CHAPTER 3 : Staring Stars

Terik Matahari membuat penduduk kota kecil ini malas untuk keluar. Bisa dihitung jumlah orang yang berlalu-lalang semakin menipis, apalagi kendaraan bermotor. Apa mungkin ada event lain sehingga orang-orang jaran terlihat?

Angin tidak henti-hentinya berhembus –membawa debu dan panas– menambah gersang keadaan.

Hanya saja tidak untuk Hinata yang bersemangat sekali untuk menyusuri Kota Iwa. Menemani Sasuke yang sekedar ingin tahu mengenai kota ini. Melihat cuaca yang kurang baik, Sasuke enggan untuk jalan-jalan sebenarnya. Tetapi Hinata sudah berjanji dan tetap memaksa untuk menemani Sasuke, menjadi tour guide-nya.

'Yang mau jalan-jalan siapa, kenapa dia yang maksa?' umpat Sasuke sembari mengedarkan pandangannya.

Kini mereka sedang berada di pusat kota –dimana Mall, bioskop, restoran berdiri–. Sudah hampir satu jam mereka mengelilingi tempat itu, namun tidak ada yang menarik perhatian Sasuke. Ia lebih baik diam di flat, ditemani AC dan TV. Sasuke pun mendesah. Rasanya lelah sekali, padahal baru 60 menit berjalan.

"Ka-kau haus, Sasuke-kun?" tegur Hinata setelah melihat wajah Sasuke yang sedikit pucat. Dehidrasi mungkin?

'Iya!' tapi gengsi pria itu mulai muncul. Masa pria berkarir sepertinya ditraktir oleh wanita yang hanya bekerja sebagai pelayan Pub –meskipun di mata Hinata sekarang, Sasuke hanyalah korban kecelakaan dan menderita amnesia. Sasuke pun menggelengkan kepalanya lemah.

"Souka? Aku saja yang beli kalau begitu." Ujar Hinata dengan tampang sepolos mungkin.

Sasuke ingin menarik kembali kalimatnya barusan, tapi ... Aduh, gengsinya kumat lagi! Akhirnya ia lebih memilih mengikuti perempuan itu yang kini tengah berjalan ke arah Vending Machine yang berdiri di depan sebuah toko –entah toko apa, Sasuke tidak begitu memperhatikannya. Berdiri pasrah di sebelah gadis itu tanpa diberi minuman.

Hinata kini memasukkan koin dan memilih jenis minumannya. "Ini." Hinata menyodorkan sekaleng Cocacola setelah sekaleng Coke itu keluar.

"Eh, aku–"

"Sudahlah. Tidak usah malu begitu." Hinata tertawa pelan, lalu kembali memasukkan koin ke Vending Machine.

Sebenarnya Sasuke ingin menolak tapi tenggorokannya benar-benar kering. Lagipula, menolak permintaan orang juga tidak mengenakan. Sasuke membuka kaleng Coke-nya. Sembari meminum sekaleng Cocacola itu, ia mengamati toko yang ada di hadapannya. "Hn, toko DVD." Gumannya pelan setelah melihat beberapa poster film dan deretan DVD dari balik kaca.

"Kau mau nonton?" tembak Hinata tiba-tiba setelah ia mendapatkan Coke-nya.

Sasuke tersentak ketika menyadari Hinata sudah berdiri di sebelahnya. Sama-sama mengamati isi toko itu. "Tidak, yah, hanya saja film-film di flatmu membosankan semua." Tanggapnya jujur.

"Oh ya?" Hinata mengkerutkan dahinya. "Se-semua koleksi itu milik Niisan-ku."

"Oniisan?"

"Lu-lupakan." Ujarnya cepat. Malas mengingatnya.

Ingin Sasuke bertanya lagi namun ia mengurungkan niat. Setiap membahas tentang keluarga, raut wajah Hinata berubah drastis. Kesannya tidak suka ketika mendengar satu kata itu.

"Tapi DVD di sini mahal." Hinata mengganti pembicaraan setelah menegak Coke-nya.

"Aku tidak minta kau untuk membelikannya." Balas Sasuke.

"Kalau begitu kita nonton di bioskop saja." Usul Hinata berseri-seri. "Sudah lama aku tidak ke sana."

Sasuke menanggap ringan. "Boleh."

Dan setelah itu mereka meninggalkan tempat itu. Tidak jauh dari tempat mereka barusan, berdiri sebuah bioskop. Bioskop satu-satunya di Kota Iwa. Bioskop ini terletak strategis, di sebelah Iwa's Plaza dan persimpangan jalan.

"Iwa Theatre." Gumam Hinata setelah berdiri tepat di bioskop itu.

Sasuke memandangi gedung bertingkat 3 itu. Tidak terlalu besar dan model bangunannya seperti bangunan-bangunan kuno. Tapi jangan salah, isinya lebih modern dibandingkan tampilan luarnya. Seperti bioskop-bioskop biasa di Kota Konoha –menurut Sasuke.

"Kau ingin nonton apa?" Hinata membuka pintu kaca berdaun dua itu, disusul oleh Sasuke yang kini mengalihkan pandangannya ke deretan poster-poster film berlabel "Now Showing". Sasuke menghela nafas lega ketika ia disambut oleh Air Conditioner.

"Terserah."

"Aku tidak suka horror."

"Aku juga tidak mau." Balasnya masih sibuk melihat-lihat deretan poster film.

"Kalau romantis?" canda Hinata lagi sambil terkekeh pelan. Mana mungkin Sasuke mau nonton film yang bernuansa romantis, drama dan sejenisnya.

"Terserah."

Entah sudah keberapa kalinya ia mendengar kata "Terserah" meluncur dari bibir tipis Sasuke. Akhirnya Hinata memutuskan. "Kalau begitu, kita nonton One Piece *1) saja." Ucapnya sedikit kesal. Setidaknya Sasuke memberi pendapat sedikit, jadi nantinya Hinata tidak ragu atau bingung.

"Heh?" Sasuke mendelik. "Jangan anime."

Hinata berdecak kesal. "Ck, jadi maunya apa?"

Sasuke berpikir sejenak sampai akhirnya tangannya menunjuk sebuah poster bergambarkan dua orang perempuan dan laki-laki. "Itu."

Kini gantian Hinata yang membelalakkan matanya. "P-P.S I Love You?"

"Aku hanya tertarik dengan actornya, Gerard Butler." Ujar Sasuke cepat sebelum Hinata mengira yang enggak-enggak.

Hinata ber-oh panjang. "Ok kalau itu yang kau mau, baiklah." Dan setelah itu mereka berjalan ke arah loket untuk membeli tiket.

xxXXxx

Film yang diputar selama hampir 2 jam itu menguras habis air mata Hinata. Sasuke yang tampaknya tidak mudah tersentuh hanya menguap sepanjang film. Hampir saja ia tertidur.

"Tadi benar-benar–" Hinata menarik nafasnya panjang. Mereka tengah berjalan keluar bioskop. "Menyentuh. Sangat manis. Andai aku memiliki suami seperti dirinya." Komentar gadis itu lagi. "Gerard Butler sangat romantis di sana, iya kan, Sasuke-kun?"

Jujur, sepanjang perjalanannya keluar hingga mereka kini sudah berada di luar bioskop, Sasuke tidak memperhatikan perkataan Hinata. "Hn?"

Hinata mengkerutkan dahinya. "Kau tidak mendengar ya?" ucapnya sedikit kesal.

"Gomen. Kau bilang apa?"

"Lupakan."

Mereka terus berjalan, tanpa percakapan sedikit pun. Entah kemana tujuan mereka, yang mereka lakukan sekarang hanya berjalan menelusuri kota. Untungnya sinar matahari tidak begitu terik.

"Kau marah, Hinata?" perkataan Sasuke berhasil memecahkan keheningan.

Hinata yang lebih pendek dari Sasuke pun mendongakkan kepalanya. Menatap pemuda itu dengan raut wajah yang kecewa. "Kau tidak menikmati filmnya?"

"O-oh, sangat menikmati." Dusta Sasuke.

"Padahal kau yang milih." Hinata menghela nafas panjang.

"Aku salah pilih."

"Kalau begitu sia-sia 20 ryo-ku?"

"Tidak. Aku seneng kok." Sasuke menggantungkan kalimatnya sejenak, "selama ada kamu di sisiku."

Mendengar itu Hinata pun langsung tergelak. "Be-benarkah?" ia pun kembali tertawa.

Sasuke mengkerutkan dahinya. "Apanya yang lucu?" Sungguh, pemuda itu tidak pernah melihat Hinata tertawa seperti itu.

Di matanya, Hinata sangat manis ketika tertawa. Hal itu membuatnya menyunggingkan seulas senyuman, meskipun tipis.

Hinata dengan sangat terpaksa menghentikkan tawanya. "Ti-tidak. Hanya saja kalimatmu tadi."

"Bukan itu maksudku. Jangan berpikiran yang aneh-aneh." Sangkal pria berambut raven itu langsung.

"Ya, ya, aku mengerti. Se-setidaknya kamu tidak sendiri di flat, meratapi tanganmu yang masih dibalut perban, atau menonton koleksi DVD-ku yang sama sekali tidak bermutu itu kan? Makanya kau senang berada di sisiku sekarang."

Sebenarnya bukan itu alasan kenapa Sasuke merasa senang berada di sisinya. Ada perasaan yang ... nyaman ketika Hinata datang menemaninya, melakukan sesuatu dengannya, meskipun ia tidak suka kegiatan itu. Kata hati dan perbuatan kadang berbeda, sehingga ia reflek menganggukan kepalanya. "Hn."

"Jadi sekarang kita kemana?" Hinata mengalihkan pembicaraan.

Sasuke mengangkat bahunya. "Terserah." Reflek ia mempercepat langkahnya, meninggalkan Hinata yang jalannya agak sedikit lambat.

"Hey, aku tidak mau dengar kata terserah!" ucapnya sebelum mengejar Sasuke. "Hey, hey tunggu!" kini langkah mereka telah sejajar kembali.

Sasuke masih memusatkan perhatiannya ke depan tanpa memberi respon sedikit pun ke Hinata. Hinata heran melihatnya. Di hadapan mereka terlihat beberapa stand dan pameran. Tempat yang seharusnya menjadi lahan kosong –biasanya tempat untuk para pejalan kaki juga beberapa kendaraan– kini ramai. Tidak ada satu kendaraan pun yang lewat. Sepertinya untuk kendaraan dilarang untuk melewati daerah itu tuk sementara waktu.

Stand-stand itu menjual berbagai macam barang dan makanan. Ada juga yang mengadakan pertunjukan sulap kecil-kecilan, atraksi-atraksi kecil lain, juga wahana kecil-kecilan. Pameran lukisan, patung, dan barang lainnya juga ikut memeriahkan suasana sore itu.

"Ada apa ini?" gumam Hinata setelah berdiri tidak terlalu jauh dari tempat itu.

Sasuke juga sama dengan Hinata. Sama-sama mengamati tempat itu. Ia tidak peduli ada acara apa di tempat itu. Yang mengalihkan perhatiannya sekarang hanyalah ramainya orang-orang, stand-stand, juga pameran, dan atraksi menarik. Ia masih sibuk mengedarkan pandangannya, sampai akhirnya matanya berhenti pada satu titik. Dimana di titik itu, tengah berdiri seorang pria yang sepertinya sepantaran dengannya. Berdiri membelakanginya. Memiliki rambut yang unik –berwarna merah– dan mengenakan jas berwarna krem.

Sasuke menyipitkan matanya. Sepertinya ia mengenali orang itu?

Orang yang kini masih dalam pandangan Sasuke itu sepertinya sedang berbincang dengan seseorang. Orang itu pun membalikkan badannya, sambil tersenyum sekilas kepada orang yang bercakap dengannya tadi.

Melihat wajah orang itu membuat Sasuke mendelik kaget. Ia kenal betul orang itu. Dan tidak salah lagi. Itu pasti ...

"Sasuke-kun, kau lihat orang itu? Itu Sabaku no Gaara. Pengusaha terkenal dari Kota Suna. Namanya terkenal di mana-mana." Gumam Hinata tiba-tiba yang berhasil membuat Sasuke mengambil 1000 langkah untuk melarikan diri. "Sa-Sasuke-kun?" Hinata sontak kaget ketika mengetahui Sasuke telah menghilang dari sisinya.

Sasuke bernafas tersengal-sengal. Kenapa ia harus lari? 'Kami-sama, aku kira tidak ada orang yang mengenaliku di sini.' Batinnya setelah menyembunyikan diri di balik stand kosong. 'Gaara, Gaara, Gaara. Argh! Kenapa harus dia? Klien yang baru aku temui saat rapat terakhir di kantor.'

xxXXxx

Hinata membuka pintu flatnya, mendapati Sasuke yang kini tengah bersandar di sofa. Perempuan itu sudah siap untuk mengomeli Sasuke. Menghilang begitu saja tanpa memberi kabar? Membuat Hinata cemas saja. "Kau kemana tadi, Sasuke-kun?" ucapnya sembari berkacak pinggang. "Ka-kau menghilang begitu saja, membuatku cemas."

Sasuke tersenyum sepintas. "Terima kasih sudah mencemaskanku." Setelah itu raut wajahnya kembali datar.

Hinata menarik nafas panjang. "A-ada masalah tadi?" tanyanya kontan.

Sasuke menggeleng lemah. Berdusta. "Tidak." Padahal nasib sandiwaranya tadi ada di tangan Gaara. Jika saja Gaara mengenali Sasuke, tamat sudah. Ia pasti langsung dipulangkan Hinata. Apalagi Gaara mengenalinya, tambah mudah saja Hinata menerbangkannya kembali ke Konoha.

"Be-benarkah? Kau terlihat pucat." Hinata mengambil posisi di sebelah Sasuke, menatap Sasuke lekat-lekat.

Sasuke enggan menatap Hinata balik. "Tidak."

"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah." Setelah itu yang Sasuke tau, Hinata pergi ke kamarnya.

xxXXxx

Terkadang, bersandiwara terus seperti ini, membuat Sasuke cemas. Ia merasa tidak enak hati. Hinata itu baik sekali, mau menampungnya, menjaganya, merawatnya, bahkan membantunya mencarikan informasi mengenai dirinya, membantu membawanya pulang.

Tentang sandiwara itu –pura-pura amnesia– sama sekali tidak pernah terlintas di otaknya. Saat itu –saat ia masih terbaring di rumah sakit– saat pertama kalinya ia bertatap muka dengan Hinata. Yang ada di pandangannya, Hinata adalah perempuan yang lugu, polos, dan manis. Mudah ditipu dan diperalat. Karena itulah, disaat ia galau, disaat pikirannya tidak karuan karena gadis yang dicintainya tega menghancurkan hatinya. Pikirannya. Perasaannya. Ingin bebas dari seluruh rasa sakit yang terus menghujamnya. Ingin ia lupakan seluruh memori yang terbekas di otaknya.

Konyol bukan?

Sasuke tau itu konyol, dan ia baru sadar sekarang. Sekarang, dimana ia tengah terbaring di atas sofa. Memandang langit-langit. Tanpa cahaya yang menemani. Tanpa suara yang berbisik –hanya suara AC dan jarum jam. Hanya pikirannya sendiri yang didengarnya. Ingin ia membuka diri, tapi ... Apa Hinata akan marah nantinya?

Membencinya. Mengusirnya. Bahkan ia yakin, semua bantuan yang Hinata tawarkan akan Hinata tarik kembali. Atau mungkin Hinata rela menelantarkan Sasuke di jalan.

Karena itu, Sasuke lebih memilih untuk bungkam. Lebih baik aman di bawah kebohongan, daripada sakit di atas kenyataan.

xxXXxx

"Sa-Sasuke-kun, Sasuke-kun! Bangun!" suara itu berdengung di telinga pemilik mata onyx itu. Sasuke membuka matanya pelan. Lalu ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Penglihatannya masih belum jelas, karena lampu memang tidak menyala. Tapi ia tau, Hinata tengah berdiri di sebelahnya.

"Hn?" ujar Sasuke dengan nada yang berat. Rasanya ia baru saja tidur 5 menit.

"Bangun." Ucap Hinata lagi sembari menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke.

"Hn." Sasuke memaksakan tubuhnya untuk duduk, menatap gadis yang mengambil posisi di sebelahnya malas. "Ada apa?"

"Aku akan tunjukkan sesuatu." Hinata menarik tangan Sasuke. Dengan terpaksa Sasuke berdiri, mengikuti kemana gadis itu menuntunnya.

"Mau kemana?" tanyanya setelah menyadari bahwa mereka keluar dari flat. "Aku belum memakai sendal."

"Tidak usah." Hinata terus menuntunnya. Mereka menaiki tangga yang terletak di sebelah lift.

Sasuke tidak berkomentar. Ia hanya membiarkan tangannya terus ditarik perempuan pemilik rambut indigo itu. Sampai akhirnya mereka sampai di lantai paling atas –atap.

NGIIEKK

Pintu kayu itu berdenyit karena umurnya yang sudah tua. Pintu yang sudah puluhan tahun berdiri. Sasuke sadar, Hinata tengah membawanya ke atap apartemen itu. Ia menyerngitkan dahinya. 'Untuk apa ia mengajakku ke sini?'

"Nah." Ucap Hinata setelah berdiri tepat di atas atap itu. "Lihat ke atas." Ia mendongakkan kepalanya.

Begitu juga Sasuke. Ia menengadahkan kepalanya. Matanya membulat lebar, ketika melihat apa yang ada di atasnya.

Sebuah hamparan langit yang luas. Gelap. Tapi dipenuhi oleh ratusan, bahkan ribuan bintang. Indah.

"Kau lihat?" gumam Hinata masih mendongakkan kepalanya. Sasuke tidak menjawab. Lidahnya kelu seketika, setelah melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan yang satu itu. Selama ia tinggal di Konoha, belum pernah ia melihat hamparan langit luas yang berhiaskan bintang-bintang. Jarang sekali. Bahkan tidak pernah.

Tapi di kota ini, ribuan bintang itu seakan terlihat sangat jelas. Tidak ada awan yang menutupi keindahannya.

"Aku belum pernah melihat yang seindah ini." Ucap Hinata takjub. Ia menurunkan kepalanya lalu menatap Sasuke sambil tersenyum. "Indah sekali kan?"

Pikirannya buyar. "Hn? Apa?" Sasuke menatap Hinata yang kini sedang terkekeh pelan.

Hinata mengulang. "Indah sekali bukan?"

Sasuke tidak tau bagaimana ia harus mendeskripsikan yang ia lihat. Yang ia lakukan hanya tersenyum ke arah Hinata. Cukup satu senyuman –senyuman yang tulus. Mereka pun kembali memandang keindahan di atas sana. Menikmati setiap sudut langit. Meskipun langit tak bersudut dan tak berujung.

Hinata telah menunjukkan sesuatu yang belum pernah dilihatnya.

Sasuke kini mengerti dan seharusnya sudah tau, kenapa ia dipertemukan dengan Hinata.

Karena semua Tuhan yang mengatur.

tobikontinyu

Bales ripiuw buat yg g log in :

Ren : Wah makasih yaa saya merasa gaya bahasa saya kurang gak tau kenapa, suka dikomentarin Nee-san-ku sih *?* kalo Lemon? Saya bener" gak mikir ke sana tuh he he

Semangat ripiu : Wah makasih lho Mbak / Mas udah semangat ripiu, makasih makasih arigato deh

Lye pengen ripiu : Makasih yaa udah ripiuw. Tentang keluarga tahap-pertahap yaa . Biarin Sasuke deket banget" dulu ama Hinata jadi Hinatanya jadi terbuka ^.^b soal lemon? Aduh jujur gak kepikiran he he

Yuuaja : Iyanih Mbak saya juga merasa gitu T.T tapi makasih masukannya lho, sangat membantu *?* btw Mbak, implisit itu apa ya? Kalo eksplisit?

q-chan : woh, makasih" ya reviewnya. Soal lemon saya pikir" dulu ya Mbak, karena saya merasa belum sempurna tho kalo bikin yg kaya gitu ..

Ruchan : Makasih ya reviewnya, ttg Rate saya pikir" lagi

Seichi hime : Wih makasih reviewnya yaa , Ms. Goodbye ato Mr. Goodbye itu apa ya btw?

Catatan :

*1) One Piece the movie , gag tau yg mana hehe

Gimana? Masih terkesan maksa kah? Atau chapter ini membosankan T.T

Saya butuh kritikan dan masukan ide,,

Bukannya saya tidak merencakan ide mengenai fic ini hanya saja menerima saran dari pendengar tidak salah kan?

Nah, kalo OOC saya rasa nggak salah kan? Hinata hanya gugup kalo bertemu Naruto *kalo di canon versi-nya*

Terus Sasuke yang banyak omong? Kalo diem" aja di fic ini .. datar dong entar he he ,,

Soal Rate-nya. Kenapa saya takut dipindakan ke Rate M bukan berarti bakal ada Lemon atau apalah ,, saya gak jago bikin begituan dan gak niat T.T *gomene buat yg omes*

Tapi karena kaya'nya takut menjurus ke tema yg dewasa ,, misalnya waktu Hinata kerja di Pub , kan kurang aman juga tuh he he *ini mah authornya duluan yg udh negatif*

Tentang masa lalu Hinata pertahan-tahap ya nyeritainnya . Di mana dia berasal dan masa lalunya, saya masih harus mikir" nieh

Oh ya soal update cepet di chap 4 gak janji cepet lho .. bukan berarti saya hiatus yaa

Ok , saya harap review dan masukan dari senpai-senpai dan kawan - kawan semua ~:)

Yang penting review!