.
.
SASUHINA
.
.
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Between Us
.
.
.
.
.
Pemuda Uchiha itu terlihat memejamkan kedua matanya, ketika bibirnya akan sampai di tempat tujuannya. Terbawa oleh suasana dan perasaannya, Hinata jadi ikut-ikutan memejamkan matanya. Ketika jarak kedua bibir itu tinggal 1 cm.
Cklek!
"Sasuke-..."
Hinata langsung menjauhkan wajahnya dari Sasuke, ketika telinganya menangkap suara yang familiar itu. Dia menoleh, sepasang lavender tersebut nampak membulat. Melihat Sakura tengah menatap ke arahnya, gadis beriris emerald itu kelihatan sangat terkejut.
Gadis bersurai indigo tersebut lalu mengalihkan pandangannya pada pemuda yang ada di hadapannya. Menyadari bahwa sekarang posisi mereka begitu dekat, Hinata langsung melepaskan pelukan Sasuke padanya. Tentu saja Hinata sangat malu atas kejadian ini. Alhasil wajahnya kini terasa panas.
Beda dengan Sasuke. Pemuda Uchiha itu nampak kesal, karena 'ritual-nya' dengan Hinata gagal terjadi. Dengan malas, Sasuke mengalihkan pandangannya pada gadis yang telah menginterupsi kegiatannya tadi. "Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke.
"E-eh... Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Sakura sedikit terbata.
Hinata merasa kehadirannya akan mengganggu pembicaraan di antara kedua sahabat itu. "Sebaiknya aku keluar saja," kata Hinata. Dengan sedikit menundukkan kepalanya, Hinata bergegas keluar dari ruang OSIS. Saat ini, dia tidak dapat menatap mata Sasuke ataupun Sakura. Gadis itu telalu malu untuk melakukannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Sakura?" tanya Sasuke sambil menatap lurus ke arah Sakura.
"Sasuke-kun, apa kau serius melakukan ini?" tanya balik Sakura tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Sasuke.
Alis Sasuke terlihat bertautan, mendengar pertanyaan Sakura. "Apa maksudmu?" tanya Sasuke bingung.
"Perasaanmu pada Hinata. Apa kau serius?" tanya Sakura menuntut jawaban.
Pemuda Uchiha itu sedikit tersentak mendengar bahwa Sakura mempertanyakan hubungannya dengan Hinata. 'Apa dia sudah tahu?' batin Sasuke. Tetapi memang cepat atau lambat, semua orang akan mengetahui perasaannya pada Hinata yang sebenarnya.
"Hn," tegas Sasuke.
Sepasang emerald itu terlihat membulat mendengarnya. Walaupun hanya terdiri dari dua konsonan, tetapi itu mampu menjawab pertanyaannya. Tidak terlihat sedikit kebohongan pun dari sepasang onyx yang sekarang tengah menatap lurus ke arahnya.
Raut kekecewaan nampak jelas di wajah Sakura. "Sasuke-kun, tentunya kau sudah tahu konsekuensinya. Jika kau tetap melanjutkan hal ini," kata Sakura.
"Hn. Aku tahu," sahut Sasuke sambil mengalihkan pandangannya dari Sakura.
"Fugaku-jisan dan Mikoto-basan pasti akan sangat terkejut karena hal ini. Tentunya itu akan memunculkan permasalan dalam keluarga Uchiha," jelas Sakura.
"Itu semua adalah urusanku. Kalau kau ke sini hanya untuk membicarakan ini, lebih baik kau pergi saja dari sini. Masih banyak tugas yang harus aku kerjakan," kata Sasuke sambil berbalik hendak kembali ke mejanya.
"Aku mencintaimu, Sasuke-kun," ucap Sakura sambil menahan lengan Sasuke yang akan melangkah.
Tentu saja pernyataan cinta Sakura itu, membuat sepasang onyx milik Sasuke membesar. Pemuda itu pun menoleh ke belakang. Nampak olehnya, sepasang mata Sakura yang berkaca-kaca tengah menatap lurus ke arahnya. "Sakura."
"Aku mencintaimu, Sasuke-kun. Tidak bisakah kau berpaling padaku. Apa yang kurang dariku? Kenapa kau lebih menyukainya daripada aku?" tanya Sakura bertubi-tubi.
Sasuke menatap lembut sahabat kecilnya itu. Kemudian dia membalikkan badannya, dan menghadap Sakura. "Seharusnya kau sudah tahu. Aku bukanlah tipe orang yang menyukai seseorang dari penampilan luarnya saja," jelas Sasuke. "Kalau dipikir-pikir, aku juga tidak tahu. Kenapa aku bisa begitu mencintainya? Tanpa aku sadari, perlahan perasaan itu semakin tumbuh membesar dalam hatiku. Namun begitu aku sadar, sebagian besar ruang di hatiku terisi olehnya," lanjutnya.
Mungkin karena Sakura adalah sahabat kecilnya, Sasuke bisa mengatakan semua perasaannya pada Sakura. Kalau dengan Hinata, dia mungkin merasa gengsi untuk mengungkapkan semua itu.
Mendengar itu, pegangan Sakura pada lengan Sasuke perlahan merosot lepas. Raut kesedihan nampak jelas di wajah cantik gadis beriris emerald itu. Sekarang Sakura terlihat tertunduk lemas. "Kau jahat, Sasuke-kun. Kenapa kau mengatakan ini semua kepadaku? Tanpa memperdulikan perasaanku," gumam Sakura.
"Aku mengatakan semua ini, karena aku tidak ingin hatimu terluka lebih lama lagi," jelas Sasuke. "Kau adalah sahabatku, Sakura," lanjut Sasuke.
Sepasang emerald itu nampak membesar untuk sesaat. Digantikan dengan mengalirnya air mata yang sejak tadi dia tahan. Karena tidak dapat berbicara lagi, dengan berurai air mata, Sakura lantas pergi keluar dari ruang OSIS. Gadis itu berlari dengan menutup mulut dengan kedua tangannya erat-erat.
Sasuke hanya dapat menatap datar kepergian Sakura. Walaupun terkadang menyakitkan, namun kejujuran itu tetap lebih baik daripada suatu kebohongan.
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang jam dinding di kediaman Uchiha menunjukkan tepat pukul 8 malam. Di dalam kamarnya, Hinata sedang mempersiapkan buku-buku pelajaran untuk esok hari. Ketika akan memasukkan buku-buku tersebut ke dalam tasnya. Ada selembar kertas yang terjatuh dari mejanya.
Hinata memungutnya, dan membaca tulisan-tulisan yang terdapat dalam kertas tersebut. Ternyata kertas itu adalah surat pernyataan dari sekolah, mengenai pembangunan gedung baru di Uchikaze Gakuen. Surat tersebut harus mendapat tanda tangan dari orang tua / wali.
"Aduh! Aku lupa. Ini 'kan harus dikumpulkan besok," kata Hinata seraya menepuk kepalanya sendiri.
Setelah selesai memasukkan buku pelajarannya, Hinata bergegas keluar dari kamarnya untuk meminta tanda tangan dari Fugaku. Kalau jam segini, kepala keluarga Uchiha tersebut selalu ada di ruang kerjanya. Oleh karena itu, Hinata langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Fugaku.
Beberapa saat kemudian, gadis bersurai indigo itu sudah sampai di depan pintu ruang kerja Fugaku. Hinata mengulurkan tangannya, hendak mengetuk pintu. Namun, hal itu urung dia lakukan. Ketika mendengar pembicaraan di dalam ruang kerja Ayah angkatnya tersebut.
"Sasuke, pertimbangkan kembali keputusanmu itu." Suara Fugaku terdengar jelas di gendang telinga Hinata.
"Aku sudah berulang kali memikirkannya." Kali ini suara Sasuke yang terdengar dari dalam ruang kerja.
"Aku tidak mau, kau memutuskan ini karena..." Entah kenapa perkataan Fugaku itu membuat Hinata mendekatkan daun telinganya ke pintu. "... rasa bersalahmu pada Neji," lanjut Fugaku.
Hinata tersentak mendengarnya. Seketika itu juga tangannya yang hendak mengentuk pintu, merosot ke bawah. Walaupun yang dilakukannya sekarang ini bukanlah hal yang baik. Tetapi rasa ingin tahu-nya, membuatnya tetap bertahan di situ.
"Jangan salahkan dirimu lagi, Sasuke. Yang menimpa Neji itu adalah murni kecelakaan," jelas Fugaku.
"Tapi..." Kini suara Sasuke terdengar, setelah tadi untuk sesaat hanya suara Fugaku yang mendominasi pembicaraan tersebut. "... kalau aku tidak ceroboh mengambil bola di tengah jalan. Pasti Neji tidak akan mengalami hal ini," lanjut Sasuke yang terdengar bergetar.
Sepasang lavender itu kini tampak membulat sempurna. Perkataan Sasuke tadi seperti hantaman palu besar yang menerjang hati Hinata. Untuk sesaat, gadis itu tidak bisa bernafas.
"Seharusnya aku yang mengalami kecelakaan itu, bukannya Neji," kata Sasuke.
Perkataan Sasuke membuat Hinata semakin terpukul. Bahkan sekarang, sepasang matanya nampak berkaca-kaca.
"Sasuke, tenangkan dirimu," ingat Fugaku. Untuk sesaat, keheningan terjadi di dalam ruang kerja Fugaku.
"Karena alasan itulah. Aku menganggap perasaanmu pada Hinata, adalah rasa tanggung jawabmu pada Neji," kata Fugaku.
Mengalir sudah air mata di pipi Hinata. Gadis itu sampai membungkam mulutnya, untuk meredam isak tangisnya yang akan keluar. Karena sudah tidak ingin mendengar lagi sesuatu yang mungkin akan membuat hatinya semakin terpukul. Hinata bergegas lari dari tempat itu. Bahkan dia tidak menyadari surat pernyataan yang tadi ada di tangannya. Sekarang tengah terkulai tak berdaya di depan pintu.
"Tahun demi tahun, aku mencoba untuk menyangkal perasaan ini. Berulang kali aku berpikir, apakah perasaan ini timbul karena rasa bersalahku terhadap Neji?" Sasuke terlihat menghela nafas. "Namun, hasilnya selalu sama. Aku menyukainya sebagai seorang perempuan, bukan sebagai saudara," jelas Sasuke sambil menatap lurus pada Fugaku.
Fugaku juga menatap lurus pada putra bungsunya itu. Seolah-olah dia mencari kebenaran dari sepasang onyx yang sekarang ada di hadapannya. "Baiklah, kalau kau sudah bertekad bulat pada keputusanmu itu. Buktikan padaku, bahwa keputusanmu itu memang yang paling tepat," kata Fugaku.
"Hn. Arigatou, Tou-san," ucap Sasuke. "Kalau begitu, aku keluar dulu," pamit Sasuke.
Setelah itu, Sasuke beranjak pergi keluar dari ruang kerja Fugaku. Ketika keluar dari pintu, sepasang onyx-nya menatap sesuatu yang tergeletak di lantai. Karena penasaran dengan benda asing itu, Sasuke memungutnya. Ternyata itu adalah sebuah surat.
Sepasang onyx itu terlihat membesar ketika melihat nama Hyuuga Hinata tertera dalam surat tersebut. Berbagai macam spekulasi negatif langsung menyeruak dalam pikirannya. Dia langsung berlari ke arah kamar Hinata.
Sasuke mencari Hinata di dalam kamar gadis itu. Namun, hasilnya nihil. Di kamar itu hanya terdapat HP Hinata yang tergeletak di meja belajar gadis itu. Kemudian dia turun ke lantai dasar kediamannya tersebut. Ketika akan menuju ke ruang keluarga, Sasuke berpapasan dengan Itachi.
"Aniki, apa kau melihat Hinata?" tanya Sasuke dengan sedikit terengah-engah.
"Tidak. Bukannya dia ada di kamarnya?" tanya balik Itachi.
"Dia tidak ada di kamarnya. Rahasiakan ini dari Okaa-san dan Tou-san," pinta Sasuke.
"Memangnya ada apa dengan Hinata-chan, Sasuke?" tanya Itachi khawatir.
"Aku ceritakan nanti," jawab Sasuke seraya berlalu pergi meninggalkan Itachi.
Sasuke berkeliling mencari Hinata di pelososk kediaman Uchiha. Dia sengaja tidak bertanya dengan maid-maid yang ada di rumahnya. Karena apabila dia melakukannya, pasti hal ini akan tercium oleh Fugaku. Tentunya hal ini akan membuat kedua orang tuanya merasa khawatir.
Mengenai hilangnya Hinata ini, sebenarnya hanya dugaan Sasuke saja. Oleh karena itu, Sasuke ingin memastikannya sendiri. Sebelum memberitahukan kepada anggota keluarganya. Raut khawatir nampak jelas di wajah tampannya.
'Hinata, apa kau mendengar semuanya?' batin Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
Hinata berlari tanpa arah dengan berlinang air mata. Sekarang ini, perasaanya benar-benar kacau. Sedih, kecewa, marah, bercampur aduk menjadi satu. Lebih parahnya lagi, sekarang dia tidak harus melampiaskan semua perasaannya ini kepada siapa.
Apakah dia harus marah pada Sasuke? Karena pemuda itu telah membuat kakak kesayangannya terenggut darinya. Apakah dia harus merasa kecewa kepada anggota keluarga Uchiha? Karena telah menyembunyikan kenyataan perihal kecelakaan yang menimpa kakanya.
Apakah dia harus merasa sedih? Karena mungkin perasaan Sasuke padanya hanya-lah rasa bersalah dan tanggung jawab kepadanya. Semakin dia memikirkan itu semua, semakin membuar air matanya mengalir deras. Yang diinginkannya saat ini, hanyalah menjauh dari segala hal yang berkaitan dengan Uchiha.
Gadis itu bahkan sudah beberapa kali, menabrak bahu orang karena tidak memperhatikan jalan. Bahkan karena itu dia dipandang aneh oleh beberapa orang yang berlalu lalang di situ. Tetapi tentu saja hal itu tidak mampu menarik perhatian Hinata.
Hinata berhenti berlari, ketika tanpa sengaja dia menabrak tubuh seseorang yang lebih tinggi darinya. Orang itu menahan erat kedua bahunya. Hal itu, membuat Hinata mendongakkan kepalanya.
"Ada apa, Hina-..." Perkataan orang yang telah ditbrak Hinata itu terpotong, karena tiba-tiba gadis bersurai indigo tersebut menangis keras di depannya. Yang dapat dilakukannya sekarang, hanyalah membaga gadis itu ke dalam pelukannya. Mencoba memberi ketenangan dengan membelai lembut rambut gadis beriris lavender tersebut.
Walaupun Hinata tahu, sekarang dia tidak boleh menangis di depan orang itu. Tetapi sekarang dia sudah tidak kuat lagi menahan tangisan yang siap pecah dari tadi. Hinata berharap dengan memecahkan tangisannya ini, segala sakit hatinya bisa berkurang.
.
.
.
.
.
.
.
^TBC^
.
.
.
.
.
Thanks to read
.
.
.
.
Balasan review untuk chapter 9:
Hyou Hyouichiffer : Jujur Meiru emang down, tapi low ada ide masih tetap Meiru usahain untuk tetap up date. Yaa, gitu-lah. Yapz, betul itu Sakura. Ya, kita liat ja nanti. Saku jahat atau ga'.
Suzu Aizawa : Sakura 'kan. Hihiii... Meiru juga senyum2 sendiri, baca scene Sasu yang jahil.
Pooh : Hai juga. Diusahain tetap up date tepat pada waktunya. Iya ya, jadi ngegantung #plak
Rqm3490 : Masa' di BU ini konfliknya ribet. Meiru kira cuma biasa2 aja. Padahal Meiru ga bisa low buat konflik,hehee
Lonelyclover : Tempat mutus yang mana low? Meiru ga ngerti. Gomen ne.
Miss Ichi91 : Sankyu o. Itachi-nii suka sebagai saudara ke Hinata.
Miss Kurama-chan : Iya, ni udah dilanjutin.
Haruno Aoi : Mungkin bentar lagi Q juga sibuk. Mumpung sekarang terlalu sibuk n ada ide, jadi up date secepat mungkin,heheee... Makasih karena kamu masih tetap mau baca n review BU, arigatou o. Dikira yang di dalam 'kan Cuma Sasu ja, makanya Saku main nyelonong. Sepertinya Hina tadi waktu masuk juga main nyelonong ja,heheee. Saku 'kan dah tw hubungan SasuHina sebenarnya. Ga tw juga sih, Itachi-nii suka ma sapa. Ni dah dilanjutin.
Fishy : Sakura 'kan. Iya nulisnya jadi akin cepat, hohoo
Mamoka : Sakura. Ni dah di-update.
NildhaRakay : Sakura. Dah tahu 'kan alasannya.
Lizy94 : Hahaaa..gitu yaw. Meiru sendiri ja tidak menyadarinya. Kalau Meiru sih, ingin punya kakak kayak Itachi-nii. Orang itu tu siapa?
Sasuhina-caem : Hehee..tebakanmu salah. Yang datang itu Sakura. Yapz, betul tu. Inginnya sih ga bakal discontinue.
AL-afraa : Loh, kamu blom tahu perasaannya Itachi ke Hinata. Coba deh kamu baca kembali chapter 9. Heheee...kamu nge-fans banget sama Itachi-nii ya.
Pasta Gigi Gum Ga Login : Iya T,T
Ryu Matsuda : Salam kenal juga. Keren-nya bagaimana?
Kertas Biru : Iya, Sakura. Ni sudah update.
Haiiro-Sora : Karena disesuaikan dengan scene-nya. Ni sudah di-update.
And thanks to review
.
.
.
Meiru sangat2 berterima kasih karena kalian mau menjawab pertanyaan dari Meiru
Semua jawaban dari kalian akan menjadi pertimbangan bagi Meiru untuk menyelesaikan BU di chapter berapa
Hontou ni arigatou o
.
.
Selain itu, Meiru juga sangat senang karena chapter ini lebih banyak yang nge-review
Hontou ni arigatou :3
.
.
Oh iya Meiru ingin bertanya lagi
Menurut kalian, karakter SasuHina di Between Us apa hampir sama dengan karakter SasuHina di Moonlight In Onyx?
Meiru sangat berharap kalian mau menjawab pertanyaan ini
Arigatou...o
.
.
Meiru tetap berharap para reader me-review fic ini
Review kalian menjadi salah satu faktor utama dalam kelanjutan fic ini
Oleh karena itu...
R
E
V
I
E
W
Arigatou
