A/N : Di saat orang-orang seumuran saya sedang menimang anak atau tenggelam dalam pekerjaan mereka, saya malah terjebak dengan tugas-tugas kampus yang menjemukan… x(

Anyway, chapter dua update! Terima kasih untuk para readers yang telah meluangkan waktu untuk meninggalkan sepatah dua kata untuk fanfic ini! *bighugs* ^^ Chapter ini special untuk kalian semua.

Enjoy, please! Aaand don't forget to gimme some feedbacks!

NB : kesalahan EYD akan segera dibenarkan.

.

.

Warning : Shonen-Ai/BoysLove/Percintaan sesama laki-laki, bahasa kasar, dan sedikit kekerasan.

.

.

.

"Parkir saja di situ," Sasuke menunjuk ke arah hamparan rumput di depan deretan pot kecil yang berisi berbagai bunga warna-warni. Mengikuti apa yang diperintahkan, Sai membelokkan stir sepedanya dan menggiringnya ke sana. Dia mengayunkan kakinya untuk menurunkan penyangga sepedanya, setelah dirasa tepat, dia kembali ke arah Sasuke yang menunggunya di depan pintu rumahnya.

Sai tidak percaya akan apa yang terjadi padanya – atau tepatnya di mana dia berada – saat ini. Setelah tadi pagi Sasuke mempermalukan dirinya – mencium dan menggodanya di depan banyak orang – kini, tahu-tahu dia sudah berada di rumah Sasuke - hal yang tak pernah terpikirkan olehnya bahkan dalam mimpinya sekalipun. Sasuke berpikir bahwa kemungkinan beberapa penggemarnya akan mengikuti mereka, jadi dia meminta Sai untuk benar-benar pulang dengannya kali ini.

"Seolah kemarin gara-gara aku kita tidak pulang bersama," pikir Sai masam.

Sejuknya pendingin ruangan segera menyambut Sai begitu dia memasuki rumah Sasuke. Setelah menanggalkan sepatu, Sasuke membawanya menuju ruang utama. Pemuda bermata onyx itu memberinya kode untuk duduk di sofa, sementara dia segera menghilang di ruangan lain. Sai bernafas lega, setidaknya Sasuke tidak membawanya ke dalam kamarnya. Sai segera menampar pikirannya. Tentu, tidak ada gunanya Sasuke membawanya ke sana. Lagipula untuk apa dia takut jika Sasuke akan membawanya ke sana? Seolah Sasuke akan memperkosanya atau apa. Sai menertawakan kebodohan dirinya sendiri. Sepertinya kejadian tadi pagi telah membuat kemampuan berpikirnya menurun drastis.

"Ini benar-benar tidak bagus…" gumam Sai sambil membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

.

.

How To Kill Your Fangirls

-Act II-

.

.

Sasuke Uchiha segera membuang tasnya sembarangan begitu dia memasuki kamarnya. Menghilang ke dalam kamar mandi, dia keluar dari sana lima menit kemudian dengan wajah yang lebih segar dan kerah seragamnya yang sedikit basah. Dengan gerakan yang sedikit lamban dia mulai melepas seragamnya, menggantinya dengan sepasang kemeja dan celana santai.

Sasuke mendesah sambil memeriksa jam di mejanya. Dia hanya punya waktu satu jam sebelum kakaknya kembali ke rumah. Kakak laki-lakinya bisa menjadi sangat mengganggu dan Sasuke lebih suka berada di dalam kamarnya ketika dia ada di rumah.

"Hanya harus menahan Sai setengah jam di sini sebelum mengusirnya keluar," pikir Sasuke. Dia berharap itu cukup untuk meyakinkan para penggemarnya yang saat ini sedang mengintainya – Sasuke bisa melihat mereka dari jendela kamarnya di lantai dua. Pemuda itu menggelengkan kepalanya sambil menjauh dari jendelanya. "Mereka benar-benar melakukannya," gumamnya dengan ekspresi yang sedikit merendahkan.

Sasuke turun menemui Sai di ruang tamu 10 menit kemudian. Hanya tinggal 15 menit lagi dan dia bisa kembali ke kamarnya. Sai masih berada di tempat yang sama ketika dia meninggalkannya. Pemuda berkulit pucat itu duduk sambil menopang sikunya dilututnya dan kedua telapak tangannya menyangga kedua sisi kepalanya. Sasuke berdeham membuat pemuda itu sedikit melonjak – terkejut akan kedatangannya.

Sai bergeser tidak nyaman ketika Sasuke duduk di depannya, mengamatinya namun tidak mengatakan apapun. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan atau lakukan. Dia jarang berkunjung ke rumah seseorang – atau mungkin bahkan tidak pernah. Jadi dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap di saat seperti ini. Terlebih lagi, ini adalah Uchiha Sasuke. Orang yang dikaguminya dan juga orang yang telah menciumnya dengan panas tadi pagi.

Gelisah, dia kembali menggeser posisi duduknya.

Sasuke mengangkat alisnya ketika melihat bagaimana Sai telah berkali-kali bergerak. "Anak ini gugup," pikirnya. Nah, apa yang baiknya dia lakukan saat ini? Sasuke tidak benar-benar peduli sebenarnya namun melihatnya seperti itu benar-benar mengganggu matanya. "Kenapa orang tidak bisa hanya bersikap tenang di dekatku?" pikirnya lagi.

Lelah, Sasuke menatap jam di dinding. Masih sepuluh menit lagi sampai dia bisa mengusir Sai keluar. Dan ini akan menjadi sepuluh menit terlama dalam hidupnya jika dia tidak melakukan apapun. Mungkin sedikit obrolan akan bisa membunuh waktu dengan cepat.

"Jadi…"

"Boleh aku pulang?"

Sasuke segera menutup mulutnya kembali ketika pemuda di depannya berbicara hampir bersamaan dengannya. Seolah dia telah mengerahkan seluruh keberaniannya hanya untuk mengatakan itu, laki-laki berkulit pucat itu membenamkan dirinya di sandaran sofa, membuatnya tampak lebih kecil.

Sasuke hendak mengatakan sesuatu, namun dia kembali membatalkannya. 'Bukankah kenyamanan anak ini juga harus menjadi prioritas utama? Setidaknya jika dia tidak berada di depan banyak orang seperti ini,' pikir Sasuke. Sasuke paham jika Sai tidak tahan dengan tekanan, mungkin dia akan menjadi sangat penurut seperti ketika Sasuke menggunakannya seenaknya di depan umum, namun saat ini, mereka ada di tempat yang cukup pribadi dan tidak ada kewajiban bagi Sai untuk menuruti kata-katanya.

"Dengar," ucap Sasuke kemudian – sedikit tergesa-gesa. Sai tidak boleh meninggalkan rumahnya saat ini, atau penggemarnya diluar sana akan berpikir jika mereka memang berpura-pura – kunjungan rumah selama dua puluh menit terdengar terlalu singkat.

"Harusnya aku membicarakan ini lebih awal," lanjut Sasuke. Sai segera meluruskan punggungnya, tampak dia menganggap dampak dari pembicaraan ini adalah penting dan serius – setidaknya bagi dirinya. "Kau tahu jika aku memiliki masalah dengan beberapa" hampir semua "gadis di sekolah. Yah, tentang kejadian dibelakang sekolah kemarin, juga hari ini, mungkin ini terdengar memaksa dan sedikit terlambat," Sasuke menghentikan ucapannya, memilih untuk mengamati ekspresi pemuda di depan sejenak. Sebuah seringaian hampir mengembang di wajahnya namun dengan segera dia menahannya. Sai tampak – terlalu – serius dan nyaris lucu. Sungguh dia hanya mencoba untuk mengulur-ngulur waktu sebenarnya.

"Hmm… lalu?" Sasuke cukup terkejut ketika Sai memecah keheningan di antara mereka. Nampak dia tidak sabar akan apa yang Sasuke bicarakan.

"Yah, aku tahu bagaimana anak laki-laki di kelas kita memperlakukanmu," lanjut Sasuke kemudian. Sai menahan nafas ketika mendengarnya, seolah dia tahu ke arah mana pembicaraan ini berlanjut.

"Aku… baik-baik saja soal itu," ucap Sai. Ada sedikit nada tidak senang dalam kata-katanya. Sasuke menyadari ada sesuatu yang salah. Dia mengangkat alisnya. Tentu saja, dibalik fiturnya yang sedikit feminine dan juga sikap pasrahnya, Sai adalah laki-laki. Atau setidaknya, dia masih mempunyai harga diri seorang laki-laki. Kali ini Sasuke tidak bisa menyembunyikan seringaiannya.

"Itu bukan seperti yang kau pikirkan," timpalnya. Ekpresi Sai sedikit melunak, walau dia masih tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangannya atas senyum Sasuke barusan. "Aku tidak peduli – tentunya - tentang tindakan mereka, maksudku tidak berarti aku akan berdiri di depanmu dan mengancam mereka untuk tidak mengganggumu. Hanya saja, saat aku bersamamu secara otomatis mereka tidak akan mendekatimu, yah, kau tahu sendiri seperti apa reputasiku di mata mereka…" Sasuke berhenti untuk menarik nafas dan menunggu reaksi anak laki-laki di depannya. Tidak ada yang berarti di wajah pucat itu, dan Sasuke segera melanjutkan ucapannya. "Jadi tidak berarti aku melindungimu pula, maksudku, itu tidak tampak seperti aku sedang melindungimu namun secara tidak langsung kau memang terlindung dari mereka – hanya saja itu tidak ditunjukan dengan suatu tindakan yang terang-terangan. Jika kau paham maksudku..."

Sai mengangguk mengerti. "Aku berpura-pura menjadi pacarmu agar kau bebas dari penggemarmu dan kau membuatku tidak diganggu. Itu terlihat seolah menguntungkan kita berdua."

"Ya, seperti itu."

"Walau sebenarnya aku tidak mendapat banyak masalah akan sikap anak laki-laki di kelas."

"hmmph…" Sasuke kembali tersenyum. Anak itu benar-benar tidak mau mengaku jika dia telah diganggu selama ini, pikirnya.

"Berapa lama?"

"Itu.. belum bisa diputuskan."

Terdengar desahan nafas dari pemuda berkulit pucat. Sasuke bisa mengerti apa yang dia pikirkan. Namun dia benar-benar tidak bisa menentukan sampai kapan Sai harus berpura-pura menjadi pacarnya. Sampai mereka lulus sekolah? Lalu bagaimana kehidupannya di bangku kuliah nanti? Ada kemungkinan semuanya akan sama seperti kehidupan SMAnya saat ini, mengingat bagaimana dia di SMP dulu. Jika diingat-ingat lagi, saat duduk di Sekolah Dasar adalah masa-masa yang paling menyenangkan bagi Sasuke – masa di mana para perempuan di sana belum mengenal apa yang namanya cinta dan nafsu.

Mungkin dia bisa mencari informasi di mana Sai akan meneruskan pendidikannya. Lalu membuatnya seolah mereka kebetulan bertemu kembali, dan…

"Emm… boleh aku pulang sekarang?"

Sasuke segera kembali ke dunia nyata. Hanya tinggal beberapa menit lagi namun Sasuke pikir tidak akan ada perbedaan dengan itu. Jadi dia hanya bangkit menuju pintu depan dan Sai mengikutinya dalam diam.

Sai bergabung dengan Sasuke yang menunggunya di depan pintu. Dadanya berdebar sedikit keras. Ada yang akan terjadi setelah ini, dia yakin. Sasuke tidak tampak seperti tipe orang yang selalu mengantar tamunya sampai mereka menghilang dari pandangan mata. Sai hendak mengatakan sesuatu namun gerakannya segera terhenti ketika Sasuke meletakkan telapak tangannya di belakang kepalanya dan menariknya.

Sebuah ciuman lagi.

Sai masih tampak terkejut walau dia telah mengantisipasi tindakan ini sebelumnya. Ciuman itu dalam dan panas dan Sai benar-benar tidak bisa menahan erangannya. Dia memejamkan matanya erat-erat, berharap hal ini cepat berakhir.

Sasuke memeluk pinggangnya lebih erat, membuatnya bisa merasakan kehangatan tubuh lawannya. Ciuman itu berlangsung lebih panjang dari sebelumnya dan Sai segera menghirup nafas panjang begitu bibirnya mereka terpisah. Ada sedikit genangan air di matanya dan keringat dingin membasahi dahinya, menyertai nafasnya yang terengah-engah.

Astaga, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini, ratapnya dalam hati. Aku tidak tahu bagaimana Sasuke bahkan terlihat sama sekali tidak terpengaruh oleh tindakannya tadi, maksudku, aku bahkan hampir mati kehabisan nafas tadi!

"Sayang sekali kau harus segera pulang, Sayang. Aku harap kita bisa melanjutkannya di lain waktu," ucap Sasuke tiba-tiba, membuat jantung Sai memompa lebih cepat. Dengan ragu-ragu mata Sai bergerak ke sekeliling mereka. Tidak ada yang mencurigakan tampaknya, sampai kemudian Sai menangkap beberapa bayangan dari balik pohon besar di sebelah kiri pagar rumah Sasuke. Mengerti bagaimana kondisi mereka, Sai mencoba untuk menenangkan dirinya dan mengalihkan pandangannya dari tempat itu, kembali menatap Sasuke.

"Ya.. ya, aku harap kita bisa melanjutkannya," ucapnya sedikit terbata-bata. Dia menggigit bibirnya sambil menundukkan wajahnya, sedikit malu akan apa yang baru saja dia katakan tadi.

Aku bertindak seperti seorang gadis murahan, pikirnya.

Sai mengangkat wajahnya ketika dia mendengar Sasuke tergelak. Sasuke tertawa – mungkin sedang menertawakan dirinya yang tampak begitu menyedihkan dan Sai tidak bisa melakukan apa-apa selain terdiam sambil menatapnya. Berharap belas kasihannya dan hanya membiarkannya meninggalkan tempat ini dengan segera.

Tunggu, kalau mereka sedang berpacaran, harusnya Sasuke tidak menertawakan dirinya!

"Sasuke kun~" rengek Sai. Terlanjur basah, dia akan benar-benar menghayati perannya sebagai seorang gadis murahan saat ini – berharap Sasuke hanya menghentikan tawanya. Sungguh Sai sangat benci ditertawakan. Apapun penyebabnya.

"Oohhh…" Sasuke terkesiap ketika menyadari perubahan sikap Sai. Seakan setelah beberapa kali, dia akhirnya benar-benar mengikut sertakan dirinya dalam sandiwara ini. Apakah ini merupakan sebuah kemajuan yang baik? Pikir Sasuke. Dia hanya mengangkat bahunya.

"Maafkan aku, Sayang. Itu karena kau tampak begitu lucu dengan wajahmu yang memerah seperti itu," ujar Sasuke sambil menyubit kedua pipi kemerahan Sai, membuat pemuda yang biasanya berwajah pucat tampak sangat terganggu oleh tindakannya.

"Umm.. bisa kau biarkan aku pergi sekarang?" Sai meminta, sedikit menuntut. Sasuke menariknya kedalam pelukannya dan mengecup dahinya sebelum akhirnya kembali melepas pelukannya. Sai mundur selangkah dan mata mereka bertemu. Mengangguk kecil, Sai mengucapkan selamat tinggal padanya. Sasuke membantunya menyiapkan sepedanya. Dia memberi ciuman singkat di bibir merah cherrynya sampai kemudian Sai mulai mengayuh sepedanya. Sasuke tersenyum, melambaikan tangan hingga Sai tidak terlihat lagi.

Yah, masalah hari ini selesai, pikir Sasuke. Mendesah lelah, dia kembali masuk ke dalam rumahnya.

.

.

"Apa kau sama sekali tidak khawatir dengan adikmu satu-satunya ini?" gerutu Sai sambil mengaduk-ngaduk sisa supnya.

"Untuk apa?" Shin bertanya acuh. Sai menjadi lebih cerewet akhir-akhir ini. Walau itu terlihat lucu, tapi kadang dia membutuhkan suasana yang tenang sekali-kali.

"Dia tidak mengatakan sampai kapan aku harus berpura-pura jadi pacarnya. Kau harus melihat wajahnya saat itu, seolah dia ingin kami bersandiwara sampai kami lulus dari sekolah. Aku bahkan memiliki firasat kalau dia akan memintaku menjadi pacarnya lagi ketika kita ada di universitas yang sama. Astaga, kenapa hidupku yang sebelumnya begitu damai tiba-tiba berubah menjadi seperti ini?" Sai menyingkirkan mangkuk sup dari hadapannya dan segera membenamkan kepalanya ke meja. Tidak peduli pada benturan keras yang terjadi antara dahinya dengan permukaan meja.

"Yah, setidaknya dia tidak tampak ingin memperkosamu atau sejenisnya."

Merasa dejavu, Sai hendak membuka mulutnya untuk membalas ucapan Shin namun dia segera menghentikannya. 'Dia memang benar-benar kakakku,' dengusnya dalam hati.

"Apa aku sedang menatap seorang anak laki-laki yang tidak mempunyai semangat hidup?"

"Tidak, kau sedang menatap mayat seorang laki-laki yang sedang membusuk."

"Oooohh.. aku harus segera menghubungi ambulance dan menyuruh mereka mengotopsi mayat laki-laki ini kemudian."

"Ya, dan katakan pada mereka kalau kepala mayat ini tidak ditemukan di manapun."

"Hm, baiklah."

Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara.

Sai menikmati keheningan ini. Sampai kemudian dia merasakan seseorang mengusap-usap rambutnya. Sai mendongakkan wajahnya dan segera memejamkan matanya ketika dia merasakan bibir lembut mengecup pipinya.

"Aku akan melihatmu kembali besok," ucap Shin lirih dan Sai hanya mengangguk kecil. Sai kembali tenggelam dalam dunianya sementara Shin membereskan gelas dan mangkuk di atas meja, membawanya ke dapur untuk dia bersihkan besok pagi. Shin segera menghilang ke dalam kamarnya tak lama kemudian, meninggalkan Sai yang masih bertahan di sana, sampai setengah jam kemudian dia teringat ada beberapa tugas sekolah yang belum dia selesaikan. Melangkah malas, dia menuju kamarnya sendiri sambil mengusap-usap dahinya yang terasa sakit.

.

.

"Hai, Sai."

Sai menoleh untuk melihat orang yang menyapanya dan segera mengerang ketika mendapati empat orang laki-laki dari kelasnya menuju ke arahnya. Pagi yang buruk untuk mengawali hari ini, pikir Sai.

"Selamat pagi, Sai!" salah seorang laki-laki menyapanya terlalu ceria dan yang lain menepuk bahunya dengan keras, membuat Sai hampir terjungkal ke depan dan mereka semua menertawakannya.

"Astaga, aku hanya sedikit menyentuhnya, kalian tahu?" tawa kembali bergema. Sai memilih untuk tidak mengatakan apapun. Dia mempercepat langkahnya, berharap segera sampai ke dalam kelasnya. Setidaknya mereka tidak bisa mendorongnya seperti tadi di dalam kelas.

"Kau tahu, aku benar-benar tidak pernah menyangka jika kau, ehm, kau tahu, yah, suka menghisap milik orang lain," ujar salah satu dari mereka dan tawa kembali bergema. Sai hanya menggigit bibirnya.

"Bagaimana rasanya, Sai? Apa kau menikmatinya? Aku yakin kau sangat menikmatinya. Kau memang pelacur kebanggaan kami."

"Hei, itu terdengar jahat tahu. Tapi tampaknya dia memang sangat menikmatinya. Oh, lihat wajahnya memerah!"

Tawa lain terdengar dan Sai benar-benar tidak tahan kali ini. Dia tidak akan melakukan apapun jika mereka hanya menyuruhnya mengerjakan tugas sekolah mereka atau menyuruhnya membeli sesuatu dari kantin, namun tidak jika mereka terus-terusan menertawakannya seperti ini. Seolah dirinya adalah hal yang paling konyol yang ada di dunia.

"Dengar, sebenarnya aku dan Sasuke-" ucapan Sai terputus karena tawa yang mendadak berhenti. Ke empat laki-laki itu nampak tertarik akan apa yang akan dikatakan Sai. Pemuda berkulit pucat itu kembali membuka mulutnya, hendak mengatakan jika dia dan Sasuke sebenarnya tidak terlibat hubungan apapun sampai kemudian, sosok penuh karisma yang sedang berjalan menuju mereka menarik perhatiannya.

Sasuke Uchiha menatapnya dingin saat mereka bertemu pandang. Seolah kedatangannya adalah hal terakhir yang mereka harapkan, ke empat temannya menarik nafas tertahan.

"Hmm.. apa yang kalian lakukan di depan kelas?" ujar Sasuke ramah, namun mereka tahu ada sebuah kekejaman dibalik topeng malaikatnya. Sasuke Uchiha adalah iblis, setidaknya itulah pandangan semua anak laki-laki di sekolah ini. Dia adalah perebut hati wanita, pengubur impian para laki-laki dan juga tuan muda yang sangat kejam. Tidak ada yang berani - sampai saat ini - untuk membuat gara-gara dengan seorang Sasuke Uchiha.

"Ah, hanya sedikit mengobrol, Sasuke. Yah, kita akan segera masuk ke kelas, sampai jumpa, Sasuke!"

Sasuke tersenyum puas ketika melihat ke empat orang tolol itu berlari ke dalam kelas. Namun senyumnya tidak berlangsung lama ketika dia memusatkan kembali pandangannya ke arah Sai, manatapnya dingin.

"Apa?" bentak Sai. Dia tidak dalam kondisi mood yang bagus saat ini. Dan dia benar-benar tidak peduli kalau dia hampir saja mengatakan hal yang sebenarnya pada ke empat laki-laki tadi.

Sasuke mengerutkan dahinya. Dia yakin Sai nyaris membeberkan rahasia mereka tadi – entah kenapa dia mempunyai firasat yang kuat untuk itu. Namun kenyataan bahwa anak ini balik menantangnya membuatnya sedikit heran. Dari mana dia memiliki kepercayaan diri seperti ini? pikirnya.

Merasa bahwa memperdebatkan hal ini di depan umum hanya akan membuat rahasianya benar-benar terbongkar, tanpa aba-aba Sasuke segera menyeret Sai menuju toilet, tidak memperdulikan protesan dan teriakannya.

Sai merasa dirinya menabrak lantai toilet dengan keras ketika Sasuke melemparnya dengan kasar. Pemuda bermata onyx itu segera mengedarkan pandangannya di sekitar dan setelah merasa jika mereka benar-benar sendirian, dia mengunci pintu dan kembali memusatkan perhatian pada Sai.

"Apa itu tadi?" tanyanya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

Sai hanya mendengus sambil menatapnya tajam. Pemuda itu mencoba bangkit, mengindahkan rasa sakit di punggung dan pantatnya. Dia hendak menuju pintu namun Sasuke segera memblokir langkahnya.

"Biarkan aku keluar!" bentak Sai. Sasuke semakin mengerutkan alisnya dan mendorong pemuda itu kembali, tidak cukup keras namun mampu membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Sai berusaha menerobros kembali namun kali ini Sasuke sudah mulai kehilangan kesabaran. Dia mencengkram bahu pemuda kurus itu dan mendorong tubuhnya hinggi menabrak dinding, meninggalkan erangan kesakitan keluar dari mulutnya. Sasuke menekan lengan kanannya pada leher tanpa perlindungan itu dan tangan yang lain menekan bahu kanannya – mengunci gerakan pemuda itu, membuatnya terjebak antara dia dan dinding.

"Jangan memaksaku menjadi kasar.." desis Sasuke. Dia bisa mentolerir tindakan perempuan padanya – tanpa menggunakan kekerasan pada mereka namun Sai adalah laki-laki. Dan kekerasan diperbolehkan kepada seorang laki-laki.

Sai mencoba melepaskan diri, dia berjuang untuk mengembalikan ketenangannya namun itu semua menjadi sia-sia ketika dia merasa kesulitan hanya untuk menarik nafas. Tekanan Sasuke pada lehernya semakin diperketat dan tak ada yang bisa Sai lakukan selain merintih dan menggeliat, mencoba untuk menyingkirkan lengan kuat Sasuke dari dirinya. Paru-parunya mulai terasa terbakar akan kurangnya asupan oksigen dan pandangan matanya mengabur oleh genangan air di sana.

Perjuangan Sai mulai melemah membuat Sasuke perlahan membebaskan leher pucatnya. Sai terperanjat dan segera menarik nafas sebanyak mungkin diikuti oleh batuk yang tidak beraturan. Sasuke masih tidak melonggarkan cengkraman pada bahunya sedikitpun.

Sai merasa dirinya dihidupkan kembali. Dia mulai menata nafasnya yang terengah-engah. Air mata mulai menetes di wajahnya karena getaran dari batuk yang terlalu keras. Tekanan di bahunya mengingatkan jika ini belum sepenuhnya berakhir. Sai mendongakkan kepalanya dan menatap Sasuke yang tidak memiliki ekspresi sedikitpun di wajah dinginnya. Dia kembali mengerang, menundukkan kepalanya dan menggigit bibrnya.

"Maaf.." gumamnya. Dia mulai mengutuki kebodohannya dalam hati. Selalu, Sai tak pernah bisa mengendalikan dirinya jika kemarahan menguasainya.

"Ini tidak akan terjadi lagi," tambahnya. Berharap Sasuke melepaskan tekanan di bahunya yang menyakitkan dan membiarkannya kembali ke dalam kelas. Mereka sudah terlambat sekarang.

Itu tidak memakan waktu lama karena Sai segera mendesah lega ketika tekanan di bahunya mulai menghilang. Sasuke memberinya ruang untuk pindah. Tanpa menunggu lagi, Sai segera mengambil tasnya yang tergeletak di lantai dan berlari ke luar dari sana.

Dia bersumpah dalam hati untuk tidak mengulangi perbuatan bodohnya lagi – tidak mencoba untuk mengatakan kepada siapapun perihal hubungannya yang sebenarnya dengan Sasuke. Dia akan membawa rahasia ini sampai mati – setidaknya jika masih menyayangi nyawanya – bahkan kepada istrinya di masa depan nanti.

"Seolah aku masih memiliki umur untuk dapat menikah nanti," pikirnya muram. Tentu, karena berada di dekat Uchiha sama saja dengan berdiri di tepi jurang. Di mana dia bisa terperosok di dalamnya kapan saja. Lalu mati. Dan membusuk.

.

.

to be continue

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

This fiction belongs to Me

.

.

Review?