TYPO dan kalimat rancu alert! Tolong koreksinya yaa semua :)
CHAPTER 5 : Afraid
Konoha, musim gugur ...
Wanita yang identik dengan rambut pink sebahunya sibuk mengaduk-aduk secangkir cappucino pesanannya dengan sendok teh. Meskipun uap panas telah beringsut sedikit demi sedikit, ia sama sekali tidak berniat untuk menegak minuman itu. Pikirannya masih kacau. Pandangannya buram akibat air mata yang tengah dibendungnya.
Hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menunggu kedatangan sang kekasih di cafe bernuansa Jepang kuno itu.
Menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah lalu. Pertanyaan yang masih belum terjawab.
Mata hijau emeraldnya mendelik ketika ia melihat Chevrolet Camaro sedang memarkir, dari balik kaca besar. Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggunya keluar dari mobil itu. Sakura kontan merapihkan blazer hitamnya. Merubah air mukanya menjadi tenang dan sebiasa mungkin. Mengusap air matanya, sebelum orang yang ia tunggu masuk ke dalam cafe itu.
"Sakura." Sapa pemuda berambut kuning jabrik dan berpakaian formal itu –sosok yang wanita itu nantikan sejak 30 menit lalu–. "Lama menunggu?" imbuhnya setelah duduk bersebrangan dengan Haruno Sakura, nama wanita itu.
Sakura menggeleng pelan. "Tidak." Jawabnya agak canggung.
Pria itu menghela nafas berat. "Aku sama sekali belum mengetahui keberadaan Sasuke." Ujar Uzumaki Naruto, nama pria itu, seakan tau apa yang Sakura ingin bicarakan.
Sakura tersenyum pilu. Dugaannya benar. Sasuke belum kunjung ditemukan. Sudah sebulan ia menghilang tanpa meninggalkan jejak. Terakhir Sakura bertemu dengan tunangannya itu, saat tanpa sengaja ia bersanding dengan pria lain. Dengan pria di hadapannya, yang kini berstatus sebagai kekasih gelap Sakura. "Aku tau."
"Kau bisa lupakan dia. Aku yakin ia akan segera ditemukan."
'Melupakannya? Semudah itu kah Naruto mengatakannya?'
Mungkin bagi Naruto mudah untuk mengatakannya, tetapi bagi Sakura sendiri ... Jujur tidak mudah bagi wanita itu untuk melupakan Uchiha Sasuke. Bagaimana mungkin ia dengan mudah melupakan Sasuke? Pria yang telah mencintainya selama setahun terakhir ini. Pria yang telah mengisi hari-harinya. Pria yang rela melakukan apa saja demi dirinya?
Sedangkan jika Sakura turuti perkataan Naruto barusan, maka Sakura telah menyia-nyiakan apa yang telah Sasuke berikan. Apa yang terlah Sasuke lakukan. Apa yang telah Sasuke korbankan, hanya untuk bersanding dengan pria lain. Parahnya lagi, pria lain itu adalah Uzumaki Naruto, sahabat Sasuke sendiri.
Sungguh jika boleh jujur, dulu Sakura sangat mencintai Sasuke. Bahkan ia –sempat– yakin hubungan mereka akan berakhir di pelaminan.
Tapi itu hanya sebuah lembaran harapan yang telah usang. Sasuke lambat laun mulai beralih dari hatinya, ketika Naruto datang –awalnya hanya sebatas rekan kerja, namun akhirnya pun berkembang hingga kelewat batas. Hatinya telah bercabang menjadi dua.
Kenapa pula Sakura bisa jatuh cinta dengan Naruto?
Entahlah, ia juga bingung. Ia galau. Bimbang.
Yang ia tahu, ia mencintai keduanya. Kedua orang sahabat itu. Tanpa Sakura sadari, Sakura telah menghancurkan tali persahabatan mereka. Sungguh ia merasa bersalah akannya. Ia merasa bahwa ia adalah wanita yang tak berguna. Perusak. Pengganggu.
Jika ia ada dalam sebuah cerita, ia pasti adalah tokoh antagonisnya. Setidaknya itu menurut Sakura sendiri.
Meskipun dirinya jahat, sungguh ia tidak pernah bermaksud. Ia masih memiliki otak. Ia masih memiliki hati untuk menjaga perasaannya terhadap Sasuke.
Tanpa Sakura sadari, cairan hangat meluncur dari pelupuk matanya.
"Sakura ..." tegur Naruto sembari menatap mata hijau emerald itu sendu. Seolah-olah pria bermata biru sapphire itu tengah merasakan apa yang Sakura rasakan. Tangisan itu menyayat hatinya. Jelas saja ketika melihat wanita yang dicintainya masih mengharapkan pria lain untuk kembali, hal itu terasa begitu menyakitkan. Pilu. Perih. Dalam masalah ini, bukan hanya Sakura yang tengah merasakan pahitnya cinta, Naruto juga merasakannya.
Saat itu juga Naruto berpikir, ia tidak ingin Sasuke pulang.
Bukannya ia tidak ingin Sasuke kembali, hanya saja ia tidak ingin kehilangan Sakura. Wanita yang ia cintai sejak ia masih beranjak sebagai gadis hingga tumbuh menjadi wanita dewasa.
Tidak mau. Tidak rela.
Naruto rela melakukan apa saja, bahkan rela menghancurkan persahabatannya dengan Sasuke, asalkan Sakura menjadi miliknya.
Naruto sadar, ia sangat egois. Ya dia tau. Dia tau bahwa dia adalah lelaki egois. Tetapi selama bendera kuning belum terpasang, tidak ada salahnya kan merebut wanita milik orang lain?
"Go-gomen." Sakura lekas mengambil serbet dan mengusap kedua matanya. "A-aku hanya merasa ... se-semua ini ..." ia terisak sebelum melanjutkan kata-katanya kembali. "Semua ini salahku ... salah kita Naruto!" lanjutnya dengan nada yang sedikit meninggi. Wajahnya merah padam, bukan karena malu, tetapi marah. Marah pada dirinya sendiri. Pikirannya kacau balau. Hatinya terasa sakit, sesak. Sesak akan perasaan bersalah yang terus menghujam dirinya. Juga perasaannya yang masih belum jelas. Apakah dia masih mencintai tunangannya? Apa telah pupus karena hatinya yang telah bercabang? "Se-seharusnya ..." kata-katanya pun tidak karuan. Rancu.
"Tidak Sakura. Sama sekali bukan salahmu." Sela Naruto dengan nada setenang mungkin. Meskipun jujur, setelah hilangnya Sasuke, dirinya sama cemasnya dengan Sakura.
"Tapi ... kalau saja ... kalau saja malam itu kau tidak ke apartemen kami ... andai saja kau tidak mengajakku untuk melakukannya ..."
"Sakura!" potong Naruto cepat –berhasil membungkam Sakura. "Kau tidak ingin melakukannya saat itu? Jelas sekali, kau yang menghasutku terlebih dahulu––"
"Saat itu aku mabuk Naruto! Aku mabuk!" tukasnya seiring dengan air mata yang mengalir dari kedua bola matanya. "A-aku, i-itu tidak sengaja. Su-sungguh! Seandainya aku bisa menjelaskannya––" Sakura menggantung kalimatnya. Tubuhnya bergetar menahan tangis. "Di-dia tidak akan pergi Naruto ... tidak akan menghilang ..." wanita itu kembali menatap Naruto nanar. Beribu rasa bersalah masih terus menghantuinya. Kegalauan menguasai dirinya.
Naruto tidak berkomentar. Tidak juga bergeming. Ia hanya bisa menatap Sakura sendu.
Sungguh di saat getir seperti ini, dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa menyelesaikan masalah. Tidak bisa membuat wanita di depannya tertawa. Bahkan menghentikan tangisnya, rasanya susah.
Sakura lekas membereskan barang-barangnya. Rasanya ingin cepat pergi dari tempat itu. Ia tidak tahan melihat Naruto. Jika ia terus berada di tempat itu, entahlah apa yang akan terjadi. Mungkin wanita itu akan ambruk. Akan jatuh di depan Naruto, sedangkan ia tidak mau terlihat lemah di hadapannya. Sakura lekas beranjak dari kursi dan segera berjalan ke pintu keluar.
Naruto kontan mengejarnya. Sebelum Sakura membuka pintu, ia menarik lengannya. Menghentikan langkah Sakura saat itu juga. "Kau tidak mencintaiku?" Pertanyaan itu berhasil membuat Sakura membelalakkan matanya.
Tidak mencintainya? Tidak! Sakura sangat mencintainya. Bahkan ia merasa hatinya telah dikuasai Naruto. Telah dimiliki Naruto sepenuhnya. Namun Sakura tidak bisa dengan mudah melepaskan Sasuke. Jari manisnya masih terikat cincin yang mengikatnya dengan Sasuke. Tidak semudah itu ia berlari ke pria lain, sedangkan jika ia lakukan maka risiko yang lebih besar akan menghampirinya. Mungkin ia akan dibenci semua orang, termaksud Sasuke sendiri.
Tapi hal itu tidak bisa mencegah perasaannya. Tidak sama sekali. Sakura benar-benar sayang pada Naruto. Kadang ia berharap, seandainya ia menyadari perasaannya terhadap Naruto sejak ia masih duduk di bangku SMA, hidupnya tidak akan sesulit ini. Suasana genting seperti ini tidak akan pernah ada. Sasuke juga tidak akan menghilang.
Sakura membalikkan badannya. Memberanikan diri untuk bertatap muka dengan Naruto. "Kau tidak mencintaiku?" ulang Naruto. Mata biru sapphire-nya menatap kedua bola mata emerald Sakura. Meminta jawaban yang pasti.
Jika Sakura berkata 'tidak', ia sudah siap menerima segala risikonya. Ia akan tinggalkan wanita itu demi kebahagiaan wanita itu sendiri. Ia akan menggeser egonya, demi kebaikan. Kebaikan dirinya, Sakura, juga Sasuke.
"..."
Sakura masih diam tak bergeming. Tenggorokannya tercekat. Jawaban yang sudah ia siapkan tiba-tiba tertahan di lidahnya. Terkunci rapat akibat keraguan yang tengah menjalari otaknya.
"Kau masih mencintaiku, Haruno Sakura?" ulang Naruto untuk terakhir kali.
Dan sepertinya Sakura telah mendapatkan jawaban atas pertanyaan Naruto. Bibirnya mulai terbuka dan bergumam. "Ya." Dan setelah itu, Naruto merengkuhnya.
Memeluknya erat, seakan tidak mau melepasnya.
xxXXxx
Iwa, musim gugur ...
Lagi-lagi pemilik rambut indigo panjang itu mendapat cuti dari Mr. A. Kali ini alasannya bukan karena Sasuke –dulu Hinata sempat cuti beberapa hari karena kecelakaan yang dibuatnya, sehingga ia harus memastikan keadaan Sasuke (hampir) setiap waktu di rumah sakit– tetapi karena pria yang tengah memasuki umur kepala 5 itu akan segera terbang ke Suna. Jadi lagi-lagi Hinata mendapat cuti.
"Aku akan pergi beberapa hari." Ujarnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Ke-kenapa harus terbang ke Suna se-sekarang, Mr?" tanya Hinata setelah memasuki beberapa bawaan Mr. A kedalam bagasi. Ia sempat terkejut ketika mengetahui bahwa Bar 69 tutup.
"Kau belum tahu ya? Bee tertimpa beton kemarin sore, sewaktu dia melintasi gedung yang masih dibangun." Imbuh Darui yang duduk di jok depan dari balik kaca yang dibuka, sekaligus ialah yang mengendarai mobil itu.
Hinata kontan terperanjat mendengarnya. Mr. Bee juga salah satu atasannya. Dulu dia ikut mengurusi Bar 69 bersama kakaknya. Tetapi setelah membuka Pub di Suna, Mr. Bee pindah dan mengurus Pub di sana. "So-souka? A-aku turut berduka." Ucap Hinata getir, turut merasakan duka Mr. A yang memang sayang sekali pada adiknya.
"Arigatou. Kau ingin titip pesan apa?" lanjut Mr. A lagi sebelum masuk ke dalam mobil Van tua miliknya.
"Ti-tip salam, odaijini *1)."
"Baiklah." Dan setelah itu, Mr. A menutup pintu mobil Van tersebut.
Di sebelah Darui, duduk Samui, salah satu rekan kerja Hinata. "Kau baik-baik di sini ya." Pesan Samui sebelum Darui benar-benar menutup jendela mobil. Hinata mengangguk lalu melambaikan tangannya, seiring dengan melesatnya Van tua itu.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 siang dan matahari bersinar terik di atas. Angin bersemilir kencang, membawa hawa panas juga debu-debu yang mengepul. Cuaca hari ini memang bukan main panasnya, tetapi firasat Hinata mengatakan bahwa malam ini akan turun hujan –melihat awan berwarna kelabu di ujung sana. Untungnya awan itu belum berpindah ke Kota Iwa, sehingga Hinata masih bisa pulang tanpa kehujanan.
Butuh 30 menit untuk sampai di Apartemen, dimana flatnya berada. Setelah pintu lift terbuka, kakinya melangkah cepat ke depan flatnya. Ia mengetuk pintu dan beberapa detik kemudian suara derap kaki terdengar, disusul suara ceklek-an pintu.
Belum sempat Hinata membuka pembicaraan, pria di hadapannya menyela duluan. "Aku pinjam film horror." Ucapnya langsung dan berhasil membuat Hinata melongo.
"A-apa?" ujar Hinata setelah pintu tertutup rapat. Kini mereka berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya.
"Aku pinjam film horror, dari Deidara." Ulang Sasuke dengan sedikit pengimbuhan.
Hinata menyerngitkan dahinya. "Ka-kau mau nonton?" Sasuke mengangguk. "A-aku tidak." Tambahnya seraya memalingkan mukanya. Hinata paling anti dengan film berbau hantu dan sadis.
Pria berambut jabrik itu mengangkat kedua bahunya. "Tidak masalah."
xxXXxx
Matahri telah tenggelam di ujung barat sana, sedangkan lampu dibiarkan tidak menyala. Hanya cahaya remang-remang yang menyinari, juga cahaya dari layar kaca. Sasuke sengaja mematikan lampu. Sengaja memilih waktu pada malam hari untuk menyaksikan film horror yang direkomendasikan Deidara siang tadi.
Gaya berbicara Deidara ketika menceritakan sinopsis film bertitel "Knife" *2) itu berhasil mengundang rasa penasaran Sasuke, yang diakhiri dengan meminjamkan DVD bajakan itu ke Sasuke.
Lebih bagusnya lagi, Sasuke tidak sendiri malam itu. Ia ditemani –lebih tepatnya menemani– Hinata yang meringkuk di ujung sofa sembari menutup mukanya dengan bantal. Sasuke tidak memperdulikannya, yang ada di pikirannya kini hanya si hantu dan korban-korban di film itu.
Kenapa pula Hinata ikut menyaksikan film itu. Ya, meskipun setengah-setengah karena ia menutupi mukanya dengan bantal, mencegah menyaksikan hal-hal yang ditakutinya. Sebenarnya Hinata lebih memilih berdiam diri di kamar, tetapi lagi-lagi otaknya berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimana jika ada hantu di kamarnya? Hell no! Lebih baik ia menyaksikan film itu bersama Sasuke. Yah, setidaknya Sasuke ada di sampingnya.
"Sa-Sasuke-kun." Panggil Hinata dengan nada sedikit bergetar. Terselip rasa takut di nadanya. Film itu ternyata lebih seram dari bayangannya. Ia sampai tidak kuat menontonnya.
"Hn?"
"A-aku mau tidur."
"Hn."
"Sa-Sasuke-kun ..." panggil Hinata lagi sedikit merengek.
"Apa?"
"Te-temenin."
"Temenin kemana? Kamar mandi?" ujar Sasuke asal. Matanya masih fokus menyaksikan film di layar kaca.
Hinata tidak menjawab kala matanya terpaku pada layar televisi. Suasana mulai hening. Tidak ada suara, hanya ada suara jarum jam dan TV.
Layar menjadi gelap, sepertinya di dalam film itu sedang tidak ada pencahayaan –atau bisa dibilang sedang dalam adegan horrornya–. Seorang lelaki berambut coklat jabrik tengah meraba-raba dinding karena tidak ada pencahayaan yang cukup di ruang tak teridentifikasi itu. Raut wajahnya terlihat panik dan cemas. Keringat terus mengucur dari dahinya. Tiba-tiba alunan musik horror menyeru.
Hal itu berhasil membuat Hinata tambah bergidik ngeri. Juga memacu detak jantung Sasuke.
Si lelaki dalam film itu masih berjalan sambil meraba-raba. Sedangkan alunan musik horror terdengar semakin jelas. Si lelaki terus melangkah ... melangkah ... meraba sana sini dan ...
"GGGRRAAA!"
"AAAAAA."
Lelaki itu sukses teriak ketika sosok wanita berambut panjang menyerangnya menggunakan pisau. Sedangkan Hinata teriak tidak kalah kencangnya dari lelaki yang kini kepalanya tengah terpenggal dalam film itu.
Jantung Sasuke berdegup semakin kencang. Ditambah lagi perempuan merepotkan yang jelas-jelas tidak suka horror itu, kini malah nekat duduk di sebelahnya dan bersama-sama menyaksikan film itu. Sasuke pun langsung menyeka keringatnya, berusaha tenang agar tidak terlihat panik. Jujur, sebenarnya ia sama takutnya dengan Hinata. Namun cara pengaplikasiannya berbeda.
"Sa-Sasuke-kun .. i-itu kepalanya ke-kenapa bisa putus? Sa-Sasuke-kun a-aku takut ..." Hinata terus menarik lengan baju Sasuke. Tubuhnya bergetar hebat, tanda ia takut dan tidak suka adegan di layar kaca tersebut. Kedua mata lavendernya berkaca-kaca, hampir menangis.
Sasuke menghela nafas pasrah. "Yare, yare. Kau ini seperti anak kecil saja." Sanggah Sasuke. "Aku temani ke kamar." Imbuhnya. Ia lekas mematikan DVD, menyalakan lampu, dan menuntun Hinata ke kamarnya. Lebih baik ia sudahi ritual menontonnya.
Sesampainya di kamar, Hinata langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Ia memiringkan badannya menghadap jendela. "Sa-Sasuke-kun, tu-tup jendelanya." Perintah Hinata sembari menutup wajahnya dengan guling.
Sasuke mengalah dan segera menuruti perintah wanita berambut indigo itu. Setelah menutup jendela dan gorden, ia mematikan lampu. "Sa-Sasuke! Ja-jangan matikan lampunya."
"Hn." Sasuke kembali menyalakan lampu. "Kau butuh apalagi?" Hinata tidak bergeming. Sepertinya Hinata sudah mulai tenang. "Baiklah, aku keluar." Ucapnya sebelum menutup pintu kamar itu rapat.
xxXXxx
Benar dugaan Hinata, hujan tengah mengguyur Kota Iwa. Petir tidak henti-hentinya menyambar –mengejutkan Hinata dalam tidurnya. Selama beberapa jam terakhir, kedua bola mata lavender itu masih terbuka. Kelopak matanya enggan menutup. Pikirannya masih terngiang akan film yang tengah diputar tadi. Keringat dingin menyapu lehernya. Jantungnya tidak berhenti berdegup cepat. Ia tidak bisa tidur sendiri malam ini. Harus ada yang menemani. Dan salah satunya orang yang bisa menemaninya sekarang hanya pria yang tengah terlelap di atas sofa.
Jangankan Hinata, Sasuke juga tidak bisa tidur. Kedua matanya masih terbuka lebar. Film horror tadi masih menghantui pikirannya. Beberapa adegan yang terkesan sadis dan ngeri memang susah untuk dihapus begitu saja. Jika sudah tau begini, ia tidak akan tonton film itu. Ditambah malam ini petir terdengar begitu jelas. Berhasil membuat bulu kuduknya naik.
NGIIIEK
Suara denyitan pintu terdengar di telinganya. Sasuke membelalakkan matanya. Membangunkan tubuhnya sehingga posisinya duduk. Ia menoleh ke belakang. Mencari sosok Hinata. Selain Hinata, siapa lagi yang akan membuka pintu? Namun sosok yang dicarinya tidak ada. Dari balik sofa, ia tidak melihat kehadiran Hinata yang sedang berdiri di ambang pintu, atau sosok Hinata yang tengah berjalan ke arahnya.
'Sial!' umpatnya dalam hati.
Suasana semakin mengerikan saja. Ditambah suara deru hujan dan petir yang membuat malam itu semakin mengerikan. Lampu juga tidak menyala, sengaja ia matikan. Sungguh menyesal dirinya karena terbawa omongan Deidara siang tadi.
Daripada berpikir yang tidak-tidak, Sasuke pun mengalihkan pandangannya kembali ke depan sembari merebahkan tubuhnya kembali dan ... "IIIE." Ia sukses memekik ketika mendapati sosok wanita berbalut daster putih selutut dengan rambut panjang yang menjulur ke bawah. Tapi segera ia tahan pekikannya. Akhirnya detak jatung Sasuke beringsut juga ketika menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah hantu. Mana ada hantu yang memeluk guling seperti itu? "Hi-Hinata?"
Yak! Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Hinata. Hinata menatap Sasuke dengan mata yang tengah berkaca-kaca. "Sa-Sasuke-kun." Dan ia segera duduk di sebelah Sasuke, setelah Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke heran. "Mengagetkan saja." Komentarnya lagi. Sasuke memasang ekspressi sedatar dan sibiasa mungkin. Meskipun selang beberapa waktu lalu air mukanya terlihat panik.
"A-aku takut." Gumam Hinata pelan dengan nada yang sedikit bergetar.
"Tidurlah." Sasuke berujar singkat, sama sekali tidak mengobati rasa takut yang terus menjalar di otak Hinata.
"A-aku tidak bisa ti-tidur."
"Aku temani ke kamar." Sasuke langsung menuntun Hinata untuk berdiri dan mengantarnya ke kamar. "Kau tidak bisa tidur jika lampu terus dinyalakan." Imbuh Sasuke lagi setelah Hinata berbaring di atas kasur. Tubuhnya ia miringkan menghadap ke arah jendela.
"Ka-kalau begitu matikan, ta-tapi ..."
"Tapi ...?"
"Te-temani aku tidur."
Sasuke mendelik setelah mendengarnya. 'Dia minta kutemani tidur?' itulah reaksi otak negatifnya. "Ma-maksudmu––"
"Ma-maksudku kau berdiri saja di situ." Sela Hinata sebelum Sasuke berpikiran yang enggak-enggak.
Sasuke segera menepis pikirannya. "Baiklah." Dan ia pun mematikan lampu. Suasana mulai menjadi hening.
Sasuke berdiri di tepi ranjang Hinata yang berukuran big size. Aa, seandainya ada futon, Sasuke akan tidur di atas futon itu. Sayangnya Hinata tidak menyimpan futon di lemarinya.
Entahlah, keberadaan Sasuke yang berdiri di sampingnya sama sekali tidak mengusir ketakutan Hinata. Ia malah merasa bahwa yang berdiri di dekatnya bukan Sasuke, melainkan seorang gadis berambut putih panjang yang mengenakan daster putih semata kaki.
"Sa-Sasuke-kun." Panggil Hinata lagi setelah hening tercipta selama 5 menit.
"Hn?"
"Ka-kau masih ada di situ?"
Sasuke menepuk jidatnya. Sungguh pertanyaan yang bodoh. "Kau pikir siapa yang menjawab tadi, heh?"
"Ka-kau duduk saja di atas kasur, bi-biar aku bisa memastikan keberadaanmu." Ucapnya masih membelakangi Sasuke.
Sasuke menghela nafas sebelum duduk di tepi ranjang. "Hn."
Kembali, hening menyapu.
"Sa-Sasuke-kun, kau masih ada di sana?" tanya Hinata lagi dan lagi, masih dalam posisi membelakangi Sasuke.
Sasuke malas berkata panjang lebar dan mulai mengeluarkan gumaman khasnya. "Hn."
Kembali hening.
"Sa-Sasuke-kun?"
"Hn?"
"Ti-tidurlah di sebelahku. A-aku merasa kau seperti wanita berambut panjang yang tengah duduk di kasurku."
Sweatdropped. Sasuke ingin rasanya berteriak kala itu juga. Tapi ... tunggu? Tidur di sebelahnya? Yang benar saja!
"Apa?" Sasuke masih tidak percaya. Ada perasaan yang aneh setelah Hinata mengatakannya.
"I-iya, tidur di sebelahku. Ja-jadi aku bisa pastikan kau tidak pergi dari sini." Lanjut Hinata. Tanpa Hinata sadari, mukanya telah berubah menjadi merah padam.
"Tapi––"
"Ku-kumohon."
Hinata memang wanita dewasa, tetapi malam itu kelakuannya sungguh seperti anak TK! Sasuke pun mengalah setelah mendengar nada yang memohon sepeti itu. Sebelum ia merebahkan dirinya di samping Hinata, ia meyakini perempuan itu terlebih dahulu. "Aku tidak akan berbuat macam-macam."
"Y-ya, a-aku ta-tau itu." Nadanya semakin bergetar. Begitu pula jantungnya. Bahkan saking heningnya suasana malam itu, Hinata bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Kini Sasuke merebahkan dirinya di sebelah Hinata. Sedikit menjaga jarak. Mencegah sesuatu yang tidak-tidak terjadi.
Dan kini suasana hening entah untuk keberapa kali.
Hanya ada suara deru hujan dari luar sana, juga detak jantung keduanya yang berpacu lebih cepat. Untungnya suara petir mulai beringsut sedikit demi sedikit. Tetapi tetap, Hinata tidak bisa tidur. Kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena pria yang terngah berbaring di sebelahnya.
Hinata tidak bisa mengatur nafasnya. Detak jantungnya. Matanya tidak kunjung tertutup. Begitupula Sasuke.
"Sa-Sasuke-kun."
"Hm?"
"Ka-kau bukan hantu kan?"
Urat di kepala Sasuke telah menyembul. Perempuan di sebelahnya memang benar-benar keterlaluan. Tidak percayakah dia bahwa Sasuke kini tengan berbaring di sebelahnya? Rela menemaninya hingga tertidur, karena setelah Hinata tertidur pulas, ia tidak akan membiarkan dirinya ikut tertidur di sampingnya. Ia akan segera pergi meninggalkan kamar. Tapi kenapa perempuan di hadapannya ini tidak kunjung percaya? Dan kenapa ia terus mengoceh?
Sasuke langsung mengambil langkah cepat untuk mengunci bibir perempuan itu rapat.
Sasuke mempersempit jaraknya dengan Hinata. Kedua tangan besarnya memeluk Hinata dari belakang.
Hinata kontan tersentak kaget. Matanya mendelik. Jantungnya berpacu lebih cepat, lagi. Bahkan Sasuke dapat merasakan detak jantung perempuan itu dari punggungnya. Ingin rasanya Hinata menepis tangan besar itu, tetapi ... tubuhnya kaku. Kelu.
"Aku masih di sini, Hinata." Ucapnya lembut, masih memeluk erat Hinata.
Kini Sasuke yang menjadi tidak karuan. Wajahnya memanas setelah memeluk perempuan itu. Tetapi lambat laun, degup jantung mereka melambat perlahan-lahan, meskipun kedua insan itu tengah merasakan perasaan yang aneh. Perasaan yang menghantui mereka ketika mereka berpautan seperti itu. Perasaan yang tidak dapat dijelaskan langsung, yang jelas malam itu,
Hinata merasakan sebuah kehangatan. Kenyamanan akan pelukan yang begitu erat. Kehadiran Sasuke benar-benar menepis rasa takutnya.
Hinata membalikkan badannya –berhadapan dengan Sasuke– dan membalas pelukan pria itu. Sasuke sedikit terkejut namun mencoba untuk biasa. Mengatur nafasnya. Mengubah air mukanya supaya tidak terlihat mencurigakan di depan Hinata. Tubuh Sasuke pun menegang ketika Hinata memeluknya.
"A-aku percaya." Dan Hinata membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke.
Otot-ototnya mulai meregang sedikit demi sedikit, setelah kehangatan dirasakannya. Kehangatan dari tubuh mungil yang berada di dekapannya.
Ia tidak pernah setenang ini.
Tidak pernah senyaman ini.
Tidak pernah sedamai ini.
Yang jelas saat itu, mereka berdua tertidur pulas. Hingga matahari terbit pun, keduanya masih saling berpautan.
tobikontinyu
Bales ripiuw buat yg g log in :
ryuzaki : Udah apdet nih, thanks reviewnya :D
Kirin : Makasih udah nunggu ^^ udah apdet nih! RnR yaa?
Yuuaja : Padahal menurut saya kamu pandai lho bikin fic. Kenapa tidak mencoba? Gak salah kan? Nanti saya coba kunjungi fp kamu dan baca karya" kamu :) tapi coba dulu nulis di sini he he ... Oh iya makasih koreksinya. Saya emang lemah dalam menyusun kata" dan typo. Ugh T.T thanks koreksinya :)
Ryuta : Udah update! RnR lagi ya :D
Catatan :
*1) Odaijini : Kalau dalam bahasa Indonesianya 'Semoga lekas sembuh' tapi dalam bahasa Inggris kok beda ya? Hemmm -.-a
*2) "Knife" film yang diproduseri Amee de Clarissa (read: karangan imajinasi saya sendiri) *digampar rame"*
Yak! Lagi-lagi kepanjangan chapter-nya =.=a sumimasen ... semoga reader memaafkan segala kesalahan saya,,
Oh ya ada NaruSaku-nya nyelip~ kyaaa~ maaf mereka terkesan jahat banget T.T tapi sebenarnya mereka baik kok ... cuma mereka dipaksa saya jadiin jahat di sini *dihajar NaruSaku, NaruSaku FC dan warga kampung*
Kekurangan dan kelebihan dapat disampaikan lewat tombol hijau di bawah :D
