Saya tau fic ini tidak pernah luput dari kekurangan jadi mohon maklumi -.-"

Karena AU, jadi pasti OOC. Banyak kalimat yang rancu karena saya tidak edit lagi ToT

CHAPTER 8 : Questions

Pria bertubuh besar itu menghela nafas. Rasanya panas sekali hari ini, ditambah ia baru saja bermain kejar-kejaran dengan sekelompok –atau biasa disebut gank– brandal yang hobi membuat keonaran di kota nan gersang ini. Ah, lebih tepatnya mengisengi dirinya. Rasanya sudah berkali-kali pria gemuk itu dikerjai. Sebagai polisi seharusnya Akatsuchi, nama polisi berbadan besar itu, bisa menghentikan keonaran gank brandalan itu.

'Ah, nasib orang gemuk.' Umpatnya sambil mendengus kesal. Tangannya membuka kenop pintu. Udara dingin langsung menyambut kedatangannya –membuat pria itu menghela nafas lega– ketika pintu terbuka.

Pria gemuk itu langsung berjalan menghampiri meja kerjanya. Sesekali ia membalas senyum ketika orang-orang yang dilaluinya menyapa. Meja kerja Akatsuchi terletak agak jauh dari pintu masuk, karena itu ia tidak menyukai letak mejanya yang kurang strategis. Ditambah, ia bersebelahan dengan Kurotsuchi –atau Kuro– polisi yang cukup menyebalkan –baginya.

"Bagaimana? Sudah tertangkap?" tanya pria yang mengenakan seragam kepolisian Iwa –sama dengan yang dikenakan Akatsuchi.

"Tidak." Jawab Akatsuchi singkat setelah mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Kakinya terasa sedikit lega karena akhirnya ia bisa duduk juga.

Kuro menggeleng. "Kau terlihat lelah, Akatsuchi," komentarnya sambil tersenyum tipis –seperti mengejek. "tapi... sepertinya kita mendapat tugas lagi."

Akatsuchi menoleh ke arah Kuro sambil menyerngitkan dahi. "Tugas?"

"Hu um."

"Aku lelah!" sanggah Akatsuchi yang kemudian mengambil sepotong donat dari atas meja dan melahapnya.

"Aku tahu, tetapi Onoki-sama terus mendesak. Well, you know, beliau sibuk sekali akhir-akhir ini." Ujarnya Kuro dengan logat inggris yang jelek sekali.

Akatsuchi menghela nafas pasrah. Lagipula ini adalah tugasnya sebagai seorang polisi. "Tugas apa?" cibirnya.

Kuro menggeser sebuah map –sepertinya berisi arsip penting– dari mejanya ke meja Akatsuchi yang hanya dibatasi celah beberapa centi. "Ini."

"Apa ini?"

"Data orang yang hilang."

"Eh?"

Kuro menangguk. "Buka saja map itu, tugasmu mencari keluarga orang yang hilang itu."

Akatsuchi membuka map coklat tersebut. Oh, ternyata isinya adalah sebuah data mengenai orang yang dikatakan menghilang –lebih tepatnya tersesat– itu. "Kenapa tidak ada namanya?" Akatsuchi menyerngitkan dahi. Ia hanya mendapati data-data kesehatan, seperti golongan darah –AB– dan ciri fisik. Ia menatap foto yang menggambarkan ciri-ciri orang itu.

Entah foto itu diambil kapan, yang jelas pemuda dalam foto itu memiliki mata yang hitam legam dan tajam –onyx– rambut jabrik biru donker agak panjang, kulit putih, dan berperawakan tinggi –setidaknya jika dibandingkan dengan orang-orang Jepang lainnya.

"Nama?" Kuro menutup koran yang tengah dibacanya tadi. "Identitas maupun KTPnya tidak ada, maka dari itu tugasmu adalah mencari segala informasi mengenai dirinya."

"Kenapa sampai tidak ada KTP–"

"Dia amnesia." Potong Kuro langsung, "hanya itu yang aku ketahui."

Akatsuchi membentuk huruf 'O' di mulutnya. "Ada-ada saja hidup ini." Komentar Akatsuchi sambil menggelengkan kepala.

Pria gemuk itu kini memandang Kuro yang kembali sibuk dengan bacaannya. Semenarik apakah koran itu? Sampai-sampai Kurotsuchi diam tak bergeming. Akatsuchi yang penasaran pun menggeser kursi beroda yang ia duduki sehingga ia bisa melihat apa yang sedang dibaca partnernya itu.

"World cup?"

"Memangnya kenapa?" tanya Kuro.

"Tidak." Akatsuchi megalihkan pandangannya ke sudut kertas koran tersebut. Ia melihat nama koran itu. "Konoha News?"

Kuro tertegun mendengarnya. "Oh, jadi yang aku baca ini Konoha News? Pantas beritanya update!"

Iwa memang bukan kota yang populer dan selalu update terhadap berita terbaru. Letaknya yang agak terpelosok membuat kota kecil itu ketinggalan berita, juga jadwal event-event menarik. Bahkan film, musik, dan fashion juga ikut tertinggal. Meskipun begitu, Iwa tetaplah salah satu kota yang banyak dikunjungi. Mungkin karena banyak bar dan diskotik yang berdiri di sana.

"Dapet dari mana?" Akatsuchi yang penasaran mengambil koran itu paksa.

Kuro yang mendapatkan koran tersebut ketika bertugas di Konoha sukses tersentak lalu menatap Akatsuchi kesal. "Aku belum selesai baca, gendut!"

Akatsuchi tidak menggubris. Ia terlanjur tenggelam dalam deretan-deretan kata yang berisi tulisan-tulisan yang menarik. Pantas Kuro –tumben– betah membaca koran selama itu.

"Kurotsuchi! Kau dipanggil Onoki-sama!" teriak seseorang dari ujung sana.

Kuro mendengus. "Yare, jangan bilang tugas lagi." Keluhnya sembari berdiri dari duduknya. "Nanti aku kembali lagi." Pesan Kuro sebelum melesat pergi.

Akatsuchi tidak bergeming. Ia sibuk membalik-balikkan koran tersebut. Tiba-tiba matanya berhenti tepat di halaman advertisment. Ia tertegun sejenak setelah melihat kolom yang terletak agak di bawah.

Tunggu. Sepertinya ia mengenal sosok yang tercetak di koran itu...

Ia membaca kolom itu.

Dicari orang hilang, dengan ciri-ciri...

Mata gelapnya berhenti pada sebuah foto berukuran 4x6 yang cukup menjelaskan ciri-ciri orang hilang itu. Dan ketika ia melihat dua kata yang menyebutkan sebuah nama, kedua mata gelap itu kontan mendelik.

"Kurotsuchi! Aku tahu siapa orang itu!"

Teriaknya yang sukses mengambil alih perhatian orang-orang di ruangan berAC itu.

Akhirnya... polisi gemuk itu bisa menyelesaikan masalah juga. Meskipun lebih pantas disebut suatu kebetulan.

xxXXxx

Keringat dingin membasahi lehernya. Jantung berdetak jauh lebih cepat. Matanya sukses membelalak, ketika ia mendengar sebuah kabar. Tidak ada kabar baik maupun buruk. Tetapi ia terkejut bukan main.

"Be-benarkah?" ucap nada lembut itu pelan. Terselip nada khawatir di setiap kalimat yang dilontarkan. 'Oh, Kami...'

"Iya, Hyuuga-san. Bahkan kami sudah mengetahui tempat tinggal Sasuke-san."

Hyuuga Hinata menelan ludah. Rasanya baru sehari ia bersenang-senang dengan Sasuke, sekarang ia mendapat kabar... err, entahlah buruk atau tidak. Kenapa ia merasa takut? Seharusnya ia turut bersuka cita. Akhirnya Sasuke bisa kambali. Ya, kembali.

"Hyuuga-san?"

"Ah, iya?" perempuan indigo itu bangun dari lamunannya.

"Perlu kami beritahu keberadaan Uchiha Sasuke ke keluarganya?"

"Ti-tidak perlu. Bi-biar saya yang memberi tahu." Kilah Hinata. Entah alasan apa yang membuatnya berkata seperti itu.

"Baiklah, Hyuuga-san. Mohon catat alamatnya ..."

Setelah itu Hyuuga Hinata tidak mendengar apa-apa lagi. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

"... Konoha."

"Ko-Konoha?" kontan perempuan itu terkejut lagi.

"Ya. Beliau berasal dari Konoha, dan anggota dari keluarga cukup terpandang di sana."

Oh Tuhan, rasanya Hinata ingin menjerit saat itu juga. Sasuke berasal dari Konoha? Kota yang tidak mau ia jumpai lagi itu? Terlebih Sasuke adalah seorang Uchiha –salah satu keluarga yang cukup dipandang di sana. Baka! Bagaimana ia bisa lupa bahwa Uchiha bukanlah keluarga yang sembarangan.

"Tolong anda kabari kami lagi jika sudah ada perkembangan." Pesan polisi tersebut sebelum sambungan diputus.

Hinata masih tercengang. Pikirannya benar-benar kacau. Apa yang akan perempuan itu lakukan? Menghubungi kediaman Uchiha? Great, bahkan ia lupa mencatat nomer telpon serta alamat kediaman Uchiha. Baka... Kenapa rasanya tidak rela melepaskan pemuda itu?

Sungguh, ia merasa kejam sekali. Kenapa ia sampai tidak mencatat nomer telpon dan rumah Sasuke di Konoha? Kenapa rasanya berat untuk menghubungi keluarganya di sana?

Jahat. Ia merasa jahat terhadap pemuda yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu.

Pasti orang tuanya sangat cemas akan menghilangnya Sasuke. Apalagi Sasuke adalah orang terpandang di kotanya. Menghilangnya Sasuke pastilah akan menjadi berita besar di Konoha –hal itu membuat Hinata semakin merasa bersalah. Seandainya ia fokus saat menyetir tempo waktu, kecelakaan itu tidak akan terjadi.

Seribu pertanyaan berputar di benaknya.

Bagaimana jika –ternyata– Sasuke telah memiliki kekasih di sana? Bagaimana jika Sasuke telah bertunangan? Bagaimana jika Sasuke telah memiliki istri? Dan bagaimana jika Sasuke telah berkeluarga? Dan Hinata tidak mau menjadi orang yang menghancurkan keluarganya.

Lalu, bagaimana jika orang tua Sasuke jatuh sakit?

Bagaimana jika ia bekerja di sebuah perusahaan ternama? Menduduki jabatan yang tinggi dan penting?

Bagaimana jika sahabat dan teman-temannya mengkhawatirkannya? Bagaimana jika warga Konoha mencemaskannya?

Tiba-tiba perempuan indigo itu teringat akan kota asal Sasuke. Konoha... Kota yang ia tinggalkan sejak beberapa tahun lalu.

Hinata enggan kembali ke sana. Bagaimana jika Sasuke pulang ke sana? Akankah ia sanggup menginjakkan kakinya ke Konoha demi menemui Sasuke?

Galau. Ia benar-benar galau, bimbang.

Yang ia tahu hanya ada satu jalan keluar untuk mengembalikan kehidupan pemuda itu seutuhnya.

Merelekannya.

Ya, kau harus merelakan kepergian Sasuke. Biarkan dia kembali ke kehidupan yang sebenarnya.

Bukannya terjerat di dalam flat kumuh ini. Tidak... Sasuke pasti memiliki hidup yang jauh lebih layak.

'Hinata, kau harus menghilangkan egomu!'

"Hinata?" Suara berat itu berhasil membangunkan Hinata dari lamunannya. Perempuan indigo itu masih meringkuk di sebelah meja. Wajahnya sedikit pucat. Sasuke menghampiri menghampiri Hinata lalu berjongkok di depannya. "Ada masalah?"

Hinata menggeleng. Bohong. "Tidak apa. Um... ki-kita jadi pergi kan?" ucapnya dengan nada –yang dibuat– sebiasa mungkin.

Sasuke mengangguk lalu membantu perempuan indigo itu berdiri. "Tentu." Ucapnya sambil tersenyum tipis.

Hinata membalas senyuman itu, meskipun dadanya terasa sakit. "Ba-baiklah."

Semoga hari ini bukanlah hari terakhirnya melihat wajah pemuda tampan itu. Sungguh, ia tidak rela melepasnya.

xxXXxx

"Kamu kenapa sih?" cibir Sasuke sambil memandang kekasih barunya heran.

Selama perjalanan, perempuan bermata lavender itu diam. Bicarapun hanya bila ditegur. Selebihnya ia membisu.

"Eh?" Hinata terbangun dari lamunannya lalu membalas tatapan Sasuke. Ia menggeleng pelan. "Ti-tidak apa." Hanya itu yang dilontarkan tiap Sasuke bertanya.

Sasuke mendengus kesal, lalu menatap Hinata kesal. "Ada yang kamu sembunyikan."

"Eng-nggak kok." Kilah Hinata langsung.

"Bohong." Sasuke menghentikan langkahnya lalu maju dan berdiri di depan Hinata –sukses menghentikan langkah Hinata. Mereka berhenti di tengah perjalanan, tidak peduli akan tatapan orang yang berlalu-lalang.

"Sa-Sasuke-kun?"

Sasuke meletakkan kedua tangannya di bahu perempuan berambut indigo itu. "Ceritakan."

"Ce-ceritakan apa?"

"Yang kau sembunyikan."

Hinata menelan ludah. Apa yang harus ia katakan? Masalah barusan? Tidak! Ia belum siap. "Na-nanti saja, Sasuke-kun." Hinata melepas cengkraman erat di bahunya. "Kita bersenang-senang dulu sekarang." Dan ia memaksakan seulas senyum.

Sasuke sedikit luluh melihatnya –melihat Hinata tersenyum. Rasa penasaran sedikit terobati. Ia pun mengalah. "Baiklah." Meskipun jujur, ia belum sepenuhnya lega.

Hinata melingkarkan lengannya di lengan Sasuke, lalu mereka kembali berjalan. Entah kemana tujuan mereka. Sejoli itu membiarkan kakinya melangkah, sampai akhirnya langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah gedung yang tak asing lagi.

"Bioskop?" tanya Sasuke.

Hinata mengangguk. "Kita nonton lagi ya?"

"Ok." Sasuke mengangkat bahunya lalu berjalan masuk. Tanpa melihat-lihat jadwal film terlebih dahulu, Hinata langsung melangkah ke loket.

"Ki-kita nonton ini aja ya?" tanpa aba-aba Hinata memilih movie yang entah apa judulnya. Sasuke tidak begitu memperhatikannya. Pemuda raven itu hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Hinata.

Setelah mendapat tiket pada jam pertama dan kebetulan jam telah menunjukkan pukul 12.45, mereka melangkah masuk ke dalam studio.

xxXXxx

"I'm sorry, but... I've been lying to my own feelings."

"What?"

"Yes. I don't love you."

"But? I-I love you, Seth!"

"I know. But our relationship can't stay last forever."

Hinata menangis. Matanya sembab, dan ia tidak berhenti menutup mulutnya sejak tadi. Ya, perempuan indigo itu selalu menangis jika menyaksikan film berbau romance atau angst. Dia adalah tipikal orang mudah tersentuh akan kata-kata indah. Mudah terbawa suasana, bahkan dalam film sekalipun. Rasanya setiap film yang ia tonton selalu ia hayati.

Tetapi kali ini tangisannya berbeda. Berbeda dari saat mereka menyaksikan P.S. I Love You.

Entah mengapa Sasuke melihat perempuan itu tidak sedang menangisi apa yang ia lihat,

tetapi apa yang ia rasakan.

xxXXxx

Halaman depan gedung tersebut penuh akan orang-orang yang berhamburan keluar. Film telah usai 30 menit yang lalu, tetapi gedung bioskop itu tetap ramai. Mungkin letaknya yang strategis sering dijadikan tempat untuk berkumpul, atau sekedar nongkrong.

Perempuan indigo dan pemuda berambut raven berjalan keluar. Salah satu dari mereka masih menggenggam popcorn yang tidak tersentuh sedikitpun.

Sasuke mempercepat langkahnya lalu menghentikan langkah Hinata yang sedang menunduk itu. "Kamu kenapa?" lagi-lagi Sasuke mengulangi sebuah pertanyaan yang lama-lama bosan juga didengar.

Hinata –lagi-lagi– menggeleng lemah. "Tidak apa." Suaranya parau, dan matanya sembab. Well, film yang baru mereka saksikan memang mengharukan, apalagi tidak diakhiri dengan bahagia. Tapi tidak segitunya juga kan? Masa kejadian-kejadian dalam film itu masih terngiang di benak Hinata? Itu hanya film. Fiksi!

Sasuke tahu Hinata menangisi hal lain.

Sasuke menarik nafas. "Kalau ada masalah, jangan kau sembunyikan, lebih baik kau tumpahkan seluruh hal yang mengusikmu." Sasuke menatap kedua mata lavender itu lekat. "Janji?"

Hinata membalas tatapan itu. Tidak peduli akan orang-orang yang berlalu-lalang –untungnya tidak ada yang memperhatikan mereka. Mungkin sibuk dengan urusan masing-masing. Hinata menghela nafas, lalu mengangguk sambil memasang senyum di bibirnya. Entah mengapa dadanya terasa sedikit lega ketika melihat Sasuke tersenyum ke arahnya. Rasanya beban terobati sedikit demi sedikit. Karena itu kah Hinata tidak rela melepas Sasuke? Entahlah.

"Kita makan siang sekarang?" gumam Sasuke. Sebelah tangannya mengacak-acak rambut indigo Hinata.

Hinata hanya terkekeh pelan. "Makan sore, Sasuke."

"Ah, memangnya sekarang pukul berapa?"

Sasuke menengadah ke langit. Memang benar, hari sudah sore. Bagaimana ia tidak menyadari hal itu? Jelas-jelas langit telah berubah menjadi oranye kekuning-kuningan, meskipun jam baru menunjukkan pukul 4 sore.

"Ba-bagaimana kalau kita makan di-di kedai ramen saja?" usul Hinata.

"Kedai ramen?"

"Iya, le-letaknya agak jauh sih."

Sasuke berpikir sejenak namun akhirnya ia mengangguk juga. "Boleh."

Setelah itu mereka melangkah pergi dari gedung bioskop. Meninggalkan pusat kota dan berjalan menuju daerah pinggir kota Iwa –di mana kedai ramen yang dimaksud berdiri.

Tidak terasa 30 menit berlalu. Kedua insan itu sampai ditempat yang dituju. Ternyata letaknya dekat dengan sungai. Hinata dan Sasuke memasuki kedai sederhana itu dan memilih tempat di luar. Kedai ramen tersebut memang tidak terletak di dekat pantai, sehingga memperlihatkan pemandangan yang indah. Tetapi Kedai yang satu ini berbeda. Pemandangan yang disajikan cukup menarik bahkan indah, meskipun hanya memperlihatkan sungai yang terletak agak ke bawah. Selain itu mereka dapat melihat matahari tenggelam dari kedai sederhana itu.

Hinata langsung memesan dua mangkuk ramen dan dua cangkir teh hangat sebelum kembali beranjak keluar –menuju tempat duduknya. Sasuke sudah duduk di depan, sedangkan kedua mata onyxnya menatap matahari yang akan segera tenggelam.

"Ba-bagaimana tempatnya?"

"Lumayan." Komentar Sasuke tanpa menoleh.

Hinata tersenyum mendengarnya. Ia jadi ingat, dulu Ibunya sering mengajaknya ke sini.

"O-okaasan sering mengajakku ke sini." Hinata menyuarakan isi pikirannya.

"Oh iya?" Sasuke mengalihkan pandangannya.

Hinata mengangguk pelan. "I-iya. Dulu... rasanya susah mencari makanan yang murah, jadi Okaasan selalu mengajakku ke sini."

"Lalu," Sasuke terdiam sejenak. "di mana ibumu?" tanyanya agak ragu. Takut menyinggung.

"Okaasan sakit parah," ucapnya lirih dengan senyum miris. "dan pergi beberapa tahun yang lalu."

Sasuke membentuk huruf 'o' di mulutnya. "Aku turut berduka."

"Setahun setelah itu, imouto menyusul, jadi... aku sendiri sekarang." Ah, rasanya perempuan itu ingin menangis jika mengingat-ingat keluarganya. Namun Hinata mencoba untuk tegar.

Sasuke tidak berkomentar.

"Kau tidak menanyakan Otousan?" tanya Hinata heran.

"Otousan?"

"Iya. Eh–rasanya topik mengenai keluarga tidak menarik." Hinata terkekeh pelan.

"Tidak. Aku mau denger kok." Sela Sasuke langsung. Sebenarnya ia juga penasaran, tetapi kalau ia mendesak Hinata untuk bercerita kesannya Sasukelah yang memaksa. Lagipula ia hanya ingin dengar jika Hinata yang berinisiatif cerita duluan.

"Baiklah." Ramen yang dipesan telah datang. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pemilik kedai, Hinata kembali pada kisahnya. "O-otousan adalah orang yang sangat keras." Ia memberi jeda sejenak lalu mulai mengambil sumpit. "di-dia tidak suka diremehkan, selalu mau menang sendiri. Ka-karena keras adalah tabiatnya, di-dia suka menyiksaku, Imouto, bah-bahkan Okaasan.

"Ka-karena itu aku tidak pernah mengagumi dirinya. Di-dia berbeda dari Otousan-Otousan yang lain. Bah-bahkan menurutku sifatnya tidak mencerminkan seorang ayah. A-aku heran, kenapa Okaasan mau menikahi pria brengs– ma-maksudku pria seperti itu? Pri-pria yang tabiatnya keras dan suka menyiksa orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Sa-sampai suatu hari, Okaasan merasa tidak tahan akan perlakuan Otousan. Ka-karena itu aku di sini sekarang. Me-menetap di Kota Iwa dan jauh dari kota asalku...

"... Konoha."

Ada penekanan saat Hinata mengucapkan kata 'Konoha'. Ia harap dengan menggumamkan nama kota tersebut, Sasuke bisa sedikit ingat. Ingat akan kota asalnya. Atau setidaknya merasa familiar dengan kata tersebut.

Dan ternyata benar. Sasuke sedikit terkejut mendengarnya. Meskipun tidak ia tunjukkan secara langsung karena ia menyembunyikan raut wajah yang panik –menghindari kecurigaan.

Sasuke tersenyum miris. "Aku turut prihatin, Hinata."

Tidak terpancing. Ingatan pemuda itu sama sekali belum pulih. Hinata menghela nafas. "A-arigato."

Percuma memancing ingatan Sasuke. Pemuda itu benar-benar amnesia. Mungkin Hinata harus mengingatkan pemuda itu secara blak-blakan –berhubung ia telah mengetahui banyak informasi mengenai diri Sasuke– tidak dipancing seperti ini. Namun sekali lagi,

Hatinya tidak rela.

Egois memang.

Perempuan indigo itu beranjak dari duduknya. Melangkah menghampiri pagar yang membatasi antara kedai kecil itu dengan sungai.

Sasuke yang heran ikut berdiri dan berjalan mendekati Hinata. Tanpa ragu ia melingkarkan tangannya di perut Hinata dan dagunya ia letakkan di bahu perempuan itu. Meskipun terperanjat, Hinata mencoba untuk rileks. Lagipula ia merasa hangat ketika didekap olehnya. Ketika ia menyalurkan kehangatan ke tubuhnya.

Mau tak mau Hinata memejamkan mata.

"Apa yang mengganggumu?"

"Tidak ada."

"Bohong."

"Iya, aku bohong."

"Lalu apa yang mengusikmu?"

Hinata membuka matanya. Menghela nafas sebelum menyuarakan isi hatinya. Sudah saatnya ia berkata jujur. Yah, meskipun tidak semua ia ungkapkan.

"Bagaimana jika... kau pergi?"

"Pergi?"

"Ya. Bagaimana jika kau berasal dari keluarga yang terpandang? Bagaimana jika kau adalah seorang pengusaha? Bagaimana jika kau telah memiliki kekasih? Tunangan? Istri? Atau bahkan keluarga? Bagaimana jika mereka semua, keluargamu, kekasihmu, sahabat dan teman-temanmu merindukanmu? Mengkhawatirkanmu?"

Sasuke terkejut mendengarnya. Sungguh. Suara yang Hinata begitu datar, tetapi terselip nada khawatir di setiap kalimatnya. Kenapa? Ia takut kah?

"Bagaimana jika kau pergi dari kehidupanku dan kembali ke kehidupan asalmu?" Hinata membalikkan tubuhnya. Ia meletakkan kedua tangannya di dada bidang itu dan membiarkan Sasuke tetap memeluknya. Kedua mata lavender itu menatap paras Sasuke yang terlihat bingung. "Akankah semua menjadi lebih baik?"

Tidak! Jika boleh lantang maka Sasuke akan meneriakan kata 'Tidak'. Hidup di Iwa jauh lebih baik. Jauh dari pekerjaan, jauh dari keluarga, jauh dari Sakura...

Oh Tuhan, ia tiba-tiba ingat bahwa ia sedang berbohong.

Statusnya saat ini? Pembohong. Sebutan untuk dirinya? The runaway boy –yang hanya bisa lari dari masalah dan tidak mau menghadapi masalah. Meskipun ia tahu bahwa suatu saat ia akan bangun dari tidur indahnya.

Tetapi sungguh, Sasuke memiliki alasan kenapa ia tidak mau meninggalkan tempat itu. Alasan kuat yang menjadi magnet bagi dirinya. Alasan yang membuatnya terperangkap di kota kecil itu dan betah di dalamnya.

Hyuuga Hinata.

Dialah alasan mengapa Sasuke bertahan.

Lupakan masa lalu! Biarkan kebohongan mengitari mereka. Yang penting ia bisa berada di dekatnya. Bisa selalu bersamanya.

"Tidak." Sasuke menyuarakan isi hatinya. "Tidak lebih baik."

"Kenapa?"

"Kenapa aku mengenalmu?"

Sasuke membalas dengan sebuah pertanyaan. Hinata berhasil mengkerutkan dahinya dan menggeleng lemah.

"Karena kau adalah alasan kenapa aku tetap bertahan."

Seulas senyuman tidak dapat lepas dari bibir mungilnya. "Kenapa aku perlu mengetahuinya?"

"Karena aku mencintaimu." Sasuke menjawab asal. Ia terkekeh bersama perempuan indigo itu.

Hinata memperkecil jarak di antara mereka hingga dahi mereka bertemu. Nafas mereka semakin terasa. Hangat. Jantung berdetak lebih kencang –mengalahkan derasnya sungai. Sasuke mempererat pautannya, dan Hinata melingkarnya lengannya ke leher pemuda itu.

Ia tersenyum tipis. "Aku juga mencintaimu." Setelah itu Hinata menutup kelopak matanya. Membiarkan bibir mungilnya dikunci rapat.

Kisah pada sore itu diakhiri oleh kecupan mesra yang berlangsung cukup lama.

Matahari tenggelam di ujung sana.

Rasanya dunia hanya milik mereka berdua. Oh tentu tidak. Masih ada pemilik kedai, juga...

Seorang pemuda berjas hitam yang sibuk memandang keluar. Memandang matahari yang mulai tenggelam dari balik tirai. Oh, bukan itu yang menjadi perhatian kedua mata pemuda tersebut. Tetapi sejoli yang sedang bermesraan di luar sana.

Tangannya masih menempelkan hand phone ke telinganya. Sebuah seringai muncul di bibirnya. Ia mulai bergumam.

"Hey Haruno. Maaf menunggu lama tapi ada benarnya perkataanmu. Tunanganmu ada di sini. Oh iya, dia juga bersama perempuan lain."

tobikontinyu

Balesan ReView:
Yuuaja :
Maaf mengecewakan Yuuaja-san ToT udah update lama, kayanya ga memuaskan juga -.-"

wajan dan panci : Hehehe,, dan OOC selalu jadi masalah ya? Maap -_-

zwetta hyuchi : Salam kenal juga ^.^ Maaf lama -.-" tapi udah apdet nih~

kakkoi-chan : Bakal long last gag ya? Let's see aja ya~

yulia : Udah apdet nih ^.^

Kirin : Dua kata "udah apdet!" *ditampar*

Seichi : ss0 itu Sakura? Apa Sasori? Apa SasoSaku? *ditendang*

Nagisa Imanda : Makasih hehehe udah apdet nih~

YouiChi HiKaRi : Entahlah tapi kaianya sih mau tamat *spoiler"* Makasih yaa~~ udah apdet nih,,

^ buat reviewer non login : TERIMA KASYOONG~

Curhatan Author :
MAAF APDET LAMA! *
sembah sujud* *emangnya ada yg nungguin?* Tapi saya maaf semaaf maafnya loh... soalnya saya lari dari tanggung jawab ToT gag lari juga sih, saya benar" sibuk sama kuliah. Terus ditambah modem rusak dan terpaksa bolak balik ke warnet buat ngerjain tugas uhuhuhu~~ buat yg nungguin fic ini maaf banget ya... saya ga bermaksud lari dari tanggung jawab atau menghiatuskan fic ini koq. Tapi sayanya emang hiatus *ditendang ampe atlantik* Dan asal reader tau, saya... hampir lupa plotnya *ditendang* tapi saya udah coba inget" koq dan moga" nyambung deh ke depannya =.= romancenya masih kurangkah? Kalo iya bilang ya~~ Terus buat kata" gombal dan -ehem- sok" romantis itu saya dpt dari cerpen =.=" berhubung saia tidak bsa merangkai kata" jadi saia ambil aja, ehehe minjem ya yg bikin cerpennya *?*

Semoga konfliknya ada *?*. Semoga tambah seru. Semoga-hmmfftt~ *dibekep*

Kekurangan dan kelebihan dapat disampaikan lewat tombol hijau di bawah :D