My Girl

Rated : T

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku slight NaruHina and NejiTen

Warning : abal, Ooc, hancur, bikin mual-mual, jelek, dan lain-lain

Hy minna-san!

Hany kmbali lagi dengan fic yang abal banget ini,,

Sorry lama update yah minna-san, hany gak punya banyak waktu untuk menulis fic.

Langsung ke cerita aja deh minna-san!

Don't like? Don't read?

1

2

3

ACTION!

Chapter sebelumnya

Hn. Kalau begitu ayo berangkat." Kata Sasuke sembari menarik tangan Sakura, tapi, ketika ia menarik tangan Sakura, ia merasakan sesuatu yang janggal, tangan Sakura.

"S-Sakura, tanganmu…tubuhmu.." Sasuke melihat Sakura dengan seksama. Sasuke nampak sangat terkejut.

"Ada apa dengan tubuhku?"

.

Hening.

.

"Hey sasu-"

"Tubuhmu..menjadi transparan…"

Chapter 6

.

.

.

Hening kembali, Sakura masih butuh waktu untuk mencerna kata-kata Sasuke, transparan? Tubuhnya?

"WAAAA!" teriaknya ketika ia mulai memahami perkataan Sasuke. Sakura melihat tubuhnya, benar..dia transparan, yang awalnya tubuhnya sama dengan tubuh Sasuke dan sama seperti manusia biasa, kini..benar-benar menjadi seperti hantu gentayangan!

"Sasuke-kun..bagaimana ini?" teriaknya panik. Ia menatap onyx Sasuke dengan pandangan amat cemas, sedangkan Sasuke hanya diam tanpa suara, tapi dari mata onyxnya, kita dapat mengetahui kalau dia terkejut.

"Sasuke-kun!"

Sasuke terbangun (?) dari lamunannya, dan berkata.

"Kau mau aku melakukan apa?"

"Kenapa tubuhku bisa transparan?" tanya Sakura dengan raut wajah sangat panik dan cemas.

"Aku tak tahu, bukankah kau sendiri yang merasakannya? Bukan diriku?"

"Apa maksudmu?"

"Hn. Apakah kau merasakan ada yang aneh di tubuhmu?" tanya Sasuke kembali dan di balas gelengan dari Sakura.

"Aku tak merasakan apapun."

"Kalau begitu, ayo ke sekolah, mungkin yang lainnya tahu." ucap Sasuke dan menarik tangan Sakura untuk keluar kamar.

~~~000~~~

"Sasu-chan! Jangan bilang kalau kau tak sarapan lagi!" teriak Mikoto, ibu Sasuke, ketika melihat Sasuke 'melintas' di depannya tanpa mengucapkan sepatah katapun dan langsung ingin melenggang pergi.

"Aku sudah telat bu." jawab Sasuke sembari memasang sepatunya.

"Bohong! Itachi saja belum mandi! Ini masih terlalu pagi Sasu-chan, makanlah sedikit!"

"Aku pergi." kata Sasuke tidak menghiraukan teriakan ibunya (dasar anak durhaka).

Greep!

Langkah Sasuke terhenti ketika merasakan tangan yang lebih kecil dari tangannya menahannya untuk pergi. Sasuke berbalik dan mengangkat alisnya, bingung.

"Lakukanlah apa yang di perintahkan oleh ibumu Sasuke-kun!" perintah Sakura dengan menatap tajam Sasuke.

"Hn. Baiklah." Ujar Sasuke pasrah dan berbalik arah menuju dapur. Di dapur, nampak sang ibu bingung dengan perilaku Sasuke yang tidak biasanya menuruti perintah ibunya. Namun, ibunya nampak senang, terlihat dari mata onyx-nya yang bersinar. Sasuke duduk dan menyantap nasi goreng tomat yang ada di hadapannya, Sasuke memang mempunyai banyak pembantu di rumahnya, tapi ibu Sasuke, Mikoto, hobby memasak sehingga ialah yang sering memasak di rumah Sasuke, kecuali ia tak sempat atau ada pesta di rumahnya.

Namun, baru satu suapan, Sasuke langsung beranjak dari kursi makan dan mengucapkan " Aku sudah selesai ." kepada Mikoto, dua wanita yang ada di depan dan sampingnya menatap Sasuke dengan pandangan heran. Hah? Sudah selesai? Itukan baru sekali suapan!

"Sasuke-kun!" teriak Sakura, namun Sasuke tak menghiraukannya dan melenggang pergi, Sakura yang bingung akan sikap Sasuke hanya memutuskan untuk mengikuti Sasuke.

Di perjalanan

"Sasuke-kun, kenapa sikapmu begitu terhadap ibumu?"

"Memangnya kenapa?" Sakura hanya memonyongkan bibirnya ketika Sasuke bertanya kembali padanya.

"Jelas saja itu perilaku yang buruk Sasuke-kun!"

"Aku tahu."

"Lalu, kenapa kau lakukan?"

"Hn." Sakura kembali cemberut melihat tingkah Sasuke, ia tidak mau kalau Sasuke durhaka pada ibunya, ibu Sakura mengajarkan pada Sakura bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu, dan Sakura percaya hal itu, jadinya ia sangat menghormati ibunya, dan marah ketika melihat Sasuke bersikap tidak patuh di hadapan ibunya.

"Cepat naik." perintah Sasuke saat mereka kini di bagarasi mobil. Sakura hanya patuh sambil menatap tajam Sasuke, sedangkan Sasuke naik ke dalam mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Skip time

At School

"Bisakah kau mengendarai mobilmu dengan pelan, Sasuke-kun?" tanya Sakura saat mereka di tempat parkiran sekolah.

"Bagiku tadi itu pelan." ucap Sasuke dan melenggang meninggalkan Sakura.

"SASUKE-KUN!"

"SASUKE SAYANGGG!"

"SASUKE CINTAKUUUUUUU!"

"SASUKE MY PRINCE!"

Teriakan-teriakan dari Sasuke fc membuat Sakura mau tak mau menghentikan perdebatannya, dia langsung menyusul Sasuke dan meninggalkan Sasuke fc, agar Sakura tak repot-repot lagi ke dokter THT karena pendengarannya yang rusak.

"TEMEEEEEEEEEEE!"

Teriakan cempreng yang mengalahkan ke-cemprengan teriakan-teriakan sebelumnya sukses membuat Sasuke dan Sakura menutup telinganya dengan kompak, di belakang Naruto, berdiri 2 orang wanita dan seorang pemuda berambut coklat panjang, keempat orang tadi tersenyum sumringah manakala melihat Sakura berdiri di samping Sasuke, kecuali Neji tentunya, yang hanya tersenyum tipis.

"Ciee…ada yang sudah baikan.." goda Tenten yang ada di sebelah Hinata, sedangkan yang di goda memerah wajahnya.

"Kalian seperti sedang berpacaran saja!" ucap Naruto dengan cengiran khasnya.

"Hn." kali ini dari Neji.

"Ba-bagaimana bisa ka-kalian baikan?" tanya Hinata.

"Prosesnya panjang." jawab Sasuke singkat.

"Sasuke!" teriak seorang pemuda berkucir satu ke belakang datang menghampiri Sasuke, ia berlari kecil agar dapat tiba di depan Sasuke dengan cepat.

"Aniki, ada apa?" tanya Sasuke pada pemuda yang memanggilnya tadi, a.k.a Itachi, seketika terdengar teriakan-teriakan dari Itachi fans club.

"Aku mempunyai tiket ke Theme park, tapi aku dan pacarku sibuk hari ini, jadi tiket ini aku berikan padamu, sayangkan kalau tidak di gunakan, kau bisa pergi dengan Sakura nanti." jelas Itachi panjang seraya mnyerahkan dua buah tiket kepada Sasuke, Sasuke yang awalnya bingung akhirnya menerima tiket itu.

"Baiklah, aku pergi dulu, bye Sasuke, bye Sakura, aku pergi Naruto, Hinata, Neji, Tenten, jaa~" Itachi pun berlalu sembari melambaikan tangannya pada keenam adik kelasnya.

"Itachi-senpai juga mengenal Sakura?" tanya Tenten kepada Neji yang ada di sebelahnya.

"Itachi pasti mengenalnya, dia juga bisa melihat Sakura." jawab Neji datar.

"Teme! Hinata-chan! Sakura-chan, ayo ke kelas! Sebentar lagi bel!" ujar Naruto seraya menunjuk-nujuk arloji-nya yang sedah menunjukkan pukul 07.55.

Mereka pun mengikuti Naruto yang beranjak ke kelasnya, dan diikuti oleh Neji dan Tenten,(tapi mereka berbalik arah).

Skip time

Istirahat

"Hah? Transparan?" pekik Tenten saat mereka berenam sedang istirahat di kantin, semua mata tertuju pada Sakura, dan mereka semua baru sadar bahwa tubuh Sakura agak transparan dari kemarin.

"Temeee! Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan-dattebayo?" tuding Naruto pada Sasuke dan menunjuk-nunjuk Sasuke, yang di tunjuk hanya memasang wajah tak bersalah.

"Aku bertanya pada kalian karena aku tak tahu, dan aku tak melakukan apa-apa padanya." jawab Sasuke cuek.

"Sakura-chan, ka-kau merasakan sa..sakit di sekitar tu-tubuhmu? A..atau kau merasakan adanya perubahan pada tubuhmu?" tanya Hinata menatap Sakura dan hanya dibalas gelengan pelan dari Sakura.

"Aku pernah membaca sebuah artikel mengenai kasus yang sama seperti yang tertimpa pada Sakura." ujar Tenten tiba-tiba, yang mendengarkan hanya merapatkan dirinya pada Tenten, tersirat raut wajah penasaran yang tertampang jelas di wajah mereka.

"Artikel itu tertulis bahwa ada seorang penulis buku yang lumayan terkenal waktu itu, aku lupa nama penulis itu, konon, salah satu bukunya menceritakan seorang gadis yang rohnya terpisah dari tubuhnya, dan gadis itu di temukan oleh seorang pemuda yang mempunyai kemampuan khusus untuk melihat hantu…

..lama kelamaan, sang gadis dan pemuda yang menemukannya saling jatuh cinta, tapi sayang.. beberapa lama kemudian, sang gadis menjadi transparan, dan lebih transparan lagi, sampai sang gadis…."

Hening.

Tenten menelan ludah.

.

.

"…menghilang."

.

~~~000~~~

.

"MENGHILANG?" teriak Sakura dan Naruto kompak, sedangkan yang lainnya hanya memasang wajah terkejut.

"Kenapa kita harus mempercayainya? Itukan hanya sebuah buku yang diciptakan berdasarkan imajinasi sang penulis." kata Sasuke di balik keterkejutannya.

"Aku belum menyelesaikan ceritaku!" Tenten mendengus kesal.

"Baiklah. Selesaikan." perintah Neji sambil melipat kedua tangannya di dadanya.

"Di artikel tertulis, itu bukan hanya khayalan semata dari sang penulis! Tapi itu di ambil dari kisah nyata yang dialami sendiri oleh sang penulis! Mungkin, itu yang akan dialami oleh Sakura nantinya." pekik Tenten.

"Siapa yang tahu kalau artikel itu bohong kan'? Atau sang penulis hanya ingin tebar pesona agar novelnya laku?" Sasuke masih mengelak perkataan Tenten.

"Mungkin saja, tapi..kecil kemungkinan kalau artikel itu bohong, aku menceritakan kisah ini pada kalian agar kau, Sasuke, jagalah Sakura semampu yang kau bisa, jangan sampai Sakura mengelami kejadian yang sama pada buku itu." ucap Tenten dengan raut wajah yang sangat serius.

"Di mana pengarang buku itu tinggal?" tanya Neji pada Tenten.

"Sayang sekali..dia sudah meninggal.." jawab Tenten sambil menundukkan kepalanya.

Sedangkan Sakura dari tadi hanya menunduk dan diam, Sasuke yang berada di sebelahnya mengelus puncak kepalanya dan bertanya "Kau kenapa?"

Sakura perlahan mengangkat wajahnya dan tersenyum miris.

"Kematian memang tak bisa dihindari kan'…"

"A-apa maksudmu..Sakura-chan?" tanya Hinata mewakili rasa bingung mereka,

"Maksudku, biarpun Sasuke menjagaku semaksimal mungkin, kalau aku memang di takdirkan untuk menghilang, pasti aku akan menghilang dari dunia, dan ini tak dapat di hentikan lagi." jawab Sakura dengan nada pasrah.

"Apa yang kau katakan? Aku akan menjagamu!" kata Sasuke pada Sakura.

"Sudahlah, aku akan pasrah atas semua yang akan terjadi padaku, tapi..aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian sebelum itu benar-benar terjadi!" kata Sakura dengan mata yang berbinar, memancarkan cahaya yang tadinya meredup.

Tapi lain dengan Sakura, Sasuke malah mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan menggeretakkan giginya, tak ada yang menyadari hal itu, karena semua pandangan tertuju pada Sakura, satu yang dipikirkan oleh Sasuke, yaitu..

….ia harus melawan takdir!

~~~000~~~

Di sisi lain

Seorang pemuda berambut merah menyala menggeliat tidak tenang di kasurnya, nampak ia seperti orang yang sedang bermimpi, entah mimpi buruk atau apa.

"Sasori-nii…."

"Sakura?"

"Sasori-nii.."

Sang pemuda semakin tidak tenang manakala mendengar seseorang memanggil namanya, seseorang yang sangat di rindukannya.

"Sakura!kau ada di mana?"

"Sasori-nii…"

"Sakura!"

Setelah itu semuanya menjadi gelap, yang dia dengar hanyalah suara para dokter yang sedang panik.

"Dokter! Tekanan jantungnya tidak stabil!"

Dan pemuda itu melihat adik semata wayangnya, orang yang sangat dirindukannya terbaring tak berdaya di ruang operasi.

"Sa-SAKURA!bertahanlah!" teriak pemuda itu seraya berpikir adiknya itu mendengar teriakannya dan berusaha untuk selamat dari maut.

"Selamat tinggal..Sasori-nii….." suara itu terdengar lagi, suara adik tercintanya.

"Tidak!Sakura!"

Jleeb..

Pemuda itu terdampar ke sebuah ruangan yang putih, sekeliling pemuda itu di dominasi oleh warna putih.

"Dimana aku?" tanya pemuda itu pada dirinya sendiri.

Sekilas ia bisa melihat bayang-bayangan yang ada di depan matanya.

"Theme park?"

Seketika mata jadenya membulat melihat adiknya, memasuki Theme park bersama seorang pemuda yang tak bisa di lihat wajahnya.

"Sakura!"

Pemuda itu meneriakkan nama adiknya lagi.

"Selamat tinggal..Sasori-nii.."

"Sakura!"

Pemuda itu terbangun dengan mata jadenya yang membulat, keringat bercucuran di wajahnya. Nafasnya terengah-engah, ia menatap di sekelilingnya, kamarku..batinnya.

"Mimpi?" tanyanya pada dirinya sendiri.

"Aku harus ke Theme park!" ucapnya dan memakai jasnya dan melaju dengan kecepatan tinggi denagn mobil sedan hitamnya, satu tujuannya, Theme park!

Ia mengikuti apa yang ada di mimpinya!

.

.

.

Saat ini Sakura dan Sasuke sedang berada di dalam mobil Sasuke, keheningan terjadi di antara mereka, Sakura agak risih dengan keheningan yang mereka ciptakan ini, tapi.. ketika sampai di rumah kediaman Uchiha, Sasuke tidak memberhentikan mobilnya, melainkan tetap menjalankannya.

"Sasuke-kun, kita mau kemana?" Tanya Sakura bingung.

"Theme park."

"Hah? Kau kan belum ganti baju?"

"Hn."

Sakura hanya cemberut mendengar jawaban Sasuke yang singkat, padat, dan tak jelas. Tapi Sakura juga senang, karena akhirnya, dia bisa berdua lagi dengan Sasuke dan tidak marahan lagi. Tunggu dulu..! berdua? Theme park? Dia dan Sasuke, berkencan..?

"Err…Sasuke-kun, apakah ini bisa di sebut kencan?" tanya Sakura dengan tampang polosnya, sekilas, dapat di lihat pipi putih Sasuke menampilkan semburat merah tipis.

"K-kalau kau menganggap ini kencan, berarti kencan." jawab Sasuke sembari menepis rasa malu dan gugupnya untuk menjawab.

"Hm..kalau aku tak menganggap ini kencan?"

"Berarti bukan kencan,SAKURA." jawab Sasuke lagi dan penuh penekanan pada kata sakura.

Setelah berbincang di dalam mobil dengan waktu yang lama, akhirnya mereka telah sampai di Theme park. Berbagai wahana dapat terlihat jelas di tempat itu, seperti bianglala, roller coaster,dunia lain(?), dan masih banyak permainan lainnya, Theme park kali ini sangatlah ramai, banyak pengunjung lokal maupun non-lokal yang datang ke Theme park ini, karena fasilitasnya bagus dan..(Kok author promosi?).

Back to the story

Sasuke nampak kesal berada di Theme park ini, Sasuke memang tak suka tempat yang terlalu ramai, dia melirik kearah Sakura, nampak Sakura sangat senang berada di sini, terlihat dari binar-binar cahaya yang tertampang jelas di mata emeraldnya. Sakura memandang sekelilingnya, senyum menghiasi wajahnya, sekilas ia melirik Sasuke dengan menggunakan ekor matanya, dan ia terkikik geli melihat penampilan Sasuke.

Rambut yang kusut, kerah baju acak-acakan, dia membuka dua kancing baju bagian atas, sampai menampilkan baju dalamannya yang berwarna hitam, bahkan, lengan jas sekolahnya di gulung asal. Dan muka tampannya yang kusut pertanda dia kesal berada di tempat ini.

"Kenapa kau menerima tiketnya kalau kau memang tak suka?"

Bahkan pertanyaan Sakura diabaikannya, tapi ada benarnya juga, kenapa ia terima kalau memang ia tak suka tempat ini? Yah, itu karena seseorang yang telah mencuri hatinya secara diam-diam, yakni orang yang melontarkan pertanyaan tadi. Sakura Haruno.

~~~000~~~

.

.

.

"KYYYYAAAAAAA!"

Setelah ini Sasuke mungkin harus pergi ke dokter THT untuk memeriksa telinganya, karena sebuah teriakan yang mengalahkan teriakan apapun, mengalahkan teriakan para fansnya ataupun teriakan Naruto. Teriakan tersebut berasal dari orang yang ada di sampingnya, yah, walaupun tak bisa dilihat oleh sembarangan manusia, tapi ia bisa di sebut orang, bukan?

Saat ini mereka sedang menaiki roller coaster, pantas aja kalau Sakura berteriak histeris. Sedangkan Sasuke yang sudah terbiasa dengan yang namanya kecepatan, karena sudah terbiasa menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, hanya mendengus kesal seraya menutup telinganya. Ketika mereka telah turun dari roller coaster, Sasuke mengajak Sakura untuk pergi ke tempat yang agak sepi. Yaitu di depan rumah hantu yang ada di Theme park tersebut.

'Ini waktunya untuk menyatakan cinta, jangan membuang kesempatan ini Sasuke.' batin Sasuke dalam hati sambil mempersiapkan mentalnya. Entah apa yang yang merasuki Sasuke sehingga tiba-tiba ia ingin menyatakan cintanya.

"Ada apa Sasuke-kun? Kau bilang mau bicara?" tanya Sakura kebingungan melihat tingkah laku sang pemuda Uchiha.

"Err..Sa-sakura.."

"Hmm?"

"Ada yang mau kau katakan padaku?"

"Bukankah kau yang ingin berkata sesuatu?"

"Baiklah..Sakura, sebenarnya aku…sejak kita bertemu..aku.."

"Bicara yang jelas Sasuke-kun.."

"Aku mencin-"

"Sakura?"

Great! Pernyataan cinta Sasuke di potong dengan adanya kehadiran seorang pemuda berambut merah menyala, tampak pemuda tersebut sedang terkejut melihat dua orang di depannya. Melihat sang pemuda, Sakura tidak kalah terkejutnya, sampai tidak di rasanya bulir-bulir air mata telah jatuh dari pelupuk matanya.

"Sa…Sasori-nii!"

"Kau Sakura kan'? ke-kenapa..!"

Pemuda berambut merah tadi menatap Sasuke dan juga terheran.

"Sasuke?"

"Hn."

"Jelaskan apa yang terjadi! Sakura, kenapa kau ada di sini? Dan tubuhmu…kenapa transparan?

"Huweee….! Sasori-nii!"

Sakura langsung menghambur ke pelukan Sasori, kakak satu-satunya yang ia paling sayangi. Sedangkan Sasuke memandang pemandangan di depannya dengan raut wajah tak suka, biarpun saudara, tapi mereka hanya saudara tiri, dan tidak memiliki aliran darah yang sama, dan mereka bisa saja menikah jika mereka saling mencintai, bukan?

"Aku rindu kak Sasori!" ucap Sakura terisak.

"Aku juga merindukanmu, tapi..apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau ada di sini bersama Sasuke? Dan kenapa tubuhmu jadi transparan?"

"Hiks..a..aku.."

Sakura pun menceritakan semua yang terjadi padanya, dan pasti Sakura tidak menceritakan tentang perasaannya pada Sasuke, karena Sasuke ada di tempat itu, karena itu sama saja dengan menyatakan cintanya langsung pada Sasuke, sedangkan Sasuke menampilkan raut wajah amat kesal, karena pernyataan cintanya batal dan sia-sia, tapi ia juga merasa senang karena akhirnya Sakura dapat bertemu kakaknya, tapi tunggu…kenapa Sasori bisa melihat Sakura?

"Kenapa kau bisa melihat Sakura?" tanya Sasuke pada Sasori yang menenangkan Sakura.

"Entahlah, mungkin karena perasaan, aku sangat menyayangi Sakura, sebelum kesini, aku juga sempat bermimpi tentang Sakura, aku tidak mengingat jelas mimpiku, yang jelas, aku hanya mengingat tentang Theme park, Sakura yang ada di sana, dan seorang pemuda. Mungkin aku sangat merindukan dan menyayangi Sakura, jadinya, aku bisa melihatnya." ucap Sasori panjang lebar.

"Hn." ujar Sasuke masih dengan tampang kesal melihat Sakura memeluk Sasori.

"Dan…Sakura, maukah kau tinggal bersamaku?" tanya Sasori pada Sakura tiba-tiba, Sakura hanya memasang tampang heran.

"Mungkin lebih baik kau bersamaku, yang notebane adalah kakakmu, daripada kau tinggal bersama orang lain." kata Sasori sambil melihat Sasuke dengan ekor matanya. Dan membuat Sasuke semakin kesal.

"Hn. Mungkin sebaiknya kalian bicarakan ini berdua, aku haus, aku mau pergi ke sana sebentar." ucap Sasuke sembari melangkahkan kakinya ke arah penjual minuman. Sakura hanya menatap punggung Sasuke.

"Kau mencintainya, bukan?" tanya Sasori pada Sakura yang masih menatap punggung Sasuke.

"Ya."

Sasori nampak terkejut mendengar jawaban Sakura.

"Aku pikir kau akan menyangkal, ternyata semudah ini kau menjawabnya, adik kecilku."

"Buat apa menutupi kenyataan?"

"Kau memang tak berubah, masih selalu saja polos, dasar adik kecilku!"

"Berhenti menyebutku dengan sebutan adik kecil Sasori-nii!"

"Kau kan' memang kecil." ledek Sasori seraya mengukur tinggi Sakura, sedangkan Sakura hanya memonyongkan mulutnya pertanda ia cemberut.

"Kau juga tak berubah!" tunjuk Sakura.

"Hhh…sudahlah, soal Sasuke, kakak mendukungmu."

"Hmm..? baru kali ini kakak mendukungku pada seorang lelaki, biasanya lelaki yang dekat denganku di rumah sakit, kakak selalu memarahinya, bahkan sampai menonjoknya." ejek Sakura pada Sasori.

"Itu karena mereka memang punya maksud tertentu! Kalau Sasuke, aku tahu dia pemuda yang baik, yah..walau dia dingin."

"Kakak tahu banyak hal tentang Sasuke-kun…"

"Tentu saja ! aku mengenalnya sejak kecil!"

"Kalau begitu, apa saja yang kakak ketahui tentang Sasuke-kun?"

"Hm..dia itu tipe pecemburu, tapi, dia tidak menyelesaikan masalah cemburunya dengan kekerasan, biasanya dia hanya SEMAKIN dingin dan tatapan matanya semakin tajam, aku tahu karena Itachi selalu menceritakannya padaku, bahwa Sasuke selalu cemburu padanya ketika Itachi dipuji oleh ayah mereka."

Sakura mengingat saat dia pertama kali bertemu Gaara, tatapan mata Sasuke saat itu sangat tajam, jadi..saat itu ia betul-betul cemburu?

"Kenapa? Dia pernah cemburu saat kau dekat dengan lelaki lain?" tebak Sasori melihat Sakura sedang berpikir.

Great! Betul sekali!

"E-eh.." Sakura blushing seketika.

"Itu kabar yang baik! Berarti dia juga suka padamu!"

"Ka-kakak apa-apaan sih..!"

"Hm..baiklah, Sakura.." tiba-tiba wajah Sasori menjadi serius.

"Apa?"

"Jadi..apa jawabanmu?"

"Jawaban apa?"

"Kau mau tinggal bersamaku kan'?"

"A-aku…."

TBC!

.

.

Apa-apaan ini?

Kenapa ancur banget!

Gomen minna-san, kalau chapter ini gak memuaskan..*bungkuk-bungkuk

Dan gomen juga, chapter ini aku gak bisa tulis nama-nama yang udah review..gomen banget!

Habis aku lagi buru-buru, udah masa-masa ulangan semester, jadinya aku di larang hidupin computer!

Dan lagi, mungkin chapter depan aku telat lagi, habis aku harus belajar buat ulangan.,,,,*hehe..peace!

Oh ya, ganbatte buat readers yang lagi ulangan semester!

Semoga kalian lulus dengan hasil yang memuaskan ^^

Aku janji chapter depan aku tulis nama para reviewers!

Sekali lagi gomen!

Oh ya, readers-san, aku mau minta pendapat nih, Itachi pasangannya cocokan mana yah? Habis bingung memilih pasangan Itachi, aku harap readers-san bisa membantu!

Akhir kata, mind to review?

~~~arigato gozaimasu~~~

Hany chan DHA E3