.
.
SASUHINA
.
.
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Between Us
.
.
.
.
"Kyaaa..."
Pagi ini terdengar teriakan seorang gadis yang berasal dari salah satu kamar di kediaman Uchiha. Para maid yang tengah bekerja tidak merasa asing dan heran dengan teriakan tersebut. Karena mereka sudah mengetahui orang yang telah berteriak itu. Apalagi teriakan itu berasal dari kamar Tuan Muda Uchiha mereka yang paling bungsu, pasti-lah yang akan terlibat perang kecil itu adalah...
"Ada apa sih, Hinata?" tanya pemuda berambut reaven yang terdengar malas, karena baru bangun dari tidur panjangnya.
"Seharusnya yang bertanya itu aku, Sasuke," sahut Hinata. "Siapa perempuan itu?" hardik Hinata sambil menunjuk seseorang yang sekarang berbaring di samping Sasuke.
"Perempuan? Siapa?" tanya Sasuke ogah-ogahan.
"Kenapa malah tanya balik ke aku? Perempuan yang tidur di sampingmu itu siapa?"
Mendengar itu, Sasuke langsung menoleh ke samping. Dia sedikit terlonjak kaget. Ketika sepasang onyx-nya mendapati seorang gadis berambut pink tengah tertidur pulas di ranjangnya. Tidur gadis itu terlihat tidak terganggu sedikit pun dengan teriakan Hinata maupun dengan perdebatan yang terjadi antara Sasuke dan Hinata barusan.
"Sakura," panggil Sasuke. "Hey, Sakura kenapa kau ada di sini?" tanya Sasuke dengan suara sedikit tinggi. Pemuda Uchiha itu mengguncang-guncang tubuh gadis yang mempunyai rambut berwarna pink itu, berusaha membangunkan untuk membangunkannya.
"Nnnn... Ohayou, Sasuke-kun~" sapa gadis berambut pink yang ternyata bernama Sakura itu.
"Hn. Kau belum menjawab pertanyaanku," sahut Sasuke.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Sakura seraya duduk sembari merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Kenapa kau ada di sini?" desis Sasuke.
"Yaa, untuk menemuimu. Apalagi coba?" goda Sakura sambil bergelayut manja di lengan kiri Sasuke.
"Mana aku tahu?" balas Sasuke sambil mendengus kesal.
Kedua alis Hinata berkedut-kedut melihat sepasang remaja yang terlihat seperti pengantin baru yang baru bangun tidur itu. Dia menjadi semakin kesal ketika kedua remaja tersebut seperti tidak menganggap kehadirannya.
"Ekhm! Cepatlah turun. Kita sarapan bersama," ucap Hinata sambil berbalik hendak keluar dari kamar Sasuke. Hinata ingin cepat-cepat pergi dari kamar Sasuke. Kalau lama-lama dia ada di situ, bisa-bisa darahnya akan menyembur keluar dari kepalanya.
Sasuke menatap kepergian Hinata dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sakura menyadari perubahan mimik wajah pemuda yang kini ada di sampingnya.
"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura.
"Tidak apa-apa," sahut Sasuke seraya berdiri dari ranjangnya.
"Gadis tadi siapa?" tanya Sakura. "Sepertinya aku belum pernah melihatnya," lanjutnya.
"Adikku," jawab Sasuke.
"Adik? Sejak kapan kamu punya adik perempuan?" selidik Sakura. "Dan sepertinya keluarga Uchiha tidak ada yang mempunyai warna mata seperti itu."
"Dia adik angkatku."
"Owh... adik angkat. Aku ki-..."
"Jangan bertanya lagi. Keluar dari kamarku sekarang juga." Sebelum Sakura menyelesaikan ucapannya, Sasuke sudah terlebih dahulu memotongnya dan menyuruh gadis itu untuk lekas pergi dari kamarnya.
"Tapi, Sasuke-kun. Aku 'kan ma-..."
Sakura tidak melanjutkan perkataannya ketika mendapat deathglare gratis dari Sasuke. Nyali gadis itu menciut dan tidak sepatah kata pun dapat meluncur dari mulutnya. Karena dia sudah paham dengan sifat Sasuke. Kalau tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, jangan pernah mengajak bicara Sasuke yang tengah mengeluarkan hawa negatif seperti ini.
"Hm, aku akan keluar," ucap Sakura. Raut kecewa nampak jelas di wajah cantik gadis itu. Sakura bergegas pergi keluar dari Sasuke. Dia tidak mau terkena luapan kemarahan Sasuke. Sebenarnya Sakura merasa sedikit heran dengan sikap Sasuke itu.
Walaupun Sasuke itu pemuda yang dingin, namun selama ini pemuda Uchiha itu tidak pernah menatapnya setajam tadi. Ternyata kepindahannya dari Konoha 5 tahun yang lalu, telah membuat Sakura hampir tidak mengenal teman kecilnya itu. Terbesit rasa kecewa dalam hati gadis tersebut.
.
.
.
.
.
Ketika Hinata keluar dapur, setelah selesai menyelesaikan mempersiapkan hidangan untuk sarapan pagi. Sudah nampak Sasuke dan Itachi di meja makan. Hinata segera menempati kursi yang ada di sebelah kanan Itachi, berseberangan dengan tempat duduk Sasuke.
"Ohayou, Itachi-nii," sapa Hinata dengan senyuman lembutnya.
"Ohayou, Hinata-chan," balas Itachi seraya mengecup pipi kiri Hinata.
"Tcih! Menjijikkan," ledek Sasuke.
"Apa kamu bilang?" hardik Hinata. "Lebih menjijikkan mana bangun tidur dengan seorang gadis di sampingnya," balas Hinata.
"Itu-..."
"Ohayou, Minna-san~" Penjelasan Sasuke terhambat karena suara seorang gadis yang jadi objek perdebatan. Semua perhatian langsung tertuju pada gadis yang sekarang tengah memakai seragam Uchikaze Gakuen.
"Sakura-chan. Kapan kamu tiba ke Konoha?" tanya Itachi.
"Baru saja. Aku rindu padamu, Itachi-nii," ucap Sakura seraya memeluk Itachi.
"Hm. Aku juga," balas Itachi seraya membalas pelukan Sakura. "Ngomong-ngomong dari mana kamu mendapatkan seragam ini?" tanya Itachi setelah mengurai pelukannya pada Sakura.
"Sebelum kembali ke Konoha, aku sudah mendaftar dan memesan seragam ini dari Uchikaze Gakuen. Jadi ketika kembali ke sini, aku sudah mendapatkannya dengan mudah," jelas Sakura seraya duduk di sebelah Sasuke, berhadapan dengan Hinata.
"Oh, begitu," ucap Itachi.
"Ah, aku lupa belum mengenalkan diriku," ucap Sakura setelah bertatapan dengan Hinata. "Namaku Haruno Sakura, salam kenal."
"Salam kenal, Haruno-san," balas Hinata.
"Cukup panggil namaku saja, Hinata-chan," ucap Sakura.
"Baik, Sakura-nee."
"Haa... Begitu lebih baik." Sakura dan Hinata saling melempar senyum. Namun, salah satu orang yang ada di situ tahu bahwa Hinata tidak tulus mengeluarkan senyumannya.
"Aku selesai," ucap Sasuke seraya berdiri dari kursi.
"Cepat sekali sarapannya. Nanti anterin aku menemui Kepala Sekolah ya, Sasuke-kun," pinta Sakura.
"Hn," sahut Sasuke. Pemuda itu berjalan mengitari meja makan, dan setelah berada di belakang Hinata, dia berhenti.
Sasuke mengulurkan tangannya, kemudian meraih dagu Hinata dan menariknya ke samping. Pemuda berambut raven itu mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata. "Kalau tidak mau tersenyum, jangan dipaksakan. Itu terlihat jelek," bisik Sasuke.
Setelah itu, Sasuke memiringkan wajahnya. Kemudian mendekatkan wajahnya ke pipi kanan Hinata.
Cup
Kontan saja, mata Hinata langsung membulat. Dan tidak dapat dihindarkan lagi, semburat merah menyerang wajah manisnya. Berbeda dengan Sasuke, dia malah tersneyum puas dan menikmati wajah Hinata yang terlihat marah dan sekaligus malu itu.
"Nah, begini lebih baik, hehee..." Setelah itu, Sasuke melenggang pergi tanpa rasa bersalah secuil pun. Senyuman bahagia malah tampak menghiasi wajah tampannya.
"Apa kamu bilang, Sasuke! Awas, ya. Tunggu saja pembalasan dariku!" teriak Hinata.
Mendengar itu, Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. "Aku tunggu pembalasan darimu," ucap Sasuke seraya mengerlingkan mata kirinya. Tak lupa seringai jahil tetap melekat di bibirnya.
"SA-SU-KEEE!" Kalau ini di anime, pasti terlihat asap putih yang keluar dari kedua telinga Hinata. Itachi hanya tersenyum geli melihat kelakuan lucu kedua adiknya.
"Manisnya. Sudah lama tidak melihat Sasuke tersenyum seperti itu," gumam Sakura. Di dalam hatinya, sebenarnya Sakura merasa iri dengan Hinata. Seandainya saja dia yang bisa menghadirkan senyuman Sasuke itu, bukannya Hinata. Namun segera saja Sakura mengeyahkan perasaan itu, karena menurutnya hubungan Sasuke dan Hinata hanyalah sebatas hubungan antar saudara. Bukan hubungan yang lainnya.
"Itachi-nii, aku berangkat ke sekolah bersamamu saja," ucap Hinata dengan raut kesal yang masih belum menghilang dari wajah manisnya.
"Kenapa? Bukankah kamu selalu berangkat dengan Sasuke," goda Itachi.
"Kalau Itachii-nii tidak mau, aku berangkat naik kereta api saja," sahut Hinata.
"Iya iya, kita berangkat bersama. Mana mungkin aku bisa menolak permintaan adikku yang paling cantik ini," ucap Itachi seraya mengacak-acak rambut Hinata.
"Uuh! Itachi-nii. Rambutku 'kan jadi berantakan," gerutu Hinata.
Itachi tertawa bahagia melihat Hinata yang tengah cemberut itu. Memang kalau di mata seorang kakak, baik adiknya sedang senang ataupun kesal tetap terlihat lucu.
.
.
.
.
.
Sekeluar Sasuke dan Sakura dari ruang Kepala Sekolah, banyak kasak-kusuk yang terdengar dari para siswi Uchiha Gakuen. Apalagi Sakura dengan santainya bergelanyut manja di lengan Sasuke, tentunya hal ini akan menimbulkan banyak spekulasi, tentunya dari para fansgirl Sasuke.
"Si-siapa gadis itu?" tanya salah satu siswi Uchikaze Gakuen pada salah satu temannya.
"Tidak tahu. Lalu kenapa Sasuke-senpai diam saja atas perlakuan gadis itu?" tanggap siswi yang lain.
"Entah. Jangan-jangan dia pacar Sasuke-senpai."
"Iya, mungkin. Dia kan gadis yang cantik."
"Iya, betul. Makanya Sasuke-senpai bisa kepincut sama dia."
"Hm."
Baik Sasuke dan Sakura tidak menghiraukan akan hal itu. Mereka berdua berjalan santai menuju ke kelas Sasuke, karena ternyata Sakura satu kelas dengan Sasuke –tentunya karena permintaan dari Sakura-.
Sasuke menghentikan langkahnya ketika sepasang onyxnya menangkap suatu pemandangan yang tidak menyenangkan baginya. Sekarang seorang pemuda yang mempunyai rambut spike berwarna kuning, tengah berbicara dengan Hinata di luar kelas gadis itu.
"Kenapa berhenti, Sasuke-kun?" tanya Sakura. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Sasuke, Sakura mengikuti arah pandangan Sasuke. "Bukankah itu Hinata-chan? Siapa pemuda yang sekarang berbicara dengannya itu? Kelihatannya mereka serasi ya," gumam Sakura.
"Mmm...Hinata-chan. Apa sekarang kau punya waktu?" tanya Naruto yang terlihat sedikit kikuk.
Hinata melihat arlojinya, dan ada waktu sepuluh menit sebelum bel jam pelajaran pertama berbunyi. "Ada. Memangnya kenapa?" tanya Hinata.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Naruto dengan ceria.
"Sesuatu? Apa?" tanya Hinata bingung.
"Ayo. Nanti kau juga akan mengetahuinya," jawab Naruto mantap.
Hinata sedikit tersentak saat tiba-tiba Naruto menggenggam dan menarik tangannya. Naruto menarik Hinata untuk mengikutinya. Namun, langkah Naruto terhenti ketika gadis yang sekarang ditariknya itu enggan bergerak dari tempatnya.
"Kita akan kemana, Namikaze-kun?" tanya Hinata cemas.
"Tenang saja, Hinata-chan. Aku tidak akan membawamu kemana-mana. Percayalah padaku," tegas Naruto.
Sinar kejujuran nampak jelas di iris blue safir itu. Akhirnya Hinata mencoba untuk mempercayai pemuda yang sekarang tengah menggenggam tangannya itu.
"Baiklah."
Naruto tersenyum puas mendengar jawaban Hinata. Kali ini Hinata membiarkan dirinya ditarik oleh Naruto. Ketika Hinata berjalan melewati Sasuke, pandangan mereka berdua bertemu. Walaupun sekilas, namun banyak perasaan yang muncul saat dua pasang bola mata yang berlainan warna itu bertemu.
Tangan itu terkepal erat ketika melihat sosok Hinata menjauh dibawa oleh pemuda berambut kuning jabrik tersebut. Andaikan ini di anime, pasti akan terlihat aura hitam di sekeliling tubuh pemuda Uchiha ini.
"Wahhh...kelihatannya mereka berdua saling menyukai ya, Sasuke-kun?" tanya Sakura merona malu.
Sakura terlihat sedikit cemas saat melihat Sasuke yang diam saja tanpa mengalihkan pandangannya di depan. "Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura cemas.
Sasuke terlihat menghela nafas, dan mencoba menyembunyikan sesuatu di wajah datarnya sekarang ini.
"Tidak apa-apa."
.
.
.
.
.
"Indah sekali, Namikaze-kun," puji Hinata. Dia takjub melihat keindahan bunga matahari yang tengah bermekaran.
"Ternyata aku tidak salah membawamu kemari. Sudah aku duga, kau pasti akan menyukainya," ucap Naruto bahagia.
"Iya, aku menyukainya."
"Aku dan klubku bekerja keras menanam mereka di sini."
"Jadi ini semua adalah hasil kerha klub kamu."
"Hn. Klub berkebun."
Hinata sedikit menyunggingkan senyumannya. Dia tidak menyangka bahwa pemuda enerjik seperti Naruto mengikuti klub berkebun. Dia kira Naruto akan mengikuti klub olahraga seperti basket ataupun sepak bola.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh pada diriku," tanya Naruto.
"Hm. Kenapa kamu mau masuk klub berkebun ini? Bukankah pemuda sepertimu biasanya lebih memilih masuk klub olahraga?" tanya Hinata penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan Hinata, pemuda Namikaze itu malah tersenyum lebar pada Hinata. Melihat itu, Hinata menautkan kedua alisnya. Dia jadi merasa semakin aneh pada pemuda yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa tersenyum? Apa ada yang lucu?" tanya Hinata.
"Tidak ada. Hanya saja aku merasa senang," jawab Naruto disertai senyuman.
"Aku merasa senang..." Naruto sengaja menggantungkan kalimatnya. "karena akhirnya kau sedikit tertarik padaku, Hinata-chan," lanjut Naruto.
"Ha?" Hinata cengo mendengar jawaban Naruto.
"Walaupun kemarin kau menolakku, aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan hatimu," tegas Naruto.
"Tapi-..."
"Aku tahu perasaan tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu, aku tidak akan pernah memaksamu. Aku akan membuatmu suka padaku secara perlahan-lahan."
Hinata tersenyum lembut menanggapi pernyataan Naruto. Dia merasa kagum dengan kegigihan pemuda beriris blue safir ini. Bukan hanya tubuhnya yang terlihat kuat namun pemuda itu mempunyai keteguhan hati yang tinggi.
Teet..teet..teettt...
"Hufhh... waktu cepat sekali berlalu," keluh Naruto. "Padahal aku masih ingin di sini bersamamu lebih lama lagi," gerutu Naruto.
"Hm. Kita harus masuk kelas sekarang juga," ucap Hinata.
Namanya juga kebun, pastilah banyak batu kecil maupun besar berserakan di situ. Mungkin hari ini, Dewi Fortuna tidak sedang menghampiri Hinata. Nyatanya, keseimbangan Hinata hilang ketika tanpa sengaja kakinya tersandung batu.
Tubuhnya pasti akan terjerembab ke tanah, apabila Naruto tidak sigap menangkapnya. Kalau dilihat dari kejauhan, mereka berdua tampak sedang berpelukan. Walaupun pada kenyataannya tidak sepenuhnya seperti itu.
"Kau tidak apa-apa, Hinata-chan?" tanya Naruto cemas.
"Tidak apa-apa," jawab Hinata.
"Hufh...syukurlah."
Dari jendela kelas di lantai 3, ada seorang pemuda yang tengah mengamati dua sejoli yang ada di kebun belakang sekolah tersebut. Raut kesal nampak di wajah stoic pemuda beriris onyx tersebut. Mimik wajahnya sedikit berubah, ketika dia melihat ada seorang pria yang berparas hampir sama dengannya mendekat ke tempat Naruto dan Hinata berada.
.
.
.
.
.
"Ekhm!"
Mendengar itu, Naruto langsung melepas pelukannya pada Hinata. Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara tersebut. Naruto terlihat sedikit salah tingkah, ketika mengetahui orang yang menghancurkan momen indahnya bersama Hinata adalah...
"Ita-..eh..Uchiha-sensei," ucap Hinata.
"Hn. Bel jam pelajaran pertama sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Kalian harus segera masuk ke kelas masing-masing," ucap Itachi.
"Baik, sensei," jawab Naruto. "Ayo, Hinata-chan," ajak Naruto.
"Hm," sahut Hinata. Hinata akan beranjak pergi, namun langkahnya dihentikan.
"Hinata, aku ingin berbicara denganmu," ucap Itachi.
"Mm."
"Baiklah kalau begitu aku pergi duluan, Hinata-chan" pamit Naruto. "Permisi, Uchiha-sensei," sapa Naruto.
"Hn," jawab Itachi. Setelah Naruto pergi dari tempat itu. Itachi baru mengeluarkan suaranya dan mendekati Hinata.
"Kau tidak diapa-apakan oleh pemuda tadi 'kan, Hinata-chan?" tanya Itachi.
"Tentu saja tidak," jawab Hinata.
"Lalu kenapa tadi dia memelukmu?" selidik Itachi.
"Namikaze-kun tadi menolongku yang hampir jatuh karena tersandung batu, Itachi-nii. Kalau bukan karena pertolongannya, aku pasti sudah terjerembab ke tanah," jelas Hinata.
"Kamu itu memang ceroboh," ucap Itachi seraya menyentil dahi Hinata.
"Aw!" pekik Hinata.
"Lagipula kenapa kamu mau dibawa pemuda asing itu ke sini? Sendirian lagi? Kemana Sasuke?" tanya Itachi bertubi-tubi.
"Namikaze-kun bukan pemuda asing, kami sudah saling kenal sejak beberapa hari yang lalu," jelas Hinata. "Lagipula aku 'kan tidak harus pergi kemana-mana di dampingi Sasuke," lanjutnya.
"Hn. Lain kali kalau kamu tidak ingin ditemani Sasuke, panggil saja aku. Aku pasti akan menemanimu," ucap Itachi.
"Aku 'kan bukan anak kecil yang harus selalu ditemani, Itachi-nii," gerutu Hinata dengan mengerucutkan bibirnya.
"Iya iya. Tapi nyatanya, kamu berakhir jatuh di pelukan pemuda itu."
"Itu 'kan tidak sengaja."
"Hn."
Itachi maju mendekati Hinata. Ketika dia sudah berada di dekat gadis itu, Itachi secara tiba-tiba menyelipkan tangannya di kaki Hinata. Dan menggendong Imoutou-nya itu ala bridal style.
"I-itachi-nii, apa yang kamu lakukan?" tanya Hinata yang terkejut karena perbuatan kakaknya.
"Menyelamatkanmu agar tidak terjatuh lagi," sahut Itachi.
"Aku akan berjalan lebih hati-hati lagi."
"Hn." Walaupun kedengarannya, Itachi menyetujui permintaan Hinata. Tetapi kenyataannya, dia sama sekali tidak merubah posisi Hinata di kedua tangannya.
"Itachi-nii, turunkan aku," pinta Hinata. "Aku malu. Ini 'kan di sekolah," lanjutnya.
"Memangnya kenapa kalau di sekolah? Semua penghuni Uchikaze Gakuen ini tahu kalau kamu adalah adikku," jelas Itachi. "Mereka juga pasti akan mengerti kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya, sehingga harus berbuat seperti ini," lanjutnya.
"Haahhh... Terserah kamu saja, Itachi-nii," jawab Hinata sambil menghela nafas.
Itachi tersenyum senang, ketika Hinata pasrah menuruti keinginannya. Apalagi melihat wajah kesal Hinata yang terlihat imut di matanya, ini merupakan hiburan tersendiri bagi Itachi.
"Tcik! Dasar, Baka Aniki!" gerutu pemuda sama yang sedang melihat dari jendela kelas di lantai 3.
.
.
.
.
.
Hinata langsung tersenyum senang saat melihat Fugaku dan Mikoto tiba di kediaman Uchiha. Langsung saja dia berhambur ke pelukan Mikoto.
"Okaa-san, aku kangen sekali," ucap Hinata yang memeluk Mikoto. "Kenapa sebelumnya tidak memberi kabar kalau ingin pulang, Okaa-san?" tanya Hinata.
"Gomen ne, Hinata-chan," jawab Mikoto seraya mengelus-elus rambut Hinata.
"Tidak apa-apa. Yang penting Otou-san dan Okaa-san bisa pulang dengan selamat," balas Hinata.
"Hm."
Setelah melepas pelukannya pada Mikoto, Hinata beralih menuju ke Fugaku. Dia tersenyum lembut pada Kepala Keluarga Uchiha tersebut, kemudian memeluknya.
"Selamat datang, Otou-san," ucap Hinata.
"Hn," balas Fugaku seraya membalas pelukan putri bungsunya.
Hinata merasa sedikit aneh dengan pelukan Fugaku padanya. Karena dia merasa pelukan Fugaku padanya terasa semakin erat. "Otou-san?" gumam Hinata.
Mikoto tersenyum miris melihat tingkah laku suami dan putrinya itu. Wanita cantik itu menepuk bahu Fugaku, mencoba menghentikan perlakuan suaminya pada Hinata. Alhasil, Fugaku mengurai pelukannya pada Hinata. Walaupun wajahnya nampak datar, namun bila dilihat dengan seksama akan muncul raut sedih di wajah Fugaku.
"Ada apa, Otou-san?" tanya Hinata yang sepertinya sedikit merasa aneh dengan perilaku Fugaku.
"Tidak apa-apa," jawab Fugaku seraya menyentuh puncak kepala Hinata.
Suasana yang terlihat aneh itu terpecahkan dengan kehadiran Sasuke dan Sakura. "Konbanwa, Fugaku-jisan dan Mikoto-basan," sapa Sakura.
"Konbanwa. Sakura-chan, kapan kamu kembali ke Konoha?" tanya Mikoto.
"Baru hari ini, Mikoto-basan," jawab Sakura.
Mereka langsung terlibat pembicaraab ringan. Namun, Mikoto merasakan tidak kehadirannya salah satu putranya. "Hinata-chan, Itachi kemana?" tanya Mikoto.
"Itachi-nii sedang pergi ke rumah Kakashi-nii," jawab Hinata.
"Ohh."
Malam itu, suasana di kediman Uchiha terasa lengkap dengan kehadiran Fugaku dan Mikoto. Tentunya Hinata merasa sangat bahagia dengan keadaan ini. Namun, tetap saja dia merasakan keanehan pada kedua orang tuanya. Walaupun dia tidak tahu apa alasannya, tetapi dari kedua mata orang tuanya, Hinata tahu ada yang sedang mereka sembunyikan padanya.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah. Hinata diajak Fugaku pergi ke ruang kerja Ayahnya itu. Hinata merasa akan ada sesuatu yang sangat penting yang akan diberitahukan kepadanya. Setelah menghela nafas, barulah Fugaku memulai pembicaraan.
"Hinata, ada yang ingin Otou-san bicarakan denganmu," ucap Fugaku.
"Tentang apa, Otou-san?" tanya Hinata.
"Tentang..." Fugaku terlihat menggantungkan perkataannya. "Ayah kandungmu," lanjut Fugaku.
"A-yah kandungku?"
"Hn."
.
.
.
.
.
.
.
^TBC^
.
.
.
.
.
Thanks to read
.
.
.
.
Balasan review untuk chapter 5:
Hyuuga-chan : Iyaa.. Aminn.. Moga SasuHina bisa saling mengungkapkan perasaannya. Maaf ya, updatenya tetap ga bisa kilat...T,T
Demikooo : Makasih.. Ni sudah update
Lizy94 : Ga tw. Jadi ingin menyanyi lagu Armada 'Mau Dibawa Kemana', heheheee...*plak*.
Lollytha-chan : Thanks a lot. Silahkan, Meiru seneng begete low fic ni ada yang nge-fave. Ni sudah dilanjutin.
N : O,oh gitu... Heheheee...tema fic ni emang pasaran. Meiru jadi malu.
Shin Ri Young : Sudah Meiru update nich...
Shyoul Lavaen : Yaaahhhh... sepertinya update-nya tetap lama seperti biasanya. Gomenasai... T,T
Rozu Aiiru : Ga pa2... Bagusnya fic ini gimanas sih? Ya ya... Trimz, mu dah mw mengoreksi penulisan fic ini...,
Hizuka Miyuki : Heheheee... Yaa namanya juga fic multichap pasti ada kata TBC-nya. Ni sudah Meiru update.
Sasuhina-caem : Ocey! Ni sudah dilanjutin.
And thanks to review
Meiru beribu-ribu minta maaf atas sangat keterlambatannya fic ini
Namun, setelah chapter ini selesai, Meiru segera meng-up date-nya
Semoga chapter kali ini tidak terlalu parah dari chapter sebelumnya
Meiru masih sangat membutuhkan saran dan kritik dari kalian semua
Oleh karena itu, seperti biasanya...
R
E
V
I
E
W
Arigatou
