Karena AU, jadi pasti OOC. Banyak kalimat yang rancu karena saya tidak edit lagi ToT

CHAPTER 7 : A Glimpse of Memory

Gadis kecil itu duduk di atas ayunan tua. Denyit sesekali terdengar ketika kaki gadis itu bergerak-gerak kecil –membuat ayunan itu bergoyang seiring gerakan kakinya. Butiran-butiran putih berjatuhan lalu menyentuh tanah –membendung hingga warna khas tanah itu berubah menjadi putih.

Hawa dingin menusuk tulang, meskipun perawakan kecil itu dibalut sweater yang tebal. Sweater biru favoritnya. Hanya saja, hawa dingin itu tidak terasa menusuk. Tubuhnya menggigil, tetapi otaknya tidak merespon.

Menurutnya, lebam di pipinya jauh lebih menyakitkan. Lebam akibat luka yang diterima beberapa hari silam. Luka yang masih terasa sakit, akibat pukulan dari ayah kandung sendiri.

"AAAA!"

Sebuah teriakan berhasil membuat gadis itu mendongak. Ia tahu dari mana asal suara itu.

Dari sebuah rumah.

Rumah yang berjarak beberapa meter dari tanah tempatnya berpijak.

Dengan sigap gadis itu melompat. Berlari cepat ke arah dimana teriakan itu berasal.

Berdo'a dalam hati, semoga orang yang berteriak itu tidak apa-apa.

'Oh, Kami-sama ...'

Tetapi perkiraannya salah. Ketika berdiri di ambang pintu, ia sudah disambut oleh pemandangan tak menyenangkan. Pemandangan miris. Menyedihkan. Menyakitkan.

Seorang bocah lain tersungkur ke lantai. Dengan luka lebam hampir di sekujur tubuhnya. Dan yang lebih menyedihkan, cairan merah menggenang di atas lantai –tepat di hadapan muka bocah tersebut yang kini bertatapan dengan lantai Mengamati wajahnya yang begitu menyedihkan.

"Otou-san!" seru gadis berambut indigo yang kini berlari kecil ke arah ayahnya. "Otou-san jahat!" tidak ada yang namanya rasa bersalah. Ia terus memukul-mukuli ayahnya. Tidak terima adiknya diperlakukan begitu kasar. Begitu tidak layak.

"Apa-apaan kamu, Hinata?" bentak sang ayah tidak kalah galaknya.

Hyuuga Hinata, nama gadis berumur 8 tahun itu. Ia tidak peduli. Ia terus memukuli ayahnya.

"Hinata!" kesabarannya hilang dan pria paruh baya itu siap mengangkat tangannya. Siap melayangkan satu tamparan di pipi bocah tidak bersalah itu.

"Hiashi!" sebuah seruan terdengar dari balik pintu.

Hiashi tidak menghentikan aksinya. Ia tidak peduli. Amarah telah menguasai dirinya.

PLAK!

Satu tamparan mendarat di pipi mungil itu, berhasil membuat Hinata terhempas ke belakang.

"Hiashi! Hentikan!" isak seorang wanita paruh baya itu sambil meraih kedua anaknya. Merengkuhnya. "Apa yang kau lakukan?"

"Cih, mereka hanya bisa mengganggu kerjaku! Lihat apa yang Hanabi lakukan?" Hiashi menunjuk ke arah dimana kertas-kertas berserakan. Kertas yang berisi aset dan dokumen penting, namun telah bertransformasi menjadi sebuah karya anak kecil. "Ia menggambar di atas dokumen-dokumen itu? Baka! Makanya, aku tidak pernah mengijinkannya anakmu itu untuk masuk ke ruanganku!"

"Di-dia masih kecil, Hiashi ..." ucap wanita berambut indigo itu. "... dia tidak mengerti apa-apa."

"Hn. Kau saja yang tidak bisa mendidiknya, bodoh!" bentak Hiashi yang berhasil membuat wanita itu menangis.

Ia hanya bisa duduk, merengkuh kedua anaknya. Berusaha melindungi mereka, meskipun hasilnya sia-sia. Kedua anaknya hidup di bawah siksaan sang ayah. Anaknya hidup di bawah pukulan dan caci makian tiap harinya. Anaknya tidak bisa luput dari penderitaan, jika saja sang ayah tetap berada di sisinya.

Sedangkan Hinata tidak dapat menguasai tangisnya. Kedua pipinya terasa nyeri. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Batinnya benar-benar ditekan, dan hatinya terluka.

Sedangkan adiknya, Hyuuga Hanabi, hanya bisa diam. Siksaan seperti itu sudah biasa. Ah, rasanya saat dipukul tadi ia tidak merasakan apa-apa. Meskipun darah tersembur dari mulut mungilnya, rasa sakit itu benar-benar tidak terasa.

Hanabi mengalami siksaan yang lebih, dibandingkan Hinata yang 2 tahun lebih tua.

Kenapa ia merasa Hiashi lebih membenci dirinya, dibandingkan Hinata?

Apa karena penyakit bawaan dari lahir? Penyakit yang membuatnya begitu lemah di mata Hiashi?

Entahlah.

"Kalian tidak usah makan malam hari ini!"

BRAK!

Dan Hiashi menutup pintu dengan kasar.

Hinata semakit merasa takut. Ia semakin mendekap ke pelukan ibu dan menangis sejadi-jadinya.

Sang ibu hanya bisa diam. Tenggelam dalam pikirannya. Mencari jalan keluar, bagaimana mereka bisa lepas dari segala siksaan.

...

"Hah ..."

Hinata membuka kedua kelopak matanya. Nafasnya tersengal-sengal, seperti habis dikejar sesuatu. Tubuhnya yang semula terkulai lemas di atas sofa kini mendadak bangun akibat mimpi yang berhasil memutar kembali memori.

Memori yang telah ia buang jauh-jauh.

"Hinata?"

Hinata mendongakkan kepalanya–mencari sumber suara. "Sa-Sasuke-kun?"

"Kamu kenapa?" tanya Sasuke agak panik sembari mengambil posisi di sebelah Hinata.

Tunggu, di mana ia sekarang?

Hinata menerawang ke seluruh ruangan. Ia tidak berada di kamarnya, tetapi di atas sofa. Oh, rupanya ia ketiduran. Parahnya, ia masih menggunakan kaos yang dikenakan sore kemarin. Oh Tuhan, sudah berapa lama ia tidur? Sedangkan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.

Hinata menggelengkan kepalanya. "Tidak apa."

"Yang bener? Kenapa mukamu pucet begitu?" Sasuke menyentuh dahi perempuan Hyuuga itu dengan punggung tangannya –berhasil membuat Hinata bersemu merah.

"Ti-tidak a-apa-apa."

"Yakin?"

"Hu um."

"Mimpi buruk?" tembak Sasuke.

Hinata hanya bisa diam. "Eng ..."

"Ceritakan mimpimu itu." Sela Sasuke langsung.

Entah apa yang akan perempuan itu ceritakan. Masa lalunya, ah, maksudnya mimpinya sama sekali tidak patut Sasuke ketahui. Ia tidak mau mengumbar-ubar masa lalu yang terasa begitu pahit dan menyakitkan.

"Tidak ada apa-apa Sasuke-kun. Hanya mimpi biasa, dikejar setan atau sebagainya." Ucap Hinata sambil terkekeh pelan.

Sasuke tersenyum mendengarnya. "Kalo kamu masih belum tenang juga, jasa peluk gratis tersedia." Canda Sasuke yang berhasil mengundang tawa Hinata.

Namun akhirnya Hinata mempererat jarak antara dirinya dan Sasuke. Ia melingkarkan kedua lengan dan menyandarkan kepalanya di dada Sasuke.

Kehangatan merambat masuk ke tubuh mungilnya. Debaran jantung akan rasa panik dan takut mulai menyusut, digantikan oleh debaran kasmaran yang akhir-akhir ini ia rasakan ketika berada di dekat pemuda itu.

Sasuke membalas pelukan itu sembari mengusap rambut Hinata pelan. Begitu lembut helaian-helaian rambut indigo panjang itu, dan Sasuke sangat menyukainya.

"Semuanya akan baik-baik saja." Gumam Sasuke lalu mengecup kepala Hinata.

"Aku tau."

Selama ada Sasuke di sisinya.

xxXXxx

"Sial."

Gumam pria berambut merah itu. Umpatan-umpatan kasar tidak lepas dari mulutnya selama perjalanan menuju ke Apartemen.

Hari itu ia benar-benar membuatnya emosi.

Tanpa sadar ia telah berdiri di ambag pintu.

Tok! Tok! Tok!

"Iya, iya sabar!" seru suara dari dalam.

CKLEK!

Begitu pintu terbuka, pria itu langsung masuk. Tidak menghiraukan pemilik flat yang menatapnya heran.

"Kau kenapa lagi, Sasori?" ujar pria lain yang berambut pirang setelah menutup pintu.

Sasori tidak menghiraukan. Ia lebih memilih merebahkan diri di atas sofa. Menghilangkan kepenatan yang tidak bosan menemaninya selama seharian lebih.

"Ditolak lagi?" tembak Deidara, pemilik flat itu.

"Hm." Sasori menjawab sambil memejamkan mata.

"Mungkin –"

"Aku tidak tau apa yang ada di pikiran Uchiha sialan itu. Kerja kerasku selama ini kalah oleh proyek dari Sabaku Company. Cih, sia-sia usahaku selama ini!"

Deidara menghela nafas. Sudah berapa kali proyek sahabatnya itu ditolak mentah-mentah oleh Uchiha corp –perusahaan bergengsi di Negara Jepang itu. "Sudahlah."

Akhirnya Sasori benar-benar memejamkan matanya. Menghilangkan rasa lelah juga tekanan batin. Aduh, tekanan batin. Segitunya kah?

"Kau mau makan apa Sasori?" Deidara beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah dapur.

"Apa saja." Jawab Sasori datar. Rupanya ia masih belum bisa memasuki alam tidur.

Deidara mengambil dua piring Tempura dari dalam kulkas. Sebenarnya Deidara tidak pandai memasak. Semua makanan yang berada dalam kulkas adalah pemberian para tetangga, atau mungkin ia beli sendiri.

"Great. Microwavenya rusak." Celetuk Deidara yang sama sekali tidak direspon Sasori. Deidara terus menekan-nekan tombol tetapi microwave itu tidak kunjung menyala. "Sebaiknya aku panaskan di tempat Hinata."

"Eh, tidak usah." Sela Sasori.

Deidara menghentikan langkahnya. "Kenapa?"

"Kau buat ramen saja. Ada berapa cup lagi di lemari? Masih banyak kan?" Sasori akhirnya membuka kedua matanya. "Eh, ngomong-ngomong, bagaimana kabar Hyuuga?" ujarnya sembari bangkit dari posisi tidurnya. Entah mengapa mendengar nama Hinata membuat Sasori sedikit tertarik. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan perempuan Hyuuga itu.

Namun hal yang membuat Sasori lebih tertarik ketika mendengar nama Hinata adalah marga yang disandang perempuan itu. Hyuuga.

Deidara meletakkan kembali Tempuranya lalu melangkah mendekati Sasori dan duduk bersebrangan darinya. "Hinata?"

"Hm."

"Baik." Jawab Deidara seadanya, "Oh ... kau tau Sasuke. Laki-laki yang tinggal di flatnya?"

Mendengar kata Sasuke Sasori langsung teringat pada Uchiha. Moodnya kembali buruk.

'Cih, Uchiha lagi – Tunggu. Sasuke? Sasuke yang menghilang tiba-tiba itu?' "Sasu–"

"Ya. Pemuda yang aku ceritakan waktu itu. Yang hilang ingatan gara-gara tertabrak mobil, ya, sebenarnya pelakunya sendiri Hinata. Karena itu ia tinggal bersama Hinata sekarang. Sebenarnya sih nama aslinya bukan Sasuke, tapi Hinata sendiri yang namain dia Sasuke gara-gara pemuda itu hilang ingatan. Oh iya, feelingku bilang sih kayanya Hinata suka sama pemuda asing itu. Wah, kalo sampe Hinata suka sama dia, bisa jadi masalah dong?" Urai Deidara lancar tanpa jeda sedikitpun.

Sasori menyerngitkan dahinya. Setahunya, bungsu Uchiha itu menghilang beberapa minggu atau bahkan bulan yang lalu. Hampir ia mengira bahwa yang tinggal bersama Hinata itu adalah Uchiha Sasuke. Namun mendengar cerita Deidara tadi, ia jadi tidak yakin.

'Aa, untuk apa dipikirkan.' "Sudahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu!" Pinta Sasori, tepatnya –perintah.

Deidara mendengus kesal. Sepertinya selama ia bercerita tadi, Sasori tidak memberi tanggapan. Percuma membuang nafas. "Aku bukan pembantu." Cibir Deidara sebelum beranjak dari duduknya.

Sasori kembali merebahkan diri sembari menunggu Deidara. Tiba-tiba saku celananya bergetar. Dengan cepat ia mengambil benda kecil yang terperangkap dalam saku tersebut. Hand phone itu masih bergetar meskipun sudah berada di tangannya. Ia melihat nama yang tertera di layar. Ternyata kliennya dulu. Tanpa pikir panjang pria berambut merah itu menekan tombol hijau.

"Halo, Sakura. Ada apa?"

xxXXxx

"Ayolah, aku pinjam sebentar saja."

Sejak tadi Sasuke tidak henti-hentinya memohon. Gaara yang tidak mau kalah pun tetap kukuh dengan pendiriannya. Ia tidak akan meminjamkan hand phone dengan brand Sony Ericcson itu.

"Tidak." Ucap Gaara datar, dingin, dan cukup jelas bahwa ia tidak mau.

"Aku hanya ingin memastikan keadaan di Konoha."

"Kau mau bunuh diri, heh?"

Sasuke menghela nafas. Ia menopang kedua tangannya di atas pembatas jembatan. Hari ini ia sengaja bertemu dengan Gaara, di atas jembatan, disaat matahari bersinar dengan terik. Uh, panas sekali.

"Lagipula, kau mau keberadaanmu terbongkar?" Gaara mengikuti langkah Sasuke –meletakkan kedua tangannya di atas pagar pembatas sembari menatap aliran sungai di bawah.

"Aku sudah bilang, aku beli sim card baru." Sasuke melongos, seingatnya ia sudah mengatakannya tadi.

Gaara akhirnya mengalah. Ia langsung mengambil benda kecil yang terdapat dalam saku celana. Setelah mengeluarkan batrei Smartphone itu, ia menyerahkan Smartphone itu ke hadapan Sasuke. "Nih."

Tanpa pikir panjang Sasuke meraih Smartphone tersebut, memasukkan sim card yang sudah ia genggam sejak 15 menit yang lalu.

Setelah meletakkan batrei dan menutup belakang Smartphone itu, ia mulai menyalakannya. Butuh waktu selama 15 menit untuk menyalakan Smartphone itu, dan selama 15 menit berjalan Sasuke tidak henti-hentinya mengutuk benda tak bersalah itu.

"Sudah bagus aku pinjamkan." Cibir Gaara.

Sasuke hanya memutar bola matanya. Ia benar-benar dikejar waktu. Masalahnya, ia ada janji pada kekasih, ehm, Hinata untuk makan siang bersama. Sebelum pergi, Sasuke bilang sih ada janji dengan Deidara cuma 15 menit, tetapi nyatanya 15 menit lebih. Bahkan menunggu Smartphone tersebut menyala butuh waktu 15 menit.

Akhirnya benda itu menyala juga. Sasuke menghela nafas lega dan langsung menekan nomer. Tunggu? Siapa yang akan dihubungi?

"Menurutmu, siapa yang harus kuhubungi?" tanya Sasuke sambil menatap Gaara heran.

Gaara membalas Sasuke dengan tatapan yang lebih heran. "Mana kutahu."

Setelah berpikir sejenak akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Itachi –kakaknya. Sasuke yakin, Itachi adalah pilihan yang tepat. Selain sikapnya yang tenang, Itachi adalah keluarga satu-satunya yang ia percaya. Padahal sebenarnya sih, Sasuke cuma hafal nomernya Itachi (-_-)a

Setelah menekan beberapa digit nomer, telpon tersambung. Sasuke menelan ludah. Perasaan gugup menyeruak masuk. Apa reaksi Itachi nantinya? Terkejut kah? Panik kah? Kaget kah? Pingsan kah?

Tuuut ... Tuuut ... Tuu–

Terdengar suara telpon diangkat. Jantung Sasuke semakin berdetak kencang.

"Hm?" dan itu adalah respon pertama yang berhasil menggertakkan giginya –kesal.

"Kenapa kau angkat telpon seperti itu? Seolah-olah kau tau bahwa itu aku."

"Memangnya kenapa?" jawab suara di sebrang sana datar.

Padahal Sasuke berharap ketika Itachi mengangkat telpon itu, pria yang 5 tahun lebih tua dari Sasuke itu terkejut atau panik atau cemas atau kangen atau apalah, tetapi apa reaksi yang Itachi berikan setelah menerima telpon dari sang adik yang telah menghilang selama sebulan lebih itu? Tidak ada reaksi. Cih.

Sasuke menghela nafas sebelum kembali berkomentar. "Bagaimana kabarmu?" Sasuke mencoba santai.

"Baik, kau sendiri?"

"Sama."

"Baguslah."

"Otousan, Okaasan?"

"Kurang baik."

Sasuke menggigit bibir bawahnya, sebelum menanyakan satu orang yang terakhir. "Sakura?"

"..."

"Kenapa kau diam?"

"Oh, aku rasa dia baik-baik saja."

Gaara menatap Sasuke sambil bergumam, "Siapa?" tanpa mengeluarkan suara. Sasuke tidak menggubris.

"Oh, begitu."

"Kapan kamu pulang, Sasuke?"

Sasuke juga tidak tahu sebenarnya. Kapan ia pulang? "Secepatnya."

"Baguslah, hati-hati di sana." Ucap Itachi seolah-olah ingin cepat-cepat mengakhiri telpon.

Sasuke mendengus. "Iya."

"Semoga cepat sembuh dari penyakit patah hatimu itu—PIIP" dan sambungan dengan sukses diputus. Ia mencopot langsung batrei Smartphone itu agak kasar, menarik sim card, lalu membuangnya asal.

Gaara menyerngitkan dahinya. "Kenapa kesal begitu?"

"Jangan bilang Itachi-niisan sudah tau." Sasuke masih memandang sungai di bawah sana.

"Maksudmu–" dan kini Sasuke menatap pemuda bermata hijau itu tajam, berhasil membuatnya bergidik ngeri. "I-iya. Gomenasai. Keceplosan."

Great! Tepat dugaan Sasuke. Itachi pasti sudah tahu di mana keberadaannya sekarang. Pantas saja Itachi begitu santai saat menerima telpon dari Sasuke. Bahkan mungkin alasan mengapa Sasuke pergi meninggalkan Konoha sudah diketahui Itachi.

"Tapi ia janji tidak akan bilang siapa-siapa, Sasuke. Calm down."

"Bagus sekali, Gaara." Sindir Sasuke.

Gaara hanya tersenyum simpul. "Tidak masalah."

xxXXxx

TING TONG

Bel kediaman Uchiha berbunyi. Yakushi Kabuto langsung membukakan pintu besar itu. Setelah pintu berdaun dua itu terbuka, tampak seorang wanita dengan pakaian kerjanya tengah tersenyum ke arahnya.

"Ah, Nona Sakura, silahkan masuk." Sapa Kabuto ramah.

"Arigato." Sakura melangkahkan kakinya masuk. Terdengar suara hentakkan antara high heels dan lantai yang terbuat dari marmer. "Kemana para pelayan?" tanya wanita berambut merah muda itu setelah duduk di atas sofa.

"Di belakang, Nona. Sebenarnya saya hanya kebetulan lewat sini." Ulas Kabuto.

Sakura mengangguk pelan. "Souka. Otousan, Okaasan di mana?"

Otousan dan Okaasan adalah sebutan untuk calon mertuanya, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto –orang tua Sasuke. Sebenarnya ia enggan memanggil dengan sebutan itu, hanya saja Mikoto terus memaksa Sakura untuk menyebutnya dengan sebutan Okaasan. Kesannya terdengar lebih akrab. Bagaimanapun juga, Fugaku dan Mikoto akan menjadi mertuanya, karena ia telah bertunangan dengan Sasuke.

"Nona mau minum apa?" tegur Kabuto yang berhasil membuyarkan lamunan Sakura.

"Tidak perlu, saya hanya sebentar."

"Baiklah. Saya permisi dulu, Nona."

Setelah Haruno mengangguk pelan, Kabuto pergi meninggalkan Sakura sendiri di ruang tamu.

Rasa jenuh mulai menguasai. Ia memandang ke seluruh ruangan bergaya victorian itu –seperti kastil. Tempat ini –dulu– adalah tempat ia berkumpul bersama –calon– keluarga. Tempat ia bersenda gurau bersama Fugaku, Mikoto, Itachi, dan Sasuke. Mereka sudah menganggap Sakura keluarganya sendiri. Tali persaudaraan mereka sudah begitu erat.

Jika dipikir-pikir, sudah berapa bulan ia tidak mengunjungi kediaman Uchiha. Sejak perawalan tahun ia memang kerap sekali disibukkan oleh pekerjaan. Hal itu membuat tali kedekatannya dengan keluarga Uchiha semakin ranggang.

Terlebih, setelah menghilangnya Sasuke.

Oh, Tuhan, betapa rindunya ia terhadap Sasuke.

Betapa rindunya akan kehangatan yang dulu selalu ia rasakan di ruangan itu.

'Semua itu salahku. Salahku!'

Sakura tidak pernah bosan mengutuk diri sendiri. Perasaan bersalah selalu datang menghantui. Tidak bosan membuat wanita bermata hijau zamrud itu cemas, panik, galau.

Sakura akhirnya lebih memilih menghampiri calon kedua orang tuanya itu sendiri. Ia beranjak dari kursi, meninggalkan hand bag yang tergeletak pasrah di atas meja.

Ia hafal letak-letak ruangan di rumah itu, meskipun rumah itu bisa dikatakan sangat luas.

Ia melangkahkan kakinya. Sayup-sayup terdengar suara dari balik pintu besar yang sedikit terbuka. Ia tidak langsung membuka ganggang pintu ketika mendengar percakapan di balik pintu tersebut.

"Sa-Sasuke–" ucap seorang wanita paruh baya. Tidak begitu jelas, tetapi Sakura dapat mendengarnya.

"Belum kunjung ditemukan." Jawab suara lainnya.

"Se-semua ini salah kita."

"Aku tau."

Sepintas Sakura mendengar suara isakan tangis. Oh, Tuhan, apakah ibu mertuanya sedang menangis? Tanpa Sakrua sadari, air mata kontan membendung di pelupuk matanya –ikut merasakan apa yang wanita paruh baya itu rasakan– ketika mendengar suara nan parau itu.

'Demi Tuhan, ini bukan salahmu, Okaasan, Otousan.'

"Sudahlah Mikoto! Kau istirahat saja." Tiba-tiba suara dari pihak pria paruh baya terdengar agak keras.

Sakura langsung beranjak dari tempat itu sebelum mendengar hal-hal yang lebih menyakitkan. Ia kembali ke ruang tamu. Duduk di atas sofa.

Tatapannya kosong. Pikirannya kacau.

Tangan lentiknya meraih hand bag merah miliknya. Merogoh isinya dan mendapati sebuah cell phone. Ia mencari-cari sebuah nama di kontak, sampai akhirnya tangannya berhenti mengscroll ke bawah.

Jempolnya menekan tombol hijau, dan sebuah langsung nama tertera di layar.

"Halo, Sakura."

"Halo, Sasori-san. Anda sibuk? Aku butuh bantuanmu."

tobikontinyu

Bales RnR di chapter ini gak dulu ya, intinya sih MAKASIH BANYAK! *digampar*

Curhatan Author :

Waktu nyeleseiin chapter ini, saya malah dapet ide buat bikin cerita lain dan akhirnya fokus ke cerita lain tsb -_- dan terbengkalailah cerita ini ToT

Weeee maaf ya kalo chapter ini ternyata gak memuaskan ToT

Udah gitu telat apdetnya *dihajar masa*

Saya harap reader masih inget ceritanya, sigh

Semoga konfliknya ada *?*. Semoga tambah seru. Semoga-hmmfftt~ *dibekep*

Kekurangan dan kelebihan dapat disampaikan lewat tombol hijau di bawah :D