CHAPTER 2 : Their Feeling

Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang telah dirapihkan. Hari ini ia akan pulang, ehm, tepatnya akan tinggal di flat milik Hinata untuk sementara waktu. Sasuke sudah melepas pakaian rumah sakitnya, sekarang ia mengenakan pakaian seperti biasa; kaos hitam dan jeans –yang baru Hinata pinjam dari temannya beberapa hari lalu.

Sudah seminggu lebih ia bertahan di Rumah Sakit Iwa. Sudah seminggu lebih ia jauh dari Konoha –kota asalnya. Sudah seminggu lebih ia berusaha melupakan Haruno Sakura. Meskipun lambat laun pikirannya mulai meringan, luka di hatinya mulai memulih, tetap saja Sakura tidak kunjung enyah dari pikirannya.

Setidaknya ... dengan melarikan diri, ia bisa sedikit-sedikit melupakan Sakura.

Kesannya, Sasuke melarikan diri dari kenyataan. Meskipun mau tidak mau, kenyataan itu pasti akan datang menghampiri dirinya.

Biarlah.

Biarlah ia istirahat sejenak. Kalau bisa, ia mau tinggal lebih lama di strange town ini.

Bertahan di kota ini membuatnya terlepas dari semua beban yang ia tanggung. Lepas dari pekerjaannya, calon direktur Uchiha's corp –perusahaan yang cukup terkenal di Kota Konoha– menggantikan posisi ayahnya, yang membuatnya sibuk tiada henti. Bebas dari omelan, nasihat dan tekanan dari orang tua.

Setelah memberikan hand bag kepada salah seorang suster, Hinata menghampiri Sasuke. "Ka-kau su-sudah siap?" tanya Hinata. Ia mengamati lengan sebelah kanan Sasuke yang masih dibalut perban. Hinata merasa menyesal karenanya. Luka terparah yang Sasuke dapati iyalah di lengan sebelah kanannya.

Seharusnya semua perban itu sudah dilepas jika Sasuke bertahan di rumah sakit lebih lama, tetapi Hinata yang berpenghasilan pas-pasan tidak sanggup membayarnya. Bahkan sebagian tagihan rumah sakit dibayar oleh Mr. A dan uang tabungan Hinata sendiri.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

"Ayo kita pergi." Ajak Hinata sembari menuntun Sasuke untuk berdiri.

Sasuke tidak berjalan layaknya orang normal. Yah, untuk sementara waktu ia akan sedikit pincang. Mereka pun sampai di depan Chevy Bell Air merah itu. Hinata membantu Sasuke untuk duduk di jok depan –di sebelah kursi pengemudi–.

JLEB!

Hinata menutup pintu sebelum mengenakan sabuk pengaman. Ia mulai menyalakan mesin dan Sasuke masih kesulitan untuk memasang sabuk pengaman. "Si-sini aku bantu." Ucapnya seraya memasang sabuk pengaman milik Sasuke.

"Mobil ini milikmu?" tanya Sasuke basa-basi.

Hinata kembali memegang setir dan mulai melajukan Chevy-nya pelan. "Se-sebenarnya i-ini milik temanku."

"Apakah barang-barangmu ini hasil pinjaman semua? Termaksud baju yang kukenakan sekarang?" Sasuke mengamati baju XL-sized yang tertera tulisan "I Love Alcohol". Baju ini pasti bukan milik Hinata.

Hinata hanya tertawa pelan. "Oo, i-itu punya temanku."

"Temanmu lagi." Sasuke menatap Hinata heran sampai akhirnya ia sedikit terlonjak ke belakang karena kecepatan Chevy Bell Air ini mulai meningkat menjadi 90 kilometer per jam.

Jalanan di kota Iwa memang selalu sepi. Tidak biasa para pengemudi di sini mengemudi dengan kecepatan rendah. Bahkan gadis lugu seperti Hinata bisa membawa mobil tua ini ala pembalap mobil saja. "I-iya, se-sebenarnya dia rekan kerjaku dulu." Hinata menatap Sasuke sekilas lalu kembali memandang ke depan.

Sasuke hanya melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak ada pembicaraan yang menarik. Sasuke akui, ia memang tidak suka berbicara pada dasarnya. Ia lebih suka mendengar, Aa, kadang mendengarkan pun malas. Selain itu, ia topicless.

Chevy Bell Air berwarna merah itu terus berjalan, menuju ke flat di mana Hinata tinggal. Langit mulai gelap. Semburat merah mulai hilang sedikit demi sedikit.

"Sa-Sasuke-kun." Hinata mengisi keheningan yang telah tercipta selama 15 menit itu.

"Hn?"

"Ba-bagaimana ka-kalau kau kumasukkan ke media." Ucap Hinata pelan dan agak ragu.

'What?!' Sasuke mendelik, menatap perempuan di sebelahnya. "Maksudmu?" ujarnya dengan nada sedatar mungkin. Padahal jelas sekali, ia panik.

"Aku akan buatkan iklan mengenai dirimu. A-aku yakin, pasti ada orang yang mencarimu. Keluargamu mungkin, atau pacarmu, atau mungkin istrimu."

"Urusai."

'Justru merawatmu akan jauh lebih merepotkan.' Umpat Hinata dalam hati, "Ne, Sasuke-kun. Kau tidak bisa tinggal selamanya di flatku. Nanti orang akan mengira yang tidak-tidak."

"Aku ini korban pembunuhanmu, seharusnya kau tidak lari dari tanggung jawab." Balas Sasuke asal sambil berdecak kesal. Kenapa ia harus kesal? Seharusnya ia senang karena Hinata mau membantu Sasuke supaya cepat pulang ke tempat asalnya. Oh tidak, Sasuke tidak amnesia sepenuhnya. Ia hanya bersandiwara. Sandiwara yang ia lakukan agar mendapat belas kasihan dari Hinata. Sandiwara yang ia lakukan agar misinya untuk melarikan diri tetap berjalan.

"Bu-bukannya aku lari dari tanggung jawab, tapi ..." Hinata menggantungkan kalimatnya, "aku hanya khawatir dengan keluargamu. I-itu saja."

'Keluarga? Yang benar saja! Aku berani taruhan, Otousan, Okaasan, Oniisan, tidak ada yang peduli.' Sasuke hanya bisa mendesah pasrah. Lebih baik ia mengikuti alur cerita Hinata daripada sandiwaranya terbongkar. "Terserah."

"Aku juga akan meminta bantuan polisi." Tambah Hinata yang membuat Sasuke tambah murung. Sasuke sepertinya sama sekali tidak menghiraukannya. Tidak mendengarkan perkataannya barusan.

"Tenang, ne, Sasuke-kun. A-aku tidak akan membiarkan keluargamu terkejut melihat kondisimu sekarang." Hinata mengulum senyum sambil menahan tawa. Melihat kelakuan Sasuke seperti anak kecil yang permintaannya tidak dituruti ibunya. "Kau bo-boleh tinggal di flatku, se-setidaknya sampai kau benar-benar pulih."

Mimik mukanya masih datar seperti sebelumnya. "Hn."

xxXXxx

Sampailah kedua insan itu di Apartemen dimana flat milik Hinata berada. Hinata membawa hand bag yang berisi beberapa pasang baju. Setelah sampai di depan flat, Hinata lekas membuka pintu. Keduanya pun masuk ke dalamnya.

Harum bunga lavender menyambut kedatangan mereka. Flat berukuran kecil ini terlihat sangat rapi dan sederhana. Hanya terdapat beberapa perabotan di dalamnya –meja pendek, sofa berwarna coklat, TV, lemari, barang-barang dapur yang sengaja disatukan dengan ruang tengah juga perabot lainnya. Di dalam terdapat lagi dua pintu –pintu kamar mandi dan kamar tidur–.

"Kau bisa tidur di kamarku, Sa-Sasuke-kun." Ucap Hinata agak ragu. Membiarkan orang lain menempati kamarnya? Rasanya enggan. Melihat kondisi Sasuke yang kurang baik, ia harus merelakannya. Mau tidak mau.

"Urusai, biar aku yang tidur di sofa." Tanpa aba-aba Sasuke berjalan ke arah sofa, merebahkan dirinya di atas.

"Eh? Ta-tapi–"

"Kau mau aku obrak-abrik isi lemarimu? Membuka seluruh privasimu?" Hinata mendelik mendengarnya. Ia pun langsung menggeleng. "Kalau begitu, tidurlah. Besok kau pasti akan sibuk." Ucap Sasuke sebelum menutup kedua matanya. Kedua tangannya ia letakkan di atas kepala.

Rasanya lelah sekali hidup ini ...

Hinata mendesah pasrah. Akhirnya ia lebih memilih untuk berjalan ke kamarnya. "Oyasumi." Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.

"Hn."

Ruangan itu tampak hening sekarang. Tidak ada suara. Hanya suara AC yang mengisi.

Sasuke masih memejamkan matanya. Menghirup setiap udara kebebasan yang didapatnya sekarang.

Untuk pertama kalinya, Sasuke mengerti apa yang namanya hidup tanpa paksaan. Tanpa pekerjaan yang mengobrak-abrik isi otaknya. Tanpa dirinya ... Ah, yang penting yang ia nikmati sekarang hanyalah udara kebebasan.

Semuanya –pekerjaan, keluarga, cinta; biang masalah– terlepas dari pikirannya.

xxXXxx

Hinata membuka kelopak matanya pelan. Rasanya ada yang mengganjal sehingga ia terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya –memperjelas penglihatan–.

Tidak ada yang berubah.

Kamarnya masih sama seperti yang dulu. Kamar berlapis cat berwarna krem, dengan lemari yang berdiri di sebrang tempat tidur, karpet yang terletak di atas lantai, gantungan yang berdiri di sebelah lemari, juga meja kecil di sebelah tempat tidur.

Tunggu. Sepertinya ia melupakan sesuatu?

Dengan sigap Hinata melirik ke arah di mana jam wekernya berada. 'Jam 12 siang?!' Ia turun dari ranjangnya. Membuka pintu dan mendapati tidak ada siapa-siapa di luar. "Sa-Sasuke-kun!" panggilnya. Setelah mengambil jaket jeans kesayangan untuk menutupi tubuhnya –yang sebelumnya hanya ditutupi daster putih di atas lutut– ia bergegas keluar pintu. "Sasuke-kun!" panggilnya lagi.

Yang dipanggil tidak menyaut. Bahkan tidak berada. 'Kami-sama, kemana orang itu?' detak jantung Hinata semakin cepat saja. Bagaimana kalau Sasuke menghilang begitu saja? Aah, merepotkan!

"Hinata?" tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya dan mendapati pria berambut pirang panjang sambil menatapnya bingung. "Kenapa kau terlihat panik begitu?"

"De-Deidara-senpai, apa kau lihat pria bertubuh tinggi. Rambutnya hitam jabrik. Tangannya diperban, la-lalu umm .. Aa, dia mengenakan bajumu yang 'I Love Alcohol'. A-apa kau melihatnya?" tanya Hinata dengan raut wajah sepanik mungkin.

"Oh, dia? Sepertinya ada di kamarku." Jelas Deidara santai. Ia kini tengah berdiri di ambang pintu flatnya, mengenakan setelan jas rapih. Deidara adalah salah satu tetangga Hinata yang sama-sama pernah bekerja di Bar 69. Hanya saja Deidara sudah memiliki pekerjaan tetap sekarang; Anggota dari Akatsuki Company dan memiliki jabatan yang cukup tinggi.

"Ka-kamar Deidara-senpai?!" Hinata mengerjapkan matanya, tidak percaya. Apa yang Sasuke lakukan di sana?

"Oo, sepertinya ia baru saja diculik para wanita-wanita. Seharusnya kau berhati-hati kalau mau membawa pria setampan dia." Tukasnya setengah meledek.

Hinata menghela nafas lega. "Aa, se-sebenarnya dia hanya tanggung jawabku saja."

"Yare yare, aku lupa bahwa dia adalah korban tabrak lari-mu." Canda Deidara. Hinata ingin menyela namun Deidara sudah lebih dulu berujar, "sudahlah, masuk saja." Ujar Deidara sembari membuka pintu flatnya. Ia pun segera berpamitan dan pergi meninggalkan Hinata yang masih mematung.

Hinata menoleh ke arah flat milik Deidara yang terlihat sangat berantakan. Hinata mengelus dada, mendapati Sasuke sedang dikerubuni para tetangganya itu. "Sumimasen, ta-tapi Sasuke harus istirahat."

Kontan para gadis yang sibuk mengerubungi Sasuke menoleh ke arah Hinata. Menatap Hinata sinis. "Siapa dia, Sasuke-kun?" ucap salah seorang gadis yang berambut pirang.

"Iya, kau ini siapanya?" kali ini gadis yang memiliki rambut berwarna hijau ketuaan menanyakan Hinata. Logatnya yang kecentilan membuat Hinata sedikit jijik.

Sasuke tampaknya tidak bisa berkata apa-apa. Mengingat kenapa ia bisa berada di kamar Deidara, membuatnya bergidik ngeri. Tempat ini benar-benar mengerikan. "Di-dia, dia ..."

"Dia calon suamiku. Kalian bisa tidak menganggunya?" ucap Hinata tegas yang berhasil membuat segerombolan wanita-wanita itu melongo.

"What?!"

"Katanya kamu single, Sasuke-kun?"

"Kamu pasti bohong! Setahuku, Hinata tidak memiliki hubungan dengan siapa-siapa."

"Pasti kau mengarang, ya kan, Hinata?"

Bertumpuk-tumpuk pertanyaan diberikan kepadanya. Hinata hanya bisa diam. Kenapa ia nekad berkata seperti itu, padahal jelas sekali, ia akan mendapat tatapan mengerikan dari para wanita penghuni flat-flat di Apartemen ini yang memang demen dengan laki-laki muda dan tampan. Hinata pun memilih untuk mengarang, daripada Sasuke terus-terusan terperangkap di antara mereka. "Oh, di-dia baru pulang dari, umm ..."

"Suna." Lanjut Sasuke asal, "jadi bisa kalian pergi? Aku ingin pulang."

Para wanita-wanita itu mendengus kesal. Mereka melebarkan jaraknya dengan Sasuke, sehingga Sasuke bisa menarik nafas lega. Sasuke lekas berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri Hinata yang masih mematung di depan pintu.

"Ayo pulang, sayang ..."

Hinata tersentak mendengarnya. "Aah, i-i-i-i-iya." Kali ini Hinata gugup dua kali lipat. Yang membuat Hinata lebih kaget lagi, Sasuke merangkul bahunya. Semua gadis kontan emosi. Api kemarahan menjadi background mereka. Bagaimana bisa Hinata –gadis polos dan lugu itu– mendapat perhatian dari laki-laki tampan dan perfect seperti Sasuke?

Kini wajah Hinata memerah. Lebih merah dari hari biasanya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Kau kenapa bergetar?" tanya Sasuke heran, mendapati tubuh Hinata yang menegang. "Oh, gomen." Sasuke langsung melepas rangkulannya.

Hinata masih tidak bergeming. Ia membuka pintu flatnya. "A-apa yang kau lakukan tadi?"

"Seharusnya aku yang bertanya, apa maksud dari 'calon suamiku' itu, huh?" balas Sasuke. Hinata terus berjalan ke arah sofanya sampai ia menjatuhkan tubuhnya di sana.

"I-itu? Aku hanya ingin melindungimu."

Sasuke mengambil posisi di sebelah Hinata. "Melindungiku?"

"Y-ya, wanita-wanita itu, benar-benar mengerikan."

"Oh." Tanggapnya. Masih ada pertanyaan yang menghantuinya, "kenapa aku berada di flat milik ... siapa tadi namanya, ehmm ..."

"Deidara-senpai?"

"Ya. Siapa dia?"

"Di-dia, dia tetanggaku. Aa, dia senang bermain dengan wanita-wanita di sini. Jangan heran kenapa kau bisa masuk ke flatnya. Aku rasa wanita-wanita itu sudah menjadinya flat Deidara-senpai sebagai basecamp-nya." Ucap Hinata sembari terkekeh pelan.

Sasuke mengingat kembali dimana ia diseret secara paksa oleh wanita-wanita itu. Niatnya, ia hanya ingin melihat-lihat apartemen dimana Hinata tingga, eh, tidak tahunya ia bertemu dengan segerombolan wanita itu. Tanpa perlawanan –dan berhubung tubuhnya masih terasa sakit– ia rela dibawa oleh mereka secara paksa.

"Ne, kau sudah makan, Sasuke-kun?" ujar Hinata membuyarkan lamunan Sasuke. Sasuke menggeleng lemah. Ia benar-benar lapar, mengingat ia tidak makan semalam. "Ka-kalau begitu, aku buatkan Udon, ya?"

"Baiklah."

xxXXxx

"Kau tinggal sendiri, hm?" tanya Sasuke dalam perjalanan mereka ke Bar 69. Hari ini Hinata akan mulai bekerja kembali. Sasuke mengamati Hinata dari bawah hingga atas. Pakaiannya benar-benar minim. Apa sebenarnya pekerjaannya? Mengingat baru jam 7 malam ia berangkat.

"Ya. Ke-kenapa?" tanya Hinata sembari menoleh ke arah pria di sebelahnya. Hari ini mereka tidak menggunakan Chevy Bell Air –berhubung mobil tua itu dipinjam oleh Sasori-senpai, tetangganya yang lain.

"Keluargamu?" tanyanya lagi.

Air muka Hinata berubah ketika mendengar kalimat itu. 'Keluargaku ya...?' "Entahlah." Jawabnya acuh. Ia sama sekali tidak ada hasrat untuk mebahasnya.

Melihat perubahan mimik wajah Hinata, Sasuke lekas mengganti topik. "Apa pekerjaanmu sebenarnya?"

"Pelayan di Pub." Jawab Hinata singkat. Moodnya masih belum membaik.

"Pelayan? Maksudmu ..."

"Tidak, aku bukan wanita penghibur. Aku jamin itu." Potong Hinata kontan. Ia mengerti apa yang Sasuke maksudkan.

"Meskipun sudah mendapat jawaban, Sasuke sama sekali tidak suka dengan pekerjaan Hinata itu, tanpa diketahui alasannya. "Oh." Tanggap Sasuke singkat. Kali ini benar-benar hening sampai akhirnya mereka sampai Bar 69. Tidak perlu kendaraan, dengan berjalan kaki pun mungkin hanya memakan 30 menit. Selain itu, sunyinya kota ini membuat jalanan tidak begitu padat. Meskipun mereka dapat melihat sekarang bahwa Bar 69 ramai seperti biasanya.

"Kau duduk saja di bar, Sasuke-kun." Hinata melepas jaket yang menutupi seragam kerjanya –kemeja tanpa lengan dan rok hitam nan ketat 15 centi di atas lutut.

Melihat Hinata berpakaian tidak senonoh seperti itu membuat Sasuke mengerjap tidak percaya. Memang, ia mengenal Hinata tidak lebih dari satu minggu. Memang, selama ia dirawat, Hinata selalu berpakaian sopan dan sederhana. Memang, Hinata selalu terlihat polos dan lugu di matanya. Tapi tidak malam ini. Malam ini ia terlihat berbeda. Ia yakin, kepribadian Hinata tidak sama dengan wanita-wanita lain yang juga bekerja di Pub ini. Hinata itu berbeda. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk tinggal di lingkup seperti ini.

Hinata pun menghilang di balik pintu yang menghubungkan dengan dapur. Sasuke yang diam sedari tadi akhirnya lebih memilih untuk menuruti kata Hinata –duduk di dekat bar, dimana Mr. A mulai melancarkan aksinya.

"Yo, kau pasti Sasuke kan?" sapa pemuda bertubuh besar dan atletis itu.

Sasuke menatapnya bingung. "Hn."

"Oh ya, aku A, Panggil saja Mr. A. Atasan Hinata." Kenalnya. Tangannya masih sibuk menggerak-gerikan gelas dengan botol alkohol. "Kau mau minum apa?"

"Champagne, please?"

"Alright."

Sambil menunggu, Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Pub ini sangat ramai –penuh oleh pria-pria liar–. Musik berdengung dari balik stereo. Sasuke tidak mengenal judul musik itu, hanya saja ia tahu bahwa musik itu bergenre hip hop, atau dance, atau semacamnya.

Wanita-wanita yang berpakaian seragam dengan Hinata sibuk mengantarkan pesanan. Di antaranya ada yang melayani dan menemani pengunjung. Ada juga yang perform di atas panggung mini –memamerkan tiap lekuk tubuh mereka dengan menari-nari– dimana panggung itu dikerubungi para laki-laki.

Sasuke tidak begitu menyukai tempat ini. Yah, meskipun ia akui, dulu ia sering sekali ke Pub.

"Enjoy." Suara Mr. A berhasil mengalihkan perhatian Sasuke.

Segelas champagne sudah berdiri di hadapannya. Dengan cepat ia langsung menegak champagne itu sampai habis –entah apa yang mendorong Sasuke untuk menegak alkohol lagi–. Hal itu membuat Mr. A berdecak kagum. "Wow, sepertinya kau alcoholic."

Sasuke hanya tersenyum tipis. "Mungkin. One, please."

Pengaruh alkohol membuat pikirannya mengulang kejadian tempo waktu. Dimana ia berdiri di ambang pintu. Menyaksikan adegan dimana dua orang. Beradu di atas tempat tidur. Dan Sasuke begitu mengenal keduanya.

Yang satu adalah tunangannya. Yang satu lagi adalah sahabatnya.

'Brengsek!'

Segelas champagne sudah siap di depannya. Dengan cepat ia menegak kembali hingga habis. Kepalanya terasa tambah nyeri. Seperti diputar-putar.

'Haruno Sakura, Uzumaki Naruto ... Kalian berdua brengsek!'

"Satu lagi!" teriak Sasuke berhasil membuat Mr. A melongo.

"Kau mabuk, Sasuke?"

Sasuke kontan menggeleng. "Dua gelas? Tidak seberapa. Aku bisa meminum 10 gelas kalau kau mau." Ujarnya setengah sadar.

Sudah lama ia tidak menegak alkohol. Seingatnya, setelah kejadian itu, ia baru menegak alkohol lagi. Hal itu yang mengendalikannya untuk pergi ke Iwa tempo waktu.

"Ba-baiklah."

Sasuke bertemu lagi dengan alkohol. Cairan yang bisa mengobrak-abrik otaknya secara langsung. Cairan yang mengembalikan dirinya ke masa lalu. Masa lalu yang seharusnya ia lupakan. Ia tidak hadirkan selama di kota Iwa. Hanya saja ketidaksengajaannya ini malah membuat pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar. Pertanyaan yang belum ia dapat jawabannya.

Kenapa Sasuke harus mengalaminya? Kenapa ia datang disaat mereka malakukan itu? Kenapa wanita yang paling ia sayangi mau melakukannya? Mengkhianati dirinya? Kenapa? KENAPA?!

Kenapa harus dengan sahabatnya? Kenapa tidak dengan orang lain?

Lalu, kenapa Tuhan biarkan ia mengetahui semua kebohongan ini? Kenapa Ia biarkan Sasuke melihatnya, mengetahauinya? Jelas sekali, ia pasti akan sulit menerimanya. Jauh lebih baik hidup di bawah kebohongan, daripada menerima kenyataan seberat ini.

Tanpa sadar, ini sudah gelas yang ke-6-nya. Tanpa henti Sasuke meminta, menegak champagne-nya sampai habis. Rasa perih ia rasakan. Tidak hanya di otaknya, namun di relung hatinya yang terdalam.

"Aku tau Sasuke, Hinata yang akan membayarkan semuanya. Tapi kira-kira Sasuke, ini sudah gelas yang ke-7. Kau bisa mabuk berat. Kau bisa ambruk!" tukas Mr. A sembari meratap Sasuke khawatir.

Pemuda di depannya ini benar-benar kacau. Mata onyxnya tersembunyi rasa kekecewaan. Tersirat rasa sakit yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Begitu menyadari segelas champagne berikutnya sudah berdiri di hadapannya, ia langsung menegaknya. Tanpa mendengarkan omelah pria paruh baya di hadapannya.

Kepalanya pusing. Perutnya mual. Mulutnya ingin mengeluarkan sesuatu, tapi ... ia tidak tahan lagi untuk menerima semuanya secara langsung. Semua rasa sakit yang tengah dipendamnya.

Sampai akhirnya, ia jatuh. Kesadarannya ikut hilang.

xxXXxx

"Sasuke-kun." Suara itu berdengung di kepalanya. Suara yang ia rindukan. Suara yang dimiliki gadis pujaannya. Gadis yang seharusnya masih bersanding sebagai tunangannya. "Maaf. Aku mengkhianatimu."

Mata onyx itu basah. "Jangan tinggalkan aku ..."

"Maaf telah melukaimu."

"Sakura ..." suaranya tercekat. Setetes air mata mengalir di pipinya.

"Gomenasai."

Dan suara itu pun lenyap tiba-tiba. 'Yang aku inginkan, agar kau tetap berada di sisiku, Sakura ...' tapi kata-kata itu tak bisa tersampaikan.

Tatkala gadis itu tengah lenyap.

xxXXxx

Ia membuka matanya. Mendapati dirinya terbaring di atas tempat tidur. Matahari tengah menampakkan wujudnya, membuat kedua mata Sasuke menyipit akibat sinar yang diberikannya.

Sungguh, ia benar-benar lupa kejadian semalam.

"Sa-Sasuke-kun?"

Suara itu mengalihkan pandangannya. Hyuuga Hinata tengah duduk di sebelahnya. "Hi-Hinata?"

"Kau tidak apa-apa?" raut wajahnya khawatir. Matanya sembab. Apakah ia baru saja menangis? Menangisi Sasuke? Untuk apa?

"A-aku ... akh." Sasuke meringis setelah ia mencoba untuk duduk. Kepalanya terasa pening.

"Sa-Sasuk-kun, kau belum benar-benar pulih." Hinata mencoba untuk mencegah aksinya.

Sasuke hanya bisa mendesah pasrah. "Apa yang terjadi?"

"Semalam kau ambruk. Kau terlalu banyak minum." Jelas Hinata. Ia mulai meraba kening Sasuke dengan punggung tangannya. "Ka-kau kenapa ...?" tanyanya pelan.

Sasuke juga tidak tahu. Dirinya itu kenapa? Kenapa ia bisa sehancur ini? "Entahlah."

Hinata menggenggam sebelah tangan Sasuke. Entah apa yang membuat ia melakukannya. Yang Hinata inginkan saat itu, menenangkan pria di hadapannya itu.

Sasuke mendelikkan matanya. Menatap perempuan di sebelahnya yang tengah menatapnya prihatin. Seolah-olah perempuan itu juga merasakan pedih yang ia rasakan. "Mu-mungkin ada hubungannya dengan amnesia-mu. Otakmu belum sepenuhnya sembuh, Sa-Sasuke-kun, seharusnya kau tidak mabuk-mabukan seperti itu." Ucapnya sembari mempererat genggamannya. Nada bicaranya sedikit bergetar. Apa ia sedang menahan tangis?

Masih menatap Hinata, Sasuke mematung. Lidahnya kelu. Sedikit demi sedikit, kehangatan mulai dialirkan dari genggaman tangan perempuan itu. Membuat nafasnya yang tercekat, melonggar sedikit demi sedikit. Luka di hatinya yang menganga, mulai merapat. "Atau mungkin, masa lalu mulai menghantuiku ..." Sasuke memotong kalimatnya. "masa lalu yang tidak ingin kuingat lagi. Yang ingin kubuang jauh-jauh."

"Mungkin."

Keheningan pun menyapu suasana. Angin bersemilir pelan, menyentuh lembut kulit mereka.

Tidak perlu kata-kata, hanya bunyi detak jantung yang mengisi kekosongan siang itu.

tobikontinyu

Catatan:

Maaf author gak bisa merangkai kata-kata, author udah berusaha kok

Maaf banyak typo, sumimasen ...

Maaf kalo ceritanya aneh dan maksa, hiks ...

Oya mau nanya. Kira" kedekatan Hinata sama Sasuke cepet banget gak ya? Berhubung mereka udah kenalan selama seminggu lebih, takut kesannya kecepetan gitu =.=a

Oya, kira" ini kalo rated M gimana? Takut chapter depan"nya lagi ada adegan yang begitu =.=; minta pendapatnya yaaa

Give me ur opinoin :D

Yang penting, reviewnya ya semua !