanya ber-oh ria.

Akhirnya mereka pun menikmati sarapan mereka masing-masing. Shin, Akaba, Sena, Taka, Riku, dan Takami hanya mengambil 2 lebar roti tawar. Sedangkan Kakei dan Kotaro mengambil 3 tergoda sama Amerta yang rotinya pake telur, alhasil anak kos langsung meyerbu dapur untuk menggoreng telur yang ada di kulkas. Bukannya menggoreng, mereka malah berantem.

"Eits, aku dulu yang ngegoreng telurnya." Kata Riku sambil berlari menuju dapur.

"Et, enak aja! Aku duluan!"Kotaro sewot.

"Yang cantik dulu lah yang ngegoreng duluan!"Taka malah ikut-ikutan, kayaknya dia sadar kalau dia cowok 'cantik'.

Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro masih adu mulut. Mari kita lihat kubu yang sebelahnya.

"Kalian mau numpang goreng telur gak? Biar cepet." Kata Shin menawarkan bantuannya sebagai koki.

"Mau!" jawab Sena, Takami, dan Kakei bebarengan.

"Eh sekalian nitip goreng sosis ya!"Kakei nitip Shin cemberut.

Saat Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro masih ramai-ramainya ribut, mereka tiba-tiba mendengar suara sesuatu yang digoreng. Alhasil mereka pun menoleh ke sumber suara.

Oh, ternyata Shin yang lagi goreng telur.

Whot? Tunggu, menggoreng?

Saat itu juga Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro langsung menyerbu koki kesayangan mereka.

"SHIN CURANG!" teriak Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro bersamaan.

"Siapa yang curang? Salah sendiri kalian malah sibuk berantem." Kata Shin datar.

"KAMU GAK BILANG KALAU BOLEH NITIP!" seru Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro bersamaan.

"Salah sendiri kalian berantem."Omongan Shin tadi membuat Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro pundung. Siapa suruh berantem!

Riku, Taka, Akaba, dan Kotaro Cuma bisa pasrah, akhirnya mereka dengan tertibnya menggoreng telur mereka. Sedangkan yang lain? Sudah sibuk dengan rotinya masing-masing.

Setelah acara makan-makan selesai, mereka langsung bergegas ganti baju dengan pakaian olahraga kecuali Taka dan mereka cuma mau main catur.

Yang bikin heran cuma Amethyst, biasanya dia berenang bareng Kakei, tapi dia malah bawa-bawa kamera.

"Fufufu, hari yang bagus untuk mencari referensi" kata Amethyst sambil senyum-senyum mesum.

Sedangkan Taka dan Takami hanya bisa berduka deh buat dijadiin bahan siap jahil Amethyst.

.

Sena, Shin, Akaba, Kotaro dan Amerta sudah siap di depan rumah untuk lomba lari dadakan. Amethyst Cuma senyum-senyum gak jelas daritadi. Sepertinya mereka gak nyadar bahwa akan ada bahaya mengancam.

"Ya semuanya, seperti minggu-minggu yang lalu, kalian Cuma butuh 1 keliling komplek buat menang, yang menang bakal ibu kasih uang bekel tambahan, yang kalah harus mandiin Juleha sama Mei, mengerti?" kata bu Megu panjang lebar.

"Kak Shin pasti akan ku kalahkan kali ini!"Kata Amerta bersemangat sedangkan Shin Cuma masang muka datar, trendmark permanent.

.

.

"Semuanya, bersiap di posisi." Bu Megu memberikan aba-aba.

"siap, mulai!"

PRIT!

Akaba, Ametra, Kotaro, Riku, Shin, dan Sena lansung berlari meninggalkan bu Megu dan yang lain. Sena dan Shin memimpin, sementara sisanya di belakang.

"Wow, tak kusangka anak baru itu cepat, ya." Komentar Kakei.

"Hihihi, benar-benar sempurna."Amethyst malah berkomentar yang aneh-aneh.

"Hei Amethyst, tumben gak berenang dulu." Tanya Kakei.

"Ada sesuatu yang tidak bagus untuk dilewatkan, kakak sendiri? Kenapa gak berenang coba? Karena gak ada aku ya?" jawaban Amethyts tadi cuma disambut krik-kriknya Kakei.

Baiklah kita kembali ke pertandingan.

Sena dan Shin masih saja sejajar, disusul Riku di belakangnya, lalu Akaba, sedangkan Kotaro dan Amerta di belakang.

"Sial!Kenapa harus sama orang ini sih?" gerutu Amerta.

"Kecepatanku sama dengan anak SMP? Oh, sungguh gak smart!" omel Kotaro

"Ih, gak sudi kecepatanku sama dengan maniak sisir nan mesum gini."Amerta sewot, Kotaro kepancing.

"Siapa juga yang sudi kecepatannya sama dengan pecinta bola ini?"Kotaro balik sewot.

"Oke! Kalau gitu, siapa yang terakhir dia yang harus beliin es krim magnum selama 1 minggu, setuju?" tantangan Amerta tadi langsung disetujui oleh Kotaro.

"Oke, setuju!" kata Kotaro bersemangat.

.

.

.

Sudah hampir 1 menit pertandingan berlangsung, tapi belum ada yang muncul sudah siap dengan kameranya dan bu Megu dengan cuma harap-harap cemas, sedangkan yang main catur masih adem ayem.

Akhirnya saudara-saudara! Terlihatlah dua orang yang sedang berlari dengan sekuat tenaga, mengorbankan martabat serta pertumpahan darah yang cukup dasyat. Mereka mempertahruhkan ras dan spesies mereka masing-masing kawan! Mereka berusaha mencapai garis finish dengan susah payah! Marilah kita bersorak-sorak kawan! Untuk Indonesia jaya, Merdeka!

KH: Meong! Ini cerita bukan buku catatan sejarahmu, bodoh!

MA: Ehehe kecebong, sori ye, persentasi sejarah 45 slide lebih itu melelahkan lho, ehehe.

KH: Udah sono! Lanjutin ceritanya, jangan curcol di sini!

MA: Baik bos!

"Hah- hah-, kau hebat juga ya." Puji Shin yang berlari di samping Sena.

"Kau juga, Shin." Sena memuji balik dengan gaya lelakinya.

Mereka berdua sudah tinggal beberapa meter lagi mencapai garis finish, Amethyst sudah siap memotret kapan saja, Kakei dan bu Megu sudah harap-harap cemas. Yang main catur? Dengan asyiknya menonton lomba lari antar sesama anak kos.

Dan …

"SELAMAT!"Amethyst, Kakei, dan bu Megu langsung menghampiri mereka sukses mencetak rekor baru.

"Selamat ya, kak Sena, kak Shin. Kalian berhasil masuk garis finish secara bersamaan!" Amethyst mengucapkan salam pada mereka.

"Eh, anu … itu bukan apa-apa kok" jawab Sena malu-malu.

"kesempatan!"

"Oh ya, ka- ah!" tiba-tiba saja Amethyst tersandung oleh kakinya sendiri dan mendorong Sena kea rah Shin.

BRUK!

Sungguh saudara-saudara, Sena benar-benar sudah membuat Shin jatuh, terlebih lagi mereka berdua jatuh dengan posisi yang tidak elit saudara sekalian.

Shin yang ada di bawah dan Sena yang ada di atas, dan mereka hampir bersentuhan bibir.

Sebentar, meong ambil tisu dulu.

Sementara yang lain? Kakei dan bu Megu Cuma bisa cengo melihat yang lagi main catur? Mereka sudah ingin tebar bunga di sana. Bagaimana dengan Amethyst?

"REFERENSI!" teriakan Amethyst tadi malah makin membuat orang-orang di sana makin keliatan kayak orang tolol.

Amethyst langsung memotret dari berbagai sudut posisi Shin dan Sena dipotret malah belum on otaknya.

Beberapa detik kemudian, Shin yang baru on itu langsung ingat kalau Amethyst itu seorang fujoshi.

Lho apa hubungannya? Jelas! Satu, itu bahan referensi buat komiknya. Dua, itu foto bisa jadi ancaman buat , yang paling parah kemungkinannya foto itu bisa dijual dan yang punya dapet untung sebesar-besarnya.

Gak mau lama-lama jadi bahan bengong semua orang, Shin langsung mendorong Sena dan langsung membantunya saja mau ngomong, Sena sudah minta maaf.

"Maaf, Shin, tadi itu benar-benar kecerobohan yang sangat tidak terduga, apalagi tu sangat memalukan. Jadi tolong, maaf …" kata Sena sambil memasang muka inosen ala Hatsune Miku di fandom tetangga.

"Ya, tidak apa-apa." Jawab Shin dengan wajah yang masih merah.

Bukannya bubar jalan, mereka berdua malah masih tatap-tatapan, Sena malah salting, Shin malah makin merah Amethyst malah seneng kegirangan karena hari ini dia panen referensi.

"Hah- akhirnya nyape sini juga, eh, Sena, Shin ngapain kalian tatap-tatapan gitu sampe muka kalian kayak kepiting rebus disambel?" pertanyaan Riku yang baru selesai lari itu malah bikin mereka makin merah. Sadar melihat Riku datang, Amethyst langsung nyamperin Riku.

"Eh, eh kak Riku, mau lihat apa yang tadi aku potret gak, menarik sekali lho, fufufufu." Kata-kata Amethyst tadi sukses membuat Shin memberikan death glare-nya, Sena sudah mirip kayak kepiting rebus disambel, Riku malah makin penasaran saja, bu Megu langsung datang memecahkan acara bengong-bengongan itu.

"Kalian, kalau sudah selesai lari cepat berenang sana!" kata-kata bu Megu tadi langsung membuat orang-orang di sana sadar.

"Baik bu!" Jawab Amethyst, Riku, Sena, dan Shin bersamaan.

Setelah mereka ber-4 masuk ke kos-kosan, bu Megu Cuma bisa menghela nafas.

"Dasar remaja zaman sekarang …"

Baru saja bu Megu mau masuk ke rumah, Akaba menyelesaikan lombanya.

"Hah- akhirnya, lho bu, mau ke mana?" baru selesai lari, Akaba sudah ngasih pertanyaan.

"Mau masuk, pengen bikin teh." Jawab bu Megu singkat.

"Lho, lombanya?" pertanyaan dari Akaba tadi sukses membuat bu Megu berhenti melangkah.

"Oh iya, ibu lupa." Pernyataan bu Megu tadi sukses membuat Akaba facepalm.

Baru beberapa saat bu Megu dan Akaba ber-facepalm ria, terjadilah kejadian yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak kos.

"KOTARO VS AMERTA!ITU MEREKA UDAH MAU NYAMPE!" teriak Akaba.

Sena, Shin, Kakei, dan Amethyst yang baru mau masuk kamar cepat-cepat menuju ke luar rumah untuk menonton pertandingan Kotaro vs Amerta yang kesekian kalinya.

"Ayo kakak!Kakak pasti bisa!" teriak Amethyst dengan kamera di tanganya.

"E, eh aku tidak tahu harus mendukung yang mana tapi … kalian berdua berjuanglah!" kata Sena mencoba memberi semangat.

Sedangkan sisanya Cuma bisa masang tampang serius.

Mari kita lihat Kotaro dan Amerta

"Hah, hah, Kakak pasti akan kukalahkan!" seru Amerta sambil mengatur nafas.

Kotaro gak mau kalah "yang ada lu kali yang kalah bocah."

"Huh! Ayo kita tentukan dengan lomba ini!"

"Oke!"

Terjadilah balapan lari layaknya ibu-ibu yang lagi ngejar diskon gede-gedean. Saling nyusul dan saling nyelip-nyelipan.

5 meter lagi, anak kos masang tampang serius.

3 meter lagi anak kos masang tampang serius+kerut-kerutan di jidat.

1 meter lagi anak kos udah keringat dingin.

Dan...

Dan...

"SELAMAT KALIAN MEMANDIKAN JULEHA DAN MEI!" anak kos girang yang disorakin malah manyun mesem.

"Wah, dapet jekpot lagi deh kalian." Kotaro dan Amerta Cuma bisa mesem-mesem mendengar perkataan Kakei tadi.

Tiba-tiba bu Megu dateng dari dalem rumah "nih ibu titip Juleha sama Mei, tapi kalian renang dulu. Ibu mau pergi ke Pasar." Sebelum bu Megu beranjak pergi, bu Megu memberi pesan kepada anak-anak kos "dan jangan berbuat mesum kapada Amethyst mentang-mentang dia perempuan sendiri, terutama kamu Kotaro." Yang lain bilang siap, yang disepet cuma masang tampang manyun.

Setelah bu Megu meninggalkan mereka, mereka langsung bergegas menuju kamar masing-masing dan ganti baju. Tapi tunggu, sepertinya mereka melupakan sesuatu …

"TAKA SAMA TAKAMI GAK ADA!" mereka langsung lari menuju ruang depan. Takut ada apa-apa, ada yang masih sempetnya bawa petungan sama tali.

Saking panik sama khawatirnya mereka, mereka sampe lupa kalau pintu depan dikunci. Alhasil dengan bodohnya mereka mikir ada yang ngunci dari luar dan pengen dobrak pintu. Untung Akaba ngeliat kunci rumah masih tergantung dengan manisnya di lubangnya. Tanpa pikir panjang, mereka langsung membabi buta sang kunci dan memutarnya. Saat mereka berhasil membuka pintu, mereka dikejutkan dengan pemandangan yang uh…

Taka dan Takami yang nyaris sekarat dengan papan catur.

"UWOH! KALIAN KENAPA!" teriak anak kos bersamaan.

"Huwee, kalian jangan mati dulu, kalau kalian mati gak ada yang Menuhin perpustakaan lagi , gak ada yang bisa ditanyain atau disuruh ngerjain PR gratisan …" kata Kotaro dengan lebaynya.

Karena gak terima, yang diomongin malah masih sempet-sempetnya jawab dengan keadaan yang nyaris mati "dasar bodoh, cepat ambilkan mint … permen juga boleh …" kata Takami yang diikuti anggukan kecil Taka.

Semua yang masih panik di situ langsung jadi orang bego. Di mana mereka bisa mendapatkan mint? Apakah mereka harus menanyakan Dora the Explorer? Apa mau minta Doraemon supaya ngasih minjem mereka barang ajaib?Mereka langsung terdiam sejenak, lalu terlintaslah bayangan seseorang.

"Shin, kamu punya kan? Permen mint?" Tanya Riku dengan tatapan tajam khasnya. Sedangkan yang ditanya cuma bisa diem.

"Hayo, jangan coba sembunyi, relakan sajalah, Cuma dua." Kotaro mencoba mendesak.

"A, anu…" bukannya ngasih, Shin malah jadi orang yang kelihatan diintimidasi.

"Kalau gak mau, kita yang akan bertindak lho." Senyum mesum ala Amethyst langsung memberikan sinyal kepada anak-anak yang lain.

Anak-anak tau kalau Shin itu diserang secara fisik juga bisa nangkis, tapi Amethyst punya cara untuk melemahkan Shin.

"Kak Shin …" dengan tampang mesum, Amethyst berusaha memojokan Shin. Baru dapat sinyal, Kakei mencoba menyerang Shin dari belakang. Gagal memang, tapi ini yang dimaksud Amethyst.

"Fuh~" Amethyst langsung menghembuskan nafas dengan lembut di sekitar leher dan telinga Shin. Melemah, Kakei langsung mengunci tangannya. Dan Kotaro yang memeriksa sakunya.

"Yes ketemu! Permen mint! Tangkap Sena" Kotaro langsung melemparkan 2 permen mint yang mereka 'rampok' dari Shin. Sena langsung menangkapnya dan memberikannya kepada Taka dan Takami.

Setelah beberapa saat, mereka berdua kembali normal.

"Hah, akhirnya sembuh juga ni bocah dua. Emang siapa sih yang buat tehnya?" Tanya Akaba.

"Bu Megu." Jawab mereka berdua.

Mereka yang ada di sana langsung diam seribu bahasa, pasti bu Megu salah bedain gula sama garam. Lalu mana the melati mana jamu pelangsing. Dan sekarang, sepertinya mereka harus membuat label pada 'barang-barak tak berbahaya jika dicampur bisa bikin orang mati'.

Lalu, bagaimana dengan Shin?

Dia Cuma bisa tertunduk lemas gara-gara ulah teman-temannya tadi. Yang jadi masalah adalah. Itu permen belinya di Indonesia. Gak mungkin kan dia jadi orang tolol yang mau ngerelain uang buat ngimpor 1pack permen? Yang parahnya lagi itu last stock.

"Ka, kalian …" anak-anak kos udah merasakan aura gak enak dari belakang.

Makin lama makin kerasa.

Gak tau darimana asalnya, muncul sesosok manusia yang sedang membawa pisau daging dengan santainya "kalian tidak akan kubiarkan kali ini"

"UWOH! AMPUN SHIN!" terjadilah aksi kejar-kejaran antara jack the ripper vs anak kos.

Pesan moral: jangan suka ambil makanan orang kalau orang itu belum memberi izin.

.

.

.

"KOLAM RENANG KAMI DATANG!" anak-anak kos berlari menuju kolam dengan amat sangat bocahnya. Kalau dua orang pemilik kosannya sih gapapa. Tapi sisanya?

Byur! Anak-anak kos langsung pada nyebur ke kolam, gak Cuma itu. Mereka langsung bermain ala anak kecil.

"Rasakan ini kak Kotaro!" serangan bola voli dari Amerta dengan mudahnya ditangkis oleh Kotaro. Merasa geram, Amerta mencoba cara lain.

Dia mulai menyelam dan menarik kaki Kotaro dari bawah, otomatis, Kotaro yang gak bisa berenang itu langsung teriak-teriak gaje.

"WAA! TOLONG! ADA MONSTER PENARIK KAKI!" anak-anak yang lain cuma bisa nahan tawa gara-gara tingkah Kotaro.

"Bodoh! Liat dong siapa yang narik kakimu." Usulan Akaba tadi langsung mengubah ekspresi Kotaro.

"WOY BOCAH TENGIL! SINI KAMU!" terjadilah aksi kejar-kejaran antara Kotaro dan Amerta untuk kesekian kalinya.

.

.

.

Setelah mereka capek berenang, anak-anak langsung bersantai ria di air. Ametyst yang kecapean pun cuma bisa tidur mengambang di kolam.

"Yah, ni bocah tidur." Perkataan Taka tadi diikuti senyuman kecil anak-anak kos yang lain.

"Mau diapain nih?" Kotaro malah nanya.

"Mending dibawa ke dalem daripada di sini dibiarin. Entar masuk angin." Muncul deh jiwa dokternya Takami.

"Bener tuh. Daripada diapa-apain gak jelas sama 'maniak sisir nan mesum' in.i" Kata-kata Amerta ini langsung disambut tatapan horrornya Kotaro.

"Udah ah! Kalian berantem mulu dari tadi. Bosen tau. Mending kita bawa Ametyst ke dalem, terus kalian berdua mandiin Juleha sama Mei deh." Amerta dan Kotaro langsung nurut sama perkataannya Akaba.

"Yaudah ayo masuk. Shin biasa ya! Gendong Ametyst." Shin Cuma bisa mangut-mangut mendengar Riku tadi.

"Anu…" tiba-tiba di tengah perjalanan masuk, perkataan Sena menghentikan mereka.

"Ada apa Sena?" Tanya Taka.

"Sepertinya kita melupakan sesuatu." Perkataan Sena langsung menimbulkan tanda Tanya besar di kepala anak-anak kos yang lain.

"JULEHA SAMA MEI GAK ADA!" lagi-lagi mereka harus memburu 2 reptil peliharaan yang seneng kabur ini.

.

.

.

"GOSOK YANG BENER DONG BOCAH!"

"KAKAK JUGA! ITU PEGANG YANG BENER!"

Yah, inilah yang terjadi jika Kotaro dan Amerta memandika Juleha dan Mei. Mereka kayak gak pernah bosen buat adu bacot setiap mereka disatuin di suatu tempet. Tapi, inilah yang bisa melepas stress mereka berdua.

Sementara yang lain cuma ngobrol ngalur ngidul di ruang tengah sambil nungguin bu Megu.

Panjang umur, bu Megu baru pulang dari pasar.

"YAY! IBU PULANG!" anak-anak yang tadinya ngalor ngidul malah langsung teriak-teriak gaje.

"Bu bawa oleh-oleh gak?"

"Bu, beli caviar gak bu?"

"Bu, beli permen gak bu? Coklat bu?"

Pusing langsung disuguhin banyak pertanyaan, bu Megu langsung mengalihkan topik "Ya anak-anak. Kalian sudah mengerjakan tugas masing-masing? Terus mana Amethyst?"

"Di kamar lagi tidur. Kayaknya dia kecapean deh bu." Kata Taka.

"Oh ya bu, tadi ada titipan dari pak Trisno. Katanya dari pak Rui." Kata Sena sambil menyerahkan paket bersampul coklat itu.

Spontan, anak-anak yang penasaran langsung mengerubungi bu Megu. Sedangkan bu Megu hanya bisa diam meneripa paket itu.

Srek! Paket coklat itupun dibuka dan mereka langsung terpukau.

Sebuah paket berisi batu Opal, Amethyst, Ruby dan Belian itu langsung membuat mereka yang ada di sana terdiam. Lalu bu Megu membuka lagi paket yang ditumpuk di bawanya.

Sebuah paket yang berisi gelang dan kalung emas, coklat, beberapa barang kesukanan anaknya, dan sepucuk surat. Lalu, karena tidak sabaran, bu Megu langsung membacanya.

.

Buat istriku tersayang, maaf ya sepertinya kepulanganku diundur lagi, aku benar-benar kangen sama kamu. Kangen sama anak-anak kita juga. Oh ya bagaimana anak-anak kos di sana apa membuatmu tidak nyaman? Apa membuatmu stress? Lalu apa ada anak baru?

Hahaha! Aku ini suami yang benar-benar tidak bisa menjaga perasaan istrinya ya, kayak bang Toyib. Udah lama gak pulang, ngasih kabar pun jarang…

Tapi tenang! Aku punya hadiah untukmu untuk mengobati perasaanmu. Tapi, sepertinya itu tak sebanding dengan dengan kepulanganku ya?

Sekali lagi aku kangen…

Kangen sama Masakan kamu dan Shin

Kangen sama Kakei dan mbok Made yang sering bantuin pekerjaan rumah kamu.

Kangen sama Takami yang waktu itu ngerawat kita sekeluarga sampe dia izin kuliah.

Kangen sama Taka yang sering ngajarin anak-anak kita.

Kangen sama keributan Akaba sama Kotaro.

Kangen sama Riku yang pernah marahin kita gara-gara boros.

Kanges sama mas Trisno yang sering ngingetin kita.

Bener-bener kangen, kangen…

Anak kos mungkin sekarang udah nambah lagi ya, ehehe.

Udah ya! Segini aja suratku untukmu. Sampaikan salam hangatku pada mereka ya, my honey.

Habashira Rui

.

Lalu, di dalam surat itu terdapat beberapa foto sang bapak kos yang sedang tersenyum. Lalu di belakangnya ada tulisan,

Ini Candi Prambanan, lalu ini candi Borobudur kalau kalian berlibur aku ingin mengajak kalian!

.

Terdiam, semuanya terdiam.

Bu Megu hanya bisa menangis melihat surat itu, sedangkan yang lain hanya bisa terisak.

"Jadi … sudah berapa lama pak Habashira pergi?" Tanya Sena.

"Sekitar 10 bulan yang lalu"Jawab bu Megu sambl terisak.

"lamanya …" semuanya hanya terdiam.

"Wah, akhirnya selesai juga nih mandiin ni bocah dua. Eh, kalian ngapain pada nangis-nangis begitu?" pertanyaan Kotaro tadi cuma membuat mereka makin terdiam.

Bu Megu hanya menjawabnya dengan memberikan sepucuk surat tadi. Otomatis mereka berdua langsung membacanya.

"Ayah …" Amerta hampir menangis membaca surat tadi. Sedangkan Kotaro berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis.

Semuanya terdiam, tidak ada yang mau membuka topik apapun saat itu. Berusaha untuk tidak menangis dan berteriak, sulit memang. Tapi itulah yang sebisa mungkin mereka lakukan untuk tidak membuka kenangan lama.

Ya, kenangan lama yang membuat hati ingin berteriak sekencang-kencangnya.

"Ayah, cepat pulang!"


AUTHOR'S NOTE:

AKHIRNYA SELESAI JUGA! EDAN JUGA SAYA NYELESAIN INI BEGITU LAMA TT~TT

Eniwey mau curcol dikit dong.

Waktu tanggal 1 maret (hari kamis) aku kan baru masuk tuh, nah ada tugas matematika, nah di nomer dua itu, kita disuruh nyari jari-jari lingkaran yang ada di dalam segitiga. Kebetulan aku les kan, jadi aku tau rumusnya. Tapi, kata guruku gak boleh make rumus jadi, harus nemu sendiri rumusnya. Parahnya lagi, guruku ngomong gini,

"Kalian tuh kalau pake rumus jadi diibaratkan arsitek sama kuli, arsitek kalau mau bangun gedung harus nentuin segalanya sedangkan kuli cuma bisa mengerjakannya saja. Nah, kalau kalian pakai rumus jadi, berarti kalian sama kayak kuli."

Bener sih bener perkatakan guru matematika ane tapi ...

BU SADAR DONG KITA MASIH KELAS 2 ES-EM-PE! LU KIRE KITA-KITA ANAK KULIAHAN HAH?

Karena guru itu juga ulangan harian pernah 1 kelas nilainya telur dino termasuk ane.

Akhir kata reviewnya dong