Saya tau fic ini tidak pernah luput dari kekurangan jadi mohon maklumi -.-"

Karena AU, jadi pasti OOC. Banyak kalimat yang rancu karena saya tidak edit lagi ToT

CHAPTER 9 : The Last Night

Nona muda itu berjalan lunglai. Setelah beberapa anak tangga ia lalui, akhirnya ia sampai juga di depan pintu flatnya. Dengan satu gerakan cepat, pintu bernomor 503 dan berlabel "Haruno" itupun terbuka. Dengan cepat ia masuk ke dalam, mengunci pintu kembali, dan melepaskan high heels yang menyiksa kakinya seharian ini.

Sungguh melelahkan. Menjadi seorang wanita karir –impian kebanyakan perempuan– tidaklah seindah yang orang bayangkan. Karena menjadi seorang wanita karir butuh banyak pengorbanan; waktu.

Haruno Sakura melempar asal hand bag-nya dan segera merebahkan diri di atas sofa. Rasanya malas sekali untuk berdiri, bahkan untuk membuka pintu kamarnya ia sudah tak berniat.

Jam tengah menunjukkan pukul 5 sore, dan ia belum sempat melakukan apa-apa. Padahal besok pagi ia harus kembali bekerja. 'Cih, melelahkan.' Umpatnya sambil mengusap mukanya yang tampak lelah.

Ia menutup matanya perlahan, berusaha menghilangkan seluruh kepenatan yang ia terima hari ini. Namun sebelum ia memasuki alam mimpi, suara dering hand phone mengambil alih perhatiannya. Sakura berdecak kesal. Bahkan disaat jam pulang seperti ini, bosnya masih saja mengganggu jam istirahatnya? Oh, Kami...

Dengan amat terpaksa Sakura kembali bangkit, kemudian merogoh hand bag-nya asal-asalan sampai akhirnya benda mini berwarna hitam yang terus berteriak itu berada di genggamannya.

"Halo!" Sapanya agak ketus. Wajar, ia terlalu lelah.

"Hey Haruno. Maaf menunggu lama tapi ada benarnya perkataanmu. Tunanganmu ada di sini. Oh iya, dia juga bersama perempuan lain."

Matanya tak kuasa mendelik. Hatinya mencelos kala mendengarnya. Kenapa ia langsung menerima kabar ini? Tunggu, ini siapa? Jangan-jangan... "Sasori?"

"Ya, tentu saja ini aku." Ucap suara di sebrang sana setengah bercanda.

Sakura kembali mencerna kalimat pria tersebut dengan baik, tetapi tetap, ia tidak mengerti –atau mungkin ia cemburu? Cemburu akan pernyataan yang belum tentu kebenarannya. "Apa maksudmu tadi?"

"Perlu aku jelaskan secara detail?" Sasori kembali terkekeh. Sakura tidak merespon. Ia hanya diam menunggu jawaban, karena saat ini ia malas sekali untuk bercanda. Meskipun berada di sebrang sana, Sasori tahu bahwa Sakura sedang tidak memiliki mood yang bagus. Sepertinya perkataannya salah. "Ah, begini saja," nadanya mulai berubah serius.

"Uchiha Sasuke ada di sini..."

DEG

"... di Iwa, tetapi ia tidak sendiri."

Tanpa ia sadari, sebelah tangannya mencengkram erat rok hitamnya.

"... ia bersama wanita lain."

Jantungnya berpacu lebih cepat. Keringat mengucur dari pelipisnya. Ia menggertakkan kedua rahangnya. Hatinya panas, entah mengapa. Yang jelas ia tidak suka pernyataan Sasori barusan. Ia benci akan pernyataan itu.

Hanya saja Sakura bukanlah perempuan yang suka menggeram. Memberontak hanya karena cemburu. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, dengan memasang sebuah senyum palsu di bibirnya.

"Bagus." Puji wanita Haruno itu singkat. Sakura yakin, Sasori terkejut mendengar nada suara wanita pinky itu yang terdengar santai dan tenang. "Kalau begitu aku mau...

"... kau bawa pulang Sasuke. Sendiri. Bagaimanapun caranya."

"Haruno?" KLIK

Sambungan terputus.

Ruangan itu kini sunyi. Hanya ada suara jarum jam yang berbunyi.

Kedua mata emerald itu menatap kosong ke depan. Meskipun tubuhnya berada di sana, tetapi pikirannya melayang.

Kenapa? Kenapa ia begitu marah mendenga kabar itu? Kabar yang belum tentu kebenarannya.

Kenapa hatinya terasa panas? Apa ia terbakar oleh rasa cemburu?

Apa ini yang Sasuke rasakan, saat melihat wanita yang ia cintai bersama lelaki lain?

xxXXxx

"Besok Mr. A pulang."

Dahi Sasuke berkerut ketika mendengarnya. Ia sedikit kecewa. "Iya?" cibir Sasuke pelan.

Hinata masih sibuk membersihkan flatnya yang sudah seminggu ini tidak ia bersihkan. Oh, Kami, betapa kotornya tempat ini. Setahu dirinya, sebelum Sasuke datang ke hidupnya, Hinata selalu rajin membersihkan tempat tinggalnya.

"Hu-um. Kenapa?" Hinata menatap Sasuke yang duduk membelakanginya sambil tersenyum tipis.

Sedangkan Sasuke hanya mencibir sambil tetap menonton tivi. "Tidak apa."

Hinata menaruh sapu yang sedari tadi digenggamnya. Rasa malas kembali menghampirinya. Ah, pemuda itu selalu bisa mencuri perhatiannya. "Kenapa?" Hinata kembali mengulang pertanyaan itu sambil memeluk pemuda itu dari belakang.

Sasuke sedikit terkejut namun ia mencoba untuk -berpura-pura- acuh. "Aku bilang tidak apa."

Hinata terkekeh pelan sebelum mengecup pipi pemuda itu. Ia tetap memeluk Sasuke, sedangkan matanya ikut fokus menatap layar kaca di sebrangnya.

"Takut rindu, ya?" Hinata tersenyum nakal sambil membenamkan kepalanya di sisi leher pemuda itu.

Sasuke geli dibuatnya. Mau tidak mau ia ikut tersenyum. "Kalo iya, kenapa?"

"Nanti kita makan bagaimana?"

"Aku yang kerja, kamu di rumah aja." Canda Sasuke.

Hinata tertawa mendengarnya. Namun dalam sekejap raut wajahnya berubah muram. Apa maksud dari kalimat Sasuke sebelumnya? Apa ia menyatakan bahwa ia akan tinggal di sini? Selamanya?

Hinata melepas genggamannya dan jalan menjauh.

Pemuda Uchiha itu sedikit tersentak kaget dan membalikkan tubuhnya. Ia menyerngit heran, sedangkan gadis bermata lavender itu berjalan menuju wastafel. Lalu mencuci beberapa piring kotor. Mungkin ia sedang berusaha mengalihkan pikiran?

Sasuke menghela nafas. Lelah rasanya jika melihat sikap perempuan itu yang mudah berubah. Apa yang sebenarnya perempuan itu pikirkan?

"Kenapa?" tanya Sasuke singkat dan berhasil menghentikan pergerakan tangan Hinata.

Hinata diam sejenak sebelum kembali mencuci piring-piring kotor itu. "Tidak apa."

'Selalu! Kenapa selalu itu jawabannya?'

Kesal? Tentu. Perempuan ini benar-benar aneh. Kenapa ia tidak pernah memahami isi pikiran perempuan itu?

Ia tidak pernah mengenal Hinata, lebih dalam lagi.

Pasti ada yang Hinata sembunyikan. Tapi apa?

Ingin bertanya, tetapi entah apa yang akan ia tanyakan. Lagipula, siapa dia? Suaminya? Tidak. Ia hanya pria yang menumpang hidup di flat milik orang lain. Pria yang hanya bisa terus berlari –menjauh dari realita. Ck. Menyedihkan.

Sasuke bangkit dari duduknya. Mencari udara segar rasanya bisa menyegarkan pikirannya.

"Kau mau kemana?" menyadari gerak-gerik Sasuke, Hinata bergumam.

Sasuke membalas singkat. "Ke flat Deidara."

xxXXxx

"Kau belum bertemu lagi?"

Sakura mendengus kesal. Tidak bosan ia menghubungi Sasori, demi mendapatkan info mengenai Sasuke. Apa pemuda itu baik-baik saja sekarang?

"Ck. Sakura, bukankah aku sudah katakan padamu bahwa aku ada meeting malam ini?" ucap Sasori setengah berbisik.

Sakura hanya berdecak kesal. Wajar saja jika ia tidak bosan menghubungi Sasori, membiarkan pulsanya raib. Semuanya itu ia lakukan karena ingin Sasuke cepat kembali ke pelukannya.

"Bisakah kau lihat keadaannya, sebentar saja?" ucap Sakura dengan memberi penekanan pada kata 'sebentar'.

"Kau pikir jarak dari kantor menuju flatku dekat, heh? Sabarlah calon Nona Uchiha," Sasori terkekeh pelan, "akan kuberitahu keadaannya setiap detik, jika meeting sudah beres!" dalam sekejap nada suara pria berambut merah itu berubah menjadi geram.

"Ok, Ok," Sakura mengambil jeda sejenak. Rasanya Sasori makin dibuat kesal olehnya, "gomen."

"Lagipula, kenapa kau buru-buru sekali? Pernikahanmu masih 1 bulan lagi, ne?"

"..."

"Haruno?"

"Tidak apa."

"Hm, benarkah?"

Suara berat Sasori seolah-olah memancing Sakura untuk mengatakan hal sebenarnya.

"Aku tidak mau Otou-san, Okaa-san, khawatir..."

"Selain itu?"

Sakura mendengus kesal. Jawaban apasih yang pria itu mau?

"Aku ingin cepat menikah dengannya! Puas?"

"Menikah?" suara lain berhasil mengalihkan perhatiannya. Sakura kontan membalikkan badannya, mendapati pria lain tengah berdiri di ambang pintu. Tangannya menggenggam kantong kresek berwarna putih –yang sepertinya berisi bahan makanan– dan untungnya ia tidak menjatuhkan kantong tersebut. "Dengan siapa? Sasuke maksudmu?"

Sakura tidak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang panik. Kedua mata biru safair itu memandangnya terus-menerus. Seolah-olah memaksa wanita itu untuk berkata yang sebenarnya.

Sekilas ia melihat kekecewaan di bola mata itu. Oh, Kami, apa yang baru saja ia katakan tadi?

"Nar, dengerin aku dulu."

"..." Uzumaki Naruto hanya diam. Kedua matanya terus menatap tajam kedua bola mata emerald di depannya. Genggaman tangannya semakin erat.

"Sa-Sasori baru saja menemukan Sasuke, Naruto." Sakura berusaha lebih rileks, tetapi ia malah merasa begitu tegang. Atmosfir di ruangan itu berubah menjadi dingin dalam seketika.

Ia melangkahkan kakinya mendekati Naruto yang tak kunjung mengalihkan perhatiannya. "Bukankah itu kabar baik?" lalu ia merengkuh tubuh pria itu.

Beda dari pelukan-pelukan sebelumnya, rasanya tubuh Naruto sekarang terasa begitu dingin. Kaku.

"Ya." Naruto menjawab singkat sambil tersenyum miris. "Sangat baik." Lalu ia mendorong Sakura, menjauh dirinya. "Sangat baik karena kau akan segera menikah dengannya."

"Nar, dengerin aku–"

"Cukup, Sakura! Harusnya aku tahu kalo kamu ga pernah berpaling dari dia! Harusnya aku relain kamu! Harusnya kita gak usah menjalin hubungan!" teriak Naruto.

Sakura hanya bisa diam. Baru kali ini ia mendengar pria itu benar-benar marah. Sungguh ia benar-benar takut. Frustasi. Galau.

Ia benar-benar bimbang. Di pihak siapa sebenarnya ia berada?

"Kau tau kenapa Sasuke tiba-tiba hilang? Karena siapa, heh? Kita?"

"Na-Nar,"

"Bukan, tapi kau, Sakura! KAU!"

Sakura tak kuasa menahan air matanya, kala Naruto melangkah pergi dari flatnya. Menghantam keras pintu, sehingga debaman keras terdengar. Ingin rasanya mengejar pria itu, tetapi kakinya tidak kunjung bereaksi. Ia masih terlalu kaget akan perlakuan Naruto sebelumnya.

Demi Tuhan, Naruto adalah pria paling baik yang ia kenal. Pria yang paling mengerti dirinya. Pria yang selalu sabar, jika Sakura menggumamkan nama Sasuke di tidurnya.

Tapi apa? Kini pria itu benar-benar telah pergi dari hidupnya. Telah membenci dirinya yang hina. Dan Sakura benar-benar menyesal.

Sakura menatap hand phone-nya yang masih berada di telapak tangannya. Dengan cepat ia menghubungi nomor yang tak asing lagi.

"Haruno–"

"Aku ingin Sasuke pulang! Secepatnya!"

Iapun menjerit tidak karuan.

xxXXxx

"Aku bingung, Gar." Sasuke berucap pelan sambil menatap kosong secangkir cappucino di depannya. "apasih yang dia mau?"

Gaara hanya mendengus pelan. "Sudahlah, Sas. Pikir aja, kau baru kenal dia tidak lebih dari 2 bulan, wajar kalau kau tidak mengenalnya lebih jauh."

"Ck. Tetapi kenapa kami cepat sekali dekat?" Sasuke mempertanyakan pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Gaara hanya menggeleng lemah. "Karena kalian tinggal satu atap."

Mungkin? Hanya karena mereka tinggal dalam satu rumah, hubungan mereka bisa dekat begitu cepat? Argh, entahlah. Lagipula, kenapa ia begitu penasaran? Padahal ia bukanlah siapa-siapa.

"Mungkin, karena kau sangat mencintainya, Sasuke," Sasuke tertegun mendengarnya. Ia menatap Gaara, berharap Gaara melanjutkan kalimatnya, "mungkin kau sering melihatnya muram, sedih, dan kamu ingin menghiburnya, tapi kamu gak tau caranya, soalnya kamu gak paham apa yang dia pikirkan. Apa yang tengah mengusiknya. Apa yang sedang ia tangisi."

Sasuke menatap Gaara tak percaya. Kenapa pernyataan Gaara tadi seolah-olah menjadi jawaban akan semua yang tengah menghantui benaknya? Kenapa ia begitu ingin tahu akan urusan Hinata.

"Soalnya kamu sayang sama dia. Soalnya kamu gak mau kehilangan dia. Gak mau melihat dia tersakiti." Lanjut Gaara sambil melipat kedua tangannya.

Sasuke kembali mencerna kata-kata yang diucap oleh Gaara. Sejak kapan pengusaha sukses itu beralih menjadi dokter cinta?

Sebuah senyuman tersungging di bibir tipis pemuda raven itu. "Mungkin." Dan ia merasa sedikit lega.

Yah, wajar, Sasuke adalah orang asing. Wajar Hinata agak sedikit tertutup. Butuh waktu yang panjang untuk saling terbuka, ya kan?

"Sebenarnya, apa yang buat kamu betah di sini?" tanya Gaara sambil menyesap black coffee-nya.

Sasuke menjawab mantap. "Selama aku nyaman berada di sisinya, why not?" Dan malam itu berakhir dengan perasaan lega. Sasuke merasa dadanya tidak sesak lagi.

Setelah melambai singkat ke arah Gaara, Sasuke berjalan menjauh. Ia terus melangkah, tanpa mengetahui bahwa jam tengah menunjukkan pukul 12 malam. Tanpa ia sadari, seorang wanita berambut indigo khawatir akan kepergiannya.

Hyuuga Hinata menghentikan langkahnya. Tubuhnya terasa begitu lemas. Nafasnya memburu tidak karuan. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dan kedua matanya tak kuasa menahan air mata.

'Kemana, Sasuke? Kami...'

Sasuke menghilang begitu saja.

Saat pergi tadi... raut wajahnya begitu datar. Kecewa. Bagaimana jika pria itu kabur? Meninggalkannya sendiri, tanpa meninggalkan sepatah katapun?

Hinata mengangkat kepalanya. Menengadah ke atas untuk melihat hamparan bintang-bintang yang indah. Tetapi nihil. Hari ini para bintang itu menghilang. Absen. Langit hanya dihiasi oleh awan kelabu dan bulan yang tertutup awan. Seolah-olah langit ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Sendiri.

Sengaja atau tidak, kedua bola mata lavender itu tiba-iba menangkap sosok di bawah sorot lampu jalan. Pria itu berjalan ke arah flatnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, dan kepalanya sedikit tertunduk.

'Itu... Sasuke!' kontan Hinata berlari ke arah pemuda itu. Ia yakin, itu pasti Sasuke. "Sa-Sasuke!"

Sasuke kontan menghentikan langkahnya. Ia mencari sumber suara, sampai akhirnya kedua mata onyxnya menangkap sosok mungil yang sedang berlari ke arahnya. "Hinata?"

"Sa-Sas!" Hinata mengambil nafas sebelum kembali berkata, "jangan pernah lakukan itu lagi!" ucapnya setengah berteriak.

Sasuke kaget dibuatnya. Ia menyerngitkan dahi. "Ma-maksud kamu–"

"Jangan pernah pergi kaya' gitu lagi!" Hinata mendekap pria itu.

"Hi-Hinata?"

"Ja-jangan pernah kaya' gitu lagi..." ucapnya setengah terisak.

Sasuke masih dilanda kebingungan, tetapi ia lebih memilih mengikuti arus. "Iya." Sebelah tangannya mengusap kepala perempuan itu. 'Sial, ketahuan bahwa aku tidak pergi ke flat Deidara.'

Tanpa Sasuke sadari, sebuah senyuman tersungging di bibir tipisnya. Setidaknya ia tahu bahwa Hinata begitu mengkhawatirkannya. Begitu menginginkan dirinya,

untuk tetap berada di sisi Hinata.

Meskipun malam itu langit tak berbintang, bulan tetap setia menyinari bumi.

Yah, siapa tahu malam ini akan menjadi malam terakhir bagi kedua insan itu.

Mungkin...

tobikontinyu

Balesan ReView:

Kirin: Maaf ya apdetnya lama~ The Sisterhood? Nanti ya,, sabar :) Terus, makasih pujiannya lho. Arigatou.

kiyara muu: Setiap chapter? Aduh kasian SasuHina-nya dong ntar? *digampar* hehe

LuLu LiLiput: Makasih ya udah review, ikhlas kan? Hehe

Nagisa Imanda: Maaf ya lama" apdetnya, tapi udah apdet nih~ Makasih ripiuwnya :)

Masahiro NIGHT Seiran: Mata-mata Sakura? Sudah jelas Sasori, hehe. Dan bener banget, udah mendekati inti cerita. Yosh, udah apdet nih!

Yuuaja: Makasiih, udah apdet nuih~

Shinji hikaru: Pastinya ada gangguan hehe, makasih ripiuwnya~

wajan dan panci: Tante? *nabok* udah apdet nih~

kakkoi-chan: Udah apdet nih, makasih reviewnya~

I hate sakura: Ia bener banget ada Sakura, hehe, yosh RnR lagi yaw~

Hyuuga Nii: Udah apdet~ RnR lagi yaa

sasuhina lovers ever: Iya, iya udah apdet hehe~

Ara-chan: Maaf ya lama, udah apdet nuih..

^ buat reviewer non login : TERIMA KASYOONG~

Catatan:

MAAF LAMA APDET~ SAYA SIBUK BUK BUK *digampol* Serius lho, mendekati libur gini saya malah sibuk ToT Terus ternyata saya kena WB dan terpaksa libur menulis selama kurang lebih sebulan ya? Gomene... benar-benar gak bisa nulis waktu itu. Terus buat The Sisterhood n This Feeling-nya nyusul ya. Berdo'a semoga saya gak kena WB lagi. Tapi imajinasi malah tambah banyak di otak dan sepertinya saya bakal mengeluarkan fic baru nih =.=a

Semoga konfliknya ada *?*. Semoga tambah seru. Semoga-hmmfftt~ *dibekep*

Kekurangan dan kelebihan dapat disampaikan lewat tombol hijau di bawah :D