.

.

SASUHINA

.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Between Us

.

.

.

.

Beberapa hari telah berlalu sejak Hinata menemui Hiashi. Namun, tidak seorang pun yang dia beritahu tentang hal itu. Kecuali Sasuke tentunya. Karena Hinata tidak ingin ada rahasia lagi diantara mereka berdua. Seperti sekarang ini, saat mereka berdua selesai menyantap bekal makan siang di bawah pohon rindang yang berada di belakang gedung sekolah. Hinata mengutarakan keinginannya.

"Sasuke, sepulang sekolah..." Hinata menggantungkan kalimatnya. "...aku ingin pergi ke kedai ramen itu lagi," lanjutnya.

Sasuke menatap lurus pada sepasang lavender yang ada di hadapannya. "Hn. Terserah kau saja," sahut Sasuke.

"Benarkah?" tanya Hinata dengan pandangan mata yang berbinar-binar. Sebenarnya tadi Hinata sedikit takut kalau Sasuke tidak menyetujui keinginannya untuk menemui Ayah kandungnya.

"Hn," tegas Sasuke.

"Arigatou, Sasuke," sahut Hinata sambil memeluk pemuda Uchiha itu.

Setelah saling terbuka dengan perasaannya masing-masing, Hinata jadi terlihat semakin berani mengungkapkan perasaanya kepada Sasuke melalui tindakan. Seperti sekarang ini, memeluk Sasuke tanpa ada rasa malu. Walaupun sekarang mereka ada di sekolah.

Perbuatan spontan Hinata itu dapat memunculkan senyuman lembut di wajah datar seorang Uchiha Sasuke. Bahkan senyuman Sasuke ini mampu membuat para siswi yang secara kebetulan lewat di koridor dekat taman belakang sekolah, tersipu malu.

Sungguh pemandangan yang langka, melihat senyuman lembut idola di Uchikaze Gakuen ini. Karena Sasuke selalu memasang wajah cool-nya di depan khalayak umum. Tentunya hal ini membuat para siswi berkerumun untuk menikmati pemandangan itu. Namun, sepertinya mereka harus menelan kekecewaan saat pemandangan bagus itu harus selesai. Dengan kedatangan seorang siswi di tempat pangeran sekolah mereka berada.

"Ekhm! Apa aku mengganggu kalian berdua?"

Hinata langsung melepaskan pelukannya pada Sasuke saat mendengar suara yang familir ada di dekatnya. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara tersebut. "Sakura-nee. Te-tentu saja tidak," jawab Hinata.

"Kalian telah memberikan pemandangan yang saat indah untuk para siswi di sini," kata Sakura seraya mengalihkan pandangannya pada para siswi yang berkumpul di koridor.

Sasuke dan Hinata mengikuti arah pandang Sakura. Hinata sedikit tersentak dan rona merah muncul di wajah manisnya. Dia merasa malu dan tidak menyangka bahwa sejak tadi mereka telah dipandang oleh puluhan pasang mata yang ada di tempat itu. Para siswi langsung bubar saat melihat sorot mata tidak menyenangkan yang mereka terima dari sang idola.

"Lagian kalian ini kenapa tidak mengajakku untuk makan siang bersama?" tanya Sakura kecewa.

"Biasanya kau 'kan makan dengan teman-teman lainnya," jawab Sasuke.

"Itu karena kau selalu menghilang saat makan siang. Untung saja kali ini aku bisa menemukanmu," balas Sakura. "Oh iya, bagaimana kalau besok kita makan siang bersama di sini?" tanya Sakura dengan penuh harap.

Sasuke menoleh, menatap Hinata. Pemuda itu seolah mencari jawaban atas pertanyaan Sakura dari kedua mata indah yang sekarang ditatapnya. Sedangkan Hinata, dia menjadi bingung sendiri.

Jujur, sebenarnya dia tidak ingin Sakura hadir dalam kebersamaannya bersama Sasuke. Tetapi melihat sepasang mata emerald yang memelas itu, Hinata jadi tidak tega untuk menolaknya. Lagipula kalau dia menolak permintaan Sakura, jangan-jangan persahabatan antara Sakura dan Sasuke bisa merenggang.

"Eee...boleh saja. Ya 'kan, Sasuke?" tanya Hinata dengan tersenyum pada Sasuke.

Sasuke masih menatap lekat pada gadis yang telah mendiami hatinya itu. "Hn," jawab Sasuke seraya memejamkan sepasang onyx-nya.

"Yeeey... Besok aku buatkan bekal ya, Sasuke-kun," ucap Sakura dengan senyuman bahagianya.

"Terserah."

Hinata dapat melihat semburat merah di wajah cantik Sakura. Dan tatapan penuh kebahagiaan gadis itu yang ditujukan pada satu-satunya pemuda yang ada di tempat tersebut. Muncul sebuah dugaan di pikiran Hinata.

.

.

.

.

.

.

.

Sepulang sekolah Hinata langsung menuju ke kedai ramen Hiashi. Namun kali ini dia tidak sendirian pergi ke kedai tersebut. Ada seseorang yang sejak tadi di sampingnya dan menguasai jari-jari tangan kanannya.

"Kenapa kamu juga ikut, Sasuke?" tanya Hinata bingung.

"Memangnya tidak boleh?" tanya balik Sasuke.

"Bukannya begitu. Aku hanya tidak menyangka kamu mau ke sini dan menolak ajakan Sakura-nee," jawab Hinata sambil sedikit menghela nafasnya.

Sasuke melirik gadis yang sekarang ada di sampingnya. Sebuah seringaian muncul di bibirnya. "Memangnya tidak apa-apa, kalau aku pergi berduaan saja dengan Sakura?" pancing Sasuke.

Sepasang lavender itu nampak sedikit membulat, mendengar pertanyaan Sasuke. Namun, hal itu hanya berlangsung sesaat. Karena Hinata mencoba menormalkan kembali ekspresi dalam wajahnya seperti semula. "Itu 'kan terserah kamu," jawab Hinata.

Sasuke menoleh dan mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata. "Kau cemburu?" bisik Sasuke.

Hinata spontan menjauhkan kepalanya dan menoleh ke arah Sasuke. "Aku tidak cemburu!" pekik Hinata dengan suara yang lumayan keras.

Hinata langsung membungkam mulutnya dan tertunduk malu. Karena orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, jadi menoleh ke arahnya. Saat tadi secara tidak sengaja dia sedikit berteriak.

Sedangkan Sasuke malah tersenyum melihat tingkah Hinata. Karena aksi jahilnya pada gadis itu, berhasil dengan baik. Seperti biasanya, senyuman singkat Sasuke itu membuat orang-orang terutama kaum perempuan yang melihat ke arah mereka berdua, merona merah. Mereka seakan bersyukur karena akibat sedikit teriakan dari Hinata, membuat mereka dapat melihat senyuman menawan dari seorang pemuda yang tampan.

"Lagian kenapa aku harus cemburu?" gumam Hinata. "Aku 'kan bukan pacarmu," lanjutnya. Tersirat nada kesedihan dalam gumaman gadis itu.

Sasuke sedikit tersentak mendengar perkataan Hinata. Namun ketika pemuda Uchiha itu akan mengeluarkan pendapatnya, Hinata sudah mendahuluinya lagi.

"Walaupun kita mempunyai perasaan yang sama. Namun, hubungan kita tetaplah saudara. Oleh karena itu, aku tidak berhak melarangmu untuk pergi dengan siapa pun juga," jelas Hinata.

Penjelasan Hinata tersebut membuat pegangan Sasuke pada tangan gadis itu mengerat. Hal itu membuat Hinata mengalihkan pandangannya pada pemuda yang ada di sampingnya ini. Raut kesal nampak di wajah stoic pemuda bermarga Uchiha itu.

"Tcik! Ka-..."

"Hinata-chaan..."

Perkataan Sasuke terpotong saat ada seseorang yang memanggil Hinata. Hal ini tentu saja membuat kekesalan Sasuke jadi bertambah. Sasuke dan Hinata menoleh ke arah sumber suara yang lantang itu.

Ctak!

Muncul deh tanda perempatan di dahi Sasuke, ketika melihat orang yang telah memanggil Hinata barusan. Orang itu adalah orang sama yang menjadi salah satu sumber kekesalannya saat di sekolah. Tepatnya saat orang itu dengan seenaknya membawa Hinata pergi dari jangkauannya.

"Na-namikaze-kun," ucap Hinata. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Hinata setelah pemuda itu berlari dan sampai di hadapannya.

"Tentu saja karena aku ingin makan ramen. Ini 'kan di depan kedai ramen," jawab Naruto seraya menunjuk papan nama yang dipajang di atas pintu sebuah kedai.

Ternyata Sasuke dan Hinata telah tiba di depan kedai ramen milik Hiashi. Hinata sungguh tidak menyadarinya, karena tadi dia terlalu fokus berbicara dengan Sasuke.

"Apa kabar, Uchiha-senpai? Lama tidak bertemu," sapa Naruto dengan menatap lurus pada sepasang onyx milik Sasuke.

"Hn," sahut Sasuke dengan tetap menatap tajam pemuda beriris blue sapphire tersebut.

Entah kenapa, Hinata merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah kedua pemuda tersebut. Aura-aura negatif sepertinya tengah mengelilingi mereka. Untuk mencegah sesuatu buruk yang mungkin akan terjadi, Hinata mencoba mencairkan suasana dingin yang tercipta di antara mereka.

"Mmm... Namikaze-kun, bagaimana kalau sekarang kita makan ramen bersama-sama?" tawar Hinata.

Naruto langsung menoleh ke Hinata saat mendengar itu. "Benarkah itu? Tentu saja aku mau. Ayo!" ajak Naruto.

Hinata tersenyum lega, melihat Naruto kembali ceria seperti semula. Walaupun dengan sedikit memaksa Sasuke, akhirnya mereka bertiga dapat masuk ke dalam kedai ramen.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka bertiga duduk di meja yang terletak di dekat tempat Hiashi menyiapkan menu masakannya. Tentu saja dengan Hinata yang duduk di tengah-tengah Sasuke dan Naruto. Setelah memesan, beberapa saat kemudian semangkuk ramen sudah tersaji di depan mereka masing-masing.

Hiashi nampak sibuk menghidangkan sekaligus mengantarkan ramen kepada para pengunjung, yang hari ini terhitung lumayan banyak dari biasanya. Hinata tidak melihat sosok pemuda yang menjadi pelayan di kedai ini. Mungkin karena itu, Hiashi jadi sibuk sendiri melayani para peminat ramen buatannya.

Setelah selesai menyantap ramennya, Hinata memberanikan diri untuk bertanya pada Hiashi. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya-nya.

Hiashi sedikit tersentak mendengar bahwa putri kandungnya, menawarkan diri untuk membantu pekerjaannya. Jujur, sekarang dia memang sangat membutuhkan bantuan. Tetapi masalahnya, yang sekarang berniat untuk membantunya adalah putri yang selama ini dia tinggalkan. Tentu saja hal itu membuat Hiashi enggan untuk menerima bantuan dari putri kandungnya tersebut.

"Tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri," jawab Hiashi.

Raut kecewa muncul di wajah Hinata, setelah mendengar jawaban dari Hiashi. Sasuke menyadari hal itu. Karena tidak ingin membuat gadis yang dicintainya menjadi sedih, akhirnya Sasuke angkat bicara.

"Tenang saja, Jii-san. Kami tulus untuk membantu pekerjaan di sini," jelas Sasuke. "Lagipula tidak baik membuat pelanggan menunggu lama," lanjutnya.

"Ta-..."

"Jii-san, mana pesanan kami? Kenapa belum diantar?" protes salah satu pengunjung.

Sepertinya Hiashi tidak bisa menyangkal, saat perkataan Sasuke terbukti benar. Tentu saja itu membuat Sasuke sedikit menarik salah satu ujung bibirnya. Hiashi terlihat menghela nafas. "Baiklah. Celemek dan nampan ada di sebelah sana," kata Hiashi seraya menunjuk meja yang ada di pojok.

Hinata tersenyum puas mendengarnya. Tentunya dia merasa senang, dengan begini akan dapat lebih mempererat hubungannya dengan ayah kandungnya tersebut.

"Tapi ingat. Jika kalian merasa lelah, segera-lah berhenti," ingat Hiashi.

"Hn, kami mengerti," ucap Sasuke.

"Kalau begitu, aku juga akan membantu, Hinata-chan," sahut Naruto.

"Tapi, Namikaze-kun. Ini akan merepotkanmu," jelas Hinata.

"Tentu saja tidak, Hinata-chan. Kalau ada kamu, semuanya terasa menyenangkan," jelas Naruto seraya menyunggingkan senyumannya.

Hinata hanya bisa tersenyum mendengar itu. Lain halnya dengan Sasuke. Dia malah menyeringai jijik mendengar kicauan pemuda Namikaze itu.

Alhasil, kesibukan Hiashi dapat atau lebih tepatnya sangat berkurang dengan adanya Hinata, Sasuke dan Naruto yang turut membantu. Selain itu, dia juga merasa sangat bahagia. Karena dengan ini, pria Hyuuga itu dapat melihat keberadaan Hinata lebih lama dari biasanya. Tak ayal hal itu membuat senyuman hadir di wajah datar Hiashi.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah tiba di kediaman Uchiha, Sasuke langsung berjalan tanpa menghiraukan Hinata yang sedikit berlari menyamai langkah lebar Sasuke. Ketika mereka sampai di beranda depan kediaman Uchiha, Hinata berhasil membuat pemuda Uchiha itu menghentikan langkahnya. Tentu saja dengan menarik lengan kiri Sasuke.

"Ada apa denganmu, Sasuke?" Hinata terlihat khawatir. "Kenapa kamu seperti ini semenjak meninggalkan kedai tadi?" tanya Hinata dengan menatap lurus ke sepasang onyx Sasuke.

"Menurutmu?" Sasuke menaikkan salah satu alisnya. "Bagaimana perasaanku saat melihatmu bersama pemuda Namikaze itu?"

Hinata terlihat sedikit tersentak. "Apa kamu marah?" tanya Hinata dengan menautkan kedua alisnya.

"Itu sudah tidak perlu ditanyakan lagi, Uchiha Hinata," jawab Sasuke.

"Gomen," ucap Hinata seraya sedikit menundukkan kepalanya.

"Bukan kata maafmu yang aku perlukan saat ini," sahut Sasuke.

Mendengar itu, Hinata menengadahkan kembali kepalanya. "Lalu apa?" tanya Hinata dengan polosnya.

Sasuke menatap lurus pada kedua mata Hinata. "Cium aku," ucapnya.

Kontan saja, sepasang lavender itu nampak membesar mendengarnya. Semburat merah dan jantung yang berdetak lebih kencang, tidak dapat dihindari oleh Hinata. "A-apa kamu bilang?"

Sasuke dan Hinata tidak menyadari bahwa percakapan mereka semenjak tadi, tanpa sengaja terdengar oleh seseorang yang sekarang tengah berdiri di depan pintu utama kediaman Uchiha. Mungkin karena merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang tersaji di depannya, akhirnya dia membuka suara. "Sasuke-kun," panggilnya.

Sasuke dan Hinata langsung menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara tersebut. Kedua mata Hinata langsung terbelalak kaget, melihat seseorang yang sekarang tengah menatap mereka berdua. "Sa-kura-nee," ucap Hinata dengan sedikit terbata. Hinata merasa cemas dan takut apabila Sakura mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Sasuke.

"Kenapa baru pulang sekarang? Kalian darimana saja?" tanya Sakura. Gadis itu bersikap seolah-olah tidak melihat dan mendengar pembicaraan yang terjadi antara Sasuke dan Hinata.

"Tidak kemana-mana," jawab Sasuke seraya melenggang pergi masuk ke dalam rumah.

"Uuh... Kau ini, selalu saja begitu, Sasuke-kun," gerutu Sakura seraya menoleh pada Sasuke.

Setelah sosok Sasuke menghilang, Sakura mengalihkan pandangannya pada Hinata yang tetap berdiri diam di depannya. Ekspresi gadis berambut pink itu berubah, tatapan tegasnya sekarang mengarah ke Hinata. "Hinata-chan, bisa kita bicara sebentar," ucapnya.

"Hm. Tentu saja, Sakura-nee," sahut Hinata seraya mengangguk.

Sekarang Hinata dan Sakura duduk di meja taman yang berada di samping kediaman Uchiha. Semilir angin malam menerpa wajah kedua gadis tersebut. Sejenak keheningan menyelimuti mereka berdua. Namun, salah satu dari mereka memecahkan keheningan tersebut.

"Sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa ada sesuatu lain yang ada di antara kalian berdua," jelas Sakura.

"Maksudmu apa, Sakura-nee?" tanya Hinata. Sebenarnya Hinata sudah tahu arah dari pembicaraan ini. tetapi dia mencoba menyangkalnya.

Sakura menoleh dan menatap Hinata. "Sasuke-kun." Sakura memberi sedikit jeda waktu. "Apa kau menyukainya?" tanya Sakura to the point.

Sepasang lavender itu nampak membesar. Beberapa detik kemudian, Hinata menghilangkan ekspresi terkejutnya, diganti dengan sebuah senyuman yang dipaksakan. "Tentu saja aku menyukainya. Dia 'kan kakakku," bohongnya.

"Jangan berbohong, Hinata-chan. Aku tahu kau bukan gadis yang suka berbohong." Sakura sedikit mengulas senyum. "Baiklah. Kalau kau tidak mau jujur denganku, itu tidak apa-apa. Tetapi melihat ekspresimu tadi, aku sudah mendapatkan jawabannya," lanjutnya.

Sakura mengalihkan pandangannya pada hamparan tanaman yang ada di hadapannya. "Aku juga mempunyai perasaan yang sama sepertimu. Perasaan ini tumbuh, jauh sebelum kau bertemu dengan Sasuke-kun", kata Sakura.

"Kenapa kamu bicara tentang ini padaku, Sakura-nee?" tanya Hinata.

"Kelihatannya tidak adil saja. Ketika aku sudah mengetahui rahasiamu, tetapi kamu tidak mengetahui rahasiaku. Makanya aku beritahukan ini kepadamu," jawab Sakura dengan tersenyum.

"Sakura-nee," ucap Hinata seraya menatap sayu ada gadis bermata emerald tersebut.

"Jangan menatapku seperti itu. Walaupun aku tahu perasaanku bertepuk sebelah tangan, aku tetap tidak menyerah," kata Sakura. "Sebelum Sasuke-kun menentukan siapa yang akan menjadi pendamping seumur hidupnya, aku tidak akan menyerah," lanjutnya.

Hinata kagum dengan kepercayaan diri Sakura. Dia menjadi rendah diri, kenapa dia tidak mempunyai kepercayaan diri sebesar itu? Maka dari itu, dia tidak dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai hubungannya dengan Sasuke.

"Lalu bagaimana denganmu, Hinata-chan?" Sakura telihat menghembuskan nafasnya. "Apa kau sudah memutuskan bagaimana hubungan kalian untuk ke depannya?" tanya Sakura seraya mengalihkan pandangannya pada Hinata.

Ya, pertanyaan itulah yang selalu terlintas di pikiran Hinata. Tapi sampai sekarang pun, gadis berambut indigo itu belum menemukan jawabannya. Dia belum dapat mengambil keputusan tepat yang tidak akan menyakiti perasaan siapapun.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Hinata menatap pantulan dirinya di cermin yang terdapat di dalam kamar mandi. Pertanyaan Sakura di taman tadi, selalu terbayang di pikirannya. Gadis itu mencoba mencari jawaban dengan menatap lurus pada sepasang lavender miliknya. Tapi nihil. Hinata tidak mendapatkan sebuah jawaban.

Dengan raut sedih yang nampak jelas di wajahnya, Hinata keluar dari kamar mandi. Dengan tidak memperhatikan apapun yang ada di sekitarnya, karena memang dia ingin langsung tidur malam ini. Nyatanya sekarang hanya lampu di samping ranjang Hinata yang bersinar temaram, yang dinyalakan gadis itu. Hinata langsung naik ke ranjangnya dan berbaring sambil menarik selimut tebalnya. Untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya.

Hinata menatap langit-langit kamarnya, sambil memikirkan pemecahan atas masalahnya. "Hufh, semua ini begitu rumit," gumamnya.

"Apanya yang rumit?" ucap seseorang yang ada samping Hinata seraya memeluk gadis tersebut.

"Kya!" pekik Hinata. "Kenapa kamu bisa ada di sini, Sasuke?" tanya Hinata seraya menoleh dan menatap dengan penuh keterkejutan pada pemuda Uchiha itu.

"Sejak tadi," jawab Sasuke singkat.

"Kenapa aku bisa tidak tahu?" tanya Hinata. Raut terkejut masih nampak di wajah manisnya.

"Mana aku tahu? Bukan salahku 'kan, kalau kau tidak menyadarinya," jawab Sasuke.

"Hizzz! Kamu ini se-..."

"Aku tidak mau berdebat denganmu," potong Sasuke. "Sekarang yang aku inginkan hanyalah ini," jelas Sasuke seraya mempererat pelukannya pada tubuh Hinata. Menghirup dalam-dalam aroma wangi yang tercium dari rambut Hinata.

Hinata hanya dapat menghela nafas dan pasrah dengan perlakuan Sasuke padanya. Karena di dalam hatinya, Hinata merasa senang dan nyaman berada dalam pelukan pemuda yang tengah mendiami hatinya ini.

Setiap Sasuke memeluknya seperti ini, entah kenapa beban masalah yang dialaminya menjadi sedikit berkurang. Walaupun kenyataannya, pemuda itulah yang menjadi sumber utama masalahnya.

"Seharian ini kau telah membuatku hatiku merasa tidak nyaman," bisik Sasuke.

"Gomen," ucap Hinata seraya membenamkan wajahnya pada dada bidang Sasuke.

"Hn."

Suara detak jantung Sasuke yang cukup keras, seakan menjadi nyanyian lagu pengantar tidur baginya. Sesaat kemudian, Hinata sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Dengkuran halus Hinata, membuat Sasuke tersenyum lega. Senyuman Sasuke semakin lebar, saat Hinata membalas pelukannya. Pemuda itu melihat wajah Hinata, dahi gadis itu nampak berkerut. Sepertinya, Hinata sedang mengalami mimpi buruk.

"Tenanglah, Hinata. Aku tidak akan meninggalkanmu," bisik Sasuke seraya mengelus-elus pipi Hinata dengan ibu jarinya.

Ajaibnya, dengan perlakuan Sasuke itu membuat wajah Hinata terlihat kembali tenang seperti semula. Dan dengkuran halus yang keluar lagi dari gadis itu. Mendengar itu, Sasuke dapat dengan tenang memejamkan kedua matanya. Tetapi sebelum itu, Sasuke menyempatkan untuk mencium kening gadis yang dicintainya.

"Oyasumi, Hinata."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

^TBC^

.

.

.

.

.

Thanks to read

.

.

.

.

Balasan review untuk chapter 7:

Cherry Kuchiki : Heheee... Uchiha bersaudara memang Meiru buat sedikit jahil. Soalnya Meiru suka ,

Suzu Aizawa : Hal itu masih teka-teki. Enaknya Hinata tinggal ma siapa ya? #plak

Lizy94 : Belum kok. Masih beberapa chapter lagi.

Haruno Aoi : Hina ga dibuang. Ayahnya Hina 'kan emang ga bersama dengan keluarga sejak Hina kecil (Baca lagi chap 4). Tinggal sendirian sepertinya. Ga akan ada ibu tiri soalnya fic ini fokus ma masalahnya SasuHina. Walaupun cuma mengobrol itu sudah sangat membantuku ,

Mamoka : Inginnya sich romance SasuHina semakin berkembang di setiap chapternya. Tapi ga tahu juga ya? #plak

Hyou Hyouichiffer : Kalau kamu terus ngikutin fic ini di setiap chapternya, kamu pasti tahu perasaan Ita ke Hina sebenarnya. Tetapi sepertinya Meiru sudah menyiratkan perasaan Ita yang sebenarnya pada chapter-chapter sebelumnya dech.

Ul-chan : Diusahain. Tetapi sepertinya ga mungkin romance-nya terlalu banyak, soalnya genre-nya 'kan ga cuma romance T,T

Sasuhina-caem : Gomen, ga pernah baca fic Sasunaru. Jadinya ga tahu.

IndigOnyx : Ga tahu, itu tergantung sama Hina (sebenarnya sih lebih condong ke Author,hehee). Aminnn

N : Syukur deh.. low adegan di bianglala ga terlalu berlebihan. Ga tahu juga, Hina bakal ikut siapa. Kita lihat aja nanti.

Shiera Lee : Ga pa2. Meiru dah seneng banget kamu mau mereview fic ini. Kamu seorang Author juga? Pen name-mu apa?

.

.

Aoiyuuko (chap 6) : Menurut Meiru 'pandangan yg tak terdefinisikan' itu, suatu pandangan chara dimana Author ingin menyembunyikan perasaan sebenarnya yang dialami oleh chara tersebut. Biar kesannya misterius gitu. Biasanya sih pada saat itu chara dilanda konflik batin yang sangat disembunyikan di dalam hatinya. Gomen, low penjelasannya belepotan.

Kalau menurut Meiru sih kata "Hn." kemudian diikuti oleh sebuah kalimat itu ga aneh. Karena Meiru biasanya juga seperti itu. Walaupun Meiru bukan tipe anak yang irit bicara seperti Sasu.

And thanks to review

.

.

.

Apakah di chapter ini, konfliknya terasa?

Dan maaf kalau chapter ini Itachi-nii tidak dimunculin T,T

Soalnya momennya masih belum tepat untuk munculin Itachi

.

.

Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan kalian semua

Meiru sudah berusaha sebaik mungkin membuat chapter ini

Tidak bosan-bosannya, Meiru meminta kritik dan saran kalian

Oleh karena itu

R

E

V

I

E

W

Arigatou