Saya tau fic ini tidak pernah luput dari kekurangan jadi mohon maklumi -.-"

Karena AU, jadi pasti OOC. Banyak kalimat yang rancu karena saya tidak edit lagi ToT

CHAPTER 10 : Farewell PART I

"Amnesia?" Sasori mengerjap-ngerjapkan matanya –menatap pemuda yang 5 tahun lebih muda darinya itu tidak percaya. "Yang bener?"

Deidara hanya berdecak kesal sembari menaruh 2 cup ramen instant di atas meja. "Aku sudah pernah katakan padamu, kan?" lalu ia mengambil posisi di sebrang Sasori.

Sasori mengkerutkan dahi. 'Amnesia? Yang benar saja!' "Kenapa? Kecelakaan? Penyakit?"

"Kecelakaan."

"How come?"

"Hinata yang menabrak. Hey, Sasori-jisan, masa' kau sudah lupa? Aku sudah pernah katakan padamu!" Ya, Deidara sudah pernah menceritakan kronologis mengapa ada pemuda asing di flat Hinata. Tetapi saat itu, Sasori benar-benar tidak menyimak cerita Deidara. Bahkan tidak peduli.

Sasori menggelengkan kepalanya pelan. Mana mungkin Sasuke amnesia? Ah, mungkin saja sih. Buktinya ia menghilang selama beberapa bulan ini, tetapi... Ah! Masih sulit untuk dipercaya bahwa bungsu Uchiha itu amnesia. Dramatis sekali...

Kecelakaan... amnesia... tinggal bersama wanita yang menabrak... lalu mereka saling jatuh cinta.

"Yang bener?" lagi-lagi Sasori mengulangi pertanyaan yang sama.

Deidara hanya bisa menggeleng pelan melihat sahabatnya yang satu itu. "Iya!" teriak Deidara kesal karena merasa ritual makan malamnya terganggu.

Sasori tersentak mendengarnya, tetapi ia lebih memilih diam daripada melawan pria blonde yang tiba-tiba sensi itu. Hanya saja... "Serius?" ia masih penasaran.

"YES!"

"So-sorry." Sasori hanya bisa menghindar sebelum satu cup ramen menerpa dirinya. Untungnya Deidara urungkan niatnya itu. Deidara kembali memakan ramen. Tapi jika dipikir kembali, untuk apa Sasori menanyakan tentang Sasuke, eh?

"Memangnya kenapa?" kini giliran Deidara yang bertanya.

Sasori pun terbatuk mendengarnya. 'Gawat, apa perlu aku beritahu maksudku?' "Penasaran aja." Jawab Sasori simpel.

Untungnya Deidara cuek, jadi ia tidak begitu peduli.

Sedangkan Sasori lebih memilih diam –membiarkan ramennya mengembang– namun lamunannya hilang ketika hand phone berbunyi.

"Halo." Ia segera mengangkat tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelfon.

"Sasori." Sebuah suara nan dingin terdengar dari ujung sana. Siapa lagi yang mau menghubunginya malam-malam begini selain Sakura?

Dengan gerakan cepat Sasori berjalan keluar flat –menghindari Deidara– sebelum menjawab sapaan Sakura. "Ada apa, nona?" ujar pria itu setengah bercanda. Ia suka sekali menggoda Sakura. Padahal ia tahu bahwa kelakuannya itu hanya akan mengundang emosi wanita pinky itu.

"Kau belum bertemu lagi?"

Bertemu? Bertemu siapa? Oh! Pasti Sasuke! Dan bagusnya ia lupa menguntit pria itu lagi. Apa yang harus ia katakan? Rasanya ia hanya bisa berbohong saat itu juga. "Ck. Sakura, bukankah aku sudah katakan padamu bahwa aku ada meeting malam ini?" ucap Sasori asal. Sejak kapan Sasori mengatakan itu? Heh, bualan.

"Bisakah kau lihat keadaannya? Sebentar saja."

Sasori mulai keluar dari Apartemen. Entah kemana arah tujuannya, yang jelas ia berusaha menjauh dari Apartemen tempat ia tinggal. Langit telah gelap. Kendaraan berlalu lalang –menyebabkan suara riuh lantang yang disebabkan oleh berbagai macam faktor– dan lampu menyala di setiap sudut jalan.

Sungguh suasana yang jauh berbeda dari suasana meeting seharusnya. Untungnya Sakura tidak menyadari hal itu. Tidak peduli, mungkin?

"Kau pikir jarak dari kantor menuju flatku dekat, heh? Sabarlah calon Nona Uchiha," Sasori terkekeh pelan, "akan kuberitahu keadaannya setiap detik, jika meeting sudah beres!" dalam sekejap nada suara pria berambut merah itu berubah menjadi geram.

"Ok, ok," Sakura mengambil jeda sejenak. Rasanya Sasori makin senang menggoda Sakura, "gomen."

Sasori tersenyum tipis. "Lagipula, kenapa kau buru-buru sekali? Pernikahanmu masih 1 bulan lagi, ne?"

"..."

"Haruno?"

"Tidak apa."

"Hm, benarkah?"

Suara berat Sasori seolah-olah memancing Sakura untuk mengatakan hal sebenarnya.

"Aku tidak mau otou-san, okaa-san, khawatir..."

"Selain itu?"

"Aku ingin cepat menikah dengannya! Puas?" Sasori bisa mendengar dengusan Sakura di sebrang sana. Pasti ia kesal ditanyai terus seperti itu.

"Ehm, Ano–Halo? Sakura?"

Entah mengapa sambungan terputus. Sasori hanya bisa menyerngit heran. Apasih maunya? Menelfon malam-malam, tidak menyapa dengan ramah, dan mengakhiri sambungan tiba-tiba. Dasar orang aneh.

Sasori hanya bisa menggeleng pelan, sampai akhirnya ia tertegun ketika menangkap sosok, eh, tidak, dua sosok yang tidak asing bagi kedua matanya. Di sebrang tempat ia berpijak, berdiri sebuah cafe. Dari cafe itu, ia bisa melihat dua orang yang tengah asyik berbincang-bincang dari balik kaca besar yang sama sekali tidak menutupi keberadaan mereka.

Sekali lagi, Sasori mengenal betul orang itu. Ingin rasanya menghubungi seseorang dan langsung memberitahu apa yang baru saja dilihatnya. Sayangnya orang yang dituju lebih cepat menghubungi Sasori. Kebetulan.

Dengan cepat Sasori menekan tombol hijau. "Haruno–"

"Aku ingin Sasuke pulang! Secepatnya!" PIIP

Sasori memandang heran hand phone digenggamannya. 'Sial! Berani-beraninya ia berteriak seperti itu!' umpatnya kesal. Belum sempat ia memberi kabar bahwa ia baru saja melihat Sasuke, juga Gaara.

Tunggu. Sasori kembali mengalihkan pandangannya ke cafe tersebut, tetapi...

Kedua orang itu telah menghilang. 'Baka!' ia berdecak kesal. Padahal bisa saja saat itu ia langsung menghampiri Sasuke dan menyeret pemuda itu pulang.

Hanya saja, kenapa Gaara ada di sana? Bersama Sasuke pula, dan tampaknya mereka berbincang dengan akrab. Seharusnya jika Gaara tahu bahwa Sasuke ada di kota ini, ia langsung melaporkan Sasuke ke Uchiha's corp, atau mungkin Sakura.

Apa jangan-jangan mereka sekongkol?

Kalo mereka sekongkol, tidak mungkin Sasuke amnesia! Karena ia tidak mungkin mengenali Gaara.

Pasti Sasuke sengaja. Ya, sengaja lari dari Konoha.

Sasori menghela nafas. Rasanya malam terasa semakin dingin. Ah, untuk apa buru-buru membawa Sasuke pulang. Toh ia sudah jelas tinggal di mana.

Pasti di flat milik Hinata.

'Argh! Kenapa aku baru menyadari itu!' Sasori menepuk jidatnya. Andai saja ia sadar dari dulu, sudah sejak lama mungkin Sasuke kembali ke Konoha.

Tetapi, biarlah... pasti Sasuke mengalami banyak kejadian selama beberapa bulan ini. Karena itu ia betah tinggal di kota yang, ya, menurut Sasori sih kumuh.

Tiba-tiba Sasori teringat akan pesan Haruno Sakura, eh tidak, lebih tepatnya bentakan Sakura yang mendorongnya untuk membawa Sasuke pulang secepat mungkin. As soon as possible.

"Well, kalau begitu, rasanya besok aku harus mencegahnya untuk bertahan lebih lama di sini."

Gumamnya sebelum melangkah pergi.

xxXXxx

Hari Minggu lebih ramai dari biasanya. Katanya sih ada festival di dekat Apartemen itu.

Tentu saja Hyuuga Hinata tidak mau melewati festival tahunan itu. Dengan paksaan, akhirnya ia bisa menyeret Sasuke untuk ikut bersamanya. Yah, meskipun ogah-ogahan tapi Sasuke mau ikut juga akhirnya.

Festival Matsuri *1) –musim gugur– ternyata lebih ramai dari yang dibayangkan. Tempat yang sebelumnya hanya jalanan besar dan kosong kini menjadi ramai akan orang-orang yang berlalu-lalang, stan-stan, juga permainan-permainan kecil. Kebanyakan orang mengenakan Yukata atau Kimono, tetapi Hinata lebih memilih tampil biasa saja –hanya mengenakan kaos putih polos dan rok hitam selutut– begitu pula Sasuke yang hanya mengenakan kaos oblong dan jeans.

"Sasuke, kita main itu yuk!" Hinata menunjuk-nunjuk sebuah stan yang ternyata berisi permainan menangkap ikan koki *2) menggunakan jala yang terbuat dari kertas.

Ah, bagaimana cari memainkannya? Sasuke hanya bisa menggeleng pelan. "Pasti kalah. Sudahlah, kita cari stan makanan saja." Sasuke ingin beranjak pergi namun lengannya ditahan oleh Hinata.

"Payah, coba dulu!" cibir Hinata.

Sasuke hanya bisa mendengus pasrah. "Yare, yare, sekali saja ya."

"Asik!" ucap Hinata riang layaknya seorang anak kecil.

Kedua sejoli itupun berjalan mendekati stan tersebut. Beberapa orang tampak sedang memainkan permainan itu –di antaranya anak-anak, dan sedikit orang dewasa– dan gagal berkali-kali. Sasuke hanya bisa tertegun. Rasanya ia sendiri orang dewasa yang memainkan permainan itu.

Setahunya, terakhir kali ia menangkap ikan koki saat ia masih berumur 10 tahun. Dan ia selalu gagal!

Setelah membeli jala pada pemilik stan, Hinata jongkok di depan wadah besar yang berisi ikan koki. Dalam sekeja wanita berambut indigo itu telah mendapat satu ikan mas koki, dan itu tidak menghalanginya untuk melompat kegirangan!

Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Menatap Hinata tidak percaya. "Cepat sekali?"

Hinata menerima boneka teddy –hadiah jika memenangi permainan– dari pemilik stan itu. "Aku juga tidak tahu. Padahal sudah lama sekali aku tidak bermain," gumamnya sambil nyengir. "coba kau yang tangkap." Ucap Hinata dengan nada menantang.

Sasuke berdecak kesal sebelum kembali fokus ke wadah di hadapannya. 'Ok, jangan mau kalah sama perempuan.' Dengan gerakan cepat Sasuke mengayunkan tangannya, tetapi... "Ah, sial!" baru masuk ke air, jala tersebut sudah bolong. Sasuke menggerutu tidak jelas sedangkan Hinata yang berdiri di belakang hanya bisa tertawa. Mungkin Sasuke sedang tidak beruntung, makanya dapat jala yang abal-abalan. Tapi kalau terus-terusan gagal masih kebetulan kah namanya?

Sasuke bangkit dari jongkoknya lalu menatap Hinata kesal. "Ok, kau menang."

Hinata menahan tawa. "I-iya, go-gomen." Hinata bisa melihat semburat merah muncul di kedua pipi Sasuke. Mau tidak mau Hinata mencubit pipi mulus Sasuke.

"Aw, apa-apaan sih?"

"Kalo cemberut kamu lucu deh." Hinata kembali terkekeh.

Sasuke hanya bisa melongo sambil membelai pipinya yang baru saja dicubit. 'Kenapa sih Hinata hari ini? Kok sumringah banget?'

"Eh, ka-katanya mau ke stan makanan, yuk!"

Belum sempat Sasuke berkomentar, tangan mungil Hinata telah menarik tangannya.

Lagi-lagi, Sasuke menghela nafas pasrah.

xxXXxx

Tidak terasa matahari akan tenggelam. Siang telah berganti menjadi senja. Langit telah dihiasi semburat kemerah-merahan.

Festival Matsuri masih ramai, tetapi Hinata dan Sasuke lebih memilih keluar dari keramaian itu –menghirup udara bebas. Sebelum Sasuke dan Hinata meninggalkan tempat itu, langkah mereka dicegat.

"Mau foto langsung jadi? Hanya 20 yen *3)."

Ternyata seorang tukang foto keliling. Sebenarnya Sasuke malas sekali untuk difoto, tetapi lagi-lagi Hinata memaksa. Hhh, perempuan yang satu ini memang tidak ada matinya.

"Boleh." Hinata mengangguk mantap. "Kamu mau kan Sas?"

"Hn."

"Ok," ucap si tukang foto itu, "saya hitung sampai tiga."

Hinata segera melebarkan senyumannya. Ia mendekatkan tubuhnya ke Sasuke. Sebelah tangannya melingkar di lengan kekar pemuda Uchiha itu, sedangkan yang satu lagi mengapit boneka teddy yang didapatnya tadi. Dan Sasuke lebih memilih memasang ekspresi datar.

"Satu... Dua..."

"Tunggu!" Hinata mengalihkan pandangannya ke Sasuke, sedangkan 'fotografer' keliling itu menyerngit heran. "Mana senyumnya?"

Sasuke mendengus pelan. "Iya." Dan ia langsung memasang senyum –paksa– di bibirnya. Hinata pun kembali ke posisi awal.

"Ok, satu... dua... ti..." JPRET! "ga."

Tidak sampai 1 menit, kamera tersebut telah mengeluarkan hasil jepretan yang 'fotografer' itu ambil.

"Keringkan sebentar." Pesannya.

Hinata dengan semangat mengambil selembar foto itu. Ia mengibas-ngibaskan foto itu –dengan niat ingin mengeringkannya– sedangkan Sasuke memberi selembar uang untuk tukang foto itu. Beberapa detik kemudian gambar pun tampak, dan tentu saja Hinata terkekeh setelah melihat hasilnya.

"Sasuke, senyummu kok maksa sih?"

Sasuke menepuk kepala Hinata –berharap segera pergi dari tempat itu sebelum ditawari barang-barang aneh lainnya. "Sudahlah," kemudian ia merangkul tubuh mungil Hinata sambil melangkah pergi dari tempat itu.

Mereka melangkah pergi tanpa arah, karena mereka malas pulang. Rasanya hari ini mereka tidak ingin melewatkan sedetikpun di flat. Entah mengapa...

Kaki mereka telah membawa mereka ke dekat sungai, dimana dari sungai tersebut mereka bisa menyaksikan matahari yang akan segera tenggelam. Ya, meskipun tidak seindah dari pantai, pemandangan dari sungai cukup enak untuk dipandang.

Selama perjalanan mereka tidak bersuara.

Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Sasuke," sapa Hinata yang berjalan di sebelah pemuda raven itu.

"Hn?"

"Arigato."

"Untuk?"

"Ha-hari ini." Hinata mempererat pelukan pada boneka teddy-nya.

"Tidak masalah." Sedangkan Sasuke kembali menepuk kepala Hinata.

Hinata dengan sukses menghentikan langkahnya. "Sas,"

"Apa?"

"Ma-mau hadiah apa? Boneka apa foto?"

"Eh?" Sasuke menyerngit heran. "Untuk?"

"Um.. Ka-karena sudah mau nemenin aku seharian ini."

Sasuke tambah dibuat bingung. Sudah biasa ia menemani Hinata, tetapi kenapa baru hari ini ia merasa begitu... spesial?

"Tentu saja foto!" ucap Sasuke sambil terkekeh pelan.

Hinata tidak menanggapi perkataan Sasuke. Ia memilih menatap kedua bola mata onyx itu. Dari situ ia bisa melihat betapa lembut tatapan Sasuke selama ini. Betapa hangat ketika ia berada di sisi pemuda itu. Betapa jantungnya berdebar kencang ketika menatap paras pemuda itu.

Tetapi, mengapa hari ini rasanya semua akan berakhir?

Tidak ada senyuman. Tidak ada kehangatan. Tidak ada pelukan, ciuman. Bahkan tidak ada Sasuke lagi.

Kenapa feelingnya berkata seperti itu? Padahal mereka sudah bersenang-senang selama seharian ini.

Ah, mungkin karena hari ini juga, Hinata akan mengakhiri semua. Ya, sudah ia rencanakan sejak awal bahwa ia akan berkata jujur pada Sasuke.

Sudah saatnya ia memberitahu bahwa identitas Sasuke telah ditemukan. Bahwa Sasuke akan segera dipulangkan hari ini, karena Hinata sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kepulangan Sasuke sejak jauh hari.

Ya, itulah yang ia sembunyikan selama ini.

Hinata merogoh sakunya, lalu menaruh selembar foto di atas telapak tangan besar Sasuke. Pria bermata onyx itu memandang foto itu sejenak sebelum mengantonginya.

"Jangan pernah lupakan itu." Sasuke menyerngit heran. Apa maksud dari pesan itu? "Jangan sekali-kali lupakan aku, ok?" dan suaranya mulai parau. Matanya berkaca-kaca. Sasuke tahu, Hinata pasti sedang menangis, tetapi perempuan itu coba tutupi. Bagi Sasuke, usahanya sia-sia.

"Hinata..." Sasuke menatap Hinata lekat.

Hinata yang tak kuasa menerima tatapan itu hanya bisa memalingkan wajah. "Y-ya?"

Satu helaan nafas. "Apa yang kau sembunyikan selama ini?"

Hinata tidak menjawab.

Sasuke berusaha lebih santai. Kali ini ia tidak akan memaksa Hinata untuk menjawab.

Lelah rasanya jika ia diperlakukan terus seperti itu. Lelah rasanya melihat Hinata yang menyimpan tangisannya sendiri tanpa alasan yang jelas. Lelah rasanya mendorong Hinata untuk terbuka kepadanya. Lelah, ia lebih memilih pasrah

"Ya sudah, kita pergi–" dan Sasuke kembali melangkah.

"Tunggu!" Hinata menarik lengan Sasuke. "A-ada yang ingin aku bicarakan."

Sasuke membalikkan badannya dan menatap dalam kedua bola mata lavender itu. "Apa?"

"Se-sebenarnya..."

"Hn?"

"A-aku, se-sebenarnya ha-hari ini kau–"

"Hinata?" sebuah suara menghentikan pergerakan mulut Hinata. Kontan Hinata memutar badannya dan mendapati seseorang tengah menatapnya tidak percaya. Hinata kenal siapa orang itu. Sedangkan Sasuke hanya bisa menahan nafas, karena entah secara sengaja atau tidak, ia kenal orang itu. Orang itu...

"Sa-Sasori-senpai?"

xxXXxx

Tuut... tuut... tuuut...

"Konnichiwa, maaf Uzumaki Naruto sedang tidak berada di tempat, silahkan tinggalkan pesan!" PIIP

"Ha-halo, Naruto. Ini aku Sakura. Kenapa kau tak kunjung angkat telfon dariku? Ah, sudahlah. Mungkin kau sedang sibuk. Tetapi jika kau membaca pesan ini, aku ingin kau tahu bahwa Sasuke pulang hari ini. Apa kau ingin ikut menjemputnya? Jika iya, kau bisa hubungi aku. Bagaimanapun juga, dia sahabatmu, kan?" PIIP

"Naruto, ini aku lagi, Sakura. Aku mohon jawabanmu sekarang, sebentar lagi aku akan berangkat." PIIP

"Naruto, kau ada di sana? Itachi-niisan sudah siap. Tetapi sampai saat ini aku belum memberitahu okaa-san atau jii-san. Aku bingung harus bilang apa pada mereka. Jadi kumohon, ikutlah." PIIP

"Naruto... Gomenasai." PIIP

Gomenasai telah menyakitimu selama ini...

tobikontinyu

Keterangan :

*1) Matsuri Festival : Setahu saya festival musim gugur, terus diadainnya malem-malem, tetapi di sini diadainnya siang-siang soalnya... namanya juga fiksi *ditabok* jujur saya gak begitu tahu tentang festival itu, jadi maaf kalo ada yang salah :)

*2) Permainan menangkan ikan koki dengan jala yang terbuat dari kertas. Hoki-hokian tuh :p

*3) Anggap saja 12 ribu rupiah (?)

Review :

untuk non log-in Chai-Mol, karinuuzumaki mlylogin, Kirin, Shinji Hikaru, Sora Hinase, Youichi hikari, Seichi, Vipris, bacadoang, wajan dan panci, Nagisa Imanda, kakkoi-chan
Balasan dari review kalian adalah...
TERIMA KASYOOONG~ I LUPH U PULL DAH UDAH REVIEW *lebong alias lebay* *dihajar satu kampoeng*
Sudah apdet~ RnR lagi yaw ;)
Terus di fic ini ga ada maksud buat ngebashing Sakura, sumfeh! Saya cuma mengkarakterkan dia sesuai jalan cerita (?) sumfeh saya suka sama dia, masa' saya bashing -.-" untuk kelancaran cerita aja kok :)
Terus buat Karinuuzumaki, WB itu Writter Block atau kalau dibahasaindonesiain tuh Blok Penulis *digampar* maksudnya ya gitu, tiba" males nulis gitu. Ngestuck. Ngeblock. *sotau mode*
Sekali lagi, ARIGATO!

Buat yang login, MAKASIH JUGA I LOPH U-BUAGH! *ditabok masa*

Catatan :

Saya update cepet, terus alurnya jadi ikutan cepet deh =.=a Bukannya terburu-buru, tapi ide udah stuck! Ya, enggak stuck juga sih, ini juga udah saya rencanain tapi sayanya males. Eh, enggak males juga sih tapi emang alurnya begini! *ditabok* Hehe,, jadi kalo merasa kependekan atau kecepetan mohon maaf ya. Bagaimana? Sudah mlai menegangkan kah,,? Saya harap saya ngecut adegannya pas kaia di sinetron gitu deh, bersambung pas lagi seru-serunya *emang ceritanya seru?* *dihajar*. Terus buat The Sisterhood n This Feeling-nya nyusul ya. Berdo'a semoga saya gak kena WB lagi. Tapi imajinasi malah tambah banyak di otak dan sepertinya saya bakal mengeluarkan fic baru nih =.=a

Semoga konfliknya ada *?*. Semoga tambah seru. Semoga-hmmfftt~ *dibekep*

Kekurangan dan kelebihan dapat disampaikan lewat tombol hijau di bawah :D