.

.

SASUHINA

.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Between Us

.

.

.

.

Semilir angin sore yang sejuk, mengiringi langkah seorang gadis untuk mencari sebuah alamat rumah orang yang selama ini begitu penting dalam hidupnya. Sebenarnya saat pertama kali Hinata mendapatkan alamat ini dari Fugaku tadi malam, dia ragu untuk mencarinya.

Flashback ON

"A-yah kandungku?"

"Hn."

Saat ini hati Hinata terasa dipukul palu yang sangat besar, matanya membesar dan mulutnya sedikit terbuka. Ekspresi Hinata yang seperti itu cukup membuat Fugaku mengerti bahwa putri angkatnya itu tengah terkejut dengan apa yang baru diucapkannya.

"Tou-san dan Kaa-san sebenarnya tidak ingin memberitahumu tentang hal ini. Karena kami tahu bahwa hal ini pasti akan menjadi beban tersendiri bagimu." Fugaku terlihat sedikit menghela nafas. "Tapi kau punya hak untuk mengetahui keberadaan Ayah kandungmu," lanjut Fugaku.

Bukannya merasa lebih tenang dengan penjelasan Fugaku, Hinata malah semakin bingung dibuatnya. Bibirnya terasa kelu dan susah digerakkan untuk menjawab penjelasan dari Fugaku. Di satu pihak ingin menemui Ayah kandung yang selama ini dia rindukan.

Namun, di pihak lain Hinata merasa cemas dan khawatir kalau Fugaku dan Mikoto akan merasa tersinggung apabila dia menemui Ayah kandungnya. Perasaan bimbang itu nampak jelas di kedua mata Hinata yang terlihat berkaca-kaca itu.

Seakan dapat membaca pikiran Hinata, Fugaku kembali memberikan penjelasan kepada putrinya itu. "Tou-san ataupun Kaa-san tidak akan merasa tersinggung, jika kau menemui Ayah kandungmu," ucap Fugaku.

Air mata Hinata semakin tidak bisa dibendung lagi, mendengar penuturan dari Fugaku. Melihat itu, Fugaku berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Hinata. Fugaku sedikit membungkukkan badannya, menyejajarkan dengan Hinata. Kepala keluarga Uchiha tersebut mengulurkan tangannya dan membelai lembut puncak kepala Hinata.

"Jangan khawatir, selamanya kau adalah putri kami," ucap Fugaku dengan sedikit melengkungkan bibirnya.

Hinata langsung berhambur ke pelukan Fugaku, pecah sudah tangisan Hinata yang telah ditahannya. Hinata sungguh tidak menyangka bahwa orang yang telah memasukkannya dalam keluarga Uchiha ini, begitu bijaksana.

Fugaku menenangkan Hinata dengan membelai-belai lembut rambut Hinata. Perbuatan itu nyatanya mempan, karena tangisan Hinata berangsur-angsur memelan dan menghilang. Walaupun sekarang Hinata masih sesenggukan, mencoba meredam tangisannya. Fugaku menguraikan pelukannya dan menatap lembut Hinata, seakan memberikan semangat pada putrinya itu. Hinata membalasnya dengan memberikan senyum terlembut yang bisa dia berikan sekarang ini.

Di balik pintu ruang kerja Fugaku, nampak Sasuke yang yang berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Wajah datarnya itu tertutupi dengan poninya yang menjuntai ke bawah. Pasti tersimpan perasaaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Hal itu terbukti dengan tangan kanannya yang tidak dimasukkan ke dalam saku celana, sekarang tengah terkepal erat.

Sasuke terlihat menegakkan kembali tubuhnya, dan berjalan pergi dari tempat bersandarnya tersebut. "Cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi," gumamnya.

Flashback END.

Akhirnya setelah berpikir secara masak-masak, Hinata memutuskan untuk mencari alamat yang tertera di kertas yang sekarang ada di tangannya. Setelah bertanya-tanya kepada penduduk sekitar, akhirnya Hinata sampai di depan sebuah kedai ramen. Alamat kedai ramen tersebut sama persis dengan alamat rumah yang ingin ditujunya.

Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Hinata melangkahkan kakinya memasuki kedai ramen tersebut. Kedatangannya langsung disambut oleh pemuda berambut coklat yang sepertinya pelayan di kedai ramen tersebut. Hal itu terlihat dari penampilannya.

"Selamat datang," sapa pemuda itu sambil memberikan senyuman cerianya. "Silahkan duduk, Nona," lanjutnya.

Hinata hanya tersenyum kemudian mengangguk dan duduk di tempat yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Sepasang lavendernya bergerak menulusuri setiap sudut yang ada di kedai tersebut. Hinata mencoba mencari sosok pria yang menjadi salah satu faktor yang membuatnya lahir di dunia ini.

"Anda ingin memesan apa?" tanya pelayan.

"Eh? Mmm... Saya pesan teh saja," jawab Hinata.

"Baiklah. Tunggu sebentar, Nona."

"Hm."

Setelah itu, pelayan tersebut langsung pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian, pelayan itu membawakan minuman yang menjadi pesanan Hinata. "Silahkan, Nona. Ada yang anda inginkan lagi?" tanya pelayan tersebut.

"Tidak ada. Tetapi ada yang ingin saya tanyakan," jawab Hinata.

"Apa?" tanya balik pelayan tersebut.

"Kalau boleh tahu siapa pemilik kedai ini?" tanya Hinata.

"Pemiliknya adalah Hyuu-..." Pelayan tersebut menghentikan ucapannya saat ada seorang pria paruh baya memasuki kedai tersebut. "Ah, itu beliau datang," ucap pelayan tersebut.

Sepasang lavender itu nampak sedikit membesar ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh pelayan kedai itu. Terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat menuju tempat Hinata dan pelayan tersebut. Karena meja Hinata memang tepat berada lurus di depan pintu masuk. Jadi ketika ada seseorang yang akan memasuki kedai pasti akan melewati tempat duduk Hinata. Suara langkah kaki tersebut berhenti tepat di samping Hinata.

"Ada apa, Inuzuka?" Terdengar suara berat yang keluar dari orang yang tentunya pemilik kedai ramen ini.

"Nona ini menanyakan tentang Anda, Hyuuga-san," ucap pelayan yang ternyata bermarga Inuzuka itu.

Pria paruh baya yang ternyata bernama Hyuuga Hiashi itu, sedikit mengerutkan kedua alisnya ketika mendengar penjelasan dari Inuzuka. Sepasang matanya sedikit membesar ketika gadis yang ada di hadapannya, menampakkan wajahnya. Baginya waktu terasa berhenti sejenak saat melihat seorang gadis yang mempunyai perawakan wajah yang hampir sama dengannya.

Lain dengan Hinata, walaupun pada awalnya dia merasa gugup ketika akan bertemu dengan Ayah kandungnya tadi. Namun sekarang, ekspresinya datar saat menatap wajah seorang pria yang menjadi Ayah Biologisnya. Bahkan dengan tenang, dia membungkukkan sedikit badannya, guna memberikan hormat.

"Hyuuga-san, bisa kita bicara sebentar?" ucap Hinata dengan tenang.

"Tentu saja. Mari masuk ke dalam," jawab Hiashi setelah menormalkan kembali wajahnya dari rasa keterkejutannya.

Hiashi melangkah masuk jauh ke dalam kedainya. Di belakang nampak Hinata yang berjalan mengikutinya. Sepertinya akan terjadi pembicaraan yang intens antara mereka berdua.

.

.

.

.

.

Sang mentari kembali ke peraduannya, saat Hinata pulang ke kediaman Uchiha. Hinata bersikap sewajar mungkin ketika masuk ke dalam rumah. Gadis itu tidak ingin anggota keluarganya mengetahui bahwa hari ini dia baru saja mendapatkan penjelasan atas keingintahuannya selama ini.

"Tadaima," ucap Hinata saat melihat Mikoto berjalan ke arahnya.

"Okaeri, Hinata-chan," balas Mikoto. "Kamu darimana saja? Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Mikoto mencemaskan keadaan Hinata yang baru pulang. Karena saat ini Hinata masih memakai seragam sekolahnya.

"Habis pulang sekolah, aku mampir ke rumah Tenten-chan. Ada tugas kelompok dari sekolah," jelas Hinata sambil tersenyum lembut, mencoba menenangkan kekhawatiran Ibunya.

"Mmm, begitu. Okaa-san sempat khawatir, saat kamu tidak pulang sekolah tepat pada waktunya," ucap Mikoto sambil menghela nafas lega.

"Hm. Kalau begitu, aku ke kamar dulu ya, Okaa-san," pamit Hinata.

"Ah iya," jawab Mikoto. Wanita Uchiha itu menatap sayu melihat punggung Hinata yang semakin menjauh darinya.

Dari arah dapur, Sasuke dapat melihat raut sedih yang nampak dari wajah cantik Ibunya. Pemuda itu berjalan keluar dari dapur, dan menghampiri Mikoto.

"Ah, Sasuke-kun," panggil Mikoto. "Hinata-chan terlihat tidak semangat hari ini. Okaa-san harus berbuat apa untuk membuatnya ceria seperti sedia kala?" tanya Mikoto.

"Okaa-san tidak perlu berbuat apa-apa. Itu akan menjadi urusanku," jawab Sasuke sambil berlalu meninggalkan Mikoto.

"Sasuke-kun, kamu memang sangat perhatian dengan Hinata-chan," gumam Mikoto.

Hinata duduk di tepi ranjangnya dengan tatapan yang hampa. Di kepalanya terngiang kembali perkataan Hiashi di kedai ramen tadi.

"Aku tidak memaksamu untuk memaafkan kesalahanku selama ini dan memintamu untuk tinggal bersamaku. Melihatmu tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat seperti ini, sudah membuatku bahagia," ucap Hiashi. "Namun bila kau ingin datang ke sini, pintu rumah ini terbuka lebar untukmu," lanjutnya.

Pintu kamar Hinata perlahan terbuka, dan muncullah seorang pemuda berambut raven dengan iris onyx tajamnya. Pemuda itu berjalan mendekat ke gadis yang sedang termangu duduk di tepi ranjang. Mungkin karena gadis itu terlalu terbuai dengan pikirannya sendiri, maka kedatangan pemuda itu tidak disadarinya. Barulah setelah merasakan ranjang yang didudukinya berderit, kesadaran gadis itu kembali seperti semula.

"Sa-sasuke. Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Hinata yang terkejut dengan kehadiran Sasuke di sampingnya.

"Sejak 18 tahun yang lalu," canda Sasuke.

"Hizz... Terserah kamu saja-lah," ucap Hinata seraya berdiri dari ranjangnya. Saat ini Hinata benar-benar tidak ingin berdebat dengan Sasuke.

"Bersiap-siaplah. Kita akan segera pergi ke taman ria," ucap Sasuke sembari berdiri dan melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar Hinata.

"Apa kamu bilang?" tanya Hinata tidak percaya.

Mendengar itu, Sasuke menghentikan langkahnya. "Apa sekarang daya pendengaranmu berkurang?" ejek Sasuke.

Ctak!

Muncul tanda perempatan di dahi Hinata. Pemuda yang satu ini memang selalu bisa membuat mood-nya berubah secara cepat. "Hizz... Kamu ini. Kenapa tiba-tiba mengajakku ke sana?" tanya Hinata.

"Ini tidak tiba-tiba. Bukankah kamu yang menginginkannya," jawab Sasuke.

"Aku?" tanya Hinata bingung.

"Ternyata selain daya pendengaranmu, daya ingatmu juga berkurang," ejek Sasuke.

"Kamu ini! Sungguh menyebalkan!" pekik Hinata.

Mendengar makian itu, Sasuke berbalik dan melangkah mendekati Hinata. Setelah berada tepat di hadapan Hinata, Sasuke mengulurkan tangannya dan menarik dagu Hinata mendekat ke wajahnya. "Kalau kau tetap protes, aku akan membungkam bibirmu," goda Sasuke seraya mendekatkan wajahnya pada Hinata.

Segera saja, Hinata menampik tangan Sasuke yang ada di dagunya. Dan menjauhkan dirinya dari Sasuke. "Baka! Sasuke, Ecchi!" maki Hinata seraya berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.

Sasuke malah tersenyum puas melihat tingkah Hinata. Pemuda itu merasa senang, walaupun dengan cara jelek seperti ini. Dia berhasil membuat Hinata bersikap seperti biasanya. Tidak sedih seperti saat dia masuk ke dalam kamar ini tadi.

.

.

.

.

.

Jam dinding yang terletak di ruang keluarga kediaman Uchiha menunjukkan pukul 7 lewat 10 menit, saat Hinata turun dari lantai dua. Hinata terlihat semakin manis dari biasanya dengan memakai tanktop putih yang dilapisi dengan bolero berwarna biru muda. Di rambut indigo-nya tersemat japit kupu-kupu yang sangat cantik. Untuk bawahannya, Hinata memakai rok balon yang berwarna hitam menjuntai ke bawah sampai lututnya.

Ketika Hinata akan keluar rumah, dia berpapasan dengan Mikoto. "Kamu mau kemana, Hinata-chan?" tanya Mikoto.

"Ke taman ria. Sasuke tiba-tiba saja mengajak ke sana," jawab Hinata.

"Benarkah? Kalau begitu, selamat bersenang-senang," ucap Mikoto dengan semangat.

"Hm," balas Hinata dengan sedikit menyunggingkan senyumannya.

Setelah itu, Hinata langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dia sudah hafal dengan perilaku Sasuke, sekarang pemuda itu pasti sudah menunggunya di dalam mobil. Dugaan Hinata terbukti benar, karena ketika dia keluar rumah sudah ada mobil sport biru berhenti di depan rumah. Hinata segera berjalan mendekati mobil tersebut, membuka pintunya dan masuk ke dalam mobil.

"Lama sekali," gerutu Sasuke.

"Gomen," sahut Hinata. Mobil sport itu langsung melaju keluar dari kediaman Uchiha.

Keheningan menyelimuti perjalanan mereka berdua. Tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Hinata tampak mengamati gedung-gedung dan berbagai tempat yang dilaluinya melalui kaca samping mobil. Sedangkan Sasuke walaupun perhatiannya terfokus pada jalan di depan, namun sesekali dia melirik Hinata. Memastikan bahwa keadaan gadis itu baik-baik saja. Beberapa menit kemudian mobil sport itu sudah terparkir dengan aman di areal parkir taman ria.

Karena malam ini malam minggu, banyak sekali orang yang mengunjungi taman ria ini. Sasuke dan Hinata masuk ke dalam taman ria. Melihat keramaian dan berbagai wahana yang tersedia, membuat senyuman Hinata mengembang di bibirnya. Melihat itu, Sasuke menghela nafas lega.

"Sasuke, aku mau naik itu," ucap Hinata seraya menunjuk bianglala.

"Hn, baiklah," balas Sasuke.

Setelah membeli tiket, mereka berdua langsung masuk ke dalam bianglala. Untunglah pada saat mereka datang, ada yang turun dari bianglala. Jadi Sasuke dan Hinata langsung bisa menikmati wahana tersebut. Dengan perlahan, bianglala membawa mereka berdua ke atas, menikmati pemandangan kota Konoha.

"Wahhh, indah sekali," puji Hinata sambil berdiri menatap ke luar jendela.

"Hn," tanggap Sasuke. "Apa kau tidak lelah dari tadi berdiri terus?" lanjutnya.

"Eh? Iya, sih. Lagipula sambil duduk 'kan kita tetap bisa menikmati pemandangan," jawab Hinata sambil berbalik dan hendak duduk di samping Sasuke. Tetapi keinginan Hinata itu tidak terpenuhi saat tangan kanannya ditarik oleh Sasuke. Alhasil, gadis itu sekarang duduk menyamping di pangkuan Sasuke.

"Sa-sasuke, apa yang kamu lakukan?" pekik Hinata.

"Diamlah! Sebentar saja. Tetaplah dalam posisi seperti ini," ucap Sasuke seraya memeluk dan mengistirahatkan kepalanya di bahu Hinata.

Aroma lavender begitu menguar dari leher Hinata. Sasuke menghirupnya dalam-dalam, seolah-olah aroma ini adalah aroma relaksasi yang dapat menenangkan dirinya. Sedangkan Hinata dengan semburat merah tipis yang muncul di wajahnya, hanya pasrah terhadap perlakuan Sasuke padanya.

Dengan jarak sedekat ini, Hinata dapat mencium aroma mint yang menguar dari rambut Sasuke. Aroma ini selalu dapat membuatnya betah berada di dekat pemuda beriris onyx tersebut. Hal inilah yang membuat Hinata membalas pelukan Sasuke padanya.

"Beberapa hari ini kau seolah mengacuhkanku," gumam Sasuke dengan tetap memeluk Hinata.

Hinata sedikit terhenyak mendengar perkataan Sasuke. Di dalam hatinya, gadis itu mengakui bahwa semenjak kedatangan Sakura, dia sering cepat marah dengan apa yang dilakukan Sasuke padanya.

"Apa sebegitu tidak sukanya kau padaku?" tanya Sasuke.

"Tentu saja tidak," jawab Hinata.

Sasuke mengurai pelukannya pada Hinata, dan menatap lurus pada sepasang lavender yang ada di hadapannya saat ini. "Kalau begitu, apa kau menyukaiku?" tanya Sasuke.

Mata Hinata langsung membulat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sasuke padanya. Seharusnya ekspresi Hinata tidak seterkejut ini. Sasuke 'kan kakaknya, tentu saja dia menyukai dan menyayanginya. Tapi entah kenapa, saat ini pertanyaan Sasuke itu mengandung arti yang berbeda.

"Aku telah melanggar janjiku pada Neji. Di saat terakhir, dia menyuruhku untuk menjagamu sebagai seorang adik." Sasuke masih menatap lurus pada Hinata. "Pada saat itu, melihat keadaan Neji yang sangat kritis, aku tidak bisa berkata apa-apa," lanjutnya.

Sepasang lavender itu nampak sedikit berkaca-kaca saat Sasuke mengungkit Neji. Sasuke sebenarnya tidak tega melihat keadaan Hinata yang seperti ini. Namun, dia harus mengatakan ini pada gadis itu. Agar nantinya tidak ada kebohongan lagi yang terjadi antara mereka berdua.

"Padahal jauh sebelum itu, aku sudah menganggapmu sebagai seorang wanita. Bukan sebagai seorang adik. Beberapa tahun ini aku sudah mencoba mengubah perasaan ini. Namun, sampai saat ini perasaanku kepadamu tetap tidak bisa berubah," jelas Sasuke.

"Ke-kenapa kamu mengatakan semua ini?" tanya Hinata dengan kedua matanya yang tambah berkaca-kaca.

"Karena aku sudah tidak mau membohongi Neji dan membohongi perasaanku lagi," jawab Sasuke tegas.

Tes

Mengalir sudah air mata di pipi Hinata. Dia sungguh tidak menyangka, Sasuke akan berbicara seperti ini.

Sasuke mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Hinata. "Jangan menangis. Aku tidak ingin kau mengeluarkan air matamu hanya karena diriku," ucap Sasuke.

"Hiks...hiks...hwaaaa..." Bukannya berhenti, Hinata malah mengeluarkan seluruh tangisannya.

Sasuke jadi bingung sendiri karena tangisan Hinata yang tidak mau mereda. Pemuda itu membawa tubuh Hinata ke dalam pelukannya. Mengelus-elus dengan lembut rambut indigo Hinata.

"Hiks...baka...baka...hiks...Sasuke-baka," gumam Hinata di sela-sela tangisannya. "Hiks...padahal aku...hiks...su-sudah berniat menghilangkan pe-perasaan ini...hiks... Te-tetapi sekarang ka-kamu...hiks...malah mengungkapkannya," jelas Hinata dengan terbata-bata.

Mendengar itu, kedua mata Sasuke sedikit melebar. Namun tak lama kemudian, dia menarik ke atas kedua sudut bibirnya. "Jadi, kau juga menyukaiku?" tanya Sasuke.

Hinata tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya isakan tangis gadis itu yang terdengar di kedua telinga Sasuke. Walaupun begitu Sasuke sudah mendapatkan jawaban atas pernyataan cintanya. Dengan cara anggukan Hinata yang terasa pada bahu kirinya.

Sasuke semakin melebarkan senyumannya, saat mengetahui perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Walaupun pada nantinya mereka berdua akan mendapatkan banyak rintangan dari keluarga karena perasaan ini. Namun sekarang, yang terpenting mereka berdua dapat mengetahui perasaan masing-masing.

Hinata masih saja sesenggukan menangis, padahal sebentar lagi bianglala yang mereka naiki akan segera sampai di bawah. Muncul ide jahil di otak jenius pemuda Uchiha ini untuk menghentikan tangisan Hinata. Sasuke melepaskan pelukannya pada Hinata.

Sasuke tersenyum geli melihat wajah Hinata sekarang ini. Kedua pipi yang memerah, mata yang sembab dan air mata yang terus mengalir jatuh dari sepasang mata yang indah itu. "Berhentilah menangis. Apa kau tidak lelah dari tadi menangis terus?" goda Sasuke.

Hinata tidak menghiraukan godaan Sasuke padanya. Sebenarnya dari tadi dia tetap berusaha mencoba menghentikan tangisannya. Tetapi air mata terus saja meluncur keluar dan sulit untuk dihentikan.

"Apa jangan-jangan kau ingin aku yang menghentikannya?" goda Sasuke ditambah dengan seringaiannya.

"A-apa maksudmu? Hiks... Aku ti-tidak mengerti," jawab Hinata.

"Akan kubuat kau mengerti."

Setelah itu, Sasuke meraih kepala Hinata dan menariknya mendekat ke wajahnya. Dengan memejamkan kedua matanya, Sasuke menyatukan bibirnya dengan bibir Hinata. Sasuke mencoba menyalurkan segenap perasaannya melalui ciuman lembut tersebut. Rasa asin terkecap di lidah Sasuke, itu karena air mata Hinata yang turut mengiringi ritual yang terjadi antara mereka berdua.

Sasuke mencium Hinata dengan sangat lembut. Dia tidak mau Hinata mempunyai kesan yang buruk saat Sasuke melakukan 'itu' pada gadis tersebut. Akhirnya Hinata ikut memejamkan kedua matanya. Itu pertanda bahwa Hinata merasa nyaman dengan perlakuan Sasuke padanya sekarang ini.

Beberapa detik kemudian Sasuke melepaskan ciumannya. Pemandangan indah langsung tertangkap oleh sepasang onyx Sasuke. Hinata nampak tersipu malu dan sedikit menundukkan wajahnya. "Hahaaa.. Caraku terbukti ampuh," ucap Sasuke dengan mengacak rambut Hinata.

Hinata tidak membalas candaan Sasuke itu, karena sekarang dia terlalu malu untuk melakukan hal itu. Jangankan membalas candaan Sasuke, menatap sepasang onyx itu saja, Hinata masih sungkan. Alhasil, Hinata pulang dari taman ria dengan persaan yang bercampur aduk.

.

.

.

.

.

Ketika sampai di kediaman Uchiha, Hinata langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Sasuke. Dia ingin segera masuk ke kamarnya. Karena Hinata tidak ingin ada siapa pun yang melihatnya dalam keadaan malu seperti ini. Namun ketika akan menaiki tangga, dia dicegat oleh Itachi. "Hinata-chan, kamu darimana?" tanya Itachi.

"Dari taman ria," jawab Hinata.

Itachi menatap lekat-lekat Hinata, sepertinya dia merasa ada yang aneh dengan adik perempuannya itu. Sedangkan yang ditatap semakin merasa malu.

"Kenapa wajahmu memerah, Hinata-chan?" tanya Itachi. "Apa kamu sakit?" lanjutnya.

Itachi mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi Hinata. Memeriksa suhu tubuh adiknya. "Badanmu sedikit hangat. Kamu harus minum obat," jelas Itachi.

"Tidak perlu minum obat. Dia 'kan tidak sakit," sahut Sasuke yang baru saja masuk ke dalam rumah, melewati Itachi dan Hinata, hendak menaiki tangga.

"Jadi kamu pergi ke taman ria dengan Sasuke?" tanya Itachi.

"Hm," jawab Hinata seraya mengangguk.

"Kalau tidak sakit. Jangan-jangan..." Itachi terlihat berpikir sejenak. "...ini karena perbuatanmu ya, Sasuke," ucap Itachi dengan suara baritonnya sambil menoleh ke arah Sasuke.

Blush

Wajah Hinata menjadi tambah merah mendengar tebakan dari Itachi. Mendengar tebakan Itachi, Sasuke menghentikan langkahnya. Kemudian dia menoleh ke arah Itachi. "Kalau iya, memangnya kenapa, hm?" jawab Sasuke disertai seringaiannya. Setelah itu dia melenggang pergi menuju ke kamarnya.

"Awas kau, Sasuke," desis Itachi. Kemudian dia berbalik menatap Hinata. "Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi saat diajak keluar oleh Sasuke, Hinata-chan," jelas Itachi seraya memeluk Hinata.

Hinata tersenyum simpul, menerima perlakuan seperti itu dari Itachi. Menurutnya, Itachi memang telah menjadi seorang figur kakak yang baik bagi dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

^TBC^

.

.

.

.

.

Thanks to read

.

.

.

.

Balasan review untuk chapter 6:

Hyou Hyouichiffer : Sepertinya penjelasan kenapa Saku ada di kediaman Uchiha itu sudah ada di chapter 6. Coba dech kamu baca lagi. Yang meninggal itu Ibu dan kakaknya, kalau Ayahnya 'kan masih belum diketahui (itu sudah disinggung di chapter 5). Yaa itu sih tergantung Hina, dia mau tetap di keluarga Uchiha atau kembali pada Ayahnya,heheee

Haruno Aoi : Ga koq, kamu pernah review chapter yang dulu. Bingung yaa? Kalau masalah Sakura yang tidur di ranjangnya Sasu, itu karena dia ingin menunggu Sasu bangun dan akhirnya malah ikut2an tidur di situ. Iya, yang meninggal 'kan Ibu dan kakaknya. Low kamu ngikutin setiap chapter BU, kamu pasti tahu perasaan Itachi ke Hina yang sebenarnya. Oyi , Ganbatte!

Cherry Kuchiki : Ni sudah di up date.

Mamoka : Terima kasih... ^o^

Sasuhina-caem : Iya, akan muncul. Berpisah gimana maksudmu? Kenapa koq galau? Oyi

Lollytha-chan : Iya, makasih. Ni sudah di up date.

Lizy94 : Halo juga :3 Gomen ne, up date-nya lama T,T. Q juga gitu pengen banget punya kakak seperti Itachi,heheee... Ganbatte!

Tsubasa Li : Meiru juga suka sifatnya Itachi yang seperti ini.

Blue Night-chan : Hahahaaa... kamu koq sensi banget sama Sakura?

Kertas Biru : Ga tw, bakal akan jadi Hyuuga atau tetap Uchiha. Itu masih teka-teki. Scene yang mana low Sasu bisa deketin Hina? Chapter ini up date-nya tidak lama, hohooo

N : Masa? Meiru kira scene Naruhina biasa2 aja (ga pandai bikin scene romance) #plak. 'Kan niatnya Hina mau ngebangunin Sasu, eh ternyata malah liat pemandangan itu. Saku mengira low Hina tu bukan saudaranya Sasu (yahh.. kamu pasti tahu-lahhh :D)

Violetta Onyx : Iya, mereka bersaudaraan dan ada Naruto juga. Menurutmu gimana? Mengenai janji Sasu ke Neji 'kan sudah dingkapkan dalam chapter ini. Kamu baru tahu fic ini yaw. Heheheee, fic ini memang tidak terkenal. Ini Sudah Meiru up date.

And thanks to review

.

.

.

Sebelumnya Meiru mengucapkan terima kasih kepada Haruno Aoi

Karena telah membantuku dalam penulisan chapter ini

Arigatou ne... o

.

.

Mengenai makian Hina pada Sasu saat di kamarnya itu Meiru ambil dari episode Bleach

Sepertinya lucu aja gitu,heheee

Sedangkan scene Sasuhina yang naik bianglala itu Meiru terinspirasi dari manga-manga yang pernah Meiru baca

Kelihatannya manis dan selain itu Meiru juga ingin banget naik bianglala o

Makanya Meiru buat scene itu

Menurut kalian scene romance Sasuhina kali ini apa sudah pasaran?,?

Kritik dan saran kalian, tetap sangat berharga bagi Meiru

Maka dari itu...

R

E

V

I

E

W

Arigatou