CHAPTER 4 : Consciousness
"Maaf Fugaku-sama, tapi jejak tuan Sasuke masih belum bisa dilacak."
Begitulah ungkap salah satu bawahan Uchiha Fugaku yang ia tugaskan untuk mencari anaknya. Sudah beberapa minggu ini Sasuke menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tanpa memberikan kabar. Ada apa dengan anak itu sebenarnya?
Sekali lagi, Fugaku menggeram. Ia marah, ia kesal, tetapi di relung hatinya, ia merasa panik. Cemas yang amat sangat. Juga merasa kehilangan. "Terus cari!" perintahnya. Nadanya sedikit meninggi. "Cari sampai ketemu! Usahakan ia dalam keadaan hidup."
Yakushi Kabuto, salah satu tangan kanan Fugaku, menganggukan kepalanya. "Baik, Fugaku-sama." Dan ia pun menghilang dari balik pintu ruang kerja Fugaku setelah membungkuk sekilas.
Tanpa sadar, Fugaku meremas selembar kertas di tangannya. "Sasuke ... kemana kau sebenarnya?"
xxXXxx
"Ha-hari ini tolong tinggal di sini saja ne, Sasuke-kun?" ucap Hinata sembari merapatkan felted jacket-nya yang panjang di atas lutut. Malam ini jauh lebih dingin dari malam-malam sebelumnya karena musim panas akan segera digantikan oleh musim gugur.
"Hn."
Hinata terkekeh pelan. "Kau sepertinya merasa bosan sekali aku tinggal sendiri?"
"Kalau kau punya koleksi DVD yang lebih memadai, atau laptop, aku tidak akan bosan." Cibir Sasuke kesal. Sudah beberapa malam ini ia ditinggal Hinata sendiri di flat. Apalagi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan mengikuti Hinata magang di Bar 69 pun tidak boleh. Setelah insiden*1) waktu itu, mana mau Hinata mengizinkannya lagi. Padahal Sasuke merasa hal itu biasa saja, tidak perlu menjadi hiperbola begitu.
Meskipun ia sendiri menjamur di flat milik Hinata, ia tidak pernah menginginkan untuk kembali ke Konoha. Tidak.
"Aku pergi." Ucap Hinata sebelum menutup pintu rapat.
Sasuke melongo sejenak. 'Cih, omonganku tidak dihiraukannya.' Dan setelah itu ia mendengus, kembali merebahkan diri di atas sofa, tempat favoritnya.
Hari ini Sasuke tidak bisa diam saja di flat. Sebuah ide melintas di benaknya. Mungkin ia tidak diizinkan lagi ke Pub, tetapi tidak salahnya kan ke tempat lain? Dengan langkah cepat ia langsung menyambar jacket berwarna biru tua –yang dibelinya beberapa hari lalu– dan melesat pergi keluar flat.
xxXXxx
Malam ini memang benar-benar dingin, bahkan jaket yang ia kenakan tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Seharusnya ia membawa syal, atau mengenakan jaket yang lebih tebal, atau seharusnya ia tidak keluar malam ini. Kali ini, ia menyesali keputusannya untuk menyusup keluar rumah.
Pemuda Uchiha itupun menghela nafas. Saking dinginnya malam ini, asap putih keluar dari setiap hembusan nafasnya. Sambil menggosok-gosok kedua lengannya yang menggigil, ia berjalan bersama sekumpulan orang lainnya. Pusat kota ramai seperti malam biasanya. Beberapa stand dan toko yang tutup di siang hari kini terang menderang akan lampu. Yah, memang beberapa toko itu buka pada malam hari saja.
Pemuda pemilik mata onyx itu terus menelusuri jalanan. Terkadang ia berharap tidak bertemu orang yang dikenalnya. Aa, hal itu membuatnya semakin takut keluar saja. Ingin ia berbalik arah dan kembali ke Apartemen. Namun niatnya terurung kala melihat sebuah cafe kecil yang berdiri di sudut, persimpangan jalan. Dengan cepat ia melangkah ke sana.
Lagipula ia bisa memesan kopi untuk menghangatkan tubuhnya, juga menyembunyikan diri dari keramaian. Setelah membaca papan nama yang bertuliskan "Grand Cafe" yang tertera di atas papan kayu berukuran kecil –papan itu terletak di atas pintu, dimana Sasuke berdiri– ia membuka ganggang pintu yang terbuat dari besi atau semacamnya.
'Cafe ini benar-benar sepi.' Pikirnya sembari mengedarkan pandangan. Cafe itu didesain sesederhana mungkin. Hampir semua perabotan terbuat dari kayu. Modelnya pun seperti cafe-cafe di Eropa. Unik.
"Irasshaimase*2)." Sapa seseorang yang berhasil membuyarkan lamunan Sasuke. Sasuke kontan memutar kepalanya. Ternyata seorang wanita berambut coklat panjang, dengan rambut yang diikat aneh ke atas, namun tetap beberapa helaian rambutnya dibiarkan terurai ke bawah. Ia mengenakan t-shirt berwarna putih tulang yang cukup ketat di tubuhnya yang tidak bisa dikatakan langsing juga. Tidak lupa celemek berwarna coklat yang warnanya senada dengan nuansa cafe itu. Wajah cantiknya sedikit tertutup oleh poninya yang panjang, sehingga hanya menyisakan sebelah matanya yang berwarna hijau, juga senyuman yang tersungging di bibirnya. "Silahkah duduk." Ucapnya sopan, meskipun terselip nada yang dibuat secentil mungkin.
Sasuke tersenyum sekilas, lalu mengambil meja di dekat kaca yang besar, sehingga ia bisa melihat pemandangan di luar sana. Yah, meskipun pemandangan itu hanya kendaraan-kendaraan yang tengah berhenti di bawah lampu merah, juga orang-orang yang berlalu-lalang. Jika ia sadar, ia sama sekali tidak sembunyi dari kerumunan oran-orang. Beberapa orang yang berlalu lalang –mungkin terkesima dengan ketampanannya– menoleh ke arahnya ketika sedang melewati cafe itu. Kebanyakan para wanita. Wajar saja, wajah Sasuke memang tidak standar kok, ditambah ia duduk tepat di depan kaca besar itu.
"Mau pesan apa?" tanya wanita yang sepertinya berumur 30-an itu.
Sasuke mengambil menu yang disodorkan oleh pelayan itu, atau mungkin pemilik cafe tersebut? Karena sedari tadi ia tidak melihat karyawan lain selain wanita paruh baya itu. Mengingat kantongnya yang pas-pasan, dengan cepat ia memilih yang paling murah. "Cafe latte." Ucapnya singkat. Sasuke mengamati papan nama yang dipasang di atas dada perempuan itu. 'Mei Terumi *3)' itulah nama wanita itu.
"Baik, tunggu sebentar yaa ..." ucap wanita paruh baya itu setelah menerima buku menu kembali.
Mei segera melesat pergi, meninggalkan Sasuke sendiri.
Sasuke mengamati pemandangan di sebelahnya. 'Kota ini tidak seburuk yang kukira.' Pikirnya sebelum tenggelam dalam lamunannya.
xxXXxx
BMW M3*4) silver itu terus melaju kencang, meskipun jalanan ramai. "Hm ..." Sabaku no Gaara, pemilik mobil itu, sibuk bergumam sedari tadi, mendengar ocehan sang kakak, Sabaku no Temari, dari cell phone yang ia apit di antara telinga dan bahunya. Tangannya masih berkutik dengan setir.
"Kalau kau memang melihatnya, beri tau aku." Lanjut Temari masih dengan suara cemprengnya.
Gaara yang sepertinya tidak benar-benar menyimak kembali bertanya. "Sebenarnya, apa yang kau bicarakan tadi, ne Nee-san?"
"Yare, yare, kau tidak mendengarkanku?"
BMW itu kini tengah berhenti, menyadari bahwa lampu lalu lintas berubah menjadi merah. "Gomen, aku sedang fokus menyetir." Ujarnya beralasan sembari menyembunyikan tawa.
Terdengar Temari menghela nafas dari sebrang sana. "Begini otouto-kun sayang, kau ingat Uchiha Sasuke? Partner kerjamu dulu?"
"Hm." Kini ia melepas setirnya dan membiarkan cell phone-nya digenggam oleh tangan kanannya. Masih ada satu menit sebelum lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
"Ia menghilang, dan keberadaannya belum diketahui. Entahlah, tiba-tiba pihak Uchiha corp menelfon ke sini, meminta bantuan. Aku rasa Uchiha's corp menelfon seluruh perusahaan yang pernah bekerja sama dengannya," Temari terkekeh pelan. "Jadi kalau matamu tidak sengaja menangkap sosoknya, langsung beritahu aku."
Mata Gaara pun beralih, dimana sebuah cafe kecil itu berdiri. Dan mata hijaunya mendelik tidak percaya ketika sosok yang dibicarakan Temari beberapa waktu lalu tertangkap basah oleh matanya.
TIIIIIIIN!
Suara klakson membangunkan lamunannya. Lampu berwarna merah itu kini tengah berubah warna, dan sialnya Gaara tidak menyadarinya saking kagetnya ketika melihat pemuda berambut jabrik yang tengah menikmati minumannya. Pemuda yang baru saja, baruu saja Temari bicarakan. "Maaf Temari-neesan, aku rasa aku menemukannya."
"Apa––?"
Tuuuut
Dengan cepat ia memutuskan telfon dan menjalankan BMW-nya cepat, sebelum orang-orang di belakang mengomeli dirinya. Seharusnya ia mengambil jalan lurus, namun ia belokkan ke kiri. Ia akan memutar balik arahnya.
xxXXxx
KRIIING
Bel yang sengaja diletakkan di atas pintu guna memberitahu bahwa seorang pelanggan telah masuk itu pun berbunyi. Wanita selaku pemilik cafe itu kembali mendapati pria tampan sebagai pelanggannya. Dengan langkah cepat ia menghampiri pemuda yang masih berdiri di ambang pintu itu. "Irasshaimase."
Gaara tidak menghiraukan. Ia langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari Sasuke. Tidak perlu waktu yang lama, ia sudah mendapati sosok yang dicarinya tengah duduk di atas sebuah meja sembari mengaduk-ngaduk Cafe Latte-nya.
"Sasuke!" pekiknya langsung yang kontan membuat Sasuke tersentak.
Sasuke mencari sumber suara itu dan mendapati Gaara, salah satu klien kerjanya, yang benar-benar ia hindari itu. Ingin rasanya Sasuke beranjak dari kursi dan lari secepatnya dari tempat itu, namun Gaara sudah lebih dulu duduk di sebrangnya.
"Kemana saja dirimu? Aku telah mencarimu selama beberapa menit yang lalu." Ujarnya langsung.
'Sial!' umpat Sasuke sembari menyusun skenario atau lebih tepatnya bualan. "Hah? Oh, aku sedang berlibur."
"Tidak mungkin kau berlibur, sedangkan orang tuamu menghubungi hampir seluruh perusahaan untuk mencarimu, atau mungkin sudah menyebarkan berita ke media masa." Celoteh Gaara lagi. Belum pernah Sasuke melihat Gaara banyak omong seperti ini.
Sasuke memasang ekspresi sedatar mungkin. Menjauhi rasa paniknya. Ia malah menegak Cafe Latte-nya. Sialnya Cafe Latte-nya masih panas. "Aww." Keluhnya setelah merasakan hawa panas yang diberikan Latte itu. Lidahnya sakit.
Gaara mendengus. "Kau ini kenapa, Sasuke?"
Sasuke menahan rasa sakit di lidahnya itu. Di depan Gaara pun ia harus menjaga image. "Aku baik-baik saja."
"Mungkin fisikmu baik-baik saja, tapi otakmu itu ... Errgghh, kau ini aneh."
"Kenapa kau jadi repot begitu, huh?" Sasuke mendengus kesal. Apa urusan orang di hadapannya itu?
"Tentu saja, Temari-neesan memaksaku untuk mencarimu."
"Suatu kebetulan kalau begitu." balas Sasuke santai.
"Sasuke, aku serius." Ucap Gaara tegas.
"Aku juga serius." Balasnya.
Gaara menyerngitkan dahinya. Belum pernah ia melihat Sasuke semenyebalkan itu. "Sebenarnya apa masalahmu?"
"Maaf, tuan mau pesan apa?" ucap salah seorang pelayan, kali ini bukan Mei yang menghampiri.
"Aku pesan air putih untuk tuan yang satu ini." Ujar Sasuke, dibalas dengan anggukan pelayan tersebut. Kemudian pelayan tersebut melesat pergi.
"Uchiha Sasuke, apa masalahmu sebenarnya? Apa kau melarikan diri?" ulang Gaara lagi dengan nada yang sedikit kesal. Pemuda di hadapannya bukanlah pemuda yang dikenalnya. Pemuda yang dikenal dingin dan berwibawa, tetapi pemuda yang di depannya sekarang jauh berbeda. Ia terlihat lebih santai dan sedikit ... gila?
"Tidak ada." Bualnya.
"Kau bohong."
"Aku tidak."
Gaara menggeram. "Uchiha ... Aku rasa aku harus telfon Temari-neesa––"
Kontan Sasuke mencegah Gaara yang sedang merogoh saku celananya –dimana hand phone-nya berada. "Jangan!"
"Sial!" gerutunya langsung. 'Hand phoneku tertinggal di mobil segala, ergh!'
"Kenapa?"
"Aku ambil hand phone-ku dulu dan kau diam di sini."
"Aku akan kabur dan menghilang dari kota ini selama kau mengambil hand phone-mu itu." tukas Sasuke langsung.
Gaara melongo sejenak. "Uchiha, kau ini gila ya?"
"Memang."
"Kau kenapa?" Gaara menatap Sasuke tidak percaya. Ia benar-benar berhadapan dengan orang gila. Setidaknya untuk orang seperti Sasuke, yang dulu dikenal dingin.
"Aku tidak apa-apa." Sasuke mendengus kesal. Sudah berapa kali Gaara menanyakan pertanyaan yang sama.
"Coba luruskan ini, apa yang sebenarnya terjadi sehingga kau kabur dari Konoha?" Gaara mencoba bertanya dengan nada setenang mungkin.
"..." Selang beberapa detik kemudian, air putih pesanan Gaara, tepatnya Sasuke, pun datang. "Silahkan diminum." Sasuke mengalihkan pembicaraan.
Gaara tidak menghiraukan, masih menatap Sasuke tajam. Meminta sebuah jawaban akan pertanyaan sebelumnya. Merasa ditatap seperti itu, Sasuke bergidik ngeri. "Ok, aku akan cerita, tapi kau jangan menatapku seperti itu."
"Jadi, kenapa?"
Sasuke terdiam sejenak. Menyusun kebohongannya. "Ehm, jadi ... aku lelah dengan pekerjaanku."
"Bohong."
"Aku kesal dengan Itachi-niisan."
"Dusta."
"Aku ingin cari suasana baru." Gaara masih menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya. "Aku mau temui saudaraku di sini."
"Sejak kapan kau punya saudara di sini?"
"Tidak usah sok tau." Tukas Sasuke langsung.
"Uchiha, apa susahnya untuk jujur?" Gaara menghela nafas.
Alasannya untuk kabur ke Iwa sama sekali tidak masuk akal. Maksudnya, kabur karena patah hati? Yang benar saja! Sasuke merasa seperti sedang berada dalam sebuah drama. Tetapi lelaki manapun pasti akan memiliki rasa sakit yang sama seperti Sasuke kala melihat perempuan yang ia cintai selingkuh.
"Baiklah." Sasuke menghela nafas pasrah.
xxXXxx
Hyuuga Hinata sibuk menggosok meja bundar yang biasa diduduki oleh para pelanggan itu dengan kain pembersih. Memang masih jam 11 malam, tetapi pengunjung telah sepi. Mungkin malam ini Bar 69 sedang sepi pengunjung. Biasanya bar ini bisa ramai sampai jam 2 malam, bahkan sampai menjelang fajar. Tetapi malam ini berbeda, dikarenakan musim gugur akan tiba, orang-orang lebih memilih berdiam di rumah. Mungkin.
"Hinata."
Panggilan Mr. A yang kontan mengagetkan gadis pemilik rambut indigo itu. Hinata membalikkan badannya dan mendapati Mr. A tengah berdiri di belakangnya. "A-ada apa Mr?"
Pria berkulit gelap itu duduk di atas kursi yang terletak di depan meja bundar itu. "Duduklah."
Hinata sempat ragu, juga bingung, tapi pada akhirnya ia pun duduk –bersebrangan dengan Mr. A. "A-ada yang penting Mr. A?"
Mr. A menggelengkan kepalanya. "Tidak, sebenarnya, sudah berapa lama Sasuke tinggal di flatmu?"
Hinata tersentak mendengarnya. Sudah berapa lama? Hinata tidak pernah menghitungnya, sungguh. Yang ia tau, Sasuke telah tinggal bersamanya sejak musim panas, hingga perawalan musim gugur. "E-entahlah."
"Kalau kau sadar, ini sudah hampir sebulan." Lanjut Mr. A lagi, membuat Hinata terdiam. "Apa dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak?"
Hinata menggeleng cepat. "Tidak. Di-dia orang yang baik."
"Hm, begitu ..."
"La-lagipula, aku akan mencoba memulangkannya, mu-mungkin akan kucari keluarganya."
"Yare, yare, Hinata, kau sudah mengatakan itu berkali-kali tapi sama sekali tidak kau laksanakan."
Perkataan terakhir berhasil membuat Hinata diam membisu. Benar apa yang Mr. A katakan, Hinata belum sama sekali mencari bantuan untuk memulangkan Sasuke kembali ke keluarganya. Ia malah membiarkan pemuda itu tinggal di flatnya. Merawatnya hingga ia benar-benar sembuh. Sebenarnya Sasuke sudah sembuh total.
"Kami-sama, go-gomene, a-aku benar-benar lupa."
"Kau terbuai dengannya, Hinata?"
"Eh?"
"Maksudku, kenapa kau bisa betah bersamanya? Memangnya ia tidak merepotkanmu?" lanjut Mr. A lagi.
Lagi-lagi, pernyataan bosnya itu menyadarkan dirinya. Apakah ia terbuai akan kehadiran pemuda itu? Sebenarnya, Sasuke sama sekali tidak pernah merepotkannya. Ia malah mengisi keheningan di flat yang terbiasa kosong itu. Kehadiran Sasuke seolah-olah mencerahkan harinya. Yah, meskipun Sasuke tidak pernah banyak omong, tetapi mengetahui bahwa ia tidak sendiri lagi di flat itu, cukup membuat Hinata senang.
"Di-dia tidak pernah merepotkanku."
Entah Mr. A harus berkata apalagi. Tidak seharusnya ia ikut campur dalam masalah orang lain. "Aku tidak peduli dia merepotkanmu atau tidak, yang aku khawatirkan Cuma keluarganya. Mungkin orang tua atau sanak saudaranya mencemaskannya. Kau tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kan?"
Hinata diam. Tubuhnya kaku.
Seolah-olah ia sadar, hal yang dilakukannya –membiarkan Sasuke tinggal di bersamanya– adalah salah. Bagaimana kalau keluarga Sasuke mencemaskan Sasuke sekarang? Sedangkan Sasuke terlihat baik-baik saja bersamanya?
Hinata menghela nafasnya panjang. Besok ia harus mencari informasi mengenai Sasuke. Ia harus memulangkan Sasuke kembali ke rumahnya. Meskipun di relung hatinya ada sedikit ketidakrelaan.
"Ba-baiklah, besok akan kucoba mencari info mengenai dirinya." Sebelum Mr. A berkomentar lagi, Hinata buru menyela. "Dan kali ini aku serius."
xxXXxx
"Waktu itu aku pergi ke luar kota, sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku untuk sampai ke Kota Iwa." Sasuke mulai bercerita sembari mengaduk-aduk Latte-nya.
Gaara menyimak dengan serius. "Lalu?"
"Aku benar-benar tidak sadar waktu itu. Seluruh otakku ada di bawah kendali alkohol."
"Kau mabuk-mabukkan aku kira kau sudah berhenti––"
"Jangan potong kata-kataku." Selalu Sasuke langsung.
"Ya, ya."
Sasuke kembali menghela nafas, menyusun kalimat yang pas supaya ceritanya bisa tersampaikan dengan jelas. "Ada alasan kenapa aku kembali minum minuman itu. Ah, sepertinya aku tidak perlu menceritakannya, yang jelas ada kejadian yang membuatku benar-benar jatuh. Aku benar-benar putus asa hari itu. Kepalaku terasa pening, seperti ditusuk-tusuk jarum. Setelah mabuk-mabukan, aku langsung menyambar mobilku dan berjalan entah kemana ...
"Aku tidak tau kemana arah yang kutuju, otakku masih terbayang oleh kejadian waktu itu ..."
"Kejadian waktu itu?" lagi-lagi Gaara memotong.
"Aku bilang jangan menyela." Cibir Sasuke. Aa, dia baru sadar bahwa ia sedang curhat kepada Gaara.
"Gomen. Lalu?"
"Mobilku tidak sengaja menabrak tiang. Untung waktu itu keadaan sunyi. Setelah itu aku keluar dari mobil dan berdiri di tengah jalan. Entah apa yang menggerakkanku untuk melakukan itu, yang jelas aku benar-benar ingin mati saat itu dan aku berdo'a supaya ada mobil yang menabrakku ..."
"Kau gila, Uchiha." Komentar Gaara tidak percaya.
Sasuke tidak menghiraukan tanggapain Gaara dan lebih memilih melanjutkan cerita, tepatnya, curhatan. "Dan, bingo! Aku benar-benar ditabrak mobil, setelah itu aku tak sadarkan diri––"
"Dan kau pun menjadi gila akibat insiden itu?" potong Gaara setengah bercanda.
Sasuke mengangkat bahunya. "Mungkin. Ada gangguan di otakku."
"Kau ini gila."
"Sudah berapa kali kau mengatakan itu huh, Gaara?" balas Sasuke sama kesalnya dengan Gaara.
Gaara hanya terkekeh mendengarnya. "Ne, Sasuke, kenapa kau tidak pulang saja setelah insiden itu?"
"Tidak bisa, aku tidak sadarkan diri selama seminggu lebih di sana."
"Souka?"
"Hn." Sasuke mengangguk mantap. "Padahal aku harap aku tidak akan sadarkan diri." Lanjutnya dengan nada yang sedikit putus asa. Ya, seandainya ia tidak sadarkan diri waktu itu.
"Sasuke, kenapa kau menjadi rapuh seperti ini?" Gaara menatap Sasuke prihatain setelah melihat perubahan air muka Sasuke.
Sasuke juga tidak tau, kenapa ia menjadi selemah itu? Sehingga ia ingin cepat-cepat mati. "Aku tidak tau. Aku benar-benar putus asa." Sasuke menggantungkan kata-katanya. "Tapi ... kehadiran wanita itu membangkitkan semangatku kembali."
Kontan Gaara menyanggah. "Wanita?"
"Aa, ya, wanita yang menabrakku itu." Lanjut Sasuke. Tiba-tiba saja ia ingat dengan wanita yang tengah menyelamatkan dirinya. Merawatnya. Dan berada di bawah kebohongan Sasuke.
"Wa-wanita?" ujar Gaara tak percaya. "Yang benar saja!"
Sasuke hanya tersenyum simpul melihat wajah Gaara yang takjub itu. "Ah, aku juga tidak percaya awalnya."
"Lalu setelah kau sadar, apa yang kau lakukan?" tanya Gaara lagi.
"Hn, aku tinggal bersama wanita itu."
Seakan mengerti akan kelanjutan kisah itu, Gaara menghela nafas dan berkata. "Gila."
Dan Sasuke tidak berkomentar akannya. "Hn. Memang."
xxXXxx
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Setelah berbincang-bincang lama dengan Gaara, Sasuke memutuskan untuk pulang. Gaara sendiri sudah membuat kesepakatan dengan Sasuke. Pemilik rambut berwarna merah itu tidak akan melaporkan keberadaan anak bungsu Uchiha itu. Gaara berjanji akan menutup mulutnya. Lagipula, Gaara sama sekali tidak ingin ikut campur. Lambat laun sepertinya ia mengerti apa yang tengah Sasuke alami. Kenapa ia sampai kabur seperti itu.
Sebelum Gaara menghilang dari pandangan Sasuke, ia sempat meninggalkan pesan. "Uchiha, berlari terus-menerus tidak akan menyelesaikan masalah, jadi coba kau pikirkan matang-matang lagi. Kalau bisa, pulanglah. Semua orang mengkhawatirkanmu."
Sasuke hanya membalas dengan satu anggukan. "Hn." Dan ia tersenyum penuh pilu. Kembali ke Konoha, sama saja membuat dadanya semakin sesak dan terluka.
Sejauh ia berlari, pikirannya tidak akan ikut berlari. Haruno Sakura akan selalu terngiang di kepalanya, meskipun dengan bersusah payah ia mencoba untuk melupakannya.
Haruno Sakura ...
Bagaimana keadaannya? Apa ia baik-baik saja? Apa ia tengah memikirkan keberadaan dirinya sekarang? Apa ia tengah menangisi dirinya? Apa ia masih mencintai dirinya?
Pertanyaan yang terakhir membuat dada Sasuke semakin sesak saja.
'Bodoh!'
Kadang ada benarnya perkataan Gaara tadi. Berlari sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Namun pikirannya buyar ketika melihat sang malaikat yang menolongnya selama ini.
Tidak jauh dari tempatnya sekarang, Hyuuga Hinata tengah berjalan ke arahnya. Perempuan pemilik rambut indigo itu sepertinya tidak menyadari keberadaan Sasuke karena i berjalan sembari menundukkan kepalanya. Sepertinya ia sibuk dengan pikirannya.
Melihat perempuan itu membuat dadanya yang sesak pun merenggang sedikit demi sedikit. "Hinata!" sapanya langsung sambil berjalan ke arahnya.
Pusat kota kini telah sunyi, jarang yang berlalu-lalang.
Hinata mendongakkan kepalanya dan langsung mendapati Sasuke yang sedang berjalan menghampirinya. "Sa-Sasuke-kun?" ujarnya sembari menyerngitkan dahinya.
Kini Sasuke berdiri di hadapannya. "Kebetulan sekali." Setelah itu ia ikut berjalan di sisi perempuan itu.
"Ka-kau kemana saja hari ini?" tanya Hinata dengan raut wajah yang heran.
"Hanya jalan-jalan."
"Oh." Pikiran Hinata kembali ke beberapa waktu yang lalu, dimana Mr. A tengah berbincang dengannya.
Entah kenapa, ada sedikit rasa ketidakrelaan di relung hatinya untuk memulangkan Sasuke kembali. Ia mencoba mencari tau alasannya. Mungkin karena ia takut flatnya sepi kembali? Itu juga bukan alasan yang tepat, selama ini Sasuke lebih banyak berdiam diri. Meskipun terkadang protes tentang inilah itulah. Atau mungkin ada sesuatu yang lain yang membuat perempuan pemilik mata lavender itu tidak mau merelakan kepergian Sasuke?
Lamunan Hinata buyar ketika Sasuke memasangkan jaket birunya ke tubuh mungil Hinata. Bahkan Hinata tidak sadar bahwa sedari tadi ia tidak mengenakan felted jacket yang tertinggal di Bar 69. Sejak sibuk dengan lamunannya itu, Hinata menjadi lupa akan segalanya. Ia mendongakkan kepalanya ke arah Sasuke yang lebih tinggi beberapa centi itu.
"Kau bisa kedinginan." Komentar Sasuke sambil tersenyum tipis ke arah Hinata.
Hinata menatap Sasuke sejenak, lalu akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke depan –menyembunyikan mukanya yang tengah memanas, entah kenapa. Hinata merapatkan jaket biru tua itu. Membuat rasa menggigil beringsut sedikit demi sedikit. "A-arigatou." Hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya.
Sasuke hanya bisa menyembunyikan senyumnya kala melihat perempuan itu tertunduk malu. "Hn."
Hinata sadar perasaan apa yang tengah membuatnya betah bersama pemuda itu, yaitu perasaan nyaman yang sadar tidak sadar sedang ia rasakan sekarang.
Dan hal itu membuatnya urung untuk mengembalikan Sasuke kembali ke rumahnya.
Biarlah pemuda itu tetap di sampingnya.
Ia tidak peduli lagi dengan perkataan bos-nya tempo waktu, yang Hinata inginkan sekarang adalah,
Membiarkan Sasuke tetap tinggal bersamanya.
tobikontinyu
Bales ripiuw buat yg g log in :
Seichi hime : -Datar y? Maaf ya saya sempet bingung juga, kalo kecepetan ntar salah juga. Saya ini masih dalam tahap belajar, tapi makasih tanggapannya :) Buat film Mr and Mrs Goodbye jujur saya ga tau dan saya gag suka film Korea m(=_=)m he he tapi makasih ya reviewnya ...
Yuuaja : Oh udah ngerti ttg Implisit sama Eksplisit. Makasih info sama sarannya. Makasih juga reviewnya :) Fic-nya Yuuaja-san saya tunggu lho ...
Kirin : Pacaran engga ya? He he liat aja dan baca terus ya ^^ mereka kan ga jadian langsung, harus bertahap dan pelan-pelan *apaan sih* terus buat keluarganya bakal dijelasin di chapter nanti-nanti lagi (?) he he makasih reviewnya yaa
Ryuta : Udah apdet sayaang , makasih reviewnya ^^b
Catatan :
*1) Insiden waktu Sasuke pingsan. Lihat chap 2, semoga enggak lupa y ..
*2) Selamat datang (buat restoran ato toko" gitu) saya gak tau juga, itu juga dikasih tau sama temen saya m(=_=)m
*3) Mei Terumi itu Mizukage, tau kan yang mana? :D Coba cari di google ato manga-nya hehe jadi dia bukan OC
*4) BMW M3 salah satu jenis BMW, Bajaj Merah Warnanya *digampar Gaara*
THE LONGEST CHAPTER! Yak, maaf telat apdet! *dibakar* tapi masih mengharapkan apdetannya ga sieh? *pundung* He he yang penting saya memenuhi janji saya untuk apdet!
Meskipun tidak secepat sebelumnya ~(=_=)~ Gomenasai semuanyaa
Seperti biasa sya mau minta maaf coz fic-nya masih terasa datar, belum ada romens"nya huu T.T
Seperti yg sya bilang, buat romens tahap pertahap dan kayanya buat chapter yg ini masih berhubungan dengan sandiwara Sasuke dan konfliknya dengan Gaara
Terus biar jelas, Hinata gak mungkin kan biarin Sasuke tinggal di rumahnya terus ... Makanya saya kasih dialog antara Hinata dan Mr. A
Biar jelas kalo Hinata lupa lapor polisi kalo dia nemuin anak ilang di rumahnya *dichidori Sasuke*
O ya saya mau fokus ke 2 fic saya yg lain jadi yg ini belum tentu apdet cepet ky dulu lagi
Kecuali ada review yang menyemangati *ngancem ceritanya* *ok just kidding*
Kritik dan review saya terima dengan lapang dada :)
Yang penting reviewnya ya!
