Chapter 4: Our daily life! And, a newcomer!

Diclaimer: Eyesheild 21 itu selamanya punya Ricihigo Inigaki dan Yusuke Murata. Jadi punya saya? Itu ajaib namanya.

WARNING: Abal, gaje,gayus(garing dan jayus), typo gak kasat mata, OOC author yang mencoba mendewa, dan kejanggalan-kejanggalan lainnya. Bila kejanggalan berlanjut hubungi dokter terdekat anda.

.

.

.

"Kami berangkat ya!"

Anak-anak kos beranjak pergi meninggalkan ibu kos. Begitu juga anak-anaknya, tapi sebelum itu, mereka salaman dulu sama ibu kos.

"Ya, kalian baik-baik ya, jangan terlalu memaksakan diri." Kata bu Megu layaknya seorang ibu dari mereka semua. Anak-anak hanya membalas bu Megu dengan senyuman.

.

.

.

Sena's daily life, start!

.

"Lari yang cepet cebol sialan!"

"Jangan berlagak lemah! Kerahkan semua tenagamu!"

Ya, inilah kehidupan Sena saat berada di universitas. Ada sang komandan neraka yang suka memerintah mereka dan dinosaurus liar yang tak pernah jinak.

Ya! Siapa lagi kalau bukan Hiruma dan Gaou?

"Tck! Hei cebol sialan! Kau tidak bisa meraih kecepatan 4 detik/40 yard, ya?" Tanya Hiruma sembari membentak.

"Maafkan aku, kak Hiruma. Tapi hari ini aku sudah sampai batasnya." Jawaban dari Sena tadi membuat Hiruma naik darah.

"Wah, wah, sepertinya hari ini suasana memanas, ya. Kasihan Sena." Komentar Suzuna sembari melihat Sena.

"Hari ini sepertinya kak Hiruma sedang tidak stabil emosinya, max~" Perkataan Monta tadi diikuti oleh anggukan teman-temannya.

"Semoga Buddha memberkati mereka." Yang lain hanya menatap gaje kea rah Yamabushi.

Tiba-tiba, seseorang datang lalu menepuk pundak Sena dan Hiruma, "hei, ini masih pagi, tidak ada gunanya kalian bertengkar. Hiruma, sebaiknya kau dinginkan kepala dulu. Emosimu sedang tidak stabil."

"YAMATO!" tiba-tiba, teman-teman satu timnya menghampiri lelaki itu, yang dipanggil menoleh, tapi naas, malah dia yang ketimpa tubuh temannya sendiri.

Lelaki yang dipanggil Yamato itu hanya bisa tertawa kecil, setiap mereka latihan dan ada yang bertengkar, nasibnya pasti selalu seperti ini.

"Sudah, sudah." Yamato berdiri sembari membersihkan tubuhnya "bagaimana kalau hari ini kita latihan ketangkasan saja. Rasanya hampir sebulan kita tak pernah berlatih seperti itu."

"Oh iya, karena kak you sering gak masuk ya?" Tanya Suzuna.

Ikkyu menjawab dengan gampangnya "bukan karena itu saja Suzuna, sekarang kan, Hiruma sudah punya pacar." Yang lain hanya menatap sedih atas apa yang diucapkan Ikkyu tadi, benar-benar tak tahu tempat. Sebaliknya yang diomongin malah ketawa ala setan.

"Kekeke, kalau kalian maunya seperti itu, baiklah." Sena dan teman-temannya sudah merasakan hawa tak enak dari belakang, makin lama makin kerasa.

"KEKEKE! RASAKAN INI BUDAK SIALAN!" Hiruma melempar beberapa granat, petasan, dan bahan-bahan peledak lainnya. Tapi lama-lama Hiruma melemparkan tomat, jeruk, bawang, saus kecap, daging, dan bahan-bahan makanan lainnya, tak ketinggalan, uang pun juga jadi bahan lemparannya Hiruma.

Oke, yang terakhir, Sena dan teman-temannya bukannya malah menghindar dari lemparan Hiruma tapi malah mungutin uang.

Selagi mungutin uang, Yamato menyapa Sena "hey Sena, di tempat kos mu masih ada kamar kosong kan?"

"Iya."jawab Sena "memangnya kenapa kak Yamato?"

"Kalau masih ada, aku mau ngekos di sana. Boleh kan?" perkataan Yamato tadi sukses membuat Sena berbengong ria sebentar. Tapi naas, yang ada Sena malah kena lemparan saus BBQ dari Hiruma.

"Graooo!" tiba-tiba suara anjing yang sedang kelaparan terdengar makin jelas di telinga Sena.

"HIE! TOLONG!" akhirnya dengan sangat pasrah, Sena harus berkejar-kejaran dengan Cerberus. Sementara yang lain hanya bisa melihat Sena dengan iba.

Poor Sena.

At the same time, Taka and riku's daily life, start!

"Hm…" Riku bergumam sendiri di depan pintu gerbang universitasnya.

"Hum…" kali ini Riku melihat ke sekitarnya.

"Woy Riku, ngapain sih kamu berlagak kayak maling? Tinggal masuk ke pintu gerbang ini aja susah amet! Dan, lepaskan tanganku. Kalau ketahuan Amethyst, bisa-bisa kita gak selamat." kata Taka yang daritadi tangannya dipegang oleh Riku.

"Sst!" Riku memberi perintah "kalau bukan karena gambar itu pasti daritadi aku udah masuk kali!"

Taka malah menjawab dengan entengnya "yaudah, masuk aja sana! Kalau enggak, aku masuk duluan nih."
"Tunggu!" Riku masih memegang tangan Taka "temenin dong!"

"We, enak aja! Gedung kita kan beda! Kamu yang sebelah kanan aku yang sebelah kiri. Kalau aku nganterin kamu, pegel dong! Lagian hari ini aku ada persentasi sama arkeolog senior.

Riku malah merengek sambil masang wajah babyface "ayolah… Taka kan baik, pinter, cantik lagi."

Taka malah kena rayuan "oke, tapi cuma hari ini ya."

Akhirnya mereka pun masuk dengan saling berpegangan tangan. Baru selangkah mereka masuk, segerombolan orang langsung menghampiri mereka berdua dengan berbagai macam sapaan seperti:

"Ah, Riku pangeranku yang paling imut, jadilah pacarku!"

"RIKU! MENIKALAH DENGANKU!"

"RIKU! KAMU BELUM BAYAR UTANG GEHU!" tiba-tiba ibu kantin ikut-ikutan mengejar Riku.

"IYA, IYA! ENTAR AKU BAYAR BU!" jawab Riku sambil terus berlari.

Dan setelah teriakan-teriakan histeris nan gaje itu, terjadilah aksi kejar-kejaran antara Riku+Taka vs gerombolan fangirl

Di sekitar aula…

"hah- hah- akhirnya selamet juga kita." Kata Riku dengan nafas yang masih belum teratur.

Taka menjawab sambil merapikan rambutnya "ya selamet jadi cape. Jadi ini ya latihan pagi biar selalu melek di hadapan gurumu?" pertanyaan Taka langsung disambut wajah cemberutnya Riku.

"Idih, kalo aku latihan pagi tiap hari kayak begini, entar aku bisa jadi kayak koki beruang kutub itu dong? Ogah! Aku tak mau melepaskan wajah imutku gara-gara itu." Jawab Riku kegeeran. Sedangkan Taka berusaha menahan muntah.

"Yasudah." Taka menghela nafas, "kita berpisah di sini."

Baru saja selangkah, tangan Taka sudah ditarik lagi oleh Riku.

Tiba-tiba muncul sound effect lebay ala sinetron dan kelopak bunga dimana-mana. Lalu muncul sekelompok orang yang sedang ngamen dengan santainya.

"Taka, itu, aku …" kata Riku sambil memasang wajah babyface nan shota.

"Sumpah, kalo ane bukan temennya mungkin ni bocah udah ane culik." batin Taka dalam hati.

"Apa Riku?" Taka nanya sambil masang wajah ala pemain sinetron.

"Aku, ano… itu…" Taka makin gak ngerti.

"WOY BOCAH UBANAN! GANTIIN SEMANGKA GUE KALO LO GAK MAU MATI!"

"GYAAA! AMPUN!" dan akhirnya Riku dan Taka pun saling kejar-kejaran dengan pedangang semangka.

At the same time, Kakei's daily life, start!

Seperti biasa, setiap Kakei lewat pasti selalu mengundang beribu pasang mata untuk melihat betapa kerennya setiap lekukan tubuhnya.

Tapi, selalu ada yang membuat Kakei merasa tidak nyaman, apalagi kalau dia.

"Nah Kakei! Pagi!" pria berambut pirang tinggi itu langsung menerjang Kakei. Tapi untung saja, Kakei punya badan yang kuat.

"Pagi, Mizumachi." Jawab Kakei dengan nada dingin dan lemas. Akhirnya si pengganggu datang juga.

"Ngeh! Kok gak semangat? Semangat dong!" kata Mizumachi sambil membuka bajunya layaknya pemain bola.

"Iya, iya aku semangat lagi. Tapi, PAKE BAJUMU BODOH! INI UNIVERSITAS BUKAN SD!" teriak Kakei sambil mengejar Mizumachi layaknya film india.

"Oh iya." Mizumachi teringat sesuatu "kemarin Maki nelpon ke aku katanya kok kamu dihubungin gak bisa?"

Oh iya, waktu kemarin malam HP Kakei gak sengaja diemut Juleha. Terus, kelempar dan sampe masuk air rebusan sup ayamnya Shin. Rest in Peace deh akhirnya. Tapi karena Kakei termasuk orang yang rada Jaim, jadi Kakei ngasih alasan lain.

"HPku tiba-tiba rusak." Jawab Kakei sambil tetap stay cool.

"Kalo gitu pake HPku saja!" tawaran Miizumachi langsung disambut wajah suramnya Kakei.

"Kalau aku pakai HPmu, nanti kalau aku berpas-pasan dengan Maki, mau ditaruh di mana wajahku sebagai lelaki?" jawab Kakei agak malas.

"Oh, sayang dong. Eh aku duluan ya, temen-temenku udah dateng soalnya, dadah~" kata Mizumachi sambil melambaikan kaosnya.

"Ya, sampai jumpa." Kata Kakei sambil masang wajah masam.

"Hah, jadi pengen makan sesuatu dari koki beruang kutub gaptek." Batin Kakei, lalu ia pun langsung melesat ke kelasnya.

At the same time, Kotaro and Akaba's daily life, start!

"Ah, my prince! Jadilah pacarku!"

"Kya! Akaba! Tandatangani gitarku dong!"

"Akaba-sama! Biarkan aku memelukmu!"

"oke, my beloved fans, nanti siang pasti aku akan memainkan gitar special untuk kalian" Kata Akaba.

Fans-fansnya akaba sukses pingsan di tempat. Sementara Kotaro yang daritadi berjalan di samping Akaba cuma kesel.

Akhirnya, selama perjalanan ke gedung kampus Kotaro, dia harus rela menutup kuping agar terhindar dari teriakan-teriakan fans-fansnya Akaba. Membiarkan telinga tanpa penyumbat? Siap-siap gendang telinga pecah gara-gara teriakan gaje para fans si mister otaku gitar ini.

Lagi sibuk-sibuknya Akaba meladeni para fansnya, ia tak sengaja melihat Kotaro yang memasang tampang mesem.

"Kau pantas iri padaku Kotaro, karena ritme kita tak selaras." Kata Akaba sambil megenjreng gitarnya. Para fansnya malah makin teriak-teriak gaje.

Mendengar itu, Kotaro kesel dan membalas Akaba "ngapain aku iri padamu, hey wahai mister gitar otaku? Harusanya kamu cepat-cepat membereskan para fansmu itu. Yah, daripada kamu dimarahin sama si ibu dosen nan horror." Akaba hanya mengibaskan rambutnya.

"Tenang" Akaba megenjreng gitarnya "beliau hari ini tidak masuk."

Mendengar itu, Kotaro langsung meninggalkan Akaba "yasudah, aku duluan."

Setelah Kotaro sudah cukup jauh meninggalkan Akaba, akhirnya dia berpikir. Kenapa ia tak meninggalkan Akaba daritadi?

"Ah! Daripada stress mikirin si mister gitar otaku, mendingan berharap biar gak pulang bareng." Batin Kotaro.

At the same time, Shin and Takami's Daily life, start!

di sebuah universitas elit nan bersahaja(?) hiduplah dua orang mahasiswa keren nan ganteng kesukaan Author (?) yang satu calon dokter bedah yang kalem tapi sadis, yang satu lagi orang super dingin tapi gaptek. Di universitas nan elit ini lah mereka menimba ilmu.

"Kenapa kau berpikiran sama denganku hari ini, Shin?" Tanya Takami sambil melihat ke rah Shin yang menggendong tas yang cukup besar sambil memegan beberapa buku di tangannya.

"Hanya punya firasat buruk." Jawab Shin pendek.

Mereka berdua pun langsung berjalan menuju gedung mereka masing-masing, tapi setelah sampai gerbang universitas ada yang menahannya.

"Hei kalian berdua ke sini sebentar!" teriak pak satpam kepada Shin dan Takami. Lalu, mereka berdua langsung menuju ke pos satpam.

"Ada apa?" jawab mereka berdua bebarengan.
"ini ada titipan dari dosen kalian. Lalu ada surat juga." Pak satpam itu pun langsung memberikan setumpuk buku dan secarik surat kepada mereka.

"Terimakasih pak." Jawab mereka berdua bebarengan.

Shin dan Takami pun langsung membuka surat yang diberikan kepada mereka. Tapi sepertinya mereka sudah tau apa yang ditulis dosen mereka.

"Kali ini tugas masak ke mana lagi Shin?" Tanya Takami. Shin hanya menatap datar ke arah suratnya.

"Ke suatu hotel di pusat kota. Katanya akan ada tamu dari Eropa. Dirimu?"

"kalau aku disuruh jadi asisten dokter di balai pengobatan di daerah utara. Lumayan jauh. Katanya ada seseorang yang membutuhkan bantuan."

"jadi?" Tanya Shin ke Takami.

"Kita akan pulang paling cepat dini hari kan?"jawab Takami dengan mata yang agak sayu.

"Lalu kita harus menelepon ibu kos, secepatnya." Tambah Shin.

Mereka berdua pun langsung menghela napas, lalu meninggalkan universitas.

"Selamat bertugas!" kata Shin dan Takami dan langsung menjauh dari universitas.

.

.

.

Way to go home…

"Pas dua puluh ribu yen!" kata Riku seraya menyerahkan beberapa lembar uang kepada pedagang semangka.

Ya, kali ini Riku dan Taka lagi kena sial, tadi pagi harus olahraga pagi bareng segerombolan fangirl yang mengejar Riku, dan ternyata saat terjadi aksi kejar-kejaran itu, mereka tidak sengaja menyenggol gerobak semangka. Satu senggolan itu langsung bisa menghancurkan semangka+gerobak. Jadi rest in peace deh gerobak yang tak bersalah itu.

Dan gak enaknya, Riku dan Taka yang disalahin. Kankerlah mereka sekarang.

"Sip, eh bocah, sini!" tiba-tiba si pedagang semangka memanggil mereka berdua. Yang merasa bocah langsung nengok.

"Kenapa pak? Uangnya kurang?" Tanya Riku, si pedagang semangka geleng-geleng.

"Ini semangka bawa pulang! Kalo udah kayak gini gak bisa dijual." Jawab pedagang semangka itu seraya menyerahkan empat semangka yang sudah dimasukkan ke kantung plastik.

"Makasih pak!" teriak Riku dan Taka bersamaan.

Lalu, mereka berdua pun berjalan menuju stasiun kereta layaknya orang autis.

.

"Ah, kok jam segini kereta banyak yang naik sih?" gerutu Riku.

"Kan jam segini jamnya orang pulang kerja." Jawab Taka santai.

Saat mereka sedang enak-enaknya menunggu, muncullah seseorang yang gak tau disengaja atau enggak narik maksa Taka. Karena kaget, otomatis Riku teriak.

"Woy orang! Jangan kabur!" teriak Riku sambil mengejar orang yang menarik Taka. Yang ditarik malah anteng baca buku. Kalau gak banyak orang di stasiun ini, pasti Riku udah nangkep itu orang dan menyelamatkan Taka.

Tapi, niat itu sepertinya ia harus kubur idup-idup. Di belakangnya sekarang sudah ada segerombolan fangirl yang kayak lagi lari marathon.

"bang maniak sisir, bagi nomornya Akaba dong~" teriak gerombolang fangirl itu. Riku langsung sweatdrop.

"Aku gak punya nomor si mister otaku gitar itu!" Teriak Kotaro. Kotaro pun langsung buru-buru masuk kereta diikuti Taka dan Riku di belakangnya.

"Hah, akhirinya selamat juga. Makasih ya ne—" omongan Kotaro langsung dipotong oleh tamparan bukunya Taka.

"Mau bilang apa?" Tanya Taka sinis, sedangkan Kotaro cuma ketawa maksa.

"Ee, ndak jadi." Jawab Kotaro agak maksa.

Saat mereka baru mau duduk, tiba-tiba ada seorang anak kecil nan imut (?) yang menghampiri mereka dengan aura yang digelap-gelapin.

"Heh, lepaskan tanganmu dari Taka, hei otaku sisir mesum. Kalau tidak, kufoto dirimu dan kukasih ke Amethyst." Kata Riku sambil mengacungkan HPnya. Kotaro pun langsung melepaskan tangannya dari Taka.

"Ups, aku gak tau kalo aku masih megang tangannya Taka." Kotaro ketawa cekikikan, Taka sama Riku manyun.

"Hah, dasar Kotaro." Batin Taka dan Riku.

.

"Kami pulang bu!" teriak Kotaro, Taka, dan Riku.

"Oh, selamat datang." Jawab bu Megu.

"Bu, ini ada semangka. Dikasih sama pedagang deket kampus." Kata Riku sambil menyerahkan sekresek semangka ke bu Megu.

"Oh, sip." Jawab bu Megu pendek.

Baru Kotaro, Taka, dan Riku mau naik dan bersantai di kamar masing-masing. Bu Megu memanggil mereka.

"Oh ya, hari ini ada anak kos baru, nanti sekitar pukul tujuh baru datang. Terus, Shin sama Takami hari ini gak bisa pulang, kata mereka paling cepet dini hari baru nyampe rumah." Kata bu Megu panjang lebar. Kotaro, Taka, dan Riku langsung frustasi.

"G, gak ada yang masak makan malem? Tidak!" teriak Kotaro histeris sambil guling-guling.

"Yah, padahal mau kusuruh Shin buat sesuatu pake semangka … nasib, nasib." Riku ikut-ikutan lesu.

"Taka, kamu gak ikut-ikutan frustasi?" Tanya bu Megu, Taka geleng-geleng.

"Enggak bu, entar rambutku makin putih." Jawab Taka sambil mengibaskan rambutnya.

Setelah beberapa lama Kotaro dan Riku berfrustasi ria, Kotaro berdiri layaknya lelaki.

"Yaudah, kalo si koki beruang hari ini gak bisa pulang dan nyiapin makanan buat kita, aku bakal masak nasi goreng!" teriak Kotaro sambil mengobarkan semangan 45.

"Kotaro masak? Harus diawasin!" Taka dan Riku pun menuju dapur mengikuti Kotaro yang lagi anteng nyiapin bahan-bahan buat nasi goreng andalannya.

Selagi Kotaro, Taka, dan Riku bermain (?) di dapur, Kakei pulang dengan membawa HP baru.

"Aku pulang bu." Sapa Kakei ke bu Megu.

"Selamat datang, beli HP baru?" Tanya bu Megu, Kakei manggut-manggut.

"Iya, kan kemarin dirusakin bu." Jawab Kakei sambil memberikan deathglarenya ke Juleha.

"Oh, begitu. Oh ya, hari ini bakal ada anak kos baru, temennya Sena. Terus Shin sama Takami hari ini gak pulang. Jadi Kotaro yang masak." Kata bu Megu panjang lebar ke Kakei.

"Oh, apa gapapa bu ngasih kotaro masak, tau kan bu kalau Kotaro masak udah jadi masakan super pedes?" Tanya Kotaro.

"Gapapa." Jawab bu Megu sambil nunjuk kea rah Taka dan Riku "udah ada yang ngawasin."

"Sip bu, oh ya, si kembar mana?"

"Lagi di atas ngerjain PR."

"Sip bu, kalau gitu aku mau siap-siap buat nyambut anak kos baru ya. Dah ibu." Kakei pun langsung menuju ke kamarnya meninggalkan bu Megu di ruang tamu.

.

"Selamat datang!"

Teriakan histeris anak-anak kos membuat 'sedikit' kejutan bagi si pendatang baru. Walaupun ada juga yang nutup kuping gara-gara berisik.

"Uhm, semuanya, perkenalkan ini Yamato Takeru, dia seniorku di kampusku, silahkan kak Yamato." Kata Sena sambil memperkenalkan Yamato kepada yang lain.

"Halo semua, saya Yamato Takeru. Mulai hari ini saya tinggal di sini. mohon bantuannya!" kata Yamato sambil membungkuk.

"Selamat datang nak Yamato." Kata bu Megu sambil memegang tangan Yamato "saya bu Megu selaku ibu kos. Nah yang pendek rambut putih itu namanya Riku, terus yang rambutnya panjang Taka, yang tinggi dan agak serius itu Kakei, terus yang rambutnya jabrik dan maniak sisir itu Kotaro, yang anak kecil dua itu anak saya, namanya Amethyst sama Amerta, terus bunglon sama iguana itu peliharaan saya. Sebenarnya masih ada anak kos yang lainnya, cuma belum pulang. Baik-baik ya sama mereka.

"Baik bu." Jawab Yamato pendek.

"Yosh kalau begitu." Kotaro mengambil mi dan wig kribo "ayo kita berpes—"

"Aku pulang bu! Eh, ada anak baru." Kata Akaba sambil membawa gitar kesayangannya "mau pesta? Wah kebetulan."

Bukannya dapat sambutan hangat, Akaba malah kena cercaan dari Kotaro.

"Heh otaku gitar! Kenapa para fansmu itu malah ngejer-ngejer aku? Kenapa lu enggak ngasih nomor telepon lu? Jadinya kan aku yang kena getahnya!" Kotaro ngomel-ngomel, Akaba jadi narsis.

"Wah, ternyata fansku sangat mencintaiku." Kata akaba sambil mengibaskan rambutnya. Kotaro malah makin sewot.

"Woy! Kalo lu cinta sama fansmu, ladenin sono! Jangan ane yang dijadiin korban!"

"Fuh, itu karena ritme kita tidak selaras, Kotaro. Sudah, terima saja."

Karena sudah keluar bau-bau Kotaro vs Akaba, Kakei mengambil alih acara.

"Sudahlah, abaikan dua orang yang sedang menyiapkan senjata. Mari kita nikmaati saja pesta penyambutan ini." Kata Kakei datar.

Setelah itu, anak kos langsung menyerbu nasi goreng buatan Kotaro.

"Wih, tumben gak pedes-pedes amet." Kata Amethyst, Kotaro nyengir.

"Iyalah, wong kita ngawasin si Kotaro masak. Kalo enggak diawasin, habislah kita semua." Kata Riku.

"Wah, ternyata Kotaro jago masak juga." Puji Sena.

"Iya, jago masak nasi goreng doang. Sisanya?" ledek Amerta.

"Uu! Daripada kamu, bisanya main sepak bola!" balas Kotaro.

Karena keadaan makin memanas, Yamato mencoba mendamaikan.

"Sudah, sudah. Kalau begini, kalian tidak akan bisa menikmati pesta ini." Kotaro dan Amerta pun langsung diam.

Dan setelah itu, mereka menikmati pesta sambil mengganggu tetangga.

Mari kita tengok yang masih kerja.

Di desa...

"Oy Takami! Tolong ambilkan tasku di sana! Cepat!" teriak dosennya Takami.

"Baik!" jawab Takami sambil mengambilkan tas dosennya.

"Hah? Obat-obatannya kurang? Hei Takami! Cepat telepon apotek terdekat dan suruh bawa obat-obatan yang banyak!" teriak dosennya lagi.

"Baik pak!" jawab Takami lagi.

Saat lagi menelepon, datanglah gangguan.

"Kak, main yuk!"

"Kak, temenin aku tidur yuk! Kakak kan tinggi, jadi pasti bisa jadi bantal yang enak."

"Oy Takami! Udah ditelpon belum? Cepet nih!"

"Buset! Kalo bukan suruhan dosen, udah aku jadiin bahan percobaan nih mereka semua." Batin Takami.

Di hotel…

"Makanan menu utamanya kurang! Cepat buat lagi!"

"Heh? Kita kekurangan es krim dan pudding? Hei kalian cepat buat lagi!"

"Yang bagian dessert, tolong siapkan beberapa cookies!"

"Tanganku!" batin Shin dalam hati.

Poor Shin and Takami.


Pojok Author:

Huwaaaa! setelah 4 hari saya dipaksa vakum dari dunia internet, akhirnya saya bisa menikmati internet lagi di Denpasar! Salahkan Nongan yang tidak mengijinkan saya untuk internetan!

Sebenarnya, harusnya fic ini diapdet 2 hari yang lalu, tapi karena masalah sinyal di Nongan, jadi weh...

Jangan ngira saya ke Bali itu buat liburan, saya ngurusin nikahan sodara QAQ*curcol#plak

Demi mempertahankan sinyal yang putus-nyambung-putus-nyambung, akhir kata, REVIEW!