.
.
SASUHINA
.
.
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Between Us
.
.
.
.
Hinata POV
Aku dan Neji-nii tinggal berdua saja di dalam rumah yang cukup sederhana ini. Penghuni sebenarnya rumah ini, bukan hanya kami berdua. Dulu kami tinggal bersama Okaa-san, tetapi karena Tuhan begitu menyanyangi Okaa-san kami. Maka tepat 2 tahun yang lalu, Okaa-san pergi ke sisi Tuhan.
Mengenai Otou-san kami, aku tidak tahu menahu tentang dia. Karena setiap aku bertanya kepada Okaa-san tentang Otou-san, pasti raut wajah Okaa-san akan berubah murung. Aku merasa sedih melihatnya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak bertanya mengenai Otou-san kepada Okaa-san lagi.
Kalau aku bertanya mengenai Otou-san kepada Neji-nii, dia pasti akan marah. Dan menyuruhku untuk tidak membicarakan apapun lagi mengenai Otou-san. Akhirnya rasa keingintahuanku tentang Otou-san, aku simpan baik-baik dalam lubuk hatiku yang paling dalam.
Walaupun kami hanya tinggal berdua, namun kebutuhan hidup kami cukup terpenuhi. Setiap pulang sekolah, Neji-nii kerja part time di sebuah restoran. Sedangkan aku yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP, bertugas untuk mengerakan segala pekerjaan rumah. Seperti memasak, mencuci danmembersihkan rumah.
Okaa-san mempunyai teman, namanya Mikoto Uchiha. Mereka berdua merupakan teman sejak kecil, makanya aaku dan Neji-nii juga sangat akrab dengan anak-anak Bibi Mikoto. Katanya kami berdua sudah dianggap seperti anak mereka sendiri.
Entah kenapa setiap melihat anak bungsu Bibi Mikoto, aku merasakan hal yang aneh. Dia itu termasuk anak yang pendiam –dingin tepatnya- tetapi pada saat dia tersenyum, jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
Setiap dia menatapku dengan tatapan yang lembut seperti itu, membuatku menjadi sulit untuk bernafas. Ketika dia menggenggam tanganku, rasanya rasa panas menyerang wajahku. Dan parahnya lagi, saat dia memelukku entah kenapa seluruh tubuhku rasanya menjadi membeku.
Pada saat itu, aku tidak tahu kenapa semua gejala tadi aku rasakan saat bersama dengan bungsu Uchiha itu. Mungkin karena anak itu mempunyai aura yang menyeramkan ya? Makanya aku bisa merasakan hal-hal yang aneh seperti itu.
Hari itu hujan turun dengan derasnya, ketika aku mendapat kabar bahwa Neji-nii sedang mengalami kecelakaan. Aku dan seluruh keluarga Uchiha langsung pergi menuju ke rumah sakit, tempat Neji-nii dirawat. Ketika aku membuka pintu ruang UGD, Sasuke terlihat tertunduk menangis di samping ranang Neji-nii.
Dengan segenap rasa ketidak-percayaanku, aku mendekati ranjang Neji-nii. Aku menatap Sasuke, dan baru kali ini aku melihat air mata tengah menggenangi sepasang mata onyx tersebut. Sasuke balas menatapku dengan sendu, rasa tidak percaya semakin membesar ketika Sasuke menggelengkan kepalanya.
Aku menatap tubuh Nei-nii yang penuh dengan luka itu. Sepasang matanya yang biasanya menatapku dengan lembut kini telah menutup rapat. Air mata terus saja mengalir di kedua mataku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa sendirian hidup di dunia ini.
Setelah kepergian Nei-nii, aku diadopsi oleh keluarga Uchiha. Seluruh anggota keluarga Uchiha menerimaku dengan senang hati. Namun ada seseorang yang dari tatapan matanya, mengataka bahwa dia tidak terlalu setuju aku menjadi anggota keluarga Uchiha. Tanpa mengatakan apapun, pemuda itu meninggalkanku yang sekarang berada di tengah kerumpulan anggota keluarga Uchiha.
End Hinata POV
.
.
.
.
.
Hari minggu adalah hari dimana kita sebagai manusia dapat rehat sejenak dari segala pekerjaan atau kegiatan yang wajib kita lakukan. Mau bangun tidur telat, mau bersantai-santai, nonton TV, ataupun mau bermain keluar sepuasnya, tidak akan ada yang melarangnya.
Dari kegiatan yang telah disebutkan, tidak ada yang menarik minat gadis manis berambut indigo ini. Hari minggu seperti sekarang ini, dia tetap bangun pagi sebagaimana biasanya. Entah itu karena hobinya atau sudah menjadi kebiasaannya. Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya, barulah dia keluar kamar untuk melanjutkan aktivitasnya pagi ini di dapur.
Pagi ini Hinata akan menyiapkan sarapan hanya bersama dengan koki keluarga. Biasanya dia dan Mikoto akan bersama-sama menghidangkan sarapan. Kemarin malam, Fugaku dan Mikoto pergi keluar kota karena ada urusan bisnis. Kemanapun Fugaku akan pergi, Mikoto pasti ikut bersamanya.
Mikoto sih tidak akan khawatir akan keadaan anak-anaknya, karena ada Hinata di tengah-tengah mereka. Kalau Fugaku sendirian 'kan Mikoto tentunya khawatir, karena kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan melayani suaminya. Lagipula 'kan memang tugas seorang istri untuk selalu mendampingi suaminya, dimanapun dia berada.
Sarapan telah dihidangkan dan siap untuk disantap, namun dua pemuda Uchiha itu belum keliharan batang hidungnya di ruang makan. Hinata sih maklum, kalau hari ini adalah hari minggu. Tentunya mereka akan bangun lebih siang dari biasanya. Tetapi sekarang sudah jam 8, dan apabila tidak bangun sekarang pasti mereka tidak akan sarapan. Oleh karena itu, Hinata memutuskan untuk membangunkan dua pemuda bermata onyx tersebut untuk keluar dari alam mimpinya.
Pertama-tama, Hinata akan membangunkan Itachi. Hinata mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena tidak ada sahutan dari dalam, akhirnya Hinata membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya. Pada saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Dan nampaklah Itachi yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan sehelai handuk.
Dadanya yang bidang dan sixpack itu terlihat. Karena Itachi sekarang hanya memakai celana panjang saja tanpa memakai baju atasan apapun. Mungkin gadis-gadis di luar sana akan spechless melihatnya. Tetapi hal itu tidak akan terjadi pada Hinata. Mungkin sudah biasa kali ya, melihat Itachi dalam keadaan seperti itu.
"Itachi-nii, sudah bangun ternyata. Aku kira masih tidur. Segeralah turun, Itachi-nii. Sarapan sudah siap," ucap Hinata disertai dengan senyuman.
"Iya, aku pasti akan segera turun," balas Itachi dengan tersenyum lembut pada Hinata.
"Ya sudah, aku keluar dulu, Itachi-nii."
"Tunggu dulu, Hinata-chan."
"Ada apa, Itachi-nii?"
"Sepertinya kau melupakan sesuatu."
"Melupakan sesuatu? Sepertinya tidak. Memangnya apa?"
Itachi melangkah maju mendekati Hinata. Begitu Hinata sudah ada dalam jangkauannya, Itachi mendekatkan kepalanya ke wajah Hinata.
CUP
"Ciuman selamat pagi," ucap Itachi setelah mencium pipi kiri Hinata.
"Oh iya, aku lupa." Hinata sedikit berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Itachi. Dia pun membalas ciuman selamat pagi dari Itachi dengan mencium pipi kiri pemuda Uchiha tersebut. "Ohayou, Itachi-nii."
"Ohayou, Hinata-chan," balas Itachi seraya sedikit mengacak-acak rambut Hinata.
Hinata hanya bisa tersenyum lembut, mendapat perlakuan seperti itu dari Itachi. Itachi memang telah mendapatkan posisi yang sejajar dengan posisi Neji sebagai seorang kakak di dalam hati Hinata.
.
.
.
.
.
Hinata meletakkan dagunya di pinggir ranjang berukuran size itu. Sepasang mata lavendernya mengamati sesosok mahluk yang tengah terbuai di alam mimpinya. Padahal dia kemari untuk membangunkannya, tetapi melihat wajah lembut dan tenang bak seorang malaikat, saat pemuda itu tertidur. Hinata jadi tidak tega untuk membangunkannya.
Hanya dengan melihatnya saja, sudah membuat Hinata tersenyum-senyum sendiri. Alhasi, sedikit rona merah menjalar di wajah gadis manis itu. Dia ingin sekali menyentuh wajah teduh yang sekarang sedang berhadapannya dengannya ini. Namun, seperti ada suara di dalam kepala Hinata yang menyarankan untuk tidak melakukan hal itu. Karena apabila hal itu tetap dilakukannya, Hinata tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Memandangi seseorang yang tertidur, mampu menghadirkan rasa kantuknya. Alhasil, sedikit demi sedikit tanpa sadar Hinata memejamkan matanya. Bukannya membuat pemuda yang ada di hadapannya ini keluar dari alam mimpinya, tetapi Hinata sendiri malah mulai masuk ke alam mimpinya sendiri.
Akhirnya sepasang mata onyx itu mulai membuka kelopak matanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tenang seorang gadis yang tengah tertidur. Menurutnya, gadis-gadis cantik yang selama ini selalu mengejarnya, tidak dapat mengalahkan kecantikan gadis yang ada di hadapannya ini. Hal ini mampu menghadirkan senyuman di wajahnya. Senyuman lembut yang tak pernah diperlihatkannya pada orang lain.
Setelah puas mengamati berbagai ekspresi tidur gadis itu, barulah Sasuke bangun dari tidurnya dan berniat untuk memindahkan posisi tidur Hinata. Sasuke mengangkat tubuh Hinata dan menidurkannya kembali di ranjangnya. Ketika Sasuke akan berbalik untuk pergi, ada sesuatu yang memegang tangan kirinya.
"Ja-jangan pergi."
Sasuke menoleh dan didapatinya Hinata yang tengah mengigau di dalam tidurnya. Wajah gadis itu yang sebelumnya tenang sekarang terlihat ingin menangis.
'Apa dia sedang mimpi buruk?' pikir Sasuke.
Cengekeraman tangan Hinata pada Sasuke semakin erat ketika gadis itu mulai menitikkan air mata.
"Hiks... ja-jangan pe-pergi meninggalkan aku hiks..."
Raut khawatir dan sedih nampak jelas di wajah datar Sasuke. Dengan perlahan pemuda itu naik lagi ke ranjang size-nya. Memeluk Hinata dan mencoba memberi ketenangan pada gadis itu. Merasa ada yang melindunginya, Hinata semakin mempererat pelukannya pada Sasuke.
Dengan lembut, Sasuke membelai-belai rambut indigo dan juga mencium puncak kepala Hinata. Perbuatan Sasuke sepertinya berhasil membuat Hinata merasa tenang. Nyatanya suara isakan gadis itu semakin tidak terdengar. Raut wajah Hinata kembali tenang dan dengkuran halus kembali terdengar di telinga Sasuke. Hal itu berarti Hinata kembali dapat tertidur dengan tenang.
.
.
.
.
.
Matahari semakin naik tinggi ke langit bitu, hal itu membuat sinarnya semakin terang masuk ke dalam kamar Sasuke. Hinata menggeliat pelan dalam tidurnya. Perlahan namun pasti sepasang lavender itu mulai membuka kelopak matanya. Hinata mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk mencoba beradaptasi dengan cahanya matahari yang menerpa wajahnya.
Setelah kesadarannya pulih seutuhnya, Hinata terlonjak duduk dari tidurnya. Hinata bingung kenapa sekarang dia ada di dalam kamar Sasuke? dan kenapa juga dia bisa terbangun di ranjang Sasuke?
Hinata mulai mengingat-ingat kembali aktivitasnya pagi ini. Dan akhirnya dia tahu kenapa sekarang dia bisa ada di sini. Hinata menoleh melihat jam yang ada di dinding kamar. Dan jam itu menunjukkan tepat pukul 9. Melihat itu, Hinata segera turun dari ranjang. Dan masuk ke dalam kamar mandi, membasuh mukanya agar terlihat lebih segar.
Ketika Hinata turun melewati tangga, dia berpapasan dengan Sasuke. Sasuke terlihat memakai baju santai. Yaitu t-shirt tanpa lengan berwarna biru muda dan untuk bawahannya dia memakai celana pendek hitam yang panjangnya 10 cm di bawah lutut. Hal itu cukup membuat Hinata terpesona untuk sesaat.
'Apa sih yang aku pikirkan?' pikir Hinata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sasuke menyeringai melihat kelakuan Hinata itu. Seringaian Sasuke sepertinya mengandung maksud tertentu. Apa itu? Hanya Sasuke yang mengetahuinya. (Kecuali Author tentunya *devil smile*)
"Sasuke, kenapa kamu tidak membangunkanku sih?" protes Hinata.
"Memangnya kenapa?" pancing Sasuke.
"Gara-gara aku tertidur lagi, kita bertiga tidak bisa sarapan pagi bersama donk," sesal Hinata sambil menggembungkan kedua pipinya.
Ekspresi Hinata yang lucu itu membuat Sasuke tidak tahan untuk menjahilinya. Dia melangkah maju mendekati Hinata.
"Salahmu sendiri, sudah pagi malah tidur lagi," ejek Sasuke sambil mencubit kedua pipi Hinata.
"Auch... Sa-sakit, Sasuke," rintih Hinata dengan memegangi kedua pipinya.
Sasuke hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan Hinata yang sedang cenberut karena perbuatan jahilnya. Pemuda Uchiha itu kelihatan senang sekali dapat menjahili Hinata.
"Sa-sasuke, apa hari ini kamu ada acara?" tanya Hinata.
"Tidak. Kenapa?" tanya balik Sasuke dengan menoleh ke arah Hinata.
"Maukah kamu menemaniku mengunjungi makam Neji-nii dan Okaa-san sekarang? Karena aku tadi bermimpi buruk tentang Neji-nii."
'Jadi tadi dia bermimpi tentang Neji,' batin Sasuke.
"Hn." Setelah mengatakan itu, Sasuke melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
"Aku akan bersiap-siap dulu," ucap Hinata dengan senyuman bahagianya.
.
.
.
.
.
Hinata meletakkan dua rangkaian bunga di makam. Satu di makan Neji dan satunya lagi di makam Hikari Hyuuga ( ibunya Hinata ). Sasuke dan Hinata terlihat memejamkan mata dan berdoa bersama di depan kedua makam tersebut. Beberapa menit kemudian, Sasuke pergi meninggalkan Hinata. Memberinya kebebasan untuk dapat berbicara dengan kakak dan ibunya secara leluasa.
Hinata tersenyum melihat kepergian Sasuke. Walaupun tidak banyak bicara dan sering membuatnya kesal, namun Sasuke selalu dapat mengerti kemauannya.
'Okaa-san dan Neji-nii, aku dan Sasuke mengunjungi kalian lagi. Semoga di sana Okaa-san dan Neji-nii senantiasa mendapat limpahan kebahagiaan. Kalian tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku sangat bahagia sekali dibesarkan di dalam keluarga Uchiha,' batin Hinata. Dia terlihat menghela nafas.
'Okaa-san apa yang harus aku lakukan? Aku tahu, seharusnya aku tidak boleh egois seperti ini. Keluarga Uchiha sudah terlalu banyak membantu keluarga kita. Sudah sepantasnya aku mengabdikan seluruh hidupku pada mereka. Tetapi...' Sepasang lavender itu terlihat berkaca-kaca.
'Tetapi kenapa a-aku...aku...aku menginginkannya menjadi milikku, Okaa-san.' Mengalir-lah air mata yang telah membendung sepasang mata lavender itu.
.
.
.
.
.
"Ke-kenapa kita kemari, Sasuke?"
"Menurutmu?"
Setelah mengunjungi makam Hikari dan Neji, mereka tidak langsung pulang ke kediaman Uchiha. Tiba-tiba saja tanpa pemberitahuan apapun, Sasuke mengajak Hinata ke sebuah taman ria. Bukankah ini hal yang aneh? Padahal Hinata tahu betul bahwa Sasuke itu tidak suka dengan tempat yang ramai. Lalu apa maksud Sasuke mengajak Hinata ke taman ria ini?
"Terserah kamu saja-lah," jawab Hinata.
Untuk sekarang ini Hinata tidak ingin ambil pusing dengan apapun yang dilakukan oleh pemuda di sampingnya ini. Karena sudah cukup banyak hal di pikirannya yang membuatnya pusing.
Sasuke merasakan hal yang aneh pada Hinata. Semenjak keluar dari pemakaman tadi, gadis itu terlihat murung. Walaupun Hinata mencoba untuk menutupinya, tetapi Sasuke tahu dengan jelas bahwa kedua mata lavender itu terlihat sembab. Sasuke tidak tahu apa yang terjadi di makam tadi? Hingga membuat Hinata menjadi seperti ini.
Banyak hal menarik di sekitar mereka, namun itu tidak mampu merubah raut murung Hinata. Padahal Sasuke yakin kalau Hinata itu suka sekali dengan segala hal yang ada di taman ria. Pernah pada waktu itu, mereka sekeluarga pergi ke taman ria. Hinata terlihat sangat senang sekali. Bahkan pada saat akan pulang, dia ngotot ingin tetap di situ walaupun sendirian. Barulah setelah mendapat beberapa rayuan, Hinata mau diajak pulang ke rumah.
Langit sudah berubah gelap, namun taman ria tidak kunjung sepi. Semakin malam, pengunjungnya malah semakin banyak yang berdatangan. Menurut kabar, malam ini akan ada perayaan kembang api. Oleh karena itu, taman ria malam ini menjadi lebih ramai dari biasanya.
"Sasuke, ayo kita pulang. Ini kan sudah malam. Aku tidak mau membuat Itachi-nii kahawatir, karena kita sudah keluar rumah terlalu lama," ajak Hinata.
"Biar saja Baka Aniki itu khawatir. Lagipula kita sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang perlu dikhawatirkan keberadaannya," ucap Sasuke.
"Sasuke!"
"Iya iya, kita akan pulang. Tapi tunggu sebentar."
Hinata hanya dapat menghela nafas, pasrah dengan apa yang sekarang diinginkan oleh Sasuke.
Beberapa menit kemudian, orang-orang tengah berlari ke pusat taman ria. Sepertinya pesta kembang api akan segera dimulai.
"Ayo," ajak Sasuke seraya menarik Hinata untuk melihat kembang api yang akan dinyalakan.
Karena tinggi Hinata yang bisa dikatakan cukup pendek, untuk tinggi seorang perempuan. Alhasil bukannya dapat melihat kembang api, dia malah jadi sebuah batu kecil yang tenggelam dalam lautan manusia. Dia terlihat kepayahan berdesak-desakkan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Melihat itu, segera saja Sasuke mengambil tindakan.
"Sa-sasuke, apa yang kamu lakukan?" Hinata terlihat tersipu malu dengan apa yang dilakukan Sasuke padanya.
"Membantu melihat kembang api. Memangnya kenapa?" tanya balik Sasuke.
"A-aku malu, kita dilihatin banyak orang."
"Kenapa harus malu? Kita kan tidak mengganggu mereka."
"Ka-kau ini."
Bagaimana tidak malu? Hinata sekarang tengah diangkat Sasuke sampai sebatas bahu pemuda itu. Akibatnya, perhatian orang-orang yang ada di sekitar Sasuke dan Hinata tertuju pada mereka.
"Sasuke, tu-turunkan aku," pinta Hinata.
"Tidak mau. Sebelum kau mau melihat kembang api yang indah itu."
"Baiklah kalau begitu."
Benar apa yang dikatakan oleh Sasuke. Kembang api yang sedang menyala itu terlihat sangat indah di mata Hinata. Terlihat sangat besar dan uga berwarna-warni. Hinata begitu terpesona dengan pertunjukkan kembang api pada malam itu. Tanpa sadar, Hinata tersenyum melihatnya.
"Akhirnya kau tersenyum juga."
Hinata langsung menoleh, ketika Sasuke mengatakan sesuatu padanya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di makam tadi, hingga membuatmu menjadi seperti ini. Tetapi sekarang aku sudah lega, karena sekarang kau sudah bisa tersenyum lagi."
Hinata tidak tahu, kalau ternyata Sasuke begitu mengkhawatirkan keadaannya. Ternyata tujuan Sasuke mengajaknya ke taman ria kali ini adalah untuk menghiburnya. Walaupun Sasuke tidak suka pergi ke tempat keramaian, tetapi dia tetap melakukannya. Karena semata-mata untuk dapat membuatnya tersenyum lagi.
Sasuke yang tengah tersenyum kepadanya kali ini, bagi Hinata itu terlihat sangat indah. Bahkan berkali-kali lipat lebih indah daripada pertunjukan kembang api yang sekarang tengah berlangsung. Bagaikan gunung api yang siap memuntahkan laharnya, itulah hal yang dialaminya sekarang.
"Sa-suke."
"Hn?"
Grep
"Hwaaaa..."
Pecah sudah tangisan yang sejak tadi ditahan oleh Hinata. Dengan memeluk erat kepala Sasuke, dia menumpahkan segala beban yang ada di dalam hatinya.
'Kami-sama, aku mohon untuk kali ini saja. Biarlah perasaan ini mengalir deras seperti apa adanya. Dan tolong kuatkanlah hatiku, karena setelah ini aku akan berusaha menghilangkan perasaan yang selama ini aku tujukan kepadanya,' mohon Hinata.
Alhasil, malam ini mereka menjadi pusat perhatian pertama di taman ria itu setelah pertunjukan kembang api selesai. Sasuke menggendong Hinata yang tetap memeluknya dengan erat, keluar dari taman ria. Dan walaupun dilihat oleh banyak orang, namun Hinata tetap tidak bisa menghentikan tangisannya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang tidak bisa dilupakan oleh pemuda Uchiha itu.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks to read and review
.
.
.
Balasan review untuk chapter 4 :
Hyuuga-chan : Maaf banget kalau update-nya ngaret banget Y,Y... Terima kasih karena kamu telah mau mencoba lagi untuk mengikuti kelanjutan fic ini. Sepertinya chapter ini sudah cukup memberi tahukan masa lalu keluarga Hinata. Bagaimana menurutmu adgegan SasuHina di atas? Maaf kalau ternyata tidak romantis T,T...
Ai-chan Kim, a.k.a maru, Uchiha Stephanie : terima kasih atas pujian dan semangatnya. Akhirnya Meiru bisa meng-update fic ini ^_^
Hyou Hyouichiffer, Yuka Shiburaki, Hime, Shyoul Lavaen : Semoga chapter ini dapat menjawab semua pertanyaan kalian
Lizy94 : Meiru tegaskan sekali lagi bahwa SasuHina di sini itu tidak incest. Chapter ini akan menjelaskan alasannya.
Uchihyuu Nagisa : Chapter ini entah tanpa sengaja koq jadi panjang. Semoga chapter kali ini juga dapat membuat mood-mu jadi lebih baik lagi.
Shin Ri Aoki : Iya, chapter kemarin memang lebih pendek dari bisasanya, heheee... Ini sudah update.
Sasuhina-san Uchiha Hinata : Iya ya, ternyata koq cerita fic ini mirip dengan fic Devils Bad Love. Tetapi benar deh, Meiru tidak tahu kalau ternyata ada kemiripan. Maaf yaw, Meiru tidak bisa membuat adegan lemon. Jadinya tidak akan ada adegan seperti itu dakam fic ini.
