A/N: ha- hai._. Sebelumnya, izinkan Bea menyampaikan beribu maaf atas ketidakkonsistenan di chapter sebelumnya T_T. Gak maksud sumpah. Saya pribadi maunya ini Drarry #apa tapi setelah saya baca ulang dan ada yang bilang ini Harco, saya langsung ganti starter jadi Harco, tujuannya: supaya saya gak php sama penyuka Drarry ;w; sekali lagi, maaf. Makanya saya gak berani pasang ini D/H, atau H/D. Sekali lagi, maaf sudah mengecewakan ;_;
.
.
—A Debt of Honor—
©Beatrixmalf
{-2 of 2-}
Never take any profit and earn money from this fic. I just own the plot, J. K. Rowling own characters and HarPot World.
.
.
For FSF's Way of Love
.
.
Warning: Rush, Shounen-ai, Cinta bertepuk sebelah tangan(?), Minim Dialog, Slash ringan, Failed Angsty, AR, Lot of Descript, Canon, Set: After War.
Enjoy Reading!
.
Blaise Zabini tengah menyuap sup daging babinya dengan tenang ketika bunyi grasak-grusuk muncul di belakangnya, dan Draco Malfoy menjatuhkan dirinya dengan lesu ke bangku di seberang bangku Blaise.
Blaise mengerutkan kening—mengetahui ada yang salah. "Cacat dalam rencana?"
"Gagal total," timpal Draco muram, dan pemuda itu melampiaskan kekesalannya dengan membentak pelayan perempuan yang mengambil pesanannya agar bergegas.
"Sudah kubilang, Potter bukanlah orang yang gampang dikelabui," Blaise terkekeh, sementara Draco menggertakkan gigi frustasi.
"Pelankan suaramu, Zabini. Kau mau memberikan gosip hangat ke seluruh Pegawai Kementerian disini?"
"Ah—gosip, ya," alih-alih menyesal, Blaise malah merenung. "Ngomong-ngomong tentang gosip, aku memiliki gosip yang tidak dimuat Daily Prophet hari ini."
Draco tidak mengindahkannya malah sibuk memotong-motong daging dalam diam.
Jadi Blaise melanjutkan. "Sipir Azkaban merasa aneh. Dua hari yang lalu ia merasa ada seseorang—beberapa orang—yang menyelinap keluar dari Azkaban, tapi tak ada seorang tawanan pun yang mangkir dari selnya."
Draco mulai memperhatikan.
Blaise berkata lagi. "Selain itu, ada satu Keluarga Muggle yang terbunuh tengah malam kemarin. Di Cordially Winging."
Draco mengangkat alis. Kedengaran familier.
Blaise menatapnya. "Cordially Winging dekat Godric's Hollow."
Pemuda bersurai platinum itu tersedak. Blaise menghela napas, lalu menepuk-nepuk punggung Draco tak sabar. "Tak usah secemas itu pada belahan jiwamu. Harry Potter selamat, kok."
Draco melotot. Tapi ia berdesis, "Dan semua kejadian ini berhubungan?"
Blaise mengangkat bahu. "Mana kutahu? Sepertinya tidak, mengingat semua tawanan Azkaban sudah dicek di sel masing-masing dan semuanya terisi, dan tentang Keluarga Muggle itu, pembunuhnya sudah ditemukan."
"Siapa?"
"Seorang Penjambret yang mabuk," Blaise memutar-mutar piringnya dengan bosan. "Jangan terlalu paranoid, Draco. Hal itu bisa membunuhmu. Dan selesaikan makanmu."
.
.
Draco sedang menelepon Narcissa untuk memberitahukan ia akan pulang larut (Kau tahu alasannya) ketika Lortarius menerobos kantornya dengan terengah-engah.
Draco mengerutkan keningnya, lalu mengucapkan salam terburu-buru dan memandang wakilnya. "Ada apa, Lortarius?"
Lortarius terbatuk, lalu membungkuk. "Maaf, Mr. Malfoy, tapi bolehkah aku duduk?"
Draco yang dulu tidak akan mengizinkan. "Ah, silahkan."
Dengan lega Lortarius duduk, lalu pria beruban itu meremas tangannya gugup. "Kita mendapat tugas. Eh, bukan kita—tapi kau—Kepala Auror memerintahkan kita untuk pergi ke Azkaban, untuk memastikan hal-hal tertentu."
"Harry?" secara refleks, Draco menyebut namanya, lalu memaki dalam hati. "Err, maaf—kau tahu, ia dan aku cukup dekat," bodoh, bodoh. "Dan kenapa aku, Lortarius? Aku Kepala Direksi Penyelamatan Pertama, bukan Kepala Penyelidikan Terhadap Hal-Hal Yang Tidak Diinginkan."
Lortarius mengelap peluhnya. "Aku tak tahu. Mr. Potter bilang, eh—kau cukup berbakat dalam… Sihir Hitam dan penyelidikan dan sebagainya, dan ia berkata lebih baik kau ikut."
Satu emosi yang disadari Draco adalah tersanjung. "Siapa saja yang ikut? Kapan?"
"Mr. Ronald Weasley ikut," Lortarius berpikir. Bagus, si Musang merangkap wakilnya itu. "Beberapa mata-mata juga ikut, termasuk Kepala Penyelidikan. Mereka akan berangkat sepuluh menit lagi."
Draco berdeham. "Baiklah, aku akan bergegas."
Lortarius kelihatan agak terganggu sebelum ia melangkah keluar dari kantornya, dan pria itu berbalik dengan rasa bersalah. "Mr. Malfoy? Selain itu… Mr. Potter berkata, bahwa sebagian tawanan yang dicurigai adalah Pelahap Maut, dan eh—dia berpikir kau cukup mengenal mereka."
Draco tak berkata apa-apa. Lortarius cepat-cepat berkata. "Maaf jika aku lancang, tapi aku hanya ingin memberitahumu."
"Tak apa-apa. Terimakasih, Lortarius."
.
.
Draco sudah pernah ke Azkaban sebelumnya, ketika ia masih diadili Wizengamot untuk diputuskan bersalah atau tidak.
Dan meski lima tahun telah berlalu, Draco tetap tak bisa merasa tidak takut terhadap penjara ini. Keretakan dan suhu dingin yang disebabkan oleh Dementor-Dementor—aroma air asin dari samudera yang menggelegak di bawah sana, dan kegelapan yang tak berujung—
Oh, Demi Merlin. Lebih baik ia mati.
"Ah, selamat datang, Mr. Potter—dan yang lainnya," Sipir yang menjaga Azkaban itu menyeringai, pandangan matanya beralih ke manik Draco dan seketika ia menegang.
"Ya, Angus. Kukira Menteri Sihir sudah mengkonfirmasi kedatanganku kesini?" Harry mencoba tersenyum, tapi Draco tahu bahwa pemuda itu enggan berbasa-basi dan memang—waktu mereka sedikit, dan Azakaban lima kali lipat lebih menyeramkan pada malam hari—setengah jam lagi.
Angus Stanford mengangguk, lalu dengan sihir, ia membuka brankas dengan perlindungan yang sangat rumit dan mengeluarkan serenceng obeng perunggu bervariasi. "Mr. Shacklebolt bilang bahwa kalian tidak memiliki waktu banyak."
"Memang," Harry menyetujui.
"Baiklah, ikuti aku, jika kalian tidak keberatan."
Draco dapat mendengar Ron Weasley bergumam sambil berkelakar, dan Harry tertawa—entah mengapa hal itu membuatnya sebal.
Mereka dibawa ke lantai tertinggi—Dan Draco mengetahui bahwa sel di lantai ini terisolasi—yang artinya, tawanan-tawanan disini adalah tawanan yang sangat berbahaya. Draco bergidik.
Satu lagi alasan ia sangat membenci Azkaban adalah banyaknya teman Pelahap Mautnya disana. Draco sudah menyeberang pihak—dan ia tak ingin diingatkan oleh masa lalunya yang kelam. Selain itu bibinya—Bellatrix Black ada disini. Dan ia memiliki firasat buruk yang berkaitan dengan bibinya.
"Kita… ke sel Bellatrix terlebih dahulu," setelah Harry berkata begitu, seluruh pasang mata langsung menatap Draco, tapi dirinya sendiri memutuskan untuk mengacuhkan itu.
Angus mengangguk, dan mereka berjalan ke sel nomor dua. Pria itu berdeham gugup, melempar kunci itu ke tengah pintu (Draco tak tahu bagaimana caranya) dan serangkaian alat mulai muncul, saling berfragmentasi, melengkapi, dan klik.
Pintu itu terbuka.
Draco menegang, bahkan ia tak menyadari manik emerald Harry tertuju padanya.
"Ehm, Malfoy? Apa kau tak keberatan jika—" Harry membuka mulutnya.
Draco memejamkan matanya sejenak. "Tak apa," lalu ia melangkah memasuki sel itu.
Efeknya langsung terasa. Sel itu dingin—masih tersisa aura gelap Dementor walaupun makhluk itu telah diusir Angus. Sel itu juga kotor, dengan bekas-bekas makanan di sudut-sudut sel, sebuah ranjang keras yang menempel pada dinding—
Dan bibinya yang meringkuk di atas ranjang.
Bellatrix menengadahkan kepalanya dari rambut bergelombang acak-acakannya—dan bibir itu tampak bergetar, lalu Bellatrix mulai tertawa riang.
"Keponakanku! Keponakanku!" suara Bellatrix menggema. "Keponakanku yang rapuh dan angkuh—akhirnya mengunjungiku! Bagaimana kabar kalian, keluarga yang menyedihkan? Darahmu masih tetap murni? Kekayaanmu masih tak terkontaminasi?"
Draco merapatkan bibirnya ketika Bellatrix mulai berjalan ke arahnya, tapi kakinya terantai sehingga wanita itu jatuh, bersujud, dan memegang kaki Draco dengan kuku panjangnya.
"Atau sudah? Kulihat Harry Potter dan Si Darah Pengkhianat itu datang denganmu—apa kau membawakannya khusus untukku?" Bellatrix menengadahkan wajahnya yang kotor, dan menyeringai. "Manis sekali…"
"Lepaskan tangan kotormu, Bibi," Draco berkata tenang, lalu mengibaskan kakinya. Bellatrix terjungkal, lalu mulai terisak-isak.
"Draco-ku…. Draco keponakanku…"
"Ia masih ada di selnya," lapor Draco dengan nada datar—tetapi ia berharap sepenuh hati agar debaran jantungnya tidak terdengar oleh para rekannya, dan yang terburuk—Harry.
Draco bisa merasakan seluruh pasang mata menatapnya—ia membuang muka, lalu bergumam Muffliato pelan, agar gaung kemarahan Bellatrix teredam.
Perlahan-lahan, seluruh rekan mereka berlalu ke sel selanjutnya—tetapi Harry masih memancangkan manik emeraldnya. "Kau oke?"
Draco berdeham untuk menghilangkan kegugupan dan ketakutannya. "Oke."
"Baiklah. Kita ke sel selanjutnya."
Kemudian mereka berjalan beriringan—meninggalkan sosok Bellatrix yang meronta-ronta dalam rantai yang mengikatnya.
.
.
Sisa waktu di hari itu berjalan cukup lancar. Penyelidikan mereka tidak membawa hasil yang buruk; semua tahanan masih berada dalam selnya, tetapi firasat buruk Draco tak kunjung mereda.
Baik bagaimana pun, Draco akan tetap mengawasi Rumah Harry—ditambah lagi pemuda itu memiliki kerja lembur di Kementerian, sehingga kemungkinan Draco tertangkap seperti kemarin lebih kecil.
Dan akhirnya, ia kembali ke Godric's Hollow, yang kelihatan lebih asing dengan keabsenan Harry Potter di jalan-jalan berbatunya.
"Nah," gumam Draco kepada dirinya sendiri—saat melihat rumah kecil yang bermandikan cahaya lampu—Rumah Harry. Ia sudah sampai.
Tidak ada aktivitas dalam rumah itu, jadi Draco berpendapat bahwa istri Harry dan anaknya (walaupun Draco tidak begitu peduli) sudah terlelap.
Draco mengedarkan pandangnya, dan tatapannya jatuh pada Pohon Willow yang berukuran cukup besar—dengan dahan yang cukup menampung satu orang yang berbaring, dan jarak yang terletak lumayan jauh dari Rumah Harry, tapi tetap strategis untuk mengawasi.
"Accio kain wol," Draco bergumam, dan sehelai kain (ia tak tahu berasal dari mana kain itu) melayang menuju dirinya. "Aheato Revelium*, Protego Totallum, Salvio Hexia, Muffliato Maxima, Repello Muggletum."
Lalu Draco mulai memanjat, dan setelah tiba di dahan yang berjarak 6 meter dari tanah, ia berbaring lalu mulai menyesuaikan posisi.
Dan dimulailah penyelidikan malam pertama.
.
.
Ia nyaris tertidur jika saja sebuah kilatan cahaya tak menyerempet pohonnya.
Draco terkesiap, lalu menegakkan tubuhnya dengan linglung. Ia segera mengerling ke arlojinya dan melihat ke bawah. Pukul 01.23 dini hari. Sudah tiga jam ia menunggu.
Seharusnya Harry sudah pulang.
Zrttttt!
Suara itu lagi, dan Draco dengan ngeri menyadari cahaya itu terbentuk dari tengah-tengah jalan, dan tidak apapun disana. Ia mengerjapkan mata.
"…berhasilkah?" ada suara berbisik, dan lekas-lekas Draco mengeluarkan Telinga-Terjulurnya. "Apa terpasang?"
"Pelankan suaramu," bentak suara satunya, kali ini perempuan. Ada gerakan nyaris tak terlihat—seperti fatamorgana, tapi Draco bisa melihat siapapun yang menciptakan cahaya-cahaya itu, kini tengah bersembunyi di balik jubah sihir.
"Kau tidak usah cemas, B—hmph—!"
"Tolol, kau, Siput!" desis sang suara perempuan. "Sudah kubilang, panggil aku—atau siapapun yang sedang dalam misi ini dengan nama samaran! Kita tak bisa mengambil resiko!"
Draco menyipitkan matanya. Orang-orang ini tidak bodoh. Mereka menggunakan nama samaran—dan biasanya nama samaran didasarkan oleh ciri-ciri. Siput, mungkin saja orang dengan nama itu lemot ataupun wajahnya seperti siput.
"Tenang, Tikus, Siput," gerutu suara baru. "Lebih baik kalian berkonsentrasi untuk membuat sihir ini. Agak rumit, sebenarnya."
Suara-suara itu bungkam. Ada kilatan cahaya lagi, dari dua arah sekarang—dan bergabung dengan tiga cahaya yang sudah berkumpul di depan pagar rumah.
Draco memahami dengan ngeri. Ini Sihir Jaring—sihir illegal yang diperuntukkan untuk mewujudkan sihir dari mantra yang telah dibuat diri sendiri!
"Sofailum Conmissi," dengan panik Draco berbisik, mengarahkan tongkatnya ke cahaya dari tongkat si suara baru—dan cahaya itu mengabur. Mantra ini dipergunakan untuk membuat kegagalan/kecacatan pada mantra lain.
"Apa itu?" Draco membeku. Suara Tikus berdesis. "Landak, kau salah menempatkan sihir—jangan ceroboh, dasar tak becus."
"Aku—" suara Landak terdengar sama tercengangnya. "Aku mengucap mantra dengan benar, kok!"
Tikus mendengus menghina. "Jangan-jangan si Potter itu memasang proteksi sihir tak terdeteksi. Lain kali kau harus melindunginya dengan benar."
Terdengar suara berdecak, lalu cahaya kedua muncul dari tengah jubah. Cahaya itu ikut melingkupi rumah, dan kini jaring-jaring sihir itu sudah hampir menutup seluruh rumah.
Draco menggumamkan mantra kecacatan, tapi tak ada apapun yang terjadi.
"Shit," rutuknya—dengan panik Draco mengetahui entah bagaimana caranya, sihir jaring itu telah diperkuat tiga kali lipat sehingga tidak dapat dirusak oleh mantra apapun. "Apa—yang harus kulakukan sekarang?"
Draco mendesis frustasi, mencoba berpikir cepat—dan saat itulah sebuah benda berpijar dalam tas kerjanya.
Draco terperangah.
Keping Kementerian**… mengapa ia tak sempat memikirkannya?
Lekas-lekas Draco mengeluarkan keping tersebut, membisikkan kata kunci—dan lantas bergumam. "Butuh bantuan. Serangan Sihir Jaring dari tiga penyihir tak beridentitas. Godric's Hollow, Rumah Harry Potter. Segera!"
.
.
"Apa yang—" suara Tikus bergema dalam kegelapan. "Landak, Siput, cepat! Ada orang kementerian Ber-Apparate di dekat sini!"
Draco menghembuskan napas lega tanpa suara, sementara penyihir-penyihir di balik jubah gempar.
"Kita harus Ber-Apparate di perimeter terluar, B—Tikus!" desis Sang Siput. "Dan mantranya belum selesai!"
Tikus balas membentak. "Tak ada waktu, dasar kau bego. Serahkan semua padaku, dan kita—"
Ada suara letusan dan dua sosok muncul dari udara kosong. Orang Kementerian!
"Stupefy!" teriak salah satu penyihir dalam jubah, dan tanpa perlawanan, pegawai tersebut terjatuh. "Impedimenta!"
Dua orang gugur, tetapi sosok-sosok lain mulai bermunculan.
"Tak ada waktu lagi!" pekik Landak, panik. "Lari dan langsung Apparate, sekarang!"
Draco ingin mencegahnya, tapi terlambat. Fatamorgana itu menghilang menjadi tak kasatmata, dan Draco tak tahu ada di mana mereka sekarang.
Terjadi kekacauan. Orang-orang Kementerian yang baru saja datang berteriak-teriak, menyuruh yang lain bergerak meminta bantuan, dan Draco memaki dengan pahit.
Sedikit saja ia bisa mengantisipasi—
"Ada apa ini?" suara tersebut membelah kegemparan di jalan berbatu luas itu. Harry Potter berdiri di belakang pagar rumahnya—dengan pakaian dan penampilan acak-acakan, dan menatap curiga. "Mengapa kalian berkerumun di depan rumahku?"
Sejenak hening, tak ada yang bersuara.
Lalu seorang pemuda yang familier maju, dan membungkuk dalam-dalam.
"Aku mewakili Draco Lucius Malfoy dari Kepala Penyelamatan Pertama, Sir," jelasnya tenang, dan tanpa sadar Draco menahan napas. "Kami baru saja mendapat—ah, melihat serangan—dan ada Pegawai Kementerian yang melaporkan keadaan darurat dari Keping Kementerian. Ia bilang ada penyihir tak beridentitas yang menyerang rumah Anda."
.
.
PENYERANGAN RUMAH HARRY POTTER—KEJAHATAN BANGKIT LAGI?
Draco melihat berita utama yang terpajang di depan Daily Prophet dengan rasa yang tak menentu. Dalam badmoodnya, berita utama itu terlihat mengerikan.
Tok, tok.
Draco memijat pelipisnya. "Masuk."
Hentakan langkah-langkah tegap yang sudah dikenal Draco membuat pemuda itu mendongak, dan terperangah ketika melihat Blaise Zabini duduk di depan kursinya.
"Blaise?"
"Hai, Draco," balas Blaise tenang. Ia melayangkan mantra peredam suara di kantor itu, kemudian menatap Draco dengan serius. "Ada yang harus kita bicarakan."
"Ya, ya," jawab Draco lelah. "Misiku gagal—aku tidak berhasil—tindak gegabah—"
"Drake, ini jauh lebih serius," potong Blaise tak sabar.
Untuk pertama kalinya, Draco memandang Blaise dengan kening berkerut. "Apa?"
Blaise mendesah. "Draco, Mata-Mata Kementerian mencurigai keluargamu."
Draco melebarkan maniknya.
"Mereka berpendapat dengan kehadiran seluruh tawanan dalam Azkaban—satu-satunya penyihir yang patut dicurigai adalah keluargamu. Kau tahu sendiri mengapa."
Draco tak mampu berkata apa-apa selama beberapa saat. "Lalu?"
"Aku hanya mengingatkanmu—mereka sudah memulai penyelidikan dari sekarang. Lebih baik kau berhati-hati dengan misimu," pesan Blaise. "Dan tetap tenang."
Draco menggelengkan kepalanya. "Ya… ya… itu gampang dilakukan! Ada masalah yang lebih besar daripada itu, Blaise, Demi Merlin."
"Apa? Kau merencanakan apa?"
"Aku berniat mengambil cuti selama seminggu," gumam Draco. "Dan kuduga, mereka akan lebih curiga…"
Blaise melotot, dan sesaat kehilangan kata-kata. "Kau gila, mate! Batalkan niatmu itu!"
Draco menangkupkan kepalanya frustasi. "Aku juga sedang berpikir! Jika aku tidak mengambil cuti, rencanaku untuk menangkap penjahat-entah-siapa yang menyerang Rumah Ha—Potter akan berantakan!"
Hening.
Lalu, keheningan dipecahkan oleh kepala Draco yang tiba-tiba menengadah, dan senyuman terbit di bibirnya.
"Apa?" Blaise membelalak seakan Draco sudah gila. "Mengapa kau tersenyum?"
Draco menyeringai sekarang. "Blaise—coba pikir. Jika mereka mencurigaiku dan memfokuskan penyelidikan padaku—aku akan lebih leluasa mengintai Rumah Harry, dengan resiko mata-mata yang ditempatkan disana lebih sedikit. Lalu, aku bisa menjerat penyihir-entah-siapa itu."
"Kau gila ya?" sembur Blaise. "Bahkan tanpa bantuan Auror dan Mata-Mata, kau bisa mati, Drake."
"Lalu?" Draco tersenyum santai. "Yang penting aku bisa menyelesaikan misi ini sendirian. Dan Harry Potter tidak akan memandangku sama lagi. Kau tak perlu mencemaskanku. Menjadi Pelahap Maut Termuda membuatku mempelajari banyak hal."
Blaise terperangah, lalu menggelengkan kepalanya. "Draco, kau gila. Kau benar-benar dibutakan oleh cinta."
Draco membantah keras. "Cinta—gah, ini bukan tentang cinta, Blaise. Ini tentang kehormatan!"
"Terserah kau, lah," Blaise mendengus menyerah. "Yang penting, siapkan dirimu untuk interogasi, dan jangan sampai cintamu untuk Potter itu ketahuan dan masuk berita utama Daily Prophet saja."
.
.
Draco melangkah ke luar rumahnya dengan lesu. Tidak seperti hari-hari sebelumnya—ia merasa lebih gelisah saat menjalankan misinya hari ini.
Kemarin ia sudah diinterogasi, dan hasilnya lumayan baik. Ada bukti-bukti kuat bahwa Narcissa dan Lucius Malfoy tidak bersalah—tapi masih ada sedikit kecurigaan kepada Draco Malfoy.
Tapi tidak sia-sia Draco masuk Slytherin. Ia adalah seorang Occlumence yang hebat. Pikirannya bisa dimodifikasi dan ditutup sedemikian rupa—sehingga tidak sembarang orang mengetahui privasinya.
Dan hari ini ia kembali lagi ke sini, ke Godric's Hollow—setelah absen di hari sebelumnya. Kemarin Draco memang tak sempat untuk mengintai Rumah Harry Potter.
Untuk berjaga-jaga, Draco telah menaburkan Serbuk Tak-Kasatmata, dan benar saja—
Tiga Auror ditugaskan untuk menjaga Rumah Harry Potter, terlihat mondar-mandir, dan entah mengapa hal ini membuat Draco mendengus menghina. Mereka kelihatan amatir.
Maka Draco kembali memanjat, dan menunggu. Ia sama sekali tak menyadari ada bahaya lain yang jauh lebih besar—menunggunya di tengah malam.
.
.
Draco menyingkap manik kelabunya waspada.
Ada suara semak belukar yang tersingkap, dan Draco yakin itu bukanlah musang atau hal-hal sejenis itu.
Sialan, ia tertidur! Dan waktu tidurnya tidak lama—kini sudah hampir tengah malam.
Pemuda itu membetulkan posisinya di atas pohon, merogoh Serbuk Tak Kasatmata, Menebarkan Mantra-Mantra Proteksi, dan sederetan peralatan lain untuk melindunginya dari penyusup.
Draco berbalik tengkurap, memasang Teleskop Sihir untuk melihat penyusup di pekarangan rumah Harry.
"Diamlah, Yaxley. Kau akan membuat rencana kita gagal!"
Draco membeku. Suara itu—kedengaran familier—
"Jangan berlebihan. Kau tahu Runcorn telah membuat kita tak kasatmata, yang melihat pun hanya orang yang memiliki Tanda Kegelapan…"
"Sssssh!" suara perempuan itu berdesis marah, dan suaraYaxley menghilang. "Walaupun aku telah menciptakan sihir-sihir illegal dan Runcorn telah membuat guna-guna dengan baik, tidak berarti kita bisa berbuat gegabah! Sekarang, kau bantu aku—lingkupi rumah ini dengan sihir agar orang Kementrian tidak bisa menyusup."
Kedua orang itu melangkah dari bayang-bayang, dan serta-merta Draco mencengkram jantungnya dan menahan tubuhnya agar tidak terjungkal.
Bibinya—Bellatrix Lestrange berdiri dengan perkasa di depan pagar, manik kelamnya menyiratkan balas dendam besar.
.
.
Ini salah.
Ini sungguh salah.
Baru tiga hari yang lalu Draco melihat bibinya membusuk di Azkaban—dan tidak ada laporan bahwa ada napi yang melarikan diri—
Tapi—
Sosok-sosok lain mulai bermunculan, dan Draco merasa asam lambungnya naik ke tenggorokan. Mereka semua Pelahap Maut yang tidak mati dan tawanan Azkaban!
Seluruhnya berjumlah lima, dan dengan lemas Draco menyadari bahwa ia tak mungkin mengalahkan mereka semua sendirian.
"Keping… keping…" bisik Draco tegang.
Tapi Keping Kementerian hanya bisa digunakan sekali, dan ia sudah menggunakannya.
Draco gemetaran, sisi pengecutnya yang sempat tenggelam kembali muncul ke permukaan. Apa—yang harus—
"Drake, itu tujuanmu kan? Melindungi Harry Potter?"
Suara berat Blaise mendera masuk ke dalam ketakutannya, membuat gigilan Draco berkurang, dan berhenti.
"Apapun tujuanmu, Draco—aku percaya kepadamu. Kau kuat, kau memiliki visi yang suci, pertahankan tujuanmu, dan dengan itu, kau bisa mencapainya."
Suara lain—suara Narcissa yang lembut, menenangkan. Suara yang membuat Draco mencengkram tongkat sihirnya erat.
Lalu suara lain—suara Harry Potter, menembus relung-relung hatinya yang terdalam, dan apa yang selama ini ia tutup rapat-rapat tumpah keluar. Cintanya kepada Anak Lelaki Yang Bertahan Hidup.
Maka itu cukup. Cukup membuat Draco merayap dari tempat amannya, dan fakta bahwa ia bisa menembus proteksi sihir bibinya—tak urung membuat dirinya terkejut.
"Berhenti, Bibi Bella," suara pelannya memecah kesunyian malam, membuat ketiga orang penyihir yang sedang bekerja itu membeku.
Lalu perlahan-lahan, bibinya berbalik dan menyeringai menatap Draco.
"Ah, akhirnya kau bergabung juga, Draco," Bellatrix menelengkan kepala perlahan—dan fakta bahwa mereka sedang berempat memudar, menjadi fakta bahwa mereka hanya berdua. "Kau sudah besar."
Draco mungkin gila, tapi ia tertawa. "Dan Bibi bertambah… tua."
Senyum menghilang dari wajah Bellatrix. "Kami tidak punya waktu banyak, anak bebal—dan jika kau membantu kami—"
"Oh, sayangnya—aku sudah menyeberang pihak, Bibi," balas Draco tenang, cukup tenang apabila dibandingkan dengan jantungnya yang berdentam.
"Apa?" Yaxley menguak. "Dimana kesetiaanmu terhadap—"
"Pangeran Kegelapan?" Draco menyipitkan matanya. "Pangeran Kegelapan telah mati, membusuk di kuburnya—untuk apa kita setia? Untuk apa kita mengerahkan kesetiaan bagi seorang yang tamak dan pembohong seperti dia? Yang bahkan berkoar tentang mengelabui kematian."
"Berani-beraninya kau?" sembur Bellatrix, matanya berkilat gusar. "Dasar kau anak bego, apa kau telah dilemahkan oleh kebaikan Potter dan kroninya? Ah—atau bukan, jangan-jangan kau juga telah jatuh cinta padanya, Draco?"
"Itu sama sekali bukan urusanmu," balas Draco dingin. Tanpa peringatan—cahaya kuning Cruciatus menyerempet wajahnya, tapi Draco telah siap. Ia berguling-guling, dan mantra itu mengenai salah satu tanaman.
"TETAP BEKERJA!" raung Bellatrix pada Yaxley dan Runcorn. "Biar aku urus keponakan pengkhianatku ini! AVADA—"
"Impedimenta!" potong Draco, tapi bibinya menghindar. "Satu pertanyaan lagi, Bella—siapa yang ada di selmu, hm? Apakah akhirnya kau bisa membuat Mantra Replika?"
Bellatrix tertawa kesetanan, dan wanita itu menari-nari. "Ah, untuk kali ini kau tidak bebal—Ya, aku berhasil menggunakannya pada diriku, Yaxley, dan Runcorn," Bellatrix berhenti, lalu tersenyum. "Dan akan ada lagi orang-orang yang akan membantu kami menuntaskan tugas agung Pangeran."
Letusan lain muncul. Draco dengan panik berguling, dan lengan atasnya luka terkena mantra tusukan. Bellatrix tertawa. "Stupe—"
"Duro!" raung Bellatrix, dan rumput di bawah kaki Draco rubuh. Draco cepat-cepat merayap, tapi ia nyaris terkena Kutukan Maut jika saja—"
"Reducto!"
Draco melempar pandangnya ke arah suara. Ginny Potter—menatap Bellatrix dengan benci, berlari ke luar halaman yang mulai rusak di sana-sini.
"Apa yang…" Draco memaki. "Weasley, jangan!"
Bellatrix menggeliat dan melancarkan Cruciatus kepada istri Harry Potter itu—tetapi Ginny telah siap. Lagipula ia bukan lawan yang mudah.
Terjadi chaos. Runcorn dan Yaxley tampak kebingungan, tapi saat Yaxley meringsek maju untuk menyerang Draco—Bellatrix membentaknya untuk tetap melakukan pekerjaannya.
Ada suara letupan dan kabut hitam yang familier—dan dengan ngeri Draco menoleh. Benar saja.
Mereka kedatangan lebih banyak lawan.
Draco melambai-lambaikan tongkatnya dengan tak tentu arah, dan tiga Pelahap Maut jatuh—tetapi masih tersisa lima orang lagi. Ginny Potter masih berduel—dan ada lebih banyak kabut hitam lagi.
Ia tahu ia telah kalah. Ada lebih dari setengah lusin Pelahap Maut yang melangkah dari kabut, dan tiga kutukan melayang menuju jantungnya—
"PROTEGO MAXIMA!"
Kutukan itu tak pernah mencapai Draco Malfoy.
Harry Potter berdiri di sisinya, wajahnya kusam dan kotor—tetapi ia meludah dan menyipitkan atensi emeraldnya.
"Sesudah ini—kau harus menjelaskan padaku, Malfoy," gumamnya dan ucapan Harry terpotong ketika memblokir Mantra Bius. "Tapi sebelumnya—maaf atas keterlambatan; Kementerian juga kacau."
Draco—entah mengapa, merasa lebih semangat ketika merasakan nada menyelidik dalam suara Harry. "Tak apa-apa. Tapi kusarankan kau menengok istrimu dulu."
Harry tak perlu diberitahu dua kali. Pemuda itu mengangguk dan menghilang, meninggalkan Draco yang berduel dengan dua Pelahap Maut.
Ada kilatan-kilatan cahaya lagi—dan Draco nyaris pingsan karena lega melihat serombongan Auror melangkah keluar. Mereka mendengar pesannya! Pesan yang dikirimkan Draco melalui Tanda Kegelapan—cara ampuh lain yang terselubung.
Di sudut, Lortarius menjatuhkan dua Pelahap Maut Bertopeng, dan Ron Weasley akhirnya menjatuhkan Runcorn. Ada Hermione Wealey—astaga, dan ada Blaise!—astaga.
Banyak Pelahap Maut yang gugur, tetapi Bellatrix dan Yaxley masih bertahan di tempatnya. Dengan keadaan separuh pingsan, Draco melihat Ginny jatuh ke tanah, dan Harry dengan panik berlutut untuk melindungi istrinya.
Senyum kemenangan Draco langsung lenyap, ketika Bellatrix mengangkat tongkatnya dengan gerakan lambat.
"Seorang Malfoy tidak boleh berhutang—tidak baik untuk kehormatan kita."
Draco berlari—dalam detik-detik yang terasa melayang. Ron juga berlari—tapi Draco tahu ia akan mencapai Harry lebih dahulu.
"Kalaupun kau berhutang, Draco—Demi Merlin, bahkan kau harus melunaskan hutang kehormatanmu itu, tak peduli siapapun itu."
"SECTUSEMPRA!"
Seperti yang pernah dilancarkan oleh Harry di tahun keenamnya.
Draco jatuh terkulai, mulai merasakan pedih di sekujur tubuhnya. Rembesan darah bagai air pancuran keluar dari sisi tubuhnya.
"AVADA KEDAVRA!" seseorang berteriak, dan Bellatrix jatuh—tapi Draco tak bisa merasakan apapun, kecuali kepuasan yang ganjil, dan kepedihan yang amat sangat.
Hutangnya terlunaskan.
Kehormatannya kembali!
"Malfoy—"
Benarkah itu bayangannya, ataukah Harry Potter membungkuk di atasnya, memanggil-manggil dirinya?
"Malfoy! Kau dengar aku?" Harry Potter berteriak di sisi kiri tubuhnya.
Draco memusatkan pandangannya. "Pot—ter.."
"Bertahanlah!" suara itu terdengar seperti perintah frustasi—dan ada cengkraman kuat di tangan Draco. "Mereka sedang BerApparate kesini."
Tapi Draco sudah merasakan akhir yang bahagia. Dengan genggaman di tangannya, wajah Harry yang berada setengah meter darinya, dan yang terpenting: hutang kehormatan yang telah lunas—
"Tidak—bisa," Draco bernapas dengan susah payah. Penglihatannya berenang-renang. "Tak—apa."
"Apa yang kau maksud?" bentak Harry. "Kau mengorbankan ini semua hanya untukku? Kau harus menjelaskannya!"
"Tanya… Blaise," terengah-engah, Draco mencengkram tangan Harry lebih erat, menatap emerald itu intens. "Terima—kasih…untuk—pelajaran… ten—tang—kehormatan… dan—"
Sedikit lagi.
"—Cinta."
Diiringi dengan teriakan terakhir Harry, genggaman yang melemah, dan penglihatan yang buram—
"Lalu, kau harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga untuk mengembalikan kehormatanmu."
Dan tak ada lagi "Hutang Kehormatan" atas nama "Draco Malfoy".
Finish.
CCSL:
Ukenya Harry di bagian akhir kerasa gak?-.- /ngek *Dia masih berusaha membuat Harry jadi uke* *hiks gagal* #dor
Dan intinyaaaa~ UNLEASH YOUR IMAGINATION! XD Apakah Harry pernah nyimpen rasa sama Draco? Gimana cara Bellatrix lepas dari Azkaban dan ngebohongin sipirnya? Kronologis Draco ngirim pesan ke Kementerian? Semuanya bergantung pada imajinasi anda XD
Dan terima kasih telah membaca karya cacat ini. Semoga gak cacat-cacat banget, dan maaf—kalo mau ngeflame/kritik yang ngebangun, ya:'D
Uhuk, terus saya hepi banget bisa nyelesain ini. Semoga sesuai sama persyaratan challenge, amin. Mau Review?
Glosarium:
*Aheato Revelium: Mantra Penghangat Suhu
**Keping Kementerian: Keping yang hanya bisa digunakan sekali, untuk mengirim pesan singkat, hanya bisa dipakai oleh pegawai Kementerian.
Jakarta, June 23, 2012, 00:11.
A-koira Numoz Bizantia,
Bea. (3.811 only without CCSL and A/N)
