A/N : Halo! Maaf agak lama updatenya! Too many collage shits that need more attention X'D
-Sai : Alasan, sebenarnya karena dia lagi keranjingan RPan!
-Author : eeh, diam kamu! *Gampar Sai pake bibir*
-Sai : *pingsan*
-Author : *seret Sai ke kamar, mumpung belum bulan puasa* XDDD
.
.
.
Baiklah, new chapter, special buat yang setia mention di twitter saya *lirik Cui* dan juga untuk semua yang sudah meluangkan waktu untuk mereview. Terima kasih banyak! : )
Semoga cukup terhibur walau chapter ini sedikit pendek. : )
And as usual, don't forget to leave me some feedback! : )
(kesalahan EYD akan segera diperbaiki)
Enjoy!
.
.
.
Warning : Shonen-Ai/BoysLove/Percintaan sesama laki-laki, bahasa kasar, sedikit adegan dewasa, but no lemon-sorry.
Disclaimer :Naruto belongs to Masashi Kishimoto. This story belongs to me.
.
.
.
.
.
"Jadi Sasuke, bisa tolong jelaskan padaku apa itu?"
Itachi Uchiha menatap adik satu-satunya dengan tajam. Pandangan matanya menuntut sebuah penjelasan yang masuk akal untuk foto yang baru saja dia perlihatkan. Itachi tidak akan terlalu ikut campur perihal si bungsu Uchiha yang terkenal selalu menolak gadis yang mendekatinya karena dirinya juga seperti itu ketika seumuran dengan Sasuke – tidak ada yang lebih penting dari belajar dan mempertahankan gelar sebagai murid nomor satu di sekolah – namun dia akan sangat tidak keberatan untuk ikut campur jika ternyata adiknya tidak berada di jalur yang seharusnya – menyukai sesama laki-laki.
Tidak berarti Itachi benar-benar straight juga. Akan tetapi bagaimanapun juga Sasuke masih berada di usia yang labil dan Itachi merasa dia harus mengarahkan adiknya atau setidaknya memantaunya jika Uchiha muda ini menuju ke arah yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Tidak berarti juga dia benar-benar peduli pada adiknya, sih. Hanya saja namanya akan ikut tercoreng dan dibawa-bawa jika sewaktu-waktu Sasuke melakukan sesuatu yang memalukan keluarga Uchiha.
Uchiha Sasuke terdiam beberapa saat setelah Itachi menunjukkan foto dirinya sedang mencium Sai. itu adalah kejadian di depan loker dua hari yang lalu. Pemuda bermata onyx itu mencoba untuk membuat dirinya setenang mungkin – mengindahkan gelombang aneh yang seakan menusuk perut dan dadanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dirinya dengan keras, membuatnya sedikit linglung dan tidak bisa berkata-kata.
"Hmm…tidak ada pembelaan? Berarti kau membenarkan semua hal yang aku pikirkan akan foto itu?" Itachi kembali bertanya, mencibir adiknya yang seakan tampak seperti seekor rusa yang membeku karena terkena sorotan lampu mobil. Kemana Uchiha Sasuke yang begitu angkuh pergi? Pikirnya.
"Aku yakin ayah dan ibu akan sangat tertarik dengan berita ini.."
"Jangan!"
"Jangan apa?" Itachi mengangkat alisnya pada respon adiknya yang begitu… histeris. Yah, Sasuke selalu akan menjadi adik kecilnya. Tanpa sadar senyuman kecil berkembang di sudut bibir Uchiha yang lebih tua itu.
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Sasuke muram. Hal terakhir yang dia inginkan adalah orang tuanya melihat foto itu. Mikoto dan Fugaku Uchiha bisa menjadi sangat dramatis setiap saat. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka pikir dirinya menyukai sesama jenis. Ibunya sangat religious sementara ayahnya begitu penuh dengan konkrit dan selalu menjunjung tinggi martabatnya sebagai seorang laki-laki Uchiha. Jelas homoseksual bukan sebuah kata yang akan ada di dalam kamus mereka.
"Jadi, apa yang sebenarnya tidak seperti yang aku pikirkan itu?" Itachi kembali bertanya. Setidaknya adiknya sudah mulai mau bicara. Itachi tidak terlalu senang menebak-nebak sebenarnya. Dan walaupun dia telah mendapat foto dan juga informasi yang sangat terpercaya akan masalah ini, Itachi lebih senang untuk mendengar dari orang yang bersangkutan itu sendiri.
"Aku tidak terlalu peduli juga jika kau tidak percaya," Sasuke berkata sambil mengangkat bahu. Dia memandang kakaknya bosan, sampai kemudian dia teringat akan sesuatu yang seharusnya penting. Dari mana Itachi mendapat foto itu?
"Hmm… cobalah adikku…"
Sasuke sedikit memiringkan kepalanya sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Dia mulai sedikit rileks dan punggungnya perlahan bersandar pada sisi meja, tampak bahwa ketegangan telah hilang dari dirinya, menyisakan Sasuke yang seperti beberapa saat sebelumnya, mengembalikan keangkuhannya.
"Sebelum itu, dari mana kau mendapatkan foto itu, Itachi?"
.
.
.
.
How To Kill Your Fangirls
-Act IV-
.
.
.
.
Kegelapan menyambutnya ketika mata monochromenya terbuka. Pupilnya membesar dengan segera akan kurangnya cahaya dan berkedip liar, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan di sekitarnya. Sai hanya menatap langit-langit kamar ketika dia telah benar-benar bangun dari tidurnya. Pemuda itu tidak bergerak untuk beberapa saat. Ingatannya terasa samar, membuatnya hanya menerawang, mencoba untuk kembali menata satu per satu apa yang terlintas di kepalanya.
Dia pulang ke apartemennya dengan kondisi fisik dan jiwa yang sangat lelah tadi. Seolah tenaganya habis terkuras, dia jatuh menghantam lantai begitu masuk ke dalam apartemen. Mengindahkan rasa berdenyut yang diakibatkan oleh benturan keras dengan lantai, pemuda berkulit pucat berdiri dengan perlahan, bangkit untuk menuju ke kamarnya - sebelum memastikan pintu apartemennya telah terkunci.
Pemuda berkulit pucat itu menemukan catatan kecil ditempel di pintu kamarnya, sebuah catatan yang biasa ditinggalkan kakaknya jika dia terlambat atau tidak pulang sama sekali. Sai mendesah sembari mengambil dan membaca catatan itu. Dia meremasnya dan membuangnya ke keranjang sampah, sebelum masuk ke dalam kamarnya, membuang tasnya sembarangan dan menghempaskan diri di atas tempat tidurnya yang nyaman
Sai sedikit kecewa mendapati kakaknya tidak ada di rumah. Namun dia segera berpikir jika itu tidak terlalu buruk, karena setidaknya dia bisa tidur sepuasnya tanpa ada yang menanyai kenapa dia tidur seperti seorang pemalas sepulang sekolah. Dia lelah, dan dia ingin beristirahat. Mengiyakan pikirannya sendiri, Sai segera menutup matanya tanpa peduli untuk mengganti seragam atau mencuci wajahnya.
Sai menghembuskan nafas panjang ketika dia sudah mendapatkan semua ingatannya. Dia tertidur begitu saja sepulang sekolah dan Shin tidak ada. Dan dengan sedikit ketidak beruntungan, dia bangun di tengah malam, kedinginan dan kelaparan. Pemuda berkulit pucat itu menggerakkan kepalanya, menatap jendela kamarnya yang terbuka. Angin menerbangkan tirai merah cerahnya dan menyusup masuk ke kamarnya, membuatnya menggigil. Sai turun dengan enggan dari tempat tidurnya untuk menutup jendela kemudian dia meraba-raba dinding, mencari saklar lampu.
Kedua matanya menyempit dengan reflex ketika cahaya menerangi kamarnya. Berkedip beberapa kali, Sai akhirnya menjadi sedikit santai. Dia menatap kearah jam dinding dan mengangkat alisnya ketika melihat bahwa sekarang baru menunjukkan pukul delapan. Menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal, Sai berjalan gontai ke arah kamar mandi. Dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum memenuhi panggilan perutnya.
Air hangat selalu berhasil membuatnya merasa nyaman. Sai menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di dinding, sementara air hangat masih mengguyurnya. Dia terus ada dalam posisi itu untuk beberapa saat sampai kemudian dia merasa kulitnya akan mengkerut jika dia tidak segera keluar dari shower. Pemuda itu meraih sabun cair, mengeluarkan beberapa cairan dari sana dan mengusapkannya pada seluruh kulit pucatnya. Dia kembali masuk ke dalam shower untuk membasuh seluruh busa sabun lalu menarik handuk dan keluar dari kamar mandi.
Pemuda berkulit pucat itu melilitkan handuk dengan sembarangan di pinggangnya, mengindahkan air yang menetes dari rambut gelapnya – biasanya Shin akan sangat cerewet jika Sai melakukan ini karena membuat seluruh lantai apartemen basah dan licin namun berhubung kakaknya tidak ada saat ini, dia bebas melakukan apapun, bahkan bertelanjang di dalam rumah. Sai pernah melakukannya sekali dan itu menyenangkan. Setidaknya sebelum salah seorang tetangga tiba-tiba mengetuk pintu rumahnya.
Sai berjalan malas ke dalam kamarnya, mengambil handuk lain di dalam lemari pakaiannya, dan menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya. Dia duduk di tepi tempat tidurnya sementara kedua tangannya masih menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya. Sai masih bekerja pada rambutnya ketika samar-samar dia mendengar ketukan di pintu apartemennya. Punggung pemuda itu menegang dan kegiatannya terhenti. Dia diam untuk memastikan bahwa ketukan itu memang ada dan mendesah lelah ketika dia mendengarnya sekali lagi.
Sai bangkit dan melempar handuk kecilnya sembarangan. Dia berdebat sebentar untuk memakai pakaian yang layak atau tidak namun segera menggelengkan kepalanya ketika meihat jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mungkin hanya tetangga yang ingin berbagi makanan atau semacamnya – Shin adalah orang yang cukup ramah sehingga tetangga mereka sering memberinya sesuatu, hal yang tidak ada dalam diri Sai namun dia tidak terlalu mengeluh akan hal itu.
Berjalan malas, Sai keluar dari kamarnya, menuju pintu depan. Dia membuka kunci, memutar kenop kemudian menarik pintu untuk mengungkapkan tamu yang mengganggu waktu bersantainya. Saat itu juga mata gelapnya terbuka lebar ketika melihat sosok tamu malamnya.
Pemuda itu berdiri dengan menghentak-hentakkan kaki kanannya di lantai – menandakan ketidaksabarannya. Dia mengetuk pintu di depannya lagi, kali ini dengan lebih keras. Sumpah serapah keluar dari bibir ranumnya dan ketukan bertambah keras mengiringi kesabarannya yang semakin menipis.
Pemuda itu mencibir dan melipat kedua tangannya di depan dada ketika dia mendegar suara dari dalam. Kenop pintu perlahan berputar, dan pemuda itu menghela nafas. Alisnya berkerut, siap untuk memuntahkan amarahnya pada siapapun yang membuka pintu ini karena telah membuatnya menunggu cukup lama namun hal itu tidak pernah terjadi ketika dia melihat penampilan seseorang yang membuka pintu untuknya.
Uchiha Sasuke mengeluarkan suara tertahan dan nafasnya tercekat di tenggorokan ketika 'kekasihnya' membuka pintu untuknya. Sai berdiri di sana, dengan wajah merah, rambut setengah basah dan air yang tampak berkilauan mengalir di dada pucatnya , setengah telanjang - hanya menggunakan handuk untuk melilit pinggangnya secara sembarangan dan itu sangat... pendek. Membuat paha putihnya terekspos dengan bebas.
Sasuke menelah ludahnya.
Sai menahan dirinya untuk tidak membanting pintu dengan keras. Wajahnya menjadi merah padam dan dia merasa sangat malu ketika mendapati Sasuke adalah orang yang mengetuk pintu apartemennya. Dia gagal memikirkan kenapa Sasuke menemuinya selarut ini dan yang bisa dia lakukan hanya tersenyum, seolah itu bukan hal yang besar, setengah telanjang di depan saingan dan orang yang baru saja hampir mencekiknya sampai mati tadi pagi.
"Hai, Sasuke-kun."
Sasuke mengedipkan matanya ketika pemuda berkulit pucat telah sembuh dari fase keterkejutannya dan tersenyum padanya, seolah penampilannya tidak mengganggunya sama sekali. Sasuke menggelengkan kepalanya samar-samar dan berdeham untuk menenangkan dirinya sendiri. Mungkin Sai memang terbiasa berpenampilan seperti itu bahkan di depan orang asing. Sakit, pikirnya.
Pemuda bemata onyx mengangkat bahunya. Dia menatap sekelilingnya, memeriksa jika saja ada yang melihatnya. Gedung itu sepi dan dengan segera Sasuke mengalihkan perhatiannya pada Sai. Dia menebak anak itu sedang sendiri saat ini, karena tidak ada orang normal yang akan membiarkan seorang laki-laki setengah dewasa yang hanya terlilit handuk kecil membuka pintu di malam hari. Sasuke mendesah, dan dengan segera dia mengangkat tangannya ke depan, menempel pada tenggorokan pucat pemuda itu, lalu mendorongnya dengan kuat hingga memberinya akses untuk masuk ke dalam. Sasuke segera menutup pintu dan berjalan menuju sofa terdekat, tanpa menghiraukan pemuda berkulit pucat yang kini mengerang kesakitan di lantai.
Sai tidak tahu apa yang terjadi ketika tangan dingin Sasuke menyentuhnya. Hal yang dia tahu setelah itu adalah pantatnya menabrak lantai dengan keras. Dia mengerang dan mencoba berdiri. Tampak Sasuke baru saja mendorongnya – terlalu keras dan membuat dirinya terjatuh. Oh, bagus, sekarang aku sendirian dengan seorang pembunuh berdarah dingin, tidak berdaya, kelaparan dan setengah telanjang, pikir Sai terlalu mendramatisir.
Uchiha Sasuke menghela nafas berat sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dia menyilangkan kakinya dan melipat lengannya di depan dada, membuat dirinya senyaman mungkin sementara tatapan matanya tidak pernah lepas dari pemuda berkulit pucat. Sasuke tahu tatapannya membuat pemuda itu merasa terintimidasi. Sai terlihat kikuk dan sedikit tertekan. Pemuda itu hanya berdiri di tempat dia terjatuh, sesekali dia menoleh ke samping seolah sedang berdebat harus masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya atau bersikap seolah tidak ada apa-apa dan bergabung dengan Sasuke di sana.
Uchiha Sasuke tidak bisa mencegah seringaian muncul di bibirnya. Dia selalu menemukan itu sedikit menghibur, membuat salah satu murid pendiam dan cerdas menjadi begitu kecil di depannya. Pemuda bermata onyx itu berdeham, dan segera Sai melompat dan duduk bersamanya – dengan jarak terjauh darinya tentunya.
Sai duduk dengan lutut yang saling menempel dengan erat. Wajahnya menunduk dan salah satu lengannya menggantung di bahunya, menunjukkan dia ingin menutupi kulit telanjangnya tanpa sadar. "Setidaknya orang ini masih punya malu," pikir Sasuke. Bola mata pemuda onyx itu bergerilya di atas kulit pucat pemuda itu. Ada perasaan aneh yang menggelitik perutnya. Dan seolah dia harus menahan dirinya untuk tidak menyentuh perut datar pemuda berkulit pucat itu. Sasuke segera menggelengkan kepalanya dan mencibir apapun yang baru saja dipikirkannya ini. Mungkin otaknya sedang mengalami sedikit gangguan karena berbagai hal yang terjadi hari ini. Mendesah lelah, dia mencoba untuk hanya fokus pada mata pemuda di depannya itu.
Sai merasa mata onyx Sasuke pada dirinya. Ini benar-benar memalukan dan dia mengutuki dirinya berkali-kali di dalam hati. Merasa tidak nyaman, dia menggosok-gosok lehernya dengan jemari pucatnya. Udara mendadak menjadi sangat dingin dan dia benar-benar mendambakan sebuah pakaian yang layak untuk membungkus dirinya yang tampak menyedihkan. Memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan menatap Sasuke, Sai menemukan suasana ini begitu canggung.
"Umm..."
"Ah-" seolah ingat akan tujuan awalnya datang ke tempat pemuda berkulit pucat itu, Sasuke segera memotong ucapan Sai, "Ada sesuatu yang harus kuberi tahu padamu, namun karena aku tidak mempunyai nomer ponselmu aku terpaksa datang ke sini." Sasuke berkata sembari mengeluarkan ponselnya dan menatap Sai.
Sai mengangguk mengerti. Dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa ponselnya ada di kamarnya. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya, mencoba mengingat nomor ponselnya dalam hati. Dia jarang memberi tahu nomornya pada siapapun karena itu dia tidak merasa terlalu perlu untuk mengingatnya. Namun dia adalah seorang remaja dengan ingatan yang bagus setelah semua. Senang karena berhasil mengingat digit terakhir dari nomornya, dia mengatakannya pada Sasuke, sementara pemuda bermata onyx segera menggerakkan jarinya dengan cepat. Sasuke mengangguk setelah mendapat nomor Sai dan kembali memasukkan ponselnya di dalam saku.
"Kakakku ingin bertemu denganmu," ucap Sasuke kemudian yang di sambut oleh ekspresi terkejut di wajah pemuda berkulit pucat itu. Sasuke menghela nafas, tidak berniat untuk mengatakan alasan dibalik itu dan kembali berkata, "Dia berharap untuk bertemu denganmu malam ini namun aku bisa mengatakan kalau kau sudah tidur mengingat ini sudah larut – dan aku tidak mau mengantarmu kembali pulang di tengah malam."
Sai hanya menatapnya dengan wajah kosong dan benar-benar tidak mengerti. "Kakak Sasuke ingin bertemu denganku? Kenapa?" pikir Sai. Dia sadar dia tidak akan mendapatkan jawaban saat ini dan dia tidak cukup berani untuk bertanya pada Sasuke. Lengan kuat Sasuke yang menekan lehernya dengan erat tadi pagi masih terasa begitu jelas. Tentu dia tidak ingin hal itu terulang lagi saat ini.
"Hanya menuruti apa yang dia katakan dan tidak membuatnya marah," pikir Sai muram.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan.." ucap Sai lirih. Dia mendengar dengusan kepuasan dari lawan bicaranya sebelum kemudian pemuda bermata onyx itu bangkit. "Baiklah, besok sepulang sekolah di rumahku." Sai mengangguk dan bangkit juga dari tempat duduknya. Dia berniat mengantar Sasuke sampai setidaknya di depan pintu apartemennya – itu sudah merupakan kebiasaannya untuk mengantar siapapun yang telah bertamu di tempatnya. Dia akan mengantar Sasuke sampai depan gedung apartemennya jika saja dia memakai pakaian lengkap.
"Sampai jumpa di sekolah," ucap Sai sedikit berbasa-basi. Sasuke yang sudah hampir keluar menoleh kembali ke arahnya. Alis pemuda bermata onyx itu terangkat. Dia tampak sedang berpikir dan Sai gagal untuk membaca apa yang sedang dipikirkannya. Hal itu terjadi sangat cepat. Tau-tau pemuda berkulit pucat itu merasa punggungnya menabrak dinding dengan keras dan bibirnya dibungkam oleh bibir lain, kasar dan menyakitkan.
"Hmph!" Sai memejamkan matanya dengan erat ketika Sasuke menciumnya tanpa peringatan. Gigi mereka bertemu dan bibirnya tergigit kasar. Dia berharap itu tidak meninggalkan bekas luka atau orang-orang akan mengejeknya di sekolah.
Pemuda berkulit pucat itu segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya begitu Sasuke memisahkan ciuman mereka. Dia terengah-engah, begitu juga dengan lawannya. Mereka ada di posisi yang sama, saling menatap untuk beberapa saat. Sai tidak mengatakan apapun dan terlalu takut untuk mengambil resiko. Dia masih sedikit pusing akan ciuman Sasuke yang tiba-tiba tadi dan tatapan tanpa kata Sasuke hanya membuatnya semakin membeku.
Sebuah desahan lega lolos dari bibir tipis Sai ketika akhirnya Sasuke memberi jarak antara mereka. Sai meluruskan punggungnya dan menghela nafas panjang. Matanya tidak pernah lepas dari pemuda dihadapannya membuatnya tidak melewatkan perubahan ekspresi wajah Sasuke.
Pemuda bermata onyx itu tiba-tiba menyeringai. Tangannya tergenggam dan bersandar di bawah hidungnya, seolah menyembunyikan seringaian yang diam-diam berkembang di wajahnya.
"Hmph.. ternyata diam-diam kau menikmatinya."
Sai segera membelalakkan matanya, menyadari bahwa Sasuke hanya sedang menggodanya. Tentu saja dia. Tidak ada alasan bagi seorang Uchiha untuk benar-benar menciumnya. Apa yang baru saja dia harapkan? Sai mengutuki dirinya sendiri dan raut wajahnya mengeras. Bibir merah cerrynya mengerucut, kesal akan kebodohannya.
Pemuda yang sedikit lebih kurus itu membuang muka, membuat lawan bicaranya terkikik puas. Ada sedikit kilatan kesedihan dan kekecewaan di matanya. Dia tidak mengerti mengapa dia merasa seperti itu, dan dadanya yang terasa sakit sama sekali tidak membantu. Sai mencoba sebaik mungkin hanya terlihat marah. Dia kembali menatap mata onyx di depannya dan mendengus kesal. Sasuke hanya menyeringai dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah tuan putri, sampai jumpa besok," Sasuke melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. Pemuda bermata onyx itu menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di pintu apartemen Sai. Jari-jarinya berlari di atas rambut halusnya, wajahnya menunduk dan semburat warna merah samar-samar menghiasi kedua pipinya. "Apa yang baru saja aku lakukan..." gumamnya lirih.
.
.
.
.
to be continued
.
.
.
Cliff hanger, saya tahu! X D
Chapter depan akan dijelaskan siapa yang memberitahu Itachi soal Sai dan Sasuke dan juga pertemuan Sai dan Itachi untuk pertama kalinya XD
Tapi... kemungkinan besar selama bulan puasa ficnya hiatus dulu, lanjut setelah ramadan ya... Happy fasting month everyone! : )
.
.
.
Review?
