.
.
SASUHINA
.
.
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Between Us
.
.
.
.
Malam ini terasa begitu indah bagi Hinata. Sekarang bulan sabit tengah muncul, menghiasi langit yang nampak gelap gulita. Terlihat dua manusia yang berbeda gender sedang duduk santai di kursi taman kediaman Uchiha. Sembari menikmati minuman hangat yang ada di tangan mereka masing-masing.
"Itachi-nii, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," kata Hinata.
Itachi menoleh ke gadis yang sekarang sedang duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat menundukkan kepalanya. "Ada apa, Hinata-chan?" tanya Itachi.
Hinata menghembuskan nafasnya, mencoba merileks-kan wajahnya yang nampak kaku. "Ini tentang temanku," jawab Hinata seraya mengalihkan pandangannya pada sulung Uchiha itu.
"Ada apa dengan temanmu?" tanya Itachi.
"Dia sedang mengalami sebuah masalah. Dan dia tidak tahu bagaimana cara pemecahan masalahnya," kata Hinata.
"Hn. Lalu, masalahnya apa?"
"Masalahnya..." Hinata terlihat mengalihkan pandangannya ke taman. "...dia menyukai seseorang yang tidak seharusnya disukai," lanjut Hinata.
Itachi menautkan kedua alisnya, mengetahui perubahan mimik wajah Hinata. Kemudian muncul sebuah senyuman di wajah tampannya. Pemuda itu meletakkan mug yang sedari tadi ada di tangannya ke meja.
"Perasaan adalah suatu hal yang sangat sensitif. Temanmu itu harus benar-benar memikirkan keputusan yang tepat untuk diambil. Sedikit saja dia salah mengambil keputusan, hal itu akan berdampak besar pada perasaan orang yang dia sayangi dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya," jelas Itachi dengan memandang lurus ke depan.
"Jadi, apakah temanku itu harus melupakan perasaannya?" tanya Hinata. Gadis itu terlihat menundukkan kepalanya kembali.
Itachi menolehkan kepalanya ke samping. Pemuda itu menghela nafasnya, melihat keadaan Hinata yang tertunduk lesu. "Aku tidak mengatakan untuk melupakan perasaannya. Tetapi harus mengambil keputusan yang paling tepat untuk diambil," jawab Itachi.
Hinata mengangkat kepalanya, dan menoleh ke arah Itachi. Menatap lurus pada sepasang onyx yang sekarang ada di hadapannya. "Lalu, bagaimana cara mengambil keputusan yang paling tepat itu?" tanya Hinata dengan menautkan kedua alisnya. Raut kesedihan nampak di wajah cantiknya.
"Dengan memikirkan perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan tentu saja..." Itachi mengulurkan tangannya. "... dengan memikirkan perasaannya sendiri," lanjut Itachi seraya mengacak-acak rambut Hinata.
"Bila hanya memikirkan perasaannya sendiri, itu egois namanya. Tetapi kalau hanya memikirkan perasaan orang lain, itu sama saja dengan menyiksa dirinya sendiri," jelas Itachi. "Dia harus dapat mencari jalan tengah di antara dua pola pemikiran tersebut. Tentunya yang dapat mengambil keputusan hanya dia sendiri. Karena yang mengetahui tentang perasaan dan kondisi sebenarnya, hanyalah dirinya sendiri. Bukan orang lain," lanjutnya.
"Hufh... Kenapa sulit sekali mengambil keputusan, Itachi-nii?" tanya Hinata seraya menghela nafas dan menekuk wajahnya.
Itachi tersenyum melihat ekspresi Hinata. "Ini memang sulit. Tetapi ini akan membuatmu menjadi lebih dewasa," kata Itachi.
Untuk sesaat, Hinata diam saja mendengar perkataan Itachi. Namun beberapa detik kemudian, Hinata langsung mengangkat wajahnya. Sepasang lavender itu kini nampak membulat. "Itachi-nii! Ini bukan tentangku. Tapi tentang temanku. Te-man-ku," kata Hinata dengan menekankan kata terakhirnya.
"Hahahaaa... iya. Ini tentang temanmu," sahut Itachi seraya menepuk-nepuk kepala Hinata.
"Iiihh... Itachi-nii. Ini benar-benar tentang temanku," jelas Hinata meyakinkan.
"Iya iya. Aku mengerti," balas Itachi dengan tetap tersenyum geli pada Hinata.
Melihat Itachi yang tetap menertawakannya itu, membuat Hinata mengerucutkan bibirnya. Seraya mengalihkan pandangannya pada tanaman bunga yang tumbuh di taman kediaman Uchiha tersebut.
"Kau memang terlihat manis apabila sedang cemberut."
Sepasang lavender itu nampak membesar. Hinata terkejut mendengar suara seseorang yang ada di belakangnya. Apalagi sekarang orang itu dengan seenaknya memeluknya dari belakang.
"Sasuke," ucap Hinata seraya menoleh ke belakang.
Pemuda berambut raven itu malah menyunggingkan senyuman di bibirnya, melihat Hinata terkejut dengan perbuatannya. "Memang benar 'kan yang aku katakan," goda Sasuke.
Mendengar itu, Hinata semakin mengerucutkan bibirnya. "Itu sama sekali tidak benar!" Hinata membuang muka dari Sasuke. "Lagipula. Lepaskan tanganmu," perintah Hinata.
"Tidak mau. Coba saja kalau kau bisa," pancing Sasuke.
"Huh!" Hinata menoleh dan menatap tajam ke sepasang onyx milik Sasuke. Hal itu dibalas dengan seringaian oleh pemuda itu. "Jangan salahkan aku kalau begitu," geram Hinata. Gadis itu memandang lengan Sasuke yang ada di depannya, lalu menggigitnya.
"Aw!" pekik Sasuke yang serta merta melepaskan pelukannya pada Hinata.
Hinata memanfaatkan kesempatan itu untuk terlepas dari pelukan Sasuke. Dia langsung berdiri dan menatap Sasuke yang meringis kesakitan. "Rasakan itu. Weeekk…" ucap Hinata seraya menjulurkan lidahnya dan menarik salah satu kelopak bawah matanya. Setelah itu, Hinata melenggang pergi meninggalkan dua pemuda Uchiha yang ada di situ.
Sasuke dan Itachi sama-sama tersenyum melihat aksi childish Hinata. Sesaat kemudian, Itachi menghentikan senyumannya, dan mengalihkan pandangannya pada otouto-nya. "Sasuke, Hinata sangat bingung dengan perasaannya padamu," kata Itachi.
"Hn. Aku tahu," jawab Sasuke dengan tetap memandang lurus ke depan, tanpa membalas tatapan Itachi padanya.
"Apa kau sudah mengambil keputusan?" tanya Itachi khawatir.
"Sedang aku pikirkan," jawab Sasuke. Pemuda itu terlihat melangkahkan kedua kakinya, berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Jangan membuat Hinata bingung dan bersedih terlalu lama," larang Itachi.
Sasuke menghentikan langkahnya mendengar itu. Dia berhenti sejenak. "Aku tahu," sahut Sasuke. Sesaat kemudian, pemuda Uchiha itu melangkahkan kembali kedua kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Itachi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Melihat hubungan rumit yang terjalin antara kedua adik tersayangnya itu. Sebagai seorang kakak, dia berharap apapun yang terjadi nanti. Hal itu tidak akan membuat hati kedua adiknya, sekaligus orang-orang yang ada di sekitarnya terluka.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Hinata berangkat ke sekolah tetap bersama Sasuke dan Sakura seperti biasanya. Namun, gadis itu tidak mengetahui akan ada sesuatu yang terjadi. Ketika pemuda beriris blue sapphire menghampiri dirinya ketika akan masuk ke dalam gedung sekolah.
"Ohayou, Hinata-chan," sapa Naruto.
"Ohayou, Namikaze-kun," balas Hinata.
Naruto mengalihkan pandangannya pada dua orang yang ada di samping Hinata. "Ohayou, Uchiha-senpai dan..." Naruto menatap asing pada gadis beriris emerald yang ada di samping Sasuke.
"Sakura. Haruno Sakura," potong Sakura.
"Hm. Ohayou, Haruno-senpai," sapa Naruto kembali.
"Ohayou," balas Sakura sambil tersenyum. "Ayo, Sasuke-kun. Sepertinya kita harus pergi ke kelas duluan," ajak Sakura sambil menarik Sasuke menjauh dari Hinata dan Naruto. Tentunya Sakura merasa senang karena Hinata bias dekat dengan pemuda lain.
"Tunggu sebentar," cegah Sasuke. Pemuda itu menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangan Sakura padanya. Kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah Hinata.
Setelah sampai di hadapan Hinata, dia mengulurkan tangannya dan memegang dagu gadis itu. Menarik mendekat ke wajahnya.
Cup
"Aku pergi ke kelas dulu ya," bisik Sasuke setelah mencium pipi kanan Hinata. Tidak ketinggalan dengan seringai yang terpampang di wajah tampannya.
Kontan saja, hal itu membuat wajah Hinata merona. Bahkan juga membuat semburat merah muncul di wajah para siswi yang ada di sekitar mereka. Walaupun mereka tahu bahwa Sasuke dan Hinata itu kakak beradik. Tetapi tetap saja mereka terpesona melihat idolanya mencium seorang gadis di depan umum seperti ini. Tentunya, saat ini mereka merasa sedikit iri pada Hinata. Yang bisa menerima perlakuan lembut dari sang pemuda Uchiha itu sebagai seorang adik.
Sepasag blue sapphire itu juga nampak membesar. Tetapi sesaat kemudian, Naruto menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu. Dia tidak menyangka bahwa akan melihat pemandangan yang mampu menusuk hatinya ini, untuk kedua kalinya. Walaupun sebenarnya pemuda Namikaze itu tahu bahwa Sasuke adalah kakaknya Hinata. Namun entah mengapa, dia merasa ada yang aneh dengan hubungan yang terjalin antara Sasuke dan Hinata.
Cara mereka berpandangan, ekspresi merona Hinata saat berada di samping Sasuke, dan tingkah ketidak rela-an Sasuke saat Hinata bersamanya. Membuat Naruto mempunyai prasangka bahwa hubungan kedua remaja bermarga Uchiha itu lebih dari sekedar saudara. Walaupun demikian, Naruto tetap berusaha menyangkal prasangka tersebut.
Setelah puas melakukan perbuatan jahilnya, Sasuke berbalik dan hendak melanjutkan langkahnya menuju ke gedung sekolah. Namun sebelum itu, dia melirik ke arah Naruto dengan menyeringai. Kemudian Sasuke mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung.
"Ayo, Sakura," ajak Sasuke setelah melintas di depan gadis itu dan menepuk bahunya
Sakura tersadar dari rasa keterkejutannya melihat apa yang baru saja terjadi antara Sasuke dan Hinata, setelah pemuda Uchiha itu menepuk bahunya. "Tu-tunggu, Sasuke-kun," panggil Sakura seraya menyusul Sasuke.
Setelah Sakura dapat menyamakan langkahnya dengan Sasuke dan berada tepat di samping pemuda itu. Dia menoleh, Sakura sedikit tersentak ketika mendapati senyuman tipis tetap melekat di wajah tampan Sasuke. Untuk sesaat, Sakura merasa jaraknya dengan Sasuke menjadi lebih jauh.
Bukan Sakura namanya, kalau menyerah sampai di sini. Dia tetap akan berusaha membuat hati Sasuke lebih condong kepadanya. Gadis Haruno itu yakin, kalau dia berusaha dan tentunya tidak memaksakan perasaannya pada Sasuke. Dengan perlahan dia pasti akan mendapatkan hati Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
Ketika bel istirahat berbunyi, Hinata bergegas keluar dari kelasnya. Dia ingin menemui seseorang yang tadi telah membuatnya malu di depan umum. Hinata akan mencari penjelasan tentang apa yang dilakukan orang itu terhadapnya.
Hinata melangkahkan kakinya menuju ke ruang OSIS. Dia yakin sekarang pasti pemuda itu ada di situ. Setelah sampai di depan pintu ruang OSIS, gadis itu langsung membukanya, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Karena saat ini dia merasa kesal, makanya Hinata tidak ingin berlaku sopan pada pemuda itu.
Yang pertama tertangkap oleh sepasang lavender-nya adalah seorang pemuda yang tengah bergelut dengan beberapa dokumen di meja. "Sasuke!" seru Hinata sambil menatap tajam ke pemuda Uchiha tersebut. "Apa maksud tindakanmu pagi tadi, hah?" bentak Hinata.
Sasuke menutup dokumen yang di tangannya. Kemudian pemuda itu mengalihkan pandangannya pada Hinata. "Ada yang salah?" tanyanya datar.
"Kamu masih bertanya?" Hinata mati-matian menahan amarahnya. "Oh, Kami-sama. Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, Sasuke? Melakukan itu di depan umum," tanya Hinata kesal.
"Memangnya kenapa kalau di depan umum?" tanya balik Sasuke seraya berdiri dari kursi dan melangkah maju mendekati Hinata. "Atau jangan-jangan kau ingin melakukannya di tempat yang sepi," goda Sasuke. Pemuda itu melingkarkan lengan kirinya di pinggang Hinata. Menarik tubuh gadis itu mendekat padanya.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan," gertak Hinata seraya menahan dada Sasuke untuk tidak terlalu dekat dengannya. "Sekarang apa lagi yang akan kau lakukan, ha?" tantang Hinata.
"Melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan," kata Sasuke seraya mendekatkan wajahnya pada Hinata.
Semburat merah langsung merambat di wajah Hinata. Melihat Sasuke yang mencoba mendekat ke arahnya, membuat Hinata memundurkan wajahnya. "A-aku tidak menginginkan ini," sangkal Hinata.
Sebuah seringaian muncul di wajah tampan Sasuke. Pemuda itu menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk meraih dagu Hinata dan menarik mendekat ke wajahnya. "Namun, sepertinya wajahmu mengisyaratkan hal yang berbeda," goda Sasuke.
Sepasang lavender itu nampak membesar, mendengar godaan Sasuke itu. Kalau sudah berada dalam jeratan iblis Sasuke seperti sekarang ini, Hinata jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengikuti arus yang diciptakan oleh Sasuke.
Pemuda Uchiha itu terlihat memejamkan kedua matanya, ketika bibirnya akan sampai di tempat tujuannya. Terbawa oleh suasana dan perasaannya, Hinata jadi ikut-ikutan memejamkan matanya. Ketika jarak kedua bibir itu tinggal 1 cm.
Cklek!
.
.
.
.
.
.
.
.
^TBC^
.
.
.
.
.
Thanks to read
.
.
.
.
Balasan review untuk chapter 8:
IndigOnyx : Ya. Diusahain tetap update tepat waktu
Hyou Hyouichifer : Tidak koq, SasuSaku tidak bertunangan. Emang belum, mereka 'kan masih ngungkapin perasaan masing2. Ga tahu, ini masih rumit.
Mamoka : Soalnya hubungan Sasuhina 'kan masih saudara, jadi masih terlalu rumit untuk bisa resmi pacaran. Tapi yang penting mereka 'kan dah saling terbuka mengenai perasaan masing2. Low ucapan Saku tentu ja itu mempengaruhi Hina.
Suzu Aizawa : Tunggu ja kelanjutannya. Itu menjadi salah satu pertimbangan Hina dalam hubungannya dengan Sasu. Ga-lah, Saku 'kan ga jahat. Ga tw, masih bingung nich.
Sasuhina-caem : Ya, ni dah di update.
Haruno Aoi : Ya, SH belum jadian. Di bianglala itu 'kan Cuma mengutarakan perasaan masing2. Hubungan SH, Q buat sealami mungkin. Ga tw, bisa ada bisa juga tidak. ^_^
Lizy94 : Apanya yang kamu suka?
Tsubasa Li : Pastinya akan diceritakan donk
Mamizu Mei : Ini dah di-up date.
Kertas Biru : Hai juga. Ikutin ja, pasti mereka akan meresmikannya. Ini dah di-up date. Iya, silahkan fav o
And thanks to review
.
.
.
Sebelumnya Meiru minta maaf kalau chapter ini lebih pendek dari sebelumnya
Meiru ingin kembali seperti chapter2 awal BU
Dimana chapternya tidak terlalu panjang
Selain itu juga, karena kesibukan Meiru yang lain
Menuntut Meiru untuk tidak terlalu fokus pada fic BU...T,T
Tetapi walaupun chapter ini pendek, Meiru berusaha untuk membuatnya berkesan sebaik mungkin
.
.
Sepertinya chapter ini sudah menyiratkan lebih jelas
Bagaimana perasaan Itachi-nii kepada Hinata
Karena sudah banyak yang menanyakan perasaan sebenarnya Itachi-nii pada Hinata
Makanya pada chapter ini Meiru buat lebih jelas tentang itu
.
.
Selain itu, Meiru juga ingin bertanya
Menurut kalian, Between Us sebaiknya tamat di chapter berapa?
Meiru sangat berharap kalian mau menjawab pertanyaan ini
Arigatou...o
.
.
Apabila kalian benar-benar menghargai fic Meiru ini
Mohon me-review fic ini
Karena melalui review kalian, Meiru seperti mendapatkan semangat yang luar biasa
Untuk melanjutkan fic ini
R
E
V
I
E
W
Arigatou
