SASUHINA
.
.
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Between Us
.
.
.
.
Raut kecewa terlihat jelas di wajah tampan bungsu Uchiha ini. Hal ini sangat berbeda sekali dengan gadis yang ada di samping pemuda itu. Gadis bermata lavender itu terlihat sangat senang, senyuman selalu menghiasi wajah manisnya. Namun ketika Hinata menoleh ke samping, raut wajahnya seketika berubah.
"Ada apa, Sasuke? Kenapa kamu tampak tidak senang?" tanya Hinata dengan polosnya.
Sasuke menoleh dan menatap sepasang mata lavender Hinata yang ada di sampingnya, tentu saja dengan wajah datarnya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau bisa terlihat senang seperti ini?" tanya Sasuke.
Hinata mengernyitkan kedua alisnya, ketika pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan juga.
"Tentu saja aku senang. Biasanya ketika berangkat sekolah, kita 'kan cuma berdua saja. Tetapi hari ini, kita bisa berangkat sekolah secara beramai-ramai. Hal itu sangat menyenangkan bagiku," jelas Hinata dengan wajah yang berbinar-binar.
"Tcih. Menyenangkan apanya? Bagiku itu sangat ti-dak me-nye-nang-kan," ucap Sasuke dengan menekankan kata-katanya.
"Kenapa begitu?" tanya Hinata. Sasuke hanya melengos ke arah lain ketika mendengar pertanyaan Hinata untuk kesekian kalinya.
Sasuke 'kan tidak menyukai tempat-tempat yang ramai. Karena di tempat seperti itulah, dia akan menjadi pusat perhatian. Terutama di kalangan para kaum hawa. Misalnya saja, di dalam kereta api tadi. Sasuke sangat kesal ketika para siswi yang ada di sekelilingnya, terus menatap ke arahnya. Ada yang tersenyum-senyum genit, ada yang mengkerling-kerlingkan matanya bahkan ada yang terus menatapnya tanpa ada hentinya.
Sasuke hanya dapat menahan kekesalannya dan mencoba untuk menghilangkannya dengan menghela nafas. Sepertinya sekarang dia telah menyesal akan kata-kata yang keluar dari mulutnya kemarin malam. Karena gara-gara itulah, dia mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti ini.
"Kau tahu 'kan, Hinata. Kalau aku tidak suka dengan tempat yang ramai seperti ini," ucap Sasuke.
"Aku tahu. Tetapi dari dulu aku sangat ingin berangkat ke sekolah naik kereta api. Dan semalam kau telah berjanji akan mengabulkan semua keinginanku. Jadinya pagi ini aku ingin kita berangkat ke sekolah naik kereta api. Apa kamu keberatan kalau setiap hari kita berangkat sekolah naik kereta api?" tanya Hinata.
"Hn."
Raut bahagia yang tadi terpampang jelas di wajah manisnya, seketika menghilang begitu saja. Hinata tampak kecewa dengan jawaban Sasuke tadi.
"Kalau Uchiha-senpai keberatan, aku bersedia untuk menemanimu berangkat sekolah setiap hari naik kereta api, Uchiha-chan."
Sasuke dan Hinata langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Hinata tampak sedikit terkejut ketika mengetahui seseorang yang sepertinya telah mengatakan sesuatu kepadanya. Tampak oleh kedua mata lavendernya, seorang pemuda bermata safir yang beberapa hari lalu telah menembaknya.
"Na-namikaze-kun," ucap Hinata dengan sedikit terbata-bata.
"Ohayou, Uchiha-chan," sapa Naruto dengan senyuman khasnya.
"Ohayou," balas Hinata. "Kenapa Namikaze-kun ada di sini?" Hinata bingung dengan kehadiran Naruto di stasiun ini.
"Ya sama seperti yang kau lakukan di sini," jawab Naruto dengan cengiran khasnya.
"I-iya ya." Hinata terlihat canggung dengan adanya Naruto di sini. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Naruto di sini.
"Kau ini memang lucu ya, Hinata-chan,"
"Ha?"
"Ah, maaf. Aku kelepasan, tapi boleh 'kan aku memanggilmu Hinata?"
"Bo-boleh."
Ini untuk pertama kalinya, ada seorang cowok yang memanggil Hinata dengan nama kecilnya. Karena itu Hinata menjadi sedikit malu.
Sasuke mulai jengah melihat pembicaraan kedua manusia yang ada di hadapannya ini. Bagaimana tidak? Mereka seperti tidak menganggap keberadaannya di situ. Dan dia merasa sedikit kesal dengan pemuda berambut jabrik kuning ini, karena sikap sok kenalnya terhadap Hinata.
"Hinata, kita bisa terlambat," ucap Sasuke yang menengahi pembicaraan yang terjadi antara Hinata dan Naruto.
"Ah, iya. Aku hampir lupa. Tetapi tunggu sebentar," Hinata menoleh kembali ke arah Naruto. "Sepulang sekolah nanti, aku tunggu kamu di halaman belakang sekolah, Namikaze-kun," ucap Hinata.
Sasuke dan Naruto terlihat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Hinata. Namun segera saja, Sasuke memasang kembali wajah datarnya. Berbeda dengan Naruto, dia terlihat sedikit senang dan juga penasaran. Naruto tentunya sudah tahu, apa tujuan Hinata menunggunya di halaman belakang sekolah. Pasti kali ini, Hinata akan menjawab pernyataan cintanya tempo hari.
.
.
.
.
.
"Hm, Namikaze-kun. Mengenai pernyataanmu kemarin a-..." Hinata belum sempat menyelesaikan perkataannya, tetapi Naruto sudah memotongnya.
"Aku tidak terburu-buru untuk mendapatkan jawabannya, Hinata-chan. Kau bisa menjawabnya kapan saja asal kau sudah yakin dengan jawabanmu," tegas Naruto.
"Tetapi aku sudah mempunyai jawabannya," jawab Hinata.
"Hm, begitu. Lalu apa jawabanmu?" tanya Hinata.
"Maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu."
Raut kecewa nampak di wajah Naruto karena jawaban dari Hinata tadi. Namun, dia segera menggantinya dengan sebuah senyuman. Karena dia menghargai apapun jawaban yang akan keluar dari mulut gadis manis yang ada di hadapannya ini.
"Aku belum terlalu mengenalmu, Namikaze-kun. Sekali lagi, aku minta maaf karena jawabanku telah mengecewakanmu," jelas Hinata.
Naruto merasa puas akan jawaban Hinata. Penolakan Hinata ini malah membuat Naruto semakin tertarik dan menyukai gadis bermata lavender tersebut. Karena di balik pribadinya yang lembut, ternyata gadis ini mempunyai sifat yang tegas. Naruto jadi ingin mengenal lebih jauh akan pribadi dari Hinata.
"Iya, tidak apa-apa," Naruto terlihat menggantungkan kalimatnya. "Berarti kalau kamu sudah mengenalku, aku bisa menjadi pacar kamu 'kan?" tanya Naruto dengan antusias.
"Aa.. i-ituu.." Hinata terlihat kelabakan menjawab pertanyaan dari Naruto itu. Keringat terlihat menetes turun di pelipis Hinata. "A-aku be-..."
Hinata tidak bisa melanjutkan ucapannya, ketika ada sepasang lengan yang merengkuh tubuhnya dari belakang. Gadis berambut indigo itu sedikit terkejut setelah mengetahui seseorang yang telah berbuat demikian kepadanya.
"Jangan keras kepala. Dia telah menolakmu," ucap Sasuke dengan memandang tajam kedua mata safir milik Naruto. "Sebelum menyatakan cinta kepada seorang gadis, seharusnya terlebih dahulu kau mencari tahu tentangnya. Apakah dia sudah menjadi milik orang lain apa belum?" lanjut Sasuke.
Selesai mengatakan hal itu, tangan kiri Sasuke meraih kepala Hinata dan menariknya ke samping. Terekspos-lah leher putih nan indah milik Hinata. Sambil memejamkan kedua matanya, Sasuke mencium leher Hinata dan meninggalkan sedikit tanda di sana.
Sepasang mata lavender itu membulat dengan sempurna, ketika dirasanya bibir Sasuke hinggap di leher jenjangnya. Jantungnya terasa berhenti berdetak seketika itu juga. Satu sentuhan pemuda itu padanya, telah membuat seluruh tubuhnya terasa membeku.
Setelah selesai dengan ritualnya, Sasuke menyeringai ke pemuda bermarga Namikaze itu. Walaupun tipis, namun senyum kemenangan terlihat di wajah Sasuke.
"Kuharap dengan ini, kau tidak akan mendekatinya lagi!" ancam Sasuke.
Sasuke melepaskan pelukannya pada Hinata. Dia menarik pergelangan tangan kiri Hinata dan membawanya pergi dari situ.
Naruto terlihat mencenngkeram erat telapak tangannya, ketika kedua orang yang telah mengguncang isi hatinya, menghilang dari hadapannya.
"Apa maksudnya?" desis Naruto.
.
.
.
.
.
"Sa-sasuke, sakit," rintih Hinata. Gadis itu terlihat kesakitan, ketika tangannya dipegang erat oleh Sasuke dan dipaksa berjalan cepat mengimbangi langkah kaki Sasuke yang lebih lebar daripada langkahnya. "Le-lepaskan tanganku," pinta Hinata.
Tetapi sepertinya Sasuke tidak mendengar permintaan Hinata. Karena pada kenyataannya, dia tetap menyeret Hinata untuk tetap mengikutinya.
"Lepaskan tanganku, Sasuke!" seru Hinata dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke.
Alhasil, Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Sasuke sedikit terperangah ketika melihat Hinata. Nampak oleh kedua mata onyx-nya, wajah Hinata yang memerah dan terlihat kesakitan. Melihat itu, Sasuke langsung melepas genggamannya pada tangan Hinata.
"A-apa sih maksudmu melakukan hal itu, Sasuke?" tanya Hinata. Dia tampak sedikit kesal bercampur malu, teringat apa yang baru saja Sasuke lakukan kepadanya.
"Melakukan apa?" tanya balik Sasuke dengan wajah datarnya. Pemuda itu tampak seolah-seolah tidak mengerti akan arah dari pertanyaan Hinata.
"Jangan berlagak tidak mengerti seperti itu! Apa maksudmu berbuat seperti ini padaku?" tuntut Hinata sambil memegangi lehernya, yang terdapat bekas merah hasil perbuatan Sasuke padanya.
"Oh, itu," jawab Sasuke dengan gampangnya. Sama sekali tidak tampak rasa bersalah sedikit pun di wajah Sasuke. "Hal itu tentu saja untuk membantumu," lanjut Sasuke.
"Membantu apanya?" seru Hinata.
"Membantumu untuk menolak pemuda itu," ucap Sasuke.
"Membantu katamu. Perbuatanmu itu malah mempersulit keadaan," bantah Hinata.
"Maksudmu?" tanya Sasuke.
Untung saja sekolah sudah sepi, karena para siswa sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kalau tidak? Pasti perdebatan kedua manusia muda ini akan menjadi tontonan yang menarik perhatian seluruh penghuni Uchikaze Gakuen ini.
"Aku tidak tahu apa yang akan Namikaze-kun pikirkan setelah melihat kejadian tadi. Dia pasti berpikir macam-macam tentang kita. Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" gerutu Hinata.
"Tidak ada. Tidak ada yang harus kamu lakukan," sahut Sasuke. "Karena itu memang tidak perlu," lanjutnya.
Hinata sedikit mengerucutkan bibirnya, dia terlihat kesal akan jawaban Sasuke itu. Dari dulu, pemuda yang ada di hadapannya ini selalu bertindak sesuka hatinya. Dan jalan pikirannya tidak bisa ditebak dengan mudah.
Di tengah-tengah kekesalannya, lagi-lagi Hinata dibuat terkejut. Untuk kedua kalinya dalam waktu sepersekian menit, ada sepasang tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Sudah mau pulang, Hinata-chan?"
"I-itachi-nii," ucap Hinata dengan terbata-bata. "Aku kira siapa?" lanjut Hinata.
Profesi Itachi yang adalah seorang guru di Uchikaze Gakuen ini, selalu mengharuskannya untuk pulang lebih akhir dari para siswanya.
"Memangnya kamu kira, aku si-..." Itachi tidak bisa melanjutkan pertanyaannya, ketika dia melihat sebuah bekas merah di leher Hinata. "Hinata-chan, siapa yang melakukan ini padamu?" desis Itachi.
"I-ini..." Hinata terlihat ketakutan dan menggerakkan ekor matanya ke arah Sasuke.
Melihat itu, Itachi langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. Meminta jawaban akan pertanyaannya. Dan sepertinya arah pandangan Hinata dan seringaian Sasuke telah menjawab pertanyaannya.
"Sa-su-ke," geram Itachi. Terlihat aura hitam muncul di sekeliling Itachi.
Sasuke langsung menarik Hinata lepas dari pelukan Itachi. Dan membawa lari Hinata untuk pergi dari tempat itu. Guna menghindar dari amukan Itachi.
.
.
.
.
.
Sasuke terlihat membawa sebuah karangan bunga, dan meletakkannya di sebuah batu nisan. Dengan memejamkan kedua matanya, dia berdoa untuk jiwa seseorang yang ada dalam pemakaman di hadapannya ini. Setelah ritual berdoanya selesai, Sasuke membuka kedua matanya.
Rasa bersalah nampak di wajah tampan pemuda Uchiha tersebut. Setelah diam untuk beberapa menit, akhirnya Sasuke membuka suaranya.
"Maafkan aku, Neji. Sepertinya aku tidak bisa menjaganya sebagai adikku lagi," Sasuke menghela nafas sejenak. "Aku sudah mencoba untuk menghilangkan perasaan ini. Tetapi semakin lama, perasaan ini seperti bertambah kuat saja," lanjut Sasuke.
"Aku sudah menyerah. Aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu," ucap Sasuke.
.
.
.
.
^TBC^.
.
.
Thanks to read
.
.
.
Balasan review untuk chapter 3 :
Syana Uchiha, Ichsana-hyuuga, Himeka Kyosuke, Hana-chan, Ma Simba, Uchihyuu Nagisa, Chikuma New : semoga chapter ini dapat menjawab semua pertanyaanmu.
Black Raider, Keira Miyako, Lizy94 : Maaf, kalau kelanjutan fic ini tidak sesuai dengan keinginan kalian.
Ika-chan : Alasan Hinata masuk keluarga Uchiha, sepertinya masih belum bisa ditampilin.
Girl's 'Love' Blue : Meiru sih maunya membuat Sasuhina jadi sepasang kekasih, tetapi kan harus mengikuti alur ceritanya.
Harunaru chan muach : Inginnya sih memang mau dibuat cinta segitiga. Tetapi kok jadi begini yaa? Yaa ngikutin alur cerita saja, hehee...
Nerazzuri : Terima kasih atas segala pujiannya dan kamu berkenan meng-fave fic ini.
Hyouma Schieffer : Di chapter ini sepertinya masih bisa menjawab sebagian pertanyaan2mu.
Rozu Aiiru : Semoga kamu tidak menjadi semakin bingung dengan cerita fic ini, hehee...
And thanks to review
