Karena AU, jadi pasti OOC. Banyak kalimat yang rancu karena saya tidak edit lagi T.T

CHAPTER 6 : The Answer

Sang Hyuuga membuka matanya perlahan akibat cahaya matahari yang menyeruak masuk. Badannya masih terkulai lemas. Pikirannya masih tidak karuan –berusaha mengingat kejadian semalam.

Hinata masih terbaring di atas tempat tidur sendiri. Tunggu? Sendiri?

Dengan cepat Hinata meraba tempat di sebelahnya, 'Kosong?' namun tidak mendapati siapa-siapa. Seingat Hinata, Sasuke tengah berbaring di sebelahnya. Merengkuhnya. Melindungi perempuan itu dari perasaan takut, tetapi ... kemana dia?

Dengan sigap Hinata bangun dan berlari kecil ke arah pintu. 'Kemana Sasuke?'

CKLEK

"Ohayou." seru pemuda yang kini duduk di kursi meja makan.

Hinata menyipitkan matanya. Menatap pemuda itu heran. Hinata masih mengenakan daster putihnya yang begitu kusut, begitu juga rambut indigonya yang acak-acakkan. Sedangkan Sasuke terlihat lebih rapi. Sepertinya ia bangun lebih dulu.

Yang membuat Hinata bingung, pemuda itu terlihat begitu santai. Ekspressinya datar seperti pagi-pagi biasanya, padahal Hinata sudah bersusah payah mengatur tingkahnya yang sedikit salting. Namun setiap kali melihat Sasuke, jantungnya selalu berdetak lebih cepat. Percuma juga Hinata bersikap untuk lebih biasa, tetapi hasilnya nihil. Pemuda itu selalu membuat perasaannya tidak karuan. Selalu memberi kejutan. Ah, bagaimana ia tidak salah tingkah?

"Gomen, tidak bermaksud meninggalkanmu, tetapi aku lapar sekali." Candanya.

Mau tidak mau Hinata tersenyum. Setidaknya semalam ia tidak bermimpi. Sasuke benar-benar menemaninya.

Perempuan itu melangkahkan kakinya mendekati meja makan, lalu segera mengambil posisi bersebrangan dengan Sasuke. Pemuda berambut raven jabrik itu tengah melahap sepotong roti dengan selai coklat di atasnya. Makanan favorit selama di Konoha dulu.

"Kau suka roti?" tanya Hinata basa basi.

"Hm. Kau pikir makanan apa yang kau berikan setiap pagi?"

Hinata terkekeh pelan. "Aku lupa belanja bulan ini. Baka Hinata ne?"

"Setuju."

Lagi-lagi Hinata menahan tawanya. "Baiklah, temani aku belanja hari ini, ok?"

"Hn." Dan Sasuke kembali menggigit sepotong roti yang merupakan stok makanan terakhir pagi ini.

Bersama Sasuke memang membuat hari-harinya lebih berwarna. Setidaknya, sang Hyuuga bisa kembali tersenyum.

xxXXxx

Andai saja awal bulan, kali ini Hinata harus berdesak-desakan mengambil barang ini dan itu. Untungnya hari ini begitu sepi pungunjung. Hinata tidak harus berdesak-desakan atau berebut trolley.

Kedua insan itu terus menyusuri jalan setapak itu. Di antara mereka berdiri kokoh rak yang terisi oleh sederet bahan makanan. Hinata mengambil beberapa bahan dapur seperti bumbu, saus, dan sebagainya lalu meletakannya di dalam trolley. Sedangkan Sasuke yang bertugas mendorong trolley hanya mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat, sembari mendorong trolleynya pelan.

"Malam ini kita makan Sukiyaki bagaimana?" tanya Hinata.

"Hn."

Supermarket ini terlihat biasa, hanya saja Sasuke tidak bosan melihat sederet makanan itu. Sasuke menghentikan langkahnya. Begitu juga Hinata yang kini tengah sibuk melihat komposisi sekaleng makanan.

"Psst."

Sebuah suara, tepatnya bisikan berhasil tertangkap basah oleh telinga Sasuke. Pemuda itu kontan mengalihkan pandangannya, mencari sumber suara, sampai akhirnya ia membalikkan badan, mendapati seseorang yang tidak ingin ditemuinya pada saat seperti ini ...

'Gaara?'

Tepatnya pada saat ia sedang bersama Hinata.

Pemuda lain yang unik dengan rambut merah jabriknya berdiri di dekat rak, tempat di persimpangan. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Ah, entah mengapa senyuman itu begitu mengerikan. "Sini!" ucapnya tanpa bersuara.

Sasuke menyerngitkan dahinya. 'Sial! Apa yang dia lakukan di sini?' umpatnya sebelum kembali menatap Hinata –meyakinkan bahwa Hinata masih sibuk melihat-lihat dan tidak menyadari keberadaan Gaara.

"Hinata, aku ke toilet sebentar." Karangnya sebelum melesat pergi.

"Eh, Sa-Sasuke-kun?" terlambat, Sasuke sudah menghilang. 'Cepat sekali?' dan setelah itu ia kembali mengambil kaleng-kaleng lainnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke langsung setelah menyeret Gaara ke lorong lain.

"Belanja. Kau pikir apa?" jawab Gaara polos. Tangannya memang menggenggam keranjang, tetapi hanya berisi snack-snack ringan.

Sasuke menatap Gaara tajam. "Maksudku, kenapa kau masih ada di sini? Aku pikir kau sudah pulang ke Suna."

"Oh, itu." Gaara pura-pura connect. "Aku juga ingin berlibur, sama sepertimu." Ucapnya, tepatnya sindirnya.

Sasuke tau, Gaara masih berada di Kota Iwa karena dirinya. Pemuda Uchiha itu mengambil satu helaan nafas. Jangan-jangan Gaara sudah mulai sinting?

"Sasuke, yang tadi bersamamu siapa? Istrimu?" celetuknya asal dan berhasil mengundang tatapan tajam dari Sasuke.

"Bukan, baka! Itu perempuan yang kuceritakan itu!" *1)

Gaara terkekeh pelan. "Kau tidak usah marah begitu, tapi memang benar, kalian terlihat seperti sepasang suami istri."

Sepintas ada perasaan bangga dikata begitu, tetapi dengan cepat Sasuke menepis pikirannya. "Tolong, kau pura-pura tidak kenal denganku di depannya. Bisa kan?" ujar Sasuke memohon.

"Iya, iya. Tidak usah khawatir. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang hari ini, bisa?" tawar Gaara.

"Terserah."

"Bagus, aku temui kau di cafe waktu itu. Ja!" setelah itu Gaara pergi meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di depan pendingin makanan.

Sasuke akhirnya melangkah kembali, menghampiri Hinata yang kini tengah berbaris di dekat kasir –menunggu giliran untuk bayar.

Menyadari kehadiran Sasuke, Hinata pun langsung menatapnya heran. "Sa-Sasuke-kun, kau lama sekali."

"Gomen." Ujarnya singkat.

Hinata hanya bergumam sembari kembali menatap belanjaannya di atas trolley, sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan kasir. Dengan cepat ia mengangkat barang-barangnya ke atas meja kasir, dibantu Sasuke sedikit-sedikit.

Karyawan yang bertugas sebagai kasir mulai mengambil barang-barang itu lalu meng-scannya dengan barcode reader *2). Bunyi piip sesekali terdengar, mengisi keheningan pagi itu. Sasuke mengedarkan pandangannya kembali ke seluruh tempat, sedangkan Hinata sibuk meraba-raba isi tasnya –mencari dompet.

"Hinata?" gumam wanita yang bertugas sebagai kasir itu sambil mengamati sang Hyuuga lekat-lekat. Nampaknya ia tengah memperhatikan Hinata sedari tadi.

Hinata mendongakkan kepalanya. Raut wajahnya sama kagetnya dengan wanita di hadapannya. "Ka-Karui-san?"

Karui, nama penjaga kasir itu, hanya terkekeh pelan. "Kau kemana saja?" tanyanya.

Dulu wanita berparas tinggi dan berkulit hitam itu merupakan salah satu tetangga Hinata. Namun ia pindah setelah menikah, dan setelah itu Hinata tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Ada yang mengatakan bahwa Karui pindah ke Kota Kumo, tetapi nyatanya ia masih menetap di Iwa.

"A-aku tidak kemana-mana. Aku pi-pikir kau pindah ke Kumogakure." Ucap Hinata sambil memasang senyum. Ia benar-benar rindu temannya itu.

"Iie. Aku masih di sini. Ah, kau masih sama seperti dulu, selalu gagap." Gurau Karui. Tangannya masih sibuk meng-scan beberapa belanjaan.

"Dan matamu masih berwarna emas." Balas Hinata sambil tertawa pelan. Hinata memang mengagumi kedua mata Karui yang sepitas terlihat seperti warna emas.

Pandangan Karui mengalih ke pemuda di belakang Hinata yang sibuk, entah apa yang pemuda itu lakukan. "Suamimu?" celetuk Karui asal yang berhasil membuat wajah Hinata bersemu merah. Sayangnya, Sasuke sama sekali tidak menyadari perkataan Karui. Ia malah sibuk melihat-lihat sederet permen karet yang diletakkan di rak dekat kasir. Dasar kurang kerjaan.

"Bu-bu-bukan." Jawab Hinata langsung.

"Kalau begitu, pacarmu?"

Hinata menggeleng cepat. "Bu-bukan, di-dia."

"Hey, Hinata. Aku ambil ini satu ya?" tiba-tiba saja Sasuke sudah berada tepat di sebelahnya.

Hinata kontan mengalihkan pertanyaan Karui barusan. "Sa-Sasuke-kun, ke-kenalkan ini Karui-san." Ujar Hinata.

Sasuke menatap Karui sambil berguman. "Oh, Sasuke. Sepupunya Hinata." Ujar Sasuke asal. Hinata kontan melongo, sedangkan Karui hanya ber-oh –tanda mengerti.

"Karui, tetangga Hinata, dulu." Imbuh Karui. "Ne, sudah beres. Semuanya 500 ribu yen." *3)

Hinata menghela nafas lega. Untung Karui tidak menganggap yang tidak-tidak. Lagipula, sepupu? Hinata ingin tertawa mendengarnya, namun segera ia tahan. Setelah mengeluarkan beberapa lembar dari dompetnya, Hinata segera berpamitan pada Karui. Kini kedua orang itu melangkah keluar Green Market sembari menenteng beberapa kantong kresek.

"Hinata, aku boleh pergi sebentar?" ujar Sasuke setelah memasukkan kantung-kantung itu ke dalam Chevy merah.

"Ma-mau kemana Sasuke-kun?"

"Biasa, Deidara." Bual Sasuke.

"Mmmm ..."

"Ayolah, sebentar saja. Penting." Desak Sasuke.

Hinata akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah."

"Ok, sampai jumpa nanti." Dan pemuda Uchiha itu segera melesat pergi. Sepenting apakah sampai ia terburu-buru seperti itu? Biarkan saja. Lagipula setelah ini ada sesuatu yang akan perempuan itu lakukan.

Hinata segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Beberapa detik kemudian Chevy Bell Air merah itu melaju pelan, baru setelah keluar dari Green Market, mobil itu melaju kencang.

Hinata merubah tujuannya, berhubung Sasuke sedang pergi. Sepertinya ia telah membuat suatu keputusan. Dan keputusan itu kini membawanya ke depan gedung kepolisian.

Entah apa yang membawanya ke sana, tetapi ... Mendiamkan Sasuke terus-menerus bukan langkah yang bagus. Bagaimanapun juga, Sasuke pasti memiliki keluarga yang sedang menunggunya, mencarinya. Memikirkan itu membuat Hinata terus merasa bersalah.

Hey, jika Sasuke sudah pulang pun bukan berarti mereka akan lost contact kan?

Tanpa sadar Chevy merah itu telah berada di lingkup gedung kepolisian.

xxXXxx

Sasuke hanya duduk diam di atas kursi sembari menatap Katsunya tak berselera. Sedangkan Gaara sibuk menyantap makan siangnya, berlawanan dengan Sasuke yang nampaknya sama sekali tak berselera.

Mereka kini sedang berada di sebuah restoran kecil yang terletak di pinggiran kota. Sebelumnya mereka sempat bertemu di depan cafe tempat mereka bertemu tempo hari.

"Kenapa tidak kau makan?" ucap Gaara heran.

"Tidak lapar." Jawab Sasuke seadanya. Jujur ia lapar, tetapi ia enggan untuk makan.

Gaara meletakkan sumpitnya di atas mangkuk nasi, lalu menatap pemuda Uchiha itu. "Ada masalah? Kenapa jadi diam begitu?"

Sasuke menarik sudut bibirnya –tampak mengejek. Gaara memang berpikir bahwa Sasuke –kini– banyak omong, tetapi jika saja ia masih bertahan di Konoha, Gaara yakin Sasuke akan dingin dan diam seperti biasa.

"Kau belum ceritakan tentang perempuan itu." Ujar Gaara mengalihkan topik.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Perempuan itu?"

"Ya. Yang di supermarket itu."

"Oh." Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. Yang Gaara maksud adalah Hinata. Ah, entah apa yang akan Sasuke ceritakan.

Gaara tertawa pelan. "Maksudku, ceritakan saja sedikit mengenai dirinya."

Sasuke mengkerutkan dahinya. Sepenasaran apakah Gaara sampai-sampai ingin tahu urusan orang lain? Yah, sebenarnya tidak adalah salahnya juga untuk menceritakan riwayat Hinata sekilas. Ya, sekilas saja. Selama Hinata tidak pernah terbuka, tidak ada yang penting bisa diceritakan ini.

"Namanya Hinata." Ucap Sasuke akhirnya. Gaara menatapnya serius –menyimak setiap ucapan yang akan Sasuke lontarkan. "Rambutnya panjang dan indigo. Matanya aneh, eh, unik. Abu-abu atau lavender, ah entahlah. Tidak terlalu tinggi, yaah bisa dibilang pendek. Terlihat kurus, tapi dia selalu makan lebih dari 3 kali dalam sehari. Pipinya sering sekali merah, mungkin karena malu. Tampangnya sungguh inosen, polos, dan mudah dibuali. Bahkan aku bisa membohonginya dalam jangka waktu yang lama." Sasuke terkekeh mendengar perkataannya sendiri.

"Tapi dia terlalu polos. Kepolosannya itu yang membuatnya mau menerimaku di kehidupannya. Yah, meskipun ia menganggap hanya sebagai perwujudan rasa pertanggung jawabannya akan kecelakaan waktu itu. Tapi sebenarnya di mau menerimaku karena memang ia menginginkannya. Ia memiliki hati yang baik, ah, terlalu baik."

Gaara memandang Sasuke heran. Kenapa Sasuke tampak sumringah sekali ketika menceritakannya, namun ia menyembunyikan rasa senang itu di balik wajah datarnya. Dia memang pandai menutup-nutupi. Tetapi tetap saja, Sasuke yang banyak omong itu aneh. "Lalu?"

"Hmm, oh dia penakut. Bahkan aku pernah menemaninya tidur. Yah, anggap saja aku seorang ayah yang menemani anaknya." Raut wajah Sasuke berubah seketika. Sebuah pikiran menyeruak masuk ke otaknya. "Hanya itu."

"Hanya itu?"

Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Mungkin ..." Sasuke menggantungkan kalimatnya sejenak. "Kadang aku sering mendengarnya menangis tanpa alasan yang jelas. Terkadang ia suka kesal ketika aku menyinggung tentang keluarganya." Rasa penasaran Sasuke kembali menghantui. Hinata sama sekali belum pernah terbuka, hal itu membuatnya merasa ganjal. Tidak enak.

"Souka?"

"Hn."

"Sasuke."

"Hn?"

"Kau menyukainya?" kata-kata Gaara berhasil membuat Sasuke mendelik. Sebelum Sasuke membantah, Gaara menyela duluan. "Dari cara kau menceritakannya, hey, sejak kapan kau mau menceritakan tentang tunanganmu padaku? Sedangkan kau gamblang dan lancar sekali menceritakan perempuan yang baru kau temui beberapa bulan lalu."

Sasuke terdiam. Ingin menyela tetapi lidahnya kelu. Entah apa yang akan pemuda itu katakan nanti.

"Sasuke kau jelas-jelas menyukainya." Imbuh Gaara lagi.

Sasuke menggaruk tengkuknya. "Entahlah." Entah apa ia menyukai perempuan itu atau tidak? Hinata memang baik padanya. Sasuke menyukainya. Tetapi ... rasanya ada alasan lain yang membuat Sasuke menyukai pemilik rambut indigo itu.

"Bagaimana perasaanmu jika kau berada di sisinya?" tanya Gaara lebih lanjut.

Kenapa Gaara selalu bertanya? Seolah-olah ingin meninjau perasaannya lebih jauh. Tetapi jika ia boleh jujur, Sasuke akan menjawab bahwa ia senang berada di sisi Hinata. Ia akan merasa nyaman dan lega. Seolah-olah Hinata bisa mengangkat besi –life, love, career– yang membebani dirinya. Termaksud Sakura yang menghantui pikirannya beberapa waktu lalu. Kini Sakura tidak lagi mengisi pikirannya. Kini luka hatinya mulai tertutup sedikit demi sedikit. Kini rasa perih, pilu, nyeri mulai menghilang. Semua itu karena Hinata. Hinata. Dan Hinata.

"Sasuke." Gaara melambaikan sebelah tangannya di depan wajah Sasuke, membuat Sasuke terbangun dari lamunannya.

"Apa kau bilang tadi?" satu pertanyaan bodoh yang berhasil membuat Gaara terkekeh.

'Benar, Sasuke menyukainya.' "Lupakan." Tutup Gaara yang berhasil membuat Sasuke kesal.

"Ah, sudahlah. Lagipula aku akan pulang sebentar lagi."

Perkataan Sasuke berhasil mencuri perhatian Gaara. "Pulang ke tempat penampunganmu selama di Iwa?"

"Cih, bukan. Pulang ke rumah, Gaara." Ucap Sasuke dengan menekankan kata pulang.

"Konoha?"

"Hn."

"Kau akan mengaku?" kata Gaara dengan menekankan kata mengaku. Sasuke menggeleng. 'Lantas?'

"Hinata yang akan memulangkanku."

"Bagaimana kau tau?"

Sasuke menghela nafas. Jujur, ia tidak tau sama sekali jika hari ini Hinata akan melaporkannya ke kepolisian. Melaporkan bahwa ada orang hilang yang terdampar di flat perempuan Hyuuga itu.

Tetapi firasat Sasuke yang berkata. Perempuan itu akan segera mengembalikannya ke Konoha. Cepat atau lambat, tapi pasti. Dan Sasuke sudah siap untuk mengaku. Mengaku kebohongannya selama ini. Ia siap jika perempuan itu marah nantinya. Membenci dirinya. Toh Sasuke tidak peduli. Tetapi perasaan asing itu membuat dirinya terusik.

Sungguh, jika ia boleh jujur ia tidak mau pulang. Bukan karena ia tidak mau bertatap muka dengan keluarga atau kerabatnya. Bukannya ia tidak ingin bertemu dengan Sakura lagi, tetapi ia tidak mau kehilangan Hinata.

Karena meninggalkan Hinata sama saja merubah hidupnya ke kehidupan semula, sedangkan Sasuke jauh lebih menyukai kehidupannya yang sekarang.

"Aku juag tidak tau."

Dan setelah itu Sasuke benar-benar diam. Merenungi setiap pikiran yang menghantuinya.

xxXXxx

"Hmm, amnesia ya?" gumam pria paruh baya itu yang mengenakan seragam polisi lengkap. Hinata hanya diam –menunggu kepastian–. Semoga ia bisa mendapat bantuan. "Kami akan coba cari. Setidaknya ada data medisnya *4), yah meskipun kami lebih membutuhkan identitas." Imbuh pria itu lagi.

"Ha-Hanya itu yang saya punya."

"Tidak masalah. Kami akan berusaha semampu kami. Kami akan hubungi anda setiap ada perkembangan dalam pencarian." Ujar pria itu lagi.

"A-arigato."

"Tidak masalah."

Setelah itu Hinata beranjak dari duduknya. Berpamitan dengan pria paruh baya yang bertugas sebagai polisi itu lalu pergi meninggalkan ruangan. Ia melangkah di tengah koridor yang sepi itu. Tiba-tiba Sasuke melintas dipikirannya.

Kenapa perasaan tidak rela masih menyeruak masuk di relung hatinya?

Kenapa ia tidak mau melepas Sasuke?

Bukankah ia seharusnya bahagia jika Sasuke kembali ke rumahnya? Setidaknya, keluarganya bahagia, tidak perlu mencemasi Sasuke. Hinata juga masih bisa bercontact dengan Sasuke malalui telfon, e-mail, dan jaringan sosial. Kenapa harus bingung?

'Baka, Hinata.' Innernya sembari menepis pikiran jeleknya. 'Tenang, kau tidak akan kehilangan Sasuke.'

Kehilangan?

Ya, yang ia rasakan adalah kehilangan jika Sasuke pulang nantinya. Ia akan kehilangan pemuda yang tidak bisa membuatnya menahan senyum. Pemuda yang akan melindunginya jika ia merasa terganggu oleh sesuatu.

Pemuda yang mengisi kekosongan flatnya. Juga kekosongan hatinya.

Ia belum pernah merasakan perasaan seaneh ini. Perasaan yang meledak-ledak ketika bertatap muka dengan pemuda itu. Terlebih jika kedua bola mata lavender bertemu dengan onyx. Tatapan onyx itu begitu hangat ketika menatap kedua bola mata lavendernya lekat.

Sungguh, Hinata belum pernah merasakan kehangatan itu.

Saat pemuda itu merengkuhnya *5) Hinata benar-benar merasa nyaman. Meskipun ia sedikit terusik oleh detak jantungnya sendiri, juga detak jantung Sasuke. Tetapi detak jantung itu berubah menjadi alunan musik di telinganya.

Apakah perasaan aneh ini?

Hinata tidak tahu. Hinata tidak berani mengambil kesimpulan.

Tanpa sadar kakinya sudah berada di dekat Chevy merahnya. Ia masuk ke dalamnya dan langsung melajukan mobil itu. Menjauh dari gedung besar itu.

Sepintas, ia merasa menyesal telah melaporkan keberadaan Sasuke.

Matahari mulai tenggelam. Sudah berapa lamakah ia berada di gedung itu tadi? Seingatnya ia menunggu hampir berjam-jam hanya untuk melapor, karena polisi selalu sibuk. Bahkan Hinata tidak sempat makan siang, saking bingungnya dia.

Chevy merah itu tidak mengantarkannya ke arah apartemen, tetapi ke arah yang berlawanan. Chevy merah itu tangah mengantarnya ke depan sebuah lapangan bola. Setelah memarkirkan Chevy Bell Air, ia turun dan melangkah masuk ke lapangan terbuka itu.

Ia ingin mengenang masa lalunya sedikit. Tidak tau apa alasannya, yang jelas kakinya ingin sekali melangkah kemari.

Setelah membuka pintu pagar, ia mendapati seseorang yang tengah duduk di atas bangku penonton. Kedua mata onyxnya menatap lapangan bola yang tak terurus.

Hinata mau tidak mau menyungging seulas senyuman. Pemuda itu Sasuke.

Ngomong-ngomong, kenapa Sasuke berada di tempat ini?

Hinata segera melangkahkan kakinya kembali setelah menutup gerbang. Dengan langkah cepat ia menghampiri pemuda itu, lalu duduk di sampingnya. Sasuke tidak menoleh ke arahnya, ia tetap memandang lapangan –seolah-olah ia telah mengetahui siapa yang telah duduk di sampingnya.

"Hai."

"Hn."

"A-apa yang kau lakukan di sini?"

Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Entah."

Sasuke hanya merasa sesuatu tengah menggerakan hatinya untuk menghampiri lapangan itu.

Mereka tenggelam dalam keheningan.

Hanya ada suara angin yang bersemilir pelan. Matahari hampir menghilang dari tempatnya. Langit tengah menjadi oranye kekuning-kuningan. Beberapa burung tampak melintas di atas sana.

"Kau tau?" suara Hinata memecahkan keheningan, membuat Sasuke menoleh ke arahnya. "Dulu aku sering sekali ke sini." Lanjut Hinata.

"Main bola?" tanya Sasuke polos yang berhasil membuat Hinata terkekeh.

Namun Hinata menggelengkan kepalanya. "Iie."

"Lantas?"

Sebelum melanjutkan ceritanya, Hinata menendang kecil kerikil-kerikil di bawah kakinya. Lapangan itu memang benar-benar tidak terurus. "Aku senang duduk-duduk di sini. Melihat matahari tenggelam. Terkadang menyaksikan anak-anak kecil bermain bola."

"Begitu?"

"Hu uh. Pemandangan di sini memang menarik." Hinata menelusuri setiap sudut lapangan. Betapa rindunya ia dengan tampat itu. "Yah, meskipun hanya lapangan yang tak terurus, tapi aku menyukainya."

Di depanya memang hanya ada sebuah lapangan bola yang tidak terurus. Hanya ada hamparan luas rumput yang sudah agak panjang, juga gawang yang hanya ada tiangnya. Sudah berapa tahun lapangan ini terlantar?

"Du-dulu adikku suka bermain di sini."

Sasuke kontan menyerngitkan dahinya kala mendengar kata adik. Selama ini Hinata tidak pernah menyinggung tentang keluarga, bahkan adik. Pemuda Uchiha itu akhirnya lebih memilih bungkam, menyimak apa yang akan Hinata lontarkan nantinya.

"Err ... di-dia perempuan, ta-tapi suka sekali bermain bola." Lanjut Hinata sembari memandang ke bawah. Kakinya menendang-nendang kecil batu kerikil di sekitarnya.

"Siapa namanya?"

"Ha-Hanabi. Nama yang bagus kan? Sayangnya dia sedikit tomboy." Ucap Hinata sambil terkekeh pelan, mengingat adiknya yang dulu suka bertingkah lucu.

"Hn." Gumam Sasuke.

"Ta-tapi sayangnya, hidupnya tidak lama." Suara Hinata terdengar parau. "Penyakit, entah penyakit apa." Raut wajah Hinata berubah muram dalam sekejap. Matanya menatap kosong batu kerikil di bawahnya. Tanpa Hinata sadari, ia telah membendung air mata.

Ah, ia masih ingat betul adiknya. Keluarga satu-satunya yang masih dia anggap. Orang satu-satunya yang mengisi flatnya. Hanya Hinata dan Hanabi, berdua.

Sasuke menatap Hinata miris, "Aku turut sedih mendengarnya." Ucap Sasuke pelan sambil menepuk pundak Hinata pelan –menenangkannya–. Ingin ia rengkuh tubuh mungil perempuan itu, namun perasaan ganjal menghalanginya. Ia takut salah bertindak.

Hinata memaksakan seulas senyum lalu manatap Sasuke yang masih menatapnya miris. "Iie, tidak apa. A-aku bahagia sekarang. Se-setidaknya aku tidak sendiri lagi." Dan Hinata menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke, kemudian melingkarkan tangannya ke lengan pemuda itu.

Sasuke dibuat terkejut, namun mencoba untuk santai dan menerima perlakuan Hinata. Ia cukup bahagia melihat Hinata bisa bahagia. Terlebih, jika ia tidak sendiri.

'A-aku bahagia, Sasuke-kun bisa datang ke kehidupanku.'

Kini Hinata menatap hamparan luas di depannya.

Kedua insan itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Hinata seakan menyadari perasaan yang selalu menghampiri dirinya. Perasaan yang mampu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Perasaan yang selalu menghangatkannya. Perasaan yang nyaman dan luar biasa, ketika berada di dekat Sasuke.

Apakah ia menyukai pemuda asing itu?

Apa malah jatuh cinta?

Sasuke sendiri juga bingung. Sasuke juga merasakan apa yang Hinata rasakan selama ini. Perasaan yang menggeser nama tunangannya dari benaknya. Perasaan yang mengobati luka hatinya.

Berbagai pertanyaan berputar di otaknya. Apa dia mencintainya? Apa sekedar menyukai? Ah, Sasuke benar-benar bingung.

Hinata menghela nafasnya.

"Sasuke."

Panggilan Hinata berhasil membuyarkan lamunan Sasuke. "Hn?"

"Jangan pergi." Ujar Hinata lirih. "Jangan tinggalkan aku." Seandainya ia dapat mengulang waktu, Hinata yakin tidak akan melaporkan keberadaan Sasuke sekarang. Tidak akan memulangkannya.

Pernyataan itu berhasil meluluhkan hati Sasuke. Membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengakui sandiwaranya. Rasanya ia ingin amnesia sungguhan saat itu juga *6) selama ia bisa bersama Hinata lebih lama lagi.

Senyum tidak dapat menghilang dari bibirnya. Mulutnya terbuka dan bergumam, "Tidak akan."

Hinata merasa lega mendengarnya. Jantungnya semakin berdegup cepat. Semburat merah tidak bisa disembunyikan lagi. Ia menatap Sasuke yang juga menatapnya.

Mata lavender itu menatap mata onyx itu lekat. Menyusuri. Meyakinkan apa yang Sasuke katakan sebelumnya, dan Hinata tidak menemukan kebohongan di dalamnya.

Sasuke tidak akan meninggalkannya, dan Hinata yakin akannya.

Tiba-tiba kedua insan itu menyadari perasaan yang masih menjadi tanda tanya itu. Perasaan yang mereka bilang aneh.

Dan jawaban dari perasaan itu adalah suka. Sayang. Cinta.

Hinata membuka mulutnya. Melontarkan satu kata yang akan mengubah hidupnya, mulai saat itu.

"Daisuki."

Sasuke tidak menjawab. Hanya tersenyum tulus ke arah perempuan di sebelahnya yang kini tengah menatapnya dengan penuh harapan.

Berharap Sasuke juga merasakan apa yang dirinya rasakan.

Ia senang. Ia lega. Ia sangat bahagia. Jika Sasuke membalas perasaannya.

Dan Hinata tidak perlu ragu karena pemuda itu juga merasakan perasaan yang sama.

Tiba-tiba sebelah tangan Sasuke mengangkat dagu Hinata, mendekatkan wajahnya pelan, dan mempertemukan bibir mereka.

Tidak perlu kata-kata untuk mengisi keheningan sore itu.

Cukup perasaan yang bersuara di telinga mereka.

tobikontinyu

Bales review buat yg ga log in :

Yuuaja : Tidak masalah koq kalo cuma reader ^.^b saya ga maksa kamu nulis di sini, cuman saran kok :D tentang janur dan bendera kuning, ya ya saya tau, cuma saya emang sengaja nulis bendera kuning (kematian) bukan janur kuning (pernikahan) karena banyak manusia jaman sekarang yang suka memperebutkan istri orang *?* he he makasih reviewnya ya,,

q-chan : Adegan romantisnya sedikit-sedikit ya he he, semoga chapter ini udah banyak. Makasih reviewnya

Kirin : Eyke juga seneng soalnya udah direview hehehehe,, udah apdet! RnR lagi yaa

Seichi : Hehehe Hinata emang childish *dijyuuken Hinata* yosh! Udah apdet, RnR lagi ya~

Namizuka min-min : Makasih reviewnya yaa

Smangat riviu : Wah masih semangat aja nieh? Sekarang reviewnya jangan telat yaa :) Makasih reviewnya bikin saya semangat ^.^

Ama d ema : Wah maaf ya kalo capek bacanya hehehe. Semoga suka chapter yang sekarang :) Makasih reviewnya

Lye riviu lagi : Genki desu! Anatawa? *OOT* Dari mana ya? Inspirasi sih dai otak saya ama pelem" Amerika hehehe. Makasih ya reviewnya

Really : Udah update nih!

Catatan :

*1) Waktu Gaara dan Sasuke di cafe. Check chapter 4

*2) Barcode reader : Buat mengscan barang belanjaan, coba search di google :)

*3) Anggap saja Rp. 500.000,- lebih dikit -_-a

*4) Data medis pastinya dari rumah sakit pas Sasuke kecelakaan waktu itu, tapi kalo KTP Sasuke kan gak ada hehehe

*5) Baca chap 5 ^.^

Curhatan Author :

Weeee maaf ya kalo chapter ini ternyata gak memuaskan T.T

Maaf maaf maaf saya main upload aja..

Udah saya bikin dari lama tapi gak sempet ngelanjutin,, dan akhirnya saya lanjutkan pas saya lagi cuti kerja

Saya harap reader masih bisa ngikutin ceritanya dan mau menerima segala kesalahan saya :)

Oh iya, mau hiatus untuk beberapa waktu yang tidak bisa ditentukan *?*

PROMOSI : "The Sisterhood" diperankan oleh Hyuuga Hinata n Haruno Sakura
Bukan shoujo-ai kok :) Itu crack and straight pairing (read: SasuHina n NaruSaku)

Kekurangan dan kelebihan dapat disampaikan lewat tombol hijau di bawah :D